Trip To Baluran : Menyisir Pantai-Pantai Indah di Banyuwangi

Pagi di Bima Homestay menyambut dengan ramah. Kicau burung yang bertengger pada pohon mangga depan kamar menjadi irama penyemangat untuk membuka hari. Saya membuka mata perlahan, namun masih tetap mencoba untuk merebahkan diri karena bagi saya, rebahan adalah posisi terkece tersolid terkeren terganteng dan ter-ter lainnya ketika bangun tidur.

Bisa dibilang, tidur paling nyamannya saya saat berlibur kali ini adalah ketika berada di Bima Homestay. Tidak tau kenapa, setelah sehari sebelumnya menerpaksakan diri untuk tidur di Banyuwangi Beach dengan kondisi yang amat sangat kepanasan karena AC yang tidak dingin alias matek yang literally kabelnya putus dan which is itu bangkek, kini di Bima Homestay saya merasakan esensi tidur yang sebenar-benarnya.

Setelah mata terbuka dan merebahkan dirinya sudah terasa sangat cukup, saya pun langsung mengulet panjang untuk mengusir kantuk yang sedari tadi menyergap. Saya terduduk di kasur dengan memasang muka bego, lalu sesaat kemudian tangan saya meraih remote TV yang ada di meja, menekan tombol power, dan mencari-cari acara televisi apa yang bagus untuk ditonton pagi hari ini.

Berbeda dengan saat di Banyuwangi Beach, dimana channel televisinya hanya ada 3 biji yang mana salah satunya hanyalah layar biru doang, di Bima Homestay, channelnya  9 kali lipat dari TV di Banyuwangi Beach alias banyak beud. Saya sampai bingung mau nonton apaan. Hingga pada akhirnya pilihan saya pun terjatuh pada acara… Upin-Ipin.

HAYHELO, DARI SEKIAN BANYAK ACARA TELEVISI, NGAPA NONTONNYA UPIN-IPIN?!!!!

BOCAH BANGET SIH SAYANYAAAAA!!!

Baca Juga : Trip To Baluran : Perjalanan Awal dalam Kereta

Pacar saya yang sudah lebih dahulu terbangun daripada saya pun hanya bisa memandang dengan tatapan heran. Pacar yang dia kenal dengan perawakan tinggi gede, muka tua, berisi, etapi tontonannya Upin-Ipin. Istighfar, Mba. Istighfar.

Tidak lama setelah momen canggung dan penuh bacaan istighfar itu, pintu kamar kami pun terketok. Seseorang dari luar berucap salam. Merasa terundang, pacar saya pun langsung membuka pintu dan langsung disambut oleh Ibu pemilik Homestay dengan membawa dua kotak makan beserta satu ceret berisi teh hangat.

‘Ini sarapan paginya ya, Mbak’

Ucapnya dengan senyum ramah. Pacar saya pun membalas senyum dan menerima dua kotak makannya untuk ditaruh di meja, pun kemudian kembali keluar lagi untuk mengambil satu ceret berisi teh hangat dan juga dua gelas kecil.

‘Terimakasih banyak ya, Bu’

Selepas itu, ibu pemilik Bima Homestay pun berlalu, si pacar menutup pintu, dan saya masih lanjut menonton upin-ipin sembari menggaruk-garuk ketek sebelah kiri dengan mata merem melek.

EMANG DASAR TIDA TAU TATA KRAMA YA FEBRI ANAKNYA!!!

BAKAR SAJA, BAKAR!!!

Bagi saya pribadi, Bima Homestay ini bisa dikatakan sebagai penginapan yang amat sangat recommended buat para pelancong yang ingin berlibur ke Taman Nasional Baluran. Alasannya pun sederhana, yaitu pertama, pembebasan jam check in dan check out asalkan tidak menginap lebih dari semalam (jika memang bookingnya 1 malam, loh ya). Kedua, tempatnya yang cukup dekat dengan gerbang masuk Taman Nasional Baluran (450 meter). Ketiga, pemilik homestay yang sangat baik dan ramah. Keempat, tempat yang asri dan nyaman karena ada beberapa pepohonan. Terakhir kelima, tamu dijamu dengan makanan lezat dan minuman hangat yang membuat kita berasa sedang berada di rumah sendiri.

Bima Homestay

Halaman Penginapan Bima Homestay Baluran

Oleh karena itu, jika ada teman-teman yang membaca tulisan ini dan hendak mengunjungi Taman Nasional Baluran, maka saya merekomendasikan agar menginap di Bima Homestay ya! Etapi kalau misal mau nyoba penginapan lainnya, ya bebas. Selera juga sih soalnya. Ehe.

