Saya Bisa Lulus Tidak ya, Ya Allah?

Untuk saat ini, hal yang paling membuat saya merasa deg-degan nggak karuan adalah saat dimana saya diminta untuk menemui dosen pembimbing agar segera konsultasi tugas akhir.

Ya, meskipun terdengar agak sepele dan demi progress kelulusan yang lebih baik, entah kenapa saya masih tidak bisa santai untuk menghadap dosen pembimbing yang menurut saya sangat baik dan perhatian sekali.

Hampir selalu, setiap kali saya janjian untuk ketemu dengan dosen pembimbing tercinta, malamnya saya selalu tidak bisa tidur dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi nantinya, seperti misal saya akan dimarah-marahin, dibentak-bentak, atau apalah itu lainnya. Satu hal yang paling saya takutkan adalah kemungkinan jika tiba-tiba dosen merasa menyerah dan meminta saya untuk ganti judul saya.

dimarahin dosen saat bimbingan

Dimarahin dosen sudah biasa (Source : Idntimes)

 

Enggak tau darimana pikiran tersebut, tapi yang jelas, sumpah deh saya nggak bisa merasa tenang.

Sebenarnya, dosen pembimbing saya itu tipikal dosen yang sangat lucu dan menyenangkan. Hal itu terbukti saat suatu hari, ketika saya berpapasan di kampus dan bersalaman, pak dosen dengan nada yang sedikit tinggi langsung berucap :

‘Kamu kok malah main sih, mas? Bukannya konsultasi dan mengerjakan skripsi’

Mendengar ucapan tersebut, otomatis saya langsung panik dan tidak enak dong ya? Tapi kemudian saya menjawab dengan kalimat yang sangat hati-hati dan cukup sopan.

‘Ini ada urusan sebentar pak, buat njagain ujian praktek mahasiswa. Lagipula, mohon maaf ya pak, saya kan baru kemarin mengirimkan file skripsi saya dan belum bapak koreksi’

Saat mendengar jawaban dari saya, pak dosen pembimbing pun akhirnya merespon :

‘Oh iya ya.’

Kemudian berlalu sambil tertawa dan menjulurkan lidah.

Menggemaskan sekali sumpah bapak dosen pembimbing saya ini.

Selain lucu dan menyenangkan, dosen pembimbing saya pun bisa dibilang sebagai sosok yang misterius. Hal tersebut tentu beralasan karena disuatu malam, beliau pernah mengirimkan pesan pertanyaan singkat seperti berikut :

‘Assalamualaikum Wr. Wb. Febri tugas akhirnya sudah sampai mana?’

Membaca pesan berisi kalimat semacam itu, tentu  membuat saya syok setengah mati dong ya? Apalagi kebetulan banget saya menerima pesan itu pukul 20.00 WIB, yaitu saat saya baru pulang dari kampus dan sedang berhenti di lampu merah. Paniknya bertumpeh-tumpeh parah deh ya.

Tanpa banyak babibu, saya pun langsung mengirimkan pesan balasan yang mana merupakan realita dari skripsi saya yang sudah sampai mana. Tanpa dibuat-buat dan tanpa dikurang-kurang. Pokoknya jawaban teraman dan terjujur deh.

Akhir dari pesan tersebut, ya tidak berbalas. Centang biru terpampang nyata disana. Tanpa ada balasan, tanpa ada kejelasan dari maksud yang dosen pembimbing tanyakan.

BIKIN MAKIN WAS-WAS BUSET.

Percaya deh sama saya, perpaduan antara dosen pembimbing yang lucu, menyenangkan, sekaligus misterius itu cukup sangat mendeg-degan hati. Ditambah lagi dosen pembimbing saya itu tipikal bapak-bapak yang moody dan tegas banget.

YA GIMANA SAYA NGGAK DEG-DEGAN ATUH YA?

Hal itu nyata terjadi pada saat awal semester 10 kemarin. Saat itu, saya dengan sangat hati-hati memberi kabar bahwa saya sudah mengirimkan file skripsi dari bab 1 sampai 5 di web khusus konsultasi tugas akhir. Disitu, pak dosen pembimbing langsung menjawab dengan jawaban singkat : ‘ok’ gitu saja. Membaca pesan itu, saya santai. Sudah biasa. Jadi ya tinggal menunggu waktu saja untuk revisi skripsi saya.

Satu minggu kemudian, saya terbangun sedikit agak terlambat gara-gara malamnya tidur sehabis Subuh. Saat saya melihat jam, jarum pendeknya menunjuk di angka sepuluh sementara jarum panjangnya menempel di angka 8.

