Pertama Kali Mencicipi Selat Mbak Lies

Selat itu gimana sih, rasanya?

Pertanyaan tersebut terucap dari mulut pacar saya beberapa bulan yang lalu, atau mungkin sekitar setahun yang lalu ya? Hmm, Saya lupa. Kala itu, saya pun tidak begitu detail menjawab pertanyaan yang pacar saya utarakan, dan hanya memberikan sebuah link yang menuntunnya ke jawaban atas pertanyaan yang dia utarakan.

Kini, berbulan-bulan pun berlalu. Bahkan mungkin, setahunan telah berlalu. Pertanyaan yang sama pun kembali dia utarakan, dengan nada dan kata yang relatif mirip :

Selat itu rasanya gimana ya?

Saya mengamatinya dalam, kemudian, dengan mode kepekaan yang kini sedang menyala dan sedang besar-besarnya, saya langsung menimpalinya dengan jawaban :

‘Besok ke Solo saja yuk, dah’

Dan, yak, kami berdua pun berangkat ke Solo keesokan harinya, setelah pada malam sebelumnya mendetailkan tujuan-ingin-ke-mana-saja-nya dan hendak menaiki apa kesananya.

Berdasarkan atas diskusi alot yang terjadi pada malam H-1 sebelum berangkat di Solo, kami pun menghasilkan kesepakatan yang sebelumnya telah direvisi beberapa kali sebagai berikut :

  1. Untuk hal perjalanan, kami berdua sepakat bahwa lebih baik menaiki motor saja, karena mobil tak punya, dan pabila hendak naik kereta, pasti agak ribet untuk kesana-kemarinya dan bakal boros di gojek.

Jalan?

Meninggal.

  1. Untuk tujuan, tentu kami berdua menentukan tempat yang tidak jauh-jauh dari kata kuliner maupun instagramable. Di tulisan ini, saya hanya akan menjabarkan satu tempat terlebih dahulu yang mana di judul sudah tertebak dimana, dan pada postingan selanjutnya, di bagian judulnya pun juga akan saya bocorkan lagi tentang dimana destinasi berikutnya.

Hal ini semata-mata agar saya menulis banyak tulisan, dan dapat memposting tulisan yang banya juga.

Nikmati sajalah.

Mencicipi Hidangan Selat Mbak Lies

Perjuangan Menuju Selat Mbak Lies

DSCF0315

Warung Selat Mbak Lies

Selat Mbak Lies adalah salah satu tempat yang paling pertama kami tuju ketika sampai Solo. Salah satu makanan yang menurut wikipedia merupakan sebuah hidangan khas jawa yang memiliki pengaruh hidangan Eropa ini, tentu menanamkan rasa penasaran kepada saya maupun si pacar, tentang bagaimana sih kira-kira rasa dari sesuatu makanan yang menurut wikipedia yang lain adalah sebuah wilayah perairan yang relatif sempit yang menghubungkan dua bagian perairan yang lebih besar ini.

Mampus nggak luh, ribet amat tulisan saya di atas.

Dimulai dengan perjalanan yang amat sangat melelahkan dari Jogja, sekitar pukul 09.00 WIB, lalu berpayungkan terik matahari yang amat sangat dan padatnya jalan Jogja-Solo yang sangat merayap, kami pun membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam 45 menit untuk bisa sampai di Solo, dan kurang lebih 20 menit tambahan untuk kami bisa sampai tepat di depan Selat Mbak Lies.

Saat itu sekitar pukul 11.00 WIB. Kursi-kursi di Selat Mbak Lies sudah terisi oleh beberapa rombongan orang atau sepasang kekasih maupun suami istri. Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh bapak-bapak berbatik dengan membawa dua kertas berisi menu dan semacam nota, lalu mengajukan pertanyaan perihal sudut tempat mana yang mau kami duduki.

