Nongkay Sambil Ngomongin Orang dengan Nyaman di Estuary Cafe

Nachos Pico de Gallo by Estuary

Nachos Pico de Gallo-nya Estuary Cafe nih

Nongkay adalah kegiatan yang saat ini cukup sering saya lakukan. Meskipun tidak sesering duduk sambil menganga menghadap laptop atau rebahan sambil mantengin layar hape, tapi, ya, setidaknya, nongkay menjadi sesuatu hal yang cukup sering saya lakukan satu minggu sekali.

Tentu semua ada alasannya, yaitu, jelas, untuk mendapatkan konten-konten yang kelak bisa saya tuangkan ke dalam instagram maupun ke blog ini. Selain itu, untuk rekan yang bisa diajak untuk mengumpulkan konten tersebut tentu adalah si pacar. Sisanya, ya beberapa teman, yang padahal sebenernya itu-itu aja, yang memang menginginkan agenda untuk pernongkayan duniawi.

Bahkan, saya juga sempat beberapa kali minta ke beberapa teman, apabila mereka nongkay, kabarin saya saja, maka saya akan datang untuk mem-foto makanan atau minuman pesanannya, lalu pulang setelah mendapatkan konten tersebut.

Tapi sejauh ini, saya belum mendapatkan konten gratisan begitu, karena, ya, saya anaknya mageran.

Ehe.

Pada tulisan kali ini, saya akan menceritakan tentang pernongkayan yang saya lakukan bersama beberapa teman, di sebuah tempat yang mana lokasinya cukup masuk gang, namun memiliki pemandangan dan konsep yang wadidaw, bagusnya, bikin nyaman banget.

Ehe.

Estuary

Waiter Estuary

Embak-Embak di Depan Logo Estuary Cafe

Begitulah papan nama yang menempel di dinding dekat para waiters bergerilya dalam menyiapkan menu-menunya. Menyajikan salah satu konsep yang bisa dikatakan menyatu dengan alam, dan modernisasi parah, mengingat untuk ruang indoornya, penataan tempatnya cukup enak dipandang mata, serta kalau siang, pencahayaannya juga bagus abis gitu.

Pokoknya parah sih.

Selain di lantai bawah, ruang indoor pun juga ada di lantai atas, banyak banget orang yang lalu lalang naik tangga gitu, saya sih, nggak liat bagaimana bentuk atau konsep dari tatanan yang ada di lantai atas ya. Tapi saya selalu berpositif thinking kalau, ya, pasti bagus dong.

Kebetulan, saat itu saya dan beberapa teman saya memilih untuk duduk di kursi yang berada di taman bagian outdoor gitu. Terkesan asri gimana gitu dah, dengan sajian pemandangan pepohonan, kali code, maupun apartemen baru yang ada di jembatan merah gitu.

Di kursi sebelah kami pun sebenernya ada semacam beberapa kursi lagi, yang mana atapnya adalah balok lantai dari bangunan yang ada di lantai atas.

Di bagian tersebut, kebetulan saya lihat kala itu diisi oleh para pekerja seni maupun para penugas kuliah, mengingat saya sempat melirik bagaimana ada salah satu designer yang sedang bikin logo di macbooknya, pun juga ada dua orang laki-laki yang sibuk dengan satu bendel buku materi kuliah yang entah apaan.

Kami (yang kala itu berempat), ya hanya duduk dan ngobrolin orang secara berisik.

Ehe.

Lokasi Estuary

Konsep Outdoor Estuary Cafe

Suasana Outdoor di Estuary Cafe

Ohiya, untuk yang mungkin bertanya perihal dimana lokasi dari Estuary cafe, saya bisa menjabarkan sedikit tentang ancer-ancernya.

Jika kalian datang dari arah Tugu Jogja, kalian hanya tinggal luruuuuuuuuuus ikuti jalan sampai ketemu lampu merah Am Sangaji. Sempetin tengok kiri sebentar, untuk melihat SMK N 2 Yogyakarta, yang mana itu adalah SMK saya, Ehe. Setelah lampu merah berubah menjadi ijo, luruslah lagiiii terus, sampai menjelang lampu merah jembatan baru UGM, pelankanlah lajumu, dan siap nyalakan sein ke kanan.

