Patah Hati Terhebatnya Seorang Teman

‘Feb…’

Di sore yang sendu, tepat ketika gue sedang golar-goler di kasur sembari melihat layar handphone yang menampilkan kumpulan foto-foto netizen di instagram, pesan dari seorang sahabat gue di atas pun menghias layar handphone, menutupi tampilan foto-foto netizen di instagram.

Gue terdiam sebentar. Mengeja nama sahabat yang sudah cukup lama nggak gue terima pesannya. Mengingat wajah sahabat yang sudah cukup lama nggak gue lihat wajahnya. Meraba-raba kenangan yang pernah gue rajut bersamanya semenjak SMK.

From : Rio

Beberapa menit setelah menyadari bahwa ternyata sahabat gue adalah seorang lelaki tulen, gue pun akhirnya mengalihkan pesan darinya dan memilih untuk kembali melihat-lihat foto netizen di instagram.

Bukan. Gue nggak ada maksud hati untuk menjadi seorang yang kejam terhadap sahabat sendiri. Namun, gue justru berusaha untuk menjadi sahabat yang baik. Hanya saja, akhir-akhir ini, hubungan gue dengan Rio memang nggak sedeket dulu.

INI BANGKEK KENAPA GELIK AMAT YA. COWOK LOH, FEB. RIO COWOK. UDAH SIH, UDAH.

Perubahan-perubahan itu tentu terjadi tepat setelah Rio menjalin hubungan dengan pacarnya, setelah sekian lama menjomblo.Wajar saja sih, Rio lebih memprioritaskan pacarnya ketimbang gue. Maka, dari situlah alasan kenapa gue lebih memilih untuk sejenak mengabaikan pesan dari sahabat gue sendiri.

‘Yop?’

15 Menit setelah puas melihat-lihat foto netizen, gue pun akhirnya membalas pesan dari Rio. Adzan Maghrib berkumandang mengiringi pesan gue yang bertanda centang dua di sudut kanan tulisan.

‘Gue ke rumah lo sekarang ya’

Rio langsung membalas dan gue pun langsung mengiyakan.

Ya, meskipun Rio sudah menjalin hubungan dengan pacarnya dan lebih memilih untuk memprioritaskan si pacar, tetapi gue masih sempat bertemu Rio untuk beberapa kesempatan. Biasanya setelah dia selesai mengapel pacarnya, setelah dia ditinggal pacarnya mudik, atau disela-sela kebetulan ketika dia ingin bertemu dan berbagi keluh kesah.

Gue masih sedikit inget, bagaimana pertemuan gue dengan Rio terakhir kalinya. Kira-kira 6 bulan lalu di sebuah warung bakso. Kala itu, gue yang masih berpacaran dengan si mantan mencoba menceritakan semua hal positif dan segala mimpi ataupun masa depan yang kelak akan gue rajut bersama si mantan. Pokoknya, semua hal baik dan cita-cita positif gue coba bagikan kepada Rio.

Sementara itu, Rio yang sedang ditinggal KKN oleh pacarnya justru terlihat galau dan gusar. Berulang kali dia berbicara masalah ketidaksanggupannya dalam menjalin hubungan dengan si pacar, meskipun umur pacarannya sudah menginjak angka 1,5 tahun. Dia pun bercerita mengenai sikap dari si pacar yang menurutnya kurang mengenakkan. Selain itu, dia juga bercerita tentang bisnis yang dia jalankan dengan si pacar, tapi hasil dari bisnisnya itu justru dipakai dan dipegang oleh si pacar secara kurang bijaksana.

6 bulan setelah itu…

Gue putus dengan si mantan.

Sementara Rio menginjakkan umur pacarannya ke angka 2 tahun.

Hidup memang tidak ada yang tau kan ya?

Selesai shalat Maghrib, gue duduk di ruang tamu sembari memainkan ukulele. Beberapa kali iringan musik coba gue mainkan, sampai di depan rumah terdengar suara klakson motor diiringi dengan sautan orang yang memanggil nama gue.

Gue pun keluar.

Di depan, gue melihat sosok Rio yang sudah cukup lama nggak gue lihat. Dia terlihat sangat asing dan berbeda dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang menerpa hidupnya. Seperti ada sebuah dilema yang menyelimutinya. Seperti ada sebuah rasa yang selama ini dia tahan, namun akhirnya dikecewakan.

Sedih disakiti

Source : Pexels

Tatapannya sedu. Wajahnya kusut. Senyumnya tak lagi terlihat.

