Trip To Baluran : Perjalanan Awal di Dalam Kereta.

‘Aku sudah sampai stasiun ya, Beb’

Pesan darinya menghias layar handphone saya sekitar pukul 06.15 WIB. Saat itu saya sedang berdiri di depan teras rumah untuk menunggu pak Gojek yang saya pesan 5 menit lalu. Saya mengamati peta dimana pak driver berada, dan belum genap 4 kali mata saya berkedip, saya pun terkaget ketika mendapati bahwa yang terpampang di peta adalah fakta bahwa pak gojek sedang berada di Depok, Sleman.

Saya langsung keringetan.

Ini ngapa jauh amat ya?

Map Dari Rumah ke Depok

Saya pun mulai menghitung-hitung jangka waktu yang dibutuhkan oleh pak gojek untuk bisa sampai di rumah saya kala itu. Jika menurut google maps, apabila start dimulai dari Depok Sleman dan tujuannya adalah rumah saya, maka waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 30 menit. Sementara itu, waktu yang dibutuhkan dari rumah saya menuju Stasiun Lempuyangan adalah sekitar 15 menit. Maka berarti, apabila Pak Gojek ternyata benar-benar berdomisili di Depok dan sebelum menjemput saya, beliau harus mandi, buang hajat, beli odol, sabun, sarapan, mengenakan sepatu, mencium kening istri, mengantarkan anaknya sekolah, membeli lauk untuk makan siang, dan bersilaturahmi ke tempat saudara di kampung halaman, maka kemungkinan untuk saya bisa sampai ke Stasiun Lempuyangan adalah sekitar pukul : 06.30 WIB, tapi di tahun 2019.

Pfffft.

Merasa tidak ingin rencana saya dengan sang pacar terbengkalai, saya pun dengan sigap mengirimkan pesan ke pak Gojek.

‘Assalamualaikum, Pak. Mohon maaf mengganggu sebelumnya. Jika boleh tau, sekarang ini Bapak posisinya dimana ya? Saya sedang buru-buru untuk berangkat ke Stasiun Lempuyangan nih soalnya’

Pesan terkirim, dan saya masih duduk di teras sembari menatap cemas layar handphone. Berharap Pak Gojek membalas dan memberitahui posisinya, agar apabila ternyata Pak Gojeknya beneran berada di Depok, saya bisa minta izin untuk mencancel segera.

Beberapa saat berselang, disaat saya sedang berharap –harap cemas sambil memutar-mutar handphone, tiba-tiba dari arah kiri jalan depan rumah, muncul bapak-bapak menggunakan jaket hijau khas Gojek sedang celingak-celinguk mencari sesuatu. Sampai ketika bapaknya menoleh ke arah saya, kami pun tatap-tatapan. Sejenak, saya melihat layar handphone, di peta menunjukkan bahwa icon driver gojeknya sudah berada tepat di rumah saya. Saya melihat pak gojek kembali, lalu beliau langsung berucap :

‘Mas Febri ya?’

HAH?

HEEEEEH? KOK BISA SIH?

BANGKEK!

INI GIMANA CERITANYA, BAPAK-BAPAK YANG AWALNYA BERADA DI DEPOK SLEMAN TIBA-TIBA 5 MENIT KEMUDIAN BISA SUDAH SAMPAI DI DEPAN RUMAH SAYA?

APAKAH SI BAPAK INI MELAKUKAN PERJANJIAN DENGAN IBLIS?

Saya mengamati pak gojek dengan seksama, kemudian mengangguk tanpa basa-basi. Sembari berjalan menyambut pak gojek, saya mengirimkan pesan ke pacar :

‘Okay sayang, ini saya juga lagi otewe. Sebentar lagi sampai’

Iya, sudah.

Tidak perlu menghitung berapa jumlah dosa kebohongan saya, ya.

Kebanyakan.

