Pengalaman Saat Wawancara Kerja

Selalu ada hal yang tidak terduga terjadi di hidup kita. Lalu, apakah kita bisa menerimanya?

Jika disini masih ada yang ingat tentang tulisan saya berjudul : Pengalaman Mengikuti Tes Masuk Kerja, disana sangat terlihat jelas betapa menyedihkannya ketika orang yang sebaris dengan saya bisa lolos tes tertulis dan maju ke tahap selanjutnya, sedangkan disatu sisi hanya saya seorang yang gagal lolos tes tertulis tersebut.

Menyedihkan parah sih waktu itu.

Tapi dibalik semua hal tersebut, saya tidak menghakimi siapapun ya. Nggak menghakimi kenapa soal paulinya minta disobek-sobek hingga cuil terakhir, nggak menghakimi kenapa pengujinya tidak berdiri di samping saya dan membisiki semua jawabannya, nggak menghakimi orang-orang yang sebaris dengan saya kenapa tidak memberi jawabannya kesaya, dan lain-lain sebagainya. Enggak, saya tidak menyalahkan siapapun. Saya hanya menyalahkan diri sendiri yang tidak melakukan persiapan penuh untuk mengikuti tes tertulis kerja. Itu saja.

Pada titik ini, saya sudah masuk di momen yang mana membuat saya harus berani mencoba-coba dalam mengapply segala bentuk lowongan kerja. Hidup saya selain mengkhawatirkan perihal skripsi, pun juga mengkhawatirkan perihal masa depan, terlebih tentang tempat kerja saya dimana, menghasilkan uangnya darimana, dan menabung dengan apaan ya baiknya.

Ribet bangetlah pokoknya.

Berdasarkan kekhawatiran saya tersebut, saya pun akhirnya mencari peruntungan dengan mengapply segala bentuk lowongan pekerjaan yang disyaratnya hanya tertuliskan : Untuk Semua Jurusan.

para pencari kerja

Source : Kaskus.co.id

Geblek memang.

Alhasil pada 4 April 2018 kemarin, saya mendapat pesan singkat perihal konfirmasi kehadiran untuk mengikuti tes masuk kerja di PAMA pada tanggal 5 April 2018, yang mana lokasi tesnya berada di kampus UKDW Jogja.

Saya pun mengingat-ingat agenda pada tanggal 5 April esok, apakah di waktu tersebut saya punya waktu luang atau tidak? Apakah saya bisa menghadiri tes tersebut atau tidak? Sampai akhirnya, saya pun mendapati kenyataan bahwa hidup saya amat sangat menyedihkan karena waktu luang saya terlalu banyak, bahkan ada waktu luang yang sampai bentrok dengan waktu luang lainnya.

Sedih amat.

Merasa tidak ada agenda di tanggal 5 April, saya pun langsung mengkonfirmasi kehadiran tanpa perlu lagi berpikir panjang.

Malam harinya, saya pun mencoba untuk mempersiapkan diri dengan mempelajari berbagai macam contoh soal psikotest yang kemungkinan masuk esok hari. Saya tidak ingin pengalaman buruk mengenai tes kerja sebelumnya terulang. Saya harus belajar agar bisa lolos tes tertulis dan beranjak ke tes berikutnya.

Mantap bukan?

Saat itu, saya berasumsi bahwa soal-soal yang diberikan dalam tes masuk kerja tidaklah jauh berbeda. Maka atas dasar pengalaman sebelumnya, saya pun mempelajari berbagai macam soal psikologi IST yang mana isinya tentang Tes pengetahuan umum, kesamaan kata, hubungan kata, pengertian kata, aritmatika, deret angka, potongan gambar, kemampuan ruang, dan menghafal cepat. Tak lupa, saya pun juga mempelajari  soal paling bedebah dalam tes masuk kerja, yaitu pauli test dan wartegg test.

Pokoknya malam itu, saya merasa bahwa saya sudah mempersiapkan diri dengan amat sangat matang.

Sampai pada hari dimana tes masuk kerja tiba, tepat ketika saya sudah masuk ruangan tes dan duduk dengan nyaman, saya melihat soal yang dibagikan bersampulkan tulisan : CFIT. Saya mengamatinya dengan bingung, hingga ibu-ibuk penguji di depan berkata dengan tegas.

