Trip To Baluran : Kali Pertama Menginjakkan Kaki Di Banyuwangi

‘Hal yang paling menyenangkan dari sebuah liburan adalah perjalanan. Tapi… YA NGGAK 14 JAM JUGA ANJAY!’

Ehe. Mengawali tulisan dengan sebuah quote itu masih terdengar unyu-unyu tidak sih?

Masih kok.

Tapi… YA NGGAK GITU JUGA QUOTE-NYA, BUSET DAH!

Hahak. Lanjutin cerita kemarin, ah. Pabila diantara kalian ada yang belum membaca tulisan sebelumnya, silahkan dibaca terlebih dahulu : Trip To Baluran Perjalanan Awal di Dalam Kereta. Kasihan, saya nulisnya lama. Ehe :

Sisa perjalanan selepas berangkat dari Stasiun Gubeng, Surabaya, kami pun kemudian mengisinya dengan tidur, ngobrol sambil bercanda-canda, dan menonton film-film pendek di youtube seperti : Kenapa belum menikah, mengakhiri cinta dalam 3 episode, dan satu film berjudul The First Time yang akhirnya tidak kami selesaikan karena di pertengahan scene ada adegan ranjang dan cium-ciuman mesra.

Kami anaknya menjaga moral, ya.

Mon maap.

TAPI KELUAR KOTA BERDUA.

HIYA! HIYA! HIYA!

Beberapa waktu berjalan, kereta pun membawa kami semua yang ada di dalamnya menuju senja, hingga perlahan gelap pekat menyambut. Satu persatu orang mulai banyak yang turun, pun kursi demi kursi penumpang sudah mulai banyak yang tidak terisi. Salah satunya adalah kursi mas-mas di depan kami yang pada akhirnya harus ditinggalkan beberapa saat yang lalu di Stasiun Jember. Saat hendak turun, Beliau menyenyumi kami terlebih dahulu sembari menggendong tas ranselnya, seolah-olah senyumnya adalah ucapan terimakasih atas tontonan pacaran najis mendebahkan yang telah kami tunjukkan padanya.

Saya memandangi wajah si pacar, lalu seketika tersenyum. Tangan kami saling menggenggam. Saya pun berucap pelan :

‘Sebentar lagi sampai ya’

Dia mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di pundak saya.

‘Selamat malam para penumpang. Sebentar lagi, kita akan sampai di tujuan akhir Stasiun Banyuwangi Baru. Dimohon untuk para penumpang agar mengecek barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal. Terimakasih telah menggunakan jasa layanan kami’

Suara embak-embak yang terdengar dari balik speaker pun membuat saya dan pacar beranjak dari tempat duduk untuk mengambil tas di atas kami dan membereskan barang bawaan ataupun sampah yang kami buat. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebihnya empat puluh lima menit. Hati saya berdebar hebat, perjalanan awal menuju liburan pertama kami akan dimulai. Langkah kaki untuk pertama kalinya di Banyuwangi akan segera kami pijaki.

Menginjakkan Kaki Untuk Pertama Kali Di Banyuwangi

Lima menit kemudian, kereta pun berhenti. Saya dan pacar melangkah pelan menuju pintu keluar kereta, berjalan di atas peron, dan mengikuti petunjuk ke arah pintu keluar Stasiun Banyuwangi Baru. Saya menghela nafas panjang, kemudian menghempasnya sembari berucap keras.

‘BANYUWANGIIIIIIIII!!!’

Si pacar menggenggam tangan kiri saya untuk kemudian menjejaki langkah di jalanan luar Stasiun Banyuwangi Baru yang lapang. Menyeberangi jembatan kecil dan rumah-rumah warga yang beberapa diantaranya dimanfaatkan sebagai homestay tempat bermalam. Kami berdua pun tatap-tatapan, dalam satu hentakan senyum, kami semua sama-sama berucap :

‘Ternyata Banyuwangi nggak sesepi dan sepedesaan yang kita bayangkan yaaaaaaa!’

Kami berdua tertawa bersama.