Seusai mengeklikkan helm di kepala, menempatkan bokong di jok belakang motor milik Pak Gojek, diiringi oleh semilir angin pagi di depan rumah, pak gojek pun memutar gas kencang untuk mengantar saya segera sampai di Stasiun Lempuyangan.

xxxxx

Memulai Perjalanan Menuju Banyuwangi

‘Haaaaaaaaaai…’

Saya menyapa si pacar tepat ketika 5 menit lalu diturunkan oleh Pak Gojek di depan parkiran motor Stasiun Lempuyangan dan berjalan tergesa mencari keberadaannya.

‘Heeeeeei…’

Dia menjawab dengan senyum yang teramat manis sembari membenarkan posisi duduknya. Gestur tubuhnya seolah memberi instruksi agar saya duduk di sampingnya. Dirapihkannya pucukan jilbab hitam yang membungkus kepalanya pelan-pelan.

‘Langsung masuk ke dalam aja yuk, Beb. Biar lebih enak nunggunya’

Saya berucap sembari melihat jam di layar handphone yang sudah menunjuk pada angka 06.38 WIB. Dia mengangguk dan berdiri dari duduknya. Satu buah tas ransel dia gendongkan di punggungnya, lalu tangan kirinya menyambut tangan kanan saya dengan manisnya.

‘Yuuuuuuk…’

Ucap si pacar ceria sambil menuntun saya untuk berjalan beriringan menuju pintu masuk ruang tunggu kereta. Saya tersenyum pelan. Jantung saya tidak pernah berdetak secepat ini. Kereta Sri Tanjung yang akan mengantarkan kami menuju tujuan akhir Stasiun Banyuwangi baru sudah standby dengan gagahnya. Kami pun masuk ke dalam, dan menempatkan posisi sesuai dengan nomor kursi.

Tiket Kereta Jogja - Banyuwangi Baru

Sekedar intermezzo dan FYI aja nih ya, sebenernya ini adalah kali pertama saya menaiki kereta  yang mana untuk mencapai tujuan akhirnya harus menempuh durasi perjalanan selama 14 jam. Ngebayanginnya saja, bokong saya sudah amat sangat merinding. Sebenernya bukan apa-apa sih, saya bisa dibilang sebagai orang yang amat sangat suka dengan jalan-jalan. Tapi terkadang, hal yang paling saya pikirkan dalam perjalanan itu adalah : bagaimana saya bisa menikmati perjalanan selama 14 jam dan membunuh waktu yang amat sangat lama itu dengan cepat agar segera sampai?

Sebagai orang yang memiliki budget minim untuk jalan-jalan, tentu saya tidak bisa memilih banyak alternatif untuk mempersingkat waktu agar sampai ke tujuan. Tapi sebagai manusia yang dikodratkan untuk mengeluh dan berkomentar bebas… YA KAN BANGKEK YA, 14 JAM DI KERETA ITU KAMPRET PARAH LOH, ASLIK!

Dampak dari minim budget ini tentu menyambung ke bagaimana kita menikmati liburan. Contoh sederhananya adalah pemanfaatan waktu berlibur. Sebelum perjalanan ini dimulai, dari jauh-jauh hari saya dan pacar sudah membuat rincian perjalanan dengan perhitungan budget yang akan digunakan untuk liburan di sana.

Disitu, kami sudah meluangkan waktu selama 4 hari untuk berlibur di Banyuwangi. Lama? Memang. Cukup? Yaaaaaaa, kurang, hal itu dikarenakan perjalanan berangkat dari Jogja – Banyuwangi dan pulang Banyuwangi – Jogja itu terhitung hampir sama rata yaitu selama 14 jam, maka… YA LIBURAN KAMI JIKA DIKALKULASIKAN SECARA BERSIH HANYA BERLANGSUNG SELAMA 2 HARI DONG, DENGAN 2 HARINYA HANYA MEMBATU DI KERETA DAN ISTIRAHAT DI PENGINAPAN!

Wadehel memang.

Saya nggak mempermasalahkan perihal fasilitas, yang mana mungkin beberapa orang akan keluhkan, seperti :

‘Nggakpapa perjalanannya lama, asal naiknya eksekutif’

Enggak.

