Curahan Hati Dari yang Menjadi Bukti Atas Batalnya Konser Paramore Di Indonesia

Jika boleh memberikan pernyataan, mungkin setiap orang di dunia ini pasti pernah kecewa dong ya?

Yoiyoi. Entah bagaimana cara dan prosesnya, entah seberapa remeh orang lain melihatnya, bagi orang yang merasakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tentu dia akan tetap merasa dikecewakan. Nggak ada obat penyembuh yang instan untuk bisa menyembuhkan rasa kecewa, kecuali jika penyebab kekecewaan itu ditiadakan.

Cara tercepat? Ya berproses. Terus melangkah kedepan, bergandengan dengan bayang-bayang masa kelam. Beriringan, hingga kekecewaan itu lambat laun kau tinggalkan.

Di dunia ini, problem yang membuat orang-orang merasa kecewa itu beraneka macam ya? Ada yang gagal mendapatkan cintanya, dia kecewa. Ada yang gagal wisuda bulan ini, dia kecewa. Ada yang skripsinya revisi, dia kecewa. Dan tentu masih ada alasan-alasan lain yang mendasari seseorang merasa kecewa atas hal yang dialaminya.

Ya, wajar saja sih, karena nggak semua hal yang kita inginkan 100% kan tercapai. Pun, banyak yang bilang bahwa kebanyakan orang yang dikecewakan adalah karena mereka terlalu berharap kepada manusia, bukan kepada Sang Penciptanya.

Nah, jika membahas masalah kekecewaan, maka ada satu hal yang baru-baru ini membuat gue merasa dikecewakan :

Batalnya Konser Paramore di Indonesia

Poster Paramore Di Indonesia

Flyer Paramore to Indonesia (Source : Mcm.live)

Yap, bagi sebagian orang, kabar tentang batalnya konser Paramore tanggal 16 Februari 2018 kemarin itu bukan menjadi rahasia umum lagi. Dan mungkin, ada banyak sekali orang yang merasakan kekecewaan yang sama dengan apa yang gue rasakan.

Banyak sekali.

Emm… Sebenernya, gue bukanlah pecinta musik sejati ya. Gue juga bukan fans garis kerasnya Paramore, yang menamakan dirnya sebagai ParaFamily. Gue pun juga bukan seperti orang-orang yang beberapa hari lalu gue lihat di ICE BSD, dimana mereka mengenakan kaos paramore official, bahkan ada yang sampai menyemir rambutnya berwarna pink-hijau layaknya Hayley Williams beberapa tahun lalu.

Gue bukan yang seperti itu.

Melainkan, ya gue hanyalah penikmat musik biasa yang kebetulan mendapat kesempatan untuk bisa hadir menonton band luar negeri sekelas Paramore yang bagi gue wah-mantap-parah-sih. Apalagi album barunya bertajuk After Laughter yang dilaunching pada tahun 2017 kemarin. Beuh, lagunya jogetable sekali. Jadi, ya gimana ya?

Mari kita lihat prosesnya.

Kesempatan Menonton Konser Paramore Gratis

Sekitar pertengahan bulan Februari 2018 lalu, gue yang sedang bermalas-malasan di kamar sambil scrolling timeline twitter tiba-tiba melihat sebuah twit dari kaskus yang mana isinya sebuah kuis berhadiah tiga tiket paramore untuk tiga orang pemenang. Adapun pertanyaan dari kuis tersebut cukup sederhana, yaitu hanya pertanyaan :

Kuis Tiket Paramore dari Kaskus

Sebelumnya, gue memang sudah tau dari sekitar 22 Desember 2017 lalu perihal konser Paramore ini. Tapi, ya gila aja, harga tiketnya kan malah. Jadi gue nggak ada niatan beli. Lagian, konsernya di Jakarta. Jaoh, dan gue juga belum pernah kesana.

Oleh karena itu, atas dasar iseng dan hanya sekedar ingin nyamber twit kuisnya kaskus, maka gue pun ikut kuis tersebut dengan memberikan jawaban :

Jawaban Kuis Tiket Paramore dari Kaskus

Setelah twit selesai gue kirimkan, gue pun menjalani kehidupan seperti biasanya. Nggak ada ekspektasi apapun mengenai kuis tersebut, dan nggak ada harapan yang tinggi mengenai konser Paramore.

Sampai akhirnya, pada tanggal 14 Februari menjelang petang. Gue yang sedang bangun tidur tiba-tiba melihat notifikasi di twitter yang mana isinya adalah sebuah mention dan DM dari Kaskus. Seketika, gue langsung terkaget-kaget dong ya?

Pertama, gue kaget karena gue sama sekali nggak mengira bahwa gue akan menang kuis.

Kedua, gue kaget karena setelah tau bahwa gue menang kuis, gue pun langsung kepo tentang tanggal konser Paramore yang mana adalah 2 hari lagi, yaitu tanggal 16 Februari 2018.

