#Curhat

Tidak Ada Putus yang Baik-Baik Saja

mau putus sama pacar

Ciye Putus (Source : Sepositif.com)

‘Putus baik-baik adalah sebuah tindakan yang dewasa’

‘Nggak ada putus baik-baik. Kalau baik-baik, harusnya nggak putus dong?’

‘Duh… kemaluanku nggak sengaja keputus…’

Pernah nggak sih, mendengar untaian-untaian kalimat seperti yang tertera di atas?

Mmm…

Secara sadar atau enggak, ada banyak anggapan yang berbeda setiap kali hubungan yang dijalani oleh seseorang baru saja berakhir.

Gue sering melihat ada sepasang kekasih yang dulunya mesra banget, tapi ketika sudah putus, hubungan mereka merenggang dan mereka saling memblokir akun media sosial pasangannya. (more…)

Advertisements

Ketakutan-Ketakutan Itu

‘Fyuh’

Seorang temen menghela nafas ketika rutinitas perkuliahan usai. Kala itu waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB. Waktu dimana senja mulai melambaikan tangan di ufuk barat, disertai dengan hiasan warna jingga yang menyilaukan. Gue berjalan disamping teman yang sedari tadi menghela nafas dan nggak henti-hentinya memasang wajah murung.

‘Kenapa, kampret?’ Sekedar mencoba berempati, gue bertanya pokok permasalahan yang sedang dia alami.

‘Gue takut, Feb’ Dia menjawab sembari menundukkan kepala. Langkahnya pelan, seperti siput ambien yang sedang berjalan. (more…)

Menilai Dari Luarnya Saja

Hmm…

Kalau dipikir-pikir, orang-orang sekarang cenderung lebih suka menilai orang lain hanya sekedar dari tampilan luarnya saja ya?

Orang pake baju seadanya, dibilang gembel.

Orang berbadan kurus ceking, dibilang narkoba.

Orang tinggi semampai, dibilang doyan nyemilin bambu runcing.

Seolah apa yang menjadi jati diri seseorang itu hanya sebatas apa yang orang lain lihat secara visualnya saja. Nggak lebih.

Padahal kalau dipikir-pikir, hati dan kepribadian adalah salah satu elemen penting yang layak untuk dipertimbangkan dalam penilaian tentang seseorang. (more…)

Di balik Ujian Struktur Rangka Baja

Gue nggak begitu suka sama ujian.

Menurut gue, ujian nggak selamanya bisa menjadi penentu pencapaian seseorang. Namun kenyataan yang ada, masih ada aja orang atau instansi yang menilai sesuatu dari hasil ujian. Seolah hasil ujian itu menggambarkan tentang bagaimana pribadi seseorang.

Dalam dunia perkuliahan pun demikian. Terkadang masih ada dosen yang hanya mengambil nilai sekedar dari hasil ujian tengah semester dan ujian akhir semester aja. Ya kalau soal ujian yang dikasih sama persis kayak apa yang udah pak dosen ajarin sih nggakpapa. Tapi kenyataannya, dosen ngasih contoh mudahnya cuma di perkuliahan. Giliran ujian, beuh, soalnya minta banget dibakar.

Kan kampret. (more…)

Gosip is GoSH*T

GOSIP?

Awalnya gue nggak pernah tertarik dengan istilah ini. Tiap kali liat berita miring, berita nggak jelas, atau berita nggak logis, gue selalu merespon dengan enteng menggunakan kalimat :

“Alah, cuma gosip. Basi”

Akhirnya, gue pun sadar. Ternyata jadi orang yang digosipin itu nggak enak. Apalagi gosipnya nggak ada bener-benernya.

Kemarin, ada seseorang yang nanya ke gue gini :

“Feb, kamu dulu pernah ngaku-ngaku jadi mantannya Ayu ya?”

Dari tulisannya, enak nggak sih buat dibaca? ‘ngaku-ngaku’? Kok rasanya gue terlalu hina banget ya? Darimana gossip ini menyebar?

1 tahun lalu, gue pernah posting tulisan diblog. Judulnya : Rabu yang mengampretkan. Klik aja.

Disitu ada beberapa paragraph yang membahas tentang gue yang dituduh sama temen kalau gue itu mantannya Ayu.

Disini gue menegaskan kalau gue DITUDUH. Bukan NGAKU-NGAKU.

Untuk kembali menegaskan, gue kasih tau alur yang sebenarnya. (more…)