Ananda Aning Pradita

Review Film: Dare mo Shiranai (Nobody Knows)

Gue pengen nikah.

Gue pengen kawin.

Gue pengen punya anak.

Errr… Ini anak kenapa ya kok tiba-tiba ngomong beginian?

HAKHAKHAK…

Serius deh, rasanya gue itu pengen banget punya anak dan ketika nanti gue beneran punya anak, gue pengen anak yang diamanahkan oleh Allah SWT ini bisa gue jaga dengan baik. Harapan gue sih ya biar mereka bisa tumbuh besar menjadi individu yang berguna dan bermanfaat buat banyak orang. Mmm… kalau enggak, minimal sih mereka bisa tumbuh menjadi individu yang selalu siap ketika sudah waktunya mereka diambil oleh Allah. Meskipun… Itu juga berarti gue harus siap ketika gue ditinggalkan oleh mereka. (more…)

Advertisements

Review Film : Me Before You

Tempo hari gue terlibat suatu diskusi yang sebenernya enggak begitu penting, tapi cukup penting untuk menjawab rasa penasaran yang gue rasakan beberapa hari belakangan ini.

Eng… Gimana-gimana? Kok gue pusing ya?

Minum Antimo.

Pffft…

Diskusi itu dimulai ketika gue yang sedang baca-baca sebuah cerita, lalu beberapa saat kemudian muncullah adegan dimana disitu berisi dialog antara cowok dengan cewek.


Cowok : Beb, kamu kenapa sih kok nggak angkat telponku dari tadi? Kamu marah ya? (more…)

Review Film : Nerve

Nanda lagiiiiik disini ~

Khikhikhi…

Ada yang rindu enggak, nih?

Enggak.

Oke, Fain. BHAY!

sadasfasfa

Heeeee… Bercanda… Bercanda ._.

Huh. Resek. Syuh, pergi sana. Syuh.

OKE, FAIN! BHAY! (more…)

Sebuah Epilog

Angin berhembus kencang diiringi dengan suara geluduk yang kadang mengagetkan. Awan sore itu cukup mendung, sesaat kemudian, rintik air hujan dengan intensitas yang cukup besar mulai mengguyur secara perlahan.

Gue terdiam di depan teras rumah. Sendirian. Menatap air hujan yang menitik deras dengan tatapan kosong. Pikiran berantakan, perasaan pun bergelut tak beraturan.

Setiap orang yang patah hati pasti melakukan apa yang saat itu gue lakukan.

Emm…

Enggak.

Setiap orang yang sedang patah hati, mereka selalu punya cara sendiri untuk menanggapi kesakithatiannya tersebut. Dan kala itu, hanya itulah yang bisa gue lakukan. Gue pernah mencoba untuk menyebuhkan kepatahhatian dengan tidur seharian, namun, setelah terbangun, rasa sakit itu masih saja terus menyerang. Gue pun pernah mencoba untuk menyembuhkan kepatahhatian itu dengan nongkrong bareng temen sampai pagi menjelang, namun, setelah kembali pulang dan terkurung dalam kamar, rasa sakit itu tetap saja menyerang. (more…)

KKN Kelar, Ya?

KKN Kelar !

Hore!

Huft.

Hmm…

Ya, antara seneng dan sedih sih sebenernya ketika bener-bener mendapati bahwa KKN itu udah kelar. Pasalnya, disatu sisi emang hal inilah yang gue tunggu-tunggu dari awal. Tapi disisi yang lain, gue udah terlalu terbiasa dengan keadaan yang terjadi di lingkungan KKN.

Jadi, ya gini. Ketika KKN bener-bener udah selesai, dilemalah yang melanda.

Kalau diinget-inget lagi, dipostingan ini : KKN Dulu Yak, Gue sempet sedikit mengeluhkan masalah KKN dan menganggap bahwa KKN itu bukan liburan. Tapi, setelah dijalani bener-bener, ya KKN itu memang bukan liburan, tapi seenggaknya itu hal yang menyenangkan. (more…)