Trip To Baluran : Perjuangan Menikmati Nasi Tempong Mbok Nah

Pagi menyambut dengan aroma angin laut yang berkombinasikan biasan cahaya cerah dari ufuk timur. Kami terbangun dari tidur untuk pertama kalinya di Banyuwangi dengan wajah sumringah. Apa yang terjadi dengan drama-drama menyebalkan semalam, kini sudah dengan tuntas kami lupakan. Meskipun, ketika saya menulis tulisan ini, nyatanya momen-momen kampret itu masih saja teringat juga bangkek.


Baca dulu dong, dua tulisan sebelumnya :

  1. Trip To Baluran : Perjalanan Awal di dalam Kereta.
  2. Trip To Baluran : Kali Pertama Menginjakkan Kaki di Banyuwangi.

Saya menyalakan televisi yang ada di dalam penginapan sembari menenggak sebotol air putih yang kami beli di Indomaret semalam. TvOne adalah channel pertama yang muncul di layar televisi, lengkap dengan pemberitaan mengenai kerusuhan pengeroyokan supporter beberapa waktu silam. Saya mengamatinya sebentar, lalu sekejap kemudian telunjuk saya menekan tombol CH ke atas guna mencari channel yang lain. Channel televisi lokal Banyuwang puni terpampang di layar. Mbak-mbak dan Mas-mas yang entah siapa sedang mengiklankan sebuah produk di channel tersebut. Saya menggelengkan kepala sembari membatin:

Manusia mana yang mau mantengin orang ngiklan pukul 6 pagi, bangke?

Saya pun kembali menekan tombol CH ke atas, dan layar biru seketika terpampang di sana. Saya melongo. Nggak ngerti mau berkomentar apa. Sampai akhirnya, saya kembali menekan tombol CH ke atas, lalu yang terpampang di layar adalah channel… TvOne.

Remote Televisi

Source : Change.org

HEEEEE?

SEBENTAR?

HEEEE INI GIMANA SIH BANGKEK? SAYA SALAH PENCET TOMBOL YA?

Saya langsung memicingkan mata, memperhatikan layar televisi dan remot yang sedang saya pegang. Masih merasa kurang yakin, saya menekan tombol CH ke atas lagi, dan layar menampilkan si Mbak-Mbak dan Mas-mas yang tadi sedang beriklan. Saya masih tetap memicingkan mata, heran. Saya menekan tombol CH ke atas lagi, lalu layar biru terpampang di layar. Saya tekan tombol CH ke atas, TVONE nampil di layar televisi lagi.

INI…

INI..

INI.

INI KENAPA CHANNELNYA CUMA ADA 3 BIJI DOANG, ANJER?

EH, 2 DING. SATUNYA KAN LAYAR BIRU DOANG, DAN AMAT SANGAT TIDAK LAYAK JIKA DIBILANG ITU SEBUAH CHANNEL. MAKA…

INI PENGINAPAN ENDORSE-AN TVONE YA?!!!

Sang Pacar yang sedari tadi melihat saya terus mengeluh dan menggelengkan kepala karena shock dengan penginapan di sini pun mencoba menenangkan.

‘Udah, di sini kan emang cuma buat istirahat saja. Yuk, mending sekarang kita nyari info penyewaan motor aja biar bisa langsung gas ke Baluran’

Ucapnya penuh senyum, sembari menunjukkan layar handphone lenovonya yang sudah terpampang salah satu kontak penyewaan motor.

Jadi begini, sebenernya, ketika masih di Jogja kemarin, saya dan pacar sudah mencoba mencari-cari info mengenai tempat penyewaan motor di Banyuwangi, tepatnya di dekat Stasiun Banyuwangi Baru. Namun info yang kami dapatkan, kebanyakan penyewaan motor itu hanya berada di deket Stasiun, tapi di Stasiun Karangasem, bukan Stasiun Banyuwangi Baru. Adapun alasan kenapa jasa penyewaan motor lebih memilih membuka gerainya di sana adalah karena asumsi orang-orang sana, para traveler atau turis yang berlibur ke Banyuwangi itu lebih banyak yang memilih untuk pergi ke Kawah Ijen, yang mana lokasinya lebih dekat dengan Stasiun Karangasem. Padahal kenyataannya, percaya deh, Banyuwangi itu menurut saya ada banyak sekali tempat menarik yang layak untuk di explore. Jadi, penyewaan motornya ayo doooong diperbanyak dan sebarluaskan.

Ehehe.

