Melihat Indahnya Warna-Warni Kampung Jodipan

Kereta membawa saya dan pacar turun di stasiun Malang sekitar pukul 03.45 WIB. Beberapa orang lalu lalang membawa barang, lengkap dengan orang yang dari luar terlihat menjemput dan memanggil-manggil nama orang yang ditunggunya. Tawa senyum terpapar, tepat ketika si penunggu bertemu dengan sosok yang ditunggu. Mereka lantas berbagi barang-barang berat untuk dibawa keluar, sampai suasana Stasiun yang tadinya riuh kini seketika terasa senyap. Meninggalkan kami, para manusia yang tidak mempunyai sanak saudara di Malang terduduk lelah di kursi dekat peron kereta.

Saya duduk berjejer dengan si pacar, pun juga bersama dengan orang-orang lain yang juga menunggu fajar tiba. Beberapa ada yang membawa tas carrier besar, lengkap dengan alat mendaki yang seolah menunjukkan bahwa jati dirinya adalah seorang pendaki sejati yang mungkin saat itu hendak naik ke Semeru. Beberapa lainnya adalah orang-orang biasa yang mendatangi Malang hanya untuk liburan saja, dan pasti merasa agak malas untuk keluar Stasiun karena suasana gelap masih gulita.

stasiun malang

‘Kamu kalau mau tidur, tidur dulu di kursi ini. Mumpung masih gelap juga nih’

Saya menawarkan waktu kepada si pacar agar dia beristirahat, ketika beberapa kali saya melihat dia menguap.

‘Ngga usah ah, mending nemenin kamu melek sambil ngobrol sampai fajar tiba’

Jawabnya dengan menggenggam bahu sebelah kanan saya, yang mana jika jawaban itu terdengar sekarang… YA ROMANTIS SIH… TAPI KOK BEGOK YA? KAN ENTE BISA TIDUR DULU. NGOBROL MAH BISA NANTI-NANTI. LIHAT TUH AKHIRNYA, KURANG TIDUR JUGA KAN HASILNYA!

Baca juga : Sensasi Dingin Boker di Pananjakan 1 Bromo

Jika dihitung-hitung perihal jam tidur selama keberangkatan kami dari Jogja ke Malang, pacar saya memang bisa dibilang cukup bisa memanfaatkan secuil waktu untuk tidur, atau bisa juga dibilang : KEBO PARAH, karena sekali nyender dan merem, dia langsung terlelap pulas. Berbeda dengan saya, yang rasanya susah banget untuk terlelap di perjalanan, atau di tempat yang asing. Entah kenapa, ngga tau juga.

Di dalam stasiun, sembari menunggu matahari muncul dari ufuk timur, kami mengisi waktu untuk Shalat Subuh, ngobrol, bercanda-canda, ngomentarin orang, makan cemilan, dan selfie-selfie alay layaknya pasangan yang baru jadian.

Hingga rinai sinar matahari mulai muncul dan menerangkan sudut kota Malang, kami pun memilih untuk keluar dari Stasiun guna menunaikan tujuan selanjutnya yaitu : Mandi di Masjid.

Suwer ya, ini tujuan yang teramat random parah. Tapi, ya masa kami tidak mandi seharian sih buset? Saya yang sudah mandi saja sering dikira belum mandi, bagaimana kalau saya tidak mandi? Yaaaaa, ya dikira gembel dong, jelas. Ditambah lagi, ini kan agenda liburan ya? Jadi, ya harus menambah stok foto dong, pun. Tidak mungkin juga, foto di Malang, etapi mukaknya pada kusem berminyak hasil dari tidak mandi seharian. Sungguh amat sangat tidak aesthetic.

