Perdebatan Perihal Make-up dan Sisir Alis.

‘Iiiiih, aku itu belum pake make-up. Malu ah mau keluar.’

‘Sebentar ya, aku mau pake make-up dulu. Dua jam.’

‘AKU HARUS MENABUNG UNTUK MEMBELI SKII KUALITAS ULTRA.’

Saya sebenernya tipikal orang yang tidak begitu mengerti, kenapa pihak perempuan terlihat amat sangat mengagungkan perihal make up dan alat kecantikan lainnya. Seolah-olah, rasa percaya dirinya timbul dari olesan primer, foundation, bedak, eye shadow, blush on, lipstik, dan lain-lainnya.

Okey sih, nggak semua perempuan.

Dan, okey juga sih, saya nggak kemudian yang melarang atau mencibir yang gimana-gimana. Tapi, bukannya kalian para perempuan emang sudah amat sangat cantik dari sononya ya?

‘IYA! TAPI AKOH MAOH TAMPIL LEBIH CANTIK LAGEH!’

‘ENGGAK! AKOH KALAO TIDA PAKAI MAKE UP MUKAKNYA KAYAK ZOMBIEEEEE HIIIII. MAKANYA MAKE UP ITU PENTING’

‘GOMBAL LU, ANJENG’

I… Iya… Okey. Maap. Maap.

Nggapapa sih sebenernya. Bermake-up dan percantiklah diri kalian semaksimal mungkin. Toh, itu juga untuk kebahagiaan kalian kan ya?

Perempuan berdandan

Source : Uchieveopen

Lagipula, pandangan saya perihal bagaimana hubungan antara perempuan dengan make-up ini tiba-tiba diluluh lantahkan begitu saja oleh perempuan ini, tepat beberapa minggu sebelum kami jadian.

Begini awal mulanya…

Saya bertemu dengan dia di sebuah tempat makan yang ada di Jogja, namun dengan garis lintang dan bujur yang berposisi agak sedikit menjorok ke arah Bantul. Kala itu pukul 18.30 WIB, saya menunggu sendirian di sebuah meja nomer 27 dengan menu yang masih saya pegang dan saya bolak-balikkan. Sesaat kemudian, perempuan itu datang, dengan kemeja hitam berbalutkan jaket baseball, pun dengan wajah yang tertutup rapi oleh jilbab abu-abu agak tua, lengkap dengan kacamata lensa yang menghias rapi di wajahnya.

‘Hai’ Sapanya dengan wajah yang seolah agak bersalah karena telah membuat saya menunggu hampir setengah jam lamanya.

‘Haaaaaaaaaai’ jawab saya dengan sumringah, seolah tidak pernah menyangka ada perempuan cantik yang mau menemui saya.

Dia pun duduk di depan saya. Totebag yang sedari tadi dia jepit di antara ketiaknya pun diletakkan di atas meja. Dia memandang saya, sebelum kemudian melihat menu-menu yang masih saya pegang. Dalam sekejap saja, saya langsung memanggil waiter untuk mencatat menu yang sudah kami tetapkan dan ingin kami pesan. Setelah semua terpesan, kami kembali duduk berhadapan. Mata kami bertemu, suasana ramai yang sedari tadi berkeliaran disekitar pun saya abaikan. Sampai sesaat kemudian, dia berucap pelan.

‘Eh sebentar’

Tangan kanan dia merogoh totebag yang ada di atas meja, disambutnya bedak make-up (sowry ya, saya nggak tau itu namanya apa, pokoknya yang kalau dibuka itu sisi bawah bedak sama peratanya dan sisi yang berdiri itu kaca bulet gitu), kemudian dia berkaca dan membenarkan apa yang menurutnya kurang rapi atas apa yang ada wajahnya.

Saya tersenyum melihat tingkah tersebut, dan, disitulah awal mula saya menyadari bahwa perempuan di depan saya itu sangat menyukai dunia per-make-up-an, yang mana membuat saya akhirnya ikut tertarik akan suatu hal tentang make-up.

.

.

.

No.

Sebelum ada manusia-manusia yang beranggapan terlalu berlebihan akan ketertarikan saya terhadap make-up ini, lalu mengira yang tidak-tidak, maka saya akan menjelaskan sedikit tentang ‘ketertarikan’ itu.

Jadi, saya tertarik dengan dunia make-up hanya karena penasaran saja, bukan tertarik karena saya ingin ngondek dan ingin berdandan dengan make-up tebal layaknya bencis Taman Lawang sambil bawa kecrekan.

banci bedakan

Source : bachrullaugh

Tidak teman-teman.

Tidak.

Saya masih normal.

Tenang saja.

Saya beruntung bertemu dan ‘jadi’ dengan perempuan ini, karena mungkin dia adalah perempuan tersabar yang mau dengan sukarela menjelaskan secara detail mengenai perbedaan alat-alat make-up, pun lengkap dengan kegunaannya kepada laki-lakinya.