Selain mencari info sewa motor melalui media internet, saya pun sudah bertanya kepada mas-mas resepsionis di Hotel Banyuwangi Baru ini, tapi, jawaban yang mas-mas itu utarakan adalah :

‘Wah, saya nggak tau mas. Kayaknya nggak ada deh’

INI KENAPA TIDAK BISA DIHARAPKAN SEKALI SIH MAS-MASNYA? ANDA PENDATANG DARI BOLIVIA YA MAS YA? 😦

Sempat pusing-pusing ria mencari info tentang penyewaan motor, saya pun akhirnya mendapatkan salah satu tempat penyewaan motor yang lokasinya lumayan dekat dengan tempat kami menginap (sekitar 7.4 km) yaitu Tripoli Tour and Travel.

Jarak Banyuwangi Beach ke Tripoli Tour and Travel

Source : G-maps

Karena tidak ada pilihan lain, saya dan pacar pun sepakat untuk memilih tempat sewa motor ini saja agar tujuan utama kami, yaitu Baluran, bisa segera kami capai. Pacar saya pun langsung mengontak pihak Tripoli Tour and Travel untuk menanyakan perihal harga dan jaminan apa yang harus diberikan kepada pihak Tripoli Tour and Travel. Setelah paham dan mengerti akan syarat-syaratnya, saya pun berangkat menuju Tripoli Rent and Tour dengan menumpang Go-Jek, sementara si pacar stay di penginapan untuk membereskan barang-barang agar ketika saya datang, kami langsung bisa siap segera menuju Baluran.

15 menit adalah kisaran waktu yang saya tempuh untuk bisa sampai di Tour and Travel bersama dengan pak Go-Jek. Waktu tempuh segitu terhitung cukup lama karena di sepanjang jalan tadi, Pak Gojek memilih untuk melaju dengan amat lambat sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan perihal Banyuwangi dan seisinya dengan berapi-api.

Sesampainya di Tour and Travel, saya langsung bertemu dengan bapak-bapak pemiliki Tripoli Tour and Travel di bagian kasir dan mengkonfirmasi bahwa saya adalah orang dibalik chat wasap pagi tadi yang ingin menyewa motor. Si Bapak pun mengangguk, dan langsung membuat semacam kertas kwitansi peminjaman gitu-gitu. Merasa peka dan agar berlangsung cepat, saya pun menyerahkan uang sebesar 130.000 dan juga 3 buah identitas diri (Ktp, KTM, dan BPJS) untuk menyewa motor selama 2 hari di Banyuwangi ini.

Motor matic X-Ride adalah satu-satunya motor yang tersisa kala itu. Bagi saya, itu sudah amat sangat cukup karena lebih baik kebagian sewaan motor daripada tidak sama sekali. Ehe. Setelah melakukan pengecekan mengenai kelengkapan dan berfungsinya seluruh elemen kendaraan, saya pun bersalaman kepada si bapak pemilik Tour and Travel dan langsung segera gas menuju penginapan Banyuwangi Beach.

Sesampainya di penginapan, pacar saya pun langsung menyambut dengan baju biru berkerah lengkap dengan balutan jilbab hitam tebal. Kacamata hitam berframe kotak pun tidak lupa menghias wajah cantiknya. Dia tersenyum, kemudian berucap semangat :

‘YEAAAAY, KE BALURAN, YEAAAAY!’

Penginapan yang awalnya cukup berantakan, kini sudah menjadi amat sangat rapi dan layak untuk ditinggalkan. Pembagian tugas dari kami memang benar-benar efektif. Setelah selesai dengan urusan penginapan, kami pun bersiap untuk check-out. Tapi sebelum itu, kami sempat melihat bagian belakang penginapan yang mana disajikan langsung dengan pemandangan laut yang cukup keren.

Pemandangan Laut Belakang Banyuwangi Beach 1

Perjalanan kami pun dimulai tepat setelah kami mengembalikan kunci dan meninggalkan penginapan Banyuwangi Beach ini. Dari gang keluar yang terdapat tulisan Banyuwangi Beach-nya, saya langsung membelokkan stang motor ke arah kanan lalu memutar gas kencang mengikuti alur jalan yang kelak kan mengantarkan kami menuju Baluran.

MENCARI DIMANA LETAK WARUNG NASI TEMPONG MBOK NAH

Di dalam penginapan tadi, sebelum mulai membahas masalah sewa motor dan tetek bengeknya, saya dan pacar awalnya membahas tentang sarapan pagi pertama kali ini mau diisi dengan apa dan dimana. Disitu, kami pun menyepakati diri bahwa untuk benar-benar merasa bahwa kita sedang berada di Banyuwangi, maka kita harus makan makanan khasnya, yaitu Nasi Tempong. Dari sekian banyak tempat makan Nasi Tempong di Banyuwangi, pilihan pun akhirnya kami tetapkan pada Warung Nasi Tempong Mbok Nah.