Bodo amat mau ekonomi, mau berdiri, mau gimana-gimana, yang penting… JOGJA-BANYUWANGI BISA DIJANGKAU DENGAN WAKTU YANG SINGKAT.

Huft.

NAIK BUROQ SAJA SANA, ANJER! BUDGET MINIM NGELUH MULU, MINTA DIGAMPAR.

Maap.

Tapi karena ini adalah pengalaman yang pertama, maka saya pun mencoba untuk tetap menikmatinya sebaik mungkin. Setidaknya, di kereta ini, saya duduk disamping orang yang bisa membuat waktu seolah berjalan dengan amat cepatnya, yang apabila ini terjadi begitu saja di hari biasa, maka di hari berikutnya saya tidak akan segan untuk berucap rindu, padahal satu hari sebelumnya kami baru saja bertemu selama 10 jam lamanya.

Dalam Kereta

‘Berapa jam lagi ya sampainya, Beb?’

Tanya saya kepada pacar yang sedang membaca bab awal buku yang saya bawa, si Parasit Lajang. Saya menyandarkan kepala di bagian belakang kursi, mencoba merileksasikan kaki di kursi depan, sembari merapal doa agar dua kursi di depan kami tidak ada yang mengisi.

‘Ya masih lamaaa dong. Kereta kita bahkan belum jalan ya, helooooow’

Si pacar menjawab sambil menoleh dan menggelengkan kepala. Tangan kanannya mencoba mencubit lengan tangan kiri saya. Sesaat kemudian, kereta mulai berjalan pelan. Suara Mbak-mbak di speaker kereta terdengar memberikan informasi mengenai perjalanan, stasiun yang akan menjadi tempat pemberhentian sementara, dan juga stasiun tujuan akhir dari kereta Sri Tanjung ini : Banyuwangi Baru.

‘Ini, keretanya sudah jalan’ Ucap saya ke pacar.

Dia mengangguk.

‘Jadi, kira-kira masih berapa lama lagi ya kita sampainya?’

Dia diam, tangannya mengepal, bersiap-siap memberi uppercut sekencang-kencangnya.

xxxxx

Kereta berjalan dengan kecepatan sedang. Suara jesjes-jesjes dan tut tut tut yang menjadi trademark dari kereta pun acap kali terdengar. Saya masih beberapa kali merapal doa untuk kursi di depan saya ini agar tidak ada yang mengisi dan saya bisa selonjor enak-enakan.

Namun, saat kereta berhenti di stasiun Klaten, tiba-tiba seorang mas-mas dengan sweater abu-abu bercelana tigaperempat datang dengan wajah kelelahan hendak duduk di kursi depan kami berdua. Kami pun memberi senyum kepadanya, dan si mas berbalik senyum kepada kami sebelum kemudian mencoba mencari posisi duduk yang menurutnya nyaman.

Saya sebenernya paham, bagaimana perasaan si mas-mas ini ketika harus dihadapkan pada posisi dimana dia harus duduk di antara sepasang kekasih yang sedang melakukan perjalanan di dalam kereta. Saya amat sangat paham dan membayangkan bahwa itu…

SANGAT MENDEBAHKAN, SIH. ASLIK!

Sebagaimana halnya pasangan norak yang baru pertama kali melakukan perjalanan panjang berdua di dalam kereta untuk menuju ke suatu tempat, kami berdua beberapa kali mencoba menunjukkan sisi kedekatan dan keharmonisan kami selayaknya satu pasangan, yang mana mungkin menurut orang lain yang melihatnya pasti cenderung lebih menjurus ke alay dan norak (menurut kami juga sih)(YA KAMI PAHAM ITU ALAY DAN NORAK DONG!).

Sebenarnya yang kami berdua lakukan di dalam kereta hanya sekedar mengobrol biasa. Itu hal yang paling sering kami lakukan. Kami suka membicarakan apa saja, entah yang sebenarnya hanya si pacar tau dan tidak ada urusannya dengan saya, pun juga sebaliknya. Kami membicarakan apapun. Tapi, selingan diobrolan kami itu yang mungkin membuat posisi si mas di depan kami agak meresahkan, seperti pegangan tangan atau bertukar senyum jijay.

