Alasan Kenapa Memilih Resign

‘Loh, kok resign kenapa?’

‘Haduh, emang ada apa sih, kok kamu milih buat resign? Padahal baru bentar loh’

‘Resign atau engga… Eh, bentar dulu, kamu siapa sih?’

Bisa dibilang, pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah bumbu penyedap yang sering dilontarkan oleh orang-orang (baik yang mengenal maupun yang tidak mengenal) kepada kita,tepat ketika kita sedang menceritakan tentang rencana resign dari perusahaan tempat kita bekerja.

Alasan Kenapa Resign

Source : merdeka.com

Tujuannya mungkin bisa jadi bermacam-macam, ada yang arahnya hanya basa-basi, ada pula yang arahnya untuk memberikan saran maupun pendapatnya. Semua tentu fine-fine saja, sama seperti fine-nya keputusan resign yang sudah dibulatkan oleh si pekerja tersebut.

Setiap orang, ketika mereka memutuskan untuk resign dari perusahaan tempat dia bekerja, mereka pasti memiliki alasannya masing-masing.

Mungkin, ada diantara mereka yang memilih resign karena gaji yang tidak sebanding.

Mungkin, ada juga yang memilih resign karena manajemennya kurang sreg di hati.

Pun mungkin, ada yang memilih resign karena sering melihat instagram glints yang isinya melulu tentang ajakan resign agar kita lekas membuka web glints untuk kemudian melamar kerja di sana, diterima, resign, kemudian membuka glints lagi untuk kembali melamar kerja di sana.

Ajakan Resign Glints

Source : Instagram/Glintsid

Semua orang memiliki alasan dan latar belakangnya sendiri. Seperti halnya saya, yang pada akhirnya memilih untuk berhenti dan balik kanan.

Alasannya kenapa? Tentu hal itu tidaklah penting, karena siapalah saya ya bangkai. Untuk itu, mari saya ceritakan sedikit tentang latar belakangnya.

Kamu kan tida penting, kenapa maksain untuk cerita?

Eng…

Baiklah. Sekian dari saya, Wassalamualaikum Wr. Wb.

ALASAN KENAPA MEMILIH RESIGN

Sebuah Awal Mula

KENAPA MASIH DICERITAIN?

BACOT. DIEM.

Semua berawal di akhir bulan Januari 2019, dimana kala itu saya mendapat info mengenai lowongan untuk posisi pelaksana di proyek RDMP RU V Pertamina Balikpapan, dengan PT WIKA sebagai perusahaan yang membuka lowongan tersebut. Di lowongan yang pada saat itu dibagikan oleh teman saya, disebutkan bahwa kontrak proyek selama 6 bulan adalah perjanjiannya, dengan opsi perpanjangan atau pindah proyek sebagai alternatif apabila kinerjanya bagus dan masih dibutuhkan.

Sebagai manusia yang saat itu baru lulus dan sudah mendapatkan tekanan dari dalam maupun luar, saya pun akhirnya mengirimkan lamaran maupun CV ke email yang kala itu disebutkan pada lowongan, apabila tertarik dan ingin mendaftar. Setelah itu, semua berjalan apa adanya.

Lanjut ke Bulan Februari 2019, ponsel saya berdering sekitar pukul 17.30 WIB, tepat satu mingguan setelah saya mengirim CV maupun lamaran. Orang di seberang sana mengucap salam, kemudian menjabarkan alasan kenapa menelepon saya, lalu disusul dengan untaian pertanyaan-pertanyaan perihal ketekniksipilan seperti cut and fill, perhitungan volume, dan aplikasi land desktop gitu-gitu. Saya pun menjawab semampunya, hingga tidak terasa 30 menit telah berlalu begitu saja. Seseorang di seberang sana menyudahi pertanyaan, sebelum akhirnya menutup panggilannya, beliau berucap :

‘Baik, Mas. Ini saya tampung ya. Besok apabila memang rezekinya di sini, ya Alhamdulillah. Kalau belum, mungkin kita akan dipertemukan di proyek yang lain. Terimakasih ya, Mas. Wassalamualaikum’

Masih tetep di Februari 2019, seorang HRD dari perusahaan yang saya lamar menelepon. Kira-kira waktu itu pukul 20.00 WIB, tiga harian setelah panggilan pertama saya terima. Inti dari panggilan tersebut, beliau hanya ingin mengonfirmasi tentang kesediaan saya bekerja di WIKA dan menjabarkan perihal rate, fasilitas, dan kondisi tempat tinggal di proyek nantinya. Saya mendengarkan dengan seksama, sembari beberapa kali bertanya tentang hal-hal yang menurut saya penting, seperti :

‘Nanti di mess, kalau mau beli apa-apa gitu, aksesnya mudah nggak ya?’

‘Kompensasi apa yang didapat jika kita diluar jam kerja/lembur?’

‘Bapak nelpon saya jam segini, sudah maem belom?’