Dengan amat sangat sok tau, saya mengutarakan kepada sang pacar bahwa letak posisi Warung Nasi Tempong Mbok Nah itu pasti akan kita lewati ketika hendak menuju Baluran. Alhasil, selama keluar dan belok kanan dari gang penginapan Banyuwangi Beach, kami menjalaninya seolah tanpa kesalahan. Sampai akhirnya, si pacar yang merasa ragu pun membuka aplikasi G-Maps untuk memastikan apakah jalan yang kami lewati beneran akan mengantar kami menuju Warung Nasi Tempong Mbok Nah dan Baluran atau tidak. Disitu, langsunglah muncul ucapan darinya bernada :

‘Ini beneran ya Beb, Warung Nasi Tempong Mbok Nah itu arahnya lewat sini?’

Saya yang saat itu masih sangat yakin bahwa Warung Nasi Tempong Mbok Nah pasti akan kita lewati saat hendak menuju Baluran pun dengan mantap berucap :

‘Iya, beb. Saya sudah riset di Jogja. Arahnya kesini kok’

Si pacar pun kembali melihat G-Mapsnya, lalu sesaat kemudian dia berucap :

‘Etapi kok ini muter-muter ya G-Mapsnya’ ada hening beberapa saat sebelum kalimat selanjutnya terucap ‘Eh iya ding. Bener jalannya’

Kami terus berjalan mengikuti alur jalanan menuju arah utara, sampai tidak terasa kami sudah berada di daerah Watu Dodol. Disitu, saya langsung merasa heran. Ini kenapa sudah sampai Watu Dodol, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Warung Nasi Tempong Mbok Nah ya? Apakah kami kebablasan? Akhirnya, di tepi jalan itu saya memilih meghentikan motor dan mengecek layar hape untuk membuka G-Maps.

Jarak Dari Watu Dodol ke Warung Nasi Tempong Mbok Nah

Source : G-maps

Dilayar hape saya, terpampang nyata bahwa… KAMI KEBABLASAN SEJAUH 16.6 KM.

ENAMBELAS KOMA ENAM KILOMETER!

BUSET JAUH AMAT.

INI MAH SUDAH NGGAK KEBABLASAN, TAPI… YA KAMINYA KEGOBLOOOOOOOKAN!

Si pacar yang mengetahui hal itu pun lantas berucap :

‘Tuh kan, tadi pantes aja kok muter-muter gitu G-Mapsnya’

Tidak mau kalah, saya pun membela diri.

‘Laaah, tadi kamu kan juga sempat bilang kalau kita bener jalannya’

Kami pun tatap-tatapan sejenak, lalu ketawa bersama kemudian. Kami baru sadar satu hal : kami berdua memang buta arah anjay!

Akhirnya di tepi jalan itu, saya pun berdiskusi sebentar dengan si pacar.

‘Ini jadinya gimana nih?’

Pacar saya pun, sebagaimana halnya seorang perempuan, hanya bisa berucap :

‘Terserah kamu…’

WADEFAK HELOOOOOW. PLIS JANGAN BEGITU DONG AH.

Karena kebingungan dan enggan mengecewakan si pacar, saya pun akhirnya memilih untuk berputar balik. Saya yakin, kata terserah darinya adalah salah satu kode bahwa dia ingin memutar balik sejauh 16.6 km untuk mencicipi Warung Nasi Tempong Mbok Nah yang terkenal itu.

Di perjalanan putar balik itu, si pacar berucap :

‘Ini kamu nggakpapa putar balik ke Warung Nasi Tempong Mbok Nah?’

Errr…

AUK AH, TERSERAH!

Kami pun melewati jalan-jalan yang bagi saya sudah cukup familiar, seperti misal jalan depan Stasiun Banyuwangi Baru, Ketapang, Hotel Banyuwangi Beach, dan bahkan tempat sewa motor Tripoli Tour and Travel yang jaraknya 7.4 Km dari Banyuwangi Beach.

JAUH AMAT EMANG YA PUTAR BALIKNYA.

Sampai beberapa saat kemudian, setelah mengikuti alur yang ditunjukkan oleh G-Maps, kami sampai di tempat Warung Nasi Tempong Mbok Nah, yang mana dari apa yang saya lihat tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan.

Di bayangan saya, Warung Nasi Tempong Mbok Nah itu akan berada di sebuah restoran mewah yang mungkin bisa dibilang akan dilabeli dengan harga mahal. Soalnya, di google Warung Nasi Tempong Mbok Nah ini merupakan tempat makan hits dan direkomendasikan.

Pada kenyataannya, Warung Nasi Tempong Mbok nah ini hanyalah sebuah warung seperti burjonan (kalau di Jogja), namun dengan tingkat keramaian yang buset lumayan juga. Sesampainya disana, saya langsung memesan nasi tempong 2, dan seorang ibuk-ibuk pun dengan cekatan segera meracik bahan-bahan untuk memodifikasi agar sebuah nasi dapat dikatakan sebagai nasi tempong, yaitu dengan menambahkan elemen seperti tempe, tahu, bakwan, aneka sayuran, ikan asin, dan yang menjadi primadonanya : sambal mentah yang enaknya ampun-ampunan.

