Karma Itu… Ada Nggak Ya?

‘Karma pasti berlaku’

Sedari zaman yang entah kapan itulah, kata-kata tersebut seolah sudah menjadi langganan untuk dikatakan bagi mereka yang merasa telah disakiti, telah menerima sesuatu yang buruk dari seseorang, telah disia-siakan, dan telah-telah yang sudah berlalu lainnya. Agaknya, gue kurang begitu paham tentang apa makna di balik kata karma. Tapi yang jelas, karma itu ibarat hukum alam yang membuat seseorang terlihat kadang berada di bawah, kadang berada di atas, dan kadang berada di posisi orang yang pernah kita tertawakan.

Karma bukan hanya berlaku bagi mereka yang habis putus cinta karena disia-siakan, yang mana membuat si dia terus-menerus menyanyikan lagu Karma ciptaan Cokelat. Karma juga bukan hanya berlaku bagi mereka yang merasa didekati, tapi ternyata yang dikira mendekati itu malah lebih memilih jadian dengan orang lain saja, yang mana membuat si dia terus-menerus mengumpat di dalam doa : ‘KARMA PASTI BERLAKU! KARMA PASTI BERLAKU! KARMA PASTI BERLAKU!’

Tidak.

Karma bukan melulu tentang cinta. Tapi, karma juga bisa masuk ke dalam nilai-nilai kehidupan.

Ya, kehidupan bisa jadi pemasok akan hukum karma yang sebenarnya. Mungkin secara sadar, mungkin secara tidak sadar, dan mungkin secara tidak terduga. Salah satunya adalah tentang apa yang sudah pernah gue lakukan beberapa tahun lalu, dan akhirnya gue tuai sekarang.

Asistensi.

Di kampus gue, asistensi merupakan salah satu kegiatan di luar jam kuliah yang mana bertujuan untuk membahas materi demi materi perkuliahan yang masih berjalan. Asistensi pun juga bisa berisi tentang pembahasan dari latihan soal demi soal yang dirasa masih kurang dipahami. Intinya, asistensi ini sebenernya merupakan suatu kegiatan yang cukup membantu mahasiswa.

Nah, asistensi ini dipegang oleh satu orang asisten dosen dengan jadwal yang telah ditetapkan, sesuai dengan mata kuliah yang akan diampunya. Biasanya, asistensi dilakukan kisaran pukul 18.30 WIB hingga maksimal pukul 22.00 WIB.

Ya, jam-jam yang penuh dengan kemalasan sekali memang.

Hal itulah yang akhirnya membuat gue malas untuk berangkat asistensi. Ya, habisnya gimana ya? Gue kan kadang berangkat kuliah pukul 07.00 WIB, terus pulang kuliah mentok pukul 15.30 WIB. Nah, untuk menuju ke angka 18.30 WIB kan butuh waktu kira-kira 3 jam ya?

LHAIYA ITU YANG BIKIN GUE MALES.

Mau nunggu selama 3 jam di kampus, gabut.

Mau balik dulu ke rumah, buang-buang waktu dan tenaga.

Jadi solusi utamanya adalah :

‘Udahlah, nda usah berangkat deh ya’

Haha.

Sebuah pilihan sulit sih sebenernya ketika gue harus menentukan apakah hendak berangkat asistensi atau tidak. Pasalnya, apabila gue lihat dari manfaat yang didapat, jelas asistensi ini bisa membuat pengetahuan gue tentang mata kuliah yang akan diasistensikan semakin bertambah. Selain itu, nggak rugi juga sebenernya kalau gue berangkat asistensi. Lagipula, itu kan hak kita. Tapi, ya gimana ya? Malas adalah numero uno dalam kehidupan.

Jadi, ya begini deh akhirnya.

Etapi gue bukan tipikal orang yang males-males banget kok. Gue masih tetep berangkat asistensi loh. Yah, meskipun paling hanya <50% nya doang sih.

Ehe.

Kala itu di semester 1, 2,3, 4, 5, dan 6, gue nggak begitu memikirkan hal-hal lain, seperti misal sang asisten dosen yang mungkin telah meluangkan waktu-waktu berharganya hanya untuk memberikan pengetahuan tambahan tentang mata kuliah yang dia asdosi kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Saat itu, gue sama sekali nggak memikirkan hal tersebut.

Sampai pada akhirnya, waktu pun berjalan sangat cepat. Semester demi semester berjalan, dan asistensi demi asistensi pun gue lewatkan. Hingga tiba masanya ketika gue menjalani peran sebagai asisten dosen yang mana mencoba untuk mendidik teman dan juga adik angkatannya.

Dan…

Itu sedi sekali sih, suwer.

Pertama menjadi asisten dosen, hal yang gue lakukan pertama kali tentu adalah perkenalan di dalam kelas. Kala itu, seusai mata kuliah yang diampu oleh pak dosen, beliau pun memberikan izin kepada gue untuk memperkenalkan diri.