Interview By Phone

Source : Collegegrad.com

Setelah dirasa paham akan penjelasan dari sang HRD dan menyepakati perihal apa yang memang sudah dinegokan, lantas sang HRD meminta saya untuk berangkat dua hari lagi, yang saat itu langsung saya nego agar diberangkatkan seminggu lagi saja. Sang HRD pun setuju, lalu dengan menepikan cerita tentang waktu semingguan yang saya habiskan bareng pacar lengkap dengan tangisan menjelang keberangkatan, akhirnya pada tanggal 13 Februari 2019, saya diberangkatkan ke Balikpapan.

Masih Tetap di Februari 2019, saya pun tiba di Balikpapan. Was-was adalah perasaan yang pertama kali saya rasakan, pasalnya, saat saya tiba di Bandara Sepinggan, sang HRD yang berjanji mau menjemput tiba-tiba nomernya tidak aktif. Bangkai memang. Mana kala itu saya lagi sering-seringnya membaca berita tentang penipuan kerjaan gitu. Ya buset kan ya. Saya sempat terkatung di bandara selama hampir satu jam, sampai akhirnya, pesan dari sang HRD pun menghias di layar dengan isi :

‘Maaf Mas. Saya habis meeting. Ini saya otewe ya’

Cape dah.

Dua puluhan menit kemudian, dan masih di Februari 2019, saya pun di jemput dengan Pak HRD, yang kala itu dipanggil Mas Rian pun juga Driver yang sampai saat ini saya kenal dengan nama Pak Bobby. Di sepanjang jalan, kami bertiga pun mengobrol bersama, mulai dari bertanya masalah hidup dan pengalaman saya, pun juga sebailknya. Terkhusus Pak Bobby, karena beliau driver, maka obrolan yang jelas nyata terjabar dari mulutnya adalah perihal perjalanan terjauh dan pengalaman termenarik ketika beliau menjalankan mobilnya. Tidak ada obrolan lain selain itu, apalagi obrolan tentang saham atau bisnis property.

Tidak.

Tidak ada.

Saya pun tiba di kantor, yang mana saat itu sungguh berbeda dengan apa yang ada di bayangan saya. Awalnya, saya mengira kantor yang dipakai oleh PT WIKA ini semacam kantor yang berada di sebuah apartemen mewah berlantai sekian dan keren gitu. Nyatanya, kantor yang ada merupakan kantor dengan ukuran sedang, dua lantai, dan lebih seperti kontrakan yang dipaksakan untuk menjadi kantor, lengkap dengan tiang bendera tiga biji dengan dua bendera WIKA mengapit bendera merah putih di tengahnya. Tipikal kantor yang dipaksa untuk menekan anggaran agar gaji karyawan dapat diberikan secara lancar jaya.

Sah.

Kantor Wika Balikpapan.png

Saya pun turun dari mobil. Kala itu sekitar pukul 17.30 WIB, kantor sudah lumayan sepi, namun bukan berarti tidak ada orang. Saya-yang kala itu masih diarahkan oleh Mas Rian- langsung masuk ke ruangan yang di atas pintunya tertulis : Divisi Kontruksi, dimana itu adalah divisi yang menjadi tempat saya bekerja nantinya, dan diperkenalkan dengan sosok yang sampai sekarang saya kenal dengan panggilan Pak Agung. Beliau adalah manager kontruksi, yang menurut pengamatan saya mempunyai jiwa muda yang sangat karena saat itu umur beliau mungkin baru 30-an dengan style yang sangat rapi, putih, dan bersih sekali.

Selain Pak Agung, saya pun bertemu dengan Pak Andi, sosok atasan di bawah Pak Agung yang mana mempunyai hati dan jiwa kepedulian yang baik kepada bawahannya, pun juga Pak Taufik, sosok lelaki berjiwa lembut seperti perempuan yang kalau sudah cerita itu bisa a sampai z, mau didengar atau tidak, dia tetap akan cerita. Pokoknya, ya seperti perempuan banget dah. Aslik.

Tapi ngga kayak Lucinta Luna juga ya, heylaw.

Kami bertiga pun mengobrol sejenak, dan saya sempat ditanya perihal pekerjaan maupun lainnya dengan Pak Agung. Sampai selang beberapa saat kemudian, Pak Agung menawarkan tebengan untuk pulang ke mess, yang mana jelas saya iyakan karena ya gila kalik, saya kan belum tau messnya dimana.

Setibanya di mess, di sana sudah ada banyak kumpulan bapak-bapak yang habis jogging dan sedang mengobrol bareng. Saya jalan ke arah mereka, lalu Pak Agung menengahi sambil memperkenalkan tentang siapa saya. Salaman adalah cara paling lumrah untuk saya lakukan. Jika saya Awkarin, maka jelas, yang lumrah saya lakukan adalah bagi-bagi aipon dan duit segepok untuk treat yourself.

Ya, wajar-wajar sajalah ya.

Di mess, saya satu kamar dengan teman satu kuliah saya yang sudah datang lebih dahulu 3 hari lalu, Brawi, dan juga pelaksana senior yang baik hatinya, Pak Nur. Saya berkenalan dengan Pak Nur sembari ngobrol bersama, sementara Brawi, dia sibuk makan bakpia yang saya bawa, tanpa basabasi apapun alias emang teman tai anjenk dia.

