Ugh…

Apa hal yang paling identik di dalam bulan Ramadhan ini?

Hmm…

Kalau menurut saya sih, suasana yang terasa paling beda di bulan Ramadhan adalah saat momen-momen menunaikan ibadah shalat tarawihnya.

Nggak tau kenapa ya, buat saya pribadi, momen shalat tarawih selalu punya hal menarik untuk di kenang. Misalnya saja saat saya masih duduk di bangku SD. Kala itu, momen yang selalu saya nantikan jelas saat waktu peralihan antara shalat maghrib menuju shalat isya, yaitu kisaran pukul 18.15 WIB – 18.45 WIB. Di sela-sela waktu tersebut, saya dan teman-teman pasti akan datang di lapangan belakang masjid hanya sekedar untuk  menyalakan petasan apa saja atau lari-larian bahagia disana.

Hal itu selalu saya lakukan ketika duduk di bangku SD sampai SMP. Hingga pada saat saya sudah mencapai di bangku SMK, pola pemikiran saya pun berubah dan beralih untuk lebih memilih fokus beribadah daripada lari-larian nyalain petasan sambil slepet-slepetan sarung.

Taek.

Tidak begitu juga sih.

Ehe.

Selain alasan karena serunya bermain petasan dan lari-larian di lapangan belakang masjid, Tarawih pun bagi saya juga bisa dibilang sebagai ritual baru yang mungkin hanya akan dirasakan secara berjamaah di bulan Ramadhan. Sejujurnya, saya bukanlah tipikal orang yang rajin shalat berjamaah di masjid. Namun, hanya pada saat di bulan ramadhan saja akhirnya saya jadi sedikit agak rajin-tapi-nggak-rajin-rajin-amat untuk menunaikan shalat tarawih di masjid. Hal tersebut ternyata cukup berpengaruh saat berada di bulan-bulan biasa, contohnya ketika saya shalat maghrib berjamaah di masjid dan mendengar imam melantunkan ayat-ayat pendek, saya langsung teringat dan merasa bahwa saat itu bulan ramadhan.

Padahal, tidak.

Padahal lagi, shalat berjamaah itu kan wajib untuk lelaki.

Jadi, kenapa dirimu tidak merutinkan diri untuk melaksanakannya wahai Febri bedebah?

Baiklah, satu pintu neraka sudah dibooking untuk saya sepertinya.

Naudzubillah 😦

Tarawih selalu memberikan kesan yang cukup menentramkan untuk saya. Pun, Tarawih juga akan selalu menjadi ritual berjamaah yang saya dirindukan. Tidak ada kesan buruk yang saya alami sejak pertama kali menunaikan shalat tarawih, pun tidak ada hal menyebalkan yang terjadi saat saya menunaikannya.

Sampai… momen itu terjadi pada hari Minggu kemarin, 3 Juni 2018.

Saya sedang duduk bersila ketika detik menuju iqomah sudah menunjuk angka 23 lagi. Malam itu tidak ada bunyi-bunyian petasan, yang mana pada saat saya kecil dulu selalu terdengar keras dan sedikit mengganggu. Anak-anak kecil sekarang cenderung terlihat sedikit lebih tenang, dan sangat berbeda dengan masa ketika saya kecil dulu. Mungkin, anak-anak sekarang lebih memilih daripada bermain petasan, mending lebih baik mereka berkarya…

…membuat video tiktok.

anak kecil main tiktok

Source : Prinatech.com

Hmm.

Sampah ya.

23 detik berlalu, dan Iqomah pun berkumandang. Para jamaah yang sudah menunggu sambil berdzikir di dalam masjid pun langsung segera berdiri dan merapatkan shaffnya. Salah satu hal yang seolah menjadi kebiasaan rutin yang mereka lakukan tiap kali hendak beribadah.

Saya berdiri, dan langsung maju satu shaf menuju shaf kedua. Saat hendak takbiratul ihram, salah seorang jamaah di depan saya membuka barisan, dan mempersilahkan saya untuk maju satu shaf lagi agar dapat berdiri tepat di belakang imam.

