Trip To Baluran : Terkagum Akan Pesona Savanna Bekol dan Pantai Bama

HALO, HALO, HALOOOOOO.

SAYA SUDAH SELESAI BERISTIRAHAT DONG SETELAH POSTINGAN KEMARIN.

Postingan yang mana?

YOK DIBACA DULU YOK, POSTINGAN SEBELUM-SEBELUMNYA :


Trip To Baluran : Perjalanan Awal dalam Kereta.

Trip To Baluran : Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Banyuwangi.

Trip To Baluran : Perjuangan Menikmati Nasi Tempong Mbok Nah.


Ddudu~ Ddudu~

Jadi, setelah merasa cukup untuk beristirahat sejenak dan menunggu si pacar mengenakan gincu, make-up, maupun skincare apalah embuh lainnya, kami pun lekas cabut dari Bima Homestay menuju Taman Nasional Baluran yang hanya berjarak beberapa putaran roda saja. Sebelum masuk ke gerbang Taman Nasional Baluran, kami berdua menyempatkan diri untuk membeli dua botol minuman karena… YA GILA SAJA APA ANDA YA? KALAU KAMI DI BALURAN TIDAK MINUM, YA BAGAIMANA NANTI NASIB KAMI DONG YA. HUFT!

Setelah membeli minum dan memasuki gerbang Taman Nasional Baluran (yang menurut saya amat sangat seperti memasuki wilayah markas TNI), kami berdua pun langsung memarkirkan motor di area ticketing untuk terlebih dahulu membeli dua buah tiket masuk.

Di dalam ruang ticketing, kami berdua menghadap mbak-mbak yang dengan sangat ramah memberikan informasi mengenai peraturan selama di wilayah Taman Nasional Baluran, seperti misal kami tidak boleh memberi makan satwa yang ada di sana, tidak boleh masuk terlalu dalam ke padang savanna, tidak boleh berburu, tidak boleh merusak kawasan, dan lain-lain sebagainya. Selain itu, kami pun diberikan informasi mengenai biaya tiket masuk untuk dua orang dan satu motor yang totalnya berjumlah Rp.35.000,-. Selepas memberikan informasi tersebut dan disambut dengan anggukan paham dari kami berdua, mbak-mbak tersebut pun memberikan beberapa lembar tiket yang di belakangnya berisi peringatan maupun larangan yang sedari tadi Mbak-Mbak itu ucapkan.

PANTAS LUGES SEKALI YA ANDA MENERANGKANNYA, TERNYATA MEMBACA TOH! BAIK SEKALI ANDA, MBAK.

Tiket Masuk Taman Nasional Baluran

Sebelum kami beranjak untuk masuk menuju Taman Nasional Baluran, Mbak-Mbak ticketing tadi pun sempat memberi pesan kepada kami agar dapat menginfokan kepada teman-teman lainnya yang hendak mengunjungi Taman Nasional Baluran, bahwa per tanggal 11 Oktober 2018 sampai 31 Oktober 2018 nanti, Taman Nasional Baluran hanya akan dibuka pada pukul 06.00 sampai pukul 12.00 karena akan adanya aktivitas perbaikan jalan di sana. Mohon dimaklumi ya, manteman. Etapi, tulisan ini diposting pada tanggal 1 November-an. Jadi…

INFORMASI DARI SAYA INI KENAPA TIDAK BERGUNA SEKALI SIH, ANJER!

Sekeluarnya kami dari area ticketing, kami pun langsung tancap gas untuk menyusuri jalan masuk ke dalam Taman Nasional Baluran. Oh iya, fyi saja yak, untuk jalan masuk ke dalam area Taman Nasional Baluran itu hanya ada satu jalan saja, yang mana adalah jalan masuk sama dengan jalan keluar. Jadi, untuk orang-orang yang rawan nyasar seperti saya, jangan khawatir pabila nanti salah ambil jalan dan tau-tau sampai di Rumania.

Karena itu tidak mungkin.

Tidak akan pernah mungkin.

Tenang saja.

