Sensasi Dingin Boker di Pananjakan 1 Bromo

‘Ini kok perut saya rasanya lagi ngga beres ya?’

Saya berucap kepada pacar sembari mengusap kaki dengan handuk di depan kamar mandi penginapan. Malam itu, sudah terhitung 3 kali saya bolak-balik ke kamar mandi dengan kondisi perut yang sudah masuk ke tahap siaga kuning.

Si pacar hanya mengamati sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke layar handphone sembari menyandarkan kepalanya di bantal. Dengan jempol yang masih sibuk memoles layar handphonenya, dia pun bersuara :

‘Iya mungkin kamu diare biasa, Beb. Kan tadi siang kamu makan ayam geprek cabe 30 sama malemnya pas kopdar sama Mba Vera, kamu juga makan mie setan level 20 toh’

Saya pun diam. Apa yang diutarakan oleh pacar saya malam itu tidak cukup saya permasalahkan karena saya sibuk dengan urusan perut.Tapi, pas saya mengingat dan menulisnya sekarang…

HEYLO, DIARE BIASA PALE LU KOTAAAAAAK. NYIKSA EUY, NYIKSAAAAA BANGET SAKIT PERUTNYA TUH. LAGIPULA… INI PACAR ANDA SAKIT NGAPE ANDA MAIN HAPE MELULU HEEEE.

Huft.

Mainan Hape

Source : Spectator.co.uk

Kala itu, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 23.55 WIB, dimana beberapa menit lagi jemputan jeep untuk menuju Bromo akan datang. Saya mengusap perut pelan, dengan beberapa kali merapal doa agar kondisi perut membaik. Lalu sejenak kemudian, mulut saya berbalik mengumpat atas kebodohan diri sendiri.

Sudah tau akan pergi jauh, malah makan pedes. Begok memang.

Pft.

Ohiya.

Hari itu tanggal 13 November 2018, saya sedang berada di Malang dalam rangka menikmati tiket promo Travel Fair yang diadakan oleh PT KAI. Rencananya malam itu saya dan pacar hendak berangkat ke Bromo setelah beberapa hari sebelumnya, saya sudah memesan salah satu agency yang menyediakan jasa open trip menuju Bromo. Pada briefing melalui pesan whatsapp, mereka bilang kami akan dijemput pada tanggal 14 November sekitar pukul 00.15 WIB di penginapan yang memang sudah saya infokan kepada pihak jasa open trip.

Promo KAI Travel Fair

Source : KAI.id

Lalu setelah semua rencana sudah hampir matang, tiba-tiba di omen yang sangat genting menuju jam penjemputan… perut saya mules hebat.

Bangke memang.

Baca juga : Trip To Baluran : Menyisir Pantai-Pantai Indah di Banyuwangi

Rencana Perjalanan Dari Jogja Ke Malang

Sebenernya sih, bisa dibilang realisasi planning kami untuk mengunjungi Bromo waktu itu adalah kacau balau. Alasan pertama adalah karena kami tidak expect bahwa mengunjungi sebagian kecil tempat di sudut Malang tepat ketika kami baru sampai ke sana akan semelelahkan itu. Sedangkan alasan kedua, jelas, kami kurang istirahat karena hal tersebut.

Di dalam buku plan perjalanan kami berdua, kami memang sudah menuliskan rencana-rencana yang akan kami lakukan sesampainya di Malang yang mana terjabar pada gambar berikut :

Itinenary Bromo Febri

Dasar dari kami membuat plan tersebut? Ya nggak ada. Kami kayak nggak mikirin lelah dan remuknya badan banget dengan plan seperti di atas, anjer.

Ditambah lagi, saya juga nggak mempertimbangkan masalah pemilihan makanan untuk makan siang dan malamnya, yang mana akhirnya malah menjadi boomerang sendiri untuk saya pribadi.

YA… YA GIMANA ENGGAK DIARE YA KALAU SEPULANG DARI PANTAI BALEKAMBANG PERUT LANGSUNG DIISI DENGAN AYAM GEPREK 30 CABE, LALU SETELAH ITU PAS KOPDAR SAMA MBA VERA, PERUT KEMBALI DIISI LAGI DENGAN MIE SETAN LEVEL 20.