Pada titik ini, saya langsung mengelus dada.

Bangga.

Berada satu shaf tepat di belakang imam, saya harus khusyuk dan tumakninah dalam beribadah.

Shalat isya pun dimulai sebanyak 4 rakaat, dan semua berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Di sela-sela waktu sebelum tarawih, bapak Imam yang tadi memimpin shalat Isya diberikan kesempatan untuk kultum yang kala itu berjudul sabar dan tawakal.

Saya mendengarkannya dengan seksama sembari sok manggut-manggut ketika Imam berkata ‘Betul?’ secara berulang kali. Mood saya sedang baik kala itu karena kebetulan saya masih merasa bangga bisa berada di posisi tepat satu shaf di belakang imam.

Waktu pun berjalan cepat, hingga shalat tarawih pun segera di mulai. Takbiratul ihram di kumandangkan oleh sang imam, dan saya mengikutinya di belakang. Semua masih terasa aman dan nyaman-nyaman saja. Hati saya berasa teduh dan jiwa saya dipenuhi rasa syukur.

Hingga akhirnya, entah dari mana asal muasalnya tiba-tiba muncul suara dua bocah masuk ke dalam masjid dan tertawa haha-hihi. Pada titik itu, saya masih mencoba untuk bisa fokus mengikuti sang Imam, namun sesekali terganggu dan penasaran perihal suara dua bocah yang berisik tersebut.

Saya menahan, dan masih mencoba untuk terus menahan.

Mencoba untuk tetap tenang, saya pun mencoba untuk memfokuskan diri pada lantunan ayat yang dilafalkan oleh sang Imam. Merdu. Hati saya seketika merasa tenang. Saya tidak lagi menghiraukan suara dua bocah yang mengganggu tersebut.

Hingga tiba-tiba, muncul-lah seorang bocah kecil dari arah sebelah kiri berjalan dengan amat santai dan tanpa dosa menapaki tempat sujud para jamaah yang sedang beribadah. Saat kakinya melangkah, si bocah kecil itu memandangi kami satu persatu. Wajahnya amat sangat polos.

Melihat momenitu, saya terus berusaha untuk mencoba tenang.

‘Namanya juga anak kecil ya kan?’ Batin saya dalam hati.

Ketika menulis ini, saya pun menyadari kebodohan saya…

KENAPA SAYA MEMBATIN KALIMAT ITU YA? EMANG ITU SALAH SATU BACAAN DALAM SHALAT 😦

Bocah kecil itu pun berhenti di depan saya, mengamati saya sebentar, kemudian berbalik dan melangkah maju ke arah Sang Imam. Kini dia memandangi Sang Imam. Saya sungguh tidak pernah tau apa yang Imam itu rasakan pada detik-detik beliau diamati dengan seksama oleh si bocah kecil ya. Tapi yang jelas, Imam itu masih mencoba menjalankan tugasnya dengan baik.

Mungkin akan berbeda lagi apabila sehabis mengamati, si bocah kecil langsung menggunakan jurus derita seribu tahun untuk menarik perhatian si Imam.

Jurus derita seribu tahun

Source : Pulsk.com

Setelah puas mengamati Sang Imam, bocah kecil itu pun beralih melangkah ke sebelah kanan  untuk sekedar duduk di mimbar, turun, lewat ke sela-sela kaki saya dan kaki jamaah di sebelah kanan saya, kemudian tertawa haha-hihi lagi di belakang bersama satu orang temannya.

Bahagia sekali sungguh kehidupannya.

Saya masih terus mencoba untuk tetap sabar, tawakal, dan mengkhusyukkan diri dalam beribadah. Ini sungguh benar-benar ujian yang sangat berat.

Pada rakaat kedua, si bocah kecil masih bermain-main sama seperti yang dia lakukan di rakaat pertama. Saya pun masih mencoba untuk tetap bersabar dikala melihat si bocah kecil yang layaknya sedang bertawaf di Masjid : lari kiri, muterin imam, naik mimbar, kemudian mundur kebelakang. Lari dari kiri, muterin imam, naik mimbar, kemudian mundur ke belakang. Begitu terus sampai Yonglek meniti karier jadi tukang sayur.

