Dia Pacarmu, Feb?

Di dunia ini, ada banyak sekali hal yang agaknya sangat sulit untuk diterima antar orang satu dengan orang lainnya. Itulah yang pada akhirnya membuat seolah-olah penduduk di muka bumi ini terpecah atas beberapa golongan hanya karena perbedaan pendapat, kesukaan, prinsip, prioritas hidup, dan lain-lain sebagainya.

Itu wajar?

Ya, amat sangat wajar. Kita tentu tidak pernah bisa memaksa orang lain untuk memilih sesuatu yang kita pilih, atau menyetujui sesuatu yang kita utarakan. Alasannya, karena kita sendiri jika diminta untuk memilih hal yang orang lain pilih atau menyetujui sesuatu yang orang lain utarakan juga ogah-ogahan. Jadi, ya yasudah dong ya? Santai saja.

Yang tidak wajar adalah ketika hanya karena perbedaan tersebut, lantas beberapa pihak merasa terintimidasi dan berakhir dengan adu argumen yang menimbulkan permusuhan tak berujung.

Itu tidak wajar, tapi sudah banyak kejadian yang demikian. Seolah-olah, mereka mewajarkan hal yang sesungguhnya tidak wajar. Ngeri bukan?

Yaaaa, iya. Tapi, saya nggak mau membahas masalah kengerian tersebut atau hal yang lebih kompleks mengenai perbedaan. Jadi, stop sampai di sini. Saya mau curhat dulu.

Okay.

Beberapa hari terakhir ini, saya sering menuliskan sesuatu pembahasan yang titik fokusnya mengacu tentang pacar, hubungan, dan hal-hal najis di dalam hubungan pacaran entah di twitter ataupun blog. Hal yang demikian pun pada akhirnya membuat orang-orang yang mengenal saya lantas langsung mempertanyakan apakah saya serius menulis pembahasan itu karena beneran saya punya pacar, atau saya menulis pembahasan tersebut hanya untuk melegakan hati bahwa sebenernya… LU ITU NGGAK PUNYA, FEB. TAPI BIAR TERLIHAT LAKU AJA AKHIRNYA LU NGARANG CERITA. IYA, KAN? IYA, KAN?

Kampret.

Saya sebenernya tidak menghiraukan omongan semacam itu sih, karena bagi saya, itu bukanlah sebuah omongan yang harus saya anggep serius kemudian dibuatkan tulisan khusus sebanyak 8000000 kalimat untuk mengklarifikasinya. Enggak. Saya tau itu bercandaan teman-teman saya, dan saya paham betapa kampretnya cara bercanda mereka.

It’s awkay.

Lagipula, saat itu saya belum punya koleksi foto berdua sama si pacar untuk kemudian saya posting di media sosial. Jadi, santai sahajalah ya.

Saya sebenernya heran aja sih, kenapa ketika pertama kali saya menuliskan sesuatu tentang pacar di twitter, tiba-tiba beberapa teman saya langsung mereply tweet saya tersebut dengan respon yang hampir sama, yaitu :

‘Pacar?’

‘Pacarnya temen ya maksudnya?’

‘Ngayal, Feb’

Errrr… gimana ya ngomongnya, tapi… YA HELLOW, MASA SAYA TIDAK BOLEH SIH NGETWEET TENTANG PACAR-PACAR GITU, BUSET? SULIT DITERIMA SEKALI YA MEMANG, MUKA SEPERTI SAYA BEGINI BISA MENDAPATKAN SEORANG PACAR YANG ULALA CIKIDAW-CIKIDAW.

Saya kalau jadi orang lain, mungkin juga akan merespon dengan cara yang sama sih tapi.

Pffft.

Kegiatan menuliskan tweet tentang pacar di twitter pun masih beberapa kali saya lakukan, pun respon kampret dari teman-teman saya masih terus bermunculan. Sampai akhirnya, momen dimana saya memiliki foto berdua bareng si pacar pun tiba. Seketika, saya pun berkeinginan untuk memposting salah satu koleksi foto kami berdua itu di Instagram. Tapi sebelumnya, demi kebaikan dan harga diri si pacar, jelas, saya harus melalui izin si pacar terlebih dahulu untuk kemudian saya bisa beneran posting foto tersebut di instagram. Setelah izin didapatkan, saya pun berkali-kali mencoba meyakinkannya dengan kalimat-kalimat :

‘Saya beneran boleh posting foto ini di instagram, kan?’

‘Apa kamu beneran yakin, kamu ngebolehin saya posting foto ini di instagram?’