PERUT JUGA BISA NGAMBEK TAUK!

Saya masih terduduk di ujung kasur dengan tangan terus menerus mengelus perut. Harapan saya saat itu seolah hanya satu saja : semoga mules tidak hadir lagi selama kami di Bromo. Itu saja deh, suwer.

Namun apa daya, harapan tinggallah harapan. Baru selang beberapa detik harapan itu saya panjatkan, mules tiba-tiba muncul kembali. Bersamaan dengan itu, pesan dari driver jasa open trip masuk, dengan isi yang menyatakan bahwa sebentar lagi beliau akan sampai penginapan sehingga kami diminta untuk mempersiapkan diri.

Drama Mules Belum Berakhir, Tapi Jemputan Jeep Sudah Hadir

Saya bangkit dari duduk dan lekas masuk ke kamar mandi untuk menunaikan hajat yang keempat kalinya. Sementara itu, pacar saya sudah bersiap-siap dengan sangat rapi tanpa ada beban di perutnya sama sekali.

Perut Mules

Source : Shutterstock/Brian A Jackson

Pukul 00.17 WIB, driver jasa open trip kembali mengirim pesan untuk kedua kalinya guna memberi info bahwa dia sudah sampai di depan penginapan. Karena urusan perhajatan dirasa sudah selesai, saya dan pacar pun lantas keluar dari penginapan dan langsung naik ke jeep yang sudah siap di depan.

Cuaca tengah malam kala itu gerimis manis. Jeep melaju dengan kecepatan rata-rata, guna menjemput dua orang personel lagi yang berada tidak jauh dari penginapan kami.

Setelah beberapa kali belokan dan beratus-ratus meter dilalui, 2 personel tambahan yang hendak mengunjungi Bromo pun terjemput sudah. Merasa bahwa kapasitas open trip sudah mencukupi (1 driver, 1 guide, 4 personel open trip) dan tidak ada urusan lagi untuk berlama-lama di Kota Malang, Pak Driver jeep pun seketika langsung tancap gas untuk menyusuri liku jalanan menuju Bromo.

Menurut penuturan guide open trip yang saat itu memandu kami, waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di Bromo dari Kota Malang itu sekitar 2.5 jam. Karena saat itu jejalanan yang dilewati masih relatif bagus dengan aspal mulus sebagai alasnya, lantas mas guide mempersilahkan kami untuk tidur sebentar selagi bisa. Katanya sih, kalau nanti sudah sampai di area Bromo, jalan akan sangat berliku dan tidak ada harapan untuk kami bisa tidur pulas selama di jalan nantinya.

Kami pun mencoba menurut, dengan sesekali mencoba memejamkan mata. Namun, baru sekian menit kami memejamkan mata, tiba-tiba driver jeep memarkirkan diri sejenak dan dengan enteng berucap :

‘Berhenti dulu ya, saya mau ngopi sebentar’

HE BANGKE! INI BARUSAN SAYA SUDAH BERHASIL MEREM, NGAPA TIBA-TIBA BERHENTI? KAN SAYA JADI TERBANGUN DAN MAU NGGA MAU HARUS IKUTAN TURUN KARENA KALAU TIDAK TURUN TUH… PENGAP ANJER!

Selama berhenti di warung kopi itu, saya lebih cenderung mengobrol dengan si pacar untuk mengusir kantuk. Tidak, saya tidak berani menyentuh kopi pada tengah malam karena jika salah-salah ada yang masuk di perut saya, takutnya… MULES LAGI ANJER.

20 menit kemudian, driver jeep pun selesai dengan urusan kopinya dan mulai masuk ke dalam jeep lagi untuk memanasi mesinnya. Kami semua pun lantas langsung masuk ke dalam jeep dan perjalanan mulai dilanjutkan.

Baca juga : Trip to Baluran : Terkagum Akan Pesona Savanna Bekol dan Pantai Bama

Sensasi Ngebut Dengan Mobil Jeep Ke Bromo

Saat driver jeep sudah tancap gas, saya merasa bahwa pada perjalanan awal kami sebelum sampai di warung kopi jika dibandingkan dengan perjalanan kedua kami setelah berhenti di warung kopi, kok sepertinya ada perbedaan yang cukup signifikan ya? Perbedaan itu adalah…

INI NGAPE KECEPATANNYA JADI TIDAK SANTAI YA BUSET?

