Berani ‘Melawan Arus’ untuk Bekerja di Bidang yang Disuka?

Seneng nggak sih, kalau misal kita bekerja di suatu bidang yang disuka dan menghasilkan gaji dari sana?

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang acap kali hadir dibenak saya akhir-akhir ini. Entah kenapa, mungkin karena kegelisahan-kegelisahan atas segala sesuatu yang tidak pernah bisa saya ketahui perihal masa depan seperti apa yang kelak akan saya jalani nantinya, seperti misal besok lulus mau jadi apa atau hal paling sederhana seperti besok lulus mau bekerja di mana.

Saya masih belum paham.

Terkadang, saya cukup merasa iri kepada beberapa orang dan sebagian teman-teman saya yang jika mereka ditanya perihal mau jadi apa dan mau bekerja dimana, mereka bisa menjawab dengan penuh keyakinan tinggi, seolah hal tersebut memang sesuatu yang dia inginkan sejak lama.

Saya?

Boro-boro. Bisa idup sampai hari-hari berikutnya aja sudah syukur.

Sampai akhirnya tiba di masa saya mencapai titik ini. Titik dimana sepertinya saya harus menentukan kemana arah langkah saya selanjutnya. Menentukan pijakan mana yang membuat saya tidak menyesali sesuatu nantinya.

Jika saya amati, ada banyak orang di luar sana yang sesungguhnya mengidam-idamkan untuk bisa bekerja di bidang yang dia suka, tapi akhirnya mereka memaksakan diri bekerja di bidang yang bisa dibilang mengekang, hanya karena alasan : ya gimana ya, daripada nggak kerja?

Membenci Pekerjaan

POSENG KERJA YA KAN YA? ( Source : infobandung.co.id )

Melihat hal-hal yang begini, mereka-mereka itu sebenernya berada di suatu persimpangan jalan yang kayak serba salah gitu nggak sih?

Bekerja di bidang yang disuka itu memang membahagiakan dan bisa dikatakan sebagai suatu pilihan yang benar, karena memang bahagia dalam bekerja itu adalah hak setiap pekerja. Tapi, kalau misal bekerja dibidang yang salah tapi dasarnya adalah lebih mending ketimbang tidak bekerja, ya itu juga enggak salah karena memang bener lebih baik bekerja daripada tidak sama sekali.

Semua sah-sah saja.

Sangat sah.

Sampai tiba masanya mereka akan menempatkan rasa syukur sebagai alasannya untuk berbahagia dan terbiasa.

Ya, yasudah. Jalani aja.

Gitu kan?

Sebenernya, saya sangat percaya bahwa segala sesuatu memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa kepada setiap manusianya. Artinya, antara manusia satu dengan manusia lainnya memang sudah memiliki alur dan ketetapan waktunya sendiri dimana mereka akan bisa meraih kesuksesan dan kebahagiaannya.

Selain itu, saya pun juga sangat percaya perihal yang tertera pada Ar Ra’d ayat 11 bahwa Yang Maha Kuasa tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka yang mencoba mengubahnya sendiri. Artinya, jika ada salah satu manusia yang memang sudah dinasibkan untuk menjadi pekerja kantoran, tapi dia mencoba untuk terus fight agar bisa sukses menjadi pekerja kreatif yang notabenenya adalah bidang yang disukai… ya dia bisa-bisa aja.

Gitu bukan, sih?

Bagi saya, setiap orang memang layak untuk menerima sesuatu yang memang bisa membahagiakan. Setiap orang memang layak untuk mengusahakan sesuatu yang dia cita-citakan. Dan setiap orang memang layak untuk tidak berhenti memperjuangkan hal yang dia impikan.

Semuanya layak.

Tapi sayangnya, kita hidup di negara yang sebagian besar kepentingannya terpacu pada sebuah gengsi yang berkiblat pada orang-orang sukses sebelumnya.

Sedih nggak sih?

Suatu pagi kita terbangun, di dalam kamar kita merajut cita dan agenda-agenda apa yang kelak akan kita usahakan untuk dicapai nantinya, tapi saat keluar kamar, omongan-omongan orang terdekat justru bilang :

‘Eh, kamu jadi ini aja sih. Si itu dulu itu sukses loh jadi ini’

‘Eh, kamu ngapain sih jadi ini. Ini itu nggak ada masa depannya, mending jadi itu aja’

‘Eh eh eh, kemarin si ini itu sukses loh kerja di itu. Kamu nggak nyoba kerja di itu aja?’

