#Akhirnya

Sebuah Epilog

Angin berhembus kencang diiringi dengan suara geluduk yang kadang mengagetkan. Awan sore itu cukup mendung, sesaat kemudian, rintik air hujan dengan intensitas yang cukup besar mulai mengguyur secara perlahan.

Gue terdiam di depan teras rumah. Sendirian. Menatap air hujan yang menitik deras dengan tatapan kosong. Pikiran berantakan, perasaan pun bergelut tak beraturan.

Setiap orang yang patah hati pasti melakukan apa yang saat itu gue lakukan.

Emm…

Enggak.

Setiap orang yang sedang patah hati, mereka selalu punya cara sendiri untuk menanggapi kesakithatiannya tersebut. Dan kala itu, hanya itulah yang bisa gue lakukan. Gue pernah mencoba untuk menyebuhkan kepatahhatian dengan tidur seharian, namun, setelah terbangun, rasa sakit itu masih saja terus menyerang. Gue pun pernah mencoba untuk menyembuhkan kepatahhatian itu dengan nongkrong bareng temen sampai pagi menjelang, namun, setelah kembali pulang dan terkurung dalam kamar, rasa sakit itu tetap saja menyerang. (more…)

Advertisements

(Mungkin) Akhir yang Sebenarnya

‘Still everyday i think about… you’

Penggalan lirik dari lagu Blue Sky Collapse milik Adhitya Sofyan terdengar syahdu. Ditemani nyala lampu yang temaram, gue terduduk di depan laptop memandangi layar yang menyala. Jemari gue meraba mouse dengan lembut, mencoba menggerakkan kursor supaya menuruti apa yang akan gue lakukan.

Pagi itu pukul 01.00 WIB. Entah, pada saat itu gue nggak bisa memejamkan mata. Ada banyak pikiran yang menjadi kendala. Ada banyak rasa yang bercampur. Ada banyak helaan nafas yang seolah dipaksakan.

Mencoba mengisi waktu yang entah itu, gue pun akhirnya memilih untuk membuka blog ini dan mencoba membaca tulisan-tulisan yang telah lalu. Beberapa gue merasa jijik. Beberapa gue merasa geli. Sampai akhirnya, gue membaca beberapa tulisan yang membuat gue sedikit terdiam. (more…)

Ngomongin UTS

UTS KELAR !

Wohoooo, rasanya plong banget setelah 2 minggu terakhir ini kayak dipaksa buat belajar dan mikir tentang 9 mata kuliah yang gue jalani, eh sekarang ada jeda libur 4 hari juga.

Kesempatan buat nulis sama ngeblog nih.

Iya sih, bisa diakui bahwa akhir-akhir ini tulisan gue terkesan agak berantakan gimana gitu. Tiap lagi nulis, gue malah sering kehilangan bahan joke, kekurangan kosa kata, atau bahkan yang paling parah, fokus nulis gue terpecah sama tugas. Kan kampret ya.

Sekarang bukan waktunya beralasan.

Mari kita menuju benang merah dari tulisan ini. (more…)

Setelah pertemuan itu…

“Kita mau kemana, Yank?” Beby bertanya, tangannya masih bertautan dengan tangan gue. Langkah kakinya menapak mengikuti langkah gue.

“Ke parkiran, Yank” Gue menjawab seadanya, dengan langkah cukup cepat. Bahu gue encok menggendong tas yang Beby bawa.

Suasana bandara pagi itu cukup ramai. Beberapa orang menjemput sanak saudaranya, beberapa orang lain sibuk mencari orang yang akan dia jemput, sisanya sibuk mencari hidayah Tuhan yang maha esa.

Gue sama Beby berjalan beriringan, melewati jalan-jalan yang penuh dengan kerumunan orang. Sesekali kami saling menanyakan kabar, melepas rindu yang entah dari kapan terbentuknya.

Kami berdua telah sampai di parkiran. Gue letakkan koper besar yang dibawa Beby dibelakang motor, gue letakkan tas yang dari tadi gue gendong di atas jok motor, Beby pun meletakkan kardus bolu meranti di atas jok motor orang. (more…)

Jadi, sekarang siapa ?

Siang itu cerah. Semilir angin masih sepoi-sepoi menyejukkan. Lalu lalang kendaraan di sekitaran Gejayan cukup lumayan. Gue sendirian, mengendarai sepeda motor mio yang bensinnya tinggal separuh. Sendirian. Iya, sendirian. Hmm, SENDIRIAN.

Sesampainya di rumah, gue melepas sepatu. Berjalan dengan langkah lunglai. Nggak ada semangat. Raut wajah datar. Persis leak yang ditinggal selingkuh kuntilanak.

Tas gue taruh di kursi yang ada di depan komputer. Gue berjalan ke ruang tamu. Di kursi tamu, gue duduk. Masih dengan tatapan kosong. Kecapekan. Nggak tau mau ngapain. Tiba-tiba, baru beberapa menit pantat gue merasakan nikmatnya kursi, nyokap keluar dari kamar. Beliau memandangi gue sebentar, kemudian bertanya pelan :

“Sekarang pacar kamu siapa Feb?”

Gue nyengir. Mau bilang kalau pacar gue Maudy Ayunda, percuma. Beliau nggak tau. Pasti cuma bakal dibales dengan pertanyaan “Oh, Anak TK mana, Feb?”

Beliau berlalu. Gue pun beranjak, berjalan ke meja makan buat ngambil segelas air putih. Baru menenggak seperempat air putih didalam gelas, tiba-tiba nyokap dari dapur berjalan disamping gue dan kembali bertanya :

“Kamu nggak nyari pacar, Feb?”

Gue lebih memilih buat melanjutkan menenggak air putih didalam gelas daripada harus menjawab pertanyaan yang gue aja nggak tau njawabnya harus dengan model kayak gimana.

Melihat anaknya nggak merespon, beliau pun mengutarakan persepsinya. (more…)