Mencintai Apa yang Sedang Dilakukan

Di sini ada yang pernah merasa tidak bahagia dengan rutinitas yang sedang dijalani gitu enggak sih?

Misalnya saja, rasa tidak bahagia karena selama ini memaksakan diri untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang sebenarnya tidak pernah dia sukai?

Atau, rasa tidak bahagia karena menjalani rutinitas kuliah di jurusan yang tidak diinginkan

pun mungkin, ya rasa tidak bahagia karena bekerja di tempat atau di posisi yang sebenarnya tidak begitu kita sukai?

Emm…

Gimana ya?

Saya tidak pernah berpikir bahwa hal tersebut salah. Pun, saya juga nggak punya hak penuh untuk kemudian menjudge bahwa itu merupakan hal yang benar.

Beberapa dari kita, mungkin pernah mendengar quote penyejuk hati yang berbunyi :

‘Do What You Love, Love What You Do’

Lakukan apa yang kamu cintai, pun cintai apa yang sedang kamu lakukan.

Dua hal tersebut adalah pilihan, yang bisa jadi salah satunya tidak terbantahkan untuk beberapa orang.

Saya pribadi, sekarang sedang berada pada persimpangan yang membuat saya harus menyukai apa yang sedang saya lakukan, bukan melakukan apa yang sebenarnya saya cintai.

Mengerti nggak, sampai di sini?

Err…

Ya, permasalahan yang sedang benar-benar saya bimbangi adalah perihal pekerjaan.

Salah satu hal yang cukup pelik, yang mau tidak mau harus bisa didapatkan oleh sebagian besar para lelaki, terkecuali jika mereka adalah para anak sultan Brunei yang setiap harinya bisa menggaruk selangkangan dan mengelapnya dengan selembaran uang seratus ribuan.

Sebenernya saya punya opini begini :

Hal yang paling membahagiakan dalam bekerja adalah ketika kita bisa terbangun dari tidur dan tidak merasakan takut, was-was, malas, atau hal-hal lain yang membebankan. Melainkan, kita menganggap hal tersebut adalah salah satu bagian dari rutinitas yang menyenangkan, dan… ya, ya udah, itu adalah satu kesatuan dari rutinitas hidup yang biasa-biasa saja.

Namun, jika kita lihat dan telusuri, ada beberapa dari kita yang mungkin masih merasa malas, was-was, takut, atau bahkan sebagian besar dari dalam dirinya merasa enggan untuk bekerja karena takut pada atasan, takut pada beratnya progress yang menjelang, takut  pada beban kerja yang tidak diketahui berapa banyak jumlahnya, atau yang lain-lain sebagainya.

Ketakutan akan pekerjaan

Saat ini, ya, saya sedang berada pada posisi tersebut.

Hmm…

Per-Februari kemarin, saya singgah di Balikpapan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang sedang mengerjakan proyek revitalisasi kilang minyak pertamina. Sebagaimana halnya bekerja, tentu rasa monoton adalah sebuah rasa yang kerap dan akan saya rasakan setiap harinya.

Selain rasa monoton, pun saya juga merasakan ada sedikit rasa gelisah dan ketakutan tersendiri mengenai pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan setiap harinya. Dikala terbangun, saya selalu merasa :

‘Fyuuuuuuuuh, hari berganti begini dan begini, lantas, kira-kira hari ini gimana yha?’

Setelah itu, saya pun kemudian langsung membenamkan kepala ke bantal dalam-dalam, lalu beranjak dari kasur kemudian karena takut terlambat. Begitu seterusnya. Sepulang kerja dan sampai di mess, masih dengan rasa pening, lelah, dan gundah, pikiran lantas membesitkan sebuah bayangan perihal hari esok yang mungkin bisa lebih melelahkan atau minimal ya sama lelahnya.

kilang

Beban, adalah rasa yang membuat saya sedikit tidak merasa bahagia.

Entah, apa yang salah. Padahal, pekerjaan adalah sebuah hal yang saya cari sejak saya lulus kuliah beberapa bulan lalu.

Ada rasa yang sedikit berbeda antara memulai pekerjaan di sini, dengan memulai pekerjaan sebagai content writer dahulu. Dengan menulis, seolah-olah hari-hari saya berasa membahagiakan, atau minimal tidak ada beban yang mengganjal aja gitu. Tidak ada ketakutan yang membuat seolah saya harus mundur setiap harinya. Tidak ada rasa berat yang selalu hadir tiap pagi saat membuka mata selepas terlelap.

Pokoknya, hari-hari selalu saya jalani dengan biasa dan penuh rasa lega deh.

Namun, beberapa pikiran kemudian terangkum menghasilkan sebuah pertanyaan :

Apakah saya bisa hidup dari menulis?

Menyedihkan memang, ya, kuliah di jurusan yang tidak disuka-suka amat, kemudian bekerja di bidang yang membuat saya merasa takut untuk mengawali hari, namun pundi-pundi untuk menyambung hidup lebih cepat terpenuhi.

