Jadi, Siapa Lagi yang Ingin Mati?

‘Kamu bahagia ya…’

‘Wah, hidupmu kok enak banget sih…’

‘Dia nikmatin ketenarannya banget ya. Pasti seneng…’

Saya pernah mendengar kalimat-kalimat itu terucap dari satu, dua, atau bahkan tiga mulut orang, yang kala itu sedang melihat prestasi, kemapanan, dan popularitas dari orang-orang lainnya. Seolah-olah, dari apa yang dlihat secara kasat mata,  itulah satu-satunya hal yang bisa dilihat dan dinilai seenak jidat. Tanpa terlebih dahulu berpikir perihal latar belakang, masalah apa yang menerpa di hari sebelumnya, pun beban apa yang sedang dia tanggung kala itu.

Padahal, jika kita mau untuk berpikir sedikit terbuka, mungkin kita akan mengerti bahwa setiap orang yang kita lihat dari tampilan luarnya saja, mereka selalu mengenakkan baju rangkapnya sendiri. Entah itu berkainkan masalah berat yang membebankan hidupnya, uneg-uneg jengah yang mengacau pikirannya, hingga rasa keinginmatian yang acap kali membisikinya dalam kelam pukul 12 tengah malam.

Seperti yang semestinya, kita tidak akan pernah tau masalah yang menimpa orang lain, sebagaimana orang lain tidak akan pernah mau memperlihatkan masalah yang menerpanya.

Mereka Yang Lelah Dalam Hidupnya, Akan Terus Mencoba Mencari Bahagianya.

Diantara dari kita mungkin pernah melihat, bagaimana ketika kita sedang hadir dalam sebuah pergelaran acara lawak, kita duduk di sebelah orang yang tertawanya paling kencang sembari menepuk tangannya sepanjang acara. Kita mungkin akan menilanya sebagai orang yang paling bahagia dan tidak memiliki masalah secuil pun dalam hidupnya. Padahal, kita tidak pernah tau, apa yang sebenarnya dia rasakan. Apa yang membuatnya ingin menonton stand up comedy hingga tertawa-tawa lepas. Dan, apa yang terjadi setelah dia pulang.

Kita tidak akan pernah tau.

Dan mungkin beberapa dari kita… bahkan tidak pernah peduli.

Di posisi yang lain, mungkin kita pernah melihat bagaimana ada salah satu teman yang terlihat sangat ceria. Dia lempar candaan kesana dan kemari. Seolah hidupnya adalah yang paling bahagia dan semua impian telah ada di tangannya, sehingga baginya, tugasnya sekarang hanya membahagiakan yang butuh dibahagiakan. Padahal, kita tentu tidak akan pernah tau, hidup seperti apa yang dialami oleh teman tersebut. Bagaimana dia mengeluarkan joke hanya untuk membahagiakan orang lain. Bagaimana dia membahagiakan, tapi tidak pernah bisa membahagiakan dirinya. Bagaimana impiannya belum secuil pun dia capai. Bagaimana ketakutan-ketakutan selalu muncul saat dia sendirian.

Sekali lagi, kita tidak pernah tau.

Dan sekali lagi pula, mungkin kita tidak akan pernah peduli.

Pada hakikatnya, problem seseorang tidak pernah bisa kita lihat secara kasat mata dari pandangan luarnya saja. Terlebih lagi, orang lain tidak pernah mau untuk menampilkan masalah yang menderanya.

Mengapa Mereka yang Berada di Titik Terbawah Dalam Hidup, Merasa Enggan untuk Mengutarakan Masalahnya?

Jika saya boleh beropini sedikit mengenai alasan kenapa orang-orang enggan untuk memperlihatkan masalahnya ke permukaan, mungkin adalah karena dia memikirkan apa yang kelak dia dapatkan dari komentar orang-orang terdekat.

Saya pernah berada dalam sebuah perkumpulan teman, dan disitu ada satu orang yang berbicara begini :

‘Kemarin masa si ini tuh cerita kalau masalah yang dia alami itu rasanya berat banget. Padahal, aku dulu pernah ngalamin itu dan biasa. Lebay banget suwer’

Kalimat yang sebenernya terdengar aneh untuk mendengar respon orang, ketika dia mendengarkan masalah dari orang lain. Saya memang tidak tau ya, apa yang kemudian teman saya sampaikan kepada temannya. Apakah teman saya memberi dukungan dan semangat atas apa yang dialami oleh temannya? Atau justru, dia mengatakan hal yang sama seperti yang dia ucapkan bersama kami? Berucap : ‘lebay, sama masalah gitu aja langsung lemah?’.

