Selama Janur Kuning Belum Melengkung, Semua Masih Bisa Ter… Mbahmu.

‘Udah kalik. Sikat aja, sih. Selama janur kuning masih belum melengkung mah, semua kemungkinan masih bisa terjadi’

Pernah belum sih kalian mendengar ucapan-ucapan semacam itu dari mulut orang-orang terdekat, tepat ketika kita sedang mencoba untuk memperhatikan atau bertanya perihal seseorang yang menarik perhatian?

Errr…

Satu kata awalan karena saya menulis ini pukul sebelas malam :

KAMPRET ANJER!

Satu kata setelah awalan karena pasti saya akan membacanya saat berpuasa :

Astaghfirullah.

Hm.

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya justru sering banget mendengar kalimat semacam itu dari teman-teman saya sendiri. Momen yang terbentuk pun hampir sama, seperti misal ketika saya sedang membidik seorang perempuan yang kelak akan saya usahakan. Pada sesi itu, biasanya saya akan bertanya kepada teman yang mungkin mengenalnya, untuk sekedar tau latar belakang dan bagaimana statusnya.

Hal yang paling sering saya dapatkan adalah bahwa si perempuan yang saya bidik ini ternyata sudah memiliki pacar atau sekedar gebetan, yang mana membuat saya memutuskan untuk balik kanan dan yaudah sajalah ya. Nah, saat momen-momen seperti ini nih biasanya teman-teman saya akan berkata persis seperti kalimat yang saya kutip di atas.

Hmm, gimana ya?

Sebenernya saya sangat paham sih, maksud dari teman-teman saya itu mungkin hanya mencoba memberi dorongan semangat untuk saya agar terus mengejar si perempuan, tanpa peduli apakah si perempuan sudah punya pacar atau belum. Tapi bagi saya yang sudah menginjak angka 24th dan memiliki muka 89th begini, kayaknya kok kurang pantes gimana gitu ya?

Saya bukan tipikal orang yang baik-baik banget ya.

Pun saya juga tipikal orang yang jahatnya parah nggak karuan.

Mencintai-Pacar-Orang

Source : Iyakan.com

Tapi, saya lebih ke tipikal orang yang sedikit mau untuk menghargai dan bersikap sadar diri saja atas apa yang terjadi.

Jika disini masih ada yang ingat perihal kisah cinta dari Salmadena, saya mungkin merupakan salah satu orang yang sedikit berkomentar sinis atas apa yang terjadi dalam hubungan mereka. Seolah ada tiga sisi penilaian yang saya utarakan. Pertama, kenapa anak Amien Rais kala itu bisa-bisanya mendekati Salmadena yang pada saat yang sama sudah memiliki pacar? Kedua, kenapa Salmadena mau merespon dan akhirnya lebih memilih untuk bersama si anak Amien Rais? Ketiga, bagaimana perasaan pacar lama Salmadena kala itu?

Semua tentu memiliki alasan atas agenda-agenda apa yang terjadi sebenarnya. Semua pasti juga sudah dijabarkan dalam berbagai berita atau cerita, yang berlatar belakang dari sisi si Salmadena, Anak Amien Rais, atau si Mantan Salmadena.

Ya, yasudah ya?

Toh, pada akhirnya, ketiga pihak tersebut sudah bahagia juga sekarang.

Setelah muncul pemberitaan perihal kisah cinta Salmadena itu, kemudian asumsi-asumsi tentang : ‘Selama janur kuning belum melengkung, semua masih bisa terjadi’ itu pun kian mencuat.

Orang-orang kian tidak ragu untuk mendekati seseorang yang sudah memiliki pasangan, karena baginya, dia pun memiliki hak yang sama untuk mendapat kesempatan memiliki. Dasarnya sekali lagi hanya satu : Selama janur kuning belum melengkung, semua hal masih terjadi.

Baik.

Semua sah-sah saja.

Tapi sayangnya, saya bukan tipikal orang yang seperti itu.

Menurut pendapat saya pribadi, selama janur kuning belum melengkung, semua hal memang bisa saja terjadi. Tapi bukan berarti saya punya hak untuk masuk dalam hubungan seseorang, membuat kekacauan di dalam hubungannya, lalu mengambil hati si perempuan dengan muka bangga dong?

Eng, saya jelas sangat tidak bisa bertindak semacam itu.