Sebenernya sih, kami berdua ingin mandi di Kamar Mandi Stasiun saja biar sekeluarnya dari Stasiun, kami hanya tinggal nyari makan dan ke tempat penyewaan motor.  Tapi karena pacar mengeluh di kamar mandi Stasiun tidak ada cantolan bajunya, akhirnya kami berdua sepakat untuk mandi di Masjid saja.

alun-alun tugu malang

Dari stasiun, kami secara random langsung jalan ke arah selatan dan langsung disajikan oleh kokohnya Tugu Malang. Sempat mampir beberapa saat, kami pun lanjut jalan setengah memutari Alun-Alun Tugu Malang ke arah timur untuk kemudian bertanya kepada petugas penyapu jalanan perihal dimana jalan menuju Masjid terdekat. Di situ, Bapak Petugas penyapu jalan menjabarkan secara detail perihal kemana kami harus melangkah lurus dan ambil belokan. Setelah merasa paham, saya dan pacar pun lantas berucap terimakasih dan melanjutkan perjalanan.

Pagi itu masih sekitar pukul 05.30 WIB, hanya saja, saya merasa bahwa kala itu sudah seperti pukul 06.30 WIB saja. Nggak tau kenapa, jalanan sudah sangat ramai dan matahari yang menyorot pun sudah cukup tinggi. Beberapa orang tua yang mengantar anaknya sekolah pun sudah mulai terlihat lalu lalang. Gila aja, ada anak sekolahan sudah berangkat pukul setengah 6 pagi, itu dia mau menggeledah laci meja seluruh kelas dan mengambil barang-barang yang tertinggal apa ya?

masjid gen ahmad yani malang

Nggak beberapa lama kemudian, saya dan pacar pun sudah sampai di Masjid Gen. Ahmad Yani Malang, yang letaknya berdekatan dengan Kodim gitu. Di sana, kami pun bergantian saling tunggu untuk mandi. Di awali dengan pacar saya terlebih dahulu, lalu saya berikutnya. Sensasi pertama yang saya rasakan saat mandi di Malang adalah jelas : DINGIN!!!

Maka, hal itu yang sebenarnya tidak pernah membuat saya terheran saat diharuskan untuk boker di Bromo seperti yang sudah saya ceritakan pada cerita sebelumnya.

Seusai mandi, kami berdua pun lanjut jalan untuk mencari sarapan. Pilihan kami pun lantas tertuju pada gerobak soto Madura yang terletak tidak jauh dari Stasiun Malang. Yhap, kalian benar. Sehabis mandi di Masjid, kami berdua lantas balik lagi ke sekitaran Stasiun.

TAU GITU KAN, MENDING MANDI DI STASIUN DONG PUN AH!!!

Geblek memang kami. Ehe. Kami pun langsung memesan dua porsi soto madura seharga 10k/porsi. Bagi kami, itu adalah pertama kalinya lidah kami menikmati rasa Soto Madura yang rasanya seger-seger mantap gimana gitu. Lapar di perut memang selalu bisa membuat semua makanan terasa enak deh kayaknya. Hehe.

soto madura stasiun malang

Setelah perut agak kenyang dan merasa waktu istirahatnya sudah amat cukup, kami pun akhirnya sepakat untuk main sebentar ke salah satu tempat warna-warni hits Malang, yaitu : Jodipan, sebelum akhirnya langsung cus ke tempat penyewaan motor. Dari apa yang tertera di Google Maps, jarak antara Stasiun Malang dengan Kampung Warna-Warni Jodipan hanya sekitar 700 meter, berdasarkan itulah, lantas kami pun langsung jalan menuju Area Jodipan.

Melihat Indahnya Kampung Warna-Warni Jodipan

kampung warna-warni jodipan dari jalan raya

Saya adalah salah satu orang yang bisa dikatakan cukup norak saat melihat sesuatu yang baru saya lihat. Ya, karena jam terbang saya dalam bidang jalan-jalan keluar Kota itu amat sangat sedikit, jadi,  saat melihat sesuatu yang dulu hanya bisa saya lihat di Instagram itu tuh saya langsung merasa kagum dan heboh sendiri gitu. Contohnya ya kemarin, waktu pertama kali melihat Kampung Warna-Warni Jodipan dan Kampung Biru Arema dengan mata telanjang.