Jeep Ngebut

Soalnya gimana ya? Pada perjalanan pertama itu, saya masih bisa merasakan nyamannya perjalanan karena kecepatannya yang masih rata-rata. Tapi pas mulai perjalanan kedua, saya bisa merasakan… INI KAMPRET NGAPA NGEBUT AMAT YA?

Saya sempet nyeletuk ketika merasakan perbedaan kecepatan ini.

‘Kok, jadi ngebut banget gini ya?’

Lalu si guide menjawab dengan amat entengnya.

‘Iya, Mas. Nanti takut tidak kekejar sunrisenya’

YA KALAU TAKUT TIDAK KEKEJAR, NGAPE TADI ENTE NGOPI, WAHAI SAUDARA SERUMPUNKU YANG TERHORMAT?!!!

Perjalanan berangsur dengan cepat, dan kami benar-benar tidak mendapatkan ruang untuk memejamkan mata. Sampai pada puncaknya, yaitu ketika sudah masuk ke area Bromo, tepatnya setelah area ticketing, mobil jeep sempat berhenti sejenak yang mana jelas itu sangat menenangkan jiwa raga saya. Namun tidak selang berapa lama, tanpa ada instruksi yang berarti, si driver tiba-tiba langsung menekan gas dengan pijakan yang amat sangat kencang.

MAKWEEEEEENG!!!

Pintu Masuk Bromo

Source : yuniarimukti.com

Suer deh, seumur-umur, ya di tanggal 14 November 2018 itulah saya pertama kalinya menaiki mobil yang dikendarai secara wadudu wadidaw oleh drivernya. Lha gimana ya? Kalau misal jalannya masih aspal dan lempeng aja sih, saya ngga masalah. Lha ini jalan di dataran tinggi gitu, berkelok-kelok, dan penuh geronjalan. Jadi kan, bangkek ya?

Saya seketika langsung teringat percakapan saya dengan pacar saat masih di Jogja. Kala itu, ketika disuruh mengisi form opentrip, tertera sebuah pertanyaan mengenai ahli waris. Kami berdua lantas bingung, memang kenapa harus ada isian ahli waris segala dalam sebuah perjalanan wisata? Pertanyaan itu pun kemudian tidak terjawab, hingga pada hari itu, tengah malam, sekitar pukul 02.30 WIB, di dalam jeep, dengan kondisi badan yang digoyang-goyang dengan hebatnya karena jeep yang melaju kencang ditambah jalan yang berkelok-kelok… pertanyaan itu terjawab sudah.

Terimakasih kepada ayah, ibu, kakak, adik, saudara-saudara dekat, dengan adanya pesan ini, saya haturkan…

WOE NGGA GITU WOE!

Baca juga : Trip To Baluran : Kali Pertama Menginjakkan Kaki di Banyuwangi

Saat itu, saya nggak bener-bener tau tentang dimana keberadaan kami. Namun yang jelas, saya hanya tau bahwa kami sedang terombang-ambing dalam jeep. Sampai akhirnya, mas-mas guide pun berucap kepada Pak driver.

‘Ini kita coba cek dulu deh, Pananjakan 1. Sekalian mampir ke toilet mushollanya’

Melalui ucapan mas-mas guide, secercah cahaya pun tiba-tiba muncul. Pertama, saya jadi tau bahwa sekarang kami sedang menuju ke pananjakan 1. Kedua… AKHIRNYA BAKAL MAMPIR TOILET YA ALLAH. INI PERUT SAYA SUDAH AMAT SANGAT KOYAK ISINYA KEMANA-MANA.

Toilet Pananjakan

Source : Gmaps

Review Boker di Toilet Musholla Pananjakan Bromo

Beberapa menit kemudian, jeep pun berhenti di sebuah Musholla yang sekitarannya ada beberapa toilet umum. Saya pun lantas turun, disambut dengan pacar beserta 2 personel lainnya. Hawa dingin langsung menyerang dengan sangatnya. Hawa dingin yang biasa saya rasakan tiap kali membuka freezer kulkas.