Alasannya, kan manusia-manusia yang bisa merebut hati pacar orang itu hanyalah mereka yang berduit dan bermuka tampan saja ya, anjer. Saya mah apaan, lebih mirip seperti sayur kangkung yang belum masak.

Bangkai memang.

Dalam perjalanan saya menuju angka 24 seperti sekarang ini, saya sudah mengalami banyak hal di dunia percintaan. Saya pernah diduakan, saya pernah ditinggalkan hanya untuk orang ketiga, saya pernah ditikung, saya pernah hampir menikung, saya pernah diabaikan hanya karena ada lelaki lain yang masuk, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Lantas, semua kisah itu memberikan banyak pelajaran bagi saya perihal bagaimana menuju hubungan percintaan yang benar.

Meskipun, ya kadang ada juga yang enggak benarnya.

Alhasil, setiap kali ada teman yang tau kalau saya sedang mengincar seseorang yang ternyata sudah punya pacar atau gebetan, kemudian dia menyuruh saya untuk gas terus tanpa peduli masalah pacar atau gebetannya… dipikiran saya yang pertama terbesit adalah :

‘Saya nggak pernah bisa ngebayangin gimana rasanya jadi cowoknya sih, kalau tau perempuannya direbut begitu saja’

Setelah itu, pikiran-pikiran saya yang lain pun ikut menyeruak.

‘Nggak mungkin, bangkek, si cewek mau ninggalin cowoknya hanya demi saya’

‘Sudahlah Feb, mundur saja. Kamu nggak ada apa-apanya dibanding si cowoknya’

‘Kebanting, Feb. Kebanting. Sebelum kamu sempat menikung, kamu sudah diabaikan mentah-mentah’

‘MUNDUR ANJER, FEBRI JELEK’

Yha, baiklah. Itu sangat nyata.

Saya sangat menyadari bagaimana posisi saya ya. Maka dari itu, setiap kali ada teman-teman saya yang berbicara seenak jidat dengan kalimat :

‘Alah, Feb. Janur kuning belum melengkung kalik. Hajar saja. Semua hal masih bisa terjadi.’

Saya hanya bisa tertawa sendiri.

Beberapa orang mungkin bisa mendapatkan perempuannya dengan keyakinan yang seperti itu.

Tapi, itu bukan saya.

Jelas itu bukan saya.

Saya memang sangat mengerti bahwa jika janur kuning belum melengkung, semua hal pasti masih bisa terjadi. Tapi, saya hanya akan menunggu momen itu terjadi. Momen dimana akhirnya si perempuan dengan lelakinya secara instan putus di tengah jalan, bukan karena kehadiran saya yang merusak.

Si lelaki yang dengan egonya memilih untuk berjalan sendiri.

Si perempuan dengan rasa sedih yang hanya bisa menangis dalam sepi.

Saat itulah saya mulai berani untuk mencoba mendekat perlahan.

Mencoba menemani atas apa-apa yang terjadi.

Mencoba memberi ruang untuk sekedar mengusir sepi.

Mencoba menjadi teman untuk merundung sunyi.

Bagi saya, itu salah satu cara yang tepat dalam mengartikan istilah : Selama janur belum melengkung, semua masih bisa terjadi.

Jika cara yang saya terapkan hanya indah di awal dan gagal di tengah jalan, ya sepertinya dunia masih belum berakhir dan masih ada banyak perempuan di luar sana yang sendiri.

Namun jika pada kenyataannya saya masih tetap saja gagal… Ya yasudah. Wajar sajalah ya. Sepertinya di luar sana memang masih ada banyak perempuan yang sendiri… yang juga tidak ingin ke saya.

Ditolak Banyak Perempuan

Source : Segiempat.com

Bahagia saja.

Hahak.

Terimakasih.

 

Advertisements

46 comments

  1. Setuju banget sama paragraf ini “Menurut pendapat saya pribadi, selama janur kuning belum melengkung, semua hal memang bisa saja terjadi. Tapi bukan berarti saya punya hak untuk masuk dalam hubungan seseorang, membuat kekacauan di dalam hubungannya, lalu mengambil hati si perempuan dengan muka bangga dong?”

