#Curhat

Masih Menulis Ya, Ehe Ehe

Hehe.

Kemarin, sebelum gue mempublish tulisan terbaru yang berjudul ‘Jam Tangan Buat Melamar Si Dia? Bisa kok, Bisa’, gue sempet melirik tanggal posting tulisan gue sebelumnya. 1 Januari 2018 adalah tanggal yang tertera disana. Gue melihat postingan sebelumnya lagi, 25 Desember adalah tanggal yang tertera di sana. Gue masih mencoba untuk melihat postingan sebelumnya lagi, tanggal 23 Desember adalah tanggal yang tertera disana, lengkap dengan sebuah postingan berjudul ‘Kesekian Kalinya Memulai Kembali’ yang mana disitu menjabarkan tentang gue yang mau mulai ngeblog lagi.

Setelah melihat aktivitas gue di blog yang baru 3 kali posting selama bulan desember dan Januari ini, gue pun kemudian berpikir… (more…)

Advertisements

Tidak Ada Putus yang Baik-Baik Saja

mau putus sama pacar

Ciye Putus (Source : Sepositif.com)

‘Putus baik-baik adalah sebuah tindakan yang dewasa’

‘Nggak ada putus baik-baik. Kalau baik-baik, harusnya nggak putus dong?’

‘Duh… kemaluanku nggak sengaja keputus…’

Pernah nggak sih, mendengar untaian-untaian kalimat seperti yang tertera di atas?

Mmm…

Secara sadar atau enggak, ada banyak anggapan yang berbeda setiap kali hubungan yang dijalani oleh seseorang baru saja berakhir.

Gue sering melihat ada sepasang kekasih yang dulunya mesra banget, tapi ketika sudah putus, hubungan mereka merenggang dan mereka saling memblokir akun media sosial pasangannya. (more…)

Ketakutan-Ketakutan Itu

‘Fyuh’

Seorang temen menghela nafas ketika rutinitas perkuliahan usai. Kala itu waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB. Waktu dimana senja mulai melambaikan tangan di ufuk barat, disertai dengan hiasan warna jingga yang menyilaukan. Gue berjalan disamping teman yang sedari tadi menghela nafas dan nggak henti-hentinya memasang wajah murung.

‘Kenapa, kampret?’ Sekedar mencoba berempati, gue bertanya pokok permasalahan yang sedang dia alami.

‘Gue takut, Feb’ Dia menjawab sembari menundukkan kepala. Langkahnya pelan, seperti siput ambien yang sedang berjalan. (more…)

Menilai Dari Luarnya Saja

Hmm…

Kalau dipikir-pikir, orang-orang sekarang cenderung lebih suka menilai orang lain hanya sekedar dari tampilan luarnya saja ya?

Orang pake baju seadanya, dibilang gembel.

Orang berbadan kurus ceking, dibilang narkoba.

Orang tinggi semampai, dibilang doyan nyemilin bambu runcing.

Seolah apa yang menjadi jati diri seseorang itu hanya sebatas apa yang orang lain lihat secara visualnya saja. Nggak lebih.

Padahal kalau dipikir-pikir, hati dan kepribadian adalah salah satu elemen penting yang layak untuk dipertimbangkan dalam penilaian tentang seseorang. (more…)

Di balik Ujian Struktur Rangka Baja

Gue nggak begitu suka sama ujian.

Menurut gue, ujian nggak selamanya bisa menjadi penentu pencapaian seseorang. Namun kenyataan yang ada, masih ada aja orang atau instansi yang menilai sesuatu dari hasil ujian. Seolah hasil ujian itu menggambarkan tentang bagaimana pribadi seseorang.

Dalam dunia perkuliahan pun demikian. Terkadang masih ada dosen yang hanya mengambil nilai sekedar dari hasil ujian tengah semester dan ujian akhir semester aja. Ya kalau soal ujian yang dikasih sama persis kayak apa yang udah pak dosen ajarin sih nggakpapa. Tapi kenyataannya, dosen ngasih contoh mudahnya cuma di perkuliahan. Giliran ujian, beuh, soalnya minta banget dibakar.

Kan kampret. (more…)