Ketiga, gue kaget karena ya buset dah gue nggak pernah ke Jakarta dan gue nggak tau dimana itu ICE BSD.

Jadi, ya gimana ya?

Gue pun akhirnya mengikuti aturan main dari kaskus yang mana mereka meminta identitas gue dan sehari lagi gue bakal dikabari mengenai pengambilan tiket. Gue hanya mengiyakan dan kemudian menjalani hidup seperti biasanya. Eh tida ding, tapi menjalani hidup dengan sambil dibayangi pikiran apakah harus gue ambil tiket ini atau gue jual saja?

Ehe.

Tanggal 15 Februari 2018, tepatnya pukul 09.00 WIB, gue dapat sebuah DM dari Kaskus yang mana disitu mereka mengabarkan bahwa gue harus mengambil tiket konsernya di Kantor Kaskus. Gue pun langsung searching Kantor Kaskus, dan disitu gue menemukan alamat yang tertera adalah : Kuningan.

ITU KUNINGAN YANG MANA LAGI YA BUSET?

ALAMAT ATAU JENIS LOGAM ITU MAH.

Karena sama sekali nggak tau lokasinya dan gue masih berada di Jogja, gue pun langsung minder dan hendak merelakan tiket gratisan nonton paramore tersebut. Sampai akhirnya, disaat yang bersamaan ada seorang teman dari Jakarta yang mereply story instagram gue tentang Tiket Paramore beserta kebingungan yang gue rasakan. Inti dari reply-an temen gue itu adalah : Dia mengajak gue untuk berangkat bareng ke venue.

Dan yang tidak dia tau : Gue di Jogja.

Lalu yang pasti dia sadari : Dia di Jakarta.

YAUDAH!

Membalas reply-an tersebut, gue pun langsung mengutarakan bahwa gue masih sangat ragu untuk bisa datang ke konser Paramore karena gue belum pernah ke Jakarta dan gue sama sekali nggak tau dimana letak ICE BSD. Karena tau temen gue itu di Jakarta, maka gue meminta tolong ke dia untuk menjualkan tiket yang gue dapatkan, dengan syarat dia harus mengambilnya di Kantor Kaskus.

Cemerlang bukan?

Mendengar apa yang gue utarakan, teman gue itu pun akhirnya memberikan sebuah pertimbangan ke gue begini :

‘Feb, ini aku besok mau ketemuan sama temen di stasiun Senen loh. Nah habis itu kami berangkat dari Stasiun Senen naik KRL ke Serpong, terus langsung cus ke ICE BSD. Buat bahan pertimbanganmu saja sih ini, nanti kan kamu bisa gabung kami buat berangkat bareng. Toh, ketemunya di Senen ini. Ehehe.’

Karena masih ragu, gue pun menjabarkan kebingungan yang kedua :

‘Lah, bisa yaaaa? Tapi, tiketku kan harus diambil di Kantor Kaskus. Aku ngga bisa ngambilnya dong. Mana batas pengambilannya cuma sampai jam 7 malam ini lagi’

Nah, hal yang membuat gue sangat yakin untuk ke Jakarta dan datang ke konser Paramore adalah jawaban dari temen gue :

‘Aku ambilin deh tiketnya’

WAHAAA!

Sebuah jalan yang mulus untuk menonton Paramore langsung di Jakarta nih.

Seketika itu, pada tanggal 15 Februari 2018, gue langsung memesan tiket kereta ke Jakarta dengan jadwal keberangkatan pukul 18.00 WIB.

Termendadak sekali nggak tuh?

Akhirnya sore itu, tepat pukul 18.00 WIB, untuk pertama kalinya dalam sejarah gue melakukan perjalanan dari Jogja menuju Jakarta dengan menggunakan Kereta Api. Headset terpasang di kedua telinga, lagu-lagu paramore menggema di telinga.

Petang itu, di kursi kereta, gue bersiap-siap untuk menyambut esok hari di Jakarta.

Xxxxx

Sampai Di Jakarta dan Bersiap Untuk Paramore!

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, gue pun akhirnya berhasil sampai di Jakarta dengan selamat.

Nah, jika gue harus ditanya perihal kesan pertama menaiki kereta, yaaaa jawabannya adalah… beuh, apes rasanya. Lha gimana ya? Gue duduk satu gerbong sama rombongan keluarga yang seolah menganggap bahwa gerbong tersebut adalah rumah kedua mereka.

Errrr, Okesih maklum. Nggak bisa menyalahkan juga sih. Tapi kan, duh gimana ya. Itu ngganggu banget nggak sih? Kayak misal gue waktu mau mencoba untuk tidur dengan kondisi tenang, tetiba orang di depan gue berteriak kepada keluarganya di kursi sebelah :

‘Mang, nasi ramesnya satu dong’

YA BUSET YA. GUE KAN PENGEN JUGA.

Hahaha.

Tapi, yah bodo amatlah ya. Yang penting gue sudah sampai di Jakarta dan mencoba untuk bahagia sekarang.

