Mengenang Tegal : Kota Kelahiran

Pernah nggak sih, ngerasa ada yang beda sama suatu tempat yang pernah kita singgahi dahulu? Suatu tempat yang kayaknya dulu sangat familiar dengan hidup kita, tapi saat kita coba untuk mengunjungi balik, kok rasanya ada banyak banget hal yang berbeda gitu.

Pernah kalik ya?

Atau mungkin sering?

Kayaknya sih, ada banyak banget orang yang pernah merasakan hal demikian, entah itu merujuk pada suatu tempat, atau pada suatu hati yang pernah tertanam sebuah perasaan. Tapi yang jelas, semua terasa beda aja gitu. Beda aja.

Saya baru benar-benar merasakannya sekitar satu bulan yang lalu. Tentang sesuatu yang sudah cukup lama saya tinggalkan. Tentang sesuatu yang telah berubah. Tentang sesuatu yang nampak asing di mata. Tentang suatu tempat dimana saya dilahirkan.

HAHAHAHA YA IYALAH, YA. DARI JUDUL KAN SUDAH JELAS SAYA MAU MEMBAHAS MASALAH KOTA KELAHIRAN. TIDAK MUNGKIN TIBA-TIBA SAYA MEMBAHAS TENTANG PERCINTAAN BERSAMA MANTAN YANG BERNAMA TEGAL.

Lagipula, siapa juga perempuan yang memiliki panggilan sehari-harinya adalah Tegal.

Aneh-aneh sahaja.

Ehehe.

Tegal Kota Bahari

Tegal Kota Bahari (Source : Wartabahari.com)

Yak, saya lahir di Tegal 24 tahun yang lalu. Sedari lahir hingga kelas 3 SD, saya sebenarnya sudah berulang kali berpindah tempat tinggal, mulai dari Tegal – Jogja – Sumatera – Jogja – Tegal. Tapi jika diukur dengan jangka waktu yang relatif lama dan relatif sangat bahagia, bisa dibilang saat itu saya lebih lama dan bahagia di kota yang terkenal dengan bahasa ngapaknya itu.

Ada banyak hal yang saya rasakan ketika masih di Tegal dulu. Bisa dibilang, masa kecil saya sungguh sangat berwarna dengan kehadiran teman sekampung yang hampir setiap hari memanggil-manggil nama saya di depan rumah. Pun sebaliknya, saya juga sering memanggil nama teman-teman saya di depan rumahnya hanya untuk bermain bersama ketika sore menjelang. Pokoknya, masa anak-anak tipikal tahun 90-an senantiasa saya rasakan dengan sangat bahagia deh saat itu.

Sewaktu weekdays, rutinitas yang saya lakukan adalah bangun pagi dengan semangat, berangkat sekolah dengan ceria, dan bermain-main di kelas atau di halaman sekolah dengan wajah ceria. Saat waktunya pulang, saya masih terlihat semangat saat menyusuri jalanan menuju rumah, tanpa terasa lelah sedikitpun. Apabila waktu pulang sekolah hujan, saya langsung memilih untuk hujan-hujanan dengan terlebih dahulu minta ijin kepada orang tua. Namun apabila waktu itu cerah, saya akan langsung ganti baju, dan segera meluncur keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman sedesa.

Anak Kecil Hujan-Hujanan

Anak-Anak Bermain Sambil Hujan-Hujan (Source : IslamKafah.com)

Bahagia sekali pokoknya.

Saat sore menjelang, saya dan teman-teman pun berbondong-bondong bermain gobak sodor di halaman Masjid sembari menunggu adzan berkumandang. Saat menjelang isya, saya dan teman-teman dengan sangat rajin mengikuti TPA di salah satu rumah ustadz yang ada di desa. Saat sehabis TPA, kami menyempatkan diri untuk berkumpul di teras rumah saya untuk kemudian ngobrol ngalor-ngidul masalah hantu atau sekedar bermain domikado, hingga pada waktunya, orang tua kami memanggil agar kami segera pulang dan belajar.

Saat weekend, kegiatan saya dan teman-teman makin penuh dan berwarna. Pada Minggu pagi, saya dan teman-teman biasanya mengawali hari dengan bersepedaan mengitari jalanan sekitaran rumah, lengkap dibagian belakang sepeda diselipkan botol aqua bekas agar bebunyi suara ‘rong rong rong rong rong’ tidak jelas. Saat matahari mulai muncul di ufuk timur, kami pun berbondong-bondong langsunh menuju lapangan dekat sekolah untuk bermain bola bersama. Sesaat setelah keringat sudah didapatkan, kami pun langsung sepakat untuk pulang karena ada kartun-kartun favorit yang minta untuk diselesaikan.