Sebenarnya begini, sebelum kami melakukan perjalanan ke Banyuwangi ini, kami sudah sering melakukan pertemuan ataupun komunikasi via chat guna membahas mengenai bagaimana sebenarnya kondisi di dekat Stasiun Banyuwangi Baru, dan bagaimana cara mencari penginapan di sana apabila kita sampainya malam hari.

Meskipun beberapa kali saya sudah bertanya kepada beberapa teman traveler jagoan, seperti Mba Aqied, dimana saatbeliau menjabarkan bahwa ada banyak penginapan di dekat Stasiun Banyuwangi Baru, tapi saya masih merasa amat sangat ragu tentang kebenaran hal tersebut.

Bahkan di beberapa kesempatan, saya sering melakukan riset dengan cara membuka Google Maps dan menyalakan satelitte untuk kemudian melihat kondisi sekitar Stasiun Banyuwangi Baru. Disitu saya sedikit agak yakin, karena dari satelite G-Maps itu terlihat bahwa Banyuwangi amat sangat rame dan traveler friendly gitu. Kurang yakinnya… YA KARENA  YANG DITAMPILIN DI G-MAPS ITU SIANG HARI, SEMENTARA SAYA KAN SAMPAINYA MALAM HARI PUKUL SEMBILAN MALAM!

Situasi Banyuwangi Saat Siang Melalui G-Maps

Source : G-maps

Saya dan pacar berulang kali mencari informasi mengenai penginapan di internet gara-gara kekurang-yakinan saya tersebut. Yakalik, masa pertama kali liburan jauh, tidurnya ngemper di keramik stasiun atau Indomaret?

Nggak salah sih. Enggak.

TAPI YA GIMANA YAAA!?

Akhirnya kami berdua pun menemukan sebuah penginapan yang berjarak 1.2 km dari Stasiun Banyuwangi Baru, yang mana namanya adalah Hotel Banyuwangi Beach.

Di jalan kecil yang cukup gelap tapi masih ada banyak orang, kami pun berjalan pelan sampai akhirnya keluar dari gapura bertuliskan Stasiun Banyuwangi Baru. Disitu, suasananya masih bisa dibilang amat sangat ramai sekali. Truk besar keluar-masuk pelabuhan Ketapang, warung-warung masih menjajakan jualannya, orang-orang nongkrong sembari bersenda gurau, Indomaret-Alfamart yang menjadi pembeda dengan nyala lampu paling terang, dan lain-lain sebagainya.

Saya dan pacar pun langsung mencari makanan untuk dibungkus dan dimakan di penginapan nanti. Setelah langkah demi langkah kami pijakkan, pilihan pun akhirnya jatuh pada sebuah warung nasi goreng samping Indomaret. Alasan kenapa kami akhirnya memilih nasi goreng pun sebenarnya cukup sederhana, yaitu karena pada saat itu, saya merasa bahwa nasi goreng adalah makanan yang tidak pernah salah, dan yang pasti rasanya tidak akan mengecewakan. Tapi, setelah saya merasakannya kemarin dan akhirnya sekarang menulis tulisan ini… sepertinya anggapan saya tersebut salah :’)

Drama Mencari Penginapan Di Banyuwangi

Seusai membeli nasi goreng, pacar saya pun langsung membuka aplikasi Go-Jek untuk memesan Go-Car agar dapat membantu kami menuju penginapan. Disini, drama kampret pun dimulai. Menurut mas-mas Go-Car, area yang kami pijaki saat itu adalah zona dimana Go-Jek tidak boleh mengambil penumpang.

Okay.