Menu sarapan pagi yang kami dapatkan di Bima Homestay kala itu adalah nasi ayam, oseng tempe, dan sayur capcay, yang mana kondisinya masih sangat fresh dan hangat. Karena penampakannya yang menggoda dan perut kami sudah cukup lapar, akhirnya kami berdua pun melahapnya dengan bahagia alias… HORE TIDAK KELUAR UANG UNTUK SARAPAN!

Makanan di Bima Homestay

Sarapan dari Bima Homestay Baluran

Sekitar pukul 09.00 WIB, saya dan pacar pun sepakat untuk meninggalkan rutinitas leyeh-leyehnya, lalu segera untuk bersih-bersih badan dan packing-packing barang bawaan. Setelah seluruh agenda packing beres dan semua barang bawaan dipastikan tidak ada yang tertinggal, kami pun lantas bersiap untuk kembali menuju ke area Banyuwangi.

Sebelum benar-benar pergi dari Bima Homestay ini, kami berdua terlebih dahulu berdiskusi untuk menentukan tujuan kemana kami selanjutnya sepeninggal dari Bima Homestay, mengingat waktu yang tersisa masih lumayan banyak. Disitu, kami berdua sepakat bahwa kami akan mampir ke satu atau dua pantai yang kemarin dengan pasrah kami lewati tanpa mampir ketika sedang melakukan perjalanan berangkat menuju Taman Nasional Baluran. Ada banyak pantai dengan pemandangan indah yang kami lihat di sana. Selebihnya, kami hendak mencari penginapan di sekitaran Stasiun untuk kemudian drop barang dan lanjut explore Banyuwangi lagi, diantaranya adalah menuju De Djawatan dan juga mencicipi salah satu Nasi Tempong yang terkenal enak juga, yaitu Sego Tempong Mbok Wah.

Setelah sepakat dengan rencana tersebut, kami pun bersiap-siap untuk bergegas, dengan terlebih dahulu merapikan kamar, mengunci pintu, dan mengetok pintu utama Bima Homestay guna minta izin pamit kepada ibu pemilik homestay yang amat sangat ramah ini.

Perjalanan sisa satu hari, kami ucapkan selamat tinggal untuk destinasi utama kami : Taman Nasional Baluran, dan selamat datang kepada perjalanan random kami selanjutnya!

Baca juga : Trip To Baluran : Kali Pertama Menginjakkan Kaki di Banyuwangi

Menghilangkan Penat di Pantai Kampe

Seperti yang sudah saya jabarkan sebelumnya di atas, sewaktu sedang melakukan perjalanan dari Banyuwangi menuju Taman Nasional Baluran kemarin, kami berdua sempat disajikan dengan keindahan lautan biru menyegarkan dari pinggir jalan.

Sebenarnya, saya tidak terlalu kaget sih ketika dihadapkan dengan pemandangan laut begitu. Soalnya, ketika masih di Jogja, saya sempat meriset perihal bagaimana liku jalan yang kan dilalui jika ingin ke Taman Nasional Baluran dari Banyuwangi. Nah disitu, melalui satelitte G-Maps, terpampang jelas salah satu liku jalanan yang mepet banget dengan pantai di daerah Watu Dodol, yang mana seketika membuat saya excited untuk lekas melihat kondisi aslinya di lapangan. Lalu ketika saya melihat sendiri akan bagaimana pemandangannya di dunia nyata pada September 2018 kemarin…

ANJAY, KEREN PARAH!

Pemandangan watu Dodol dari Gmaps

Watu Dodol Dilihat dari G-Maps

Nggak ngerti lagi deh saya, sama Banyuwangi ini.

Ehe.

Pada kenyataannya, pantai yang berada di Banyuwangi,-tepatnya di sepanjang jalan dari Stasiun Banyuwangi Baru menuju Taman Nasional Baluran-, itu bukan hanya Watu Dodol saja. Saat melewati daerah Watu Dodol ke utara, saya merasa seperti sedang berada di daerah Gunung Kidul Yogyakarta, dimana yang tertampil di sana adalah beberapa plang/papan informasi bertuliskan nama pantai, lengkap dengan jalan setapak kecil yang dipergunakan untuk akses masuk.