Saya langsung menunjuk di dalam ruangan yang tersusun beberapa meja lasehan, dengan papan bertuliskan Galih dan Ratna sebagai petunjuknya. Si Bapak pun langsung mempersilahkan, sembari memberikan satu kertas menu berwarna putih dan satu kertas lagi berwarna hijau.

‘Ini yang putih untuk menu yang mau mas pesan sekarang ya. Nah, yang ijo untuk menu tambahan yang nanti mau mas makan’

IMG_20190925_112312

Daftar Menu Selat Mbak Lies

Kamu berdua pun mengangguk dengan senyum, sembari membaca dan memilih menu mana yang kira-kira akan di pesan.

‘Di sini yang paling laris itu selat lidah, Mas’

Bapaknya tiba-tiba berucap ketika melihat saya kebingungan memilih, seolah memberikan rekomendasi andalannya.

Sebenernya saya sudah begitu tau sih, bahwa menu andalan di Selat Mbak Lies ini adalah selat lidah, itu sudah terbukti dengan beberapa foodblogger maupun foodvlogger yang mereview betapa lezatnya selat lidah tersebut.

Tapi, saya pribadi, nggak begitu tertarik untuk makan bagian dari tubuh hewan yang ekstrim semacam itu. Ngebayanginnya saja sudah sangat sulit buat saya.

Dari dulu, saya memang tidak pernah tertarik untuk makan bagian dalam suatu hewan seperti : ati ampela, lemak, jeroan, usus, paru, otak, dan yang sejenisnya. Begitupun dengan lidah, yang tentu tidak jauh-jauh dari bagian ekstrim dari suatu hewan yang bisa dimakan. Oleh karena pertimbangan tersebut, saya pun akhirnya lebih memilih selat bestik saja.

Pacar saya lebih aneh. Selain dia juga tidak makan bagian hewan yang ekstrim, dia pun juga tidak bisa makan daging merah seperti kambing atau sapi. Capek ngunyah adalah alasan sederhana yang mendasarinya, sehingga akhirnya, selat yang dia pilih adalah Selat Galantin saja. Sungguh tidak mau ribet sekali itu anak.

Keren.

Besok kalau nikah, siap-siap sarapan tiap harinya adalah bubur saja biar tida lelah mengunyah.

Untuk masalah minum, karena tidak ada masalah berarti karena setiap minuman adalah ena kecuali yang memabukkan dan jamu brotowali, maka saya dengan tanpa ragu langsung memilih es campur sebagai pendamping selat bestik nantinya, yang langsung disusul dengan telunjuk mba pacar yang menunjuk ke menu bertuliskan es doger.

Suasana yang panas dan gerah begini, lebih enak memang minum yang segarnya ampun-ampunan sih.

Ohiya, selain menu-menu yang dipesan, di meja yang disediakan itu sudah ada berbagai macam camilan seperti sosis solo, kacang mede, kerupuk, rempeyek, usus goreng, dan lain-lainnya. Tentunya, silakan tulis pada kertas hijau kalau kalian hendak menyemilin makanan di atas meja tersebut yak.

DSCF0306

Sosis Solo di Selat Mbak Lies

Saya mencicipi satu buah sosis solo, yang mana kompisisinya adalah suwiran daging manis berbalut kuning telur. Rasanya, ya jelas wadidaw-waduduw dong. Kalau saja saya kalap, tentu saya sudah memakan sosis solo itu delapan biji. Tapi karena saya tau bahwa setelah ini bakal ada tempat makan yang harus dikunjungi lagi, ya, satu biji saja saya rasa cukup.

Penyajian Selat Mbak Lies yang Cepat

Fyi saja, meskipun saya yakin kalian pasti sudah pada tau dan lebih dahulu pernah mencicipi Selat Mbak Lies ini, tapi suwer deh, waktu yang dibutuhkan oleh waitress Selat Mbak Lies dalam menyajikan Selat yang dipesan oleh customernya sungguh seperti menggunakan Buraq, alias cepat parah gilak.