‘Assalamualaikum Wr. Wb. Perkenalkan ya teman-teman, nama saya Febri Dwi Cahya Gumilar. Kebetulan pada semester ini saya diberi amanat untuk menjadi asisten matematika 2 di kelas A. Mohon kerjasamanya ya. Untuk asistensinya kita mulai sesuai jadwal, yaitu dimulai hari ini pukul 19.00 WB’

Gue memandangi anak-anak yang sedang duduk di kursi masing-masing, kemudian melihat presensi. Gue memandangi mahasiswa-mahasiswanya lagi, kemudian kembali melihat presensi. Saat itu, di dalam hati gue ingin berteriak.

‘BANGKEK, INI KENAPA GUE MEGANGNYA KELAS YANG ISINYA ANAK-ANAK NGULANG MATAKULIAH SEMUA SIH AH.

Yak, dipresensi itu tertuliskan informasi bahwa mahasiswa-mahasiswa matematika 2 yang gue pegang adalah mahasiswa-mahasiswa pengejar IPK 4 yang mengulang mata kuliah matematika 2 untuk kesekian kalinya. Angkatan 2011, 2012, 2013, dan mentok-mentok angkatan 2014. Gue pun mendadak mendapat sebuah firasat yang kurang enak. Macan dari golongan mana yang mau nurut sama gembel.

‘Ini kontak saya ya. Nanti apabila ada yang mau berkonsultasi atau tanya-tanya masalah matematika 2, bisa langsung kontak saya saja’ ucap gue sembari menuliskan nomor handphone di papan tulis. ‘Hmmm… kira-kira itu saja yang bisa sampaikan. Nanti jangan lupa untuk berangkat asistensi loh. Hehe. Selebihnya, waktu dan tempat saya kembalikan kepada pak Dosen’

Gue berucap sembari menutup perkenalan.

Pada hari itu, gue pun menyempatkan diri untuk mempelajari semua materi matematika 2 agar malamnya bisa gue bagikan ke teman-teman yang datang.

xxxxx

Waktu berjalan cepat, hingga akhirnya membawa gue pada jarum jam yang menunjuk di angka 6 lebihnya 5 menit. Gue pun bersiap-siap untuk berangkat ke kampus guna memberikan kelas asistensi.

Pukul 18.45 WIB, gue sampai di kampus dan mempersiapkan ruangan asistensi. Sembari memberikan kabar kepada grup kelas yang baru sore tadi dibuat, gue pun langsung menyalakan lampu kelas, membersihkan papan tulis, merapikan kursi, dan membuka buku-buku materi.

Pukul 19.00 WIB, gue duduk di kursi depan dengan tangan di atas meja. Senyum gue mengembang menanti mahasiswa-mahasiswa yang akan gue berikan ilmu tambahan. Sesekali, gue membuka buku catatan untuk mengingat-ingat materi yang sedikit lupa. Sesekali pula gue mengecek handphone untuk melihat balasan dari kabar yang gue berikan.

Pukul 19.30 WIB, gue masih duduk di kursi depan. Tangan kanan gue bermain-main dengan pulpen. Mata gue mulai sedikit sayu. Gue mengkonfirmasi ke grup kelas agar mereka cepat berangkat untuk segera melangsungkan asistensi. Kalau tidak, gue mengancam untuk segera pulang.

Karma Menyebalkan

Pukul 20.00 WIB, gue pengen membakar diri sendiri.

Bangkek amat, 1 jam ditungguin mahasiswa-mahasiswanya nggak ada yang datang.

SAMA SEKALI NGGAK ADA YANG DATANG, LOH YA. MENDING KALAU ADA 1 ATAU 2 ORANG MAH, LAH INI NGGAK ADA YANG DATANG BABARBLAS.

Halah, Feb. Paling cuma sekali kan kayak begini?

SEKALI?

ENGGAK!

GUE HAMPIR TIGA KALI BERNASIB BEGINI. ASDOS BARU SIH ASDOS BARU, TAPI YA NGGAK GINI KAN YA.

Setelah merasa tiga kali dikhianati begini, gue pun akhirnya memilih untuk mogok asistensi. Gue hanya mau berangkat ke kelas dan mengadakan asistensi, jika dan hanya jika anak-anaknya yang meminta. Selain itu, ogah aja buset.

Hasilnya?

Bener aja, mahasiswa-mahasiswa di kelas itu pun pada akhirnya merasa butuh dan meminta gue untuk memberikan asistensi di malam sebelum mereka ujian. Karena memang itu merupakan sebuah kewajiban, maka gue pun langsung mengiyakan dengan senang hati. Sekitar pukul 16.19 WIB mereka meminta gue untuk asistensi, seketika itu pula gue langsung membuka-buka materi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus.

Chat Menyebalkan

Pukul 19.20 WIB, gue sudah sampai di kampus dan mempersiapkan ruang kelas. Tak lupa, gue mengabari kepada para mahasiswa yang tadi meminta asistensi bahwa gue sudah berada di ruang kelas.