Perjalanan Masuk Menuju Savanna Bekol

Di dalam kepala saya ketika akan menuju ke area Taman Nasional Baluran, saya membayangkan bahwa jarak antara ruang ticketing menuju area Savanna Bekol-nya Baluran itu hanya sejengkal dua jengkal saja. Tapi pada kenyataannya, jarak yang harus ditempuh dari area ticketing menuju Savanna Bekol adalah sejauh…

14 Kilometer.

EMPAT BELAS KILOMETER ANJER, JAOH AMAT!!!

Pyuuuuuuh.

Sebenernya 14 kilometer akan terkesan mudah dan biasa saja sih apabila jalan yang kami lewati itu beraspal dan mulus-mulus saja. Tapi nyatanya, jalan yang harus kami lalui adalah jalan tanpa aspal yang sangat berbatu dan menggeronjalnya minta ampun. Memang sih, di sebelah kanan kiri kami terpampang nyata penampilan hutan dengan berbagai jenis tumbuhan, pun juga di atas kami terpampang nyata langit biru yang polos-polos mengagumkan.

Tapi…

YA GIMANA MENIKMATINYA YA KALAU JALANANNYA BEGINI?

Jalan Bebatuan Menuju Savanna Bekol Taman Nasional Baluran

Menit demi menit kami jejaki melalui jalanan berbatu, sampai ketika pada akhirnya saya melihat ada plang bertuliskan :

’10 Kilometer lagi Savanna Bekol’

Saya langsung memegang tangan pacar yang sedang memeluk kencang sembari bilang :

‘Sebentar lagi sampai Savanna Bekol, beb. Sebentar lagi. Sepuluh kilometer lagi’

Hingga pada menit demi menit berikutnya, saya diperlihatkan lagi dengan plang bertuliskan :

‘8 Kilometer lagi sampai Savanna Bekol’

Saya langsung menggelengkan kepala sembari bergumam keras :

PERASAAN SAYA SUDAH LAMA BANGET DEH MOTORANNYA, TAPI KENAPA BARU KENA 2 KILOMETER? JAOH AMAT SIH BUSET INI JALANNYA!

Untungnya, di belakang saya ada sosok pacar yang senantiasa memberi semangat entah dengan senyum atau peluk sebentar dari belakang. Jadi perjalanan sejauh dan selama apapun itu, tidak terlalu berat-berat amat. Ululu tayang-tayaaang~

Untungnya lagi, di bulan Oktober kemarin jalan masuk menuju Savanna Bekol sedang diperbaiki dan diaspal ulang. Jadi nggak sabar deh, pengen tau bagaimana bentukan dari Taman Nasional Baluran setelah di renovasi nantinya. Pasti keren!

Hutan Evergreen Taman Nasional Baluran

Source : Medium.com

Ketika melewati jalanan baluran yang masih berbatu saja kemarin saja, saya dan pacar merasa tetap dimanjakan dengan pemandangan hutan yang bermacam-macam, seperti hutan yang saat itu kering kerontang pun juga hutan evergreen yang meskipun musim kemarau panasnya minta ampun, hutan tersebut tetep hijau dan menyegarkan. Jadi, ya melewati jalan berbatu itu tidak terlalu berat deh. Lantas, gimana besok kalau jalan di Taman Nasional Baluran sudah beneran beraspal?

WADAW, SURGA SEKALI PASTI!

Ehe.

Melihat Langsung Keindahan Savanna Bekol

Selamat Datang di Savanna Bekol Taman Nasional Baluran

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan kontur jalan yang amat sangat rumit menyesakkan, kami pun akhirnya melihat bahwa di depan sana sudah terpampang nyata penampakan Padang Savanna yang amat sangat luas, pun dengan pemandangan langit yang biru polos indah banget parah.

Saya langsung berucap kepada si pacar :

‘Beb, sudaaa sampai Savanna Bekol, Beb. Iiiih, nggak nyangka kita akhirnya beneran sampai sini deh!’

Si pacar pun mengangguk girang, sembari memeluk kencang.

Alhasil sesampainya di Savanna Bekol itu, kami pun memarkir motor di tepi jalan untuk melakukan kegiatan yang amat sangat sayang untuk dilewatkan ketika berada di sana yaitu : foto-foto.