Serius.

Kayak, baru beberapa menit kertasnya diambil si bapak, eh, tiba-tiba muncul mas-mas yang keluar dari pintu dengan satu nampan berisi piring lengkap dengan selat di atasnya. Saya dan pacar pun langsung tercengang dengan berucap :

‘Waaa cepat sekali yaaaaaaaak’

Yang dibalas dengan senyum dari mas-masnya, sembari menaruhkan selat di depan kami.

DSCF0284

Penyajian Selat Mbak Lies

Sajian dari Selat Mbak Lies ini isi di atas piringnya mencakup Wortel, Kentang, Kentang Kering, Bawang Merah, Buncis, Selada, Bestik, Mayo, dan Kuah encer yang saya nggak tau itu apa, tapi enak dan gurih aja gitu rasanya. Untuk bestik yang saya pesan, dagingnya berasa lembut dan ena buat ngunyahnya gitu. Pacar saya yang males buat ngunyah saja akhirnya tertarik untuk nyobain dan respon yang pertama dia utarakan adalah :

‘Waa, lembut yak’

DSCF0291

Selat Bestik Mbak Lies

Lalu dengan sigap saya sambut dengan mengamankan selat bestik pesanan saya agar tidak diminta untuk bertukar makanan.

Ena saja.

Untuk Galantin yang dipesan oleh pacar saya pun, rasanya cukup ena, sebagaimana halnya Galantin gitu.

DSCF0292

Selat Galantin Mbak Lies

Selang beberapa saat kemudian, ketika kami baru mencicipi beberapa bagian dari Selat yang sudah kami pesan, Es Campur dan Es Doger pun datang bak pahlawan penghilang dahaga.

Lengkap sudah.

Untuk es campur maupun es dogernya, sebenernya tidak terlalu spesial karena isinya yaaa sebagaimana es doger maupun es campur. Tapi yang unik, untuk es campur pesanan saya itu sirupnya pake sirup rasa melon, biasanya kan kalau es campur-es campur gitu pake sirup pandan ga sih, yang warnanya merah gitu?

Tapi yah, tidak mengurangi esensi dari rasa es campur itu sendiri sih. Tetap manis dan nyegerin parah.

Dari segi tempat, suasana yang disajikan oleh Selat Mbak Lies ini cukup mengesankan sih. Banyak hiasan-hiasan yang terpampang di sekitaran tempat duduk, entah itu hiasan manik-manik, guci, pot, sapu, foto, dan lain-lainnya. Di tembok-tembok dekat tempat kami duduk pun dihias dengan semacam piring-piring bekas coretan para pembelinya terdahulu, yang mungkin dipasang untuk membuktikan bahwa Selat Mbak Lies memang sudah sangat terkenal akan keenaknya.

DSCF0295

Suasana Lasehan Warung Selat Mbak Lies

Pokoknya, Selat Mbak Lies ini tidak jauh-jauh dari ornamen-ornamen yang unik dan berkilau unyu gitu deh. Kalau misal ada orang awam yang tidak sengaja lewat dan tidak tau perihal Selat Mbak Lies ini, bisa jadi mereka taunya Mbak Lies ini hanya penjual pernak-pernik, bukan tempat makan. Suer deh.

DSCF0308

Pernak-Pernik Warung Selat Mbak Lies

Bisa dibilang, Selat Mbak Lies ini tidak pernah sepi. Itu sih kira-kira yang saya rasakan selama kurang lebih 1 jam di sana. Ketika ada pembeli yang sudah selesai makan dan pulang, pasti ada saja yang langsung datang menggantikan pembeli sebelumnya. Kayak pergantian pemain gitu. Keren sih. Makin masuk ke jam makan siang, makin banyak pembeli yang datang.

Mantap.

 

Berapa Harga Selat Mbak Lies?

DSCF0311

Bayar yak!