Merasa dingin yang dirasa ini sudah amat berlebih dan saya khawatir dengan kondisi si pacar, saya pun lantas memberikan satu jaket yang saya bawa untuk dia. Lalu setelah itu, jelas, saya langsung ngibrit ke kamar mandi karena rasa ingin boker yang sudah mendera jiwa.

Saat pertama kali masuk kamar mandi, firasat saya sudah amat sangat tidak enak. Saya khawatir, dengan suhu dingin yang amat sangat pada pukul 03.00 WIB di pananjakan 1, airnya akan berasa seperti apa. Namun, karena keinginan boker saya lebih tinggi dari rasa kekhawatiran yang saya rasakan, akhirnya saya memutuskan untuk membuka celana dan langsung jongkok di atas jamban.

Satu persatu sekumpulan kotoran kampret yang menyiksa perut ini pun lantas keluar dengan pedenya. Modar anda, merasakan dingin yang sangat. Sampai dirasa semua kotoran saat itu sudah keluar dan perut saya sudah cukup baikan, saya pun lantas meraih gayung dan mencoba mengambil air di dalamnya.

Saya memandangi air tersebut lama, lalu dalam tiga kali hitungan, saya siramkan air tersebut dengan hati-hati ke bokong yang hanya berbalut kulit.

Byur.

Saya langsung menggigil.

Parah.

Menggigil kedinginan

Source : Redorbit.com

Sensasi dingin yang saya rasakan pagi itu tuh bener-bener kayak air yang kita dapet dari freezer, tepat sebelum air itu beku : DINGIN YANG I-NYA ITU DELAPAN BELAS BIJI YANG SAKING DINGINNYA MALAH BIKIN PERIH.

Setelah siraman pertama selesai, lantas saya merasa bahwa satu siraman tidak cukup untuk membersihkan kotoran. Saya pun mencoba kembali, dan kali ini siraman itu terlalu membabi buta sehingga mengenai pentolan adik kecil saya yang mana kulitnya sudah terkelupas karena disunat dan jika ditanya rasanya…

ANDA HARUSNYA TAU PENDERITAAN SAYA, JADI JANGAN DITANYA LAGI.

Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mencoba menyiramkan kembali air bedebah itu ke bagian bokong agar semuanya bersih dan higenis.

Sampai ketika semua selesai, saya pun memasang kembali celana dan membuka pintu toilet. Disitu, pacar saya sudah menunggu di depan pintu. Dia memandangi saya yang mukanya terpasang rona pucat. Mulutnya pun bersuara.

‘Kamu… kenapa, beb?’

Saya menggelengkan kepala, lalu menggandeng pacar saya untuk kembali menuju parkiran jeep.

‘Tanganmu dingin, beb’

Ucapnya kembali setelah tangan saya menggandengnya.

Saya diam, lalu diam-diam membatin :

‘Iya, tapi lebih dinginan pentolan masa depan saya yang kesiram air di kamar mandi tadi, beb. Mau pegang?’

Sesampainya di parkiran jeep, si mas-mas guide pun memberi informasi bahwa di pananjakan 1 ini kabutnya sangat tebal, sehingga jika nanti dipaksakan, kemungkinan besar kami tidak akan melihat sunrise. Jadi solusinya, kami diajak turun saja ke pananjakan 2 yang kabutnya kemungkinan lebih sedikit.

Kami pun menurut, sembari kemudian bersama-sama masuk ke dalam jeep.

Disitu, dengan gas yang ditekan oleh sang driver, dengan putaran manuver menuju jalan turunan, jeep pun melaju dengan kencang. Bersamaan dengan itu, perut saya mulai kembali berbunyi. Menandakan sesuatu harus dikeluarkan segera. Menandakan juga bahwa pentolan masa depan saya akan membeku di Bromo.

Pfft dah.

Terimakasih.

Oiya, bonus foto setelah urusan perut beres, tapi habis itu tetep aja boker lagi. Total kalau dihitung, ada 4 kali saya boker di Bromo dengan total biaya pengeluaran sebesar Rp. 20.000,-

Berpose di Bromo

Bonus satu foto lagi deh.

Bromo Mules

Yasudah, deh.

Terimakasih.

