Hilmi Membuat Dua Orang Berdebat, Tapi Debatnya Bukan Masalah Hilmi

Judulnya anjay.

ehe.

Beberapa hari terakhir ini, jagat twitter agak dihebohkan oleh satu cuitan berisi sebuah video dari seseorang, lengkap dengan bahasan mengenai joke yang bunyinya : durudududung.

Hilmi AK adalah sosok orang dibalik tweet tersebut, dan ribuan orang di twitter adalah gerombolan yang seolah-olah mencoba meramaikannya.

Foto Hilmi Tapi Ilustrasi

Foto Hilmi, tapi ini illustrasi saja (source : narutopedia)

Kita semua pasti tau, metode untuk viral di Indonesia atau mungkin beberapa negara berkembang lainnya itu cukup mudah, yaitu hanya dengan membuat sepatah dua patah kalimat atau video yang memiliki tendensi untuk tidak disukai oleh banyak orang, tunggu beberapa saat, lalu, duar.

Viral.

Nga bo’ong saya.

Saya pun heran, kok bisa sebegitunya ya?

Banyak orang yang mengutarakan pertanyaan demikian, meskipun, ya, kita semua tahu, bahwa kita yang mempertanyakan itupun juga ikut andil dalam meramaikan atau membuat si orang dengan kalimat atau video cringe tersebut terkenal.

Kalau kasusnya hanya sebatas video memaksakan komedi, yang tidak lucu-lucu amat tapi dianggap lucu oleh pembuatnya, seperti yang dilakukan oleh Hilmi sih, saya nggak masalah.

Lha soalnya ini kadang nggak pandang bulu, anjir. Kemarin sempat gempar gegara ada orang yang nyekokin ciu ke kucing anggora, lhadalah tiba-tiba instagram si pelaku followersnya sudah bisa buat bekal swipe up saja.

Kalau emang ngga suka, ngapain difollow sih, buset?

Kalau saya jadi pelakunya, keluar dari penjara (apabila emang di penjara) itu akun instagram langsung saya ganti username, terus saya kelola ulang agar bisa mendapat endorse-an anjir.

Hm, kembali ke Hilmi aja deh ya.

Sebenernya, permasalahan dari Hilmi dari sudut pandang orang yang tidak terlalu suka dengan tweet atau jokenya akan sangat mudah apabila cepat-cepat melakukan prosesi block dan report. Saya sudah melakukannya, tentu dengan berbagai macam pertimbangan, yaitu apakah benar-benar twitternya tersebut layak untuk diblock atau tidak.

Saya pun sempat menanyakan ke beberapa orang yang menganggap bahwa video/joke yang disampaikan oleh Hilmi itu lucu, dan meminta dimenit ke berapa dan dibagian yang mananya yang lucu, namun tidak ada jawaban. Mentok-mentok, ya jawaban :

‘Dia ganteng, bang. Ehe’

Kan bangke. Sampai akhirnya, keputusan untuk ngeblock pun saya bulatkan. Lalu, yaudah.

Komuk Hilmi ilang?

Ya, enggak.

Masih ada banyak akun yang mencoba merepost ulang video jokenya, lengkap dengan beberapa komuk dari si Hilmi tersebut.

Nyoba di mute kata Hilminya?

Nga ngaruh.

Banyak orang yang nyebut Hilmi jadi Hilmaaaak, Hilmaaaaay, helmi, atau lain-lainnya. Jadi, ya jangan harap.

Sampai akhirnya, tiba-tiba muncullah sebuah twit dari salah satu seleb yang menampilkan screenshotan mengenai petisi di change.org yang mana isinya adalah meminta agar si Hilmi tutup akun, atau minimalnya tidak usah bikin joke yang meresahkan.

Petisi Hilmi AK

petisi g0kil

Saya liat screenshotan tersebut terus ngakak dong, sembari dua jari mencari kira-kira dimana sematan yang berisikan link untuk menuju ke petisi tersebut.

Setelah ketemu, saya langsung klik tandatangani, screenshot, untuk kemudian dijadikan bahan twit.

Di posisi ini, sebenernya saya amat sangat tau, mau seberapa banyak pun tanda tangan yang ada di petisi change.org tersebut, ya, si Hilmi nga akan menutup akunnya. Suwer dah. Lagian, block dan report pun juga sudah merupakan solusi, meskipun tidak benar-benar ampuh mengingat video reuploadan dan screenshotan komuk si Hilmi masih akan bergentayangan di timeline.

