Pengalaman Mengikuti Tes Masuk Kerja

Kalau dipikir-pikir, semakin bertambah umur kita, maka semakin kompleks juga permasalahan maupun kesulitan-kesulitan yang kita hadapi di depan gitu nggak sih?

Maksudnya begini, saat kita masih duduk bangku SD, mungkin permasalahan yang kita hadapi adalah bagaimana cara agar bisa mendapatkan nilai-nilai bagus, kemudian melakukan ujicoba tryout agar diterima di SMP favorit. Saat duduk di bangku SMP, permasalahan pun pasti berlanjut ke bagaimana cara agar bisa bersaing menjadi seniman intelektual yang mana tujuan akhirnya adalah diterima di salah satu SMA ternama. Masih berlanjut, saat duduk di bangku SMA, kita pun beramai-ramai memperbaiki nilai agar bisa masuk universitas negeri melalui jalur undangan, atau kalaupun tidak, ya seenggaknya bisa diterima lewat jalur SBMPTN.

Selesai sampai situ?

Jelas tidak.

Saat di bangku kuliah, tentu para mahasiswa senantiasa akan berlomba-lomba untuk meggasak habis SKS yang tersedia, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, menyelesaikan skripsi yang dijanjikan, kemudian mencoba untuk mendaftar beberapa lowongan kerja, sembari berharap-harap cemas agar segera diterima.

Tentu, pada hakikatnya hampir semua manusia pasti akan menjalani tahapan-tahapan yang telah saya jabarkan di atas. Sisanya, mereka mungkin sudah mempersingkat jalannya dengan langsung bekerja setelah lulus SMA, atau bahkan sejak dari lulus SMP.

Tapi yang jelas, tahapan yang dilalui tentu merupakan tahapan yang berliku dan sulit adanya. Dan apabila boleh dibandingkan antara problema di bangku SD, SMP, SMA, dan Kuliah, maka menurut saya hal yang paling menyebalkan berada pada posisi peralihan antara lulus kuliah menuju ke suatu lapangan pekerjaan.

Suwer dah, itu sulit banget.

Meskipun saya belum lulus, tapi saya pernah mencoba untuk mengikuti tes masuk kerja sebanyak dua kali. Dan bila ditanya bagaimana sensasinya, maka jawabannya adalah : BUSET DAH, KALAU BEGINI CARANYA MAH MENDING SAYA MEMBUAT PERUSAHAAN SENDIRI SAJA DEH AH. SUSAH.

Apabila saat lulus SD dan hendak beranjak ke bangku SMP, maka hal yang harus dilakukan adalah belajar untuk mendapat nilai bagus di ujian nasional. Apabila hendak beranjak ke bangku SMA, masalahnya pun sama seperti saat SD, yaitu melalui tahapan harus lulus ujian nasional, tapi dengan materi yang jauh sedikit lebih sulit. Saat hendak beranjak ke bangku kuliah, prosesnya pun bisa dikatakan relatif sama, yaitu harus lulus ujian nasional. Dan apabila ada yang ingin bisa masuk universitas ternama lewat jalur undangan, maka dia harus memaksimalkan nilai-nilai akademiknya. Selebihnya, ya mereka harus mengikuti tahapan tes SBMPTN bersama ribuan saingan lainnya untuk masuk di universitas negeri idaman.

Lah saat mau masuk kerja?

Masalahnya lebih kompleks. Saingan yang mendaftar pun ratusan bahkan ribuan. Kemungkinan untuk dipanggil ikut tes masuk juga untung-untungan. Proses rekruitment sangat ketat. Kepribadian diperhitungkan. Intelegensi dipertaruhkan. Pemahaman diutamakan. Dan lain sebagainya. Dan lain sebagainya.

Memang sangat wajar sih, mengingat bekerja setelah kuliah merupakan salah satu tahap akhir dari rentetan pendidikan akademis yang telah dilakukan. Nah, oleh karena tahap terakhir, maka perjuangan harus senantiasa dikerahkan. Segalanya harus maksimal dikeluarkan.

Hasilnya?

Sumpah deh, otak rasanya tida kuat menahan.

Haha.

Pengalaman Tes Masuk Kerja di PT. Wijaya Karya.

Perusahaan  yang pertama saya lamar dan secara kebetulan memanggil saya untuk mengikuti tes kerja yang pertama adalah PT. Wijaya Karya. Untuk anak-anak teknik sipil atau yang berhubungan dengan keteknikan, pasti tau lah perusahaan BUMN sebesar PT. Wijaya Karya ini.

lowongan-kerja-bumn-pt-wika

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Source : Openkerja)

Oleh karena memiliki nama yang cukup ‘kondang’ dan diketahui banyak orang, maka tentu saja tahapan tes untuk bisa diterima sebagai karyawan jelas harus melalui beberapa tahapan sulit yang diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Psikotest
  2. FGD (Forum Group Discussion)
  3. Interview

Karena baru awal, tentu rentetan yang harus saya lalui pertama adalah psikotest. Sebenernya, saat saya lulus di bangku SMK dulu, saya pernah mengikuti tes kerja begini dan melalui tahapan psikotest juga. Tapi saya pikir, tentu saja psikotest yang saya lakukan saat ini akan jauh berbeda dengan apa yang akan saya lakukan saat lulus SMK dulu.