Nah, itu adalah awal cerita saya tentang bagaimana saya menganggur, dapat panggilan, lalu tiba di Balikpapan untuk pertama kalinya. Sebenarnya, karena ini sudah lebih dari seribu kata, saya ingin sekali menyudahinya. Tapi, karena ini tulisan sama sekali tidak ada isinya dan relevansi antara judul dengan isi sama sekali tidak nyambung, saya hendak melanjutkannya, mungkin bisa sampai tiga ribu kata.

Jadi, kalau emang kamu sudah tidak tahan dan malas baca. Ndapapa. Tutup saja. Terimakasih atas sumbangsih satu viewnya yak.

Dadah.

Okay, lanjut.

LANJUTAN ALASAN KENAPA MEMILIH RESIGN

Memilih Resign

Source : Talenta.co

Fyi saja, barengan saya yang Alhamdulillah diterima di WIKA sebagai pekerja kontrak proyek kala itu ada 2, yaitu Brawi (yang pada bahasan sebelumnya saya bilang sudah datang 3 hari sebelum saya) dan Aprizal, teman yang lain yang datang 3 hari setelah saya datang. Pada pendaftaran dan interview via telpon itu, kami bertiga ditempatkan untuk dapat menjadi pelaksana di waktu kerja nantinya. Alhasil, kami bertiga pun sepakat untuk saling sokong dan membantu sama lain.

Kami bertiga berangkat ke kantor bareng, untuk kemudian membahas tentang pelaksanaan proyek maupun pembacaan gambar secara bersama. Kebetulan saat itu id badge yang dijadikan syarat utama untuk bisa masuk kilang belum jadi, sehingga kami hanya bisa berdiam diri dan soksok belajar untuk killing time di kantor.

Di kantor, tepatnya di ruang kontruksi, saya hanya melihat sosok Pak Agung, Pak Taufik, dan juga Pak Razaq yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Oiya, belum tau Pak Razaq ya? Beliau adalah sosok manusia kalem abis yang mana kala itu menjabat di posisi Quantity Surveyor. Saat kedatangan kami bertiga, ada desas-desus yang mengatakan bahwa Pak Razaq sudah mengajukan resign karena diterima PNS dan salah satu di antara kami akan dipilih untuk menggantikan beliau sebagai quantity surveyor.

Kami bertiga, kala itu tentu hanya bisa tatap-tatapan tidak yakin, lalu menganggap bahwa desus itu hanya gurauan saja. Tidak mungkin kami yang dikontrak dan dipanggil saat itu sebagai Pelaksana, tiba-tiba dipindah menjadi Quantity Surveyor, yang mana tanggung jawabnya jelas berat sekali karena bermain volume pekerjaan, yang mana di proyek RDMP ini, quantity surveyor memegang kunci untuk keuntungan proyek itu sendiri.

Ngeri.

Id badge pun jadi, dan kami sudah diperbolehkan untuk masuk kilang. Karena pada hari itu baru pertama kalinya kami masuk, maka pengenalan situasi proyek adalah hal yang pertama kami jalani. Kebetulan, pada masa kami masuk, pekerjaan yang baru berjalan adalah Pagar Panel yang mana merupakan sisa pekerjaan proyek sebelumnya, dan juga Box Culvert yang merupakan pekerjaan awal di proyek baru. Sisanya, baru persiapan.

Saya diplot untuk mengenal tahapan pekerjaan pagar panel yang tahapannya cukup sederhana, yaitu mulai dari pembesian, pasang balok precast, cor, kemudian install panel, dan pasang kawat duri. Sebagai anak baru, tentu saya hanya bisa mengamati tahapan pekerjaannya dan bertanya-tanya kepada pelaksana senior di sana, Pak Pulung.

Brawi dan Aprizal diplot untuk mengenal tahapan pekerjaan Box Culvert, yang kala itu setahu saya tahapannya masih pembesian.

Semua berjalan seperti biasa, dan kami meresap semua ilmu tiap harinya. Satu hari berjalan, lancar. Dua hari berjalan, lancar. Lalu pada hari ketiga, di sela-sela saya mengawasi pekerjaan pagar panel, tiba-tiba Pak Pulung memberikan info bahwa saya harus pindah ke area lain untuk menemui Pak Razaq.

Sebagai anak baru, lantas saya mengiyakan sembari bertanya pada diri sendiri :

‘Ada apa neh?’

denah-tempat-kerja.png

Area kerja pagar panel berada di deket tulisan Kalimantan Timur, sedangkan posisi Pak Razaq ada di deket tulisan Google

Jemputan mobil pun tiba dan langsung mengantarkan saya ke area tempat beradanya Pak Razaq, yaitu Gunung 10. Di sana, Pak Razaq sedang berdiri di sebelah tim survey yang sedang memberikan marking-an untuk tebal slab bawah Box Culvert. Di sebelah yang lain, ada perwakilan dari owner kami, yaitu anak perusahaan pertamina (PTC) sedang mengawasi. Pak Razaq melambaikan tangannya, lalu berucap ke saya :

‘Ini kita lagi JI, Feb. Joint Survey untuk tahapan pekerjaan yang sedang dilakukan. Nah, ini kita sudah masuk ke tahap Slab bawah Box Culvert. Ini datanya, coba kamu bilang ke orang PTC itu’

Saya mengamati data pengambilan dari tim survey dalam bentuk sket dan koordinat, lalu berjalan mendekat ke orang PTC, yang kala itu bernama Pak Rana. Untuk berbasa-basi, saya berkenalan sejenak dengan beliau, lalu langsung mengajukan perihal dokumen pengambilan tim survey dan menjelaskannya sedikit-sedikit.