Sekitar pukul 04.30 WIB gue sampai di Jakarta. Di stasiun Senen sana, gue nggak kenal siapa-siapa. Gue nggak tau harus mengunjungi siapa. Dan gue juga nggak tau harus ngapain disana.

Mencoba mengisi waktu luang, gue pun berjalan menuju pintu keluar. Berharap menemukan satu buah kursi yang bisa di duduki, eh disana gue justru melihat kerumunan orang-orang yang sedang duduk dan tiduran di emperan stasiun. Buset, gue kan juga mau istirahat ya, tapi kenapa Stasiun Senen ini ramenya nggak karuan sih?

Alhasil setelah cukup lama mondar-mandir di Stasiun Senen, tepat setelah Shalat Subuh di Mushola, gue menemukan satu tempat kosong yang bisa buat tiduran : Emperan Bakso Malang Oasis. Suer dah, buat gue kala itu, tempat itu ibarat tempat peristirahat tersurga.

Tanpa ragu gue merebahkan badan disana, lalu kemudian memejamkan mata sejenak.

Enak.

Parah.

Pukul 06.30 WIB, gue membuka mata. Seketika, karena matahari sudah mulai muncul di ufuk timur dan gue juga sudah cukup malu untuk terus tiduran disana, gue pun akhirnya menghubungi seorang temen yang memang sudah janjian untuk ketemu di Stasiun Senen, Tiyod.

Lima belas menit kemudian, gue bertemu dengan Tiyod. Menggunakan sweater putih, berlensakan kacamata semi bulat, lengkap dengan sepatu converse putih lusuh kesayangan, dia menjabat tangan gue sembari menyengir. Kami berdua berbasa-basi sebentar, sebelum akhirnya berjalan masuk ke Stasiun Senen untuk bertemu dengan salah seorang teman yang lain, Mas Raka, dan kemudian langsung masuk ke bagian tiket KRL untuk segera melaju cepat menuju Serpong.

Sekedar informasi saja, hal yang paling gue takutin apabila harus nonton Paramore sendirian dan nggak ada kenalan satupun itu adalah naik KRL menuju ICE BSD. Seriusan deh, waktu pertama kali gue menang tiket, hal yang pertama kali gue kepoin adalah mengenai bagaimana caranya agar gue bisa sampai dengan selamat ke ICE BSD.

Gue sempet beberapa kali searching location dari Stasiun Senen ke ICE BSD Serpong, dan beberapa kali pula gue geleng-geleng kepala sambil menjerit di depan hape :

‘INI GIMANA CARANYA BIAR GUE BISA KESANA YA BUSET. JAOH AMAT.’

Tapi karena pas hari-H akhirnya gue ada temen yang senantiasa mau mengajari gue untuk menaiki KRL, maka gue merasa aman-aman saja. Bahkan dari apa yang gue pelajari, ternyata naik KRL nggak seribet dan semenyeramkan yang gue bayangkan. Pasalnya, rutenya sudah jelas dan transit-transitnya pun juga sudah amat sangat jelas. Jadi kalau bingung, ya tanya aja. Gitu sih.

Sekitar pukul 09.00 WIB, gue yang menguntit dua temen gue pun akhirnya berhasil dengan selamat menuju stasiun Serpong. Disana, gue pun berpisah dengan Tiyod dan Mas Raka karena mereka harus menukar tiket onlinenya di ICE BSD, sementara gue yang sudah mendapat tiket fisik dari Kaskus pun memilih untuk jalan-jalan sebentar di daerah Serpong.

Di depan Stasiun Serpong, di seberang rel penyebrangan kereta yang tengah menyala-nyala, gue, Tiyod, dan Mas Raka pun resmi berpisah sementara untuk kemudian bertemu lagi di venue sore harinya.

Xxxxx

Jalan-Jalan Sebentar Sembari Menunggu Konser Paramore Tiba.

Jalan kaki sendiri di Kota yang sama sekali nggak gue tau merupakan hal yang baru buat gue. Pasalnya, beberapa kali gue mengunjungi kota-kota terdekat dengan Jogja seperti misal Semarang atau Solo, gue masih bisa menjelajah kota tersebut dengan menaiki sepeda motor. Kalau nyasar, ya nggak capek. Nah ini, gue jalan kaki. Kalau nyasar, capek beud aslik.

Dari Stasiun Serpong, gue berjalan ke arah barat dan belum menentukan tujuan yang jelas. Di Serpong sana, hampir beberapa kali gue melangkah, beberapa kali pula angkot-angkot menjejeri gue sembari mengklakson keras, yang mana membuat gue terkejut-terkaget-terkaget. Ternyata, begitu ya cara mereka menawarkan angkotnya. Gue pun langsung melambaikan tangan tanda menolak.