Yaa, ya apaan coba?

Itu kan hidup mereka ya, bukan hidup kita. Ya masing-masing aja sih.

Meskipun kita punya asumsi demikian, tapi pada akhirnya beberapa dari kita memilih untuk mengalah dan menuruti apa kata mereka. Hanya demi satu alasan : ingin bisa membahagiakan orang tua atau orang terdekat.

Satu hal yang sungguh bijaksana, tapi melupakan kebijaksanaan lainnya : Diri sendiri pun juga butuh dibahagiakan.

Mungkin saja, jika orang-orang yang memaksakan diri untuk bekerja pada di pekerjaannya sekarang itu ditanya perihal keinginannya yang sesungguhnya, mereka pasti akan ada yang menjawab dengan penuh raut muka harap :

Saya sebenernya pengen jadi penulis.

Saya sebenernya pengen penyair. 

Saya sebenernya pengen seniman.

Saya sebenernya pengen ilustrator.

Saya sebenernya pengen komikus.

Saya sebenernya pengen designer.

Sebuah profesi yang sesungguhnya membebaskan, tapi tidak banyak yang memperhitungkan. Orang-orang sekarang lebih memperhitungkan pekerjaan-pekerjaan yang mengharuskan karyawannya berpakaian rapi dan berdasi, sembari menyeduh segelas coffemix setiap pagi.

Pekerja Kantoran

Pekerja Kantoran Sejati ( Source : Biz.Kompas.com )

Ya sudah.

Tergantung setiap manusianya aja, kan?

Sejujurnya, jika ada orang yang bertanya tentang ingin menjadi apa saya nantinya, jawaban yang selalu saya jawab dan saya Aamiini adalah :

Menjadi penulis.

Dan tentu, tanggapan yang selalu saya terima dari orang-orang atas jawaban saya adalah:

Lah, emang bisa penulis dijadiin pekerjaan utama?

Lah, ngapain kamu susah-susah kuliah teknik kalau gitu?

Jauh banget anjer beloknya, dari teknik sipil ke penulis.

Lah, emang kenapa?

Awalnya, saya pikir tanggapan-tanggapan itu hanyalah sebuah angin lalu yang bisa saya tanggapi balik dengan kalimat : ‘Lah emang kenapa?’. Tapi lama kelamaan, tanggapan-tanggapan itu seolah terus menyerang secara bertubi dan menjadikannya sebuah beban. Hingga pada suatu masa, saya pun berpikir panjang perihal cita-cita itu, kemudian introspeksi diri, dan ujungnya adalah mengubur impian itu dalam-dalam.

Penerbit sekarang mencari orang yang sudah sukses dengan followers jutaan untuk bisa menerbitkan tulisan.

Tulisan saya tidak berkembang.

Tulisan saya tidak layak dipasarkan.

Dan lain sebagainya-dan lain sebagainya.

Sebenarnya, ada beberapa pihak yang mendukung cita-cita saya. Ibuk adalah salah satunya. Beliau sempat beberapa kali menemukan beberapa coretan saya di sebuah buku atau kertas yang menyatakan bahwa kesukaan saya itu tidak di teknik, tapi di kepenulisan. Beliau memaklumi, dan masih terus mendukung hingga sekarang.

Sungguh, tidak ada yang lebih baik dari dukungan ibuk, bukan?

Orang-orang lain yang sempat memaklumi dan mendukung cita-cita saya justru adalah orang yang belum saya kenal lama. Mbak Aryanna dan Mas Yongki Ongestu. Mereka adalah salah satu dari sekian banyaknya manusia teramat sangat baik yang telah diciptakan oleh Allah ke bumi.