Pacar saya pun memaklumi, dan menanyakan kira-kira kami harus jalan berapa meter untuk bisa keluar dari zona tersebut. Setelah pertanyaan itu diutarakan, eh, si Mas Go-Car pun menjawab :

‘Saya di Hotel Manyar, Mba. Jalan kesini dulu saja’

Mendapat pesan tersebut, saya pun langsung membuka G-Maps dan mendapati bahwa…

Stasiun Banyuwangi Baru - Hotel Banyuwangi BeachStasiun Banyuwangi Baru - Hotel Manyar

HEEEEE, MAS-MAS GOCAR YANG TERHORMAT. JARAK ANTARA TEMPAT KAMI MENUJU BANYUWANGI BEACH ADALAH 1.2 KM, SEMENTARA JARAK ANTARA TEMPAT KAMI MENUJU HOTEL MANYAR ADALAH 1.4 KM. LANTAS, ADA MASALAH APA ANDA DENGAN KAMI KENAPA KAMI HARUS MENUJU HOTEL MANYAR DULU SEBELUM AKHIRNYA ANDA MENGANTARKAN KAMI MENUJU BANYUWANGI BEACH?

MENDING KAMI NAIK TROLI ALFAMART SAHAJA!

Merasa kesal dengan fakta demikian, si pacar pun akhirnya meng-cancel pesanan Go-Car dan kami memilih untuk jalan saja menuju penginapan. Percaya deh sama saya, terkadang apa yang kita rasa jauh itu ternyata tidak jauh-jauh amat. Waktu pertama kali saya tau bahwa jarak antara Stasiun Banyuwangi Baru ke Hotel Banyuwangi Beach adalah 1.2 km, saya langsung membayangkan betapa jauhnya jarak tersebut dengan tingkat kelelahan yang amat sangat parah karena sudah 14 jam kami di dalam kereta. Tapi kenyataannya, ketika dijalani, tidak jauh-jauh amat loh suwer. Kurang dari 10 menit kami pun akhirnya sampai di gang yang mengarahkan kami menuju lokasi Hotel Banyuwangi Beach.

Emosi Jiwa

Source : Merries.co.id

Drama Sesungguhnya Di Penginapan Banyuwangi

Gelap, temaram, dan remang-remang adalah salah satu hal yang saya rasakan pertama kali ketika melangkahkan kaki di pintu masuk Hotel Banyuwangi Beach. Perasaan saya sudah agak kurang enak dan beberapa kali membatin :

‘Apakah ini penginapan yang aman?’

‘Apakah ini bukan sarang penyamun?’

Belum sempat batin saya berhenti memikirkan macam-macam, tiba-tiba dari arah penginapan menuju resepsionis, datang mbak-mbak dan bapak-bapak yang sedang naik motor check-out dari hotel tersebut, lalu kemudian… ya udah… mereka pergi.

Saya pun langsung membatin lagi :

‘Itu… mereka berdua ngapain, kenapa jam segini sudah check out?’

Entah.

Itu urusan mereka.

Di resepsionis, saya pun langsung berucap kepada mas-mas yang bertugas jaga disana.

‘Permisi mas. Saya Febri, tamu yang seminggu lalu memesan kamar di Hotel Banyuwangi Beach melalui telepon. Apakah saya bisa menempatinya sekarang?’

Mas-masnya menatap bingung, kemudian bertanya.

‘Gimana, mas?’

HAAAAAH?!

Saya dan pacar tatap-tatapan bingung. Apakah di Banyuwangi orang-orangnya menggunakan bahasa Bolivia untuk bercakap-cakap? Entah. Karena masih belum yakin, Saya pun sekali lagi mencoba untuk menjelaskan.

‘Jadi gini mas, saya mau menginap di Hotel Banyuwangi Beach. Nah, seminggu lalu, saya sudah booking kamar di sini untuk yang harga 65000 yaitu kamar H dan mas-mas di telpon sudah mencatat lalu mengiyakan’

Penginapan Murah Banyuwangi

Source : G-maps

Mas-masnya pun tersenyum dan mengangguk, lalu menanggapi.

‘Oh, mau menginap mas’

HEEEE?

HALAIYA ANJENG! INI SAYA SUDAH NGOMONG SAMPAI BERBUSA SEDARI TADI, ANDA BARU PAHAM?NGGAK MUNGKIN JUGA KAN SAYA JAUH-JAUH KESANA HANYA UNTUK BERTERNAK LELE?