‘Tes pertama yang akan kalian kerjakan adalah soal psikotest CFIT ya. Tunggu instruksi selanjutnya dari saya untuk mulai mengerjakan’

HAH?

Saya pun langsung menggaruk-garuk kepala setelah apa yang saya pelajari semalaman tadi ternyata tidak sesuai dengan apa yang diujikan kali ini. Artinya…

SOAL CFIT SAMA SOAL IST ITU BEDA ANJER!

LAGIAN, CFIT ITU APAAN SIH BUSET.

Pada titik itu, saya sudah merasa kalah karena mendapat soal yang tidak sesuai. Saya membuka lembar demi lembar, dan isinya cuma gambar-gambar-gambar-dan-gambar. Bedebah sekali memang. Metode yang saya lakukan untuk mengerjakan soal CFIT kala itu hanya satu : Asalsajalahsudah.

Setelah tes pertama selesai, tes-tes berikutnya pun bisa dikatakan relatif sama dengan tes-tes yang pernah saya ikuti sebelumnya, yaitu tes wartegg, pauli test, dan tes kepribadian ala-ala kuisioner skripsinya anak psikologi gitu-gitu.

Saat mengerjakan tes wartegg, seperti biasa, ibu penguji meminta kami semua untuk menggambarkan apa saja yang terbayang di kepala ketika melihat pola-pola yang ada. Disitu, saya sebenernya memiliki keinginan sendiri untuk menggambar sesuatu. Tapi, karena malam harinya saya sudah menonton tips kiat-kiat sukses menjalani tes wartegg di youtube, akhirnya saya pun menggambarkan semua hal yang dicontohkan di youtube.

Pada titik ini saya pun berpikir :

Apa saya harus securang ini untuk bisa diterima kerja? Menjadi orang lain untuk bisa dianggap sesuai kualifikasi?

Tapi, emang belajar dan mengikuti apa kata youtube itu curang ya?

Untuk momen saat mengerjakan Tes Pauli…

YAUDAHLAH YA BODO AMAT. PEGAL DEH ASLIK NIH LEHER SAMA TANGAN.

Seusai rentetan tes tertulis itu dilaksanakan, para peserta pun diminta untuk menunggu pengumuman hasil tes tertulis selama kurang-lebih 2 jam. Pada kesempatan itu, saya sudah sangat pesimis bahwa saya tidak akan lolos. Tapi pada 2 jam berikutnya, saya sangat tidak menyangka ketika melihat nama saya terpampang nyata menjadi salah satu peserta yang lolos ke tahap tes interview.

Pikiran saya kala itu hanya satu :

KOK BISA YA BUSET?

Saya masih terus menggeleng kepala saat mendapati kenyataan itu. Hingga pada momen tertentu, otak dan hati saya berasumsi sendiri sampai menimbulkan beberapa buah pertanyaan.

Ini seriusan gak sih?

Ini saya harus ngapain nih?

Interview kerja harus pake baju apa ya?

Saya tidak punya pakaian ala sales anjer.

Pertanyaan-pertanyaan sepele itu berputar di kepala. Sampai pada malamnya, saya sempat bingung dan menimbang-nimbang perihal ‘kayaknya saya lebih baik tidak ikut interview esok hari deh’. Hingga pada pukul 12 tengah malam, saya masih tidak mempersiapkan bahan apapun untuk interview esok hari.

Pada pagi harinya, saya tiba-tiba mendapat suntikan semangat untuk mengikuti interview kerja setelah tau bahwa bapak saya mempunyai celana kain dan kemeja polos untuk saya gunakan di interview kerja. Kendala saya hanya di masalah pakaian sih sebenernya. Untuk masalah jawab-menjawab di interview mah, asal jujur aja kayaknya beres kan ya?

Pukul 09.00 WIB, saya pun melaju ke kampus UKDW untuk mengikuti interview kerja. Disana, saya melihat sudah ada banyak orang seperti saya yang mengantri untuk dipanggil pihak penginterview. Beberapa dari mereka ada yang menggunakan celana jeans dan kemeja flannel. Lantas, saya pun bertanya-tanya sendiri…

‘EMANG BOLEH YA INTERVIEW PAKAIANNYA BEGITU?’

Sampai akhirnya, saya pun mendapati kenyataan bahwa di zaman sekarang ini tuh sudah tidak sekolot zaman dahulu, jadi, ya boleh aja atuh interview pake jeans gitu-gitu. Sanstailah.