Biasanya, saya menonton kartun dari pukul 06.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Kalau tidak salah, saya masih ingat kartun terakhir yang saya tonton sebelum akhirnya memilih untuk bermain power ranger-power rangeran di teras rumah bersama teman-teman adalah kartun Medabots.

Medabots

Kartun Medabots (Source : PlanetLoading)

Pokoknya, tidak ada hari kosong yang saya luangkan di hari Minggu. Tidak ada tidur siang, pun tidak ada waktu tuk malas-malasan sambil menerawang layar ponsel membaca-baca thread Adora-Alina-Hilman. Semuanya saya lakukan sesuai dengan aktivitas-aktivitas anak kecil pada umumnya : bermain-bermain-dan bermain.

Ketika saya menulis tulisan ini, rasanya sungguh bahagia sekali ya hidup di masa-masa itu.

Sebuah masa yang memang tidak pernah bisa dibandingkan dengan masa sekarang.

Selepas kelas 3 SD, kira-kira pada tahun 2004, saya pun pindah ke Jogja. Saat itu, saya tidak bisa mengelak atau merengek untuk tetap tinggal di Tegal saja. Tidak bisa. Saya hanya bisa menurut dan mengikuti dimana orang tua bertempat tinggal. Dan seperti yang dirasakan oleh kebanyakan orang saat menempati tempat baru, saya pun merasa sangat asing saat bertempat tinggal di Jogja dan merasa sungguh lebih nyaman hidup di Tegal. Setidaknya, perasaan itu yang dipikirkan oleh Febri saat masih berumur 10 tahun.

Karena masih kecil dan masih ingin merasakan bahagianya masa kecil di Tegal, akhirnya saya dan orang tua pun rutin untuk mengunjungi Tegal setahun sekali, tepat saat libur semester tiba. Perasaan saya? Masih sama. Tidak ada yang berubah tiap tahunnya. Tegal masihlah Tegal yang membuat saya bahagia. Tegal masihlah Tegal yang di dalamnya terdapat teman-teman yang masih ingat dan senantiasa mau bermain dengan saya.

Belum ada yang berubah dari Tegal ketika saya duduk di bangku SD.

Sampai akhirnya, waktu berjalan dengan sangat terburu-buru.

Tak terasa, saya sudah duduk di jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMP, SMA, dan Kuliah. Pada masa tersebut, saya pun mulai jarang berkunjung kembali ke Tegal karena berbagai alasan. Jika boleh saya hitung, mungkin selepas lulus SD hingga sekarang, saya hanya 4 kali pulang kampung ke Tegal. 12 tahun di Jogja dan hanya 4 kali mengunjungi Tegal itu merupakan hal yang cukup memprihatinkan sih.

Terlebih lagi, saya mulai menemukan banyak perbedaan yang terjadi saat mengunjungi tempat kelahiran saya tersebut. Dari pulang kampung pertama saya setelah lulus SD yang pertama, saya mulai sulit bersua dengan teman-teman sekampung saya. Beranjak ke pulang kampung kedua saya setelah lulus SD, saya jadi lebih sering berdiam di rumah kakek ketimbang keluar rumah. Lalu pulang kampung ketiga saya setelah lulus SD yang hanya saya nikmati sembari duduk di halaman depan rumah kakek, berharap satu persatu teman SD saya lewat dan menyapa saya. Dan puncaknya adalah satu bulan lalu, yaitu kali keempatnya saya kembali ke Tegal setelah lulus SD.

 

Disana, saya seperti tidak lagi mengenal siapapun, kecuali orang-orang rumah. Saudara-saudara seumuran saya yang semasa saya kecil dulu selalu ada dan mengajak saya bermain, sekarang mereka sudah memiliki rumah sendiri di tempat lain dan hidup bersama istri beserta anak-anaknya dengan bahagia.

Beberapa teman yang dahulu pernah menjadi sebuah ruang untuk saya mengisi kekosongan, kini mereka sudah menyebar entah kenapa. Bahkan jika boleh pesimis, saya pun ragu apakah mereka masih ingat saya atau tidak.

Disuatu malam, karena kerinduan saya akan teman-teman saya semasa kecil, saya pun bertanya kepada om saya perihal teman-teman saya yang rumahnya berada di dekat rumah. Jawaban dari om saya rata-rata adalah : Mereka sudah menikah.