Disaat lelah di dalam kereta, kami berdua cenderung diam dan memejamkan mata. Mungkin momen begini yang membuat si mas di depan saya merasa aman dan nyaman. Tapi, itu tidak terhitung lama, karena disaat tidur di kereta pun, kami berdua masih menggenggam tangan satu sama lain, dan terkadang kami saling bergantian untuk menyandarkan kepala di pundak.

Suwer deh, kalau misal saya menjadi si mas-masnya itu, saya lebih baik memesan 4 tiket kereta ekonomi di blok 9 A B dan 10 AB agar supaya tidak melihat pasangan bedebah seperti kami dan hidup jadi terasa leluasa, atau mungkin lebih memilih untuk merekam adegan tidak berperikesendirian itu lalu mempostingnya di instagram lengkap dengan caption hujatan dan tag ke akun iklan layanan masyarakat atau tokoh pembela jomlo seperti Ridwan Kamil.

Tapi, manusia itu memang kadang memang sehipokrit ini sih. Ketika saya diposisikan sedang dalam perjalanan sendirian dan melihat pasangan demikian di kursi depan, saya akan merasa risih dan bahkan mengumpat dalam hati. Tapi ketika saya diposisikan sebagai orang yang melakukan perjalanan berdua dengan pasangan dan melihat ada orang yang sendirian di kursi depan, ya saya cenderung tetap akan sibuk sendiri dengan pasangan.

Tidak perlu munafik, tidak perlu sok-sok gimana. Ini hal nyata ya, helooow.

Ehe.

Jadi, sabar ya, Mas?

xxxxx

Salah satu hal yang membuat perjalanan kereta terbilang cukup lama, selain jarak, tentu adalah rute dan jadwal keberangkatan kereta yang sudah ditetapkan sedemikian rupa. Saya masih sedikit ingat perihal mata kuliah Jalan Rel di kampus saya yang membahas masalah GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api). Disitu, dijelaskan bahwa apa yang ada di dalam dunia perkereta-apian telah dijadwalkan sedemikian rupa mengenai rute dan waktunya. Jadi, kereta ditargetkan sebisa mungkin untuk sampai ke suatu stasiun maupun berangkat dari suatu stasiun setepat waktu mungkin, agar jadwal kereta lain tidak terendat. Kemungkinan untuk datang lebih cepat akan sangat kecil terjadi, pun kemungkinan untuk datang lebih lama akan sangat kecil terjadi pula, kecuali jika ada kendala-kendala yang tidak pernah bisa diprediksi gimana-gimananya.

Saya cukup menikmati ketika kereta melaju melewati tempat-tempat yang entah itu perkotaan, sawah, hutan, terowongan, dan lain-lainnya. Saya pun cukup menikmati ketika pada akhirnya kereta harus berhenti di beberapa stasiun untuk menurunkan atau kembali menaikkan penumpang. Tapi, saya tetap kadang sesekali mengeluhkan :

‘Ini ngapa kereta berhenti mulu sih, ya?’

‘Ini keretanya pelan banget  sih jalannya?’

Dan lain-lain sebagainya. Tapi, saya menikmatinya. Tapi lagi, YA NGGAK 14 JAM JUGA KALIK AH!

Ehe.

Berhenti Sejenak di Stasiun Surabaya Gubeng

Sekitar pukul 13.20 WIB, kereta kami baru sampai di Stasiun Surabaya Gubeng. Melalui speaker kereta, mbak-mbak kereta memberikan informasi bahwa keberangkatan untuk kereta Sri Tanjung ini akan kembali bermula pada pukul 14.00 WIB, yang mana berarti kami memiliki waktu 40 menit untuk… YA UNTUK NGAPAIN. MENDING LANGSUNG GAS SAJA AGAR KAMI BISA LEKAS SAMPAI DI BANYUWANGI HEH!