1521680128294

Mbak Aryanna adalah yang kemeja putih, dan Mas Yongki adalah yang berkaos hitam disampingnya

Bertemu dengan kedua orang itu, saya merasa bahwa asa untuk kembali menyalakan cita-cita yang pernah saya kubur dalam itu kembali muncul. Dalam suatu sesi sharing, saya sempat menjabarkan perihal cita-cita yang pernah saya kobarkan tersebut kepada mereka. Intinya adalah penulis, penulis, dan penulis. Di sesi itu, mereka berdua langsung tersenyum sembari memberi dukungan semangat, tanpa ada cela dan tawa yang diiringi dengan kalimat :

‘Seriusan, Feb? Jadi penulis itu emang menjanjikan ya?’

Ya.

Mereka adalah sosok orang yang memang mau untuk menghargai mimpi antar sesamanya. Sosok orang yang juga berasal dari lingkungan yang sok ikut-ikutan menyamakan arus kesuksesan orang lain. Sosok orang yang berani melawan arus tersebut.

Itu seharusnya, dan itu selayaknya.

Saat ini, saya masih menggenggam cita-cita tersebut. Sembari sesekali mencoba menimbang-nimbang, apakah saya mampu?

Saya tidak pernah tau.

Terus belajar dan mengusahakan adalah satu-satunya cara.

Dan, saya pun tidak pernah tau, apakah nanti setelah tulisan ini menyebar, saya benar-benar menjadi orang yang bekerja di bidang yang saya suka, atau justru menjadi orang-orang yang bekerja dengan alibi daripada tidak bekerja, lengkap dengan persepsi nanti juga terbiasa yang penting bersyukur saja.

Ya, maklumi saja.

Namanya juga manusia.

Haha.

Advertisements

32 comments

  1. Semua butuh proses dan pengalaman. Udah tau lah ya. Sekitar 10 tahun yang lalu, ada sebuah buku yang hits banget, intinya : “cabut dari kerjaan lo, pilih dan lakukan passion lo.” Aku gak langsung mudeng, kenapa? Kesanku habis baca buku hits itu : “lo pikir GAMPANG ngelakuinnya??” Kalo saya pribadi menyesuaikannya dengan kemampuan pribadi moril materil. Trus beberapa teman menyesuaikan dengan beban tanggungan, bila dia tulang punggung keluarga dan lainnya. Jadi gak semudah itu. Pada akhirnya kita akan ditunjukkan arah rezeki kita, besar kecil, enak gak enak, semua tergantung kitanya. Tetap berusaha dan berdoa. Jangan bosan belajar hal baru dan jangan gampang nyerah. Menurutku sih lebih logis begitu *pengalaman nyata diri sendiri.

    1. Ehehe, sebelum saya membalas, saya harus mastiin nih kalau Mbak Fran sudah membaca seluruh isi tulisan saya kan ya? Bukan dari judunya saja?

      Hihihi, sejujurnya saya juga masih berada pada titik kebingungan itu mbak. Pengen sih, kerja di suatu bidang yang saya suka. Tapi kalau buat penghasilan utama, sepertinya belum mungkin.

      Saya juga jelas kalau nanti sudah dapat kerja yang layak tapi tidak sesuai dengan bidang yang saya suka, terus baca buku atau omongan orang yang bilang : ‘keluar aja bangkek, ngapain sih kerja disitu. nggak bahagia kan?’

      saya nggak akan langsung nurut. saya bakal mempertimbangkan banyak hal ehehe. Bukannya, setiap hal itu memang perlu dipertimbangin kan ya 😀

      Pada intinya, ya itu. Tetap berusaha dan berdoa. Belajar terus menerus. Jangan menyerah 😀 hahahak

      Terimakasih mbak pengalaman logisnya 😀

      1. Udah dong. Ketertarikan di seni, desain, visual. Begitu juga dengan menulis. Tapi ya seperti saya bilang di komen sebelumnya, butuh waktu dan proses. Masalahnya itu buku hits, getol banget nyuruh orang cabut dan ikutin passion tanpa ada di posisi si manusianya. Jadi gak pas aja menurutku.