Kebo sekali memang saya.

Lelah Skripsi

Lelahnya Skripsi Ini (Source : ributrukun.com)

Sebagaimana rutinitas saya seusai bangun pagi, saya selalu mengecek web khusus konsultasi tugas akhir milik kampus saya dan disitu saya baru saja menemukan sebuah kenyataan bahwa file skripsi saya telah ditanggapi oleh dosen pembimbing. Seketika, saya pun langsung melihat komentar mengenai apa-apa saja yang bisa saya revisi dari skripsi yang saya kirimkan. Namun, di web tersebut hanya terpampang 5 kata saja :

‘Temui saya untuk klarifikasi. Tks.’

Jelas saja, saya yang saat itu masih ileran dan belum siap ngapa-ngapain pun seketika langsung terloncat dari kasur untuk bergegas membersihkan diri dan melaju menuju kampus dong ya? Mau mati apa pesan singkat seperti itu diabaikan?

Dengan perasaan yang sangat was-was, takut, deg-degan, dan nggak karuan, saya pun langsung segera bergegas menuju kampus guna menemui dosen pembimbing tercinta. Tak lupa, saya juga sudah menyiapkan printout dari draft skripsi saya yang memang diminta oleh dosen pembimbing untuk dibawa.

Sekitar pukul 11.20 WIB, saya sudah sampai kampus dan berdiri di depan jurusan. Disana, perasaan yang saya rasakan makin tidak karuan. Apalagi biasanya, jam-jam di atas pukul 10.00 WIB adalah jam-jam dimana dosen pembimbing saya moodnya bisa berubah beraturan.  Hati saya semakin terasa bergejolak tak henti-hentinya. Saya curiga di dalam organ tubuh saya, ada barisan pemain orchestra yang sedang berlatih disana. Nggak nyantai amat.

Menurut pengalaman yang saya alami sebelumnya, mood terbaik dosen pembimbing saya itu berada di jam 08.00 WIB sampai jam 10.00 WIB. Selebihnya, ya berdoalah selalu agar dosen pembimbing saya digaji setiap saat agar moodnya damai sentosa.

Dengan menghela nafas panjang, akhirnya saya pun masuk ke dalam jurusan dan segera melangkah menuju ruang dosen pembimbing tercinta. Disana, beliau sedang duduk di depan komputernya. Saya pun mengucap salam dengan hati-hati sembari menampilkan senyum terbaik. Tepat ketika beliau melihat saya di depan pintu, beliau langsung mempersilahkan saya masuk.

Satu langkah kaki saya masuk ke dalam ruangan dosen pembimbing, puluhan detak jantung saya bergejolak cepat. Rasanya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh. Saya langsung bersikap sesopan mungkin sembari menyerahkan printout skripsi saya.

Dan, ya disitulah penderitaan saya dimulai.

‘Kamu itu nulis apa sih mas sebenernya?’

JLEB.

Kalimat itu adalah kalimat yang pertama kali pak dosen pembimbing sampaikan ketika bertemu saya, yang dengan seketika membuat jantung saya berdegup nggak karuan. Entahlah, mungkin di dalam organ tubuh saya ini barisan orang yang tadinya sedang berlatih orchestra sudah beralih menjadi tukang dugem atau apalah itu namanya.

‘Ini juga apa lagi, formatnya masih belum rapi. Ini kan tugas akhir, mas. Bukan proposal lagi’

Sebelum saya mau menjawab, pak dosen masih kembali mencecarkan kalimatnya. Beberapa poin di bab 1, 2, 3, dan 4 yang semester lalu sudah beliau acc, eh dicoret-coret lagi. Bingung sayanya. Kemudian, saya pun mengeles dengan memberikan jawaban pelan.

‘Mohon maaf sebelumnya, pak. Saat itu saya mengirimkan ke bapak memang masih agak berantakan, pasalnya saya hanya ingin menunjukkan hasil kerjaan saya di bab 5 dulu. Begitu, pak’

Mendengar jawaban saya, pak dosen pembimbing pun langsung beralih ke bab 5. Beliau membolak-balikkan halaman, yang di tiap halamannya selalu diikuti oleh pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti :

‘Ini kamu dasarnya dari mana?’

‘Kamu pakai konsep bernoulli, untuk perhitungan debitnya gimana?’

‘Kamu pake zat cair ideal atau zat cair riil?’

‘Ini dibawahnya garis tenaga ini namanya garis apa, mas?’