Pukul 19.25 WIB, grup mendadak sepi.

Sebuah Karma

Pukul 19.45 WIB, gue mencoret-coret jawaban dari soal-soal yang tadi dikirimkan oleh mahasiswa.

Pukul 20.00 WIB, gue masih sendirian di kelas dan mendapati bahwa mahasiswa-mahasiswa bedebah itu tidak ada yang berangkat. Gue dimainin. Gue nggak dihargain. Tai kucing.

Alhasil, karena merasa bahwa ini adalah sebuah tugas dan ujian dari Yang Maha Kuasa, gue pun memilih untuk tetap bersabar dan mengirimkan coretan-coretan jawaban soal yang sudah gue kerjakan beberapa menit lalu di grup.

‘Kata temen saya kuis pak dosen tipikal kayak begini soalnya. Mungkin bisa dicoba-coba yak. Nah, kalau bingung atau ada soal lain bisa ditanyakan saja wkwkw’

Sent.

Sebelum beranjak pulang, sembari membereskan meja, kursi, dan mematikan lampu, gue berulang kali mengecek grup. Berharap ada balasan atau respon dari mereka.

Yang ada, read by…

Chat Karma

Gue udah ngerjain soal yang dikirimin, gue udah berangkat ke kampus, gue udah nyiapin kelas, gue udah….

TAYLAH BUSET, UCAPAN MAKASIH AJA NGGAK ADA.

Setelah itu gue merasa jengah, dan langsung beranjak pulang.

Hal mengejutkan pun terjadi. kira-kira seminggu kemudian sekitar pukul 10.20, yaitu bertepatan dengan jam ujian matematika 2, grup yang sedari beberapa minggu lalu sepi, tiba-tiba rame. Beberapa mahasiswa malah ada yang chat personal gue meminta jawaban dari ujian yang siang itu diujikan.

Karena merasa bahwa tugas gue sebagai asisten dosen hanya berlaku setelah jam kuliah, dan kala itu gue lagi ada tugas lain yang mendesak. Maka gue hanya membalas pesan-pesan itu dengan nada-nada satir :

‘Duh, maap. Saya lagi beli es dawet di luar nih. Nggak bawa pensil sama kertas buat coret-coretan. Maap banget ya’

HAHAHAHA.

SAVAGE!

MAMPOS!

EMANG ENAK!

Seketika pandangan gue berubah. Gue pikir, menjadi asisten dosen itu enak. Pada kenyataannya… ya taek juga rasanya.

Dan akhirnya gue pun paham tentang bagaimana rasanya asdos-asdos pendahulu gue. Gimana gemasnya mereka ketika anak-anak yang diampunya tidak berangkat asistensi. Gimana keselnya mereka ketika sudah lelah-lelah mempersiapkan materi, tapi tidak ada satupun yang berangkat. Gimana beteknya mereka ketika sudah lelah belajar, tapi tidak ada satupun yang menghargai.

Terimakasih sudah memberikan kesempatan itu.

Ehehe.

Advertisements

33 comments

  1. Sabaaar kalii kamu, aku salud kmu bisa sesabar itu, aku klo smpe 2 kli ga ada yg datang sama sekali udah marah, dan ngmng yg rada ga enak 😅😅

    1. Hahahah karma sekali memang, Mas :’ kubisa apa ya 😀

      Bener banget, kita baru bisa mengerti apa yang orang lain rasakan, ketika kita melakukan atau menjalani yang orang lain itu lakukan.

      Yaaah, beginilah 😀 wkwkw

      terimakasih, mas 😀

  2. Itu nama dosennya Pak Lalu ya?

    Harusnya pas bales chat ga usah pake ‘wkwkwk’ biar tau lagi ngambek, 22 orang masa ga ada yang bener sih -_-

    HAHAHAHA KARMA ITU PASTI BERLAKU ANAK MUDA, DASAR ASDOS BAPER!

  3. Wow asdos! Mantap. Di UI dulu yang jadi asdos adalah senior dengan IPK di atas 3,5 dan mengajar penuh wibawa. Jadi yang cengengesan kayak aku mah, kudu rajin belajar biar IPK di atas 3 yang penting aman dunia.

  4. Sabar Feb,, ada hikmahnya berarti, jadi ingat dulu jg pernah ada diposisi yg nyuekin ituh, bedanya si Febri dulu ga pake minta dikirimin jawaban saat ujian 😀

  5. Asli sih jahat banget mereka, semester berapa sih kak mereka? Belum pernah ngerasain ngechat dosbing di read doang kali ya hmmmm

    Semoga tetap tabah kak Feb, semangat TA nya 😉

  6. Ini baru namanya mahasiswa
    Mereka sadar kalo balas chat kamu itu rugi waktu dan tenaga
    Kasian y g ada yang nanya
    Kayaknya mereka g yakin sama asdos yg satu ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s