Jika iya…

Itu jahat sih. Aslik.

Maka, tidak aneh kalau sekarang ada banyak sekali orang yang lebih memilih untuk menyimpan masalahnya secara rapat dan sok menampilkan sisi ketidakapa-apaannya. Daripada nanti dibilang lebay atau digosip di belakang, kan?

Hmm…

Hingga pada akhirnya, orang-orang tersebut tidak mampu menekan segala masalahnya. Terlalu berat untuk disimpan sendirian, terlalu sulit untuk mencoba membagikan, lalu akhirnya, orang-orang itu memilih untuk membuat keputusan yang salah.

Kita?

Kita yang melihat pun lantas hanya berkomentar :

‘Loh, kok dia bunuh diri sih? Perasaan kemarin saya lihat dia tidak apa-apa deh’

‘Hah? Kayaknya dia bahagia banget deh hidupnya, kenapa dia bunuh diri ya?’

Dan lain-lain sebagainya.

Bahkan beberapa ada yang berkomentar dengan sangat satir dan pedas seperti :

‘Pendek banget ya pikirannya. Bunuh diri kan bukan solusi’

Sekali lagi, itu adalah alasan pertama yang menurut saya membuat orang-orang di luar sana enggan menunjukkan masalahnya, karena hal yang akan dia dapatkan hanya sekedar komentar, komentar, dan komentar.

Kasarannya begini, buat apa sih kita membagi sesuatu ke orang lain, jika pada akhirnya sesuatu itu hanya akan semakin diperkeruh?

Persetan dengan kalimat :

‘Iya, sudah. Saya ngerti kok. Saya juga pernah ngerasain hal itu. Selo aja kalik ya.’

Karena…

KARENA PRIBADI SATU DENGAN PRIBADI YANG LAIN ITU BERBEDA YA. KITA TIDAK PERNAH BISA MENYAMAKAN MASALAH YANG DULU KITA RASAIN SEOLAH SAMA DENGAN MASALAH YANG SEDANG DIA RASAIN. MENTAL SESEORANG ITU BERBEDA. CARA ORANG DALAM MENERIMA DAN MENGHADAPI MASALAH ITU BERBEDA. JADI, YA NGGAK BISA SEENAK JIDAT UNTUK KEMUDIAN MENJUDGE BAHWA APA YANG DIA RASAIN ITU PERNAH KITA RASAIN LANTAS SELO SAJA YANG ARTINYA ADALAH…

SELO NDASMU BANGSAT.

Masalah setiap orang, nggak pernah sesederhana itu…

Bagaimana Tanda-Tanda Orang Hendak Bunuh Diri?

Saya tidak pernah bisa melihat, bagaimana tanda-tanda seseorang saat hendak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Setiap orang yang memutuskan demikian, selalu mencoba untuk memperlihatkan sisi ke-baik-baik-sajanya. Tidak pernah ada diskusi dengan orang yang dikenalnya terlebih dahulu, pun tidak ada peringatan lebih lanjut perihal apa yang hendak dia lakukan di kemudian hari.

Saya pernah melihat video yang berisi perihal bagaimana Chester Bennington sesaat sebelum dia memilih untuk bunuh diri pada malam harinya. Kala itu, dia sedang berkumpul bersama dengan keluarga besarnya. Mereka minum-minum, bermain, dan bercanda bersama. Dari pancaran wajah yang di tampilkan Chester kala itu, seolah tidak ada beban, apalagi masalah berat dalam hidupnya. Raut tawanya lepas dan semua terlihat enjoy-enjoy saja. Tapi, setelah kumpul-kumpul keluarga itu selesai, kita tidak tau, beban berat apa yang dia tanggung sendirian sehingga akhirnya dia memilih untuk mengakhiri hidupnya… bahkan tepat ketika beberapa jam sebelumnya telah mencoba untuk bahagia dengan orang terdekatnya.

Orang yang ingin mati, mereka tidak akan menunjukkan keinginmatiannya.

Selalu ada alasan dan latar belakang di balik orang yang memutuskan bunuh diri dengan menggantungkan diri, menyengatkan hewan berbisa ke tubuh, meminum racun, menyilet-nyilet pergelangan tangan, melompat dari gedung bertingkat tinggi, dan metode-metode lainnya.

Mereka selalu punya alasan.

Entah karena dia sudah tidak kuat untuk menjalani hidup.

Entah karena dia sudah merasa lelah pada hidupnya.