‘Apakah kamu mengizinkan saya posting foto ini di instagram ini dengan keyakinan penuh 100% derajat celcius?’

Setelah saya yakin bahwa si pacar telah amat sangat sadar mengizinkan, dengan paham akan apa yang kelak kan terjadi nantinya di kolom komentar (karena ya kampretnya followers twitter dan instagram saya orangnya itu-itu saja), maka saya pun langsung memposting foto tersebut di instagram.

Jeng jeng…

Febri Nadya Ya Kan Ya

Dan benar saja, belum genap satu hari setelah foto itu terposting di laman instagram, komentar demi komentar bermunculan satu persatu, hingga pada puncaknya mencapai angka 42 komentar. Dan gimana komentarnya? Jelas aja, hampir semua isinya adalah bangkai seperti:

‘Itu kamu nyewa dimana mbaknya buat foto bareng?’

‘Sabar ya mbak ya…’

‘Kenapa tanganmu di selangkangan?’

‘Mbaknya cantik, yang kiri…

Wadefak abis memang teman-teman saya ini. Tidak berperikemanusiaan dan berperikeorangjelekan.

Tapi disini, saya tidak mempermasalahkan apapun sih. Karena menurut saya, sah-sah aja untuk mereka berkomentar demikian. Karena… YA KARENA ANEH SAJA GINI KAN MANUSIA BERPARAS TAPIR GULING SEPERTI INI YANG PADA MASANYA SERING NGELUH JOMBLO TAI KUCING, EH TAU-TAU BAHAS MASALAH PACAR DAN POSTING FOTO BERSAMA SEORANG PEREMPUAN BERPARAS CANTIK AMPUN-AMPUNAN.

Yaaa, penilaian orang yang kaget dan nggak nyangka itu amat sangat wajar dong. Saya juga pasti akan berkomentar atau kaget begitu sih, kalau misal punya teman yang mukanya seadanya tapi foto bareng perempuan cantik dan diakui sebagai pacar.

Oh, brati itu apa yang kamu dapatkan itu lebih ke Karma sih, goblok.

Hmm… ya apapun itu lah kampret.

Komentar Sinis Mengejek

Source : Gadis.co.id

Nggak cuma di media sosial sih komentar-komentar semacam itu muncul. Bahkan di kampus, beberapa teman yang memfollow instagram saya memilih untuk bertanya langsung kepada saya dengan nada pertanyaan dilengkapi dengan ekspresi penuh keraguan :

‘Perempuan yang kamu posting kemarin itu… Pacarmu, feb?’

‘Kok bisa ya Feb, dia mau jadi pacar kamu?’

‘Kamu nemuin dukun dimana, Feb?’

Sampah semua mereka. Kejam sekali mulut teman-teman saya ini memang.

Di titik ini, saya sebenernya benar-benar tidak terlalu memasukkan ke hati karena saya sudah amat terbiasa dengan hinaan atau ejekan seperti ini. Justru kadang, saya malah mencari-carinya sendiri dengan postingan atau tingkah sampah saya di instagram. Selow saja. Tapi yang saya pikirkan adalah, gimana nasib pacar saya di kemudian hari, tepat ketika dia tiba-tiba berkata :

‘Saya boleh posting foto kayak kamu, kan?’

Mendengar pertanyaan tersebut, sebenernya saya amat sangat membolehkan dan terlebih lagi amat sangat senang karena pada akhirnya saya diakui. Tapi disatu sisi, saya langsung mengajukan pertanyaan beruntun yang antara lain mencakup :

‘Boleh kok, tapi kamu yakin mau posting foto kita berdua itu?’

‘Seriusan kamu mau posting foto berdua di instagrammu?’

‘Apa kamu benar-benar dalam keadaan sadar 100% saat berkeinginan untuk memposting foto kita berdua itu?’

Pacar saya pun mengiyakan, lalu saya menunggu dan menunggu sambil berkali-kali merefresh home instagram guna melihat bagaimana reaksi teman-temannya saat memposting foto bersama lelaki bertampang tidak karuan seperti saya.

5 menit kemudian… tidak ada postingan apapun darinya.

1 jam kemudian… tidak ada postingan apapun darinya.

1 hari kemudian… tidak ada postingan apapun darinya.

1 minggu kemudian… PACAR SAYA KAMPRET YA, DIA TAU BANGET CARA BERMAIN AMAN. BILANG DONG KALAU MEMANG TIDAK INGIN POSTING, SAYA KAN JADI TIDAK REPOT-REPOT NGEREFRESHIN INSTAGRAM BERHARI-HARI.