      2. Hehehe, iya bener sekaliii Mbak 🙂 termantap memang Mba Fran nih. Sungguh. semua butuh proses dan waktu 😀

        HAhah saya malah nggak tau buku itu deh sepertinya. Tapi kalau dilihat dari caranya yang seenak jidat nyuruh cabut dan ikuti passion, kok agak aneh ya wgwgw. Maksudnya, ya untuk orang lain mungkin sukses. Tapi untuk kita, belum tentu. Karena sekali lagi, idup orang itu beda-beda dan mereka punya waktunya sendiri-sendiri untuk berjaya. Ya kan 😀

        Terimakasih banyak sekali, Mbak 🙂 Saya perlu sharing yang begini nih. Sebenernya maksud saya menulis ya begini 😀

      3. Hahahah sekarang suda berbeda zaman. Dan sepertinya buku seperti itu hanya akan dikritik pedas wgwgw. Nais sharing ya mbaaak. Harus banyak belajar ke embak sayaaa. 😀

  2. Pengen jadi penulis? Sama dong.
    Ibu itu adalah segalanya. Jadi, kalau ibu sudah mendukung, itu juga sudah membuat hati kita lega.
    Ibu saya malah gak mendukung, maklum lah, yang ada dipikiran orang desa itu ialah, “segala sesuatunya harus jelas dan menghasilkan uang.” tapi saya gak mau nyerah, saya akan terus berusaha.
    Mari sama-sama melangkah kesana… Semangat!!!

    1. Ehehe tos dulu dong kalau sama cita-citanya 😀

      Bener banget. Ibuk adalah segalanya, dong. Pokoknya ibuk selalu melegakan deh ya.

      Hihihi mari bersama-sama berjuang 🙂

      1. But, ibu saya tidak setuju. Tapi saya pikir lagi, asal itu bukan sesuatu yang buruk saja.
        Dan saya tidak peduli apakah nanti ada yang beli buku saya atau tidak. Saya hanya ingin berpartisipasi meramaikan dunia literasi di negara kita yang kurang di minati ini.

  3. Alhamdulillah sekarang saya bekerja di instansi pemerintah sesuai dengan basic ilmu (pertanian) yang saya dapat, tapiii…..tetap saja saya ingin menjadi bos atas diri sendiri (jadi petani) insya Allah jika diberi rezeki gusti Allah nantinya. Bagi saya, kerjaan itu dapat dibagi dua mas….kerjaan utama dan sampingan. Kuncinya ya pinter2 bagi waktu, banyak lho pekerja kantoran yang nyambi jadi penjahit, jadi typewriter, bahkan jadi driver taksi online yang notabene tidak mereka dapatkan pelajarannya di bangku kuliah. Intinya tetap semangat mas dan terus berdoa, dan saya dukung juga anda jadi penulis…entah itu sebagai pekerjaan utama ataupun sampingan nantinya. Wassalam…

    1. Waaaa, keren ya kamu Mas 😀 Alhamdulillah sekali 😀

      Yaaah, semoga besok dirimu bisa jadi bos atas diri sendiri yak mas 😀 dulu rekan kerja saya pernah ada yang pekerjaan utamanya adalah berkebun dan pekerjaan sampingnya jadi geologist tambang. Katanya gajinya lebih banyak berkebun. Ya yaudahlah ya 😀

      Nah, saya juga sudah sadar lama atuh mas perihal pekerjaan yang ada dua. Wkwkw sampingan dan utama. Duh duh duh.

      Terimakasih banyak sudah mendoakan yak 😀

      Waalaikumsalam 😀

    1. Hahaha terimakasih banget, Mas 😀

      Menulis InsyaAllah tetap bakal lanjut terus kok. Mungkin pekerjaan utama saya penulis, dan pekerjaan sampingan saya jadi kontraktor wgwgw penentuan pekerjaan sampingan dan utama itu bebhas kan 😀

      Wwgwgw lucu memang jika membahas masalah kerja :p

  4. Saya g muluk2 mas
    Kasih komentar di sini merupakan pekerjaan yg saya suka
    Saya bahagia kalo bisa komentar
    Urusan gaji?
    Y sebesar apapun gaji g bisa ngalahin hati yg seneng dengan pekerjaan yg disukai Dan bersyukur menjalaninya

  5. Membaca ini membuatku galau. 😢

    Ibu adalah segalanya. Dukungan buat Mas Febri sudah besar itu. Semangat Qaqa. 😁

    1. Hahaha galaw kenapa nih? wgwgw.

      Saya sebenernya juga galaw, makanya menulis ini. Rasanya itu kayak pengen bisa kerja sesuai passion, yang nggak memberatkan. Tapi, berharap dari situ doang nggak cukup. Pengen bisa kerja dengan gaji yang sangat layak. Tapi kan gimana ya, masa nanti kerja kayak robot yang jiwanya tidak bahagia hahaha.