Tapi karena itu sudah menjadi kebijakan kereta api dan saya bukan masinis, kami pun akhirnya memilih untuk menikmati masa-masa rehat sejenak di Surabaya Gubeng ini. Setelah hanya bisa duduk selama hampir 6 jam, kami pun beranjak dari kursi kereta dan keluar untuk menghirup udara segar. Ternyata yang saya rasakan… Surabaya itu panas rek, aslik. Nggak tau sih ini aslinya panas atau itu karena saya sedang berada di dalam stasiun.

Di luar kereta, kami berjalan keluar stasiun untuk membeli camilan di Alfamart yang berada di bagian ruko-ruko pelataran luar stasiun. Sambil sesekali melihat jam dan beberapa kali bertanya kepada petugas kereta perihal apakah keberangkatan kereta Sri Tanjung beneran pukul 14.00 atau tidak.

Ya, saya itu tipikal orang yang teramat sangat takut dengan istilah ketinggalan kereta. Nggak tau kenapa, setiap kali keluar kereta dan istirahat sebentar di luar, saya selalu tidak tenang dan tidak pernah ingin jauh-jauh dari kereta. Takut ditinggal. Itu saja. Padahal, di jadwal sudah jelas kalau berangkatnya Sri Tanjung akan dimulai pukul 14.00 WIB.

Ehehe.

Setelah membeli beberapa camilan dan mampir sebentar di toilet, kami berdua pun kembali masuk stasiun untuk mendekat kembali ke kereta. Di peron itu, ada banyak penumpang lain yang memilih untuk duduk-duduk di dekat sana sambil merokok. Kami berbaur dengan mereka, dan beberapa kali sempat mengobrol basa-basi. Termasuk dengan mas-mas yang sedari tadi duduk di depan kami dan pasti merasa amat sangat risih dengan keberadaan kami.

Diobrolan tersebut, kami jadi tau, si mas-mas itu ternyata berasal dari Jember dan barusan naik dari Stasiun Klaten karena beliau baru saja menemui tunangannya yang dipindahtugaskan disana. Sweet sekali kaaaaaan. Disela-selaaa itu, saya langsung bilang ke masnya :

‘Waadaaaw, masnya menemui tunangannya. Sweet. Kita tunangannya kapan yaaaaaa uwuuw’

BANGSAT MEMANG. KENAPA SAYA MENGGELIKAN BANGET SIH ORANGNYA. TIDA TAU MALU JIJAY ANJAY.

Disela-sela obrolan kami dengan beberapa penumpang, tiba-tiba si pacar melihat salah seorang penumpang yang tangan kanannya menggenggam satu plastik berisi siomay. Dia menggenggam tangan saya dan bilang :

‘Beb, itu pada beli siomay dimana ya?’

Mendengar pertanyaan itu, saya langsung celingukan mencari penjual siomay yang ada di luar pagar stasiun kereta. Tidak ketemu. Akhirnya, untuk memberi kelegaan kepada pacar, saya pun menjawab.

‘Nggak tau, beb. Nggak ada yang jual. Mungkin itu mereka meraciknya sendiri di sana’

Setelah itu, saya langsung mengajak si pacar untuk kembali masuk dan duduk di kursi kereta, sebelum ucapan : ‘pengeeeen siomay’ terucap dari mulut sang pacar, yang tentunya akan sangat merepotkan untuk saya apabila harus membeli tepung kanji dan meraciknya sendiri.

Kereta pun akhirnya berangkat tepat pada pukul 14.00 WIB dari Stasiun Surabaya Gubeng. Menurut jadwal, untuk bisa sampai ke stasiun tujuan akhir Banyuwangi Baru, kami masih harus bersabar selama 6 jam 50 menit lagi.

Fyuh.

Lama, ya?

Sudah 2132 kata, tapi ini cerita ini baru sampai di Stasiun Surabaya Gubeng. Terbayang betapa melelahkannya perjalanan dari Jogja menuju Banyuwangi, kan?

