Laut Bercerita Tentang Secuil Hal di 1998

‘Matilah engkau mati

Kau kan terlahir berkali-kali’

 

Sajak di atas adalah kalimat yang pertama kali saya baca pada sebuah Novel berjudul Laut Bercerita. Tentu saja setelah saya merasa teramat sangat syok karena sebelum membuka isi dari novelnya, tanpa terlebih dahulu membaca blurb di belakang cover, saya mengira bahwa dengan cover berlatarkan pemandangan bawah laut yang menampilkan ikan dan terumbu karang, novel Laut Bercerita adalah sebuah cerita dari seorang traveler sejati bernama Leila S. Chudori yang akan menceritakan tentang pengalamannya selama snorkeling di Karimun Jawa atau laut-laut lainnya.

Mengapa saya sungguh begok sekali ya?

Eng, hal tersebut mungkin bisa dimaklumi ya apabila saya membuat disclaimer bahwa saya mendapatkan novel itu dari giveaway yang diselenggarakan oleh nfirmansyah beberapa waktu silam. Jelas, novel tersebut bukanlah murni novel yang benar-benar saya inginkan. Jadi saya tidak melakukan riset terlebih dahulu tentang buku tersebut.

Novel Laut Bercerita

Tapi, hal yang saya lakukan jelas tetap terlihat sangat begok karena ya masa saya tidak sempat membaca blurbnya sih ya?

Yasudah sih, yang penting saya sudah membaca keseluruhan isi dari Novel Laut Bercerita dan meninggalkan segala rasa syok yang benar-benar nggak menyangka bahwa saya akan membaca novel ‘seberat’ itu.

Laut yang Bercerita Tentang Masa Lalu di 98

Saya tidak begitu paham ya dengan konteks spoiler atau apalah itu namanya, yang akhirnya membuat orang-orang kecewa karena sudah tau akan bagaimana ending dan isi dari sesuatu yang diikutinya. Apakah itu berlaku pada sebuah buku? Jika ada yang merasa iya, mungkin kalian bisa berhenti sampai sini saja membacanya.

Nggak papa.

Toh yang penting, kalian sudah terhitung sebagai viewers blog saya.

Ehehe.

Sebagaimana yang tertulis di kalimat berheading di atas, Laut Bercerita ini berisi tentang sebuah cerita berlatar belakang tragedi 1998. Menurut saya sebagai pembaca, Leila S. Chudori dengan apik mengemas isi cerita dengan menempatkan dua sudut pandang secara bergantian.

Biru Laut sebagai tokoh utama yang memosisikan diri sebagai orang di balik 98 ke belakang.

Dan Asmara sebagai tokoh utama yang memosisikan diri sebagai orang setelah 99 ke depan.

Alur cerita yang digunakan pun terkesan maju-mundur-maju-mundur-maju-mundur-sangat cantik. Dimana saat prolog, Leila S.Chudori menggambarkan sosok Laut yang sudah disiksa, kemudian diceburkan ke dalam laut begitu saja. Hingga yang ada, samar-samar Laut hanya menggambarkan situasi di dalam laut yang pekat.

Setelahnya, judul memutar balik menuju tahun 1991 yang mengisahkan awal mula dari semuanya. Mengisahkan tentang ada apa di baliknya. Dan mengisahkan tentang bagaimana terjadinya. Walaupun, yah sebagai pembaca gue merasa seperti diombang-ambingkan dengan judul yang berformat tahun :

1991

1998

1991

1998

1993

1998

1993

1998

1996

1998

Tapi saya tidak benar-benar merasa pusing atau bingung sih, karena sekali lagi, Leila S. Chudori mengemasnya dengan amat sangat rapi dan menawan. Meskipun dipecah sedemikian rupa, tapi cerita yang tersampaikan hampir pasti secara runtut dan jelas mengena.

Bagaimana Laut yang aktif di organisasi Winatra bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya.

Bagaimana Laut yang hidup di keluarga yang senantiasa harmonis, dengan membiasakan diri untuk makan bersama tiap hari Minggu.

Bagaimana Laut yang akhirnya jatuh cinta kepada Anjani.

Bagaimana Laut yang akhirnya bermain petak umpet dengan aparat.

Bagaimana Laut yang akhirnya tertangkap.

Bagaimana Laut yang akhirnya melihat sebuah penghianatan.

Bagaimana Laut yang akhirnya disiksa dan ditenggelamkan.

Semua tersampaikan secara detail dan teramat baik. Bahkan kebagaimanaan-kebagaimanaan yang saya sampaikan secara berlebihan di atas itu disampaikan dengan kalimat yang apik oleh Leila S. Chudori. Seperti misal mengenai drama percintaan antara Laut dan Anjani. Bagi saya, itu jelas merupakan bumbu yang menjadi jeda untuk berfantasi sejenak sih.