      Bingung bingung dah 😀 wgwgw

      Terimakasih banyak sekali yak, Suciiiih. Btw, Marquez gimana buk? hahahak

      1. Iya. Pengen kerja dimana setiap hari ngerasa hidup. Tapi, pengen juga ada penghasilan lumayan. Hah. Tapi, dapat kerjaan aja sudah syukur. Tapi, gak mau juga kerja hanya sekedar dapat. Hmmm. 😐😐😐

        Hah. Mbuh. Aku sudah tambah tua yak..

        Wkwkwk.

        Marquez lagi mimpin klasemen sementara nih. Semoga awet bertengger di sana. Ahay~

        😳😳😳

  6. pertama kali saya tahu blog kamu feb, pernah mikir sebenarnya ini anak pinterr nulis. tapi kenapa sejurusan sama saya ya? walaupun penulis boleh kuliah teknik sipil.

    tulisan mu itu menghibur feb, beberapa wkwkkw
    tapi jujur, tulisan mu keren-keren

    kalau saya sendiri masih pd kepercayaan passion itu bisa dikerjakan di waktu senggang feb atau pekerjaan sampingan. misal saya senang photograpghy. saya tetap kerja di dunia teknik sipil. ngasilin duit. duitnya buat senang-senang di passion. soal ny kalau ngandalin passion. saya belum yakin itu bisa ngasilin duit apa gak.

    1. Waaaaa, Luthfiiii 😀

      Terimakasih banyak sekali yak, btw. Saya masih bener-bener harus banyak belajar ehehehe.

      Dan perihal masalah passion dan kerjaan. Nah, saya masih pada persimpangan itu. Kadang gimana ya, ingin bisa kerja sesuai passion yang bebas gitu. Tapi, saya sangat yakin bahwa itu nggak menghasilkan. Pengen bisa kerja yang gajinya sangat layak, tapi kadang enggan aja gitu kerja yang duh monoton abis gitu.

      Hahaha, nanti pada akhirnya mungkin saya akan bener-bener ngerti dimana tempat yang harus saya pijak kok. Yah, saya nulis ini sebenernya cuma butuh sharing dari mentemen saja gitu 😀 wwgwgw.

      Dan bener, passion sangat bisa dikerjaan saat senggang. Selama ini saya melakukannya 😀 kalau enggak, ya buset saya masa tida kuliah wgwgw

      Terimakasih banyak sekali ya, Lufhfi 😀

  7. Saya lebih sepakat sama Lutfi diatas Feb,,
    Sebab, tidak semua orang juga bisa nyemplung dan menyelesaikan kuliah Teknik Sipilnya. So, betapa beruntungnya Febri yang bisa menyatukan kedunya, Sipil khatam dan menulis juga terus dilakoni. Keren.

    1. Hahahaha benar ya mbak. Untuk masalah passion yang dijadikan sampingan, saya selama ini masih menjalaninya konsep yang begitu kok. Eheheh. Lagipupa, saya pun juga bingung perihal sebenernya bidang yang saya suka apa dan saya harus kerja nyemplung kemana wgwgw. Sempet pernah berada di satu momen kayak ‘ah, yang penting kerja deh. Daripada tidak’ sepertinya itu tidak salah. Cara pandang aja sebenernya. Yang penting nulis itu jalan terus kalau saya mah wgwgw

  8. Kalau boleh saya ngasih saran, Feb, mulai dari sekarang belajarlah bersikap bodo amat sama komentar orang-orang yang nggak mendukung (bukan kritik, ya) dan fokus ngejar impian kamu aja. Soal pekerjaan yang nggak sesuai passion, itu bagian dari proses aja menurut saya. Agar kita bisa merasakan sisi lain dari setiap pilihan yang menurut kita adalah kekeliruan. Kalau saya, nggak ada yang keliru dari pilihan kita selama kita bisa belajar dari setiap pilihan. Nggak ada pilihan yang salah, kalau kata Om Pinot. Live with it, and learn.