Dan masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Saat saya berulang kali mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pak dosen pembimbing, beliau berulang kali juga berucap : ‘Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah’, membuat saya merasa semakin amat sangat tertekan dengan keadaan ini.

Salah saya juga sih, menemui dosen tanpa belajar terlebih dahulu itu emang sangat tidak aman. Terlebih lagi konsultasinya masalah skripsi. Bisa dihajar habis sayanya. Selain itu, saya pun juga tidak pernah menyangka bahwa akan mendapat cecaran pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti itu, loh. Suwer.

Sekitar 30 menitan saya menghadap dosen pembimbing, akhirnya beliau pun merasa cukup untuk ‘menghabisi’ mahasiswa bimbingannya dan waktu istirahat pun telah tiba. Beliau  memberikan setengah printout skripsi saya untuk segera direvisi, dan setengahnya lagi beliau bawa untuk kemudian akan beliau koreksi.

Saat hendak pamit keluar ruangan, saya dengan kesadaran penuh pun langsung meminta maaf sebesar-besarnya kepada pak dosen pembimbing atas ketidaksiapan saya hari itu.

‘Mohon maaf dan mohon saya untuk dibimbing ya Pak’

Ucap saya dengan memelas, yang mana langsung dibalas oleh pak dosen pembimbing dengan kalimat yang cukup mengjlebkan hati.

‘Ya dibimbing, tapi kalau masalah mendasar begini kan kebangetan. Belajar lagi, mas. Biar nggak dibantai dosen penguji nantinya’

Setelah kalimat itu, suasana pun cukup mencair dan obrolan saya dengan pak dosen pembimbing pun kembali sangat menyenangkan :


Febri Ganteng yang Dibimbing : ‘Iya, pak. Terimakasih banyak ya, Pak. Mohon maaf sekali apabila saya sedikit merepotkan bapak’

Pak Dosen Pembimbing : ‘Nggakpapa mas. Tenang saja’

Febri Ganteng yang Dibimbing : ‘Saya kalau rutin bimbingan sama bapak boleh kan ya, pak?’

Pak Dosen Pembimbing : ‘Boleh, mas. Asal bilang terlebih dahulu’

Febri Ganteng yang Dibimbing : ‘Baik pak, kalau tidak salah bapak ngajarnya hanya Senin sama Jumat saja kan ya pak? Jadi selain itu, bapak ada waktu untuk membimbing saya ya. hehe’

Pak Dosen Pembimbing : ‘Saya ngajar Senin, Kamis, sama Jumat, mas. Tapi kerjaan saya banyak loh, mas’

Febri Ganteng yang Dibimbing : ‘Ehehe, mau jadi professor ya pak?’

Pak Dosen Pembimbing : ‘Enggaaaak’


Selesai mengobrol dengan sedikit santai, saya pun segera salim dengan pak dosen pembimbing yang kemudian diikuti dengan langkah kaki saya yang segera keluar dari jurusan. Langkah kaki yang melangkah pelan. Langkah kaki yang sedikit gontai karena ketakutan akan suatu hal.

‘Kira-kira… Saya bisa lulus tidak ya?’

Ya, pertanyaan bernada penuh rasa takut itulah yang pada akhirnya menyelimuti pikiran saya saat itu. Bukan baru sih, tapi sudah sejak lama. Setiap kali, setelah habis mengerjakan skripsi, saya selalu bertanya kepada diri sendiri perihal masalah tersebut : Saya bisa lulus tidak ya?

cara-menghadapai-sidang-skripsi

Masih Lesu Karena Skripsi (Source : Papasemar)

Dengan langkah gontai, saya pun sampai di Koperasi Kampus dan segera meletakkan bokong di kursi yang ada di sebelah Mas Hamid, mas-mas penjaga Koperasi yang sudah sangat saya kenal. Disitu, saya pun bertanya dengan wajah yang sangat masam.

‘Mas Hamid, saya kira-kira bisa lulus nggak ya mas?’

Jawaban Mas Hamid hanya simpel dan sederhana.

‘Bisa wis, mas. Bisa.’

Saya tersenyum.

5 menit kemudian, saya kembali bertanya lagi.

‘Mas Hamid, saya bisa lulus nggak ya?

Yang kemudian masih dijawab dengan jawaban yang sama.

Hampir sebanyak 5 kali saya menanyakan pertanyaan demikian, dan sebanyak itupulalah Mas Hamid menyajikan jawaban yang sama. Semangat saya pun terpompa kembali. Lalu untuk sejenak melupakan ketakutan-ketakuan saya akan pertanyaan tersebut, saya pun memilih nongkrong dengan beberapa teman di dekat Laboratorium Hidraulika.