Pffffft…

Ekspresi Sedih

Source : tvtime.com

Sampai pada masanya, di suatu hari yang tidak terduga, kira-kira satu dasawarsa kemudian, Pacar saya memposting foto berdua dengan saya. Saya otomatis kaget dong saat tau-tau melihat postingan tersebut. Saat saya lihat kolom komentarnya, ajaib, tidak ada banyak komentar di postingan tersebut. Hanya ada sekitar 2 komentar, dengan saya salah satunya.

Setelah itu, kami pun ketemuan dan sempat membahas perihal postingan instagramnya begitu. Disitu pacar saya menyatakan bahwa di postingannya memang tidak ada banyak komentar masuk, namun, beberapa teman-teman pacar saya lebih memilih untuk berkomentar melalui DM saja untuk berdemo perihal foto tersebut. Isinya? YA MANA SAYA TAU YA. ITU PRIVASI PACAR SAYA DAN TEMAN-TEMANNYA, JADI, YA SUDAHLAH YA.

Tapi jika bicara masalah perbedaan yang terjadi antara saya dengan pacar saya, hal itu jelas terlihat dari bagaimana cara teman-temannya memperlakukannya. Untuk tipikal pacar saya yang orangnya emang friendly abis dan baik ke semua orang, lengkap dengan kepemilikan wajah yang duh menurut saya cantik tidak ketulungan, dia paling sering dimodusin oleh teman-teman dekat atau bahkan orang yang tidak dikenalnya. Contoh beberapanya adalah yang pernah dia tunjukin ke saya.

Kala itu, melalui pesan wasap, pacar saya mengirim sebuah pesan, lengkap dengan bukti screenshootan DM dari seorang cowok.

‘Beb, ada yang nge-DM saya. Masa dia tiba-tiba bilang kalau suka sama saya gitu’

Saya yang mendengar fakta tersebut sejujurnya sih merasa wajar dan jelas agak gimana gitu ya. Tapi saya lebih memilih untuk meresponnya dengan balasan.

‘Buset, serem amat sih itu wgwgw’

Ya buset ya, maksudnya kayak… ih, serem ga sih, tiba-tiba dapet DM dari seseorang yang bilang suka gitu-gitu? Awkay sih, wajar, tapi… SAYA NGGAK PERNAH BEGITU ANJER. MENTOK-MENTOK SAYA DAPET DM YANG ISINYA PALING KAYAK :

‘FEB, MUKE LU KAYAK KETEK TAPIR’

Kan taek ya?

LAGIAN SEJAK KAPAN TAPIR ADA KETEKNYA, ANJENG IH!

Ketek Tapir

Source : wikipedia.com

Tapi itu sih yang menjadi perbedaan antara saya dengan pacar saya. Sebagai lelaki yang pada hakikatnya amat sangat sulit untuk mendapatkan sesesok perempuan dan berulang kali ditolak entah karena freak, tampang tidak jelas, tidak asik, dan lain-lainnya, saya jelas ketika sudah punya pacar, boro-boro ada yang mau mendekat. Lhawong dulu pas sendiri aja perempuan-perempuan pada menjauh gitu.

Kebalikannya dengan dengan saya, si pacar saya justru sampai saat ini masih ada aja yang mencoba mendekati atau memodusi. Beberapa ada yang minta ketemu dengan tawaran ta’arufan, beberapa ada yang dengan amat santai mengajak untuk liburan bareng, beberapa lainnya ya entah dengan modus yang seperti apa.

Tapi bagi saya pribadi, itu merupakan hal yang wajar ketika ada seorang lelaki yang mencoba mendekati perempuan dan mengusahakan yang gimana-gimana. Itu hak mereka. Terlepas dari bagaimana seharusnya berlaku kepada orang yang pada hakikatnya sudah memiliki ‘pacar’ pun, itu tergantung dari watak dan sifat mereka. Beberapa kan ada yang kemudian berdalih :

‘Alah, baru juga pacar. Masih ada kesempatan selagi janur kuning belum melengkung’

 

Okay.

Semua wajar.

Selebihnya, saya menyerahkan semuanya ke pacar saya sih mau gimana-gimananya.

Sepenuhnya juga, saya memberikan seluruh kepercayaan saya kepada dia akan bagaimana selanjutnya.

Dia perempuan, dan dia yang akan terus dicari-cari oleh kaum adam.

Saya laki-laki, dan saya yang mengusahakan agar pacar saya itu tidak pergi.

Kami?

Putra-putri Indonesia, dan kami yang akan sama-sama saling bertahan lalu terus memperjuangkan.

