The Power of Orang Dalem

Ketika saya masih kuliah dulu, ada sebuah pertanyaan, yang mana itu membuat saya agak takut :

‘Bagaimana saya bisa dapet kerjaan di bidang sipil, sedangkan keluarga saya tidak ada yang berlatar belakang sipil’

Hmm, sebenernya agak ‘gimana’ gitu ya, atas apa yang menjadi ketakutan saya di masa lalu. Kesannya kayak… ih, apasih, dunia kan ngga selebar daun kelor. Bisa. Bisa deh, bisa. Pasti bisa. Tapi atas hal-hal yang sekarang terlihat cukup ‘cringe’ saat ini, yang jelas, ya, ya begitulah yang menjadi ketakutan saya saat itu.

Ketakutan Para Pencari Kerja

Source : Kompas Lifestyle

Semua tentu beralasan, karena pada masany, saya sudah melihat beberapa orang teman yang mana orang tua maupun keluarga besarnya itu, mereka memang bergelut di dunia ketekniksipilan, sehingga pada perjalanannya nanti, pencarian lapangan kerja seolah bukan menjadi ‘tantangan’, namun justru amat sangat terbuka lebar untuk mereka.

Sedangkan saya, yang orang tua maupun keluarga besarnya tidak ada yang berlatar belakang teknik sipil, tentu saya hanya bisa… ya hanya bisa mendekati teman-teman yang keluarganya berlatar belakang sipil, dong, agar jika nanti ada proyekan besar, saya bisa lekas diberi kabar dan dimasukkan ke struktur keanggotaan.

HAHAHA.

Nga, deng.

Ngga segitunya juga dong pun.

Hahak.

Semestinya, kita haruslah sadar diri dan berusaha sebaik-baiknya, agar mendapatkan apa yang diinginkan dengan sepantas-pantasnya.

Uwoooooh, bijak sekali.

Diterima Kerja

Source : InternetMarketing

Tapi kalau dilihat-lihat, kayaknya enak banget nggak sih, semisal orang tua atau keluarga kita itu memiliki jabatan tinggi di suatu perusahaan, atau membuka ladang usaha besar dan ternama. Seolah-olah, ya, kita sebagai anak atau kerabat dekatnya, setelah lulus, minimal sudah langsung taulah, mau kerja dimana atau berfoya-foya sebagaimana hebohnya bak rafathar yang harta kekayaan orangtuanya sudah tujuh turunan.

Tapi minusnya, kalau di pandangan saya sih, kayak kurang ada tantangannya gitu. Eh, iya ngga sih? Meskipun sudah jelas-jelas enak, tapi kan, yaaaa gimana ya? Ditambah lagi, pasti ada perasaan ngga ena dan kurang leluasa kalau kerja bareng orang tua atau saudara dekat gitu. Ya, kayak segan gimana gitu ngga sih? Mau begini, takut salah, mau begitu, takut keliru. Ngga bebas deh pokoknya.

Makanya, saya nggak pernah minta ke bapak saya buat nyariin kerjaan lewat temennya yang notabenenya ada yang kontraktor, karena, nanti kalau salah atau teledor, ya malu. Mending nyari sendiri, salah, ya nggapapa, belajar lagi, tida ada rasa ngga enakan atau gimana-gimana.

Ehe.

Setertutup itu hidup saya.

Merenungi Pekerjaan Tanpa Orang Dalam

Source : JobLoker

Ehiya, apa yang saya jabarkan di atas tu menurut pandangan saya pribadi ya, ngga usa ditelen bulet-bulet, karena pasti setiap pikiran orang itu berbeda dan prinsip keluarganya pun juga berbeda adanya.

Orang Dalem dalam Kerjaan

The Power of Orang Dalem

Source : Shoppe

Saya sering bertemu dengan beberapa orang, yang mana ketika mereka masuk kerja, mereka bisa ‘makcling’, kayak orang yang lewat jalur prestasi. Tiba-tiba sudah update di proyek saja, tiba-tiba sudah update panas-panasan sambil bilang ‘duh panas’, dan ada yang tiba-tiba sudah update di dalem mobil sambil menuliskan quote :

‘hasil tida akan mengkhianati usaha’

Iya. Hehe.

Usaha bapa’ lo.

Ehe.

Sebenernya, yang dimaksud orang dalem ini bisa tergolong banyak hal, mulai dari yang ekstrim kelas kakap, sampai yang biasa-biasa aja. Apa saja itu? Mari kita jabarkan.