Langkah demi langkah gue jejaki, ruko demi ruko gue lewati. Berulang kali gue menoleh ke kanan dan ke kiri guna mencari tempat makan yang bisa gue cicipi. Semenjak berangkat dari Jogja ke Jakarta, gue belum makan apapun. Jadi menurut gue, pagi itu merupakan hal yang sangat pas sekali untuk mencicip makanan khas Serpong.

Saat gue berjalan pelan, langkah gue pun terhenti di sebuah warung soto betawi. Tanpa berpikir panjang, gue pun langsung mampir dan memesan soto betawi disana.

‘Soto betawi satu ya, Pak. Pake Daging saja. Nggak usah pake jeroan atau apalah itu namanya. Ehehe’

Pak Soto pun mengangguk paham dan langsung meracik soto dengan sigap. Sementara itu, gue langsung memosisikan diri untuk duduk di kursi sembari mencharge handphone yang baterainya sudah mulai sekarat.

Tanpa menunggu waktu lama, Pak Soto langsung menghampiri meja gue dan menyajikan pesanan yang sudah gue pesan. Gue berucap terimakasih, yang kemudian langsung gue lahap dengan mantap soto betawi tersebut.

Ada hal unik saat gue mencicipi soto betawi tersebut, yaitu ketika Pak Soto yang terus memandangi gue. Mungkin, beliau merasa aneh dengan diri gue atau mengira bahwa gue adalah pendatang baru disana. Hal tersebut pun terbukti ketika beberapa saat kemudian, Pak Soto mencoba menghampiri gue sambil membawakan sebotol kecap dan berkata :

‘Dari mana, Mas?’

Ditanya begitu, gue pun mencoba untuk berhati-hati atas jawaban yang akan gue lontarkan. Pasalnya, banyak gosip yang menyatakan bahwa para pendatang selalu mendapatkan harga yang mahal ketika mampir di warung makan. Sempat terdiam lama, gue pun akhirnya menjawab :

‘Habis jalan-jalan saja, Pak. Rumah saya di deket Stasiun Serpong sana hehehe’

HUAHUAHUA.

Hasilnya, ketika gue membayar satu porsi soto betawi, nasi uduk, dan teh tawar, harga yang dipatok adalah 26000. Apakah itu harga yang normal? Entahlah.

Selepas selesai sarapan, gue pun langsung meninggalkan warung dan berjalan menyusuri jalanan.

300 meter kemudian, nafas gue rasanya mau habis. Alhasil, tanpa pikir panjang, gue langsung memesan gojek untuk mengantarkan gue menuju penginapan yang sudah gue pesan satu hari sebelumnya di sekitaran serpong sana.

KENAPA NGGAK DARITADI SAJA YA BUSET, BUANG-BUANG TENAGA SAJA.

Persiapan Nonton Paramore

Sekitar pukul 13.00, tepat setelah gue pulang Jum’atan di deket penginapan, gue pun mencoba merebahkan diri sejenak di atas kasur. Sembari mengecharge handphone, gue juga melihat schedule konser Paramore di ICE BSD beberapa saat nanti.

Rundown Paramore Di Indonesia

Rundown Paramore to Indonesia (Source : Mcm.live)

Open gate masih pukul 16.00 WIB. Open venue masih pukul 17.30 WIB. Paramore naik panggung masih pukul 20.00 WIB. Bisa kalik ya santai sejenak? Disaat yang bersamaan, gue pun mengirim pesan ke Tiyod mengenai apakabar situasi di ICE BSD sana. Pesan terkirim, dan gue mulai memejamkan mata perlahan.

Baru beberapa menit pesan gue kirimkan, Tiyod pun membalas dengan balasan berupa cuplikan video situasi di ICE BSD sana, yang pada akhirnya membuat gue terperanjak dari tiduran dan langsung bersiap-siap menuju lokasi venue.

Para Pengantri Tiket Paramore

Antrian penukaran tiket Paramorenya beuh. Gils. (Source : BookMyShow)

Buset, baru pukul 13.30 WIB, orang-orang sudah pada mengantri saja di depan ICE BSD. Akhirnya, setelah melalui tahap proses siap-siap yang panjang, gue pun berangkat menuju ICE BSD dari penginapan sekitar pukul 14.00 WIB.

Lima belas menit kemudian, gue sudah sampai di ICE BSD dan melihat situasi disana yang waaaw parah rame gila. Paramore naik panggung aja masih 5 jam dari sekarang, etapi orang-orang sudah duduk dengan rapi di depan gate. Padahal, cuaca siang itu cukup panas sih buat gue. Salut bangetlah sama mereka.

Venue Paramore yang Batal

Ramenya beuh. (Source : @agvy_)

Pukul 14.45 WIB, panitia mulai membuka pintu masuk ICE BSD. Orang-orang yang sudah sedari pagi menunggu pun histeris dan berlari-larian untuk masuk menuju ICE BSD. Suwer deh, pada nggak nyantai. Maklum sih, mungkin bagi mereka , nonton Paramore adalah cita-citanya sejak dalam kandungan.