Selesai ngetwit perihal petisi tersebut, saya pun langsung bergerilya di timeline dong, guna mencari kelucuan-kelucuan lainnya. Sampai akhirnya saya nemu sebuah akun yang diretweet oleh salah seorang yang saya ikuti, berisikan opini yang intinya dia kontra dengan adanya petisi si Hilmi itu.

Sebagai orang yang kerjaannya adalah menimbrungi twit orang secara random, saya pun kemudian mereply twit tersebut dengan kalimat :

‘Kenapa ada petisi tersebut, ya karena fitur block saja kadang tida cukup, maaf’

Seselesainya ngereply tersebut, saya langsung scroll down dong, guna mencari twit-twit lainnya, dan nga mikir apa-apa lagi kemudian.

Ehe.

Saya sudah tidak begitu serius dalam bermain sosial media, terakhir serius sih waktu masih tahun 2014-an apa ya, lupak, pokoknya dulu tuh sampai pernah berantem sama mantan saja di twitter ehe.

Seiring waktu yang berjalan cepat, saya pun mikir, ngapain juga sih serius-serius di media sosial (khususnya twitter)? Bikin cape aja. Hingga akhirnya, sekarang, twitter pun menjadi sarana meditasi dan hiburan tersendiri buat saya. Makanya, dulu waktu zamannya politik, agak kesel aja gitu ada hatespeech dimana-mana.

Kalau emang hiburan nga perlu diseriusin, kenapa si Hilmi main diblock aja anjer?

Karena itu adalah solusi satu-satunya anjir, mengingat ya saya sudah berkali-kali lihat kontennya dan, wadidaaaw.

Debat di Twitter

pukul (source : dna)

Mungkin saya akan mengunblock jika dan hanya jika si Hilmi membangun yayasan panti asuhan atau menjadi aktivis yang membela hak asasi manusia.

Ehe.

Tapi sekarang, biarin begini dulu.

Ehe lagi.

Beberapa menit berjalan, saya pun ngecek tab mention/replyan twitter. Di situ, ada orang yang menanggapi twit saya begini :

‘Nga cukup kenapa ya? Serius nanya’

Merasa karena twit saya sebelumnya hanya celetukan asal, saya pun kembali asal menjawab pertanyaan dari seseorang tersebut :

‘Karena manusia ngga pernah merasa cukup’

Seseorang itu hanya membalas :

‘Nga valid’

Merasa bahwa replyan itu tidak perlu dibalas, saya pun berlalu dengan menutup twitter, meletakkan hape, dan bergegas shalat ashar sebentar. Sampai seselesainya shalat, saya langsung membuka hape, membuka twitter, pilih tab notification, lhadalah, saya nemu reply-an yang isinya :

‘hahaha, lo itu cuma bisa bergerak kalau ada pendorong bro’

Masih dengan perasaan bahwa celetukan saya adalah asal, maka saya pun menanggapi twit tersebut begini :

‘Aduh, serem’

Yang malah dibalas dengan nada seperti ‘nantang’ begini :

‘Hahaha, udah gitu doang balasannya? Ga seru ah, kirain enak diajak debat ya kan. Eh, gabisa membela pendapatnya sendiri’

Pada point ini, saya pun bingung dong? Maksudnya kayak, apa yang musti didebatin gitu loh, ketika misal kita tidak suka sama orang, yang kemudian dilawan dengan yang sebaliknya?

Ya, kan nggak bakal ada titik temunya. Saya pun membalas :

‘Saya nga suka memperdebatkan apa yang gabisa didepatin. Nga akan ada ujungnya, karena apa yang saya nga suka, adalah benar untuk saya, karna ya itu pendapat saya. Terus apa yang kamu suka/bela,  adalah benar untuk kamu, karena, ya, itu pendapatmu. Apa yang mau didebatin?’

Merasa bahwa replyan saya sudah cukup untuk meredam conversation yang sungguh tidak penting ini, saya pun lantas scroll-scroll di timeline kembali guna mencari twit-twit menghibur lainnya. Sampai akhirnya saya ngecek notif lagi, lhadalah, orang itu masih nimbrung begini :

‘Oh, gitu toh? Tapi kan yang namanya SOSIAL MEDIA ya ni bang, kan kita bersosialiasi nih ya, yang namanya sudah berpendapat dan udah dishare ke publik ya bang, berarti saya berhak dong mau nanya arti demi arti dari pendapat abang ya nga?’