Seselesainya meracik, si Ibuk pun bertanya perihal lauk apa yang akan dinikmati. Saya langsung memilih paha ayam untuk teman makan, dan pacar saya memilih sebiji telor dadar yang gedenya minta ampun. Seselesainya memesan, saya membawa dua pesanan itu ke meja dan bersiap untuk mencicipinya.

Nasi Tempong Mbok Nah

Mencicipi Nikmatnya Nasi Tempong Mbok Nah.

‘Enaaaaaaaak’

Pacar saya berucap dengan menghela nafas panjang, tepat setelah satu kepal nasi dan juga sambal khas nasi tempong masuk di kerongkongan mulutnya.

Saya mengangguk setuju.

Untuk saya pribadi yang baru kemarin mengetahui perihal bagaimana bentukan dari nasi tempong, tentu dipandangan saya itu adalah nasi dengan tumpukan lauk pauk sehat yang memanjakan lidah. Gimana tidak, aneka sayurannya masih terlihat amat sangat segar dan ijo-ijo gitu. Sedangkan untuk gegorengan seperti tahu, bakwan, dan juga ikan asinnya itu digoreng dengan tingkat kekeriukan yang enak parah. Sambalnya? Beuh, nggak pelit banget si ibuknya tuh. Sewaktu si ibuk ingin menuangkan sambelnya, saya sebenernya sudah bersiap-siap untuk minta agar ngasih sambelnya yang banyak. Tapi pas tau si ibuk nuanginnya nggak kira-kira, sepertinya sambal segini cukup untuk mengisi perut di sesi sarapan pagi ini.

Ehe.

Nasi Tempong Mbok Nah Lauk Telur Dadar

Seusai dengan urusan Nasi Tempong Mbok Nah yang menjadi makanan favorit pacar saya di sana, kami pun kemudian lekas beranjak kembali untuk menuju tujuan utama dari liburan kami kali ini, yaitu Baluran.

Selepas pukul 10.43 WIB, kami melaju cepat untuk menuju ke Baluran. Jika dirunut dari Google Maps, jarak antara Warung Nasi Tempong Mbok Nah menuju Gerbang Masuk Taman Nasional Baluran itu kira-kira sejauh 37.8 kilometer. Alias, jika itu ditempuh dengan menggunakan sepatu roda, maka sesampainya kami di Baluran, kami… YA NGGAK AKAN SAMPAI BALURAN.

CAPEK ANJAY!

Jarak dari Warung Nasi Tempong Mbok Nah ke Gerbang Taman Nasional Baluran

Source : G-maps

Perjalanan dari Warung Nasi Tempong Mbok Nah ke Baluran itu kami nikmati dengan cukup santai. Beberapa tempat yang lagi-lagi sudah menjadi familiar untuk kami pun senantiasa kami tunjuk seperti misal ketika kami melewati tempat penyewaan motor Tripoli Tour and Travel, Penginapan Banyuwangi Beach, pom bensin tempat kami mengisi bensin, dan bahkan watu dodol, kami akan berucap bersama :

‘Kok sepertinya tadi kita sudah beberapa kali lewat sini ya?’

Alias…

INI KAMI BEGOK AMAT YA, NGGAK MERASA BERDOSA SEKALI SUDAH RUGI WAKTU BIKOS KEBABLASAN YANG KEJAUHAN!

Perjalanan yang lumayan panjang pun akhirnya bisa kami arungi selama kurang lebih 1 jam, dengan pemandangan di sepanjang jalan dan juga kondisi lalu lintas yang amat sangat bersahabat. Setelah melewati perbatasan antara Banyuwangi-Situbondo yang ditandai dengan adanya jembatan dengan jalan yang cukup menggronjal, kami pun akhirnya sampai di Gerbang Pintu masuk menuju Taman Nasional Baluran.

Di sebelah Gerbang Masuk Taman Nasional Baluran, tepatnya di sebelah kanannya (kalau dari Banyuwangi ya), terdapat Gerbang masuk menuju Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo, yang mana di situ merupakan salah satu desa yang beberapa warganya menyediakan penginapan seperti homestay gitu-gitu. Kebetulan sekali, saya pun sudah memesan satu kamar di salah satu homestay desa kebangsaan tersebut melalui chat wasap.

Penginapan-Penginapan Di Baluran

Eniwey, sebelum melakukan agenda Trip To Baluran bersama pacar ini, kami berdua sempat bingung perihal penginapan (lagi) mengingat di aplikasi Traveloka pilihan penginapan yang paling dekat dengan Baluran adalah yang sejauh… 26.21 Kilometer, alias…

ANDA SUDAH GILA YA?