Ehe.

Selanjutnya, agar kalian tidak merasa ikutan lelah, cerita ini diakhiri dahulu dan akan dilanjutkan pada postingan berikutnya ya.

Uhuy!

Terimakasih.

Advertisements

76 comments

  1. Namanya juga perjalanan awal ya, semestinya pembaca jangan kesal karena ending ceritanya begini 😂 tapi 14 jam di kereta itu ga kebayang sih capeknya, 8 jam aja gue pegel pegel feb

    1. Hahaha, bener, Mbak. Ini saja sudah saya pecah tulisannya. Awalnya 4000 kata, terus saya pecah jadi 2 judul saja deh buat postingan berikutnya wgwgw. Baru perjalanan saja bisa dua postingan, belum isinya di Baluran nanti wgwgw 😀

      Iyaa, mbaaa. Buat saya yang baru pertama kali sih, 14 jam itu, suwer dah, lelah sekali :’)

  2. Kok gue kesel ya, berasa jadi mas-mas yang duduk di depannya itu.
    Hahaha.
    Pernah ngalamin begini, tapi gak di kereta. Ke tempat wisata couple-couple-an semua (padahal belum jd pacar juga). Trus gue dicuekin dong. Kesel gak tuh, ngapain ngajakin gue main bareng klo sampai di tempat tujuan mereka mau pasang-pasangan gitu.

    1. Hahaha, tidak usah dibayangkan bagaimana perasaan si mas-masnya, Mba :’ sedih dan kesal sekali pasti wgwgw.

      HAHAHA NGAPAAAA JADINYA ANDA DICUEKINMBAAAA. DIKACANGIN SIH, JADI OBAT NYAMUK WGWW JADI TUKANG NGEFOTOIN BIASANYA. TAU GITU GAUSAH DIAJAK YA MBA WGWGW 😀

    1. Heeeeeee, kaaaan di cerita ini saya baru menjabarkan bahwa saya sedang dalam perjalanan dari Jogja sampai Gubeng Surabaya ._.

      Belum ada nginep-nginepnya. Toh, kalau ada, saya juga nggak mau menjabarkan 😦

      Ini, saya alim ya Mba :(((

  3. Hei kalian pasangan yg sedang kasmaran, mohon pengertiannya dong. Saya mewakili mas-mas yg duduk di depan kalian pengen nyambit kalian satu per satu.
    Tapi saya beda nasib sama masnya sih. Masnya udh tunangan, sementara saya jomblo menahun. *Plak

    1. Hahaha yaaaaa, mohon maaf maaaas yaaaaa. Itu diluar kendali kami berduaaaaaaa :’

      yasudah tidapapa, masnya jomblo banyak berkah kok. teruskaaaaaaaan. dan pankapan semoga ketemu kami di kereta. HUAHUAHUA :p

  4. Lo mau honeymoon atau cuma pengin buang-buang waktu mengisi kekosongan aja sih? Kok dua hari di kereta 😂 tua dong. Liburan empat hari, kepake cuma dua hari alias YA KEMPING DI TERAS RUMAH AJA.

    Btw mbaknya baik banget mau diajak naik kereta. Gue terakhir ngajak pacar naik angkot, dia malah pesen Gojek, terus bilang, “Gojek nggak bisa bonceng tiga, aku duluan ya.”

    Bgst emang.

    1. HALAIYA GIMANAAAAAAAAA?!

      KAMI KAN EMANG LOWBUDGET, JADI MAKENYA EKONOMI. KALAU KAMI TAJIR DAN BUANG-BUANG DUIT MAH, KAMI NAIK BUROQ :(((

      Yasudah, besok saya kemping di rumah saja :’)

      HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA PACAR LO KENAPA SIH 😦 TAPI, YA LO PESEN GOCAR LAH. KALAU BISA YANG DRIVERNYA ATTA HALILINTAR, BIAR MOBILNYA KEREN.

      BGST JUGA MEMANG.