    Mungkin karena aku termasuk orng yg berpikiran seperti itu juga. Hehehehe

    1. Ehehehe, terimakasih jika sependapat Mas. Wgwgw, saya soalnya memang berpikirnya begitu sih, kurang bagus aja kalau misal kita merebut hati seorang pacar orang atau gebetan orang gitu-gitu. Toh, masih banyak perempuan lain yang bisa diusahakan ya kan 😀

  2. Saya setipe denganmu kisanak. Tapi saya jenis kangkung yg sudah masak. Lebih lembek.

    Kalo sudah punya pacar mending gausah digangguin. Seingin apapun kita memilikinya. Tapi klo masih gebetan, ada baiknya ditanyakan dulu. Karna ada kejadian di mana seaeorang mundur menginginkan gadis karna melihat gadis tersebut menggebu ingin dekat ama org lain. Lalu memutuskan menerima kehadiran gadis lain.

    Lalu di hari2 berikutnya ternyata si gadis yg disangka menggebu ingin dekat ama org lain malah diketahui memiliki perasaan yg sama. Malah sepertinya lebih besar. Dari itu kalimat basa basi “ada yang marah nggak klo aku chat kamu” itu sepertinya kudu serinh diberlakukan walo dianggap jijik. Karna merusak hubungan org lain itu akan jauh lebih menjijikkan.

    1. Hahahaha merendah ya anda, Bang Haw.

      Ehehe, bener sih. Untuk yang masalah pacar, kita sepakat kalik ya bahwa merebut pacar orang itu sungguh tindakan tidak terpuji.

      Nah, untuk masalah gebetan gitu-gitu. Bener sih, harus beberapa kali ditanyakan. apa ada yang ganggu atau tidak, dan gimana-gimana. Toh, perempuan kan memang layak memilih. Iya nggak sih? Entah.

      Itu lebih baik, daripada merusak hubungan orang lain.

      Sepakat!

  3. Semangat Feb, yang penting niatnya baik meskipun menikung….
    Emang ada menikung yang baik, wkwkwk..
    Jika kamu merasa lebih pantas bersanding dengannya dari pada orang lain, why not. Menikung itu salah kalau perempuannya sudah punya suami, kalau masih pacar, masih milik bersama, wkwkwkw

    1. Hahaha yang penting niatnya baik yaaaaa… BAIKLAAAH WWGWGW

      Saya pantas tidak ya bersanding dengannya? Eng, tida tau juga sih -nya itu siapa. yang penting bahagia dulu saja.

      Masih pacar, masih milik bersamaaaa. BAIKLAAAH LAGI INI YA MAS 😀

  4. Selagi muda, salip menyalip, tikung menikung itu penting.

    Lihat valentino rosi. Adakalanya dia butuh salip-menyalip hanya demi mencapai lintasan lurus , finish.

  5. keren nih kalo dijadiin sinema pintu tobat “aku enggak berani nikung cewek, karena mukaku jelek kayak sayur kangkung mentah”

  6. Wah saya pun berpikir gitu bang, yang bisa nikung itu kalo gak mapan ya tampan, saya mah apa atuh cuma manusia biasa yang banyak salah. Tapi, dibantu buat semangat lagi sama bisikan “Tenang usiamu masih segini, gak perlu risau, belum 27 tahun.”

    1. Hahahaa nah, iya kan?

      Yang bisa nikung itu persyaratannya kayaknya gitu deh. Tampang keren, kalau ga ya harta kekayaannya berlimpah. Jadi, ya yasudahlah ya. Mending daku mundur saja wgwgw.

      Halaiyaini, semangat. Umur masih sedikit agak muda. Bersenang-senanglah dahulu.

      Tenang. wgwgw

    1. Hahahaha baiiiiiiiq yaaa. Baiiiiiiq. Wgwgw.

      Benar sekali, sih. Cinta tidak mengenal rupa. Sangat benar sekali. Jadi, terimakasih banyak sekali atas doanya, Kang Dani 😀

  7. “Saya memang sangat mengerti bahwa jika janur kuning belum melengkung, semua hal pasti masih bisa terjadi. Tapi, saya hanya akan menunggu momen itu terjadi. Momen dimana akhirnya si perempuan dengan lelakinya secara instan putus di tengah jalan, bukan karena kehadiran saya yang merusak” syukak bgt bagian ini. I love the way you think. Pertahankan wkwk.

    Paling sebel kalo ada yang seenak jidat nyemangati temennya dengan blg “udahlah coba deketin aja, sebelum janur kuning belom melengkung semua hal bs terjadi”. Yang suka ngomong gitu tuh either gapunya pacar (jadi ga ada pikiran kalo nanti pacarnya akan direbut org lain dengan alasan yang sama), atau emg suka gangguin pacar orang.