Si Pihak PTC tersebut hanya mengangguk-ngangguk paham, lalu dia mengambil balpoint di sakunya, dan memberikan bercak tanda tangan di kolom yang sudah disediakan. Selesai, saya memberikan form itu kembali ke Pak Razaq, dan beliau mengacungkan jempolnya.

Selepas itu, saya mendapat informasi bahwa saya adalah orang yang dipilih oleh Pak Agung, sekaligus Pak Razaq, untuk menggantikan beliau menjadi Quantity Surveyor. Pada saat itu, sebagai orang baru, tentu, saya tidak bisa protes apapun. Saya hanya bisa menjalani hari di sana sebaik yang saya bisa, dan memenuhi apa permintaan atasan sebaik mungkin.

Menjalani sesuatu yang sebenarnya bukan kita inginkan, tentu merupakan sesuatu yang cukup berat. Apalagi, ketika melihat dua teman lainnya terlihat lancar-lancar saja menjalani pekerjaannya yang sesuai dengan apa yang dia daftar. Jujur, saat itu, saya merasa seperti di anak tirikan.

Terkesan kekanak-kanakan sih memang kedengarannya, tapi, gimana ya?

Setiap malam, kami bertiga kadang naik ke lantai 3 mess untuk bertemu dengan atasan bernama Pak Andi, yang mana saat itu jabatannya adalah Pelaksana Utama. Brawi dan Rizal berkonsultasi ini dan itu kepada beliau, dan ilmu pun bertambah. Saat saya maju untuk konsultasi dan bertanya ini dan itu, beliau kadang langsung bilang :

‘Waduh, Pak Razaq sudah pulang ya. Yang ngajarin kamu siapa ya ini ya? Saya jujur saja juga belum begitu masuk di dunia Quantity Surveyor, Feb. Tapi intinya ya itu sih, joint survey. Itu’

Kemudian saya menutup buku catatan dan tersenyum kecut memandangi dua orang teman saya yang lanjut berkonsultasi.

Dalam hal pekerjaan pun kadang sama, seorang quantity surveyor kadang diminta untuk pulang paling akhir. Pernah sekali saya kedapatan pukul 17.00 WIB sudah di dalam bis, lalu langsung di komplain :

‘Loh, kok sudah mau pulang, Feb? Nanti, lah. Bareng sama yang lainnya’

Padahal, pada kenyataannya, lainnya yang dimaksud itu adalah pelaksana-pelaksana yang pada pukul 16.30 saja sudah berada di pintu luar dan menunggu kendaraan untuk kembali ke mess.

Ngeri.

Overload Pekerjaan

Source : komunitasanakpulau.org

Selain dalam hal pulang, satu hal lagi yang kadang menyebalkan adalah ketika hujan. Quantity surveyor dipaksa untuk menyelesaikan pekerjaan rekapitulasi data, penyusunan form JI, sket data survey, monitoring pekerjaan yang telah dijalani, dokumentasi pekerjaan, bikin berita acara, dan lain sebagainya. Hal itu yang kadang membuat satu hari saja tidak cukup untuk menyelesaikannya, ditambah lagi, masih harus memastikan bahwa apa yang dikerjakan tim survey sudah sesuai dengan apa yang kita minta, dengan cara terjun langsung ke lapangan. Maka, ketika hujan turun dan waktu istirahat siang ataupun malam ketika di mess, saya masih harus berkutat di depan laptop dan mengurusi itu semua.

Sedangkan pelaksana, ketika hujan turun deras, mereka stand by. Ada yang keluar menuju warung. Ada yang tidur-tiduran di kontainer. Pokoknya, mereka stand by dan tidak mengurusi pekerjaan sama sekali.

Nais memang, posisi yang seharusnya saya tempati dan tidak jadi itu.

Bahkan sering kali, setiap kali para pelaksana melihat saya di lapangan dan sedang mengambil dokumentasi untuk bahan laporan, mereka (entah bercanda atau tidak) pasti bakal bilang begini :

‘Ena ya kerjamu, Feb? Foto-foto doang’

Ena pala lu kek Transformer.

Ditambah lagi, Brawi, rekan sekamar saya yang menjadi pelaksana, tiap kali sepulang kerja melihat saya ganti baju dan hendak ke kantor untuk meeting, dia selalu bercanda dan bilang begini :

‘Yaelah, Feb. Waktunya di mess itu ya istirahat, bukan ngurus kerjaan mulu’

IYAAAAAA. TAPI SAYA BISA APA BANGKAI!