Awalnya, kami berdua bingung untuk memilih pantai mana yang akan kami datangi. Karena keterbatasan waktu dan tidak mungkin semua pantai kami kunjungi, akhirnya kami berdua pun memilih satu pantai yang di plangnya tertulis nama pantai dengan ukuran lumayan besar, yaitu : Pantai Kampe.

Dari arah Taman Nasional Baluran, plang bertuliskan Pantai Kampe ini berada di kiri jalan, dan teman-teman hanya perlu masuk menyusuri jalan kecil berbatu sekitar kurang lebih 1 kilometer ke dalam, untuk kemudian menemukan lahan parkir tak berbayar dan pemandangan lautan yang lumayan.

Pemandangan Pantai Kampe

Pemandangan Pantai Kampe

Buat saya dan pacar, Pantai Kampe ini merupakan salah satu destinasi wisata pendukung karena memang kami tidak sengaja menemukan plang bertuliskan Pantai Kampe ini dan asal masuk ke dalam sahaja. Tapi setibanya di sana, ternyata pemandangan laut yang disajikan tidak terlalu mengecewakan.

Ditemani dengan semilir angin yang tidak terlalu kencang dengan laju ombak yang perlahan-lahan, tempat ini amat sangat pas untuk orang-orang yang ingin beristirahat sejenak melepas penat. Dengan disediakan beberapa gajebo untuk duduk ataupun beristirahat sembari melihat suasana pantai, sepertinya Pantai Kampe ini memang sangat pas untuk orang-orang yang ingin merefresh diri dari segala kesibukkan yang melanda hidup. Tentu, hal ini hanya untuk orang Banyuwangi saja ya. Karena kalau anda ternyata orang Uzbekistan, YA KEJAUHAN DONG KALAU INGIN MEREFRESHING DIRI SAJA HARUS KE PANTAI KAMPE DI BANYUWANGI DULU!!!

Berfoto di Pantai Kampe

Berfoto di Pantai Kampe

Setelah merasa puas dengan pemandangan Pantai Kampe dan foto-foto telah tersimpan di memory, kami pun akhirnya memilih untuk pindah ke tujuan selanjutnya, yaitu Grand Watu Dodol, salah satu pantai yang kami lewati ketika hendak ke Taman Nasional Baluran, dan seketika itu kami berdua langsung sepakat dengan bilang :

‘Sepulang dari Baluran, kita mampir sini ya!’

YASH!

Sebenarnya sih, jika boleh mengutarakan perihal wisata pantai mana yang ingin sekali saya datangi di Banyuwangi, saya tentu akan menjawab : Pulau Tabuhan. Gimana tidak ya, dari apa yang saya lihat di google image ataupun instagram visitbanyuwangi, Pulau Tabuhan inilah yang menunjukkan pemandangan paling memukai dengan pasir putihnya.

Hanya saja, setelah saya riset dan mencari tahu perihal cara akses menuju ke sana dan biaya yang dibutuhkannya, lantas dengan segera saya langsung mengubur dalam-dalam keinginan saya tersebut karena… YA KARENAAAAAA MASIH BELUM PUNYA CUKUP UANG DONG YAAAAAAA.

Huft.

Masih belum waktunya.

Sabar. Sabar.

Oiya, untuk sekedar sharing informasi saja dan sebagai pengingat bersama, dari apa yang saya dapat di internet mengenai cara menuju Pulau Tabuhan, kalian itu sebenarnya hanya perlu menuju ke Pantai Kampe, Pantai Grand Watu Dodol, atau Pantai Bangsring saja loh. Nah, setelah memilih salah satu dari ketiga pantai tersebut, kalian hanya tinggal mencari penyewaan kapal yang kabarnya bisa disewa dengan harga Rp.500.000 dengan maksimum penumpang sebanyak 10 orang di sana. Setelah menyewa kapal, baru deh melakukan penyeberangan dengan durasi waktu kurang lebih 15-20 menit dan kalian akan sampai di Pulau Tabuhan.

HORE!

Itu informasi saja ya, karena saya tidak kesana.

Huhu.

Baca juga : Trip To Baluran : Menikmati Nasi Tempong Mbok Nah

Hamparan Laut dengan Angin Kencang di Watu Dodol

Satu hal yang mungkin bisa saya deskripsikan dari Pantai Grand Watu Dodol ini adalah :

Iconic.

Suwer deh, kalau misal diantara kalian di sini pernah berkunjung ke Taman Nasional Baluran dari arah Banyuwangi, seharusnya kalian akan langsung merasa terkesan dengan tempat ini. Gimana tidak ya? Soalnya, kalau dilihat penampakan Grand Watu Dodol dari pinggir jalan tuh, dapat terlihat jelas betapa kontrasnya gapura dan tembok-tembok berwarna putih terang yang terkesan mewah, diantara bukit-bukit tinggi di seberangnya.