Sekitar kurang lebih satu jam, kami pun merasa cukup untuk menikmati makanan dan minuman yang kami pesan, serta merasa cukup menikmati suasana Selat Mbak Lies yang berasa rumah sendiri itu. Selanjutnya, ya tentu bayar dong, ya..

Satu porsi selat bestik di patok seharga Rp. 20000, sama halnya dengan selat gelatine. Sedangkan untuk Es campur maupun Es Dogernya dihargai dengan kisaran harga Rp. 14000. Untuk Sosis Solonya sendiri dihargai Rp. 6000 per-bijinya.

DSCF0312

Daftar Harga Selat Mbak Lies

Yaaaa, lumayan lah.

Sebagaimana halnya yang sering saya lakukan dengan Mba Pacar ketika habis mencicipi makan di suatu tempat baru, kami berdua pun berbisik :

‘Kisaran berapa?’ Tanya saya.

‘Hmm…’ Pacar saya berpikir sebentar. ‘Delapan. Kalau kamu?’

‘Hmm… Delapan juga’

Maka dengan ini, kami memberikan rating delapan untuk Selat Mba Lies.

Yeay!

Terimakasih. Sampai bertemu dengan review makanan yang lainnya!

DSCF0289

Selat Mbak Lies Mantap

Advertisements

36 comments

      1. Kelakuan itu memang -_-

        Hahahaha kurang tau juga mbaaaaa, saya juga sempet bingung kenapa dinamain selat. Mungkin sebenernya pengen ngenamain salad, tapi suda dipake sama orang luar kalik.

        Hahaha cus Solo, Mbaa

  1. Besok-besok makanannya Febri yang kunyah, mbak pacar langsung nelen aja. Keren.

    Kalau liat harganya kok lebih mahal daripada harga makanan di Solo yang sering saya temui. Sepertinya saya harus mencobanya nanti.

  2. Hmmm, akan ada alasan untuk saya kembali ke Solo. Terima kasih untuk review-reviewnya. Pokoknya saya tunggu review makanan di Solo selanjutnya agar saya kalo kesana langsung borongan mampirnya hahaha.

  3. Sama, gue juga nggak doyan jeroan. Udah beberapa kali traveling ke Solo tapi belum pernah kesampaian makan selat nih. Mungkin bisa cepet karena udah disiapkan “template”-nya dan penyajiannya mudah.

    Jadi sekarang mau rutin review makanan nih?

    1. Toooooooos jika begitu 😀

      Hahaha belum tertarik kaaaaaaaah? Saya ke sana atas nama penasaran saja sih wgwgw 😀 kayaknya memang begitu. Templatenya sudah disiapkan dan tinggal syoooooooor.

      Sepertinya akan di arahkan ke sana, tapi tetep di isi tulisan curhat misuh lainnya juga wgwg

  4. udah lamaaa bgt aku ga kesini. tp trakhir jsana itu semua pegawai cowonya pake baju pink dan rok. skr msh ga sih?? yg bikin penasaran ya tampilan staffnya itu :p. tp untungnya rasa memang enak kok feb :D. aku suka selatnya..

  5. udah lamaaa bgt aku ga kesini. tp trakhir jsana itu semua pegawai cowonya pake baju pink dan rok. skr msh ga sih?? yg bikin penasaran ya tampilan staffnya itu :p. tp untungnya rasa memang enak kok feb :D. aku suka selatnya.. tapi biasanya aku pilih yg lidah, lbh lembut dagingnya 😀

    1. Hahaha sangaaat tepat, Mba. Masih pake baju pink dan rok gitu, sama lilitan batik di pinggangnya apa ya. Agak kurag ngeh, tapi yang jelas, mencolok gitu sih wgwg 😀

      Bener, Mba. Rasanya enak bangeeet wgwggw. Tapi sayangnya, ku nga berani makan bagian ekstrim kek lidah gitu ._.

      Padahal, pasti enak yaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s