Gue masuk dengan berjalan pelan, sendirian. Gue masih belum bertemu dengan Tiyod maupun Mas Raka. Ndapapa. Gue biasa sendiri. Setelah masuk Hall ICE BSD, kami semua masih harus mengantri di depan pintu masuk venue untuk kemudian nanti berebut posisi tempat menonton konser yang paling nyaman. Gue melangkah menuju pintu masuk sebelah kanan, yang diikuti dengan lari-larian orang yang tidak sabar untuk segera masuk venue.

Sampai di depan pintu masuk, panitia meminta kami semua untuk sabar menunggu sampai waktunya tiba. Kami semua paham dan langsung duduk membentuk barisan seperti ular yang panjang. Semua tertib teratur dan terkendali.

Mantap.

Di tempat antrian itu, gue duduk bersama dengan rombongan orang yang sama sekali nggak gue kenal. Kalau gue lihat-lihat, orang-orang yang ada disana semua itu sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi, menunggu untuk masuk venuenya tidak basi-basi amat. Terkecuali, gue. Gue sendirian buset. Nggak ada yang gue kenal disini.

Ketika orang-orang di depan gue ngobrol bersama sambil nyemilin Pizza, gue duduk termangu sendiri sambil melihat orang-orang lalu lalang menuju toilet sebelah pintu masuk.

Ketika orang-orang di belakang gue bercanda bersama membicarakan tentang album terbaru Paramore yang bagi mereka menarik, gue justru terdiam sendiri sambil memandang layar handphone dengan tampilan tulisan di google : how to membenamkan diri diantara keramaian yang nggak dikenal.

KENAPA GUE SENDIRIAN SEH BUSET!

Disela-sela kesedihan gue itu, Tiyod pun mengirimkan pesan ke gue :

‘Feb, kamu dimanaaa buset dah. Buruan masuk, sudah rame nih di dalem’

Melihat pesan tersebut, gue tersenyum dan mencari-cari disekitar barisan. Nggak ketemu, gue memberikan balasan.

‘Aku udah di dalam nih, ngantri di pintu masuk sebelah kanan. Kamu sebelah mana?’

Nggak lama kemudian, Tiyod pun membalas.

‘Waaa, aku di sebelah kiri nih. Nanti ketemu di dalem venue aja deh yaaaaaa.’

Selanjutnya, gue mengirim pesan balasan bernada mengiyakan. Setelah itu, gue masih terjebak diantara orang-orang yang nggak gue kenal. Tapi, senyum masih tetap gue usahakan untuk mengembang di bibir. Beberapa jam lagi, gue akan bisa melihat Paramore di panggung secara langsung. Hal yang sangat tidak terduga buat gue deh, rasanya.

Seneng.

Beberapa jam lagi, gue akan berhip-hip-ria menyanyikan lagu-lagu Paramore, terutama lagu terbaru di album After Laughter yang seolah memang diciptakan untuk berjoget-joget bersama. Meskipun bermaknakan kepalsuan-kepalsuan, tapi lagu-lagu seperti Caught In The Middle, Hard Times, Pool, Grudges, Red Colored Boy, Fake Happy, dan Iddle Worship semuanya enak banget buat loncat-loncat deh. Tentu tak lupa lagu-lagu lama Paramore seperti Playing God, Missery Business, Ignorance, Still Into You, dan lain sebagainya yang tak kalah mantapnya.

Disela riuh ramainya orang-orang yang mengobrol dengan kanan-kirinya, gue tersenyum melihatnya. Kebahagiaan yang meluap akan muncul beberapa saat nanti. Diiringi lagu-lagu yang mendayu samar dari dalam venue, diiringi orang-orang yang masih lalu lalang, diiringi oleh penjaga yang siap di depan pintu masuk… gue siap untuk hari ini.

xxxxx

Konser Paramore… Batal.

‘Eh, seriusan ini? Aaaaah, sumpah gue pengen nangis masa nih duh. Ini official, loh’

Sekitar pukul 15.15 WIB, sayup-sayup gue mendengar seorang perempuan di depan menggerutu sambil melihat layar handphonenya. Sesaat kemudian, dia berbagi ke teman-temannya akan hal tersebut. Gue sempat melirik sebentar, dan melihat di layar handphonenya ada tulisan Paramore. Seketika, gue pun ikutan kepo tentang apa yang terjadi.

Gue mengambil handphone di saku celana sebelah kanan, kemudian membuka aplikasi instagram dan search akun-akun yang berkaitan dengan Paramore. Disana, gue nggak menemukan informasi apapun.

Beranjak dari instagram, gue pun langsung ngecek di twitter. Siapa tau gue menemukan informasi di sana. Setelah melihat profil Paramore, gue langsung menemukan sebuah twit dari Paramore begini :

Pengumuman Batalnya Konser Paramore di Indonesia

Karena ada link hidup, gue pun mengeklik postingan tersebut yang mana langsung menuju ke fesbuk. Gue membaca bait demi bait, mata gue juling. Gue baru inget kalau gue nggak bisa bahasa Inggris buset. Akhirnya, dengan bantuan google translate, gue pun mendapatkan kesimpulan bahwa konser paramore yang hanya tinggal beberapa jam lagi… Batal.