Penginapan Baluran Traveloka

Source : Traveloka.com

Setelah gagal mencari penginapan di Traveloka, alhasil si pacar mengutarakan ide yang baginya paling cemerlang saat itu yaitu : Menginap di rumah konservasi yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Baluran.

Yap, jadi begini, di Taman Nasional Baluran itu sebenarnya disediakan semacam penginapan begitu yang mana lokasinya bener-bener berada di dalam kawasan Taman Nasional Baluran seperti Savanna Bekol maupun Pantai Bama. Adapun jenis atau pembagian dari penginapannya adalah sebagai berikut :

1.      Penginapan Baluran Wisma Rusa Guest House

Sebuah penginapan yang berada di sekitar Savanna Bekol dengan kapasitas 7 kamar (2 orang/kamar) dengan biaya penginapan semalam Rp.100.000,-/ruangan/2 orang.

2.      Penginapan Baluran Wisma Merak Guest House

Hampir sama seperti Rusa Guest House, penginapan ini berada di sekitaran Savanna Bekol yang mana kapasitasnya adalah 3 kamar (2 orang/kamar) dengan biaya penginapannya Rp.100.000,-/kamar/2 orang

3.      Penginapan Baluran Wisma Banteng Guest House

Berada di dekat Savanna Bekol, untuk kapasitas dari guest house ini hanyalah 2 kamar yang mana disewakannya langsung satu guesthousenya dengan biaya Rp.400.000 rupiah.

4.      Penginapan Baluran Wisma Pilang Guest House

Satu-satunya guest house yang terpisah dengan guest house lainnya, yaitu berada di area pantai Bama, kapasitasnya ada 1 ruangan untuk 2 orang saja. Harga yang dipatok untuk guest house ini adalah Rp.200.000 permalam.

Apabila disini ada yang hendak mencoba mencari pengalaman baru dengan menginap area konservasi Taman Nasional Baluran ditemani suara hewan yang aduhai, kalian bisa menghubungi 082332213114 (Trihari) atau (+62) 333461936.

Sebenernya sudah banyak orang yang mencoba menginap di penginapan tersebut, karena memang kalau dibayangkan sih, menarik banget ya? Tidur di wilayah Taman Nasional Baluran. Malam hari mendengar suara sahut-sahutan hewan. Paginya pun demikian. Ditambah lagi apabila paginya terbangun di penginapan Pantai Bama, disambut dengan wangi aroma pantai dan sunrise yang menenangkan.

Bayangannya sih, seindah itu.

Pacar saya pun dengan menggebu menjabarkan keinginannya untuk menginap di sana.

Sampai akhirnya, setelah saya riset dan menunjukkan beberapa hal mengenai penginapan di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Baluran, seperti salah satunya adalah : listrik hanya akan ada dari pukul 18.00 – 23.00 WIB saja, maka si pacar langsung balik kanan hormat kepada sang pembina lalu melupakan keinginannya itu jauh-jauh.

Setelah dari Traveloka belum bisa diharapkan dan juga dari penginapan di kawasan baluran tidak bisa direalisasikan, saya pun mendapat info mengenai penginapan di dalam Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo ini. Ada banyak sekali pilihan homestaynya, dan menurut para wisatawan yang pernah menginap di kawasan Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo, hampir semua penginapan di sini itu recommended sekali.

Kami pun akhirnya memilih Bima Homestay sebagai tempat bermalam. Melalui chat wasap dan pembayaran senilai Rp.150.000,- kami sudah dipersilahkan untuk check-in kapan saja dan check-out kapan saja, asal tidak menginap lebih dari satu malam. Menyenangkan sekali bukan?

Penginapan Baluran Bima Homestay

Sesampainya di Bima Homestay, kami langsung menemui si Bapak pemilik Homestay yang kala itu sedang memberesi kamar yang barusan ditinggal check-out oleh salah satu pengunjung. Saya bersalaman dengan si bapak, dan mengkonfirmasi bahwa saya sudah memesan kamar via wasap dan telah melakukan pembayaran semingguan yang lalu. Dengan sigap, si bapak langsung mengerti dan mengiyakan, lalu langsung membereskan kamar untuk tempat kami menginap malam ini. Sembari menunggu kamar dibersihkan, saya kemudian memilih untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan Shalat di mushola yang sudah disediakan oleh Bima Homestay.

SEKALI-KALI PENCITRAAN DONG, BOS!