YA KALAU GITU KENAPA SAYA BINGUNG MIKIR PAKAIAN INTERVIEW SAMPAI PUKUL 12 TENGAH MALAM YA, ANJER.

Yaaaaaaaaaa lu begok.

Baik.

Beberapa orang silir berganti keluar masuk ruangan, sampai tiba masa dimana saya dipanggil untuk masuk ruangan. Saya pun berjalan masuk dengan perlahan.

Di dalam ruangan, saya interview bebarengan dengan sekitar 5 orang para pencari kerja lainnya. Masing-masing dari mereka sudah dihadapkan dengan pihak penginterviewnya sendiri. Sedangkan saya, berhadapan dengan seorang ibuk-ibuk yang di baju batiknya terdapat nametag bertuliskan : Desy N.

‘Selamat siang, Mas’ Ibu Desy menyapa dengan senyum sedikit lebar.

‘Siang, Buk’ Jawab saya sembari menunjukkan senyum terbaik. Saya mah emang gak mau kalah orangnya.

Bu Desy mengamati saya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Saya masih berdiri, sebelum akhirnya saya meminta izin untuk duduk berhadapan dengan beliau.

‘Namanya Febri Dwi Cahya G ya?’ Bu Desy bertanya sambil tangan kanannya memegangi bolpen.

‘Benar, buk. Saya Febri Dwi Cahya G’ Saya menjawab sembari mencoba tenang. Tatapan saya tertuju pada mata si Ibu Desy.

Pertanyaan-pertanyaan awal yang diajukan oleh Ibu Desy kala itu lebih ke perihal personal, seperti bertanya masalah umur, sekolah, kuliah, skripsi, apakah pernah memiliki pengalaman kerja sebelumnya, apakah mengetahui jabatan yang dilamar sekarang, bagaimana pekerjaan sipil di PAMA, gitu-gitu. Di sesi pertanyaan awal tersebut, saya masih bisa menjawab dengan mantap karena apa yang ditanyakan tidak jauh-jauh dari personal pribadi saya. Setiap kali saya menjawab pertanyaan, Ibu Desy beberapa kali kedapatan sedang melihat gerak-gerik tangan dan mimik muka saya.

‘Sebelumnya pernah mengikuti interview dimana, Mas?’ Bu Desy kembali mengajukan pertanyaannya setelah sebelumnya beliau mencatat beberapa hal di kertas.

‘Mmm… ini yang pertama kali sih buk. Soalnya sebelumnya paling hanya mentok di tes tertulis, buk. Susah’ Saya menjawab dengan amat sangat jujur. Bu Desy tersenyum, kemudian tangannya menuliskan sesuatu di kertasnya.

‘Lagian ya, buk’ Saya kembali berucap saat Bu Desy sibuk mencoret-coret kertasnya. ‘Saya merasa kayak, apakah iya ya untuk bisa masuk kerja itu kita harus mengubah diri kita?’

Bu Desy mengernyitkan dahinya tanda penasaran. Beliau tidak membuka suara, namun menunggu saya untuk melanjutkan kalimatnya.

‘Maksudnya begini, saya beberapa kali mengikuti tes masuk kerja gitu-gitu ya, Buk. Lalu kalau saya lihat, soal yang diberikan itu ya hampir mirip-mirip. Kalau tidak soal IST, ya CFIT seperti kemarin. Ditambah lagi ada tes wartegg dan pauli. Semuanya itu sudah ada tips dan contoh beserta jawabannya di internet. Lantas, apa yang menjadi parameter seseorang diterima atau tidaknya?’

‘Sejujurnya hari ini saya pun masih bingung loh, buk, kenapa saya akhirnya bisa dinyatakan lolos tes tertulis dan mengikuti tes interview ini. Waktu tes CFIT kemarin, saya mengerjakannya hanya sebisanya. Di tes pauli, saya juga mengerjakannya tidak sampai selembar penuh. Sementara di tes wartegg, saya mengerjakan itu tidak sesuai dengan apa yang ingin saya gambar, melainkan saya menggambar apa yang ditunjukkan oleh tips-tips youtube ke saya. Itu kan artinya… saya tidak menjadi diri saya hanya untuk mendapatkan pekerjaan bukan?’

