Selamat Menikah

selamat menikah (source : womantalk)

Judul di atas, tentu saja diperuntukkan kepada siapapun yang menikah pada hari ini, kemarin, besok, atau kapan sajalah yang penting terlaksana dan sah? Sah. Semoga hal-hal baik di depan kelak kalian temukan, hey sekumpulan pasangan. Berproseslah untuk saling menggenggam disaat badai datang maupun tenang. Tidak usah macam-macam lagi, karena waktumu untuk itu sudah usai. Hendak mencari apa lagi, hey manusia yang tidak pernah puas akan segala macam hal.

Eh, kok ucapan selamat pernikahan begitu sih.

Tapi, ya, intinya doa-doa baik untuk kalian semua ya.

Oiya, kebetulan, Sabtu ini, 20 Februari 2021, cuaca sedang sangat cerah-cerahnya. Jika nanti mendung, maka jelas, yang hendak turun bukanlah hujan, melainkan kebahagiaan.

Kenapa demikian?

Karena kemarin, aku mendapat kabar dari seorang teman perihal screenshot-an undangan yang disitu tercantum nama orang yang ku kenal, beserta pasangan yang siap memenuhi segala kebutuhan lahir maupun batin di kehidupan baru yang akan datang.

undangan pernikahan (source : project.co.id)

Aku sudah lama tidak mengetahui kabarnya, karena semenjak ku tau dia sudah memiliki orang baru, ku memutuskan untuk tidak mengganggu. Demi kebaikanku, kebaikan dia, dan kebaikan pasangan barunya. Tapi seperti yang sudah pernah ku tulis di postingan sebelumnya, kami mengakhiri hubungan dengan amat sangat baik.

Tapi keputusan untuk selesai baik-baik, bukan berarti harus menjelma selalu ada layaknya teman dan bisa bersikap biasa saja. Tidak demikian, karena ada perasaan yang harus dijaga, dan ada hati yang perlu disembuhkan segera. Maka, luapan patah hati dan keputusan untuk berhenti saling mengikuti di media sosial adalah segala bentuk proses yang bagiku wajar. Nanti akan sembuh dengan sendirinya. Nanti akan baik-baik saja pada akhirnya.

Semenjak akhir November itu, ketika kesepakatan untuk benar-benar selesai, yang berlandaskan atas dasar kesalahan yang aku lakukan – dan itu fatal, aku tidak pernah mau mencoba untuk menghubunginya pun bahkan bisa dibilang kontak kami saling ditiadakan. Kenapa demikian? Ya karena aku yakin dia baik-baik saja dan bahagia dengan dunia barunya. Dia juga pasti begitu, karena dia pun yakin, aku akan baik-baik saja segera dan sedang berusaha mencari dunia baruku.

Waktu berlalu, dan terus bergerak maju.

Sesekali aku menulis kata demi kata, sekedar meluapkan rasa-rasa yang saat itu aku tidak tau itu apa. Maaf apabila terkesan paling menderita. Maaf pula apabila terkesan segala hal kukemas menjadi konten yang menyebalkan. Mungkin itu salah satu prosesnya. Jika kamu berada di posisi yang sama, bisa jadi akan melakukan hal serupa. Bisa jadi tidak. Tapi tak apa, karena problem solve manusia berbeda-beda. Semoga itu tidak mengganggu, atau mengusik hal-hal yang awalnya baik.

Sesekali aku membuka aplikasi dating yang berlogo merah api dan kuning sarang lebah. Ku temukan beberapa perempuan, yang mungkin bagiku dapat mencipta kesembuhan -atau sekedar mengalihkan perhatian. Namun perlahan, aku menyadari satu hal : Sepertinya bukan ini yang seharusnya aku lakukan. Lalu aku pun berhenti mencari, karena kadang, ada hal-hal yang memang tidak perlu dicari, nanti pasti datang sendiri.

Sesekali aku mendengar lagu dan membaca buku. Kuresap lirik yang bersenandung meraba kalbu. Kupahami kata yang dirangkai apik oleh Pak Sapardi, lewat larik puisi yang pasti abadi. Kubunuh waktu yang satu persatu berjalan amat sangat lama. Hingga aku tergelak pada pemikiran : yang menyembuhkan adalah waktu, sedang yang membantu adalah pola pikirku. Lalu, apa mauku?