Bentuk Febri Tiap Meeting

Bentuk Saya Kalau Meeting

Pahitnya lagi, tentu pada bulan Maret, tepat ketika saya dan dua orang teman saya diminta untuk datang ke kantor untuk tanda tangan kontrak. Di situ, saya membaca dengan seksama perihal kontrak yang diberikan, lalu sesaat kemudian saya menarik pulpen yang saya pegang sembari berkata :

‘Mas, bentar. Ini kontrak saya Pelaksana ya?’ Saya menunjuk tulisan yang dimaksud ‘Padahal penerapannya, saya Quantity Surveyor loh’

‘Oiya, kamu kan dulu daftarnya Pelaksana, Feb, jadi ya itu, kontrak kamu pelaksana’ Mas HRD menjawab dengan santainya.

‘Hooo, Itu kan kalau nyatanya saya dijadikan pelaksana dong, Mas. Tapi sekarang kan saya Quantity Surveyor.’

‘Iya, tapi kamu dulu daftarnya pelaksana. Yasudah, tanda tangan saja’

Kontrak Kerja

Source : sleekr.co

Saya mengamati wajah mas HRD dengan kecut. Saya terdiam sambil memandangi kontrak yang berlaku selama 6 bulan dari kedatangan saya ke sana, yaitu hingga 13 Agustus 2019. Tanpa berpikir lama, dengan mengantongi rencana selanjutnya, saya pun menandatangani kontrak tersebut.

‘Tenang, cuma sampai Agustus 2019’ Batin saya melapangkan.

Bentar.

Ini bukan menjadi alasan utama kenapa saya akhirnya memutuskan resign ya. Bukan. Ada hal lain lagi. Apa itu?

Ya baca dulu bentar. Udah capek? Ndapapa kok. Istirahatlah. Besok kerja kan? Semangat ya.

Dadah.

Yak, lanjut.

Masih Tetep Lanjutan Alasan Kenapa Memilih Resign

Aturan Resign

Source : Talenta.co

Sebagai seorang atasan, tentu mereka memiliki alasan tersendiri kenapa akhirnya mereka memilih saya untuk menggantikan Pak Razaq di posisi Quantity Surveyor. Hal tersebut jelas karena CV yang saya lampirkan, pun mungkin karena cara berkomunikasi saya saat interview via telepon dan juga saat bercakap langsung dengan Pak Manager saat pertama kali bertemu.

Di CV, saya menjabarkan pengalaman bekerja yang memang di bidang surveyor, mulai dari tahun 2012 silam, dan dilanjutkan saat semester 6 masa perkuliahan sampai sebelum diterima WIKA juga kembali bergelut di dunia surveyor. Ditambah lagi, mengertinya saya dalam pengoperasian software land desktop pun menjadi nilai tambah kenapa akhirnya mungkin, para atasan ini memilih saya untuk menjadi Quantity Surveyor.

Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa saya disamakan?

Bukan maksud untuk merendahkan dua orang barengan saya kala itu, yaitu Brawi dan juga Aprizal. Sepenuhnya, saya memahami bahwa mereka tentu memiliki kualitas yang mumpuni. Selain itu, saya juga sangat percaya bahwa mereka pun orang yang pintar.

Tapi, kenapa dalam hal kontrak, kami disamakan? Padahal saya melampirkan pengalaman kerja sebagai surveyor dari tahun 2012 sampai tahun 2018, pun juga saya memiliki skill dalam pengaplikasian software Land Desktop. Di kontrak, justru posisi saya disamakan sebagai pelaksana meskipun pada kenyataannya berbeda,  pun juga rate gajinya juga disamakan. Sementara dua orang teman saya, maaf, mereka bisa dibilang freshgraduate dan belum memiliki pengalaman bekerja.

Sebenernya, ini nggak menjadi masalah berarti sih. Hanya saja, saya mempertanyakan hal ini karena… ya, ya gimana ya?

Pada suatu hari, saya sempat mempertanyakan hal ini kepada salah seorang atasan, yang kemudian langsung dijawab :

‘Ya nggak enak sama dua temanmu itu lah, Feb. Masa iya kalian masuk bareng, tapi gajinya beda?’

Saya kemudian tersenyum, lalu membalas dengan kalimat :

‘Hoooo, kalau gitu, membedakan pekerjaan saya dengan dua teman saya padahal di kontrak itu sama, enak-enak saja ya Pak?’

Atasan saya hanya diam, dan saya langsung keluar dari kontainer untuk pergi menuju lapangan.

Sepenuhnya saya menyadari, untuk masalah kontrak dan keadilan semacam itu sudah tidak bisa saya otak-atik lagi. Maka dari itu, saya selalu memaksimalkan diri untuk mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab setiap harinya.

Sampai pada masanya, saya yang berstatus kontrak proyek di WIKA pun lantas mempunyai pertanyaan untuk diri sendiri :

‘Setelah proyek ini selesai, kamu kemana?’

Ya, pertanyaan itu yang membayangi pikiran saya hampir setiap malam. Bahasanya begini, sebagai pekerja yang hanya dikontrak sebatas proyek yang saat itu sedang berjalan, tentu saya memiliki semacam ketakutan yang pointnya pada masalah : ‘setelah ini kemana?’ apabila habis proyek.