Foto di Savanna Bekol Taman Nasional Baluran

Ada beberapa spot foto khas Taman Nasional Baluran di Savanna Bekol ini, yaitu pohon jomblo, papan bertuliskan Savanna Bekol, dan juga tengkorak-tengkorak banteng dan kerbau yang epic parah. Kami berfoto sepuas-puasnya di sana untuk mengabadikan momen yang mungkin tidak akan pernah kami lupakan berdua. Karena kami hanya berdua saja, kami pun saling memfotokan satu sama lainnya. Sedangkan untuk berfoto berdua, kami mengandalkan timer kamera sahaja. Setidaknya, ada foto kami berdua di Taman Nasional Baluran sana.

Processed with VSCO with  preset

Saat kami sedang foto-foto berdua dengan mengandalkan timer kamera, tiba-tiba datanglah tiga orang (satu cewek dan dua cowok) yang memarkirkan motor di tepi jalan dan bersiap untuk foto-foto. Satu orang terlebih dahulu datang dengan duduk di bawah papan bertuliskan Savanna Bekol, sedangkan dua orang (kayaknya pasangan) masih di motor. Saya menyenyumi satu orang mas-mas tersebut, namun tidak berbalas. Entah si masnya tidak melihat, atau gimana. Sampai akhirnya, mulut si mas-mas tadi pun berucap :

‘Mau di fotoin pooo, mas’

Dengan nada yang menurut pendengaran saya sih, kurang bersahabat, pun dengan mimik wajah yang terkesan agak malas. Mungkin dia merasa risih dengan tingkah saya yang bolak-balik ngeklik tombol pencet timer, kemudian lari ke arah pacar, berpose, cheers, dan begitu seterusnya.

Mendengar ucapan tersebut, saya langsung mengambil kamera dan membalas dengan ucapan :

‘Haha, tidak usah loh mas. Makasih. Santailah saja’

Kemudian pergi.

Pacar saya yang mendengar saya menolak pun agak menyayangkan dengan bilang :

‘Tadi minta difotoin saja nggapapa kalik, Beb’

Saya ketawaaaaa, dan mencoba menenangkan.

‘Nggausah aja, beb. Nanti kalau ada orang lain aja, kita minta bantuan fotoin. Maaf ya sebelumnya’

Setelah itu, pacar pun memaklumi dan kami beranjak menuju spot foto lainnya yang akan menjadi tempat kenangan kami berdua. Sama seperti sebelumnya, apa yang kami lakukan adalah saling memfotokan maupun memfoto dengan timer kamera.

Foto Di Savanna Bekol Taman Nasional Baluran 2

Sampai ketika kami sampai di ikonnya Taman Nasional Baluran, yaitu pajangan tengkorak-tengkorak kerbau maupun banteng, kami bertemu dengan rombongan mas-mas yang terlihat sedang foto-foto bersama. Disitu, saya pun nyamperin mereka dengan mencoba seramah mungkin berucap :

‘Mas mau nggak saya fotoin? Tapi nanti masnya ngefotoin kami berdua ya. ehehe’

Mendengar tawaran saya tersebut, mas-masnya pun mengiyakan dengan senang hati dan memberikan kameranya ke saya. Dengan beberapa kali jepretan dan beberapa kali gaya yang mas-mas itu tunjukkan, saya pun langsung menyerahkan kembali kameranya untuk dia lihat apakah bagus atau tidak. Setelah merasa puas dengan hasil fotonya, salah satu mas-masnya pun menawarkan diri untuk menjepret saya dengan si pacar. Kami dengan senang hati pun langsung berfoto di depan ikon Taman Nasional Baluran tersebut. Setleah cukup puas dengan hasilnya, saya pun berjabat tangan dan berucap terimakasih kepada mas-masnya sebelum akhirnya memisahkan diri.