1.     Orang Dalemnya adalah Orang Tua.

Bawaan Bos

Source : Mikeladano.com

Jelas, salah satu golongan orang dalem yang levelnya ekstrim kelas kakap, tentu saja berasal dari orang tua yang jabatannya sudah sekelas manager atau sekelas direktur utama suatu perusahaan. Kalau sudah orang dalemnya semacam ini, ya, si anak tinggal masuk aja deh ke perusahaan tersebut. Suwer dah, aslik.

Tapi dengan tanda kutip, kalau emang si orang tua memang ingin anaknya melanjutkan jenjang kariernya, atau ingin melihat anaknya ngga perlu susah-susah nyari kerja alias sini-sini masuk dan tinggal kerja langsung saja ih, anak papa ngga bole lelah.

Temen saya ada dong, dan agak ketara banget sih, gimana cara mainnya.

Jadi, ada suatu perusahaan yang mana ketika membuka lowongan kerja, biasanya yang dipilih untuk lolos tes administrasi hanyalah mereka-mereka yang berasal dari Universitas Negeri. Sudah hampir 4 kali saya melihat hasil rekapan kelulusan tes administrasi perusahaan itu, yang mana ngga pernah ada satu pun Universitas Swasta di sana.

Sampai akhirnya,

Ujug-ujug, di kali kelimanya saya yang iseng melihat hasil rekapan tes administrasi dari perusahaan tersebut, tiba-tiba saya menemukan ada satu nama dengan universitas swasta yang menjadi instansi pendidikannya, nyempil di nomor paling bawah.

Nama teman saya terpampang nyata di sana, bahkan sampai pengumuman final hasil penerimaan tahap paling akhir, nama dia tetap nyelonong di sana, dengan instansi pendidikan universitas swasta, dan sekali lagi : nyempil di nomor paling akhir.

Ternyata, usut punya usut, teman saya itu adalah anak dari salah satu manager di perusahaan ternama itu.

Ehe.

Muluuuuuuusssss. Formalitas.

Masih ada banyak sekali dong contohnya, pun juga dengan berbagai macam jenis program kerja, entah itu kontrak proyek terlebih dahulu, yang jelas pasti bakal dipanggil terus-terusan, dan kelak bakal di ‘organik’an dengan, yaaaah, dengan tes-tes formalitas aja gitu, yang ujungnya nanti pasti bakal mulus banget masuknya.

Nikmat mana lagi yang kalian dustakan, wahai anak dari orang penting di suatu perusahaan?

2.     Orang Dalemnya Adalah Orang Terdekat

Ada Orang Dalem

Source : InstaTrix

Tipikal orang dalem kedua, tentu berasal dari orang terdekat seperti saudara, sepupu, ponakan, atau teman baik keluarga kita yang menjabat sebagai manager atau mungkin dirut di suatu perusahaan. Anak yang berasal dari keluarga dengan lingkup ‘orang terdekat’nya begini nih, yang juga bakal mulus aja gitu ketika nanti nyari kerja.

Percaya sama saya.

Etapi sekali lagi, tergantung sama keluarganya ya, karena saya yakin, pasti ada orang tua yang pengen anaknya setidaknya ‘usaha’ dulu deh, sebelum ‘disuapin’ gitu.

Tipe yang kedua ini, yang paling banyak saya jumpai di proyek saya kemarin. Hampir 80% pekerja yang di kontrak secara proyek/outsourching/terampil di sana, mereka adalah bawaan dari entah itu saudara, sepupu, kerabat dekat, dari orang penting di proyek tersebut.

Hal itu saya ketahui langsung dari seorang teman di sana, yang mana dia pun juga bawaan dari Pak Manager sana.

Keren sekali.

Hampir sama seperti contoh pertama di atas, tentunya, keuntungan untuk orang dalem di level ini adalah kepastian bahwa proyekan pasti kan lancar, karena… gimana enggak dong? Selagi saudara atau sepupunya ini dapet proyekan dan menjabat posisi penting, pasti bakal dipanggil untuk ikut serta di proyek tersebut. Ngga mungkin enggak.

Masalah kontrak, mungkin bisa dinomor akhirkan, mengingat pasti rasa tahu diri akan sangat menyelimuti di sini. Kontrak proyek sudah syukur, outsourching juga syukur, terampil pun syukur, organik? Wadadaw, sangat bersyukur.