Memang, pada akhirnya, link dan kedekatan kita dengan atasanlah yang nantinya akan digunakan, sehingga jika proyek satu selesai, kita bisa dibawa oleh atasan ke proyek selanjutnya. Tapi pertanyaan susulan kembali mengudara :

‘Mau sampai kapan?’

Saya, yang saat ini masih berumur 25 tahun, tentu masih merasa sayang apabila saya menghabiskan diri di kontrak proyek-kontrak proyek melulu, yang mana mungkin ketika nantinya apabila saya kembali dipanggil oleh atasan untuk ikut ke proyek selanjutnya, beliau hanya tau bahwa saya sekedar Quantity Surveyor atau Pelaksana saja, begitu seterusnya apabila saya dipanggil lagi.

Tidak ada jenjang karir yang berarti.

Pemandangan Ruang Kerja

Container Tempat Saya Bekerja

Beda cerita apabila saya sudah berumur 35 tahun atau lebih. Tentu, yang penting punya pekerjaan dan dapur bisa ngebul adalah prinsip yang akan saya pegang nantinya. Tapi, ini kan belum. Saya masih bisa merajut masa depan yang lebih baik dengan mencari pekerjaan tetap lainnya. Saya masih bisa berkembang.

Sebenarnya sih, mungkin-mungkin saja untuk mencari pekerjaan tetap tapi masih bekerja di sana. Tapi, banyak yang harus dikorbankan seperti waktu dan uang. Misalnya saja ketika harus tes di jakarta, atau kota-kota di luar Kalimantan, dan itu tidak mungkin sekali dua kali.

Untuk masalah itu, saya sempat bertanya ke Pak Andi yang mana jawabannya adalah :

‘Bisa Feb, seperti itu. Tapi sayangnya, kerjamu itu Quantity Surveyor yang mana nggak ada waktu senggang untuk gitu’

Nais.

Selain itu, keputusan saya kenapa harus resign dulu adalah untuk mempersiapkan hal-hal yang memang diperlukan dalam dunia kerja seperti TOEFL, sertifikasi pelatihan, dan lain-lainnya itu, yang mana tidak mungkin dong saya ‘membeli’nya begitu saja? Buset dah.

Jadi, ya, dimulai dari bulan Maret yang bermasalah pada hal kontrak, lalu bulan berikutnya yang bermasalah pada hal ketidak-adilan, hingga bulan berikutnya lagi yang bermasalah pada pertanyaan tentang kesenjangan hidup di masa selanjutnya, keputusan untuk saya resign dari pekerjaan itu pun tidak pudar.

Meski pada akhirnya saya kembali dipertemukan dengan Pak Agung dan Pak Andi untuk bernegosiasi agar memupuskan keinginan untuk resign dengan segala bujuk rayu, saya tetap memutuskan untuk pada pendirian saya.

Akhirnya, dengan keputusan bulat, meski masih memiliki keraguan maupun ketakutan apabila kelak tidak mendapatkan pekerjaan tetap dan menyesali keputusan ini dikemudian hari, tanggal 1 September pun saya pulang ke Jogja.

Saya tidak perlu menyalahkan keputusan saya. Namun, saya hanya perlu mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk ke depannya, pun juga mengembangkan apa-apa saja yang dapat dikembangkan.

Terimakasih.

 

 

Advertisements

46 comments

  1. Kalo diingat2 lagi, sepertinya kamu lebih pintar dan lebih jeli dari saya Feb. Dulu saya hanya iya2 aja karena udh senang duluan dapat kerjaan. Ama selow aja ttg gaji kecil yg kerjaannya numpuk sama kayak teman saya yg masuknya hampir samaan dengan saya tapi tugasnya lebih ringan. Kok saya segoblok itu ya dulu…

    Walo belum jelas ke depannya, karena memang gaks empet nyari tau apa yg ada di depan karena QS tugasnya sepanjang hari, sepertinya keputusan resign-nya udh tepat banget sih, Feb. Mungkin saja 2 teman lainnya nanti bisa terlihat lebih “terang” karena tetap di sana, tapi dari pengalaman yang kamu dapat itu, sepertinya hal baik lainnya dalam karir siap menyambut.

    ya walo biasanya tetap menyambut sambil menyediakan kepahitan-kepahitan lainnya sih. Yang penting saat memakannya ngerasa senang dan puas serta diakhiri minum es teh. Klo udah pahit, makannya gak enak, abis makan pun minumnya gaenak pula, kan memotong usia hidup saja jadinya.

    1. Wahaha sayaaa juga senang pas dapet kerjaan kok. Terus sempet yaudahlah aja ketika dapet kenyataan yang begitu adanya. Tapi pas lama-kelamaan dan pas ada obrolan sama atasan, kok kepikiran tentang ‘masa depan’ yang, yah, sebenernya kita nggak tau bakal gimana nantinya.

      Menentukan keputusan itu sunggu berat, karena saya juga sempet mikir plus-minusnya. Takut nyesel, takut salah langkah, takut apa-apalah. Tapi akhirnya membulatkan diri, dengan menerima segala konsekuensinya.

      Ndapapa. Ndapapa.

      Semua nanti ada waktunya, dan saya akan berusaha semaksimalnya.