Merasa kayak bertanggung jawab atas apa yang saya twitkan, saya pun langsung menyamber dengan balasan yang to the point :

‘Ohiya, bole mz.

Masnya mau nanya apa?

Ngeblock nga cukup kenapa? Karena jawabannya adalah manusia tidak pernah merasa cukup.

Kenapa tidak pernah cukup? Karena kalau sudah diblock, masi ada screnshoot, video reupload, dan lain-lain sebagainya.

Sekarang gantian, masnya suka Hilmi kenapa?

Saya langsung tertarik dong dengan adanya perdebatan semacam tukar pendapat gini, siapa tau jawaban dari pertanyaan saya itu membuat saya tercerahkan dan mengunblock si Hilmi kan?

Sampai tiba ketika saya cek notif, balasannya adalah :

‘Oh, sorry bang. Ini mah bukan masalah Hilma Hilmi ya bang ya. Ini mah masalah tentang pendapat abang saja’

Gedubrak.

Saya bingung dong?

Saya kan merasa tertarik ketika ada orang yang kayak memancing untuk berdebat atau berdiskusi masalah Hilmi ya, sampai pada kenyataannya, lhadalah permasalahan yang dimaksud bukanlah masalah Hilmi.

Saya kecewa dong? Kemudian, saya pun membalas begini :

‘Lah L

Kan di atas bahasnya Hilmi ya ampon’

Ngga beberapa lama kemudian, seseorang ini pun membalas :

‘Hahaha, saya bukan kepanggil karna Hilmi bang. Saya mah kepanggil karena saya juga manusia bang, jadi merasa kepanggil sama statement abang yang manusia-manusia itu’

Di titik ini, saya langsung memicingkan mata.

Ini bagian mana yang dimaksud ya, buset?

Saya pun langsung nyoba scroll convo itu ke atas, sampai menemukan twit saya yang menjabarkan perihal : ‘manusia tidak pernah merasa cukup’ gitu-gitu.

Saya pun menggelengkan kepala heran, lalu membalas begini :

‘Hoalaaaaaa, iyaaaaa. Kirain karena masalah Hilmi.

Kalau ternyata masalahnya cuma karena kata ‘manusia tidak pernah merasa cukup’ dan masnya sebagai manusia ternyata selalu merasa cukup mah, ya, saya minta maap mas.

Cukup terus ya mas?’

Di titik ini, saya merasa bahwa seharusnya perdebatan yang sangat belok ini berakhir dong? Namun pada kenyataannya, si orang ini mereply begini :

‘Ah, saya manusia biasa bang. Abangnya terlalu berlebihan ah, bawa-bawa manusia sampai pukul rata. Saya cuma respect sama Hilmi, kalau suka mah, saya suka musik. Oiya, btw, abang punya video melucu juga ya? tadi saya ga sengaja liat di akun abang’

Tapi di twit saya sebelumnya. Merasa bahwa ini perlu dibalas juga, saya pun lantas kembali membalasnya begini :

‘Owala, karena masnya manusia juga.

Ehe.

Kirain karena Hilmi, ehe.

Kalau masalahnya gegara manusia yang saya bilang merasa cukup, dan masnya menyanggah karena masnya cukup, ya saya minta maap dong.

Video melucu? Oiya, itu video lagu saya mas. Gimana ya?

Sama seperti sebelumnya, saya pun merasa bahwa perdebatan ini akan berakhir. Akan tetapi, lagi-lagi dia membalas yang membuat saya sedikit agak bingung. Kira-kira begini :

‘Nah, wuih, kalau saya ya mas, saya sebagai saya belum merasa cukup nih, kurang dikit lagi. Saya juga sebagai saya karena ga ada cukupnya, saya mau block aja gimana nih bang?’

Saya sejujurnya sudah ngakak baca reply-an ini, selain karena bingung sama kosakatanya, pun juga bingung sama apa yang mau diperdebatkan lagi.

Ngga ngerti lagi.

Saya pun membalas :

Lah, ini gimana dah ._.

Saya malah bingung.