Grand Watu Dodol

Grand Watu Dodol Banyuwangi

Pada awal ketika kami melewati Grand Watu Dodol ini, saya kira tempat tersebut adalah sebuah resort yang tidak sembarang orang bisa memasukinya (terutama sobat misquin macam saya). Tapi setelah saya kembali dan memberanikan diri untuk masuk di area parkirnya, ternyata Grand Watu Dodol adalah sebuah pantai biasa dengan latar bagian depan yang teramat sangat mewah.

Tiket Masuk Grand Watu Dodol

Tiket Masuk Grand Watu Dodol

Saya dan pacar pun langsung memarkir motor dan membeli tiket masuk dengan total sebesar Rp.12.000,-(include parkir), lalu menaiki tangga untuk naik di bagian atas pembatas gitu, lantas selanjutnya menjejaki jalan menuju tengah pintu masuk dan… Wala, Pantai Grand Watu Dodol pun terlihat.

Berfoto di Grand Watu Dodol

Berbeda dengan Pantai Kampe sebelumnya, di Pantai Grand Watu Dodol ini, angin yang bertiup bisa dibilang sangat kencang. Cukup merinding sih sebenernya, ketika beberapa kali hendak mengobrol dengan pacar sambil foto-foto, tapi suara kami terhalang suara angin dan ponsel yang saya hampir kebawa angin.

Pemandangan pantai Grand Watu Dodol

Di sepanjang pantai, ada banyak orang yang menawarkan perahunya untuk disewa dan mengajak kami menyeberang ke Pulau Tabuhan. Saya menunjukkan telapak tangan tanda menolak (dan tanda tidak punya uang juga dong pastinya), kemudian berlalu mencari spot ternyaman untuk menikmati keindahan Pantai Grand Watu Dodol ini.

Pemandangan Indah Di Grand Watu Dodol

Saya nggak begitu tau ya, sebenernya Pantai Grand Watu Dodol ini awalnya tempat apa. Soalnya, di sana itu ada semacam jalan agak panjang menjorok ke arah laut, pun lengkap dengan semacam jembatan dari besi yang sudah ambruk. Mungkin awalnya, tempat itu dipergunakan untuk pemberhentian kapal kalik ya?

Yaaaa, nggak tau, kan saya sudah bilang di awal kalau saya ngga begitu tau.

Okay, okay.

Jembatan Grand Watu Dodol

Setelah merasa puas karena sudah terlalu lama memanjakan diri dengan angin kencang di Pantai Grand Watu Dodol, kami pun akhirnya melangkah keluar menuju parkiran dan menyusuri jalanan menuju arah Stasiun Banyuwangi Baru. Tapi lhadalah, belum jauh jalanan terlewati, kami pun memilih untuk berhenti sebentar di pinggir jalan dan mampir di salah satu icon dari Watu Dodol itu sendiri, yaitu Patung Gandrung.

Patung Grandrung Icon Banyuwangi

Patung Gandrung

Di sana, angin yang bertiup pun cukup kencang. Kami berdua pun lantas turun ke bagian bawah yang penuh bebatuan untuk foto selfie berdua, sebelum akhirnya kembali naik lagi ke atas karena beberapa saat setelah selfie, hampir banget handphone saya mau jatuh dan kalau itu terjadi… YAAAAA APA GUNANYA KAMI BERFOTO-FOTO DAN BAGAIMANA CARA SAYA UNTUK MENGUCAPKAN SELAMAT SIANG MET BOBOK SAYANG KEPADA SANG PACAR NANTINYA, BUSEEEET?!!!

Selfie di Watu Dodol

Dari sekian banyak keindahan yang disajikan Watu Dodol ini, saya justru tertarik dan penasaran akan Patung Gandrung yang berada di sebuah bangunan berbentuk silinder. Saya memandangi sejenak, mencoba mencari makna akan apa yang terkandung di dalamnya.

Dari apa yang saya dapatkan melalui internet, Gandrung adalah sebuah taran adat milik masyarakat banyuwangi, yang mana kemudian, patung gandrung yang berada di atas pos tepi pantai watu dodol ini adalah sebuah icon dari Kota Banyuwangi sendiri. Uniknya, menurut kabar yang beredar, Patung Gandrung yang berada di atas bangunan pos tepi pantai itu dapat menari dan bergerak dengan sendirinya. Hal tersebut didapat dari kesaksian para warga setempat yang pernah melihat posisi badan dan tangan dari Patung Gandrung tersebut kadang berubah-ubah, sesuai dengan pola tari Gandrung.