Saya pernah membawahi seorang asisten surveyor yang mana merupakan saudara dari manager keuangan di proyek. Lalu sudah bisa ditebak? Jelas, dia sangat berani dalam meminta segala sesuatu, entah itu peralatan kantor seperti ballpoint, tas, bahkan bonus-bonus kerjaan. Bahkan kadang, dia malah yang ditawarin. Sebegitu banyak orang proyek yang biasanya minta dan jarang dikasih, eh, ini malah ditawarin.

Siapa yang nawarin?

Jelas, anak buah dari sang manajer keuangan, yang tau sebuah hukum archimedes ke delapan belas yang berbunyi : jika saya baik kepada saudaranya, pasti managernya bakal baik juga ke saya nih.

Kabarnya sekarang, yang saya tau dari Pak Sun, si asisten itu posisinya dinaikkan satu level menjadi surveyor. Padahal kalau saya lihat, ada beberapa kandidat lain yang memang lebih layak jadi surveyor, mengingat di sana ada salah seorang (yang menurut saya lebih layak dinaikkan posisinya tadi) terpaksa bekerja sebagai asisten, padahal posisi dia di proyek-proyek sebelumnya adalah surveyor.

Tapi mau diapa ya?

Orang dalem, sungguh sangat dapat berbicara.

Ngeri.

3.     Orang Dalem Adalah Rekan Terdahulu

The Power of Orang Dalam

Source : KomikYon

Tipikal orang dalem ketiga, tentu tidak jauh dari orang-orang proyek, entah itu selevel supervisor, superattendant, dan juga manager. Biasanya, orang-orang ini akan memanggil beberapa rekan atau bawahannya di proyek-proyek sebelumnya. Maka, beruntunglah kalian para orang yang punya kenalan baik dahulu, dan sekarang sudah menjabat sebagai manager atau atasnya lagi di proyek.

Alasan orang dalem ini memanggil rekan/bawahan lamanya pun kadang bermacam, ada yang karena memang kompeten, pun juga ada yang memang hanya karena kenal dan akrab aja gitu.

Di proyek tempat saya bekerja kemarin pun sempat ada yang begini. Jadi kala itu, atasan saya mengatakan bahwa akan ada calon asisten baru, mengingat saat itu kesediaan asisten masih kurang. Di situ, beliau sempat berkata begini :

‘Mas, nanti bakal ad 3 asisten baru ya. Yang satu dia asisten di proyek jambi, rekomendasi dari surveyor A. Yang satu dia surveyor di proyek kalteng, rekomendasi pak sun, nah, yang satu lagi itu dia belum ada basic surveyor, tapi dia rekomendasi dari pak bos A. Tapi dia ada kelebihan rajin kok. Mohon nanti dibimbing yak’

Padahal disitu, saya merasa bahwa untuk ukuran asisten surveyor, minimalnya adalah yang memang ada basic survey. Jika belum, ada baiknya masuk di helper dulu, lalu naik sesuai tahapan. Tapi, karena ini pemintaan boss, ya saya bisa apa kan ya?

Lalu bisa ditebak, selang beberapa lama berjalan, ada satu asisten surveyor yang memang sudah sedari awal bekerja di proyek tersebut, merintis dari nol, hingga sekarang menjadi asisten surveyor, dia nggak terima.

Secara terang-terangan dia bilang ke saya :

‘Kesel juga ya, Mas. Saya merintis dari nol, sampai ke titik sekarang ini, eh, tiba-tiba ada anak baru yang masuk, posisinya sama kayak saya, tapi belum bisa apa-apa. Gajinya lebih gedean dia lagi’

Saya hanya bisa senyum, sebelum kemudian merangkulnya.

I feel you, broh.

Tapi maaf, saya sejauh ini nggak bisa berbuat banyak.

4.     Orang Dalem Adalah Pihak Ketiga.

Masuk Kerja Karena Orang Dalem

Source : Disway.id

Tipikal Orang Dalem yang keeempat, bisa dibilang adalah orang ketiga, yang mana di sini termasuk anak/adik dari seorang manager atau orang penting di proyek, kemudian diminta untuk menyebarkan informasi lowongan ke rekan kuliah/kakak angkatannya, sekalian merekomendasikannya kepada sang bapak/kakak di proyek.

Bisa dibilang, yah, kayak saya dan beberapa teman kemarin deh, yang mana kami tau lowongan proyek tersebut dari adik si manager, lalu kemudian saya mengirimkan CV ke beliau, saya ditelpon, dan akhirnya diterima.

Gitu-gitu.