Saling Memperjuangkan dan Mempertahankan

Source : inovasee.com

Gitu ya kan?

Huahua.

Terimakasih.

Jadi, dia pacarmu, Feb?

HEEEEEEE??????!!!!

HALAIYA BUSET, SAYA SUDAH NULIS PANJANG-PANJANG, EH ANDA MASIH TIDAK MENGERTI JUGA? SUDAH AH, SAYA FOKUS MENANAM KANGKUNG DULU SAJA.

HISH.

Terimakasih lagi.

Advertisements

65 comments

  1. Ya kan pasangan itu nggak mesti sama. Kaya sendal itu sepasang kan ada yang kanan, ada yang kiri. Nggak kanan semua, atau kiri semua.

    Yang satu cakep, yang satu rada cakep *eh. Yang satu nggak sabaran, yang satu lebih slow, dan lain-lainnya. Intinya sih saling melengkapi.

    Turut berbahagia Feb, langgeng selalu yaaa kalian :))

  2. Sejarah baru tercipta
    Febri alias Dwi alias Gumilar alias Cahyono memiliki seorang pacar
    Ini akan tertulis dibuku sejarah
    Dan bab hubungan mereka mulai dari kenalan sampai sekarang ini akan dijadikan materi sekolah
    Dan ini akan dimasukan ke dalam ujian internasional
    Wah hebat kami Feb
    Semoga saya bukan mimpi

  3. Saya sebagai ketua perhimpunan jomblo mulia atau mati syahid secara resmi mengeluarkan saudara febri dwi cahya dari keanggotaan. Hal2 administrtif lainnya akan diurus secepatnya dalam tempo yg se-singkat2nya.

    Hahaa, semoga bisa cepet dihalalin (dibawa ke mui dong buat dicap?)

  4. Yah, berkurang temen seperjombloan. Tapi emang ngeselin sih, dulu ada yang sampe nanya “kok mau sama si asep?”

    Sejelek itu ya saya. Emang jelek sih. Semoga cepet nikah bang kalo udah wisuda.

  5. W ngajak dong 🤣🤣🤣

    Nah seriusin Mas, mumpung bisa diusahakan.. keduluan orang lain kan repot.. semangat!

    Aku tak akan menghujat kok.. tapi terlihat dari foto emang kayak kopi susu ya 😅

  6. HAHAHAHAHAHA kasyaaand pada meragukan febri punya pacar 😏😏

    Btw

    If someone asks you why I want to be with you, just tell them to read my previous post, so that they could understand why I love you so dearly. :)♥

    1. Pfffffffft, yaaaaaaa ya beginiiiii niiiiih. Lihat sahajaaaaa yaaaaaa :’ mustahil sekali kan jika saya sudah mendapatkan yang terbaik seperti anda, lantas saya menyia-nyiakan. Sabar ya 🙂

      Tersweet kamu ih ♥

  7. Saya udah jarang atau mungkin udah males lagi bercanda tentang hubungan gitu, sih. Kalau masih meributkan tampang begitu, emang yang boleh pacaran cuma orang-orang cakep? Meski tidak munafik kalau saya sendiri pun masih melihat fisik (terutama wajah), tapi cinta kan anugerah yang tiba-tiba datang. Toh, soal suka begitu kita juga masih bisa melihat kepribadian orangnya. Lagian, kita enggak bisa berencana mau jatuh cinta sama siapa, terus orangnya mau yang kayak gimana. Urusan bisa jadi pacar atau enggak, itu udah masuk persoalan lain, kan?

    Namun kalau udah kadung cinta, terus kita mengelak sama perasaan hanya karena dia bukan tipe pacar idaman, pasti sangat repot. Yang ada menyakiti diri sendiri. Wqwq.

    Selamat, Feb. Uwuwuw~

  8. temen-temennya usil banget ya hehe, gak ad afoto dibilang ngayal, ada foto dibilang pinjem, hadeuhhh, tapi si mbaknya mau dipasang foto dengan mu itu tandanya dia sayang, kalo aku dulu gak mau soale belum jelas statusnya bakalan jadi suami istri apa enggak XD ntar kalo putus repot minta hapusin, syukur alhamdulillah ternyata berjodoh jadi pak suami saya sekarang ahha

  9. Kok saya sedih ya bacanya, hahahah 😆
    Kalo saya digituin ya tetep bakal nyantai aja.
    Soalnya dari dulu emang gak suka publish soal pasangan, selalu tertutup.
    Karena buat saya gak perlu semua orang tahu, wkkwkw 😆

  10. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

    Makasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s