    Lagi pula, industri kreatif saat ini lagi di jalur yang bagus. Lupakan soal pakaian kerja yang rapi dan maskulin. Saya udah dua tahun nggak ngantor dan bersyukur nggak wajib bangun pagi, dan yang penting, nggak peduli kata tetangga. HAHA. Good luck!

    1. All hail Lord, Firman.

      Sepertinya saya memang harus banyak-banyak belajar dari dirimu deh. Sayangnya, dirimu sudah keburu-buru balik ke Makassar :’

      Bener banget. Nanti ngalir aja ya. Bekerja tida sesuai passion itu hanya batu loncatan. Ini saya tandai banget nih, Bang , komentarmu :’

      Selalu mengerti pula dirimu. Yaaaaah, tidak peduli omongan orang-orang ! 😀

  9. Memang society kita sangat terpaku dengan definisi sukses yang hampir universal, misalnya suskes adalah “pekerjaan yang menjamin kesejahteraan pekerjanya, ada tanggungan ini itu, asuransi, bisa beli mobil, DP rumah, dsb.”

    Tapi yang tidak diperhitungkan adalah, apakah definisi sukses sama untuk semua orang? Bagaimana jika ada orang yang menganggap sukses adalah “cukup makan, tapi bisa hidup dari jalan-jalan” atau “ga butuh rumah dan mobil, maunya memberi waktu dan tenaga kepada orang yang membutuhkan”.

    Manusia pada umumnya ingin sesuatu yang “aman” dan “pasti”. Padahal tidak ada yang namanya pasti kecuali perubahan dan kematian.

    Jadi ya, selama kamu tahu apa yang baik untuk kamu, jalanin aja dan perjuangin. Ga perlu terlalu pusing dengan skeptisnya orang lain. Kalo mereka skeptis, share your dream dengan orang-orang yang support kamu. Afterall, orang skeptis ga bayarin gaji kita kok 🙂

    All the best!

    1. MBAAAAK ARYANNA!!!

      Selalu teduh setiap mendengar segala komentarmu dari sisi mimpi dan sudut pandang. Kamu sungguh mampu merangkul mimpi-mimpi orang sepertinya, Mbak :’) entah kenapa, saya membaca komentarmu ini jadi kayak ngangguk-ngangguk setuju gimana gitu.

      Sepakat sekali, defisini sukses bagi setiap orang sekarang kayak disamaratakan. Seolah-olah yang menjadi bahagia kita adalah sama. Padahal, jauh berbeda. Tidak perlulah punya mobil, DP rumah, buru-buru nikah, atau apalah. Beberapa ada yang ingin bisa sukses dengan bahagia dari tulisan, jalan-jalan, artikelnya dibaca, dan lain-lain.

      Bahagialah dengan sederhana, bersyukurlah dengan apa yang ada. Berjuanglah sampai mencapai titik yang dibisa. 🙂

      Itu.

      Dan, yaaaah, saya selalu memperjuangkan apa yang baik dan bahagia untuk saya mbak. Tidak mau terkekang. Tidak mau ambil pusing omongan orang yang skeptisnya minta ampun. Benar sekali, mereka tidak menggaji kita. Jadi, kenapa kita harus nurut iya-iya ya :’)

      All the best juga untuk dirimu, Mbak 🙂

      Sukses dan rangkullah mimpi-mimpi mereka 🙂

      Salam hormat dari saya disini, Mbak yang menginspirasi.

  10. Tetap semangat mas efeb , walaupun nanti kamu bekerja di bidang yang gak kamu sukai tapi pernah kamu tekuni, jalanin aja, kamu ciptakan kebahagiaanmu sendiri, jangnn lupakan nulis ya, karna itu passion dan semangatmu. kita ga pernah tau apa yang akan terjadi besok, barangkali Tuhan ngasih jalan lain buat kerjaan kita hihi

    tetap semangat ya :3

    1. Hahaha terimakasih banyak sekali ya, Mbak Alva :))

      Komentarmu sungguh menginspirasi, Mbak. Iya, besok apapun yang kelak jadi pekerjaan saya, InsyaAllah akan saya nikmati saja. Tentu tidak akan lupa sama menulis dong 🙂 jangan sampai menghambat tulisan 😀

      Terimakasih 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s