Saya meracau dengan amat sangat asal di sesi interview ini. Bu Desy hanya mengangguk sambil tersenyum. Pada momen ini, saya merasa sangat yakin bahwa saya tidak akan lolos tes interview kali ini. Hanya saja, saya ingin sekedar mengeluarkan semua unek-unek yang tersimpan di kepala maupun di hati.

‘Setiap perusahaan memiliki kualifikasi pekerjanya sendiri-sendiri, Mas. Sedangkan untuk masalah menjadi diri sendiri atau tidak, tahapan masuk kerja itu panjang dan nanti juga ketahuan kok yang menjadi diri sendiri atau tidak, dan yang sesuai kualifikasi atau tidak’ Bu Desy menjawab dengan amat sangat kalem.

Ada hening beberapa saat, diiringi oleh suara bolpen yang bergesek dengan kertas. Hingga selanjutnya, Bu Desy memilih untuk kembali bertanya.

‘Bisa disebutkan tidak mas, apa kelebihan dan kelemahan kamu?’

‘Emm…’ Saya menerawang sebentar ke arah sekitar ‘Kelebihan saya lebih ke jujur, apa adanya, dan mau belajar buk. Sementara untuk kelemahan, saya lebih ke pesimis sih buk’ Jawab saya dengan jujur.

‘Pesimis?’ Bu Desy mencoba meyakinkan atas jawaban yang saya utarakan.

‘Iya buk. Bener deh. Saya orangnya pesimis banget’ Saya berucap seolah-olah pesimis adalah sebuah prestasi yang layak untuk dibanggakan anjer ‘Saya sering banget berpikir perihal untuk apa sih saya hidup? Bergunakah saya hidup? Bisa apa sih saya hidup? Gitu-gitu, buk. Bahkan ya buk, ini sekarang skripsi saya belum selesai pun, saya setiap malam meluk guling sambil mikir apakah skripsi saya bisa selesai atau tidak? Apakah saya bisa lulus atau tidak? Gitu, buk. Sedih ya.’

cara mengatasi pesimis

Source : Kompas.com

Bu Desy tertawa sambil beberapa kali menggelengkan kepala. Beliau pun meletakkan bolpen serta kertasnya, seolah-olah tidak ada yang perlu dinilai lagi dari saya yang sudah kelewat batas. Bukannya interview, eh malah curhat.

‘Kayaknya kamu harus pergi ke psikiater deh, mas’ Bu Desy berucap dengan senyum mengembang. ‘Dengan cara pandangmu atas pesimistis itu, kelak bahayanya bisa sampai menghambat hidupmu, loh mas. Serius ini’

‘Hmm… begitu ya, Buk?’ Saya bertanya sembari kembali meyakinkan atas saran dari Bu Desy.

‘Iya, seriusan. Kalau tidak, coba deh kamu baca buku Mindset, karya Carol S.Dweck.’ Bu Desy kembali mencoba memberi saran. ‘Eh sebentar. Itu buku sudah ada terjemahannya belum ya? Takutnya kamu pesimis kalau disuruh baca buku bahasa Inggris’ Bu Desy melanjutkan dengan tertawa.

Saya ikutan tertawa dan mengangguk. Bener banget. Gila aja saya disuruh baca buku bahasa Inggris.

Setelah tawa kami berdua terhenti, tidak ada pertanyaan baru lagi. Bu Desy mengakhiri interviewnya dengan memberikan informasi mengenai temannya yang bernama Bu Ratna. Beliau adalah seorang psikiater di puskesmas Ngaglik, Sleman. Jika luang, Bu Desy menyarankan saya untuk kesana kapan saja. Bilang saja atas saran Bu Desy. Begitu katanya. Saya pun mengangguk paham, dan langsung keluar ruangan dengan tanpa beban.

Sekeluarnya saya dari ruangan, saya bertemu dengan seorang kakak angkatan yang sudah lumayan berpengalaman dalam hal interview kerja. Saya pun menyapa dan duduk di sebelahnya.

‘Gimana, Feb? Lancar?’ Tanyanya.

‘Lancar. Nggak kerasa banget anjer, Mas. Kayak ngobrol biasa aja gitu.’ Jawab saya apa adanya.

‘Iyakah? Bahaya loh itu, Feb. Kalau pas interview itu sebisa mungkin jangan sampai terlalu ngalir dan tetap pada pokok pembahasan yaitu pekerjaan’ Kakak Angkatan itu memberi nasehat. ‘Waktu kamu ditanya kelemahan, kamu jawab apa?’