Buset ya, perkampungan yang berada di pinggir sungai aja bisa dibikin seindah itu? Keren parah sih. Ga ngerti lagi saya. Di tepi jalan yang menjadi pemisah antara Kampung Jodipan dengan motif warna-warni dengan Kampung Arema yang hanya berwarna biru pun, saya langsung berhenti dan foto-foto sebentar. Norak parah memang.

kampung warna-warni jodipan

Setelah merunuti jalanan, kami pun akhirnya mampir ke Kampung Warna-Warni Jodipan dengan biaya masuk sekitar 4000-an dan dapet semacam gantungan kunci gitu. Di sana, jelas, saya dan pacar langsung berfoto ala anak-anak alay. Karena tidak ada yang memfotoin, kami berdua pun bergantian memfotokan. Mentok-mentok, ya kami selfie.

Ehe.

selfie di jodipan

Di Kampung Jodipan ini, beragam warna-warni dan seni gambar yang ditampilkan terlihat amat sangat indah. Meskipun sebenarnya hal ini hanyalah rumah yang dicat sedemikian rupa, tapi kekompakan dan pengaplikasian nilai seni yang benar-benar dilakukan oleh seluruh Warga Jodipan ini yang membuat semua terasa indah dan enak aja gitu dilihatnya.

Selain keindahan dari Warna-Warni di Kampung Jodipan ini, orang-orang yang tinggal di Kampung Jodipan pun terbilang ramah-tamah. Senyum dan ucapan ‘silahkan mas, mba’ senantiasa mereka ucapkan, untuk kita para pelancong yang sedang berkunjung.

Ada banyak seni-seni instagramable yang tertampil di sini, seperti misal gambar wayang, warna-warni polkadot, pun juga gambar lukis yang indah. Namun bagi saya, spot termenarik yang benar-benar bisa bikin kita melihat secara jelas akan bagaimana Jodipan itu ya dari jembatan besi kuningnya itu.

Sumpah yaaaa, saya seneng banget bisa berada di tempat yang sedari lama hanya bisa saya lihat di instagram VisitMalang ataupun di blog teman-teman travel blog lainnya.

jembatan kuning di jodipan

jembatan kuning jodipan

Tidak terasa, hampir satu jam kami berdua menikmati keindahan Kampung Warna-Warni Jodipan dan cahaya matahari yang menyorot sudah mulai tinggi menyengat. Merasa sudah cukup puas berfoto di sana, kami berdua pun lantas segera meninggalkan Jodipan untuk berpindah ke tempat penyewaan motor, agar ke destinasi kami selanjutnya tidak kesiangan?

Dimanakah itu?

Lanjutannya pankapan ah, ditunggu Cerita Tentang Malang selanjutnya ya ehe.

Advertisements

35 comments

      1. loh iki wis suwe ta? endi se tanggalane? nasi bhuk iku nasi madura tp tidak ada di madura XD wakakaka. yowes mene2 mrinio maneh dek feb

      2. Iyaaa sudah lumayaaan, Mba. Novemberan lalu wgwgw. Kalau baru-baru ini mah, dirimu langsung kami ajak kopdar, Mba 😀 wgwgw

        WALAAH, NASI MADURA GITU KAYAKNYA SAYA SEMPET LIHAT BANYAK YANG JUAL DEH WGWGW

        Next deh ya, kalau mau ke Semeru :p

  1. Pas wefie berdua tuh tetep kelihatan si laki-lakinya belum mandi *dilemparSwallow wkwk. Enggak sih, mungkin efek kurang tidur aja jadi matanya sayu2 gimanaa gitu. E tapi mbak pacar tetep bersinar ajaa :))

    Pas dari jajan soto ke Jodipan itu dijangkau dengan jalan kaki kah?
    Aku belum ke Malang lho. Lagi ngajuin proposal semoga diacc Mas Mawi :p
    Yok diupdate lagi perMalangannya.