    1. Terus ngambil darimana dong, saya kan hanya menyearching kemudian memberi sumber :((

      LO AJA BARU TAU SARKEM, YA NGGAK HERAN KALAU BARU TAU JOGJA-BANYUWANGI SELAMA ITU.

      Bodoooooook, Bang. Bodok~

  5. Parah sih emang, bikin jomblo naik darah. Tapi sebenarnya mas-mas yang didepan tadi, dalem hatinya bilang, “pasti kalian merasa kasian dengan saya, padahal saya lebih berpengalaman bos!” *ketawa jahat

    Wah kalo saya jadi mas feb mah, langsung saya cari itu yang jual somay, soalnya saya juga mau makan somay wkwk sayang sih ya kereta gak kaya dulu, udah gak boleh jualan di dalem, dulu mah segala macem penjual ada di dalem kereta, pecel, jual hewan, jual kopi, nasi goreng wkwk.

    Intinya saya gak terima aja sih sama tulisan ini, karna saya jomblo *bodoamatanjir #apaansi wkwk

    1. Hahah iya anjer, secara si mas-masnya ternyata sudah tunangan. Kan keren sekali ya rekam jejaknya pasti wgwgw 😀 jadi malu saya sudah pamer kemesraan kepada si mas-mas tersebut.

      Hahabis, saya sudah nyari nggak ketemu 😦 ya masa saya harus turun ke jalan untuk mencari siomay, bang :((

      Tapi kalau zaman dahulu, agak riweuh ga sih? Jadi padet banget gitu keretanya wgwgw

      SIAAAAAAAAAP! JOMBLO ITU SEBUAH PRESTASI BANG, TENANG SAJA.

    1. Waduh, saya ingin mencicipi panasnya Makassar dong. Sini, sponsorin kami. Naik Kereta pun tak ape lah wgwgw.

      Hahaha padahal saya pun selalu iri dengan kalian yang mana sering jalan-jalan bareng :’)

  6. Heeyy, jadinya mbak pacar nggak jadi dibeliin siomay? adududuh, mbok dibeliin yo *ikut gemes* itu ki rasanya pingin bangett gitu lho.
    ((Itung-itung pemanasan buat beliin seserahan)) *lohhhhh

    Padahal pernah tuh beli cilok di Surabaya, dan nagiih. Pingin beli lagi 😀

    Ditunggu postingan berikutnyaaa :p vlognya juga sekalian.

    1. Enggaaaaaaaak :(( Habis, nggak nemu Mbak. Saya harus gimana jal jika demikian wgwgw :p Nggakpapa, langsung saya gaskeun siomay kang cepot wgwgw.

      RASA CILOK KAN SAMA SEMUA YA, ENTAH ITU DI SURABAYA ATAUPUN TRINIDAD DAN TOBAGO :((

      Siaaaap, Mbak. Tapi nggak ada vlog, yeeeeeee :p

  7. Selalu sukses bikin saya terkikik geli membaca postinganmu, Feb. Ada saja ‘suara-suara jiwa’ yang ditulis dengan penuh penjiwaan *apa coba* hahaha. Udah nerbitin buku? Saya mau beli :p

  8. ihiiiy, cantikk loooh si bebeb 😉

    btw feb, td pas baca driver gojek lg di depok, aku lgs mikirnya depok jawa barat wkwkwkwkwk… eror apa yak itu aplikasi… trnyata depok di sleman toh 😀

    isssh, baca ini aku jd inget pas msh pacaran ke Bali ama si pak suami :D… sampe tujuan, sewa motor kliling sendiri … seru sih memang liburan pas masa2 masih baru kerja gitu .. segalanya serba dihitung banget :D. tapi aku sangat menikmati 😉

    1. Aaaaaaakh, bersyukur banget kan saya bisa dapetin si bebeb 😀 ehehe.

      HAHAHA YA TIDAAAAK DEPOK JAWA BARAT 😦 JAUH AMAAAT WGWGW.