‘Saya jawab pesimis, mas. Itu sih yang akhirnya bikin saya malah curhat ngalor-ngidul’

‘WADOOOOOH, FEB. KENAPA KAMU NGASIH TAU KELEMAHAN FATALMU?’ Mas Kakak Angkatan geleng-geleng kepala ‘Besok-besok, kalau ditanya masalah kelemahan, kasih tau yang basic-basic aja kayak boros, kurang teliti, gitu-gitu. Jangan pesimis juga, Feb’

‘Haha iya mas. Besok saya belajar lagi deh. Setidaknya, saya sudah tau pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang diajukan pas interview kerja’ Jawab saya ke Kakak Angkatan.

Selepas itu, saya pun pamit untuk pulang duluan.

664xauto-terjebak-di-elevator-pemuda-ini-malah-mengerjakan-pr-1610281-rev1610282

Source : dream.co.id

Di dalam lift, saat mesin itu menurunkan saya dari lantai 3 ke lantai dasar, pikiran saya pun mengacu pada sebuah pertanyaan…

‘Apakah saya harus tidak menjadi diri sendiri saat tes kerja berikutnya? Apakah saya tidak harus memaparkan semua kejujuran saat interview kerja berikutnya? Apakah saya bisa mendapat pekerjaan di kesempatan-kesempatan lainnya?’

Entahlah.

Saat lift itu telah sampai ke dasar, saya masih belum menemukan jawabannya.

Bahkan, sampai saya menulis titik akhir dari tulisan ini.

Terimakasih.

Advertisements

57 comments

    1. Hahaha, baiklah jika begitu ku akan menjadi orang lain agar supaya bisa diterima kerja karena kerja adalah hidup, dan hidup adalah kerja.

      btw, HEYHELOOOOOW, ANDA KAN SUDAH BEKERJA YA. TIDA USAH INTERVIEW LAGI YA GWGWGW

  1. KENAPA NIATNYA MAU CARI KERJA MALAH JADI KE PSIKIATER HEY!!

    Yang ini gue serius nanya: kenapa nggak nyoba balik lagi ke dunia stand up? Gimmick udah punya anak STM atau anak Teknik, materi tinggal ubek di dunia itu. Ya menurut gue lumayan sih buat sambilan nunggu2 kerjaan tetap.

    Sukses ya men. Jangan sering-sering nulis kisah sedih gini tapi. Gue nggak bisa hujat jadinya. Huhuhu. 😦

    1. YA SALAHKAN KEPADA IBU INTERVIEWERNYA HEEEEI KENAPA BELIAU MENYARANKAN SAYA UNTUK KE PSIKIATER WGWGW.

      Saya anaknya pedean soalnya, Gip. Tida pandai bicara di depan banyak orang. Maluk. Saya anaknya pemalu banget. Hahahak

      Yaaaaah :’ hujaat aja tida apa anjer wgwgw

  2. Duh, kadang beberapa hal dari kita harus ditutupi sih mas. Karena bisa jadi buruk di mata orang. Di dunia kerja pencitraan kadang perlu loh. #DariSudutPandangSayaSeorangKaryawanToko Hhhaaa..

    Semoga buat pembelajaran ke depan sih mas. Khususnya terkait baju, daripada mikirinnya sampe tengah malem mending waktunya dipake buat main tik tok mas. Eh.. apa ini..

    1. Wahahaha jadi saya harus menjadi orang yang jaim dan tidak apa adanya ah ya. Sayaaa akan membuat pencitraan sepencitraan-pencitraannya wgwgwgw 😀

      Aamiin, mas. Waktu interview kemarin, saya emang kurang begitu niat dan hanya ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan apa yang disampaikan sih. Setelah ini jika ada kesempatan lain, saya akan lebih serius wgwgw.