    1. Hahahaaa, terimakasih banyak sekali loh, Mbak Nadya :)) Akan saya pertahankan kok 😀

      Bener kan, sebel juga saya dengernya. Seolah-olah kayak, di pihak yang hendak ditikung itu bakal mau sama saya. Dan seolah-olah, saya punya power untuk menikung. YAAA TIDAKLAH. SAYA TIDAK ENAKAN UNTUK ITU DAN TIDAK PUNYA HATI. PUN, YA PASTI DIA YANG HENDAK DITIKUNG JUGA TIDAK AKAN MAU SAYA DEKATI.

      Baiq!

      Biasanya sih, emang yang suka gangguin pacar orang deh Mbak 😀 hahaa

  8. Jarang2 nih ada cowok pikirannya baik begini 😀 pasti klo kamu ngomong gt ke temen kamu bakal dibilang “ga bakalan dapet2 lo nanti, bla.. bla..” mempertahankan prinsip memang sulit tapi klo udh dapet hasilnya pasti lebih memuaskan krn prosesnya sesuai dengan prinsip kamu. Kamu masih 24 tahun, masih banyak cewek jomblo yg seumuran, semoga menemukan yg terbaik nantinya ya 🙂

    1. Hahaha, iya nih. Saya sering dikatain gitu. Katanya, kalau saya begini terus, ya nggak dapet-dapetlaaaah. Dipikir-pikir sih, iya juga ya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya lebih baik begitu daripada dapet perempuan, tapi nyakitin orang wgwgwg.

      Pemikiran orang kan beda-beda ya 😀

      Lagian, masih adaaaaa banyak perempuan diluar sana kok. Masih banyak. Saya masih tenang, dan harus tenang 😀

      Terimakasih ya, Mbak 😀

  9. Setuju kalo cewek itu sudah punya pacar ato suami, jangan nikung. Tapi… Nggakpapa menikung tuh, Feb. Kalau ada kendaraan di depanmu jalannya lelet banget ya tikung aja. Kalo cewek yg lo suka sudah punya gebetan tp gebetannya lola, ya tikung aja. Ingat prinsip flash sale di toko online: “Siapa cepat, dia dapat.” Wkwkwk 😂😂😂

    1. Hahahaha dibeberapa kesempatan, mungkin nikung itu boleh ya Mbak 😀 Iyaaa sih bener. Kalau cewe yang saya suka sudah punya gebetan, etapi gebetannya lola atau brengsek, bisa atuh ya ditikung. Emm, tapi nanti dulu ah. Santai dulu wgwgwgw.

      KENAPA JADI KAYAK FLASHSALE YA 😀

  10. Ya Allah, saya terharu. Sumpah ini bikin terharu. Gut Febri, tetaplah jadi anak yang baek baek ajah.
    Tapi, nih ya. Selama saya menikah bertahun2, gak ada janur kuning melengkung penanda hubungan kami. Karena saat itu gak nemu janurnya. Adanya banner.

    1. Ehehehe, terimakasih banyak sekali ya, Mbak 😀

      Errrr… Duh, jadi selama banner belum terpasang, semua hal bisa terjadi gitu ya?

      YAAA APA SAJA DEH, MAU BANNER, MAU BENDERA, MAU JANUR KUNING, MAU KEMBANG KANTIL. POKOKNYA JANGAN NIKUNG 😀

    1. Pebinor itu perebut bini orang ya?

      Wkwkw kok sebutannya lebi bagus pelakor sih? WGwgwg

      Tidak mbak, santai. Saya tidak akan seperti itu.

      Oh iya, semoga lelakimu segera melamarmu ya mba. Semoga :p 😀

  11. Aaah febri… Kok aku agak terharu ya baca ini wkwkwkwk…

    Kamu tuh baik sih feb, walo pesimisan gini. Coba diilangin aja yg pesimisnya, tp sikap tidak akan menikung dipertahankan. 🙂 . Di kantorku ada cowo, yg orangnya Confident. Mukanya biasa, maaf yaa malah bisa dibilang jelek. Cakepan kamu kemana mana . Tapi dia punya deretan cewe2 cantik yg naksir kedia. Sampe ada cewe yg udh punya suami jg ngejar2 dia.