      Makasi banya ya, sunggu suntikan moril yang sangat mengangkat saya :’)

  2. Sungguh tulisan yang luar biasa panjang. Tunggu aku ambil napas dulu. Aku kok agak kasihan sekaligus kesal ya. Kenapa pula kontraknya harus disamakan sih? Itu jelas banget mereka kayak kurang orang dan nggak mau ngasih gaji sesuai jobdesc, kalo menurutku sih. Soalnya, pernah dengar juga kalo yang kerja di proyek gitu ya jobdescnya emang tumpang tindih. Kamu bisa melakukan apa ya bakal disuruh ngerjain jobdesc lain juga. Istilahnya mah mbantuin, tapi kayak diperas juga tenaganya hahaha
    Resign itu butuh keberanian. Saya juga dulu kayak gitu pas mau resign. Cuma ya ada nyeselnya juga karena sampe sekarang jadinya masih nganggur 😦
    Semoga setelah ini dapat kerjaan yang sesuai ya, Feb!

  3. Aku sudah pernah mengalami mirip-mirip seperti ini. Dikontrak kerja dan realitanya bedaaa. Sedihnya lagi, teman satu angkatan jam 18 sudah pulang, aku jam 21 baru keluar kantor karena diberi tanggung jawab lebih. Sedih sih, gaji sama tp tanggung jawab dan tekanan lebih banyak 😂
    Tp tetap disyukuri karena aku bisa belajar dari semua itu. Sekarang alhamdulillah sudah move on dan menemukan pekerjaan baru lagi.
    Sukses selalu yaa Feb, semangaatt! InsyaaAllah akan segera dapat gantinya.

    1. Wahahahaaaaaaa miriiiip ya, Mbaaaaaa. Sunggusungguh anu, tapi tetep disyukuri banget. Kupun jugaaaaaaaaaaa belajar dari situ dan mensyukurinyaaaa.

      Bismillah, Mba. Move untuk menemukan pekerjaan baru yang insyaAllah menetapkan.

      Aamiin. Makasi banyak ya, Mba, suntikan morilnya 🙂

  4. Semangaats!
    Aku mendukung penuh untuk resign. Kalau emang pekerjaan tsb gak bikin berkembang dan gak ada jenjang karirnya, mending cari yang lain sih. Ditambah kalau bertahan bikin capai hati dan tenaga pula.

      1. Biasa pengangguran klo lg nyantai mmg gitu baca2 apa lagi blogmu favouritku krn suka saja berbeda dg yg lain kan bisa tau kata kata bangkai sebagai kata ungkapan kesal 🤣 aslik plesetan dr gak asyik 🤣 dll ya kan biar update bahasa gaul gituh Feb 😁

    1. WAhahahahaaaaaa potooooo gembeeeeeeel yaaa ya yaaa buset 😀

      Hahaha iya, Mba. Sunggu pilihan yang berani dan penuh resiko. Tapi Bismillah yak :’)

      Aamiin. Makasih banyak doa dan suntikan morilnya, Mba 😀

  5. Saya pikir “dua puluhan menit kemudian, dan sudah Agustus.”

    Enggak ada keputusan yang salah, Feb. Kamu memilih, dan hiduplah dengan pilihan itu. Move on, and be happy. Oh iya, fokus jadi public enemy di Instagram itu lebih enak, loh. Hahahaha

  6. Cari kerja tuh kayak cari jodoh ya, kalo ga suka & ada hal yg ga sreg mending mundur aja drpd dipaksain tapi bikin stress sendiri.

    Aku udah malang melintang di dunia pekerjaan, 1x dipecat, 1x kontrak ga diperpanjang, 1x resign dengan terhormat krn mau nikah 😎

    Semua pengalaman kerja udah aku rasain deh, dari yang gaji gede, kerjaan santai tapi temen² nya bangke semua, gaji kecil tapi temen-temen baik, sampe gaji besar, temen-temen baik, tapi kerjaan cape banget.

    Emang gada kerjaan yg sempurna, tapi teruslah mencari mumpung masih muda, keep fighting!! 💪😏

    1. Wahahahaaaa benar, sekali. Sekalinya belum dapetdapet, ya gitu, ditanyain melulu wgwgw 😀

      Wahaaaaa, memang diriku harus belajar padamu nih sepertinya wgwgw. Lengkap sekali, Mba, pengalaman hidupmuuuuuh 😀

      Benar sekali. Ngga ada kerjaan yang sempurna. Tapi tetep, cari yang terbaik mumpung masih bisa diusahaka huhuyyy 😀

      Makasi banget yak, Mba 😀

  7. Anjir, bawa-bawa akun Glints segala *Yatapi memang ada benarnya juga, sih, Feb–Hahaha*

    Berat itu mah, di jobdesk awal-awal udah jadi surveyor dengan beban kerja yang berbeda sama temenmu, tapi pas tanda tangan kontrak malah balik jadi pelaksana lagi. Jadi dapat saya simpulkan, keputusanmu yang dituangkan dalam tulisan panjangmu ini (jadinya berapa kata ini), sudah tepat. Prinsipku dulu pas mau resign juga gitu. Daripada “nggrundel” dibelakang dan enggak nyaman di tempat kerja, ya, mending resign. Semoga bisa segera lulus TOEFL dan dapet kerjaan sesuai harapan dan keinginan. Sing penting tetep woles & jolali ngepost video cover “Kasih Sayang Orang Tua” e Mawang \m/

    1. Ahaha iyaaaa kan kan kaaaaan, banya tuh yang nyuruh kita resign kalau misal sudah tida sreg daripada dipaksain, habis itu, suruh nyari kerjaan di glints lagiiii wgwgw 😀

      Hahaha agak kesel juga sih, pas tanda tangan kontrak gitu. Bisa-bisanya dengan enteng bilang begitu. Yaaaaaa, gimana ya? ehehe.