Bilang tidak pernah cukup, disanggah. Giliran saya bilang cukup, belum cukup dan kurang dikit lagi, eh, sekarang balik lagi ga ada cukupnya 😦

Bole banget mas kalau mau block aja ya ampon, daritadi ngapaaaaa

Saya geleng-geleng kepala sembari ngakak nggak jelas pas mendapati kenyataan begini. Pokoknya direply-annya itu, dia menekankan bahwa kita ngga boleh memukul ratakan manusia, karena pada dasarnya manusia itu berbeda-beda, dan punya pribadi yang berbeda-beda.

debat gokil

perdebatan dimulai (source : katadata)

Dia tersinggung karena seolah-olah manusia tuh saya pukul rata yang mana tidak pernah ada rasa cukupnya sama sekali. Saya pun heran, padahal saya sudah meminta maaf perihal twit saya tersebut, tapi masih digoreng melulu. Sampai akhirnya, ketika saya mengira bahwa saya diblock beneran, dia ngereply begini :

‘Intinya nih ya masku sayang, kata-kata mas bilang manusia ga ada cukupnya kurang efisien. Kenapa semua orang berpendapat dimulai dari kata ‘menurut saya/opini saya/saran saya/pendapat saya’ karena dia tau kalau ga semua manusia sama nih masku ya’

Saya langsung ngakak dong, disatu sisi si orang ini mencoba tetap pada jalur perdebatan yang mana membahas tentang kita yang tidak boleh memukul ratakan manusia, tapi disatu sisi dia juga hipokrit karena dia memukul ratakan orang.

Saya yang kala itu ngakak pun langsung mencoba satir sembari ngisengin :

‘Kata ‘kenapa semua orang berpendapat…’ juga kurang efisien, mas. Masi ada nada memukul ratakan orang, karena nyatanya kan ga semua (?)

Maksudnya mungkin : menurut saya, kenapa semua orang berpendapat mulai dari…

Ehe, ilmunya mas langsung bisa saya terapkan loh, makasi mas’

Dia dengan bahagia membalas :

‘Naaaah, begitu maksud saya. Dikasih makan nyambung kan ente. Daritadi kek’

Saya sempat berpikir, seharusnya convo ini otomatis berakhir dengan adanya balasan dari si orang itu. Tapi beberapa saat kemudian, saya pun coba searching di pencarian perihal kalimat : ‘semua manusia’, guna mencari apakah ada orang seperti saya yang mencoba memukul rata manusia atau tidak, sampai akhirnya saya menemukan twit beberapa orang yang terdengar seperti memikul ratakan manusia.

Saya pun dengan iseng membalas twit si masnya :

‘Wkwkw, saya nemu ada beberapa orang yang masih memukul ratakan manusia, mas

Mau negur nga, mas?

Tapi kemudian, tanpa diduga-duga, si masnya pun membalas :

‘Saya juga masih nemu video cringe, mas? Mau ngeblock ngga? Siapa tau ngga selera?’

WADAAAAAAAAWWWWWWW…

Saya bilang wadaw sambil ngakak kenceng bet, sampai bikin ibuk yang lagi makan nanyain ada apa gitu.

Saya hanya menggelengkan kepala sembari nahan tawa.

Perdebatannya mulai keluar jalur sekali, anjir. Ini mah, sudah pasti aliran pro Hilmi. Saya pun masih mencoba membalas dengan memanas-manasi :

‘Kalau misal videonya kayak Hilmi, saya pasti ngeblock dan nandatanganin petisi, mas’

Kembali tidak disangka-sangka, si orang itu pun membalas :

‘Saya juga kalau saya ngeliat video menghibur dengan cara merendahkan diri malu sih, mas, kalau menurut saya memalukan sih’

WwwwwWWWwwwWaaAAAaaaaAAAAaaaAddddddddddaaaaaaaaaaaaaAawwwwW

Di titik ini, saya ngakak sejadi-jadinya. Nga ngerti lagi. Seolah-olah kata-kata :

‘Saya terpanggil karena pemukul-rataan terhadap manusia’

‘manusia itu beda-beda dan punya kepribadian yang berbeda-beda pula’

‘kita tida boleh memukulratakan manusia’

Terhempas semua, karena secara tidak langsung, itu dilanggar langsung oleh si orang yang menceramahi saya panjang lebar.

Merasa kalau convo ini diterusin pasti arahnya bakal kemana-mana dan tidak pada jalurnya, maka saya pun memutuskan untuk menyerah dan meminta maaf saja.