 

Advertisements

93 comments

    1. Hahaha iyaaaa bener, biasanya saya kalau misal mau pergi gitu, emang jarang makan biar ga mules atau gimana-gimana. Tapi kemarin emang dasarnya lagi geblek aja gitu wkwkwk.

      Di bukitnya, sebenernya ada toilet sih. Ga nyangka juga di Bromo bakal mudah banget nemuin toilet, tapi, yaaa selain dingin, memiskinkan juga. Setiap kali masuk bayar 4000-5000an wkwkw

      Sunrisenya tidak dapeeet, tetep dapet kabut wkwkw

  1. akhirnya ke bromo feb 😀
    biasanya kalo di bromo, kalo mau foto foto mending ke lava view nya itu feb. biar keliyatan fotonya kalo itu beneran di bromo 😀

    1. Hehehe, iyaaaak. Akhirnyaaa bisa ke Bromoooo. Alhamdulillah sekali yeyeye 😀

      Hooooo iyaaap, nanti dipostingan berikutnya tentang bromo bakal diposting foto-foto lainnya kok heheh. Ini mau cerita tentang boker dulu wkwkw 😀

  2. Ngeri emang kalau ngebut di jalan berkelok-kelok ke bromo, senam jantung 😥

    Masih alhamdulillah ada toilet, kalau g ada malah repot. Ya,kan.. 😆

    1. Iyaaa, Mba. Suwer deh, saya kageeet banget pas sudah di area bromonya gitu. Ini badan kayak dipontang-panting gitu wkkwkw.

      Alhamdulillaaaah banget, selama di Bromo tida kesulitan nyari toilet. Lhawong ada dimana-mana. tapi ya itu, dingin dan mahalnya aja kendalanya kwwkwk

  3. Aku kebayang kok feb, merindingnya seperti apa, nahan boker sepanjang perjalanan hahahaha. Aku pernah alamin. Abis makan kikil mercon di jogja dulu, dan perutku sukses mules2 sepanjang perjalanan jogja jakarta :D.
    aku dulu doyan banget pedes. Skr sih masih, tp kayaknya udh ga berani lg sampe cabenya over gitu. Udh takut sih. Perut kayaknya makan sensi skr ini 😀

  4. Aku kebayang kok feb, merindingnya seperti apa, nahan boker sepanjang perjalanan hahahaha. Aku pernah alamin. Abis makan kikil mercon di jogja dulu, dan perutku sukses mules2 sepanjang perjalanan jogja jakarta :D.

    aku dulu doyan banget pedes. Skr sih masih, tp kayaknya udh ga berani lg sampe cabenya over gitu. Udh takut sih. Perut kayaknya makan sensi skr ini 😀

    1. Hahaha ga enak banget memang ya mba ya rasanya :’ wkwkw kayak keringet dingin gituuuuu.

      HAHAH SAYA KALAU MISAL MEETUP SAMA TEMEN JAUH ATAU TEMEN BLOG DARI LUAR KOTA, PASTI SEBELUM DIA PULANG, SAYA AJAKIN DIA UNTUK MAKAN OSENG MERCON DULU BIAR MULES DI JALAN WKWKWK

      Heheh saya masih suka pedes sih, mba. suka banget malah. Tapi ya itu, sakit perutnya tidaaaa santai kadang wkwkw

  5. Saya makan geprek pakai cabai 25 biji (lupa ini level berapa) aja langsung diare dua hari. Dalam sehari bisa empat kali bolak-balik. Wqwq. Ini kamu 30, Feb. Masih tambah mi berlevel. Udah gitu hawanya dingin. Biasanya semakin mudah mules. Mana lagi di perjalanan. Sungguh, pengalaman yang aduhai. XD

    1. Sediiiii memang. Tapi kadang masih bingung sih, kalau makan pedes gitu tuh yang salah apanya. Apakah pure pedesnya, atau karena kekurang higenisannya kwkw. Soalnya pernah makan ayam gembus cabe 50, perut saya baik-baik sajaaa tapi cuma pedas di mulut wkwk. Terus makan richeese level 5 jam 2 pagi, pun baik-baik aja.

      Lhadalah pas makan cabe 30 kok, mulesnya ga karuan wkwkwk.