      AAAAKH, MBAK FAN SAMA SUAMI ALWAYS SUWIT DAN JALAN-JALAN YAAA. KUJADI TERINSPIRASI INGIN MENGIKUTI REKAM JEJAKMU YANG LIBURAN DI BALI AH 😛

  9. Ahahahaha… Seru perjalanannya, mas

    Pengalaman terjahanam aku naik kereta ya JKT – Malang naik Matarmaja 18 jam. BGST kan :))
    Pantat sudah teriak-teriak kepanasan, tapi itu kereta masih sopan saja kasih kereta lain yang lebih cepat lewat duluan.

    Kan ngehek :))

  10. Wkwkwkwkw…. apa ga panas sekali ya itu bokongnya. Ya Allah. Saya 10 jam Surabaya – Jakarta ada udah pengen lari-lari rasanyaaa. Ga betah duduk.

    Btw, Surabaya memang panas sekalii Mas. Yang baru pertama ke sini pasti akan kaget, panasnya ga ketulungan, 😆

    1. PANAAAS BANGET, MBAK, BOKONGNYA. ASLIIIIIK 😀 WGWG PEGEL BANGET JUGA KAKI NIH. PAKE EKONOMI KAN SOALNYA WGWGW. MAKANYA PAS SAMPAI GUBENG ITU KAYAK SURGA BANGET BISA ADA WAKTU SETENGAH JAMAN BUAT KELUAR-KELUAR BENTAR HEHEHE

      HAHAHA dirimu surabaya ya, Mbak?

      1. TAPI KAPOK GA, COBA KALAU GA KAPOK DI ULANGI LAGII KE BANYUWANGI NAIK SRI TANJUNG. Wkwkwk. capslockku ikutan jebol.

        Iyaaah. Diriku di Surabaya. Mampirlah kalau lewat lagi.

      2. BESOK KAPAN-KAPAN YAAA, KALAU SUDAH ADA NIAT MENUJU KAWAH IJEN, PASTI AKAN SAYA ULANGI LAGI NAIK SRI TANJUNG WGWGW 😀

        WAAAAA, MBA IKHA DI SURABAYAAAAA. DUH, SAYA SEMINGGU LAGI MAU KE MALANG DONG. JAUH YAAAAK ._.

      3. WKWKKW. MAMPIR SURABAYA YA NANTIII…KALAU NAIK SRI TANJUNG LAGII, MAMPIR YG LAMA BIAR MERASAKAN PANASNYA SURABAYA. hahaha. (≧∇≦)/

        WAAAAH. KENAPA GA SEKARANG AJA KE MALANGNYAAA. WKWKKW. KAN PAS AKU DI MALANG INII.
        LUMAYAN SIH, 2-3JAM-AN DR SURABAYAA (TERGANTUNG KEMACETAAAN)

      4. TAPI DI SURABAYAA SELAIN ADA DIRIMU, ADA APA LAGI? KATANYA DI SANA KAN PANAAAAS. NANTI SAYA GOSONG, KAN SEDIH.

        HAHAHA DIRIMU ULANGI LAGI DONG KE MALANGNYAAAAAAA, SAMPERIN SAYA SAMA PACAR SAYAAAA. SAYA JANJIAN SAMA MBA VERA JUGA NIH, INSYA ALLAH MAU KETEMUUUUU

      5. ADA PATUNG SURO SAMA BOYO. wkwkwk
        GAMPANG, NTAR AKU PINJEMIN TEROPNYA PAK RT BIAR MAS FEBRI TIDAK GOSOONG. 😛

        JADWALNYA KE NGAWI SUDAHAAN, MUDIK. HUHU.
        YAAA BAKALAN SERU ADA MBAK VEE JUGAAA, SEDIH GABISA IKUT :((((

      6. YAAA NGAPAIN KE SUROBOYO KALAU HANYA UNTUK MENUJU KE PEPATUNGAN DAN PANAS-PANASAN :(( SEDI RASANYA.

        YAAAAAAAAH, SUDAH HENDAK MUDIK YA MBAA YA. YASUDAH DEEEEEH :’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s