Peralatan Make Up

Source : jakmall.com

Walau jika ditilik lebih dalam, kesukarelaan dia yang mau menjelaskan perihal make-up kepada saya itu sebenernya berawal dari kegoblokan saya, yang kala itu secara semena-mena mencicipi rasa lipcream miliknya saat pertemuan kami yang ketiga kalinya.

Saya inget banget gimana proses kegoblokan itu terjadi. Kala itu dia membuka pouch berisi peralatan make-up miliknya, yang kemudian saya tanya satu persatu mengenai apa dan bagaimana fungsinya. Sampai akhirnya, pandangan saya pun tertuju pada satu buah lipcream beraroma coklat yang kayaknya enak banget parah. Karena penasaran, saya pun mengoles lipcream itu dengan telunjuk, lalu memasukkannya ke mulut dengan beringas.

Rasanya?

HAMBAR TAEK.

Udah gitu, saya langsung dikeplak sama dia.

Eman-eman katanya.

Yaaaa, ya maaf.

Setelah kegoblokan itu, kira-kira 1 minggu kemudian, dia pun kemudian memberikan sebuah link yang mengarah ke video dari channel Female Daily Network, yang mana disitu berisi tentang cowok-cowok sedang mencoba menebak-nebak harga make-up yang biasa dipakai oleh perempuan.

Alhasil, setelah menonton video tersebut, saya pun secara tumakninah telah berhasil mengumpat-ngumpat ke dia melalui pesan chat WA, tanpa ucapan maaf terlebih dahulu atau setelahnya.

Kesal sekali rasanya.

Maksudnya…

APAAN-APAAN ANJER, MAKE-UP ADA YANG HARGANYA SAMPAI JUTAAN BEGITU 😦

SEDIH RASANYA.

ALIAS, MISKIN SEKALI SIH SAYA LIHAT HARGA MAKE-UP YANG SEGITU SAJA MENGUMPAT 😦

Selain memperkenalkan saya pada dunia make-up dan akun female daily, dia pun juga menunjukkan kepada saya perihal Suhay Salim, sesosok beauty vlogger paling ceplas-ceplos yang pernah saya lihat, karena… YA KARENA SAYA LIAT VIDEO TENTANG BEAUTY VLOGGER  JUGA BARU SUHAY SALIM DOANG.

Biasanya mah, saya buka youtube cuma buat denger musik atau video rekaman orang ndesah saat order ayam KFC.

Sampah.

Karena diperkenalkan dengan dunia make-up, saya secara pribadi pun makin menghargai tentang bagaimana hubungan perempuan dengan make-up. Maksudnya kayak, saya jadi nggak sembarangan lagi untuk asal cocol lipcream miliknya atau asal ngomentarin ‘IH APAAN SIH MAKE-UP-AN SEGALA’. Karena menurut saya… YA NGAPAIN SIH ANJER.

Ehehe, kagak-kagak.

Saya sepenuhnya paham kok, kenapa perempuan memilih untuk menggunakan make-up. Toh, ngga setiap hari juga kan ya. Lagian, make-up-an itu juga susah deh perasaan. Jangankan make-up-an deh. Untuk sekelas yang mungkin paling sederhana saja, yaitu ngalis, bagi saya itu hal yang sulit banget sih.

Jadi, bagi siapapun perempuan disini yang membaca dan ternyata anda bisa ngalis…

Saya hormat sehormat-hormatnya kepada kalian.

Kalian sungguh teramat sangat dewa.

Saya pernah nyoba ngalis sendiri pake spidol dan sekalian sok-sokan ikut trend freckless, jatuhnya kayak…

Freckles Keren

YA GARIS DOANG ANJER INI APAAN SIH BANGSAT.

Selain paham akan make-up, pembelajaran mengenai make-up ini membuat saya makin sering berdebat dengan dia setiap kali ada pembahasan sedikit tentang make-up. Contoh sederhananya adalah saat saya mengantarkan dia ke Malioboro Mall dan masuk ke sebuah tempat yang isinya tentang peralatan make-up gitu-gitu.

Disana, saya seperti seorang anak umur 7 tahun yang sedang berada di toko mainan, tapi dijaga oleh ibuknya dengan amat sangat ketat.

Setiap kali saya melihat peralatan make-up yang bagi saya menarik, dia pun langsung melototin saya seolah-olah memberi tanda agar saya tidak macem-macem seperti menyemilin isi make up atau lipcream lagi.

Saya pun nurut dan langsung tunduk.

Akan tetapi, ketidaknurutan saya pun akhirnya terjadi saat saya sedang berjalan di belakang dia yang sedang mencari alat make-up, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah produk yang bagi saya kayak… ANJER INI KAGAK GUNA BANGET FUNGSINYA, SEMPAK.

Sisir alis.

Fyuh…

Itu yang di gambar lebih kayak pembersih keyboard laptop tidak, sih?