      HAHAH SIKSAAN BANGET SIH, MULES DI JALAN, PAS BOKER AIRNYA DINGIN PULA WKKWKW

  6. Astagaaaaaa aku ngakak jaya baca postingan ini
    Tulisan panjang yang menceritaka BOKEEEER
    Huahahahahahaha

    Besok-besok tambah lagi makan cabenya kakaaaak

    1. Hahaha iyaaa nih, soalnya dapet pengalamaaaaaan mules yang sangat pas di Bromo wkkwkw

      Waaa kalau deket sama kampung mah, bisa kapan saja ya mas ke Bromonya. Semoga lain waktu beneran jadi main ke Bromonya ya 😀

  7. dinginnya air di sana memang sangat sangat berkesan sampai males kalau harus ke kamar mandi. hehe… saya juga pernah drama saat ke bromo mas, tapi drama mabok darat karena masuk angin dan naek hartop yang kece abis berliuk liuknya. hehe

  8. Itu itinerary trip atau rundown kawinan, mas? Tambahin sekalian acara Tea Pae sama sungkeman juga dong … Hahahaha

    Kok nggak pakai pampers saja sih, kan selesai langsung permasalahan boker

    1. Itu rundown acara dugem dong, mas. Duh, makanya dibaca keterangannya mas :’ dugem sama kawinan kan beda, meski di dugem pasti ada kawinnya ehe.

      NGAPAIN DIKASIH TEA PAE DAN SUNGKEMAN JIKA TIDA ADA ACARA DI DALAMNYA, DUUUUH GANGERTI NIH KONTORU SATU INI WKWKWK.

      Oiya ya, kenapa ngga kepikiran ya? Semoga setelah terpostingnya tulisan ini, ada yang mau ngendorse pampers ah.

  9. HAHAHAHHAHA

    Pernah juga
    Tapi maybe nggak separah itu dingin airnya

    Aduh gimana dong aku ada rencana ke Bromo juga
    Tapi kalo separah itu kayaknya nggak bakal sanggup nih wkwk

  10. Sebvvah review yang sangat jujur dan mendalam…

    Beruntunglah saya yang tidak doyan pedas. Iya, makan geprek aja pol-pol’an cuma ambil 3 biji cabe doang. Pernah nyoba 5 biji. Habis itu ya sama kaya kamu yang makan 30 biji cabe & mie pedas level 20, Feb. Perut mules – nahan kentut karena takut keluar seampas-ampasnya, dan tentu saja bolak – balik kamar mandi kost’san–yang mana waktu itu harus antri karena masih dipakai anak-anak mandi. *sedih aku tuh*

    Fix! Pak sopir suruh ikut casting Fast Furious aja itu. Hahaha

    1. Hahaha makan pedas itu nagih sih, tapi ya itu, kadang ga kuat sama pedesnya. Dirty Chicks pernah mesen cabe 25 aja, si penjualnya sampai kaget. Pas saya coba, sayanya kaget. PEDES PARAH :((((((

      HAHAHA BENER SIH INI. PAK SOPIRNYA PARAH WKWK HEBAT TAPI 😀

  11. ini sebuah perjuangan yang hakiki, jadi yg mau dijadikan atensi dari perjalanan ke bromo ini asalah perjuangan broker….

    coba deh lain kali ngantongi kerikil 3 biji atau minum susu setelah makan pedes, biar lambung ga berontak

  12. makan cabe 30 biji? masyaalloh gimana gak MENCRET? hahaha..
    itu perlu banget yaa di review, boker di toilet musholaaa..? wkwkwk

    oiya, saya dulu naik jeep ke pananjakan rasanya wadudu wadidaw jugaa. stress banget emang driver nya yaa.. turun dari jeep langsung muntah2 saya.. haha #gaktahanbanting

    1. Hahaha iyaaa mbaaaa, kapok banget. Besok-besok kalau mau traveling atau ngetrip kemana gitu, ngga mau makan pedes ah wkwkw.

      Harus dong mba, soalnya berkesan banget :p wkwkwkw

      BENEERKAN RASANYA NAIK JEEP KE BROMO ITU EMANG WADUDU WADIDAW BANGET. :((

  13. Wkwkwk itulah kualatnya ketika makan cabai tanpa pikir panjang. Gila aja makan ayam geprek cabainya 30, terus makan mie level 20. Kan cetaaan beneran.