Masih mengikuti prosedur, tapi tahapannya cukup sederhana karena kebutuhan proyek yang memang urgent, dan pressing biaya yang sebisa mungkin harus dikendalikan sedemikian rupa.

Ya, terima saja.

Sejauh ini, tentu kita sangat sadar, bahwa istilah ‘orang dalem’ atau bisa dimasukkan dalam kategori KKN ini amat sangat sulit untuk dihilangkan. Susah, suwer deh. Membudaya, adalah kata yang tepat untuk menganalogikannya.

Saya kemarin saja bisa dibilang merekomendasikan salah seorang temen yang lain untuk bisa masuk ke proyek saya, kemudian disusul dengan teman saya itu yang juga merekomendasikan temannya lagi. Efek domino.

Bahkan, saya yakin, ada banyak perusahaan atau proyekan yang begini. Tak kecuali owner di proyek tempat saya kerja kemarin.

Di situ, saya baru tau bahwa ‘orang dalem’ amat sangat bermain di sana. Rekan kerja saya pernah mencoba melamar kerja di sana, sampai masuk di tahap interview akhir. Nah, disanalah ‘orang dalem’ amat mempengaruhi. Kala itu, teman saya hanya bisa menyebutan bahwa ‘orang dalem’nya adalah manager land preparation aja, sedangkan rivalnya, yang kebetulan akhirnya keterima, dia menyebutkan bahwa ‘orang dalem’nya adalah manager dari megaproyek itu sendiri.

Jelas, kalah telak.

Keberhasilan Mendapat Kerja Karena Orang Dalam

Source : Pesugihan.net

Saya pun juga baru tau, perihal lowongan kerja yang disebarkan si owner pernah hanya sekedar formalitas saja, agar terlihat bahwa :

‘ini loh, di sini ada lowongan’.

Padahal sebenernya, di dalam, para pekerjanya sudah saling menanyakan :

‘Eh, kamu punya temen atau saudara dengan kualifikasi sesuai persyaratan di sini nggak? Kalau ada, suruh masuk sini saja gih’

Gitu.

Keren yak.

Halaiyak.

Apakah itu suatu hal yang benar? Yaaaaa, nggak tau. Ngga bisa jawab saya.

Apakah itu bisa dihentikan? Yaaaaaa, enggak. Kan membudaya.

Jadi? Ya, cari link sebanyak-banyaknya lah agar bisa ikut dalam hal demikian.

Hahak.

Terimakasih.

Selamat berusaha, dan semoga sukses.

 

 

37 comments

  1. Orang dalem jago amat memang. Dia bisa memberi pekerjaan dgn mudah, juga bisa menghilangkan jejak kehilangan dengan mudah.

    “Padahal ada CCTV, kok dia tahu ya letak posisinya sehingga gak kerekam”

    “Pelakunya pasti orang dalam.”

    Orang dalam? Ademin aja dengan adem sari.

  2. Kemarin saya baca komik berjudul Solanin. Di situ ada tokoh namanya Meiko, dia bilang, “Orang-orang dewasa itu hanyalah kumpulan orang yang berpikir ‘Yah sudahlah’.”

    Setelah membaca ini saya juga jadi bilang, yah sudahlah, yg penting ttp berusaha. Soalnya udah miskin, nggak usaha,ngga ada org dalem, trs ngga dapet kerja, nanti semakin diomelin sama orang2 hahaha. Haha sudah mengalami berbagai hal di atass. Yg penting selagi masih kuat dan muda, jangan berhenti berjuang uwuwuwuw

    1. Tiada hari untuk Mba Njus tanpa membaca komik, buku, dan nonton anime. Mba Njus adalah kita.

      Haha, kita sudah cukup dewasa untuk berkata selain yaudahlah. Hahahak.

      Bener, makanya itu, karena sangat sadar diri atas posisi dan apa yang terjadi, ya, yasudah, lakukan sebaik-baiknya.

  3. Bu Puan adalah Ketua DPR perempuan pertama, Bu Mega adalah presiden perempuan pertama, nah itu bukti bahwa perempuan juga bisa jadi pemimpin….

    ….asal bapak lu juga punya jabatan

  4. Hm. Orang dalem di hidup gue sebenernya udah seliweran sejak gue mau masuk SMP. Tapi sejauh sampe gue kerja sekarang pun nggak pernah berhasil.

    Pertama waktu gue mau masuk SMP dan SMP. Bokap selalu berusaha biar gue masuk di negeri, sampe bela belain nanya ke guru yang biasa bawa “anak titipan”. Tapi ndilalah, nilai gue selalu memenuhi syarat buat masuk sekolah itu. Jadi gagallah itu pake orang dalem.