Atau, entah karena dia memang sudah merasa bahwa hidupnya tidak lagi berguna.

Namun untuk apapun alasannya, bagi siapa saja yang merasa demikian dan hendak mengakhiri hidupnya… saya hanya ingin bilang, tidak ada metode bunuh diri yang benar-benar tepat, karena itu menyalahi kodrat.

Maukah Membuka Diri Atas Masalah yang Mendera?

Sejauh ini, saya masih belum begitu mengerti ya, bagaimana cara untuk membuat orang lain mau untuk membuka atas masalah yang menimpanya. Sehingga kita –yang benar-benar mau untuk menemani mengusir sepinya dan mendengar segala masalahnya- bisa dengan senang hati mempersembahkan raga dan telinga untuk seseorang tersebut mengusir segala sepi dan masalahnya.

Saya masih belum mengerti.

Tapi saya yakin, selalu ada orang yang merasa jatuh pada titik terbawah dalam hidupnya. Merasa lelah atas hidup yang diterpa masalah demi masalah. Merasa tidak berguna atas hidup yang dijalaninya. Merasa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang menyayanginya. Dan… mereka butuh orang untuk mau mendengar maupun seolah merasakan atas apa yang dialaminya.

Beberapa kali, saya sering melihat komentar  masuk di tulisan saya yang berjudul : Kepada Mereka yang Lelah dalam Hidupnya. Disitu, saya langsung menyadari bahwa ada banyak sekali orang yang merasakan depresi dalam hidupnya, merasakan masalah yang sama seperti yang pernah saya tulis di sana. Merasa sudah tidak bisa lagi melanjutkan hidupnya.

Komentar TerpurukKomentar Terpuruk 3Komentar Terpuruk 2

Bahkan, ada orang yang sampai mengirimkan pesan di twitter dengan nada terimakasih karena katanya, berkat tulisan saya yang dia baca setahun lalu mampu membuatnya menentukan keputusan untuk tetap hidup. Meskipun disitu kadang saya berpikir, dirinya sendirilah yang pada akhirnya membuatnya tetap hidup karena dia telah memilih keputusan yang tepat.

Komentar Terpuruk 4

Orang yang sedang dalam masalah, mereka tidak butuh dispesialkan. Mereka hanya butuh telinga yang mau mendengarkan, dan keberadaan yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Saya sangat paham sih, bagaimana rasanya terpuruk di titik terbawah dalam hidup. Setiap tengah malam merasa bahwa hidupnya paling tidak berguna. Memikirkan banyak pertimbangan-pertimbangan atas apa yang kelak kan dilakukan. Hingga menghitung kemungkinan berapa banyak dosa yang didapat apabila melakukan tindakan yang menyalahi takdir Tuhan.

Pada akhirnya, teramat banyak.

Dan saya selalu bersyukur, saya tidak kunjung memilih kemungkinan tersebut.

Disini, melalui tulisan ini, saya tidak memiliki keinginan yang tinggi atas apa yang terjadi nantinya. Tapi setidaknya saya berharap, untuk siapa saja para manusia yang memiliki pikiran untuk mati pada pukul tengah malam, semoga mereka sempat untuk mencari tutorial cara bunuh diri yang tepat di internet, dan menemukan tulisan ini.

Lalu, bacalah sejenak, secara perlahan.

Pikirkan matang-matang.

Setiap kematian, selalu meninggalkan tangisan dari orang-orang yang tersayang.

Siapapun kamu, seberapa buruk pun menurutmu.

Mati memang mudah, tapi, untuk bahagia itu tidak sulit-sulit amat.

Saya tidak kenal kalian, saya tidak tau latar belakang kalian, tapi, sebagai orang yang selalu merasa bahwa hidup tidak pernah baik-baik saja… saya teramat peduli untuk membiarkan kalian tetap hidup dan baik-baik saja.

Jadi, siapa lagi yang ingin mati?

Terimakasih.

 

Advertisements

31 comments

    1. Hahaha kebetulan sajaaaaaaa. Dan syukurlah juga sih, tapi keputusan untuk tetep ada di mereka dan hebat banget mereka akhirnya memutuskan untuk tetap lanjut hidup 🙂

  1. Amazing mas. Bener-bener penulis yang hebat karena bisa menginspirasi orang agar lebih menghargai hidupnya. Semoga makin banyak yang sadar jika mereka tak sendirian..

    1. Hehehe kamu pun amazing loh, mas 😀

      Yaaah, yang hebat itu mereka yang membaca mas. Akhirnya punya keputusan untuk tetap hidup :’) saya jadi terharu tiap baca komentar gitu.