Waw.

Bahkan, tetangga perempuan depan rumah saya yang saat kecil dulu pernah saya godain dan saya ledek-ledekin, dia baru beberapa bulan lalu menikah.

Saat mendengar kabar tersebut, saya pun langsung bangkit dari tidur dan mencoba mengintip ke depan rumah. Saya melihat rumah tetangga yang masih sama, namun dengan bentuk halaman yang berbeda. Pikiran saya pun langsung menyeruak keluar dengan batin yang bermonolog :

‘Kayaknya baru kemarin deh, saya main masak-masakan sama itu anak. Ledek-ledekan. Lempar-lemparan. Eh, dia sudah nikah aja’

Rumah Tetangga

Rumah Tetangga Saya.

Pfffft…

Sebenarnya, setelah lulus dari SD dulu, saya sudah menebak-menebak bahwa perubahan ini lambat laun pasti akan terjadi. Manusia akan bertumbuh, dan kejadian pun akan terkenang. Saat ini, saya benar-benar merasakannya. Merasakan tebakan yang saya harap tidak pernah benar-benar kejadian. Sungguh sesuatu yang disayangkan, tetapi tidak pernah bisa dihindarkan.

Akhirnya, saat waktu singgah saya di Tegal hanya menyisakan 1 hari saja, saya pun memilih untuk keluar rumah dan berjalan-jalan sendiri mengitari beberapa tempat yang dulu pernah saya jejaki. Tempat yang memiliki banyak kenangan masa kecil. Tempat yang tidak mungkin bisa diulang untuk kembali saya nikmati. Tempat yang pernah menjadi ruang saya mencari kebahagiaan. Tempat yang tidak akan pernah terlupakan.

  1. Sungai
Sungai Tempat Renang

Dua Sungai Penuh Kenangan

Yak, saat kecil dulu, saya doyan banget main di sungai, hanya sekedar untuk memancing atau berenang bersama teman-teman.

Sungai ini berada tidak jauh dari rumah saya. Kira-kira 500 meteran jika saya harus berjalan dari rumah menuju sungai ini. Pada masanya, ketika saya masih duduk di bangku SD, suatu saat saya pernah dengan amat sangat pede mencemplung di sungai tersebut. Saya masih inget banget, dulu itu sungai yang sebelah kiri adalah sungai yang cukup dalam, sehingga anak-anak seumuran saya lebih memilih untuk berenang di sungai yang sebelah kanan.

Sungai Tempat Berenang

Sungai Tempat Mandi Bersama

Raut muka kami sangat bahagia. Apa adanya. Tanpa malu. Tanpa ragu. Meskipun, beberapa diantara kami ada yang sempat terkena pecahan beling dan pulang dengan berdarah-darah, kami tidak pernah merasa jera. Malah, mungkin justru ketagihan. Selepas berenang, biasanya kami mencari ikan sepat dan membakarnya di sekitaran sana.

Dimakan?

Tentu tidak. Kami hanya suka proses bakar-bakarannya saja.

  1. Lapangan Bola
Lapangan Depan Sekolah

Lapangan Bola Depan Sekolah

Seperti yang pernah saya ceritakan di atas, lapangan bola yang ada di depan sekolah saya itu merupakan lapangan serba guna yang bisa dipakai untuk apa saja. Kami sering bermain layangan di lapangan itu, sering bermain bola disitu juga, pun kami juga sering sekedar lari-lari atau sepedaan juga disana.

Kadang, diwaktu tertentu, lapangan itu juga menjadi tempat untuk diadakannya semacam pasar malam gitu. Pokoknya membahagiakan deh.

  1. Teras Rumah.
Rumah Saya Dulu

Rumah Saya Saat Masih Di Tegal

Bagi saya, teras rumah bisa dikatakan sebagai tempat bermain sederhana yang pernah saya punya saat masih duduk di bangku SD. Di teras rumah itu, sudah beberapa kali saya mengkhayal bersama teman-teman bahwa robot-robot ultramen dan power ranger yang saya pegang kala itu adalah sungguhan dan bisa berbicara.

Teras Rumah Untuk Bermain

Teras Rumah Saya

Di teras rumah itu juga menjadi saksi bisu akan cerita-cerita mistis saya dengan teman, saksi bisu akan permainan domikado yang kini mulai usang, dan saksi bisu akan kebahagiaan kami semua tanpa gadget di tangan.