Pemberitahuan Batalnya Konser Paramore Di Indonesia dan Manila

Gue melihat orang-orang di sekitar pintu masuk venue. Mereka nampak biasa saja dan masih penuh harap menunggu konser Paramore sore itu. Mungkin mereka belum ngecek twitter dan belum tau mengenai pemberitaan ini.

Gue pun segera mengabari Tiyod yang ada di sisi kiri mengenai kabar buruk ini, yang kemudian langsung dia balas dengan konfirmasi bahwa dia pun sudah tau perihal berita buruk tersebut. Alhasil, lambat laun orang-orang di depan pintu masuk venue terdiam sejenak. Sebelum akhirnya, mereka langsung berteriak secara bersamaan :

‘HUUUUUUUUUUU!!!!’

Gue hanya bisa terdiam melihat pemandangan ini. Senyum tipis tetap gue coba tampilkan. Dalam hati, gue membatin dan berdoa bahwa semoga apa yang menjadi postingan Paramore di fesbuknya hanyalah sekedar Aprilmop semata. Namun gue sadar, saat itu kan bulan Februari ya. Jadi… ya Februarimop dah.

Orang-orang di depan pintu masuk venue masih belum mau untuk kondusif. Mereka berteriak bebarengan dan tak henti-hentinya berucap : ‘PARAMORE! PARAMORE! PARAMORE!’. Panitia pun kowalahan untuk mengatur mereka.

Sampai akhirnya, tidak lama setelah itu, seluruh panitia baik dari pintu tengah, kiri, maupun kanan mulai membuka pintu masuk menuju venue. Orang-orang berlarian dengan amat kencang agar bisa mencapai posisi terdepan dengan panggung. Seolah lupa dengan postingan fesbuk paramore. Seolah lupa dengan pemberitaan buruk yang disebar. Seolah menanti adanya keajaiban yang diharapkan.

Gue masuk dengan langkah yang pelan. Beberapa orang menyalip dari kanan maupun kiri. Sampai akhirnya, gue benar-benar masuk di venue dan melihat posisi pagar pembatas panggung yang letaknya amat sangat jauh dari panggung. Gue menelan ludah, kemudian membatin dalam hati.

‘Sudahlah, jelas banget batalnya kalau begini mah’

Dari jauh, gue melihat panggung yang sudah disiapkan dengan baik, namun tanpa ada peralatan band yang tergeletak disana. Hanya ada panggung, sound, layar proyektor, lampu-lampuan, dan… sudah. Itu saja.

Panggung Terlalu jauh

Panggung yang Senyap (Source : Rari_rurero)

Orang-orang yang berdiri di baris paling depan senantiasa tetap meneriak-neriakkan kata : PARAMORE, tak henti-hentinya. Sesaat kemudian, dari arah panggung, suara intro dari The Only Exception terdengar sangat nyaring di telinga. Hingga masuk ke bagian lirik, orang-orang ikut mengimbangi suara Hayley yang bersenandung, berharap dari situ tiba-tiba Hayley keluar dari panggung dan mengomandoi kami untuk bernyanyi bersama.

Tapi pada kenyataannya…

Tidak.

Tidak ada yang keluar dari panggung.

Tidak ada peralatan band yang bisa ditabuh.

Tidak ada wajah kebahagiaan yang terpancar.

Suara-suara itu hanya suara MP3 yang dinyalakan untuk menghibur, namun sama sekali tidak ada satupun yang terhibur. Semua orang pun bersorak penuh kesal : HUUUUUUUUUUUUUUUU. Beberapa diantara mereka mengacungkan jari tengahnya kesal.

Tak lama setelah itu, perwakilan dari promotor pun keluar dari panggung dan mencoba menjelaskan perihal kabar buruk yang terjadi. Intinya adalah, vokalis Paramore sudah 2 hari yang lalu mengalami sakit pada tenggorokannya yang mana mengharuskan dia untuk beristirahat. Katanya, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pemulihan kepada Hayley Williams dengan membawanya ke dokter-dokter spesialis Indonesia.

Namun sayangnya, dokternya menyarankan Hayley Williams untuk beristirahat saja dan jangan memaksakan diri untuk tetap melanjutkan konser. Alhasil, konser Paramore yang hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi pun dibatalkan.

Seluruh penonton yang sudah masuk dan berdiri di venue pun hanya bisa terdiam, sebelum akhirnya mereka bertepuk tangan tanda mengerti. Senyum-senyum mereka pancarkan, namun bukan senyum bahagia. Melainkan, senyum yang mereka paksa untuk tetap terlihat bahagia.