Processed with VSCO with  preset

Di area dekat ikon Taman Nasional Baluran ini merupakan tempat yang cukup ramai dengan para wisatawan yang beristirahat. Di sekitaran sini pun juga ada warung kecil yang menjajakan minum maupun makanan untuk mengistirahatkan diri sejenak, pun juga ada kamar mandi, mushola, gardu pandang, dan wisma-wisma penginapan konservasi seperti Wisma Merak, Banteng, dan Rusa.

Di sana, selain adanya manusia yang mengistirahatkan diri, pun juga ada banyak sekali monyet-monyet yang bermain kesana-kemari seolah-olah di sana adalah habitatnya. Mereka berbaur ramah dengan para wisatawan. Meskipun sesekali, saya melihat ada beberapa monyet yang mengambil barang bawaan wisatawan yang ditinggal di atas motor seperti jajanan atau minuman, kemudian meminum/memakannya dengan tampang tidak bersalah.

Emang dasar monyet kampret.

Tengkorak Kepala Kerbau Savanna Bekol Taman Nasional Baluran

Oleh karena hal tersebut, disini kami pun menyarankan kepada teman-teman semua, apabila besok hendak berlibur ke Taman Nasional Baluran, ada baiknya tidak perlulah membawa banyak barang bawaan. Cukup bawa yang seperlunya, dan sisanya tinggalkanlah di Homestay saja. Tidak usah bawa kulkas. Buat apa? Di Taman Nasional Baluran kan listrinya hanya akan menyala pada pukul 18.00 – 23.00 saja.

Mohon dijadikan perhatian ya. Ehe.

Seusai foto-foto dan melihat tingkah laku monyet yang… YA EMANG DASAR MONYET BANGET, kami pun memilih untuk mengistirahatkan diri sejenak dengan mampir membeli minuman di sebuah warung yang ada di dekat sana. Setelah merasa cukup istirahat, kami langsung segera ke tempat motor yang terparkir dan gas menuju tempat epic di Taman Nasional Baluran lainnya yaitu Pantai Bama.

Jarak tempuh dari Savanna Bekol menuju Pantai Bama tidak terlalu jauh, tapi masih dengan melewati jalan yang berbatu dan agak menggeronjal gimana gitu. Di sepanjang perjalanan, beberapa kali kami melihat kerbau dan rusa yang melintas, pun juga monyet-monyet yang seolah-olah bertebaran dimana-mana.

Savanna Bama Taman Nasional Baluran

Menurut informasi yang saya dengar, monyet-monyet yang berada di sekitaran Pantai Bama itu terkenal agresif dan tidak tau malu banget. Terbukti saat kami hendak sampai di Pantai Bama, tepatnya di papan bertuliskan Pantai Bama gitu, saya sempat memperhatikan satu monyet yang sedang terduduk di bebatuan pinggir jalan, dan sesaat kemudian saya langsung berucap : ‘Hiya’, eh, tau-tau si monyetnya bersuara dan menunjukkan taringnya seolah kayak hendak ngamuk gitu. Saya dikeplak pacar, kemudian saya nancap gas kencang.

KURANG AJAR SEKALI MONYET, TIDAK PATUH PADA TUANNYA!

Harum Aroma Laut Tenang di Pantai Bama

Pantai Bama Taman Nasional Baluran

Sesampainya di Pantai Bama, kami langsung memarkirkan motor dengan biaya sebesar 2000 rupiah. Di sana saya langsung melihat ada banyak monyet-monyet agresif yang berkeliaran dengan usilnya. Beberapa motor para wisatawan dengan apik dihias sedemikian rupa oleh si monyet. Ada yang bagian spionnya diikuat ranting kayu, jok motornya ditaburi dedaunan, dikasih pasir, ya pokoknya gitu-gitulah. Ngga tau dah, siapa yang ngajarin.

Sekedar untuk informasi tambahan, apabila teman-teman di sini hendak main ke Pantai Bama, saya menyarankan agar tidak membawa makanan atau minuman gitu. Soalnya, sekali lagi, monyet di sini agresifnya minta ampun. Saat di Pantai Bama kemarin, saya sempat melihat ada orang yang pacaran sambil membawa kacang dua kelinci, eh mereka langsung diikuti dengan sangat beringas oleh lima ekor monyet. Literally kayak diikuti sambil berkali-kali mencoba menyabet kacangnya tuh si monyet. Which is ajegile nggak tuh? Beberapa kali si mas-mas mencoba mengusir, eh si monyet tidak ada yang menurut dan malah makin beringas. Giliran di lempar kacang, diam kalian semua.