‘Iya, mas. Saya sudah pesan kamar H untuk malam ini melalui telepon’

Masnya pun mengecek loker kunci untuk kamar H.

‘Untuk kamar yang H, sekarang masih dipake Mas.’

LAAAAAH?

‘Tapi saya sudah pesan lewat telepon, Mas’

Saya mencoba meminta hak pesanan saya.

‘Iya, Mas. Tapi sekarang masih dipake. Mungkin 2 jam lagi baru available

HEEEE?

INI TEMPAT APAAN SIH ANJER?

‘Loh, kok bisa ya? Yasudah deh, untuk sekarang, kamar yang available kamar apa ya?’

‘Kamar G, Mas. Harga 85000’

Saya pun berdiskusi dengan pacar, alhasil karena sudah lelah dan ingin segera istirahat, kami pun sepakat untuk di kamar G saja.

‘Ya sudah mas, kamar G saja’ Ucap saya sembari mengeluarkan pecahan uang 85000-an.

‘Tapi AC-nya nggak dingin, Mas’

Si mas-mas mewanti-wanti sembari memberikan kunci untuk kamar G.

‘Yaudah mas, nggapapa. Saya cuma mau istirahat’

Saya mengambil kuncinya, lalu berjalan menuju kamar yang disediakan.

Dari apa yang saya lihat sekitar pukul setengah sepuluh malam itu, Hotel Banyuwangi Beach ini terlihat seperti mini perumahan dimana setiap kamarnya disewakan berdasarkan letak dan juga fasilitas kamar. Penataan bangunan kamar maupun ruangannya pun bisa dibilang tertata sedemikian rupa.

Misalnya saja untuk kamar A, letak bangunannya berderet sendiri dari nomer A1-A3. Untuk Kamar B, letak bangunannya berderet sendiri dari nomer D1-B12, begitu seterusnya. Jadi, antar satu kamar dengan kamar lainnya untuk kelas huruf yang berbeda tidak berdekatan. Lebih tepatnya, ini seperti taman di dekat pantai yang dibangun beberapa bangunan untuk penginapan.

Gitu.

Penginapan Murah Dekat Stasiun Banyuwangi Baru

Source : G-maps

Setelah berjalan dari resepsionis menuju area bangunan kamar, kami pun akhirnya menemukan kamar G4 yang berada di paling pojok pada bangunan khusus untuk huruf G. Saya membuka kunci kamar dan langsung masuk, menyalakan lampu, lalu meletakkan barang-barang yang dibawa. Mengingat pesan dari mas-mas resepsionis, saya pun langsung menatap AC yang terpasang di pojok kanan kamar. Saya memandanginya perlahan, sampai akhirnya saya menyadari satu hal :

AC-NYA BUKAN NGGAK DINGIN…

TAPI…

INI MAH MATI, ANJENG!

MATI!!!

NGGAK NYAMBUNG SAMA LISTRIK KARENA KABEL AC-NYA PUTUS. YA PANTESAN AJA NGGAK DINGIN, KAN DONG PUN. BANGSAT MEMANG MAS-MASNYA.

Alhasil, karena lelah sudah menggerogoti kami sedari tadi, kami pun akhirnya memilih untuk bersih-bersih badan, makan nasi goreng yang sudah kami bungkus dengan terpaksa karena kelaparan, minum, lalu tidur kemudian. Permasalahan ini, saya anggap sebagai pecutan awal untuk liburan kami di Banyuwangi.

Tapi…

YA NGGAK GINI JUGA KALIK AH! PANAS BET KAMARNYA IH.

Pffft.

Terimakasih.

Advertisements

45 comments

    1. Karena saat itu, yang saya dapet di internet, untuk harga penginapan yang terbilang amat sangat low budget untuk kantong dan hanya sekedar untuk beristirahat, tidak ada di traveloka Mbaaaa. Jadi yaa via telpon sahaja. Nyatanya begitu, ya nasib. Tapi untung saja ada yang kosong 🙂

    1. Hahah iya, Mas. Ada banyaaaaaak banget, dan murah. Rata-rata sih, 80-an gitu eheheh. Lumayanlah untuk sekedar bermalam dan istirahat sejenak.