 

Satu persatu orang pun mulai mundur dari tempat berdirinya, dan melangkah pelan keluar dari venue. Beberapa diantara mereka juga ada yang berfoto-foto terlebih dahulu sebelum akhirnya ikutan beranjak dari venue. Sisanya, mereka terdiam sambil bersandar di pagar pembatas panggung. Meratapi kenyataan yang terjadi. Membisu diselimuti kekecewaan yang mau tidak mau harus diterima.

Gue?

Gue menjadi salah satu orang yang terdiam di pagar pembatas panggung. Kedua tangan gue memegangi pagar. Wajah gue penuh harap agar tetap bisa melihat konser Paramore. Batin gue penuh kekesalan karena sudah cukup jauh melakukan perjalanan dari Jogja ke Jakarta, tapi tidak mendapatkan apa-apa.

Sesaat kemudian, gue melangkah mendekat menuju salah seorang penjaga yang bertugas untuk mengamankan apabila terjadi kerusuhan. Beliau memandang gue dengan senyum, yang akhirnya gue balas dengan geleng-geleng kepala.

‘Kecewa banget, pak’ Ucap gue membuka pembicaraan.

‘Berat ya, Mas?’ Respon pak penjaga, mencoba menenangkan ‘Darimana, Mas?’

‘Iya, Pak. Berat. Saya jauh-jauh dari Jogja, Pak. Pfffft’ Jawab gue memelas.

Bapaknya pun tersenyum, kemudian dengan masih mencoba untuk menghibur dan menenangkan, beliau menjawab.

‘Masnya dari Jogja ya? Masih mending, Mas. Tadi malah ada orang yang jauh-jauh dari Brunei sama Malaysia, Mas’

Gue terdiam memandang sang Bapak. Bagi gue, setiap orang pasti merasakan kecewa yang tak terkira ketika apa yang dinantinya tidak berhasil dia dapatkan. Entah bagaimana prosesnya, entah darimana asalnya, entah apapun alasannya.

Dan buat gue, batalnya konser Paramore ini memberikan efek kejut dan kekecewaan yang mendalam bagi siapapun yang menantinya. Entah mereka yang jauh-jauh dari Malaysia ke ICE BSD. Entah mereka yang hanya dari Jakarta Timur ke ICE BSD, tapi membela-belakan diri untuk bolos kerja selama 2 hari. Entah mereka yang hanya sekedar dari komplek Serpong, tapi harus menabung selama tiga bulan untuk membeli tiket Paramore. Atau entah bagi mereka yang hanya sekedar dari Jogja, tapi harus meninggalkan skripsinya dan merelakan uang yang ditabungnya untuk membeli tiket kereta pulang balik, hanya untuk tiket gratisan yang di dapatkan.

Semua merasakan kekecewaan yang sama, dan tetap tidak ada mending-mendingnya.

Dan akhirnya, jawaban itu yang gue berikan ke sang bapak :

‘Semua merasakan kekecewaan yang sama, Pak. Semua sama, dan tidak ada yang mending dari kekecewaan yang kami rasakan.’

Sang bapak pun akhirnya mengerti.

Gue melihat sekitar venue, situasi mulai menyepi. Beberapa diantara mereka sudah keluar dari venue dengan langkah yang teramat berat. Disaat yang bersamaan, gue pun juga mengikuti langkah jejak mereka : Dengan sangat berat meninggalkan venue.

Dengan amat sangat berat meninggalkan keinginan untuk menonton paramore.

Dengan amat sangat berat, menerima kenyataan yang harus senantiasa di terima.

Disertai heningnya kondisi ICE BSD, gue melangkah pelan. Senyum tipis coba gue tampilkan.

Senyum yang tidak menggambarkan apapun. Senyum yang tidak berarti sedikitpun. Senyum yang hanya sekedar menjadi topeng agar terlihat baik-baik saja. Senyum yang orang-orang lain tampilkan juga saat itu.

Pffft.

Terimakasih.

Paramore Batal Konser Di Indonesia Ndapapa

Get Well Son, Hayley! Karya dari Tiyod yang di Posting Ulang sama Paramore (Source : Paramore)

Advertisements

29 comments

  1. tapi parah sih ini, batal beberapa jam sebelum konser…edyan!
    aku makanya gamau nonton konser di Indonesia, banyakan batalnya #belagu #ditoyornetijen

    1. Hahaha, iya Mba. Sedih bet aslik. Sulit menerima gitu looooh rasanya. Coba kalau batalnya itu dua hari sebelum konser, saya mah ga akan ke Jakarta wgwgw. Orang saya ke Jakartanya juga H-1 wgwgw

  2. Puk puk febri, gue pernah ngalamin batal nonton konser juga, tp ga separaj ini juga dibatalinnya. Yaa semoga aja hayley pegang janjinya untuj konser disini lagi, jadi tiketnya masih bisa berlaku

    1. Ehehehe, pembatalan konser memang rasanya tetep gimana gitu ya mba. Pas tanggal 16 Feb, Hayley sakit dan batal konser di Indo + Manilla. Pas tanggal 20an, Hayley sembuh dan langsung gas konser di Tokyo. Uuuuuh, kenapa sakitnya pas di Indonesianya ya :’ tu yang bikin sakit wggww.