Ketika saya masih terus memandang Patung Gandrung tersebut, saya tidak melihat ada pergerakan berarti yang terdeteksi. Sampai mata saya kelilipan karena angin yang terus menghantam dengan kencangnya, patung tersebut tetap tidak bergerak. Lagipula…

YA NGAPAIN JUGA SIH, SAYA MALAH NGELIATIN PATUNG GANDRUNGNYA MULU?!!!

Baca juga : Trip To Baluran : Terkagum akan Pesona Savanna Bekol dan Pantai Bama

 

Pemandangan Watu Dodol 2

Setelah puas berfoto-foto dan merasa cukup lelah dengan setengah perjalanan yang diisi mampir-mampir melulu, pun juga kala itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 14.00 WIB, kami akhirnya segera kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari penginapan low-budget yang berada di sekitar stasiun Banyuwang Baru.

Pada pencarian kali ini, kami benar-benar tidak mengandalkan reservasi online atau riset di internet terlebih dahulu, tapi lebih ke gambling karena kami berdua merasa yakin dan sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa penginapan di sekitar stasiun itu tersedia cukup banyak dan tersebar di beberapa tempat.

Pada akhirnya, terpilihlah satu buah penginapan dengan harga Rp.75.000,- yang mana hanya berjarak 200 meter dari Stasiun Banyuwangi Baru. Penginapan tersebut kami pilih karena selain murah, pun juga karena jaraknya yang amat sangat dekat dari stasiun, mengingat besok pagi, kami harus sudah berada di stasiun sekitar pukul 06.30 WIB.

Sesampainya di Penginapan, kami pun ngedrop barang dan istirahat sebentar. Panas adalah hal yang kami rasakan selama dalam perjalanan. Sembari mengistirahatkan diri, kami berdua pun berdiskusi perihal tempat mana dahulu yang akan kami jejaki karena waktu yang sudah kunjung surut.

De Djawatan adalah tempat yang saat itu masih saya idamkan untuk saya kunjungi. Namun sebelum itu, kami berdua sepakat bahwa kami ingin makan siang dengan SegoTempong Mbok Wah terlebih dahulu, agar kami bisa membandingkan bagaimana rasa dua nasi tempong yang ngehits di Banyuwangi tersebut. Apakah enak Mbok Nah, ataukah justru lebih enak Mbok Wah. Atau, siapa tau kami akan membuka warung nasi tempong Mbok SUDAHLAH.

KENAPA SEMUA WARUNG NASI TEMPONG AKHIRNYA -AH -AH SEMUA SEH!

Waktu masih menunjukkan pukul 14.20 WIB dan panas masih menyertai, sejenak, saya meluruskan badan dan merebahkan diri di kasur. Memanjakan badan sedikit atas lelah dalam perjalanan beberapa saat lalu.

Jadi untuk cerita selanjutnya…

DI POSTINGAN BERIKUTNYA SAJA YA. SAYA ISTIRAHAT BENTAR!

HUAHUA!

BHAY!

TERIMAKASIH.

Advertisements

46 comments

  1. wah makanannya dihidang
    jadi inget dulu tahun 2014 ke solo pas istri lagi hamil muda
    kami juga dikasih makanan kayak gitu
    udah murah, dikasih makanan lagi
    emang enak tinggal di homestay
    eniwei
    UDAH JAUH” KE PANTAI KOK GAK SEKALIAN RENANG, MZ!

    1. Wahahaa nyamaaan dan hampir berasa rumah sendiri banget gaaa sih kalau tinggal di homestay gitu? Ditambah lagi kalau pemiliknya ramah dan baik beud 😀

      OHIYA YAAAAA? KOK SAYA MALAH BARU KEPIKIRAN SEKARANG? KENAPA SAYA SAMA PACAR KEMARIN KAGAK RENANG, BAHKAN LEPAS SEPATU PUN TIDAK :(((

    1. Hehehe, ayok-ayooook cobain main ke Banyuwangi. Recommend banget kok, aslik hehehe 😀

      Nah, iya, kalau mau ke Baluran, bisa dicoba nginep di Bima Homestay. Suer deh, langsung berasa kayak di rumah sendiri 😀

  2. Lama ga baca tulisanmu, ternyata sudah punya pacar (lagi) yaa. Langgeng ya Feb. Dan gaya penulisanmu jadi berubah ke “saya”. Jadi berasa ga biasa bacanya hehe.
    Penampakan menu sarapan di homestay mengigatkan aku ke nasi berkatan habis kondangan haha. Kotak gitu.