      Tapi…

      YA TIDAK MAIN TIKTOK JUGA YA HEEEEI

  3. Tes Pauli emang bikin pegal, ingin memaki dan merutuk tapi semuanya kan diam saja kan, yak. 😦
    Orang lain ngerjainnya cepet banget pula, padahal cuma tambah-tambahan aja, tapi lama banget aku. Minder tjoy, anjir. 😦

    Pengalamanku wawancara kerja amat sangat buruk. Aku kan orangnya pemalu dan suka deg-degan itu. Lupa dengan jati diri ini, mana pertanyaannya KIMIA SEMUA. Kecuali identitas diri sih. 😦
    Ini membuatku berbicara ngalor ngidul tydack tentu arah, ngawur pol. Pas keluar ruangan tiba-tiba aku bisa berpikir dengan benar.
    Tolong.. tolong aku.. Kenapa aku menghilang di ruangan itu? 😭😭😭

    Wkwkwk. Maaf, numpang sedih. 😂😂😂

    1. Hahha suda tidak bersahabat sih saya sama yang namanya pauli wgwgw. itu saya sempet bisa kayak otak ngerasa kesemutan tau tidak sih wgwgw. sedi sekali rasanya. Tapi kadang kagum juga sama mereka yang ngerjainnya bahkan bisa sampai nambah kertas. Itu doyan ya orang-orangnya gwgwgw.

      Hahah interview selalu memunculkan kenangan buruk gitu ya. Saya pun dulu orangnya gugup, mbak. Kayak mesti keringetan, tidak bisa menjawab dengan tenang. Eh, giliran sekarang santai, jawabnya blakblakan dan asal wgwgw. YAKALEK YA.

      Hahah tidak apa, mba 😀

  4. Feb feb besok2 ngeliat youtube lagi tentang wawancara kerja deh jangan tentang wartegg doang. Wkwkwkwk. Ini kamu semi curhat tur bloko banget sih.

  5. sebagai yang suka nginterview orang kerja….apa yg dibilangin pewawancaranya emang bener feb, tahapan masuk kerja itu panjang dan dari psikotes ataupun wawancara pleus kalo ada diskusi kelompok bakal dibandingin dan dicek sama ga keluaran hasil perilakunya, makanya knapa psikotes tetep ada. dan kebutuhan tiap2 perusahaan itu beda-beda tergantung kompetensi sama budaya perusahaannya.

    menurutku unt psikotes mendingan tunjukin apa yang sebenernya pengen kamu lakukan atau gambar atau jawab sih.

    sedangkan buat interview, kasi jawaban-jawaban yang essensial dan ga perlu membuka diri terlalu luas. bukan ga boleh jujur ya, tapi mesti milah aja mana yang perlu diungkapkan mana yang engga

    1. UWAAAAAAAAAA AKHIRNYA SAYA MENEMUKAN SUDUT PANDANG DARI ORANG YANG BIASA MENGINTERVIEW EHEHEHE.

      Terterimakasih banyak sekali ya, Mbak, sharingnya. Saya akan belajar dari setiap kesalahan yang ada kok. pun dari apa yang mba sampaikan 😀

      Nggak jujur-jujur amat, tapi tetep jawabannya sesuai dengan kita. dipilah-pilah agar memberikan kesan.

      Baiiiik mbak 😀

  6. aku pernah sekali ikut psikotes, bener2 menguras tenaga, sampai panas pantat duduk dari pagi hingga siang
    Tetep jadi diri sendiri feb, namun untuk interview kerja, bener kata mbak ira, tunjukin kebisaanmu sesuai yang kau bisa, dan jangan buka lebar-lebar kelemahanmu.
    biarlah aibmu kau simpan rapat2 hahah 🤣🤣

    1. Hahahah sungguh menjengahkan ya tes psikotest mah. Pantes banyak orang yang ngeluh dengan bilang kalau nyari kerja sulit wgwgw. YA EMANG SULIIIIT WGWGW.

      Hehehe, harus dipilahpilah mana yang mesti dijabarkan ya mas ya. Baiiiik wgwgw tidak akan ceplasceplos lagi ah wgwgw

  7. Semangat ya Feb, cari kerja itu ibarat jodoh. Susah susah gampang, kadang bukan cuma kualifikasi hard skill yang mumpuni yang dibutuhin, kalo aku pun sekarang pasti cari soft skill. Karena, itu sangat berpengaruh ke kinerja kamu pribadi dan juga kinerja tim.