Sebelumnya, mohon maaf banget nih ya, buat perempuan siapa saja yang mungkin tiap bangun pagi atau habis mandi atau mau pergi gitu suka nyisirin alisnya. Tapi, saya mau nanya banget nih, sungguh, alis itu mentok kalau berantakan itu bakal kayak gimana sih? Kenapa harus disisir? Lagian, kalau alis berantakan itu kan nggak langsung yang kayak ngerusak estetika di wajah kalian kan?

Eh, iya nggak sih?

Sebenernya sih, kesan saya saat pertama kali melihat sisir alis itu biasa aja karena awalnya saya kira itu kayak alat buat menicure pedicure gitu-gitu. Tapi pas saya nanya ke dia sambil nunjukkin produk itu, eh dia langsung bilang.

‘Itu sisir alis, Beb. Buat ngerapiin alis gitu’

Saya otomatis langsung kayak merespon dengan tidak santai gitu dong. Nggak percaya dan buat apaan ya anjer produk semacam itu. Saya bahkan sampai nanya ke mbak-mbak penjaganya, yang kemudian langsung membela pacar saya bahwa keberadaan sisir alis itu memang benar adanya.

Saya rasa, itu karena penjaganya seorang perempuan saja, makanya dia membela. Mungkin kalau penjaga toko make-up itu lelaki tulen berjenggot lebat dengan celana congklang dan bersendal bakiyak, pasti… YA NGAPAIN LAKI TULEN BERJENGGOT JAGA TOKO MAKE-UP SEH.

Huft sekali memang.

Tapi terlepas dari apapun yang memang menjadi perselisihan antara saya dengan dia mengenai dunia make-up atau apalah itu namanya, saya sejujurnya menyukai hal itu. Sungguh. Hubungan kami jadi kayak lebih berisi aja gitu tentang ejek-ejekan atau debat masalah make-up.

Terimakasih, make-up.

Perihal selanjutnya…

Ya doakan saja.

Haha.

Terimakasih.

Mari ber-make-up.

Advertisements

33 comments

  1. Hahaha
    Aku juga hormat sama mereka yang bisa pakai alis sama satunya eyeliner. Aku pernah kecolok pas sekalinya make eyeliner,
    Apalah aku adalah barisan yang ga suka bermake-up macem-macem. 😂

  2. Feb, itu freckles apa jerawat batu? Hahahhaa.. eh, tp km keren loh bisa tau SK II sampe Tote Bag segala!! Suami aku aja ngira tote bag itu kantong keresek wkwkwk.. btw aku pake tuh merk SK II tp yah ternyata produk mahal hasilnya biasa aja ke kulit, ga bikin kulit aku jd sebening kristal ky di iklannya 😭 akhirnya aku balik lagi deh ke produk murahan, kulit aku emang pengertian sama isi dompet 😍😍

    1. Jerawat batu kek gimana juga anjer ggwgw 😀

      Iya, dong. Saya kan riseeet wgwgw. Hahaha suamimu kok kocak, mba :’ padahal kan totebag dari kain gitu ya, bukan plastik wgwgw 😀

      TERBERUNTUNGLAH DIRIMUUUUU SKINCARENYA COCOK SAMA YANG MURAH :p

  3. Make up gue adalah filter VSCO. Tunggu, jangan tertawa! Ngedit di VSCO itu butuh ketelitian tingkat tinggi. Makanya kalau Anda nemu post selfie di IG dengan tagar #VSCO tapi mukanya kayak abon, itu artinya dia nggak baca tutorial. Dan ngasal.

    Gue sendiri kalau ngedit di VSCO bisa makan waktu sekitar ya… 3 atau 4…. hari lah. Emang susah.

  4. Anjaaaayyy
    Video mendesah saat order ayam kfc wakakakakaa aku pernah denger btw:(

    Dan itu goblo bgt sih sampe nyobain liptint ke mulut. Pengen minta mba pacar buat keplak bangfeb bolak-balik rasanya hadeehh
    Untuk faklesnya, hmm bagus. Tapi lebih bagus ditaburin ke seluruh wajah. Tengkiyu. 😦

  5. Keresahan ini kayaknya pernah saya baca di Twitter kamu, Feb. Terus dibales sama mbaknya. Hahaha.

    Belum pernah pacaran sama perempuan yang begitu antusias terhadap make up, sih. Jadi nggak ada pengalaman tentang tata rias wajah ini dan belum sempet nanya-nanya gitu. Tapi nyaris mau cobain lip balm atau lip cream punya temen cewek gitulah seperti kasusmu. Cuma karena baunya wangi permen. Syukur nggak kejadian. XD

  6. Krn aku tipe perempuan yg ga bisa menggambar alis, jd aku termasuk yg mempertanyakan, itu sisir alis seberapa ptg sih manfaatnya hahahahaha. Bener sih feb, emangnya seberantakan apa itu alis sampe disisr segala. Kecuali ada cewe yg alisnya panjang menjuntai, naah baru deh sepertinya perlu :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s