Si orang itu masih sempat berkelah :

‘Selagi bisa saya jawab, kenapa engga? Kalau kayak gitu caranya, pengacara ga akan laku. Hahaha’

Ya ampon, sampai ke pengacara.

Saya pun menaruh hape di kasur, mandi, lalu sembari menikmati guyuran air dari gayung yang mebasahi badan hingga selangkangan, saya sempet mikir :

‘ngapa twit begituan saja saya tanggepin, ya?’

Terlepas dari menang atau kalahnya saya dari perdebatan tersebut, saya menganggap bahwa yang kami lakuin di twitter itu bukanlah debat, melainkan hanya saling menimpal tanpa mengikuti jalur yang ada. Mungkin si orang itu menang, karena pada akhirnya semua yang saya utarakan kayak ditimpali melulu sampai akhrinya saya mengalah, menyerah, dan minta maaf.

Lagian, apa seh ini menang-kalah menang-kalahan?

Nga ada kerjaan, baru iya.

Ehe.

Ilustrasi-berpikir

berpikir (source : orbitdigitaldaily)

Lalu ketika selesai mandi, saya bergegas pakai baju dan menyalakan laptop, membuka word, kemudian menulis kata demi kata perihal pengalaman saya beberapa jam lalu.

Hingga saat tulisan ini selesai, dan tinggal mengklik tombol publish di pojok kanan atas, saya pun mikir :

‘ngapa beginian saja saya tuliskan, ya?

Anjir.

Ehe.

Goblo emang.

Ehe.

Terimakasi suda menyimak.

26 comments

  1. Sebentar mas feb.. Sebentar… Tarik napas dulu, ini aku kudet amat sm si hilmi yak.. Tp beberapa kali liat video kucing yg dicekokin ciu, dasar ya memang lgsg jd selebgram. Lah km kok udah nyoba dandan ala suhay salim berkali2 blm viral juga sih Mas Feb? Kaburrrr

    1. Wgwgw Alhamdulillah jika dirimu tau si Hilmi wgwgw.

      Tapi yang kucing itu emang ngeselin sih, bisa langsung jadi selebgram wgwgw

      Berarti dandanan saya yang kayak suhay salim tida begitu meresahkan masyarakaaaaaaat dong wgwg, beso kalau saya dandan kayak yesus tapi berjilbab, nah, baru mengundang perpecahan.

  2. cara viral di negara kita memang kadang unik dan tidak mengasyikan…kadang nyampah aja bisa jadi viral..ini yang salah yang bikin konten, apaemang selera pasar konten indo yang rendah ya…misal masih ingat vicky prasetyo,,yang bahasainggrisnya asal njeplak aja..eh viral dan sekarang jadiartis…gak ngerti saya

  3. Huahahhahaa that’s why I don’t leave twitter~~ emang kadang suka lucu sih netizen, karena nganggep socmed adalah hak semua orang buat komentarin semua yg terpublikasi. Tapi ya lo rajin juga ya feb ngebales balesin orang kayak gitu 🤣

    1. Hahahaha saya juga ngaaaa akan ninggalin twitter, karena di sana seruuuu wgwgw 😀

      Makanya itu, nga ngerti lagi wgwg. Kirain mau debat serius gitu ye kan, ahdalah, ternyata malah muter-muter wgwgw 😀

      Iyaaaa eh, ngapa saya rajin amat y -_-

  4. Hmmmmm emang dasar sukanya memancing keributan. Tapi saya suka sih melihat keributan. Hahahaha. Lanjutin aja feb. kan enak jadi konten 😀

  5. menurut pendapat saya, bodoamat sama hilmi dan segala drama di dalamnya.

    tapi bener sih bang, dulu pernah reply asbun di akun gede terus ada yg ngereply, nyanggah dengan serius, ngebuat saya jadi ngerasa lebih bodoh dari sebelumnya gara–gara reply iseng yang diseriusi. Serem sih.

    Semenjak itu, kalo ngerasa enggak perlu-perlu banget, engga pernah ikut ngasih opini, apalagi topiknya sensitif dan bidangnya engga kita kuasai, karena siap atau tidak, semuanya harus dipertanggung jawabkan.

    1. Wgwgwgw iyaaaaa emang begitu sih wwggw

      Saya mencoba bertanggung jawab kemarin atas apa yang saya bilang, tapi rasanya kok kayak diluar konteks lama-lama, akhirnya saya menyerah dan minta maap saja daripada panjang ye kan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s