    1. NAH KAN, KANDYANI OG. SAYA MEH KEPIYE-KEPIYE RASANE TETEP KOYO WONG RA ADUS, MBW WGGW.

      Tapi iya sih, ngantuk dan kurang istirahat banget waktu di Malang itu heheh. MBA PACAR KAN AS ALWAYS MEMAKEUPI DIRI WGWGW 😀

      Iya, Mba. Saya dari Makan Soto yang ada di deket Stasiun, cuma jalan kaki doang ke Jodipannya heheh. Deket kok, aslk wgwgwg.

      YEAAAY, LEKAS KE MALANG MBA. NANTI GANTIAN, KAMI KE LOMBOK :p

  2. Wah akhirnya baca blog ini, yang kebetulan tulisan soal jalan jalan, terus pake foto sendiri dan nggak ngambil dari sumber lain. Hahaha.

    Btw, Rinai tuh bukannya merk alat masak ya?
    Tapi aku udah lama juga nggak denger kata Rinai. 🙂

    Wah jadi pengen ke malang lagi.

  3. “aya langsung berhenti dan foto-foto sebentar. Norak parah memang” — Kalimat ini memang lebih menegaskan kalau dirimu memang norak ya, mas.

    Tulisan kok nggak ada misuh-misuhnya babar blas… Nggak asyiik aaah hahahahaha

  4. Kampung warna-warni kini makin banyak.. Semoga bisa memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri.. biar enggak sama semuanya.

    Btw, itu yang foto wefie gitu, Mba-nya cakep banget, tapi kenapa Mas Febrinya nampak belum mandi ya? 😀 😀

    1. Iyaaa, Mba. Makin banyaak banget, dan malah jadi pembeda gitu nggak sih. Uniiiiik wggww.

      NAH KAN, SAYA MAU MANDI NGGA MANDI TETEP AJA KELIATANNYA KAYAK NGGA MANDI :(((

      Kontras sekali yaaa wefienya itu :p

  5. Aku pulang ke Malang malah ga ada main ke Jodipan,lho…..
    Btw, kenapa ga makan di Rawon Tesi, keselatan dikit dari Stasiun, enak dan terkenal.
    Aku dulu pas sekolah jam setengah 6 yaudah berangkat karena masuknya jam setengah 7 ntar pulang jam setengah 1 kadang jam setengah 5an karena ada tambahan. Hehehe
    Btw…..pacarnya ga ngeblog? #eh

    1. Wahaha, tapi dirimu pernah ke Jodipannya Mba? Atau malah blas belum sama sekali? Tapi biasanya gitu sih, orang lokal yang punya tempat tinggal di Malang mah, nggak terlalu excited gitu-gitu ya ke tempat wisata daerahnya. Sama kayak saya yang di Jogja gini wgwgw 😀

      Rawon Tesi? Itu kayaknya saya sempet tau deh, di sekitaran Stasiun ga sih Mba? Tapi kami agak kurang doyan Rawon, dan pacar nggak suka daging sapian gitu wgwgw

      BUSET, JAM SETENGAH 6 BENER-BENER SUDAH PADA BERANGKAT SEKOLAH? ITU NGAPAIN AJA MBA DI SEKOLAH WGWGW

      Pacar saya ngeblog, Mba. Tapi masih kurang aktif :p

      1. Jodipan berhenti saja di depannya, kata Kakakku “ntar di rumah mau dibikinin sendiri” arogan sekali ya? wakkakaka

        Di sekolah pada ngapain? emang itu jam sekolah kita, hahahha.
        Aku pernah lho berangkat sekolah pakai motor sampai sekolah ga bisa turun karena pagi dingin banget, kaki jadi kaku, xixixixi

      2. Wahahaha kaaaaan tetep beda ya, Mba, kalau misal rumah sendiri sama sekumpulan rumah di Jodipan wggww.

        Pagi amat ya itu tapi, Mba. Mana itu, Malang dingin pula paginya :” saya pas mandi di Masjid Malang aja rasanya brrrrr kaget banget wgwgw

  6. Bener, kampung ini keren banget dengan warna-warni yang menghiasnya ya.
    Belum sampai nih keluyuran saya ke Malang. Paling jauh cuma sampe Dieng. Jadi pengen nih berkunjung ke Malang.

    Salam dari saya di Sukabumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s