Sebelum mencapai ke lampu merah jembatan baru itu, carilah semacam gang kecil yang arahnya menjorok dikit ke arah sungai code, lalu pelan-pelan melaju, sampai kalian melihat sebuah bangunan agak tinggi gitu menjulang indah, dan beberapa mobil maupun motor yang terparkir di sana.

Baca Juga : Rekomendasi Makan Sate Pedas di Jogja

Stop, kalau kalian ingin nongkay di Estuary.

Lanjut saja, kalau kalian ingin njebur ke kali.

Ehe.

Lebih jelasnya, silakan simak peta dari gmaps ini ya :

Sikat.

Menu di Estuary

This slideshow requires JavaScript.

Bisa dibilang, menu di estuary ini cukup wadidaw, tapi tidak apa-apa untuk dicoba sekali-kali, mengingat, yah, ada harga, ada rupa dong? Lagi pula, saya yakin, Estuary juga sedang menjual tempat yang memang bisa dinikmati dengan amat sangat nyaman.

Tapi saya ngga tau sih, apakah metode pelayanan di Estuary ini mirip sama dunkin donuts yang main negur untuk ‘ngusir’ atau ‘maksa mesan kembali’ ketika semua pesanan yang ada di meja sudah terlihat habis, tapi yang jelas, ya, Estuary emang sebegitu nyaman dan cukup rame untuk ukuran cafe mewah di Jogja.

Ehe, saya nyebut mewah atas dasar penilaian saya loh ya, karena untuk ukuran dompet saya, harga menu di Estuary ini ya masih terbilang tinggi.

Ehe lagi.

Ada banyak menu yang disajikan oleh Estuary ini, yang jelas cukup mampu untuk membuat orang seperti saya kebingungan dong.

Metode pemilihan menu yang sebenernya bisa saya lakukan adalah dengan cukup mencari nominal angka terendah, dengan mengabaikan nama menu di sebelah kirinya. Tapi sekalinya nemu nominal terendah, ya, masa air mineral sih, anjeng?

Akhirnya, selain mencari nominal terendah, saya pun juga memperhatikan perihal tanda jempol yang ada di sebelah kiri menu.

Alhasil, didapatkan dua menu yang terdiri dari makanan dan minuman bernamakan Cookies & Cream Frappe dan Nachos Pico de Gallo. Sedangkan teman saya, dia memesan Chocolate Latte dan juga Hand Cut Fries ala Javva. Dua teman lainnya, mereka adalah kompeni yang sedang berpacaran yang mana datang duluan dan suda menyeruput pesanannya, yang nggatau apa.

Nga saya foto.

Wlek.

Metode dari pemesanan menu di Estuary ini adalah metode mandiri, mengingat kita harus datang ke kasir, nyebutin menu, bayar, kemudian dikasih semacam papan bertuliskan nomer gitu untuk dibawa ke meja, lalu tunggulah hingga menu yang kalian pesan tersebut datang dan si mas atau mbaknya bakal nyoretin menu-menu yang sudah sampai dengan selamat.

Saya akan menjabarkan satu persatu dari menu yang pertama sampai di meja dan dengan lihai dicoret langsung kertas menunya oleh si waiternya ya.

1.      Chocolate Latte by Estuary Cafe

Sajian Chocolate Latte by Estuary

Tampilan Chocolate Latte Seperti Es Milo, Tapi Rasanya Berkelas

Ini adalah menu yang pertama kali tiba di meja kami, yang mana adalah pesanan dari teman saya. Ketika si menu ini diletakkan di meja, si mas langsung melihat nota yang tertempel di papan nomer gitu, kemudian mencoretnya dengan tangan.

Sret. Sret.

Lalu pergi.

Mempersiapkan menu yang lainnya.

Papan Menu Estuary

Papan Nomer untuk Menu

Teman saya, yang kala itu melihat pesanannya datang, secara sadar langsung membiarkan tangan saya menggerayanginya terlebih dahulu guna memilih spot yang bagus untuk diambil gambarnya.

