Aku Bertemu Temanku

5 Februari 2021 kemarin, cuaca agak basah karena rintik hujan barusan menerjang daratan. Sebagian berteduh di pinggir jalan, sebagian menerabasnya dengan jas hujan, sebagiannya terduduk manis di kursi sopir dan penumpang, sisanya hanya menanti di rumah guna menanti keredaan.

Aku datang pertama kali ke rumah seorang teman bernama Dian. Dari luar, aku tidak memanggilnya dengan meneriakkan nama seperti anak-anak kecil ketika hendak mengajaknya bermain. Sekilas ku mendengar ada suara ayat-ayat yang tersurat, lalu ku ambil ponsel digenggam dan menuliskan sebuah pesan.

‘Aku sudah di luar, Bor. Kalau sudah kelar shalat dan ngajinya, keluar yak’

Pesan ku kirimkan, lalu ku menunggu sambil duduk lesehan di teras rumah teman yang kini sudah menjadi Imam. Ku buka aplikasi ojek online, mataku memantau kedatangan dua botol bir yang sebelumnya telah ku pesan saat tadi di perjalanan.

Tidak lama, pintu depan terbuka. Temanku yang kini berperawakan seperti bapak-bapak keluar dengan kolor dan kaos oblong. Ku tertawa, lalu satu kata yang keluar adalah,

‘Bajingan, bapak-bapak banget asu’

Dia pun tertawa, lalu disambung dengan beberapa cerita yang sudah cukup lama tidak terbagikan. Aku lupa, sepertinya terakhir kami bertemu adalah di pernikahannya bulan Agustus lalu. Saat itu palaku masih botak. Biarkan aku lampirkan fotonya di bawah untuk penghias saja, uhuy.

Daun – Tiang Lampu – Kursi – Palkon – Dian – Istri – Martin – Farkhan – Kursi – Lampu – Daun

Baru asik mengobrol, tiba-tiba sorot lampu dari motor beat terlihat dari luar gerbang. Seorang bapak dengan jaket hijau mematikan mesin, lalu menyambut kami berdua dengan kantong kresek besar sembari bertanya,

‘Atas nama Febri ya, Mas?’

Aku pun mengangguk, dan kuterima pesanan yang dibawa oleh sang Bapak berjaket hijau. Aku berucap terimakasih, diiringi sang Bapak yang berlalu untuk menjemput rezeki baru.

Ku keluarkan sebotol bir dari dalam kresek, dan membuka penutupnya dengan gigi sebelah kanan. Ku tenggak sedikit demi sedikit, lalu obrolan kami berdua pun berlanjut perihal kabar, hidup, dan rencana-rencana ke depan.

Tidak lama berselang, seorang teman yang lain datang. Dia bernama Martin, membawa seorang perempuan yang rencananya tahun ini akan dinikahinya. Disusul seorang yang bernama Farkhan, dia tidak membawa siapapun seperti biasanya. Mungkin nanti kapan-kapan.

Obrolan pun berlanjut di dalam rumah, bersama dengan enam orang. Ya, biar ku jabarkan siapa-siapa saja yaitu Diriku, Dian, Farkhan, Martin, Kekasihnya, dan Istri Dian. Di sana Martin membuka bahasan mengenai rencana-rencana yang hendak dilakukan, tak lupa sesekali bertanya kepada Dian yang sudah berpengalaman perihal pernikahan. Aku menggenjreng gitar saja, sedangkan Farkhan menyimak dengan sopan.

Kami berempat sebenarnya adalah teman baik dan sungguh dekat. Biasanya, atau bisa dibilang sebelum beranjak di masa sekarang, kami bisa membahas segala aspek bahasan yang bahkan itu sensitif sekalipun. Namun malam itu, aku merasa kayak harus ada bahasan yang ditahan. Misalnya ketika Dian hendak membahas sesuatu tentang Martin, aku dan Farkhan biasanya mencoba untuk meng-cut pembicaraan dengan kata-kata seperti,

‘Wadaw, sudah-sudah tahan’

‘Leave the Chat, yuk’

‘Bangsaaaat, beralih-beralih’

Hal itu semata dilakukan agar menghormati posisi Martin yang sedang mempersiapkan pernikahan dengan kekasihnya. Kita nggak akan pernah tau, barangkali seuntai kata yang kami tuang bisa menjadi pertimbangan untuk sang terkasih merevisi keputusannya. Maka dari itu, kami tidak hendak merusak romantisasi itu.

Demikian, hal yang sama berlaku ketika ada bahasan yang mengarah ke masa lalu atau hal sensitif tentang Dian, karena kami sadar, perempuan yang ada di sebelah Dian, selepas nanti kami pulang, perempuan itu tetap akan di rumah Dian dan menjelma istrinya sampai kiamat nantinya.

Aku dan Farkhan mencoba untuk menahan dan mengatur obrolan sebisa mungkin. Kurasa kami sadar akan posisi saat ini, dan pasti, nanti mereka berdua juga akan berperilaku yang sama ketika Aku atau Farkhan telah berposisi seperti mereka.

Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB, Martin yang mungkin sudah diminta oleh kekasihnya, meminta untuk pamit pulang terlebih dahulu. Kami pun mengiyakan, karena, sekali lagi, posisinya kali ini sudah sangat berbeda. Bahkan sebelumnya, kami tidak pernah menyangka bahwa di pernongkian yang telah lama tidak dilakukan ini, akan ada perempuan yang dibawa oleh Martin. Aku pun sempat mengira bahwa obrolan kami berempat akan berlangsung hingga pagi. Tapi, ya, kami harus sadar posisi kali ini.

Selepas Martin berlalu, Aku dan Farkhan masih tetap memilih untuk tinggal. Kurasa, kami juga sudah cukup lama untuk tidak mengobrol bertiga di teras rumah Dian, berlatar pohon rambutan. Di sana, kami bertiga berbicara banyak hal, mulai dari apa yang terjadi kini dan dulu. Selain itu, kami juga bertukar pikir dan sudut pandang, serta rencana-rencana apa nanti di depannya.

Sejujurnya, aku sangat nyaman dengan apa yang terjadi dengan 5 Februari 2021 kemarin. Dimana waktu tidak lagi menjadi hal yang harus diperhatikan, sampai-sampai menjelang pukul 02.00 WIB, kami masih berbicara dan menunda-nunda untuk pulang.

Tapi kembali, kami harus sadar diri.

Barangkali malam ini Dian belum bercinta. Barangkali malam ini Dian kelelahan. Barangkali istrinya tidak nyaman ada suara-suara di luar. Barangkali, barangkali, barangkali, barangkali.

Semua berjalan cepat dan ngegas kencang seperti pembalap. Esok aku demikian. Esok pula mungkin Farkhan juga demikian. Esok waktu-waktu ini berharga. Esok waktu begini bahkan bisa jadi menjelma tiada.

Yasudah, tidakpapa.

Warnai hidup seberwarna-berwarnanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s