Seselesainya kamar dibereskan dan saya selesai shalat, kami pun mengobrol dengan bapak-bapak pemilik Bima Homestay sejenak. Perihal apa saja, seperti masalah Baluran, masalah darimana kami berasal, dan lain-lain sebagainya. Dari obrolan itu, bahkan akhirnya kami tahu bahwa istri dari sang bapak ini ternyata juga berasal dari Jogja Pelosok Pedalaman, yaitu Bantul. Selesai ngobrol, Pak Pemilik Homestay yang ramah itu pun minta izin untuk kembali membereskan kamar yang tadi ditinggal check-out dan kami masuk ke penginapan untuk nge-drop barang-barang serta istirahat sejenak.

Ya, istirahat sejenak.

Untuk lanjut perihal Balurannya…

ADA DI POSTINGAN BERIKUTNYA YA.

SAYA MAU ISTIRAHAT!

Advertisements

69 comments

    1. YA KARENA SAYA BARU MERASAKANNYA PERTAMA KALI, DAN SAYA LAPAR, DISATU SISI TIDAK ADA PEMBANDINGNYA, YA SAYA BILANG ENAK LAH.

      SIAPA JUGA YANG BILANG NASI TEMPONG ITU SEPERTI NASI DARIA? YA MEMANG NASI BIASA!

      KENAPA ANDA IKUTAN TIDAK NYANTE? SAYA KAN JADI TIDAK NYANTE JUGA!

      1. rangorang ini juga saling suka, mas :p wgwgw

        HAAAAA? SERIUS ISTILAH TEMPONG ITU PEDESNYA NEMPONG WAJAH SAKING PEDESNYA? ._.

        Tapi menurut saya, nggak pedes-pedes amat mas ._.

  1. ini kenapa commentnya pada pake capital font siiikk 😀
    Baluran emang eksotik dan menarik bgt

    waktu itu aku nginep di Baloeran Ecolodge, asyik buangeeett

    ownernya fotografer alam liar

    1. Hahahaa semua terdistract karena tulisan saya yang amat sangat tidak santai, Mbaaa :p wggww

      BANGEEEET IIIIH EKSOTISNYAAAA, ASLIK. SUKAK BANGET SAYA KE BALURAN EHHEHE 😀

      Laaaah, Baloeran Ecolodge ._. saya baru tauuuuuu duh, harusnya kemarin tanyatanya dulu sama Mba Nurul ya saya wgwgw 😀

  2. Sebetulnya, kenapa rental motor itu ada di Karangasem, karena Stasiun Karangasem itu ada di pusat kota. Sementara Stasiun Banyuwangi Baru ada di pinggir. Stasiunnya pun tergolong “baru” karena dulunya, kereta ya terakhirnya di Karangasem. Penumpangnya turun Karangasem semua, terus keretanya bablas ke Stasiun Banyuwangi Baru (dulu Stasiun Ketapang kalo nggak salah) untuk “istirahat”.
    Makanya karena di pusat kota, wajar aja kalau penginapan dan rental itu ada di sana. Kayaknya sih begitu.

    Tapi terima kasih, Feb. Aku ada info tentang penginapan di Baluran jadinya. Soalnya dari dulu dah pengen nyari nyari info soal itu. Haha.

    1. Hoooo begitu ya, pantesan saja namanya Banyuwangi baru ehehe. yang pada turun di banyuwangi baru itu emang kebanyakan yang pada mau ke Bali sih sebenernya 😀 karena hanya beberapa langkah, langsung bisa ke ketapang 😀

      Wokaaay, Mas. Sama-samaaaaaa :))

  3. Drama banget ya, hahahah 😆
    Eh tapi seru kan jadinya, jadi punya cerita yang gak bisa dilupain 😀
    Ah jadi pengen ke Baluran juga deh.
    Next time kalo ke Jawa Timur mau ke Baluran juga 😀

    1. Hahaha iyaaa, Mas. Dramaaaa banget aslik. Nggak ada nggak dramanya deh kayaknya, pas saya liburan kesana 😀

      Benerbener, jadi banyak bahan cerita yang nggak terlupa 😀

      AYOOOOK MAS TRAVELING JUNJUNGANQU, LEKAS KE BALURAN DONG 😀 Ehehe

    1. Iyaaa, Mas. Asik-asik sebenernya, tapi ya itu, listriknya miniiiim hehehe. Coba kalau ada listrik, pasti nyenengin nginep di tengah hutan begitu 😀

      Beneeeer banget. Baluran itu udah kayak Afrikanya Indonesia deh 😀

  4. kok sulit sekali ya mo dpt rental motor, hanya ketemu satu tempat sewaan. Apa tempatnya bukan tempat wisata populer?

    Nasi Tempong enak kelihatannya, dgn porsi yg banyak juga.