    1. Hahahaa iyaaa ya mbak. Udah hampir kek jodoh kayaknya gwgww. Susah-susah gampang 😀

      Melatih softskill pun amat sangat penting ya, Mbak 😀 Duuuuh, terterimakasih banyak yaaa mba sharingnya 😀

  8. Soooo, ini blm ada jawaban diterima ato ga feb? Btw yaaa, sbnrnya kalo aku nih, salut sih jika ada staff yg jujur seperti itu. Kamu tau ga, suamiku itu pas pertama kali masuk kerja di HSBC, hrd nya nanya hal yg sama. “apa sih kelebihan kamu”. Dan suamiku nanya, “saya suka tersenyum bu”

    Wkwkwkwkwk… Aku aja pas ditanya kelebihanku ga jwb sejujur itu. Tapi ternyata krn jawaban itu suamiku diterima. Alasannya wkt itu dia melamar utk frontliners di bank, dan menurut HRD, gampang tersenyum adalah modal utama para frontliners. Seperti apapun mood kita, tp saat berhadapan dengan nasabah, semua masalah lupakan. Senyum harus selalu tersungging :). See, kadang jujur itu bisa jd anugrah kok 🙂

    1. Sudaaaaa ada jawabannya kok, Mba 😀 wkwkw gagaaal dong sayanya hehehe 😀

      Eiiiits, itu kelebihan yang bagus dong Mba. Suka tersenyuuum 😀 wgwgw.

      Hahaha kejujuran yang mulus sih itu, Mbak. Sesuai dengan apa yang dibutuhin 😀

      Dan bener, jujur itu anugerah kok. Pasti 🙂

  9. Baca tulisan ini saya jadi ikut minder kalo mau lamar kerja lagi, kayaknya udah lama sekali.
    Tesnya sekarang banyak dan rumit, ya.

    Dan tolong jangan jujur-jujur amat kalo pas interview, itu kayak saya banget yang baru lulus SMK, pas interview kerja malah curhat xD

    1. Hahaha tapi bukannya kamu sudah bekerja ya? Ya tida usah melamar kerja lagi atuh kalau sudah bekerja 😀 wgwgw. Rumit nyari kerja mah wgwgw

      Hahaha siyaaaal, habisnya, kayak ada hasrat untuk jujur dan curhat aja atuh wgwgw 😀

      Kamu curhatan juga ya pas interview lulus SMK? wgwgw

  10. kenapa engga disuruh ke RSJ ya
    padahal kan si Febri tuh orangnya suka marah-marah engga jelas
    aneh saya sama dia
    pesimis kok dijadiin kekurangan
    orang mah ganteng dijadiin kekurangan
    tau engga feb, tuh sebenarnya saya loh yang ngeinterview kamu
    Itu kan namanya Desy N
    N nya itu saya loh

  11. Penasaran sama hasil wawancaranya apa. Semoga bisa di share ceritanya. Hehe

    Terima kasih mas untuk artikel ini. Kalau aku jadi kamu, aku gak kepikiran bakal ungkit ttg jadi diri sendiri. Pas aku baca bagian itu, seolah2 aku lagi menyaksikan sebuah film. Ha-ha-ha. Terlalu berlebihan emang

    1. Hahahaha hasilnya, sudah jelas-jelas bisa ditebak dong wgwgw 😀 Gagal karena tida sesuai dengan kualifikasi ehehhee 😀

      Hahahah aseeeem wgwgw, iya juga ya, saya agak terlalu ribet mikirn yang jadi diri sendiri gitu-gitu wgwgw. tapi, ya gimanaaa ya 😀

      terimakasih banyak sekali sudah sempat untuk membaca ya 😀

  12. Tips bisa masuk kerja adalah dengarkan baik baik sang pewawancara, dan tunjukan bahwa dirimu sanggup akan pekerjaan tersebut.

    Semoga jadi pelajaran yang sangat amat berharga

  13. Mbak, kampus UKDW ini apa ya kepanjangannya? Saya penasaran. Apakah Universitas Kok Dia Wanita?

    Sama Mbak, suara bolpen dan kertas yang bergesekan itu kayak gimana ya? Terus kalau anu bergesekan sama anu suaranya juga gimana? Bisa dijelaskan? Terima kasih. Dari Anwar di Pacitan.

    1. KENAPAAAA MBAK SEH ANJER HEH AH -_- WGGWGW

      Universitas Kok Dia Wanita itu Universitas apaan ya btw -_- Apakah universitas khusus untuk laki-laki yang dianggap wanita, atau gimana?

      BODO AMAT YA ANWAR DARI PACITAN. SAYA INGIN MENCANGKUL DULU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s