Bangkai memang Monyet-Monyet ini mah.

Karena tidak membawa makanan yang berarti dan minuman yang kami bawa senantiasa aman tersimpan di dalam totebag pacar, kami pun merasa sangat aman ketika di Pantai Bama. Situasi tersebut pun langsung kami manfaatkan untuk menghirup banyak-banyak aroma pantai yang menyamankan  karena… GILE EMANG PANTAI BAMA INDAH BANGET LOH, SUWER.

Pemandangan Pantai Bama Taman Nasional Baluran

Pemandangan di Pantai Bama sore itu lumayan syahdu, anginnya tidak terlalu kencang dan ombaknya amat sangat kecil. Monyet-monyet di pinggir pantai banyak yang sibuk mencari makanan, pun juga ada yang lompat-lompat dari akar hutan bakau lalu menjegurkan diri ke air pantai. Suwer deh, banyak banget monyetnya.

Di dekat pantai, saya melihat ada Wisma Pilang yang awalnya akan menjadi tempat kami menginap, berdiri dengan kokoh dan terkesan horror-horror gimana gitu deh. Saya pun memalingkan diri sembari membatin :

‘Untung nggak jadi menginap di sini’

Sembari lanjut menikmati indahnya Pantai Bama dengan bahagia bersama pacar.

Ayunan Pantai Bama Taman Nasional Baluran

Tak lupa juga, kami pun meluangkan waktu untuk berfoto-foto terlebih dahulu dong. Sempat juga kami meminta tolong kepada salah satu mbak-mbak yang kala itu sedang bersama bule-nya, untuk memfotokan kami berdua. Dengan sangat ramah, Mbaknya tersebut mengiyakan dan memfoto kami dengan bagusnya.

Foto di Pantai Bama Taman Nasional Baluran

Seusai eksplor Pantai Bama dan puas dengan keeksotisan yang disuguhkannya, kami pun mampir sejenak untuk membeli minum di salah satu kantin yang memang disediakan di sana. Merasa puas dan cukup, kami langsung segera kembali ke Savanna Bekol untuk kemudian melaju keluar menuju penginapan.

Berat adalah hal yang kami rasakan ketika hendak meninggalkan Taman Nasional Baluran ini. Bahkan ketika kami sudah sampai di Savanna Bekol, kami menyempatkan diri untuk berhenti kembali dan foto-foto sejenak. Suwer ya, keindahan yang kami lihat di Taman Nasional Baluran ini bener-bener nggak akan bisa terlupakan. Terlalu indah, anjer.

Senja Taman Nasional Baluran

Merasa bahwa waktu sudah mulai petang, dan maksimal waktu kunjung di Taman Nasional Baluran hanya sampai pukul 18.00 malam saja, selain itu mengingat perjalanan keluar pun masih amat panjang, kami pun akhirnya bergegas untuk menyusuri jalan keluar.

Di sepanjang jalan, kami melaluinya dengan santai dan tanpa keluhan. Seolah-olah, tidak ada lagi yang harus kami keluhkan setelah ditunjukkan dengan pemandangan yang sangat eksotis dari Savanna Bekol dan Pantai Bama yang ada di Taman Nasional Baluran ini.

Kami sesekali bercanda di jalan, dan sesekali juga melihat ada berbagai macam satwa yang menampakkan dirinya di sana. Rusa, kancil, burung merpati, dan ayam.

Ayam.

Ayam.

Ayam…

ANJIR, NGAPA DI TAMAN NASIONAL BALURAN ADA AYAM BANGKEK?

