Buku Terbuka

Sebuah Epilog

Angin berhembus kencang diiringi dengan suara geluduk yang kadang mengagetkan. Awan sore itu cukup mendung, sesaat kemudian, rintik air hujan dengan intensitas yang cukup besar mulai mengguyur secara perlahan.

Gue terdiam di depan teras rumah. Sendirian. Menatap air hujan yang menitik deras dengan tatapan kosong. Pikiran berantakan, perasaan pun bergelut tak beraturan.

Setiap orang yang patah hati pasti melakukan apa yang saat itu gue lakukan.

Emm…

Enggak.

Setiap orang yang sedang patah hati, mereka selalu punya cara sendiri untuk menanggapi kesakithatiannya tersebut. Dan kala itu, hanya itulah yang bisa gue lakukan. Gue pernah mencoba untuk menyebuhkan kepatahhatian dengan tidur seharian, namun, setelah terbangun, rasa sakit itu masih saja terus menyerang. Gue pun pernah mencoba untuk menyembuhkan kepatahhatian itu dengan nongkrong bareng temen sampai pagi menjelang, namun, setelah kembali pulang dan terkurung dalam kamar, rasa sakit itu tetap saja menyerang. (more…)

Advertisements