Sedangkan, menjalani pekerjaan sesuai hobi dengan riang tanpa beban, namun pundi-pundi untuk menyambung hidup, ya, ya kalik.

Mungkin, sedari sekarang saya memang harus bisa mencoba untuk terus memberikan sugesti kepada diri sendiri agar dapat mencintai apa yang sedang saya jalani sekarang.

Sebisanya.

Biarkan mengalir, biarkan beban teranulir.

Dan, oh iya.

Sekarang sudah masuk Bulan Maret ya? Sudah sebulan saya di Balikpapan.

Dan…

GAJIAN!!!

Sepertinya, sekedar untuk melarikan diri dari penatnya beban yang mendalam, saya memang harus bisa menyiasatinya dengan merayakan sebuah agenda yang ada di kalender promo tokopedia deh ya?

Promo Tokopedia

Sekedar membalas dendam atas apa yang selama nganggur kemarin mungkin belum sempat kesampaian untuk didapatkan, atau ya ngasih buah tangan kepada orang tua yang jauh di Jogja sana.

Tokopedia Promo

 

Hadiah Tokopedia

Tokopedia Hadiah Promo

Haha, jangan sampai melewatkan promo tokopedia 2019 ini deh pokoknya. Merugi nanti. Apalagi melewatkan Shalat dan tidak membayar zakat?

Beuh, rugi.

Jadi, bagaimana?

Apakah ada di antara kalian yang sedang merasakan dilema yang sama dengan saya, atau mungkin lebih menjengahkan?

Jika iya, yaudah. Jalani dulu saja, lihat katalog promo tokopedia dulu saja sambil tiduran.

Saya capek juga.

Ehe.

Terimakasih!

Advertisements

25 comments

  1. Lebih baik pertahankan supaya bisa belanja terus di Tokopedia. #AkuCintaTokopedia

    If you can’t be with the one you love, love the one you are with. #ILoveTokopedia

  2. Kirain bosen sama pacarnya bang.

    Jadi gini, coba abang targetin, bekerja itu buat nabung buat biaya nikahin pacar abang yang sekarang, mungkin jadi motivasi dalam diri. Hayo bangun kerja! Ada seseorang yang menunggu untuk saya kawini nih, buruan nanti malah ditikung orang.

    Kalo masih belum bisa semangat juga, ini mah cuma butuh pelukan dari sang kekasih sih, sambil berkeluh kesah. Mantap. Saya pernah juga kaya gini, karna gak ada yang meluk yaudah saya resign aja hehe. Dan sekarang jadi sobat miskin tapi seru ternyata.

    1. Baca kalimat pertama di komen ini langsung reflek membatin “whaaaaaa jangan sampe febri bosen sama sayaaa :(”

      Anyway, semoga komen ini bisa menambah semangat Febri dalam mencari pundi pundi rupiah yaaa :)) aamiin

  3. Sulit sih memang kalau kita ngejalanin setengah hati karna gue juga pernah diposisi kayak lo, tapi dicoba dulu seberapa kuatnya lo disitu, karna disetiap pekerjaan pastilah ada enak ga enaknya.

  4. Apa yang kita rasakan sama mas… ketika dihadapkan pada pilihan mencintai yang kita kerjakan atau mengerjakan yang kita cintai sepertiny aku lebih memilih untuk mengerjakan yang aku cintai… karna rasanya lebih susah memaksakan diri untuk mencintai apa yang kita kerjakan daripada harus mulai mengerjakan apa yang kita cintai… hal tersebut menurutku bisa membunuh potensi kita secara perlahan…

    Lepas lebaran nanti aku rencana untuk resign dari pekerjaan lamaku dan fokus menjadi full time travel blogger.. hasil tabunganku selama ini akan aku gunakan untuk mengelilingi indonesia… apakah aku akan sukses nantinya ?? aku tidak tahu.. tapi seandainya aku gagal sepertinya kegagalan itu lebih mulia daripada aku tidak mencobanya sama sekali…

    Hidup dari menulis ?? rasaku tidak sedikit orang yang sukses menjadi penulis yang hebat… karena hidup dari apa yang kita cintai itu adalah kebahagiaan sejati..

    Tetap semangat mas.. Keep writing… 🙂

  5. Asyiiik yang sudah gajian 😀
    Kerja/pekerjaan memang begitu, Feb, cuma segelintir orang yang berada pada posisi : pekerjaan adalah hobby. Ya kira-kira harus tunduk dan taat pada aturan, selama hobby kita bukan itu 😁

  6. Mas febri, aku udah ikut undian emasnya tokopedia nih, doain menang ya! soalnya aku cinta banget sama undian huahaha! apakah ini yang namanya mencintai apa yang sedang dilakukan???

    *kabur sebelum mas febri emosi*

  7. Baru sebulan Feb, nikmatin dulu aja. Nanti ada waktunya kamu ngerasa “oke bye kerjaan sekarang, dan cari yg baru” hehehe.

    Btw aku kalau pulang kerja gak beban sama kerjaan, ih sombong ya aku~~

    UJUNG TULISAN U IKLAN YE. GENGGES ABES. BYE.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s