ehe siapa ehe kenapa ehe ada apa ehe

aduh.

sore tadi aku mendapatkan sebuah komentar yang membuatku penasaran perihal ‘ada apa, deh?’ dan ‘lah, kok baru sekarang berkomentar’, kemudian menertawakannya bersama beberapa teman melalui pesan whatsapp.

komentarnya dari akun anonim, perihal maksudnya apa, aku juga sedang menerka-nerka, karena anonim, jadi ku nggak bisa menanyai apa maksudnya. bingung kan jadinya, ehe. intinya itu komentar berisi lima babak kata, yang tujunya sepertinya penghakiman kalik ya? nggak tau juga euy.

tapi ngapapa.

masalahnya begini sih, itu sudah berlalu cukup lama. kurasa 2 bulan adalah waktu yang cukup untuk semua tersapu dan tidak terungkit lagi ya? iya ngak sih? jadi, udahlah ye.

aha, kayaknya aku tau kenapa komentar tersebut tiba-tiba muncul.

kepo perihal kenapa ya?

atau, sudah tau kenapa, tapi pengen menghakimi saja?

ah, bagus.

alasannya, mungkin karena melihat postingan instagram atau twitterku yang menye-menye melulu seolah paling tersakiti atau apa? ya ampon, kan di awal kusudah berkata bahwasanya kesalahan awal ada di diriku dan aku juga berhak menerima itu. bahkan aku sudah bikin lagu loh, keren bukan? uwu dong uhuy.

tapi biarpun kesalahan didiriku, lantas, apa aku tidak boleh merayakan kepedihan, sedangkan posisiku sendiri belom memiliki pengganti untuk disandarkan hatinya.

orang melempar batu lebih dulu, lalu dibalas dengan lemparan yang beruntun, kan tetap boleh menangis dan kesakitan juga kan ya?

ya salah siapa

ye, ini kan bukan membahas perihal salah dan benar. tapi lebih ke boleh atau tidaknya, ampun.

ku bisa saja sih, menjabarkan segala bentuk alasan perihal ‘kenapa bisa selesai’ di blog ini. tapi menurutku, nggak etis banget yah? soalnya harus membahas latar belakang yang lalu sekali, tentang permasalahan-permasalahan baik awal, pertengahan, dan akhir, tentang aib-aib, terus tentang fakta-fakta yang wadidaw.

dua kepala, loh soalnya.

kayaknya disimpan sendiri di masing-masing kepala ya? kalaupun mau dibagi, ya dibagi ke rekan terdekat saja lah ya. ngausah dibahas lagi.

toh, dunia baru sudah terbuat, baik di sana maupun di sini. masa iya mau berkutat di situ melulu ih? malu sama masa depan yang uwu uwu, ih.

jadi, untuk siapapun di balik akun anonim yang merasa berkomentar dan sedikit menghakimi, iya iya, aku sejak awal sudah merasa salah dan pantas kok aduh. tapi sejujurnya aku masih mencoba memahami sebagian kata-katamu, karena itu rumit.

tapi yasudahlah ya? ngausah membuat keruh karena, ya ampun, dunia tida berputar di poros yang begitu-begitu.

uhuy, kan, huy huy.

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s