Disitu kami bercanda tentang banyak hal, dan membicaran berbagai macam topik sepanjang waktu. Kira-kira ada 4 jam kami disana, dan jelas saja berkat kebersaman dengan teman-teman, saya bisa melupakan perihal kegelisahan yang tadi saya rasakan.

Sampai saatnya kami hendak berkemas untuk pulang. Dari arah Barat saya melihat calon Dosen Penguji saya lewat diantara kami semua.

Beliau memandangi kami dengan senyuman, sampai pandangannya mengarah ke wajah saya, mimik muka beliau pun berubah. Jari telunjuknya yang lentik itu menunjuk ke muka saya, seolah saya adalah terdakwa yang pantas untuk dihakimi. Kemudian tanpa ada awalan atau apalah itu namanya, beliau pun berucap dengan nada yang cukup mengintimidasi :

‘Kamu siap-siap ya, Feb’

HAAAAAAAAAH?

Mendengar pernyataan itu, teman-teman saya langsung ngakak. Saya nyengir sedikit. Ketakutan saya kembali muncul ke permukaan. Ingin mengutaran ketakutan itu kepada teman-teman saya, tapi saya sangat paham bahwa mereka adalah sosok-sosok terbangsat. Bukannya disemangatin, nanti paling saya hanya semakin diinjak dan ditakut-takutin. Defak pokoknya.

sad-2635043_640

Source : Pixabay

Akhirnya, saya pun memendam perasaan itu sendirian. Dan, saat kami semua memilih untuk benar-benar pulang, dipikiran saya hanya ada satu pertanyaan :

YA ALLAH, SAYA BISA LULUS ENGGAK YA?

😦

Advertisements

38 comments

  1. Ya Allah, saya bisa lulus ngga ya?

    kekhawatiran yg sama dr manusia yg berbeda. btw, dosbingku perempuan. sabar dan baik tapi sering ku sia-siakan kebaikannya. kini ku menyesal :((

    -abd syukur-

  2. Wah berat feb berat
    Berat dah pokoknya
    Mending nikah j feb
    Berat euy
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat
    Berat

  3. Bisa Feb, tetap semangat dan nikmati semua prosesnya. Dosen-dosenmu perhatian sekali, baik pembimbing maupun penguji, semua pasti ingin yang terbaik buatmu, bukan membantai, hehe. Semangat terus yaa buat skripsinya, semoga lulus dengan nilai yang memuaskan.

  4. hahaha.. bimbingan sy ngerasa gini juga ngga ya 😂😂😂 harus apa dong supaya tidak membuat mahasiswa (merasa) terpojok.. padahal (sepertinya) kalau sy senyum biasa eh di mata mahasiswa sy menyeringai jadinya.. Ngga senyum, wah malah salah..

  5. Oemji, dosenmu baik banget menanyakan progres skripsi ke anak bimbingannya. Peduli 😳

    Kalo baca ceritanya orang yang lagi nyekripsi suka bikin ketawa deh. Kenapa suka pada grogi ketemu dosen? Kenapa dosen bisa mengintimidasi? Kenapa, kenapa, kenapa? Perasaan, saya dulu nyekripsi elegan-elegan saja hihi 😂 Meski akhirnya mengalami pembantaian level menengah awal sih (level apa sih ini 😒)

    Smangats Bang! Mungkin kamu perlu makan bakwan supaya lebih rileks 👌👍

    1. Iyaaa, Mbaaa. Teramat baik sebenernya dosen saya mah. Tapi tegas banget, ya tegasnya baik sih, tapi kadang sayanya yang ngga ena dan waswas sendiri eheheh.

      Iyaaa nih, kenapa ya? Ini saya sedang skripsi, tapi kok perasaannya was-was melulu. Idup kayak nggak tenang. Seperti ada ketakutan-ketakutan sendiri hahaak. Yaudalah yaaaa~

      Wihiiiii, terimakasih banyak mba senior sudah menyemangati saya. Saya mau makan bakwan dulu deh hahaha.

  6. Bisa wis, bisa mas.

    Ayoo semangat mas pebri. Banyak-banyak berdoa mas, biasanya doa orang yg terdzalimi itu cepat dikabulkan lho. Ehe.

    Ini saya kok pake ‘mas’ ya

    Lhaa ini kok pake ‘saya’ juga ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s