Ribet banget emang sayanya, tapi hasilnya teteup sama dan nggak ada bagus-bagusnya bangkai.

Selesai menjepret dari beberapa angle, yang mana sekali lagi, hasilnya ngga bisa dibanggakan sama sekali, saya pun mengembalikan chocolate latte ini kepada teman saya, tapi tentu setelah saya mencicipnya sedikit.

Chocolate Latte by Estuary

Tampilan Chocolate Latte yang biasa

Dari apa yang saya rasakan, chocolate latte ini rasanya ya, ya kayak sebagaimana chocolate latte pada umumnya. Nggak terlalu manis, tapi dominan rasa chocolate yang gimana ya? agak pahit gitu.

Ngga manis, tapi dominan pahitnya, nga tau sih. Rasa chocolate yang sebenernya emang begini kalik ya?

Untuk pecinta latte, sepertinya harus nyobain deh.

2.      Cookies & Cream Frappe

Cookies and Cream

Logo Oreo di Cookies & Cream Frappe-nya Estuary Cafe

Menu yang selanjutnya datang adalah Cookies & Cream Frappe pesanan saya. Sama seperti metode sebelumnya, si mas-masnya yang datang pun lantas langsung mencoret salah satu tulisan di nota pesanan kami, kemudian pergi.

Saya?

Heboh dong, dengan penampilan dari menu pesanan saya yang bertauk Cookies & Cream Frappe in.

Ehe, norak emang.

Baca Juga : Mencicipi Kedai Ramen Enak di Jogja

Padahal, ya penyajian dari menu yang sejenis ya pasti bakal mirip-mirip begini sih, tapi, ya gimana ya? Bagus aja gitu diliatnya.

Dari segi warna, perpaduan warna putih dari vanilla dan hitam dari taburan oreo, memberikan kesan yang, duh, kok monokrom sekali sih, ngerasa agak sayang gitu buat ngaduk atau nyeruputnya.

Tapi, karena saya haus, saya pun lantas nyeruput si cookies & cream ini dengan cukup beringas.

Cookies & Cream

Cookies & Cream Frappe andalan Kita

Rasanya?

Manis dong!

Gila, nggak ngerti lagi. Ini cocok sih sama lidah saya, yang emang cukup suka manis gitu. Perpaduan rasa vanilla, oreo, dan krim roti putih gitu apa ya namanya? Enak banget.

Minuman tipikal gini sebenernya nggak begitu nyegerin dan ngilangin dahaga sih, malah justru bakal nyeretin, tapi, karena saya suka, ya fine-fine aja.

Ehe.

3.      Nachos Pico de Gallo

Nachos Sambel Matah

Sambel Matah yang Melimpah di Nachos Pico de Gallo

Selesai dengan dua minuman yang dengan lancar jaya mendarat rapi di atas meja kami, lantas selanjutnya adalah camilan-camilan yang kami pesan. Untuk yang pertama kali datang adalah pesanan saya yang dalam menunya bernama Nachos Pico de Gallo.

Awalnya saya suda berekspektasi bahwa menu yang akan datang adalah semacam nachos atau keripik jagung berbentuk segitiga ala meksiko gitu-gitu, tapi, yang diluar dugaan dan mengejutkan saya adalah taburan sambel matah yang menggerayangi bagian atas si nachos tersebut.

Saya pun langsung mencicipinya, dan merasakan rasa hambar pada nachosnya. Setelah itu, saya mencoba untuk mencampurkan nachos dan sambel matahnya untuk dimakan secara bersamaan, sampai rasa yang dominan saya rasakan adalah sensasi asem gimana gitu.

Merasa kurang nikmat, saya pun lantas mengambil saos yang disediakan di meja seberang, dan menuangkannya ke nachosnya.

Nachos Pico de Gallo

Nachos Pico de Gallo by Estuary Cafe

Rasanya?

Emang sih, saya paling cocok makan apapun pake saos. Apalagi kalau nachosnya ini diganti sama happytoss.