    Lebih hectic lagi pas masuk kerja. Karena sempet nganggur, bokap udah usaha sana sini buat nanya loker ke temen2nya bahkan di kantornya sendiri. Tapi gue selalu punya penolakan sendiri alias gamau dibantu orang dalem. Sombong emang hahahah. Padahal udah hopeless. Tapi lagi lagi ada aja kerjaan lain yang dengan usaha sendiri gue bisa masuk. Gagal lagi itu pake orang dalem.

    Dari dulu, gue selalu punya mindset, gamau pake orang dalem karena nanti kalo kerjaan ga bener atau sekolahnya ga bener ya yang malu itu orangtua. Gituu. Sama kayak yang lo bilang Feb. Alhamdulillah sekarang kerjaan gue juga bukan karena orang dalem, meski sebelum2nya gue pernah minta bantuan ke beberapa temen buat ngajuin refrensi di kantornya. Tapi tidak semulus itu ternyata. Wkwk. Better usaha sendiri kayaknya kalo gue.

    1. Wahahahaaaaa, ngeri juga, bahkan sedari kecil ya, sampai sekelas masuk smp saja mau pake orang dalem wgwgw.

      gimana saya dulu yang nemnya hanya 15, dan suda was-was mau sekolah dimana.

      Terus pas mau UN SMP, pas itu dibilangin kalau misal ga lulus bakal disuruh jadi a burjo saja.

      Wwgwgw

      saya juga kurang sreg ketika ada orang dalem yang notabenenya adalah keluarga atau temen bapak sih. Ogah aja gitu. Taku malu-maluin wgwgw.

      Mending nyari sendiri, atau mentok, yah, nyari referensi lewat temenlah wgwgw.

      Semangat terus pokoke 😀

  5. Saya sih masih percaya kalau orang yang memang kompeten dan dominan di tempat kerjanya tidak akan khawatir disalip sama orang dalam. Hehehe. Memang faktor orang dalam berpengaruh besar, tapi faktor kompetensi dan dominasi dari individunya masih jauh lebih besar dan belum bisa dikalahkan. Dan.. kalau melihat tren dunia kerja sekarang, saya lihat yang masih menganut hukum orang dalam ini tinggal perusahaan konvensional. Kalau perusahaan digital kan memang mengutamakan kualitas daripada karena kenal.

    Itu pendapat saya, kalau ada yang mau debat, silakan saya gak mau. Wkwkwk

    1. Wahahaha sangat bener dong. Dulu sih, saya takutnya hanya masalah pasti bakal agak susah nyari kerja gitu. Kalau pas sudah diterima, jelas, bakal survive terus dan terus dong. Kompetensi dan dominasi tidak akan pernah dihilangkan wgwgwgw.

      Aduh, saya nga suka debat. Panggil gigip sana. Haha.

  6. kalau di sini, orang dalem kami panggi ‘cable’.

    kadang kala rasa hendak marah juga mereka yang dapat job kerana cable yang kuat. tapi bila fikir semula, barangkali itu rezeki mereka. siapa tahu, walaupun ada cable yang kuat dan besar, tanggungjawabnya juga besar dan kuat, rite?

  7. Gue termasuk pernah dibantu orang dalam beberapa kali. Biasanya untuk lowongan yang berhubungan dengan penulis. Tapi ini bukan pekerjaan tetap. Per proyek gitu aja atau kerjaan lepas. Itu masuk kategori nomor empat, ya?

    Teman coba kasih tau tentang pekerjaan meliput acara, gue terus kirim contoh tulisan atau registrasi ke email pribadi–temannya teman gue ini. Walaupun ini termasuk diprioritaskan, dibaca duluan ketimbang yang kirim ke email yang disebarkan, paling enggak di situ juga ada seleksinya. Seandainya tulisan gue buruk banget bagi klien, gue yakin enggak akan dipilih.

    Namun, yang paling sering gue dapat tuh batasan pengikut di media sosial yang bebas dari syarat. Misalnya, ada syarat wajib harus punya 1.000/2.000 pengikut. Berhubung gue gak terkenal dan dari dulu followers juga segitu-segitu aja, gue nyatanya tetap dipilih. Selama nilai tulisannya di mata klien itu layak ya. Ehehe.