    1. Hahaha sebenernya banyak sih, Mas, rental motornya. Tapi karena saya berada di pojok banyuwangi, jadi memang sedikit. Kebanyakan rental motor di banyuwangi itu adanya di Stasiun Karangasem, yang mana ada di pusat kota 😀 tapi yang penting dapet deh ehehe 😀

      Betuuuuul, enak banget asliiiiik 😀

  5. Warung nasinya selalu rame yah… berarti enak. Pemahamanku kayak gitu hahahaha kalo ada tempat makan rame yg nungguin pasti enak. Hahahahah pemahaman opo iki…😔Aku selalu pengen tuh ke taman nasionalnya yg view-nya kayak di afrika. Belum kesempetan. Waktu itu liat di tipi… baguuuuuuuuus banget. Abis baca post ini, udah lah niatin nabung dari sekarang mau ke baluran!

    1. Hahaha beneeeer. Kalau warungnya rame, meskipun sederhana, sudah pastilah itu makanannya enak wgwgw. Teori sederhana sih sebenernya :p wgwgw

      AYOOOOOK KE TAMAN NASIONAL BALURAN!!! Recommended banget loh, Mbak. Suwer deh heheh.

      Gas, nabung. Tidak terlalu banyak pengeluaran kok :’)

  6. Aku baru tau yang namanya Nasi Tempong mba. Dilihat dari fotonya sepertinya menarik. Apalagi banyak pengunjung yang dateng yaa. Pasti rasanya enak. Jadi penasaran nih akunya mba sama Nasi Tempong. Hehe.

    1. Hehehe dulu saya juga pertama kali tau Nasi Tempong kok. Tapi pas sudah beneran dihadapkan, eh kaget, pas dirasain, eh enaaaaak banget 😀

      Yok yok liburan ke Banyuwangi buat nyobain Nasi Tempong :))

  7. Ini aku bacanya kenapa GAK BISA SANTAI YA, karena banyak capslock yg dipake?
    Baluran masih jadi PR nih, udh lama pengen kesana T.T
    Anda cowok, dan anda nyasar? Beuh kecowokan anda patut diragukan karena navigasi adalah nama belakang untuk cowok. Kalo untuj cewek? JANGAN DITANYA PFTT.

    Tapi, thanks infonya untuk penginapan di Baluran. Emang sih asli, pengen bermalam tapi, YA GAK DI TENGAH HUTAN JUGA KLZ.

    1. Hahaha sengaja agar orang-orang ikut tidak santai. Soalnya memang benar-benar super duper sebaaaaaal wgwgwg :p

      Hahaha sangat rekomended loh, Baluran. Gih, direncanakan ehehhe :

      HAHAHAHA BANGKEEEEE, NYASAR ADALAH HAK SETIAP UMAAAAAAT. WKWKW. DAN MEMILIH UNTUK BERBALIK ARAH, PADAHAL KATA YANG SI PEREMPUAN UCAPKAN ADALAH : ‘TERSERAH’ ADALAH KEWAJIBAN WGWGWGWGW 😀

      Hahahaa, cobaaaaa sajaaa bermalam di kawasan hutan baluran dong. pasti seru~

  8. baca kisahmu, aku jd ikut2an ngos2an hehe,.. ikut ngerasain jg capeknya, tp pas sesi ngliat nasi tempongnya, cukup bikin adem sejenak di mata meski cm ikut menikmatinya lwt gambar.. BTW, ditunggu kelanjutannya… ^_^

  9. Hahahahahahhaha harus ketawa dulu kalau mau komen karena saya memang terbahak-bahak dulu pas baca satu dua paragraf! Ajegila ini blog memang bikin hidup sehat karena sering tertawa nih 😀 Cerita traveling dengan citarasa humor ya begini ini, sayang untuk dilewatkan kan kan. Jadi bacanya kadang ngulang :p itu suara-suara setan di sela-sela tulisan yang bikin ngakak. Untung anda BUKAN DARI BOLIVIA yaaaa hanya penggemar TvONE #eh ;))

    Menunggu cerita selanjutnya yang semoga engga kebablasan 16-an kilometer lagi :p untung nasinya enak ya kalau tidak bisa parah itu putar balik sampai 16-an km 😛

    1. Hahahaha terterimakasih banyak sekali loh, Mba Tuteh. Dirimu selalu membuat saya tidak sia-sia ketika menulis :’) Terharu saya, hehehe.

      HAHAHA BUKAAAAN PENGGEMAR TVONE DONG. SOALNYA KALAU TVONE KAN IDENTIK DENGAN PARTAI TERTENTU UWUWUW 😛

      Hahaha iyaaaa, mbaaaa. Untung banget nasi tempongnya enaaaaa, jadi tidak merasa rugi gimana gitu :p

  10. Ahahahaha Penuh drama sekali ya isi blog ini. Tips dariku lebih baik percayai Aplikasi maps ketimbang insting sendiri. Senyasar-nyasarnya Maps, palingan ya deket deket dari situ juga.
    BTW MENGGRONJAL MAKSUDNYA APA

    1. Hahaha iya nih, Mas. Drama abis isinya :’ wkwkw jadi sedih wgwgw ;D

      Iya juga yaaaaa, harus mempercayai Maps ketimbang insting wgwgw. apalagi instingnya itu, insting saya. Beuh, nyasarnya bisa sampai Rumania.