Ya ampon juara.

Tapi pada akhirnya, saya tetap menikmati si Nachos Pico de Gallo ini, dan teman-teman pun juga demikian.

Mantap.

4.      Hand Cut Fries ala Javva

Hand Cut Fries ala Javva by Estuary

Sambelnya menggoda banget gak seeeh

Menu terakhir yang datang ke meja saya, sekaligus membuat si mas-masnya berhenti mencoret kertas pesanan dan membawa satu papan yang ada nomernya, adalah Hand Cut Fries ala Javva.

Saya nggak tau, apa pertimbangan teman saya memesan menu ini, karena yang kemudian terpampang di depan kami adalah satu buah piring dengan potongan kentang goreng lokal berbentuk bulet agak kotak, dilumuri semacam sambal oseng gitu.

Saya pun mencoba untuk mencicipinya satu biji, dan mencoleknya ke si sambal oseng yang ada di atasnya.

Rasanya, enak sih, menurut saya. Kentang lokal yang padet dan lembut (serta panas tentunya) di dalam, ditambah dengan rasa sambal oseng yang cukup pedas dan asem, membuat si kentang ini lebih berwarna rasanya.

Kalau misal saya main ke Estuary lagi, mungkin saya lebih prefer untuk memesan menu ini ketimbang nachos yang saya pesan.

Kentang Sambel

Hand Cut Fries ala Javva by Estuary Cafe

Ternyata, logo jempol di sebelah kiri menu itu tidak melulu membuktikan bahwa menu tersebut enak, karena sekali lagi, rasa adalah soal selera.

Ehe.

Selesai dengan pesanan kami yang memang sudah semuanya mendarat di meja, kami pun lantas melanjutkan dunia pernongkayan dengan ngobrolin macam-macam. Entah itu masalah keteknik sipilan, gosip terkini, sedikit politik, dan yang jelas, ya ngomongin orang-orang terdekat.

Ehe.

Rating Untuk Makanan dan Minuman di Estuary

Karena membahas obrolan saya dengan teman-teman adalah tidak penting, maka di akhir tulisan ini saya akan menjabarkan mengenai berapa rating yang saya berikan atas menu-menu yang kami pesan.

Menu Nikmat Estuary

Cookies  & Cream Frappe yang Menggoda

Menurut saya, Cookies & Cream Frappe adalah minuman terdabest yang saya rasakan di Estuary Cafe, karena, ya karena saya pesannya itu, dan pembandingnya hanya chocolate lattenya teman saya. Ehehe, mungkin untuk lebih fairnya, saya harus mencoba semua minuman di Estuary, tapi pankapan, kalau sudah jadi sultan ehehe. Rating untuk Cookies & Cream Frappe ini adalah 8 dong.

Untuk Nachos Pico de Gallo, saya memberikan nilai 7, karena menurut saya perpaduan antara nachos dengan sambel matah memberikan sensasi yang unik. Tapi belum cukup membuat saya terkesan, karena ternyata saya lebih nyaman dengan rasa nachos yang kayak happytoss gitu.

Ehe.

Baca Juga : Mamicu adalah Minuman Susu yang uwu

Untuk Chocolate Latte pesanan teman yang saya cicipi beberapa seruputan, saya memberikan nilai 7, karena bisa rasa chocolate yang emang dominan dan tidak terlalu manis gitu. Tapi secara penyajian, ya, kayak kurang eye catching gitu, tapi, ya, gimana ya? kan mentok-mentok chocolate kalau disajikan ya cuma bakal gitu-gitu aja kan ya?

Terakhir, untuk Hand Cut Fries ala Javva, saya memberikan nilai 7.5 karena emang saya suka dengan kentang, dan tekstur dari apa yang diberikan oleh estuary ini pas banget di lidah saya. Sambelnya sebenernya enak, tapi jujur, saya kurang cocok sih, karena nyatanya saya makan pakai saos gitu malah lebih enak ehe.

Sajian Nikmat Hand Cut Fries ala Javva

Sambal Melimpah di Hand Cut Fries ala Javva-nya Estuary

Gitu.