    Awalnya aku sempet heran, apaaaa menariknya ini orang. Dan akhirnya aku tahu pas ngobrol, dan coba mengenal lbh deket. Dia itu enak sekali diajak ngomong. Kayaknya punya bakat aja bikin orang yg diajak bicara merasa nyaman. Yg diomongin juga topik macem2. Dan kalo ngomong ama dia, dua arah, jd saling nyambung. Oke, jadi itu satu alasan utama. Enak diajak bicara.

    Kedua, aku ngeliat walo dia ga tampan, tp penampilannya rapi, bersih, dan percaya dirinya kuat. Jd aura menariknya itu lgs menguar sih feb. Itu yg aku rasain. Sampe ditahap itu, aku udh hrs hati2, krn takut ntr jatuh ke dia juga hahahahaha.

    Makanya menurtku sih, percaya diri penting banget bikin aura menarik kita kluar. Ditunjang ama penampilan rapi, bersih dan cara bicara yg enak, percaya deh, cewe2 bisa tertarik :).

    1. Hahahaha giilaaaa ya mbaa itu, lelaki yang bener-bener bisa munculin kelebihannya dibalik kekurangannya 😀 Sebenernya itu sih mba yang penting : bikin orang lain nyaman ngobrol ke kita wgw.

      Saya mah, sudah biasa aja, diajak ngobrol suka tidak menyambung wgwgw.

      Lelaki begini yang sebenernya berbahayaaaaaa wgwgw, tapi hebat juga eheheh.

      Keren ah kalau lihat lelaki yang begini. Rapi, bersih, wangi, dan percaya diri… haha seandainya saya bisa masuk ke tahap itu. pasti menarik wgwgw.

      Pantasin diri dulu ah~

      Terimakasih lagi ya, Mbak 🙂

  12. Wkwkwk. Habis baca pos sebelumnya, eh disini aji-aji khasnya keluar lagi. Ijin ketawa tawa ya..

    Kusuka prinsipmu dalam mengartikan “selama janur kuning.. dst.”
    Hatimu baik rupanya. Tenang di luar sana banyak perempuan yang masih sendiri, dan semoga yang menujumu lekas tersingkap dari persembunyiannya.

    1. Hahah aji-aji khasnyaaa wgwgwg :D. Dipersilahkan loh mba 😀

      Iyaaaa, bener kan mbaaa? Selama janur kuning melengkung… yaaa gitu wgwwg

      Aamiin jika baik 🙂
      Aamiin juga lekas ada yang menuju saya dan tersingkap dari persembunyiannya :’

  13. Sepakat sama yang dibilang Mbak Fanny. Masih ada faktor lainnya, nggak cuma fisik aja. Asah kemampuan berkomunikasimu, Feb. Terus cintai dirimu sendiri sebelum orang lain mencintaimu. Ihiy~

    Soal urusan tikung sebelum janur kuning itu, saya kesel juga lama-lama. Lalu bahkan ada orang yang ngomong, boleh menikung sebelum bendera kuning. Jadi meskipun udah nikah, masih tetep ada kemungkinan untuk direbut. Kecuali udah mati. Mau nikung apanya?

    Terus, sebagai orang yang pernah diselingkuhin, itu nggak enak, sedih, dan sakit banget sumpah. Maka, saya pun nggak mau menikung karena rasanya ditikung sudah tahu. Belajar dari hal itu dah. Wqwq.

    Btw, yang nikung saya pas zaman SMA itu lebih jelek kok dari saya. Berarti sekali lagi, fisik itu nggak usah dipermasalahkan lagi dalam soal gebet cewek. Ya, kecuali dedek-dedek gemesh yang emang lebih nyaman sama ketampanan. 🙂

    1. Hahaha Mbak Fan memang sungguh memiliki pengalaman yang banyak ya 😀

      Makanya kita semua sepakat heheh.

      Baiklah, saya tingkatin kekuatan komunikasi saya agar supaya bilamana jika dan hanya jika. Hahaha.

      SEPAKAT! SAYA SANGAT BENCI MEREKA YANG SEENAK JIDAT MENIKUNG DAN BLABLABLANYA. YA KALIK BOLEH NIKUNG SEBELUM MATI :((

      Hahaha, kan, orang-orang yang disakiti mereka belajar untuk menghargai perasaan orang. beberapa sih. sisanya paling balas dendam.

      WAAAAAAA, KENAPA YANG LEBIH JELEK BISA MENIKUNG? ANDA KENAPA? WGWGGWW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s