Sampai pada rakaat keempat, fokus saya pun akhirnya berhasil dibuyarkan oleh si bocah kecil karena tiba-tiba dia lewat di depan orang-orang shalat sambil membawa sebatang robot-robotan bima satria garuda.

Mungkin itu amat sangat lebih baik daripada dia lewat di depan kami sembari membawa handphone dan membunyikan musik-musikan ‘tetew-tetew-tetew sampah’ ala-ala tiktok. Tapi apapun itu, jelas saja mengganggu kekhusyukan saya dalam beribadah.

Alhasil pada titik itu, saya yang merasa kesal pun merasa harus memberikan pelajaran kepada si bocah kecil tersebut. Kesempatan itu terjadi saat si bocah yang habis menaiki mimbar mencoba melewati sela-sela kaki saya dan jamaah di kanan saya. Di momen tersebut, saya pun langsung mencoba untuk mendorong kaki saya ke kanan dan menahannya kencang agar si anak kecil tidak bisa lewat.

‘Uuuuh’ Ucapnya kala itu.

Saya sok khusyuk dan tersenyum puas dalam hati. Si anak kecil memandangi saya, dan kembali mencoba untuk melewati sela-sela kaki kami, namun tetap jua saya halangi.

Emang enak.

Rasakan kau bocah.

Saya pun merasa menang kala itu.

Karena tidak tahan akan melihat ekspresi kekesalan yang dipancarkan oleh si bocah kecil, saya pun akhirnya memilih untuk menutup mata guna menahan tawa. Sampai saat saya hendak membuka mata, si bocah kecil dengan suara yang seolah berbisik kepada robotnya berkata :

‘Rasakan ini’

Lalu dengan secepat kilat dia menabrakkan robot Bima Satria Garudanya ke selangkangan saya.

‘UGH…’

penjelasan-medis-kenapa-tendangan-di-selangkangan-pria-terasa-sakit-ada-bahayanya-juga-KKdeG66VzT

Source : okezone.com

Saya mencoba menahan sakit dan menahan suara. Jamah di sebelah saya seperti terhentak sejenak karena melihat saya memundurkan pantat dan hendak berlutut. Si bocah kecil itu pun dengan tanpa rasa bersalah langsung lari nyelonong di antara kaki saya dan jamaah di sebelah kanan saya.

Saya dengan amat sangat bersabar mencoba untuk menahan sakit dan membayangkan apa yang terjadi pada dedek setelah dihentakkan dengan begitu keras oleh Bima Satria Garuda.

Tidak bisa terbayangkan.

Semua berlalu dengan sangat cepat.

Reka ulangnya itu kayak…

Saya merem, tertawa dalam hati, mencoba membuka mata, tiba-tiba terdengar suara rasakan ini, dan… UGH…

Parah.

Jika saya boleh mereview rasanya, maka yang akan saya ucapkan adalah…

TIDAK MUNGKIN SAYA AKAN BERKATA DELISISIMO KARENA YA BAYANGIN SAJA YA BARANG BERHARGA ANDA DISERUDUK SECARA TIDAK SENONOH OLEH BIMA SATRIA GARUDA ITU BAGAIMANA RASANYA!

Setelah kejadian itu, untuk sekedar rukuk dan sujud saja saya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Kayak… ini selangkangan saya kenapa sakit banget ya anjer.

Akhirnya, pada tarawih kedua dan witir, saya melanjutkan shalat dengan selangkangan terluka. Beberapa kali saya masih melihat si bocah itu berlari di depan kami lagi, dan mencoba berhenti sejenak untuk memandang saya sembari mengacungkan robot Bima Satria Garudanya.

satria-garuda-bima-x-musim-kedua-digara-f094a8

Source : kapanlagi.com

Saya menunduk dan membatin :

‘Mending kamu mainan tiktok di rumah saja, dek. Ketimbang menghancurkan aset masa depan orang’

Lalu jamaah-jamaah semua serentak berucap :

‘Aamiin’

EH, TAPI YA NGGAK TIKTOK JUGA SIH.