      Yaaah, semoga mba :’

  3. iya, sama. aku juga sedih, kecewa, kesel. udah ngantri di ice dari pagi demi dapet front row. pas gate dibuka, lari-larian sampe jatoh gegara kedorong orang (untung ga keinjek hhhh drama banget dah). eh ternyata.. :’) sakit kalo diinget-inget mah. sampe sekarang aja masih nangis kalo liat video the only exception pas di dalem venue kemaren.

    tadinya aku juga sempet mikir ‘duh, udah rugi finansial, waktu, & tenaga buat pp jogja-jakarta, eh taunya malah gini.’ tapi setelah dipikir-pikir lagi, bukan cuman kita aja yang rugi, pihak promotor juga rugi karena persiapan mereka kan juga udah dari jauh hari. paramore pun rugi karena mereka udah ke indo dan ga dapat apa-apa. jadi, yah, menurut aku ini udah cukup fair. hm.

    btw, konsernya bukan dibatalkan, tapi ditunda. mereka janji bakal balik lagi kok, cuman belum nemu tanggal yang tepat aja. tadinya kan mereka nawarin jadwal bulan agustus, tapi karena agustus kita ada asian games dan indonesia jadi hostnya, pihak promotor belum bisa nerima tawarannya, makanya masih dicarikan tanggal yang tepat.

    dari pihak ticketingnya juga ngasih form pilihan ke kita, mau hold the ticket atau mau refund. kalau pilih untuk tetap hold the tix, kita ga perlu beli tiket lagi untuk konser penggantinya nanti, tinggal redeem e-ticket aja. see? dari sini kita bisa lihat ada harapan kalo mereka bakal balik lagi. semoga aja reschedulenya tahun ini yah, biar ga kelamaan. let’s spread the positive vibes! \m/

    1. HAHAHAHAAAHA SEDI BANGET YA PERJUANGANMOH WGWGWG.

      Semua tetep merasa di rugikan kok. Banyak banget pihak yang merasa merugi. Tapi ya gimana yaaaaaaaaaaaaaa… Hayley sakitnya pas di Indonesia sih. Pas di Tokyo, sembuh dan bisa konser. Eheheh masih belom beruntung saja hahaha.

      Dan yaaaaaak, ditunda ya. Oke. Ditunggu tanggal mainnya aja. wgwgw

  4. Feeeb. Ah, maafkan aku lupaa melanjutkan obrolan.
    Tau begitu, kamu mampirlah ke Depok dan kuajakin lah muterin Ibukota.
    Di redeem aja tiketnya, dan kembali lagilah ke Ibukota, yuk!

    1. Wwgwgwg padahal diriku kemarin main-main ke UI sama Pondok Cina mba wgwgw. Depok itu sekitaran situ bukan? wgwgw

      Hahaha pankapaaan ah kumain lagi eeheheh tapi Jakarta panas bet aslik.

  5. Kyaknya bakalan kecewa banget tuh ya.. hehe 😀 cuma heran juga saya kenapa tinggal beberap saat lagi baru deh dikabarin cancel acara… hoho.. tiketnya tuh bisa direfund ngk ya? hehe 😀 bisa beli es cendol tuh.. hehe 😀

  6. Sorry feb, janganlah kamu menangis
    Doakan saya untuk sembuh y
    Saya justru bahagia jika konser tidak ditonton oleh kamu, makanya saya jadi sakit ketika ada kamu yang nonton

  7. Tapi agak ‘afgan’ gitu ya untuk kasus Paramore ini. Benar-benar detik terakhir.

    Hmm… Alhamdulillah cih, gue belum pernah ngalamin pembatalan konser kayak gitu, amit-amit juga cih, soalnya secara adrenalin itu udah berasa seminggu bahkan sebulan sebelumnya lho, apalagi klo fans sejati. Eh tapi just share aja, tahun lalu, gue malahan berdoa untuk kebatalan sebuah konser, karena gue ga kebagian tiket, dan ternyata dikabulin, whuhahahaha.. *Ditimpuk bata*

    Dan gue sekarang dilema antara harus berjuang setengah mati mengejar sang idola ke negeri seberang atau nunggu tahun depan. Doakan yang terbaik ya! :))))

    1. Sadis banget ya mba -_- beberapa jam lagi tampil, orang-orang sudah ngantri di depan venue, eh batal. wgwgwgw

      Haahahaha, terkabul banget tuh doamu mba. Harapannya batal konser loh ini buset wgwgw. sereeeem wgwgwg.

      Coba deh mba, kejar ke negeri seberang sana wgwgw :p Tapi, yang terbaik saja deh :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s