Gue menepuk pundaknya sembari berucap :

‘Kayaknya lagi hepi nih, bor?’

Gue digampar bolak-balik.

Jokenya…

Dia pun duduk di kursi yang ada di teras rumah. Sembari mencoba menampilkan senyum terpaksanya, dia menghela nafas panjang.

‘Gue putus sama dia’ Rio membuka percakapan dengan nada yang kurang bersemangat. Berulang kali dia menggeleng dan menepuk kepalanya dengan kencang. Seolah menggambarkan dia yang tidak terima dengan keputusan yang ada, atau dia yang tidak terima dengan hubungan yang selama ini dijalaninya.

‘Loh? Serius?’ Saat itu, tentu gue kaget dan nggak nyangka. Pasalnya, tepat sehari sebelumnya, gue lihat Rio masih mengunggah fotonya berdua bareng si pacar, lengkap dengan caption yang berisikan informasi bahwa hari itu adalah hari jadinya yang ke-dua tahun.

‘Iya…’ Rio menjawab seadanya. Setelah itu, dia pun menceritakan semua hal yang terjadi. Semua hal yang sengaja dia tutup-tutupi. Semua hal yang membuat hatinya patah hingga saat ini.

‘Lo tau nggak sih, Feb. Selama ini gue kayak terlalu cinta sama pacar gue deh. Bisa-bisanya ya selama ini gue merasa percaya dan sabar aja gitu sama apa yang dilakuin si pacar. Gue buka bisnis dan jasa gambar bareng si pacar, gue biarin dia yang megang dan mengelola duit tersebut. Gue ngebantuin biaya kuliah dan uang jajan harian pacar gue itu dari bisnis tersebut. Pokoknya, hampir semua waktu, jasa, dan lainnya udah gue kasih ke dia deh’

Mendengar ucapan Rio tersebut, gue cuma bisa diem sembari menunggu ucapan demi ucapan apalagi yang akan dia keluarkan.

‘Tapi…’ Rio agak sedikit tertahan ‘Tapi balasan yang gue terima kok nggak sebanding dengan apa yang gue kasih ya?’

Dari situ, gue hampir aja mengeluarkan kata-kata sok bijak kayak : ‘Cinta yang tulus itu datangnya kan dari hati. Jadi, nggak perlu mengharap balasan yang sebanding kalau memang lo ngasih itu karena tulus’. Tapi, kok kayaknya tai kucing banget ya kalimat tersebut? Akhirnya, gue memilih untuk kembali menahan diri dan tetap mendengar cerita dari Rio tersebut.

‘Waktu kita terakhir ketemu di warung bakso dulu, gue cerita ke lo kalau pacar gue lagi KKN. Disitu lo sempet nakut-nakutin kalau nanti bakal muncul orang ketiga atau apalah yang bakal ngerusak hubungan gue sama si pacar. Tapi, disitu juga gue sempat mengelah karena gue percaya dan udah tau dengan sifat si pacar. Jadi, gue tenang-tenang aja… Sampai tiba datangnya hari kemarin.’

‘Setelah KKN yang dijalankan oleh pacar gue kelar, awalnya hubungan kami masih biasa-biasa saja. Gue masih bolak-balik ke Jogja buat ketemu si pacar, dan komunikasi antara gue dengan si pacar pun masih berjalan normal. Tapi, yang namanya bangkai kan pada akhirnya bakal tercium ya? Ya itu. Pacar gue akhirnya mulai menunjukkan perubahan yang drastis. Dia jadi jarang ngehubungin gue. Dia jadi jarang mau untuk ketemu meskipun gue sudah ngebela-belain balik ke Jogja. Dan yang paling parah… Dia sempet ngajak gue break secara sepihak dengan alasan yang nggak wajar’

Kenyataan-kenyataan yang selama ini Rio bagikan itu seolah membuat gue ikutan emosi dengan apa yang dilakuin oleh pacar dia. Berulang kali gue mengumpat disela-sela cerita yang Rio coba bagikan. Berulang kali juga gue geleng-geleng kepala dengan kesabaran Rio yang selama ini dia tunjukkan.

‘Gue pun break sama si pacar. Bisnis yang gue rintis bersama si pacar pun gue berhentikan sementara. Sebagaimana orang yang sakit hati karena ditinggal secara sepihak, gue pun cuma bisa mengurung diri di dalam kamar. Menimbang-nimbang, kesalahan apa yang sudah gue lakuin ke si pacar. Sampai akhirnya, beberapa hari setelah itu, si pacar pun kembali menghubungi dan meminta gue untuk melanjutkan bisnis menggambar karena baginya, itu adalah satu-satunya penghasilan yang bisa dia dapatkan.’

