#Pacaran

Eh, Kamu Mau Nggak Aku Kenalin Ke Temenku?

Jika ada satu hal yang membuat saya gagal paham dan bertanya-tanya perihal maksud seperti apa yang dikehendaki, maka hal itu adalah ketika ada seorang teman yang melihat saya, lalu mereka berkata  dengan kalimat memelas seperti :

‘Eh, kamu kok hidupnya kek garing banget gitu sih? Mending sini deh, ku kenalin sama temenku aja.’

Emm…

Awkay sih, saya tidak bisa menjadi munafik untuk kemudian mengaku-ngaku bahwa hidup saya sangat bahagia dan nggak butuh temen baru atau apalah itu. Yha, jika mungkin orang-orang boleh menilai dan bisa menjelma menjadi diri saya, mereka pasti akan berpendapat betapa membosankannya hidup yang saya jalani akhir-akhir ini. (more…)

Advertisements

Hikmah yang Bisa Diambil dari Skandal Hanna Annisa

Beberapa hari terakhir ini, jagat dunia maya sedang dihebohkan dengan munculnya sebuah video skandal yang memancing banyak orang untuk menonton dan mengomentari isi dari video tersebut.

Hanna Annisa.

Ya, nama itu seolah menjadi amat sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Berparas cantik dan anggun, tapi melakukan hal yang nganu dan waduhdeh nggak kuat.

Nggak mau munafik, gue adalah salah satu orang yang cukup gercep saat tau adanya skandal ini. Bahkan mungkin, bisa dibilang gue tau video tersebut tepat sebelum jagat dunia maya menghebohkan dirinya akan video skandal itu. Oleh karena itu, tidak heran mengapa sekarang gue akhirnya mendeklarasikan diri sebagai hooligan garis kerasnya anime hentai buatan Hanna Annisa itu. (more…)

Sebuah Epilog

Angin berhembus kencang diiringi dengan suara geluduk yang kadang mengagetkan. Awan sore itu cukup mendung, sesaat kemudian, rintik air hujan dengan intensitas yang cukup besar mulai mengguyur secara perlahan.

Gue terdiam di depan teras rumah. Sendirian. Menatap air hujan yang menitik deras dengan tatapan kosong. Pikiran berantakan, perasaan pun bergelut tak beraturan.

Setiap orang yang patah hati pasti melakukan apa yang saat itu gue lakukan.

Emm…

Enggak.

Setiap orang yang sedang patah hati, mereka selalu punya cara sendiri untuk menanggapi kesakithatiannya tersebut. Dan kala itu, hanya itulah yang bisa gue lakukan. Gue pernah mencoba untuk menyebuhkan kepatahhatian dengan tidur seharian, namun, setelah terbangun, rasa sakit itu masih saja terus menyerang. Gue pun pernah mencoba untuk menyembuhkan kepatahhatian itu dengan nongkrong bareng temen sampai pagi menjelang, namun, setelah kembali pulang dan terkurung dalam kamar, rasa sakit itu tetap saja menyerang. (more…)

Orang Pacaran Itu Curut

Ada dua hal yang paling mengganggu di dunia ini.

Pertama : Kecoak terbang

Kampret! Sampai sekarang gue nggak tau apa motivasi si kurma bersayap ini terbang.

Kedua : Orang pacaran.

Kampret! Yah, tau lah ya. Orang jomlo mah gini. Kalau nggak punya pacar, ngumpat orang pacaran. Kalau punya pacar, ngumpat jomlo kesepian.

Bodo’ ah.

Yang jelas, orang pacaran itu curut banget.

Hmm. Ya, gue pernah jadi curut itu.

Hal tercurut yang pernah gue liat dari orang pacaran terjadi pada dua minggu yang lalu, tepat ketika gue lagi naik motor sendirian menikmati angin sore yang sedikit ramah. (more…)

Wrong way to Candi Ijo

   

                Jadi gini, cerita ini berawal dari keinginan gue membawa Afnita jalan-jalan ke suatu tempat yang menjadi recommended dari tulisan Mbak Aqied. Sebuah tempat di Klaten bernama Candi Ijo. Kenapa candi? Enggak, gue nggak begitu antusias sama candinya. Tapi, gue lebih antusias sama ketinggiannya.

                Sabtu sore, gue lihat Mbak Aqied ngebuat postingan tentang Candi Ijo di blognya. Viewnya bagus. Keren. Judul blognya ‘Candi Ijo, The Temple at The Highest Location in Yogyakarta’. Sekali lagi, kata ‘The highest’ itu yang bikin gue tertarik.

                Gue pun mention Mbak Aqied buat tanya-tanya perihal arah jalan menuju candi tersebut. Katanya gampang, gue pun semakin semangat buat kesana.

                Minggu, pukul 11.00 WIB disaat matahari lagi asyik ngegym indah dipucuk langit, gue jemput Afnita. Segera, kami melakukan perjalanan.

                Sebenernya rute buat ke Candi Ijo itu ada 2 opsi. Pertama dari Jalan Solo ke timuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuur sampai di perempatan Prambanan belok ke selatan. Dan kedua dari Jalan Wonosari ke timuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuur, sampai pertigaan piyungan belok ke utara. Hari itu, karena posisi gue lebih deket sama Jalan Solo, kami pun memilih untuk lewat Jalan Solo. (more…)