Aku pun berproses, dan terus berproses.

Sampai tiba masa dimana aku kembali biasa, lalu merasa bahwa segala hal memang sudah tergaris dan tertulis pada Lauhul Mahfudz, yang tentu saja, kemutlakan adalah murni kehendak-Nya. Semesta tidak pernah bisa dilawan. Tidak akan pernah bisa. Maka jalani dan berprasangka baik saja pada rencana-rencana baik-Nya.

Mungkin ‘waktuku’ sebatas 29. Mungkin waktu ‘yang sebelumnya’ sebatas 36. Dan mungkin waktu ‘yang sekarang’ adalah selamanya sampai maut memisahkan. Aku berharap demikian. Mari di Aamiin-kan.

Aamiin.

yang fana adalah waktu, kalian abadi (source : tribun)

Kembali pada sebuah undangan yang temanku kirim dengan rupa screenshoot-an, aku tersenyum dengan amat bahagia sekaligus lega ketika membacanya. Akhirnya waktu dia telah tiba untuk merajut dunia dengan jenjang hidup yang baru. Doa-doa tentu tercurah dariku, serta ibuku, yang setelah aku beritau kabar baik itu, seru Alhamdulillah terucap mendayu dari bibir lembut berwarna merah jambu.

Oleh karena aku tidak mungkin mengirim pesan, maka izinkan aku mengucap sebaris doa di sini saja, dan mari siapapun yang tidak sengaja membaca, yuk bisa ikut andil memberi Aamiin serta menyumbang doa-doa yang penuh harap akan kebaikan.

Berdoa, dimulai.

Selamat menikah.

Semoga sakinah mawaddah warahmah.

Segala hal-hal baik kudoakan semoga menjumpa dirimu serta pasangan di depan, baik itu limpahan rezeki, keturunan yang gemas serta sholeh/sholehah sekali, ketentraman hati, keharmonisan yang abadi, kebersamaan yang selalu pasti, rasa yang saling tiada henti, dan segala apapun itu yang semoga membahagiakan selalu.

Tetaplah abadi di dunia, sampai Tuhan berkehendak untuk menghadirkan kiamat, lalu ketika semua diangkat, kalian kembali dipertemukan di surga dengan hati saling terikat.

Selamat menempuh hidup baru.

Semoga berbahagia.

Teruslah berbahagia.

Aamiin. Aamiin. Aamiin.

Rawat bunga-bunga yang sudah kalian buat mekar. Jangan lupa siram dengan senyum di setiap pagi saat terbangun. Jangan lupa beri hangat dengan peluk yang saling di setiap malam saat terpejam.

Terimakasih, dan selamat.

sincerely,

efebeeri

note : jika tulisan ini dilarang atau ada pihak yang keberatan, lalu hendak meminta untuk ditiadakan, sila sampaikan permintaan di surel : febridwicahya@gmail

4 comments

  1. Yah.. Sangat disayangkan. Gpp feb. Bukan jodoh. Berarti.

    Saya jadi mau nyanyi lagu Lesty.

    “Selamat kuucapkan padamu wahai orang yang pernah paling aku sayang… ”

    Huehehe.

    Semangat feb. 😊😇

  2. “Oiya, kebetulan, Sabtu ini, 20 Februari 2021, cuaca sedang sangat cerah-cerahnya.”

    Assem… Tanggal sak mono pas Jakarta banjir, Oom; piye jal? Kan janc*k ya omahku kelebon banyu 😀 😀

    Selamat menikah, buat kalian siapa saja yang menikah… Happy landing.

  3. Mas Febbbb ah kau ini…. Nggak bisa komen apa2, sepanjang baca artikelmu pergulatan batinku mantap betul. Hahaha
    Semoga mbaknya bahagia selalu, pun semoga Mas Feb makin bahagiaaaa, makin semuanya yg baik2 deh.. Besok kl ke jogja ku bawain cokelatnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s