      Yaaa jelas, mereka tida sendirian ;’)

  2. Jujur, aku pernah berada disituasi seperti itu.. Aku pernah merasakan bahwa menyakiti (fisik) diri sendiri itu menyenangkan banget, tp alhamdulillah aku hidup diantara keluarga dan sahabat yg super ngerti, super paham. Mereka bener2 tulus, menerima kondisiku yg bolak balik masuk rs karena kebodohanku saat itu.. Dan its me, masih hidup hingga detik ini, seperti lahir kembali menjadi manusia yang lebih bahagia, lebih menghargai diri sendiri.. Dear semua orang yang ingin mengakhiri hidupnya, tolong bersabar…. Must trust janji Tuhan, yakin dan percaya, itu kuncinya.. Mas feb, aku hampir mewek nih komennya 😦 maaf curhat 😭

    1. Mbak Ella…

      Saya pun sering begitu sih :’ pernah ngerasa kayak… nyakitin diri sendiri itu nyenengin ya. Haha pernah masuk di masa begitu banget ya kita.

      Dan yaaak, Alhamdulillah ya kita dikelilingi orang-orang dekat yang amat sangat peduli :’

      Kamu teruslah untuk tetap hidup ya, Mbak :’) terus bahagia, terus menghargai diri sendiri.

      Bener :’) buat mereka di luar sana yang bener-bener ingin berhenti… sabar. Allah bersama kalian semua kok. Orang-orang terdekat pun masih amat ingin kalian hidup :’) tenanglah sebentar :’)

      Terimakasih banyak sekali yaaa Mbak Ella, sudah membagikan kisahnya :’

  3. Bisa memotivasi orang itu gift loh, Feb. Asah terus, siapa tau bisa ngalahin MT Golden Ways pada jamannya. Karena hidup di jaman sekarang amat sulit, tekanan hidup dan tingkat stress tinggi.
    Saya pun kalo gak beragama mungkin sudah di RSJ. Tapi karena percaya kuasa Allah swt. Insya Allah menjaga kewarasan.

    1. Hahah yaaa tidak MT Golden Ways juga sih, Mbak -_-

      Bener juga sih, kita hidup di zaman yang amat sulit, gengsi dimana-mana, tekanan stress tinggi, dan lain-lain.

      Cara mengatasinya cuma satu ya : Ingat selalu Allah :’)

  4. Topiknya keren, pembahasannya juga keren. Bener itu kalau ada yg “curhat” tentang problem hidupnya, jaman sekarang emang pada sering dibilang “lebay”, “lemah” dll dan akhirnya jadi orang yang cuek. Ada masalah juga cuek, ngeliat tai ayam dijalan juga cuek, kan masalah yg dipendam itu malah justru bikin nyesek dan bahaya buat yang mentalnya ga kuat.

    1. Hehehe, terimakasih banyak ya sudah membaca :’)

      Bener kaaaan, banyak orang yang enggan untuk bercerita perihal apa yang terjadi dihidupnya karena… ya nanti mentok paling cuma dikomentarin atau nggak dikasih petuah yang tida guna :’

      Jadi, ya gimana dong ya :’

  5. Saya pernah menjadi orang yang dikatain lebay ketika depresi tuh. Bahkan, sama teman baik saya di kampus. “Gue pernah ngerasain yang lebih parah dari lu, Men. Udahlah, santai aja, sih.”

    Santai-santai, palelu lembek.

    Nggak ngerti lagi kenapa orang yang saya percayakan buat jadi pendengar justru komentar seperti itu. Yang ada saya semakin terpuruk. Bisa-bisanya dia menyamaratakan kekuatan atau kondisi mental seseorang. :’)

    Syukurnya, saya masih hidup sampai sekarang. Meski pada malam-malam itu pernah sekali berharap tidur selamanya dan nggak perlu bangun lagi. Saking lelahnya sama kehidupan, tapi takut bunuh diri. Terima kasih, Yog, masih mau berjuang menjalani kerasnya hidup. Wqwq.

    1. Pfffftttt…

      Kesal sekali nggak sih, dianggap bahwa kita itu sama dengan mereka? Maksudnya, bagaimana cara kita meyelesaikan dan menghadapi masalah kan berbeda ya, kenapa dibanding dan disamain? YA JELAS TIDAK BISA SANTAI LAH ANZENG.

      Alhamdulillah, Yog :’

      Teruslah untuk memilih tetap hidup. Selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s