    1. Waaaa, Mbaaa Den. Sudaaa lumayan jua ya tida bersua di blog ehehe. Kabar baik kan dirimuuuuu?

      Waahaha, iya mbaa, Alhamdulillah suda punya lagi setelah penantian lumayan lama. Untuk penulisan, yeaaaay, jadi agak diubah agak sedikit sopan hehe 😀

      HAHAHA IYA JUGA YAAAA, NASI BERKATAN KONDANGAN GWGWGW

  3. Aku bacain semua post edisi baluran ini, dari awal smpe yg ini tanpa skip, hoho 🙂
    Aku berencana ke BWI juga nih feb, dan baca blogmu berasa menemukan pencerahan, mau tanya nih, klo sewa kendraanya di sekitaran desa sebelum gerbang baluran, ada ga ya feb?

    1. Waaaaaaa, terterimakasih banyak sekali yaaa Mba Kun wwkkw.

      Malang BWI lumayan deket deh yaaa, hehe. Untuk sewa kendaraan di sekitaran desa kebangsaan wonorejo, kayaknya ada deh. saya pernah baca beberapa artikel yang bilang ada sewa-sewa gitu disana, buat nyusurin savana bekolnya 😀

  4. kok pohon kelapanya enggak dipeluk, mas?
    ah potonya biasa, coba dong poto berdiri di tengah laut, nangkring di atas pohon kelapa atau selfie sama ikan hiu

  5. Paragraf kelima di kalimat “perawakan tinggi gede, muka tua, berisi, etapi tontonannya Upin-Ipin” … Ini makhluk langka dunia pra sejarah kali ya, mas? Seangkatan sama Brontosaurus… Hahaha

    Mungkin belum teroka di Google, mas… Mungkin ada warung nasi tempong Mbok Yao

  6. Seumur-umur saya menyewa losmen, kayaknya dikasih sarapan gratis lauknya sama telor paling mewah. Ini kok ayam, sih? Haha.

    Berarti kalau mau naik perahu buat menyeberang, per orang mesti siapin 50 ribu, ya. Enggak beda jauh sama di Jakarta kalau mau ke Kepulauan Seribu. Bedanya, perahu di sini mungkin bisa menampung sampai 20 orang. 😀

  7. Asli ini mah keren banget 😍 maygat, perlu banget ini ketempat mcm ini ditengah hiruk pikuk pekerjaan yg ga ada habis2 nya 😓 btw, ko aku liat sarapannya jadi laper ya 😫

  8. abis ini gue mau googling pulau tabuhan. dan tentu saja mau nabung uang banyak supaya bisa keliling ke banyuwangi. pengen keliling indonesia juga uy.
    ini penginapannya beneran murah ya? gue ngerasa gembel banget karena tiap nyewa penginapan pasti nyari yang murah, dan biasanya fasilitasnya ya seadanya.

    kayaknya bakalan seru nih ya, klo bisa jalan-jalan ke banyuwangi terus dilanjutkan ke bali serta lombok. tentu saja dengan pacar terkasih.
    err…. kayaknya gue nabung dulu deh. biar satu masalah selesai.
    nyari pacarnya nih yang agak ribet.

  9. Akyu cemburu sama sarapannya di Bima Homestay. Kalau pantainya tidak cemburu soalnya di sini buaaaanyyyaaaakkkkkkkkkk *sampai muncrat ngomongnya* hahahah 😀

  10. Walah kalau malang-bwi deket, sama aja dong pasuruan-bwi deket juga. Kok saya gak berangkat2 ke Banyuwangi sih, cuma jadi wishlist aja 😦

  11. Waah tak pikir Baluran itu cuma ada savana doang. Rupanya diriku memanglah kuper. Fix aku mau ke Baluran, pantainya kece-kece… (brb cari temen dulu)

  12. Lah situ mah enak mas, bareng pacar, panas dingin ada yang bisa digandeng, bikin jomblo ngiri aja wkwk

    Tapi emang banyuwangi jadi destinasi wisata yang patut diperhitungkan saat ini, dulu mah pas saya kecil pulang kampung ke jember, tujuan orang jember wisata ya surabaya kalo gak malang, jauh-jauh bali hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s