Saat si bocah hendak lewat di antara kaki saya dan kaki jamaah di sebelah kanan saya, saya langsung mencoba mengapit selangkangan seolah-olah memberi aksen prosesi hormat untuk mempersilahkannya lewat.

Sekali lagi selangkangan saya dihantam Bima Satria Garuda, habis sudah bahan saya untuk membuat keturunan.

Pffft.

Terimakasih.

 

 

Advertisements

59 comments

    1. Hahaha iyaaaaaa ya, mas. wgwgw habis itu juga nyesel wgwgw. Tapi sungguh deh, sebelum sesuatu terjadi pada selangkangan saya, si bocah kecilnya ngganggunya sudah amat sangat kebangetan :’ wgwgw. Tidak kuat wgwgwg

  1. Harusnya kalo pergi tarawih gitu, baiknya dedeknya ditinggal di rumah aja. Biarin main bigo.

    Kan klo lari2 gitu, dedeknya jadi ngeganggu org salat kan.

    1. Hahha andaaaaa sedikit agak satir :’

      Padahal sebenernya tidak apaaa kalau anak kecil ke masjid yaaak. Banyak anjuran yang menyatakan jangan larang anak untuk ke masjid wgwgw, dan… YA KAGAK MAIN BIGO JUGA YA ANJ wgwgw

      Hahaha sayanya saja yang tidak sabaran :’

    1. Hahahaa kurang lengkap ya mas kalau ga ada anak kecil wgwgw. Sepakat sih, tapii… ya tida begitu juga sih :’

      seenggaknya ributnya di belakang sajaaaa wgwgw. Tapi, ya yasudahdeh yaaa 😀

  2. we anjir, salat tarawih malah ngalangin anak kecil. yo ngono kui :)))
    tapi emang bahagia banget dunia anak kecil tuh. nek aku mending dia main di masjid daripada main tik tok lah.
    aku juga seneng kalo tarawih, sebagai jamaah maskam aku bisa dengerin lantunan imam yang merdu. ya bonusnya sih melihat pesona gadis gadis maskam yang aku nggak bisa menuliskannya. :”)

    1. Hahaha petaka sekali ya akhirnya wgwgwgw 😀

      Bener kan, cah cilik ki rasane uripe raono beban. Mloya mlayu cekakakcekikikan, pokoke seneng wgwgw 😀

      Iya sih, daripada main tiktok, mending bermainlah sepuas hati ya wgwgw 😀

      KENAPA ANDA MALAH CURHAT MELIHAT PEREMPUAN ADUHAI DI MASKAM YA BUSET

  3. HAHAHAHA ANJIR.

    Anda ini alumni STM kan? Kenapa nggak tabok aja bocah itu pake sarung? Tapi ujung sarungnya taliin ke rantai motor.

    Tapi gini deh. Aset untuk bikin keturunan udah terancam? Nggak masalah sih. Toh kalaupun asetnya ada, emang ceweknya ada? LEMAWOOO!! 🤣🤣🤣

    Ini kalau cewek-cewek baca ini bakal makin males jatuh cinta pada seorang Febri sih. :’)

    1. ANDA SUDAH GILA YA, JIKA SAYA MENABOKNYA PAKAI SARUNG, SAYA SHALAT PAKAI APAAAAA. LAGIAN, RANTAI MOTOR SIAPA JUGA ANJER HAHAHAK.

      Kenapa, anda bajigor sekali ya Gigip Pankreas -_-

      Yaaaa, iyaaaaaa yaudah ya ;’

      1. Kan bisa minjem sarung orang di sebelah, Mas. Hehehe. 😦

        Gue bajigor tapi laku alias hey gue punya pacar ya. Salam~

      2. YA KALAU ORANG SEBELAH SAJA SARUNGNYA DIPINJEM, BAGAIMANA ORANG SEBELAH SHALAT? PINJEM SARUNG ORANG SEBELAH SEBELAHNYA LAGI? GITU TERUS YA BAPAK, SAMPAI YONGLEK TERNAK LELE.

        BAIK YAAA, SUDAH PUNYA PACAR YA BAIK.