    Kalau pekerjaan umum dan tetap, belum pernah ada yang tembus pakai orang dalam. Selain karena gue malas kerja dengan kerabat alias nyaris enggak pernah minat melamar pakai jalur itu, gue juga takut ketika diterima mereka nantinya pamrih. “Udah dibantu masukin, enggak ada terima kasihnya, atau malu-maluin.”

    Gue takut sama hal itu. Haha. Jadi seringnya nolak duluan. Kalau udah kepepet banget, mungkin bolehlah dicoba. Selama entar gue bisa buktiin kinerja gue oke.

    Kalau orang dalamnya cuma sebatas teman kuliah atau sekolah atau tetangga, biasanya sih enggak banyak berpengaruh. Cuma lebih khusus jadwal psikotes atau wawancara ketimbang para pelamar umum. Kagak ujuk-ujuk diterima. Toh, buktinya gue tetap gagal pas seleksi karena belum mumpuni di bidang itu atau salah jawab pas wawancara atau gue sendiri yang mundur karena kesepakatan soal gajinya jauh di bawah angka ideal.

    1. Waaaaa, bener sih. Itu masuknya kayak link untuk dapet kerja, entah itu freelance atau yaaaa per proyek saja. Semakin banyak teman, semakin banya pula peluang.

      Tentu, tanpa menepikan skill dong. Yakalik, ada orang nawarin kerja, tapi kita skill ngga punya.

      Sejauh ini, saya pun sama sih, ngga pernah mau untuk bekerja bareng kerabat, karena ngga enakan. Nanti kayak bahasanya : ‘harus balas budi sebudi-budinya’ wgwgw kan cape.

      Hahaha, bener. Temen kuliah cuma sebatas menyalurkan dan bilang kalau : ‘ini temen saya kerjanya bagus loh’ selebihnya, ya kita buktikan sendiri wgwgw.

      Hahaha sering saya mah, kalau mundur karena gaji kurang ideal wgwgw

  8. Yah biasanya memang begitu sih, kalau gak dapat info loker dari orang dalem agak susah dapat kerjanya apalagi perusahaan2 elit , kalau dgn usaha sendiri tapi kemampuan pas2an ya wassalam, kecuali memang itu rezekinya 😀

    1. Naaaaah, bener banget, Mba. Kayak perusahaan elit itu sudah diisi sama kerabat-kerabat dekat dari si bos-bos ya.

      Yah, kalau pun ada yang orang baru, ya itu pasti yang memang rezekinya dan skillnya mumpuni.

      Jadi, berusahalah sebaik-baiknya 😀

  9. Kalo budaya luar referensi atau katabelece penting dalam mencari pekerjaan untuk garansi bahwa org yg mencari kerja tsb punya reputasi bagus apa gak. Di kita kebalikan, katabelece untuk menggolkan yang kadang gk punya reputasi

    1. Naaah, kalu di budaya luar dengan konsep untuk sekedar garansi sih, saya setuju. Setidaknya, peluangnya masih 50 : 50. dan tentu ada kesempatan untuk kita-kita yang emang nga ada orang dalem.

      Kalau di Indo, yah, wassalam deh wgwgw

  10. Jangankan di perusahaan besar, di perusahaan menengah pun ada yang namanya sistem “kekeluargaan” 😀 Pengalaman pribadi soalnya.

    1. Wahahaha bener-bener, mba. Orang dalem, hanya mempermudah kita untuk masuk ke perusahaan. Setelahnya, tinggal skill dan kinerja yang menentukan.

      Kalau yang biasa, ya harus melalui tahapan terlebih dahulu, tolak sana tolak sini, lalu jika berhasil, ya, kinerjalah sebaik-baiknya

      Ada pembeda tetep. Tapi akhirnya sama, meski ngga sama-sama banget.

      HAHA

  11. ‘hasil tida akan mengkhianati usaha’
    Iya. Hehe.
    Usaha bapa’ lo.
    wkwkkw

    Jadi inget ibu puan maharani.

    Sampe ada memenya ditwitter. Siapa yang usaha, siapa yang nikmati hasilnya
    Eh tapi kok aku terlalu frontal ya komennya ?

    Aku sendiri pernah kok merasa dititik hidup gatau harus gimana ketika kontrak kerja ga diperpanjang, kok ya pas banget ada temen yang nanya “Kamu mau gak jadi admin di kantorku? lagi butuh nih udah 3 bulan kosong”
    Kayaknya itu juga the power of orang dalam. Gils besoknya langsung pindah kantor dong aku. wkwkwkw.

    Terimakasih orang dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s