Psikotest sesi pertama, kami para pelamar kerja diberikan soal-soal potensi akademik yang biasa diberikan saat ujian masuk universitas gitu-gitu. Persamaan kata, persamaan bentuk, deret angka, dan lain-lain sebagainya. Di sesi ini, saya tidak terlalu kaget dan masih bisa mengerjakan soal-soal yang ada sesuai dengan logika saya. Nggak tau deh bener atau enggaknya.

Masuk psikotest sesi kedua, kami para pelamar kerja kemudian diberikan sebuah kertas berukuran layaknya kertas koran. Adapun isi dari lembaran kertas itu hanyalah angka-angka bedebah yang minta untuk dijumlah secara tidak berperikeangkaan. Saat melihat kertas koran tersebut, pikiran saya kemudian kembali pada beberapa waktu lalu. Saya pernah mencoba menghadapi persoalan bernama Pauli Test semacam ini, tapi… TAPI NGGAK SEGEDE GABAN KEK GINI BUSET DAH.

Instruktur psikotest pun menjelaskan tahapan yang harus kami lakukan, yang kemudian langsung diiringi oleh anggukan paham dari para pelamar kerja. Hal yang harus kami lakukan adalah menjumlahkan angka yang tersedia, memberi garis jika diperintah, kemudian lanjut menghitung sampai utekmu bocor tekan tuo bajidal.

Tes Pauli

Tes Pauli yang bedebah (Source : Muslimut)

Pada putaran garis pertama, saya masih bisa menghitung dengan normal dan nyaman.

Pada putaran garis kelima, mata saya mulai kelilipan dan fokus saya sudah mulai tidak bisa terkondisikan.

Pada putaran garis ke sembilan, kepala saya mulai kesemutan dan beberapa kali geleng-geleng kepala.

Pada putaran garis ke empat belas, YA ALLAH, SAYA PENGEN BIKIN PERUSAHAAN SENDIRI SAJA DEH SUWER.

Sampai pada akhir garis dan instruktur meminta kami berhenti menghitung, saya hanya bisa menghitung sampai satu setengah lembar saja. Lemah sekali memang sayanya mah.

Masuk psikotest sesi ketiga, kami diberikan dua lembar kertas hvs polos dan satu lembar hvs berpola. Seperti yang biasanya ada di proses penerimaan karyawan baru, tes bedebah macam ini pasti selalu ada dan nggak ada beda-bedanya sama sekali deh kayaknya.

Lembar hvs polos pertama disuruh menggambar pohon berkayu, lembar hvs polos kedua disuruh menggambar manusia utuh, dan lembar hvs berpola disuruh melengkapi pola yang tersedia.

Alhasil, saat membuat gambar pohon, saya pun hanya menggambarkan pohon rambutan lengkap dengan buah yang lebat dan berjatuhan. Daun dan ranting bersebar di tanah dan di pohon. Sejujurnya, saya nggak pernah bisa menebak kepribadian seperti apa yang terbaca dari gambaran pohon rambutan seperti yang saya gambarkan. Yang jelas, saat itu saya hanya menggambar pohon yang memang ingin saya gambar dan saat itu terekam di benak saja.

Di gambar kedua, saya menggambar pemain bola kesukaan saya, Jack Wilshere, lengkap dengan seragam Arsenal kebanggaan. Karena pada awal instruksi saya kurang mendengar dengan baik, akhirnya saya hanya menggambar kepalanya saja, dan setelah teman disamping saya membisiki ada yang salah, lalu saya memberikan model tangan kaki dan badan seperti karikatur gagal yang yasudahlah.

Gambar Psikotest

Karikatur Gagal By Febridwicahya

Di gambar pola ketiga, saya tidak bisa mendeskripsikannya ya. Saya lupa menggambar apa saja, tapi yang jelas… hasil coretan yang saya goreska pada kertas berpola itu tidak ada nilai seninya sama sekali.

Di psikotest sesi terakhir, kami diberikan sebuah buku berisikan 200-an soal yang mana isi soalnya sama seperti kuisioner-kuisioner mahasiswa psikolog tingkat akhir yang hendak memenuhi syarat skripsinya. Tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah. Jadi, asal jawab saja.