Saya beberapa kali berdebat dengan si pacar, bahwa ngapain juga di Taman Nasional Baluran ini ada ayam? Disitu, pacar membela dengan berucap bahwa ya emang apa salahnya ayam berhabitat di Taman Nasional Baluran? Yang kemudian saya bantah dengan kalimat : ‘YA HAKIKAT DARI AYAM ADALAH SATE, LANTAS, KASIHAN ORANG-ORANG KALAU MAU MENYATE HARUS DATANG KE TAMN NASIONAL BALURAN, HELOOOOO’.

Tapi setelah saya lihat secara seksama, apa yang saya lihat itu bukan benar-benar ayam, melainkan salah satu jenis satwa yang bernama : Gallus-Gallus dengan bulu-bulunya yang berwarna keren dan mantap kali. Oh iya, eniwey, Gallus-Gallus itu kalau di Indonesiakan artinya adalah : Ayam Hutan Merah.

Ayam Hutan Hijau Baluran

Source : Harga.info

LAH? AYAM BENERAN?

Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat dari perjalanan pergi. Itu yang akhirnya kami rasakan kemarin. Tidak terasa, kami sudah sampai di area ticketing, dan langsung lurus menuju gerbang keluar Taman Nasional Baluran.

Sebelum kembali menuju penginapan, kami pun terlebih dahulu membeli makan dan minuman di warung makan dan indomaret yang ada di dekat jembatan perbatasan Situbondo – Banyuwangi. Seusai mendapatkan amunisi untuk menyambut peristirahatan, kami pun lekas segera kembali ke Bima Homestay untuk meluruskan kaki dan bersih-bersih sebelum akhirnya beristirahat.

Apa yang kami dapatkan di Taman Nasional Baluran, adalah hal yang paling indah yang kami rasakan sejauh ini.

Termantap memang Taman Nasional Baluran, mah!

Masih ada sisa satu hari lagi di hari esok untuk explore Banyuwangi. Kemana saja ya kami hari esok?

DI POSTINGAN SELANJUTNYA SAJA YA!

KAN SAYA BILANG MAU ISTIRAHAT LAGI SEBENTAR. EHE.

Terimakasih.

Advertisements

50 comments

    1. Hehehe iyaaaa, di Taman Nasional Baluran itu ada meskipun gersang tetep bagus. Kalau pas hijau pun juga pasti bagus. Pokoknya, Taman Nasional Baluran itu recommend banget deh, ehehe 😀

  1. Savana Bekol itu terliht mirip2 di Afrika ya yang adalah saya juga belum pernah kedua tempat itu (Afrika dan Bekol :p) pokoknya semacam itu lah. Btw tempt tengkorak hewan beserta tanduk itu juga ada loh di Pulau Rinca, Labuan Bajo, apa mereka saling meminjamkan ya? :p

    Nice pos, and always make me LOL :p

    1. Iyaaaa, Mbak. Savanna Bekolnya taman nasional Baluran itu kan terkenal dengan Afrikanya Indonesia hehe.

      Laaah, di Labuan Bajo sama Pulau Rinca juga ada tengkorak hewan dan tanduk? APAKAH INI SEBUAH KONSPIRASI? WGWGWG 😀

    1. Ehhehe, semoga dirimu bisa lekas mengunjungi Taman Nasional Baluran ya, Mbak :)) Recommend sekali deh, aslik. hehe bagus.

      Terimakasih banyak, Mba 😀

      Beneeeer, cuacanya pas cerah. Padahal sempet was-was takut hujan atau gimana. Ternyataaaa, aaaaah seneng pokoknya 😀 hehe

      1. Aamiin Aamiin Aamiin YRA. Terima kasih doanya.

        Kalau bisa menikmati perjalanan dengan cuaca cerah, itu beruntung sekali! Kan jadi mendukung kalau pas foto-foto terlihat makin kece 👍😁

      2. Sama-samaaaa, Mba 😀

        Iyaaaa beneeeer banget. Ini saya minggu depan mau ke Malang, dan masih was-was, takut tidak dapet cuaca cerah karena kabarnya, Malang sedang memasuki masa hujan :’

    1. Wahaha tidaaaaa nih, soalnya kami cuma standbynya di Banyuwangi. Jadi kejauhan banget kalau harus ke situbondo atau probolinggo 😀 mungkin nextime saja kalau mainnya di Probolinggo hehehe 😀 Soalnya saya googling, pasir putih situbondo bagussss bet eh 😀

  2. Ga naik ke Gardu pandaang, pemandangan dr atas bagus jugaa. Hehehe

    14 kilometer emang wow, saya dulu sampe tidur pulas pas balik dr Savana menyusuri jalan bebatuan yg ga habis habis itu..