      MENGGERONJAL ITU ARTINYA… Bergeronjal gitu loh ._.

  11. gokil juga kebablasan sejauh itu. kalo balik dan nasi tempong nya enggak enak, kayaknya bakalan termasuk golongan orang merugi ya. tapi nasi tempong ini sekilas kayak mirip nasi pecel, dengan sambel yang beda. keliatannya enak.

    gue kayaknya klo ke banyuwangi bakalan ke kawah ijen dulu deh, sebelum jalan-jalan ke baluran. semoga aja kesampaian.

    1. Hahaha iya, jaoooooh amat wgwgw 😀

      Iyaaa, bakal rugi bet sih kalau misal ternyata ga enak. Tapi untung ena, karena Nasi Tempong Mbok Nah memang sudah terkenal gitu hehehe 😀

      Hampir mirip pecel memang, tapi sambelnya sambel mateng gitu 😀 mantap pedasnya 😀

      Ahaaaa iyaaaa, Kawah Ijen mantap. Kemarin sengaja tidak kesana karena baru prefer ke Balurannya sih 😀 hehe

  12. itu sambelnya membuatku tergiuuuur. seuhah hahaha

    udah kelewat jauh tetep balik yaa, duh ya baca percakapannya kok mirip2. berasa diri sendiri. wkwkwk apa semua wanita di dunia ini kaya begitu? termasuk sha hahahaha

  13. Anjeerr aq ngiler liat sambel di nasi tempongnya huhuuh

    Btw, wisma-wismanya kok lucu lucu bgt seehhh. Terkesan adem gitu yak. Tapi listriknya :))

    TEROOSS TEROS LANJUTIN PART 4 NYA DONG KAK!
    Aq seneng liat maspeb bisa lanjalan ama pacarnya uwuwuw

    1. COBA KE BANYUWANGI, LAN, BIAR BISA NIKMATIN NASI TEMPONG HAHAHAK 😀

      Iya sih, sebenernya bagus dan lucu gimana gitu. Tapi listriknya… YA YASUDAHLAH YAAA~

      Hahaha siyaaaaaap~ terterimakasih banyak loh ~

  14. Kok seru sih, Mas.
    Weleh jauh juga kebablasannya, Mas..haha
    Eh, tapi aku juga pernah gitu entah itu si mapsnya ngajak muter-muter. Memang lagi pusing apa nyuruh bensisnku abis.

    Iya sih kaya burjo warungnya, tapi ruame juga ya, Mas.
    Kalau deket pengen deh aku langsung otw. Lihat makananya, duh sukses membuatku laper. Menggoda sekali untuk makan disaat ini juga.

    Baru ngeh lho aku mas pas cek menu blogwalking. Terima kasih udah dimasukin, tapi ganti ya, Mas. Alamat blogku udah off yang andinugraha.com udah lama ganti ke domain yang satu lagi. Lebih tepatnya http://www.DiaryMahasiswa.com

    Biar orang cek gak salah alamat 🙂

    1. Hahaha sepertinya gmaps memang suka memberi masalah dan cobaan kepada kita para pencari arah ya 😀 wgwgw

      Iyaaa kaaan, meskipun cuma kayak burjonan gitu, tapi ramenya buset bener. Rasanya, jangan ditanyaaa 😀 buru coba mas. Kalau di Jogja katanya juga ada kok, tapi ngga tau ena atau tidak ._.

      Hokeeeee, sudaaa saya ganti Mas 😀

  15. Wadidaw.. saya cocok nih kalau ke Baluran nginap di homestay yang adanya di kawasan baluran park, soalnya kalau lagi melancong lebih senang tanpa gadget wkwkwk

    Btw, postingannya sungguh informatif ya. Febri nggak mau jadi duta sampo lain aja beneran?

    1. Hahah cobaaa gih, Bang Fir. Main ke Balurannya, terus nginep di kawasan Baluran Parknya. Pasti seru asik gimana gitu. Gaaas, Bang. Gaaas.

      Hahah akhirnya malah panjang bang, tulisannya. Soalnya kalau saya kayak, sayang aja gitu ceritanya tidak ditulis semua gwgwg

    1. Naaah ituuuuuuuuu, kebayang nggak siiiih, di tengah hutan, lampu cuma nyala sampai jam 11 malem, tau-tau denger suara-suara yang mungkin disangka hewan, tapi ternyata…

      KUNTILANAAAAAK HIIIII :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s