      Hehe benar, mas. Sekarang pun merasa bahwa ya itu tepat. Ndapapa, nyari yang lain yang lebih baik dan tetap ehehe.

      Aamiin. MAKASIIIIIII BANYAAAA YAAAAAK 😀

      SUDAH COVER DI STORY DONG 😀

  8. Jadi resign disini artinya kontrak habis dan memilih untuk tidak melanjutkan ya? kalau ada di posisi Febri, I think I will do the same. Kalau pekerjaannya beda tapi status dan gaji sama, dan setelah nego tetap ngga bisa naik, ya better resign. Makaish sharingnya. Semoga dapat pekerjaan yang lebih baik 😀

    1. Benaaaaaar. Resign yang memang suda direncanakan pas habis kontrak dan tida mau memperpanjang eheh.

      Hehehe iyaaa, Mba. Daripada nggrundel terus nantinya, lebih baik yasudalaaaah ya.

      Makasih banyak juga ya, Mba, doanya 🙂

  9. Udahlah jauh dari orang-orang tersayang, beban kerjanya juga tidak sepadan dengan gaji, ya. Hmmm. Semoga keputusannya paling tepat buat kamu, Feb. Aamiin.

    Pertanyaan saya, waktu awal berangkat ke sana biayanya ditanggung sendiri apa ada biaya pengganti dari perusahaan?

    Soalnya saya paling malas kalau belum apa-apa mesti keluar banyak uang. Niat kerja kan buat cari uang, bukan malah mengeluarkannya. Wahaha. Hal ini entah kenapa bagus buat menghindari perusahaan penipu yang awal-awal minta biaya buat seminar 200-600k. Saya juga lebih suka kerja yang lokasinya dekat atau bisa remote dari rumah. Jakarta macet banget euy. XD

    Selamat kembali lagi ke Jogja dan bisa menorehkan cerita di blog. Selama kerja di sana, setau saya blog ini vakum. Dan selamat menggila lagi di Twitter/Instagram. Wqwqwq.

    1. Hahahahahaaa bisa dibilang seperti itu, wahai sobaaaat pergunjingan.

      Dulu dibayarin sama perusahaan kok wgwgwg.

      Ehiyaaaa, kemarin saya dapet panggilan tes gitu, nah intinya itu disuruh berangkat ke Gorontalo dengan biaya sendiri dan menunjuk suatu agen travel, dengan iming-iming bakal dibalikin dong itu dananya wgwgw. Suda pasti penipuan itu mah ya.

      Hahaha kerja deket rumah itu enaaa sih. Membahagiakan. Semoga rezekinya deket rumah. Tapi kalau tidak, ndapapa.

      Hahaha mantaaaapssss sobatssssss

  10. ‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’‘Loh, kok resign kenapa?’ wkwwkwk

    Eh bentar kamu siapa ?

    Emang ya resign itu butuh pertimbangan, tapi kalau udah ga kuat emang mending resign daripada kerja tapi ada yang mengganjal dihati.
    Terlepas dari quotes glintz yang selalu menyebalkan, resign kalo udah yakin itu melegakan.

    Aku bentar lg juga resign. Eh aku siapa curhat curhat ?

    1. HAHAHAHA LELI YA AMPOOOOOOON 😀

      kamu instagramer favoritnya akooooooooooh.

      Hehehe, benar sekali. Sudah melalui banyak pertimbangan yang, yaaa sudahlah hehehe 😀

      KAMUUUU MAU RESIGN KARENA HENDAK MENIKAH KAAAAN BUSET.

  11. ‘Bapak nelpon saya jam segini, sudah maem belom?’ dan akhirnya kamu jadian sama Pak Rian orang HRD itu, mas?? Ternyata mas, tak ku sangka….

    Perbanyak misuh dong, mas… Tulisanmu hampa tanpa pisuhan to the max hahahaha

  12. Febri maaf, aku ga baca tulisan kamu sampe selesai, soalnya KEPANJANGAN YA ALLAH AKU KAN BLOG WALKINGNYA SAMBIL KERJAAAAAAA -____-

    Aku cuma mau bilang, aku bangga kamu resign. Ditunggu di Bandung sama Nadya yah!

  13. Mantap mas. Yakin dan percaya dengan pendirian sendiri. Memang kalau menjalani sesuatu kalau sudah ndak sreg itu nggak enak buat diri sendiri. Tapi kadang suka sungkan atau nggak enak ke orang lain yang juga misal mutus atau gimana. Situasi seperti itu memang sulit banget sih. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s