    1. Iyaaaa eh, saya kelewatan untuk naik gardu pandangnya, karena di daerah gardu pandang gitu agak rame, banyak yang camping atau liburan sekolah gitu 😀

      ENAK SEKALI ANDA YAA TIDUR PULAAAAS PAS BALIK DARI SAVANNA -_- SAYA KALAU TIDUR PULAS, NABRAK-NABRAK LANGSOOOONG

      1. Ntar main ke sana lagi deh (buat naik ke gardu pamndang doang. wkwkwk), syukur2 pas jalannya dah jadi, jadi lancar ga pake geronjal-geronjal nanti. 😀

        WKWKWKW. AKU KASIHAN SAMA MBK PACARNYA, NTAR KALAU NABRAK DIA KEGORES DONG~~

      2. Enggaaaaaa gituuuu, mbaaaa. Nggaaaaaaa ke gardu pandangnya juga :’

        Kayaknya jalannya tetep suda jadi bagus deh ehehe. Excited nih wkwkw

        HAHAHA MAKANYA SAYA ALWAYS BERHATI-HATI DONG~

    1. Iyaaa, Mas. Alhamdulillah banget kalau sudah diperbaiki. Mungkin sekarang sudah jadi bagus banget tuh.

      terkesan sepi karena areanya luas mas. Tapi sebenernya pengunjungnya tersebar dimana-manaaaa, ada yang masi di jalan, ada yang di savanna bekol, ada yang di Bama gituuuuh 😀

  3. Banyuwangi ternyata menyimpan pemandangan alam yang indah dan cakep.
    Namanya savanna, tentu berkilometer, Feb. Kalau hanya beberapa meter, itu lapangan rumput kampung 😀
    Mesra terus sama pacar ya, Beb.

    1. Indah bangeeeeet, Mbaaaa 😀

      Selain Kawah Ijen yang memang sudah mendunia itu, ternyata masih ada banyak lagi pesona dari Banyuwangi ini 😀

      Yaaaaaaaaaaa, tapi kan 14 kilometer jauh, mbaaaaa :’ wgwgw :p

      Aamiin, Mbaaaa. Makasih banyak yak. Doakan lekas sah juga 😀

  4. pas baca ini jadi pengen ke tempat ini. karena emang baru pertama kali denger. soalnya klo kata banyuwangi disebut, hal pertama yang gue inget adalah gontor 5. pondok cabang. ehe
    baru tau kalo ada tempat sekeren ini. semoga aja jalanannya sudah di aspal dengan baik.

    tapi gue mulai agak ragu buat ke tempat ini, karena banyak monyet agresif. masih trauma sama kejadian beberapa tahun lalu sih. tapi kayaknya bagus banget buat dijadiin tempat foto-foto. fak.
    kayaknya kalo beneran ke tempat ini gue harus bawa tripod dan juga pacar. klo tripod bisa dicari dibanyak tempat, nah pacarnya ini nih yg susah buat dicari.

    1. Waduuuuu, dirimu sungguh sangat santriwan sejati ya, Maaas 😀 Heheh salut sayaaa. Langsung teringat Gontor 5 hehehe. Eh, gontor di Banyuwangi juga ada tapi ya? Itu kan, ponpes yang terkenal banget kan ya 😀

      Hahaha, bagus banget masssss. Nggak kalah deh, sama padang pasirnya Mesir hehehe 😀

      Iyaaa sih, monyetnya banyak yang agresif, khususnya di Pantai Bama. Sereeeeeem. Sempat kegigit ya dirimu, Mas?

      HAHAHAHA LANGSUNG DATANG BAWA BINI, MAS!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s