Seusai seluruh rangkaian tes psikolog dilaksanakan, kami para pelamar kerja pun dipersilahkan untuk istirahat dan mengambil snack sembari menunggu pengumuman hasil psikotest yang menampilkan tentang siapa-siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya.

Saat itu, meskipun saya merasa bahwa saya tidak akan lolos, tapi saya dan beberapa teman masih mencoba untuk menunggu hingga pengumuman itu ditempel di depan ruangan.

Alhasil, 2 jam kemudian, pengumuman hasil psikotest pun di tempel di depan ruangan. Saya dan beberapa teman berbaris untuk melihat nama-nama yang terpampang nyata di sana. Sampai akhirnya, saya menemukan kenyataan yang memang sudah bisa saya tebak sejak awal : Saya tidak lolos. Tapi yang lebih menyakitkan, dari barisan kursi peserta yang saya duduki, hanya saya saja yang tidak lolos ke tahap selanjutnya :

Hasil Psikotest

Pengumuman Kerja yang Tidak Ada Nama Febri Dwi Cahya

SAYA DUDUK DI NOMOR 54, DAN YANG LOLOS DISANA NOMER 51 52 53 55 56. HINA SEKALI SAYA. MENGOTORI BARISAN 50 KE ATAS SAJA SAYANYA MAH.

Huft.

Selesai melihat pengumuman tersebut, saya pun langsung berbalik dan :

‘SUDAHLAH, KITA MENDIRIKAN PERUSAHAAN SENDIRI SAJA JIKA BEGINI CARANYA’

Ehehe.

Terus, FGD sama Interviewnya gimana?

LAH, BORO-BORO MAU FGD SAMA INTERVIEW. LOLOS PSIKOTEST AJA KAGAK.

Huft.

Terimakasih.

Advertisements

44 comments

  1. EBUSET BIKIN PERUSAHAAN SENDIRI JUGA REMPONG KELLES. 😂😂

    Sabar, Bang. Mungkin kamu ditakdirkan untuk jadi pahlawan kebenaran di masa depan ketimbang pegawai perusahaan. Berbanggalah atas ditolaknya dirimu.

    Aduh, ngakak baca tulisanmu 😁. Terutama angka bedebah itu. Kalau punya keberanian, dulu saya sobek-sobek deh itu kertas di hadapan Mbak personalianya 😂

    1. Hahaha iya juga ya, Mba :’

      Lantas, harus bagaimanakah dirikuuuu. Mendaftar kerja sulit, membuat perusahaan ribet, ngepet dosa, ya Tuhaaan wgwgw.

      Pahlawan kebenaran yang model begimana ya kalau orangnya kek saya wgwgw.

      Ehehehe, iyakaaaan. Tes Pauli itu sungguh bedebah kaaan gwgwgw

  2. Saya juga pernah ikut wika, cuma sampek interview psikolog, habis itu ga ada kabar. Jangan sedih mas, nyari kerja itu cocok2an kok, saya skrg aja bersyukur ga lolos wika dulu hehe. Btw, pp dan waskita kyknya lebih bagus deh utk skrh

    1. Waaaaa kamoh keren mas, sudah sampai di interview psikolog wgwgwgw. Panjang juga ya tahapannya 😀

      EHehe, iyaa, mas. Tida bersedih koook. Cocokan yaaa, dan rezeki sudah ada yang mengatur. Kitanya mah usaha saja wgwgw.

      Waaaa, iya PP sama Waskita dulu mendaftar tapi ngga dipanggil wggw. Belom waktunyaaa~

    1. Hehehehe iyaaa kaaaan, bikin perusahaan kan bisa membantu memakmurkan negara juga wgwgw. Tapi yaaaaaaa, sulit juga. TApi nggak harus melewati tes ya. Tapi kan sulit mba. Tapi ngga melewati tes bedebah. Tapi tetep aja sulit.

      AAAH mumet endasku wgwgw

  3. gantengan gambar itu ya daripada kamu, feb
    yuk kita bikinperusahaan sendiri, agen sewa pacar bohongan, sewa teman buat kondangan
    jamin laku dah

  4. Cinta ditolak, dukun bertindak.
    Kerja ditolak, duit bertindak.
    *ups
    Semangat, Feb! Ikut lagi biar banyak pengalaman…. pengalaman ngerame’in ruang tes pelamar kerja. 😁

  5. Masih belom waktunya untuk menyerah, tapi kalo mau bikin perusahaan sendiri silakan, saya dukung.
    Tapi ini masih terhormat gagal setelah melewati tes, saya pernah langsung ditolak karena saltum pas dateng interview, sad sekali. Eh, sekarang malah bersyukur waktu itu ditolak xD

    1. Ehehehe iyaaa mbaa, saya tidak pernah menyerah kooook gwgww 😀 masih santai sekali menanggapi kegagalan ini 😀

      Wahahaah ditolak garagara saltum loooh :’ kok bisa yaaa :’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s