    Biaya Rp 20.000 untuk bolak balik ke toilet itu belum seberapa dibandingkan harus ke dokter.

    Cerita yang gokil asli, bikin ngakak, kamfret adek kecil sampai disebut pula. Kakakakakakkka

    1. Hahah iya nih, mba. Bener. Kayaknya ini suatu bentuk kekualatan saya terhadap cabe wkwkw. kagak kuat sumpah mulesnya waktu itu wkwkw 😀

      Hehehe, masih bersyukur yaa bisa boker di Bromo dan perut baik-baik saja, tanpa harus ke dokter 😀

      Terimakasih banyak, Mba 🙂

  14. Judulnya antimainstream… Boker aja ada reviewnyaa..
    Kayaknya makan banyak cabe itu salah satu cara biar bisa menceritakan dengan gaya bahasa mengalir

  15. Aku juga pernah nih kebelet pup tapi di kawah putih…
    ya sama lah dingin juga…. tapi waktu itu aku gak nemu toilet…
    Eh.. ada deng, tapi ruuuuaaaaammmmmeeee dan antriannya puuuuaaaannjjaaaaangg..
    Abis itu kan turun dari kawah putih… trus pup di semak2….

    ._.

    Cebok? Nggak. Gilak sih… cuma pake roll tisyu aja kasih hand sanitizer stroberi… peperin ke pantat. Yak..

    1. Duuuuuuh, ada toileeeet dan rame yaaa. Sebuah sensasi yang wadidaw sekali yaaaa tuh mulesnya wwkkwkw. Pasti Mba Ran ke Bromonya pas hari liburan yaaa wkwkw.

      KEREEN DIRIMUUUU. KU HARUS BERGURU PADAMUUUU DALAM MASALAH PERBOKERAN 😀

  16. Kebelet boker dan cuaca dingin adalah hal yang gak bisa bersatu. Jangan bersahabat! Gak usah deket-deket, bukan mahrom. Rasanya kayak dibayangi malaikat maut.
    First time in my twenties read a review about boker, hmm.
    Ane juga pernah bang. 2 jam, dalam kereta api malam yang dingin. I feel you wkwkwkw.

  17. WAduh.. Alhamdulillah ya nemu toilet 😀 emang sih kalau lagi ngetrip terus tiba tiba datang hajat mendadak emang gak enak tapi tetep bersyukur karena itu juga termasuk nikmat.. kalau ga boker boker malah jadi penyakit ntar.. 🙂 HEeeeheee

  18. Ini ceritanya bukan tentang keindahan bromo ya, tapi urusan boker di bromo 😅😂

    Yang penting berkesan
    Berarti lain waktu ke sini lagiiii

    1. Haha iyaa, Mbaaa :’ baru bisa menceritakan tentang sensasi dingin boker di Bromo wkkww. Soalnya itu yang masih tersimpan di benak sampai sekarang rasa dinginnya wkwkw.

      hahaha Insya Allah main ke Bromo lagi aaaah 😀 Eh, tapi Ranu Kumbolo dulu ding 😀

  19. Wahh pengalaman yang tidak terlupakan ya Mbak. Kapok nggak nih, mau jalan-jalan tapi sengaja dibuat repot, karena makan sambal yang sangat pedas?

    Kalau saya sih memang nggak berani pedas karena perut langsung berontak, sudah biasa jadi tahu harus digimanain, hehe.

  20. Bhuaa… hahahahaa ..
    Fix yaaa total 50 cabe tandas masuk ke perut dan berujung 20K melayang buat bayar toilet ….
    Sungguh pengalaman travelling sangat mengesankan, mas Feeeeb …. 😀

    Tapi beruntung loh nemu toilet, coba kalo ngga …. xixixi …

    1. Wahahaha iyaaa, Mas, kacau banget pokoknya dulu itu tuh. Harus dibayar dengan 20k cuma buat masuk toilet doang wggw 😀

      Makasih banget ya, Mas hehehe 😀

      Bener, untung banget ada toilet banyak di sana :’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s