Ehe.

Sudut pandang Laut berakhir, pembaca dibawa oleh Leila S. Chudori untuk melihat dari sudut pandang Asmara, yang mana merupakan adik dari Laut. Disini, Asmara lebih menceritakan sebuah hal dibalik apa yang pernah diceritakan oleh Laut di judul-judul sebelumnya. Misalnya tentang Asmara yang kembali menjabarkan bahwa Laut pernah bercerita tentang aktivitasnya di Jogja, tentang Laut yang pernah bercerita tentang Anjani, dan lain-lain sebagainya.

Setelah itu, cerita Asmara juga lebih kepada bagaimana sebuah fakta yang akhirnya menyatakan bahwa Laut dan 11 mahasiswa lainnya tidak ditemukan. Padahal, beberapa mahasiswa yang juga merupakan teman dari Laut ada yang dibebaskan. Hingga bagaimana proses pencarian dilakukan, bagaimana tim pencarian orang hilang dibentuk, sampai bagaimana rasa frustasi keluarga Laut yang merasa kehilangan dan percaya bahwa Laut masih hidup dan masih bersembunyi di suatu tempat.

Meskipun…

Ya, mungkin orang-orang sekarang tau bahwa 12 aktivis mahasiswa yang dihilangkan secara paksa itu tidak kunjung ditemukan.

Sebuah aib dari sejarah masa lalu yang membuat sebagian orang merasa miris, sih.

Termasuk saya.

Ya, sejujurnya, jika boleh berkata lebay, maka saya akan mengutarakan kesyokan yang teramat dalam aduhay duhalah buset dah. Rasanya nggak nyangka banget deh saya dengan apa yang terjadi di tahun 98 lalu. Maksudnya begini, saya yang kala itu mungkin masih berumur 4 tahun sama sekali tidak pernah tau dan tidak pernah menyangka-nyangka bahwa pada saat pemerintahan seorang presiden yang sticker bertuliskan : ‘Pie, enak zamanku toh?’ tersebar dimana-mana, ternyata memiliki sejarah kelam di dalamnya.

Saya tidak pernah tau, bahwa pada masa itu, dari sebuah karya sastra saja seseorang bisa saja dihilangkan oleh pemerintah. Padahal sekarang, boro-boro, tulisan yang mengadu domba dan penyebar fitnah ada dimana-mana, tapi tidak ada satupun orang yang ditangkap bahkan dihilangkan.

Jika dibayangkan, mungkin terkesan agak mengerikan sih di mata saya untuk hal yang begituan. Apalagi di novel Laut Bercerita ini, Leila S. Chudori mendeskripsikan penyiksaan yang dialami Laut dan mahasiswa lainnya secara mengerikan dan terkesan kejam.

Screening Laut Bercerita

Visualisasi Film Pendek Laut Bercerita (Source : Seleb.Tempo)

Nggak pernah bisa saya bayangin sih, kalau saja hal itu masih terjadi hingga sekarang.

Mungkin, saya nulis blog ini saja bakal dicekal dan diblusukkan ke penjara bawah tanah.

Serem.

Akhirnya, dari novel Laut Bercerita ini, saya pun jadi lebih tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang apa-apa saja hal yang terjadi di tahun 98 silam. Beberapa novel sudah saya tandai untuk kelak akan saya miliki, atau mungkin sekedar saya baca, seperti misal novel Trilogi Soekram, Sekuntum Nozomi, Pulang, 1998, Notasi, Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman dan lain-lain sebagainya.

Yah, 98 mungkin peristiwa yang sudah hampir dilupakan, tapi menarik juga untuk saya pelajari.

Jika boleh saya membeli nilai pada novel Laut Bercerita ini, maka saya akan memberikan nilai : 4.8729237744 / 5.

Recommended banget buat dibaca deh pokoknya.

Suer dah.

Advertisements

12 comments

  1. Bentar, itu nomor apa Bang? Nomor togel? 😂😂😂

    😍😍 Jadi penasaran bingit. Yang Sekuntum Nozomi itu yang tokohnya banyak banget itu bukan sih? Aaak pengen 📚

  2. Mengapa saya sungguh begok sekali ya?
    Ini bakat kamu feb
    Kamu perlu pertahankan atau bisa mengasahnya
    Saya yakin suatu saat nanti akan maju
    4.8729237744/5
    Ini Nilanya gimana Om?
    4.8 per 5
    Atau 4.8 dari skala 5
    Atau 4.8 dibagi 5
    Atau 4.8 atau 5
    Atau 4.8 dibuletin jadi 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s