  1. Halaman Depan Rumah Simbah Mandisan.
Halaman Depan Rumah Mandisan

Halaman Rumah Mandisan yang dulu Menjadi Tempat Saya Bermain Bola

Dahulu, halaman depan rumah milik simbah Mandisan tidak terlihat sekecil itu. Pun, pohon yang tertanam disana bukan buah mangga, melainkan dua batang pohon kelapa yang menjulang tinggi ke atas.

Di halaman depan rumah simbah Mandisan itu, biasanya saya dan teman-teman bermain bola plastik dengan gembira. Tak jarang, kami pun juga bermain petak umpet, lompat-lompat, dan bercanda tawa bersama.

Sekarang, halaman depan rumah simbah Mandisan yang dulu menjadi tempat bermain untuk saya jadi terlihat sangat kecil. Terlebih lagi, simbah Mandisan yang dulu punya hobi untuk memarahi kami semua ketika siang-siang mengganggu tidurnya gara-gara ribut bermain bola, kini sudah meninggal dunia. Doakan semoga amal dan ibadah beliau di terima disisinya.

Teman saya sekaligus cucunya Simbah Mandisan pun kini dia sudah menikah dan nggak tau tinggal dimana.

  1. Rumput Pinggir Sungai.
Rumput Samping Sungai

Tempat Saya Goler-Goler saat Masih SD dulu

Saat masih kecil dulu, saya merasa bahwa duduk di tepi sungai dan sawah sembari melihat awan yang tertata rapi itu adalah sebuah momen yang sangat indah. Biasanya, momen itu saya lakukan ketika sore hari, bersamaan dengan orang-orang dewasa yang sedang berlomba dengan burung daranya.

Sekarang, saat saya lihat lagi… kayaknya tidak mungkin deh saya berguling-guling di rumput dengan luas sekecil itu.

Sebenarnya, ada banyak sekali tempat yang menjadi kenangan saya semasa kecil dulu. Banyak sekali. Kandang kambing yang dulu pernah menjadi tempat kami berkemah, rumah orang yang dulu pernah kami sogok-sogok gendengnya hanya untuk mendapatkan kalong, sekolah yang kadang saya masuki hanya untuk mencari kapur atau barang-barang yang tertinggal, halaman masjid, halaman depan rumah kakek, pantai larangan, dan lain-lain sebagainya.

SD Kemantran 1

SD saya di Tegal dulu

Rasanya, tidak bisa lagi saya mencoba untuk mengenangnya.

Cukup berat, dan terlalu berharga.

Ketika saya hampir menyelesaikan tulisan ini, saya pun akhirnya tersadar akan satu hal.

Pada kenyataannya, Tegal tidak berubah. Sama sekali tidak berubah. Hanya saja, saya dan teman-teman saya yang semakin lama semakin bertumbuh. Masa yang kian lama kian memaju. Kejadian yang kian lama kian menjadi kenangan. Jadi, ya begini adanya.

Sekarang, mungkin bukan masanya saya lagi untuk menikmati masa kecil.

Tapi sekarang, bolehkan saya dibiarkan untuk sejenak masa-masa bahagia saya.

Masa yang terbaik sepanjang hidup saya.

Terimakasih.

 

 

Advertisements

24 comments

  1. Wah, kayaknya kita seangkatan nih mas. Masa kecil saya juga kurang lebih seperti itu, hanya dulu saya cuman bisa mbonceng sepeda temen karena gak punya. Hhee

    Wah, emang masa2 kecil sangat menyenangkan ya mas.

    1. Hahaha iya mungkin ya, Mas. Seangkatan deh 😀 wgwgw.
      Haha saya juga kadang membonceng kok mas, kalau sepeda saya dipake kakak wgwgw.

      Beneeeeer banget. Masa kecil itu ngangenin 😀

  2. Dulu aku punya banyak temen yang orang Tegal dan Purwokerto, tapi sampai sekarang aku belum sempet mampir ke sana. Kampung halaman memang yang selalu ngangenin. Gak peduli sejauh apapun aku pergi, Bandung, kampung halamanku, tetap no 1 di hatiku hehehe

    1. Waaaa, banyak juga yak temennya 😀 ehehhe. Bener banget kan, kampung halaman selalu nyenengin buat dikenang eeheh. Dan walau saya orang Jogja, tapi yaaak, saya suka Bandung juga 😀 ehhee

  3. Itu kenapa g dijadiin hobi j kena bekingnya kalo udah ketagihan
    Kan mayan hobinya bisa buat berdarah2
    Ternyata mas febri ini pernah kecil juga y
    Saya kira pas lahir langsung gede kayak sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s