Jadi, untuk keseluruhan dari apa yang saya rasakan kemarin, dari empat menu yang dipesan dan saya rasakan, dari kenyamanan tempat yang diberikan, dari segi pelayanan yang diusahakan, dari segi harga yang dipatokkan, saya memberikan rata-rata nilai…

Hmm…

Berapa ya?

Sepertinya 7.8 deh. Tentu dengan penyumbang nilai terbanyak adalah pada kenyamanan tempat dan konsep dari cafenya.

Agar bisa membuktikan dan menyanggah dari apa yang saya nilaikan, ada baiknya kalian mencoba untuk mampir sejenak ke Estuary ini.

Nggak akan kecewa sama tempatnya deh

Aslik

Ehe.

Terimakasih sebelumnya.

36 comments

  1. Apakah setelah pernongkayan, selanjutnya adalah pertokayan?

    Baca atas-atasnya sempet mikir hm kali ini Febri nulisnya kalem banget, eh menuju ke tengah kok tetap ngegas sibangsat hahahaha

  2. “Ribet banget emang sayanya, tapi hasilnya teteup sama dan nggak ada bagus-bagusnya bangkai.”

    sukses beberapa kali saya ketawa sendiri bacanya, haha lucu…

    untuk ukuran makanan memang mahal, tapi bukan dari makanannya melainkan tempatnya yang super nyaman. penasaran sama kentang ala jawanya, ntar bikin sendiri aja deh, kalau asam berarti pakai tomat

    1. Whahahaha iyaaaaaaa benar 😀 wgwgw

      beberapa kafe memang kalau menjual, yang dijual adalah tempatnya 😀
      jadi sebanding sih, dan agak sayang ketika nongkay hanya beli esteh, mending beli yang agak mahalan sekalian 😀

  3. itu yang namanya nachos kayak suatu cemilan yang namanya cumi-cumi itu yaa..
    tempatnya keliatan cozy, enak kalau buat nugas dan nyantai ala anak-anak kuliah yang dirundung kegalauan karena tugas..

  4. Wah pas banget baca artikel ini karena udah beberapa kali mau kesana tapi bingung gangnya yg mana padahal sudah pakai gmaps. Berarti kalau dari kota sebelum Primagama ya? Soalnya gangnya sempit2 daerah itu, takut nggak bisa mbalik kalau salah. Aku pakai mobil btw. Kalau lihat fotonya sih yg latte kayak enggak banget ya? Encer gitu. Berarti mendingan frapper kalau pesan ya?

    1. Wahahahaaaaaaa, sekarang suda ketemu belom, mba?

      Bener banget, sebelom primagama nanti ada belokan ke timur, belok saja mba.

      Agak turun dikit, terus belok kanan, nah, parkiran mobilnya estuary luas bet kok 😀

      bisa buat muter-muter atau latihan nyetir 😀

      Lattenya sih, menurut saya tida mba. Karena, ya, kayak milo gitu, encer.

      Frappenya enak, kalau emang suka yang manis-manis mba 😀

  5. Sekarang ke cafe tidak lagi menomorsatukan makanan dan minuman. Tapi lebih menikmati suasana di cafe itu. Jadi, harga yang cukup tinggi pun masih bisa diredam dengan suasana yang ada.

    Hand Cut Fries ala Javva, terlihat kurang serius penataannya.

    1. Wahahaha bener sih, tujuan utamanya ya nongkay, makanan maupun minuman cuma sekedar pendukung saja 😀

      Wwgwggw, sepertinya ada barisan cut friesnya yang lagi melawak, jadi berantakan.

  6. Di foto keduanya si nachos kok saya melihatnya lebih mirip kerupuk pangsit ya? Jadi ingin makan mi ayam pangsit hmmmm.

    Saya nga mau kesitu ah kalo mahal. Mending makan nasi teri gejayan sama masnya yang itu~~

      1. Happy tos kalo sekali makan susah berenti sih kalo saya.

        Sama mas mas yang dagangnya sekalian dong. Biar rame-rame kan asik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s