  4. Apa rasanya ya? Wkwkwk
    Tapi kok anak kecil suka banget ngeliatin orang lagi sholat ya? Tapi gapapalah, daripada dislepet pake sarung wadimor bang, damage ke selangkangan jadi lebih besar hehe

    1. Rasanya begini nih…

      Sekarang coba pusatkan perhatian kang asep pada selangkangan.

      Udah?

      Pusatkan lagi.

      Letakkan tangan kiri ke selangkangan.
      Majukan.
      Terus mundurkan tiba-tiba dengan amat sangat kencang.

      Begitu rasanya.

      Hahaha ga tau, Kang. Sepertinya anak-anak kecil itu ingin belajar shalat. Hahaha.

      YAAAA DISLEPET SARUNG WE DONT TALK WADIMOR JUGA SAKIT JUGA. TIDA ADA MENDING-MENDINGNYA 😦

    1. Apakah Bima Satria Garuda tida lolos tes CPNS bulan kemarin? Jika iya, suruhlah dia tes CPNS yang akan datang ya. Mending jadi PNS ketimbang nendang selangkangan, sungguh.

  5. Ya Allah.. maafkan saya ketawa – tawa baca ini.😂😂😂

    Makanya Mas Feb, kalau dia mau lewat biarin saja. Jangan mainin kaki buat ngehalangin dia, kan dia bawa senjata tuh. 😂
    Tapi ya ga ngira juga sih, dia bakalan mukul si dedek. Anak kecil jaman saya kayaknya polos-polos, kalau dijarakin ya dipukul tempat yg wajar, kakinya, tangannya. Baru kali ini denger cerita anak kecil nyerangnya seperti ini. 😅

    1. Hahahah tidak apaaa, Mbak. Tida apa :’

      wgwgwgw.

      Yaaa habis diaaaaa anaknya iseng banget sih :’ saya kan jadi ingin ngisengin wgwgw. Eh, balasannya lebih amat sangat menyakitkan. Duhdek.

  6. Hahahhaha dasar ya. Tp tarawih itu mmg afdolnya klo banyak anak2 yg brisik. Kata org nih anak kecil emg harus dibiasain ke masjid dripada tempat maksiat lain #asek. Wkwkwk

    1. Iya, Mbak :’)

      Sungguh, pengalaman yang amat sangat berharga sekaligus menyakiti bagian hidup saya yang berharga wgwg. tida lagi-lagi deh macem-macem sama anak kecil wgwgw.

      Hahaha terimakasih ya, Mbak 🙂

  7. Apa cuma saya perempuan yang baca ini terus merasakan ngilu -_-
    Khawatirnya tu bocah esoknya bawa lagi robotnya, sambil berharap ‘semoga om-om yang ngajak aku maen datang lagi.’

  8. Ya ampuuuun febri… Wkwkwkwkw aku lgs ngebayangin itu rasanya huahahahaha.. Aku rasa, aku jg bakal nyelepet itu anak sih selesai sholat :p. Udah bikin ancur konsentrasi, pake acara nonjokin si adek lagi :D. Sabaaar ya feb.. Kalo kamu punya anak nanti, coba ajarin jgn bawa robot kalo ke mesjid :p

  9. Ya ampuuuun febri… Wkwkwkwkw aku lgs ngebayangin itu rasanya huahahahaha.. Aku rasa, aku jg bakal nyelepet itu anak sih selesai sholat :p. Udah bikin ancur konsentrasi, pake acara nonjokin si adek lagi :D. Sabaaar ya feb.. Kalo kamu punya anak nanti, coba ajarin jgn bawa robot kalo ke mesjid :p

    1. Hahahaa rasanya itu to mbak… sudah tidak pernah bisa dibayangkan lagi deh wgwgw.

      Hahaha kan, kadang anak begitu harus dikasi pelajaran sedikit sih, mbak. -_- bener-bener sepanjang shalat itu tidak biasa diatur. Mana endingnya menonjok menggunakan robot bima satria garuda lagi kan -_-

      Hahaha iyaaa dong, jangan sampai 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s