      Hooooo, ya sama. Saya kalau misal liburan juga memperhitungkan masalah penginapan, saya akan senantiasa mencarinbya di traveloka 🙂

  1. Itu kamar kalau zampai Z harganya cuma dua rebu. Fasilitas dikasih tikar sama majalah Bobo buat kipas (kalau gabut bisa sekalian isi TTS).

    Parah juga tapi udah booking malah diisi orang lain terus harus sewa yang lebih mahal. POLITIK PASTI! KONSPIRASI ILLUMINATI! PRANK ATTA HALILINTAR ITU SUDAH TIDAK DIRAGUKAN!

  2. wkwkwkwkwk maaap feb, ga kuasa nahan tawa pas baca yg mas gocar ;p. pgn dicekek kayaknya dia.

    duuuuh, aku mah ga masalah kamar seadanya, tapi pliiis jgn ac mati… lagian yaaa, ini hotel kenapa checkoutnya pada malam sik -__- .. 2 jam lagilah.. aneh aja

    1. Hahaha iyaaaaa kan, Mba -_- ngeselin banget dah aslik itu mas-mas gocarnya wgwgw.

      BENAAAR!
      Mau kamarnya gimana, yang penting di badan itu bisa bikin merasa sejuk dan nyaman saja sih ehehe.

      Ga tau juga mba -_- hotel ga bener deh itu kayaknya wgwgw

  3. Kudunya ga papa ngemper aja di stasiun. Kan nanti kalo udah punya anak jadi ada bahan cerita keren gitu. Bahwasannya dulu ketika muda backpacker sejati. Tidur bisa di mana aja. Petarung tangguh.

    Ngaco.

    Dongkol banget sih pasti kalau udah janjian tapi dibatalkan kaya begitu.

    1. Iya juga sih, bener. Sebenernya seru, tapi kalau setelah perjalanan 14 jam di kereta, ya kasihan juga kalau hanya ngemper. Mumpung penginapan sedikit agak murah, ya gapapa deh 😀

      Beneeeer banget kan, sebel bet sudah book ditelpon malah dibatalin -_-

  4. Hahahahah mau saya rekomendasikan hotel dulu tempat saya menginap (2006) tapi waktu itu saya enggak sempat foto di depan hotelnya. Megah sih :p tapi dibayarin orang yang punya acara nikahan 😀 *tamu kurang ajar* ;))))))

  5. Kalo naik Sri Tanjung itu enak di awal ya pemandangannya bagus sepanjang perjalanannya. Tapi begitu lewat Probolinggo-Jember DISITU SAYA MULAI FRUSTASI. KAPAN SAMPENYA SIH. KZL.

    Dulu aku turun di Karangasem, lebih deket ke kota karena niatnya emang cuma transit lalu malem berikutnya balik kanan Surabaya.

    1. Hahaha iyaa sih, pemandangannya bagus. Tapi… YA ENGGAK 14 JAM JUGA DONG ANJAY WGWGW. LAMA BET ASLIK DAH WGWGGW.

      Hoooooo, Karangasem ke Banyuwangi Baru cuma belasan kilometer lagi sih. Tapi kebanyakan emang pada turun di Karangasem 😀

      Mantap, Mas 🙂

  6. hotel banyuwangi beach ini dulu aku pikir kayak hotel ketapang indah, yg keceh gitu, lahhh kamarnya aja ternyata ga mumpuni, kamar mandi nya ga oke, toilet duduknya rusak, untung waktu itu cuman butuh buat mandi aja

    1. Hahaha iyaaaa ya? Tapi Ketapang Indah itu kece parah sih.

      Kalau saya dapet cerita dari pak Gojek, dulu Hotel Banyuwangi Beach sama hotel Manyar itu paling hits di Banyuwangi. Tapi pas suda ada Hotel ketapang dan lain-lainnya, kalaaah tenar dan sekarang malah seorang jadi hoteeeeel murah yang ga terurus gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s