‘Merasa masih punya logika dan nggak bisa mikir untuk memulai bisnis tersebut, gue pun akhirnya memilih untuk menolak dan meminta agar dia nggak ngganggu gue lagi. Tapi, alih-alih memenuhi permintaan gue, si pacar justru mengucap maaf, meminta baikan, dan berkata bahwa dia ingin kembali melanjutkan hubungan.’

1514799321621

Special Art from : Rianjati

Gue menunggu cerita selanjutnya tentang apa yang Rio lakukan ketika mendengar permintaan maaf dan juga tawaran dari si pacar. Tangan gue mengepal kencang, mencoba menahan amarah yang entah kenapa memuncak hanya karena cerita yang Rio bagikan.

‘Gue menahan diri untuk menerima tawaran dari si pacar. Pasalnya, gue ingin tau apa yang selama ini si pacar sembunyikan. Akhirnya, setelah rentetan-rentetan pertanyaan gue beberkan, dia pun mulai mengatakan kenyataan yang sebenarnya perihal kehadiran orang bernama Aris yang baru-baru ini masuk di dalam hidupnya setelah KKN.

‘Ya, orang bernama Aris-lah yang ternyata membuat pacar gue berubah. Bagi si pacar, Aris ini adalah pahlawannya semasa KKN karena pada masanya, si pacar itu dibenci oleh teman-teman satu unitnya, kecuali si Aris. Jadi Arislah yang mau menemani dan membantunya survive semasa KKN. Jadi, alasan kenapa sekarang si pacar dekat dengan Aris adalah karena dia ingin membalas budinya selama KKN’

‘Membalas budi?’ gue bertanya-tanya. ‘Membalas budi dengan mengkhianati orang yang sedari 2 tahun lalu bersamanya? Gue masih nggak ngerti, deh.’

Rio mengangguk pelan. Sesuatu sedang coba dia tahan.

‘Gue sempat bertanya mengenai hal apa saja yang sudah dia lakuin bareng Aris selama ini. Dan lo tau jawabannya? Dengan tanpa ada rasa bersalah, si pacar bilang kalau mereka sudah pernah masuk kost berdua saja.’

Gue mencoba menelan ludah setelah mendengar kalimat ‘mereka sudah pernah masuk kost berdua saja’. Sebagai alumni penggagas ilmu perbokepan lokal yang seringkali melihat adegan gituan dengan judul : ‘ML_di_kost_cewek.3gp’, ‘sama_adik_ipar_di_kost.3gp’, ‘kenangan_sama_mantan_di_kost.3gp’ dan bokep-bokep kost lainnya, gue pun berpikir macem-macem.

‘Errrr… Itu dilakuin waktu kalian sudah break?’ Gue mencoba mengalihkan pikiran kotor gue itu dengan mengajukan pertanyaan demikian.

‘Entahlah. Tapi yang jelas, si pacar sambil ketawa-tawa bilang kalau mereka dikost berdua cuma cium kening dan ciuman aja’

‘CIUM KENING DAN CIUMAN DIKASIH EMBEL-EMBEL ‘AJA’? BUSET KALIK. DIA NGGAK TAU YA, KALAU DIPOSISINYA ITU KAN DIA LAGI MENJALIN HUBUNGAN SAMA LO?’ BANGKEK EMANG!’

Emosi gue sudah meluap-luap tak terkontrol.

‘Yah, ya gimana. Masalah ini sempet dia ceritakan ke orang tuanya. Berulang kali orang tuanya nelponin gue, seolah-olah gue adalah dalang dibalik terjadinya masalah ini. Nggak ngerti lagi deh gue’

Pada titik ini, gue melihat bagaimana kondisi Rio yang udah kayak nggak bisa nahan semua rasa sakit yang menderanya. Secepat kilat, gue pun mencoba bangkit dari duduk dan mengajak Rio jalan keluar.

‘Taiklah. Udah, cewek begitu mah tinggalin aja. Sebel gue. Dah ah, jalan keluar aja yok. Nyari angin biar nggak edan. Gue ganti celana dulu ya’

Rio pun mengangguk dan gue meninggalkan dia sebentar untuk ganti celana.

10 menit ganti baju dan celana, gue pun keluar menghampiri Rio yang duduk sendiri di teras rumah. Sekembalinya disana, gue melihat wajah Rio yang semakin pucat. Sebelum gue sempat berucap apa-apa, Rio pun menunjukkan sebuah tampilan instastory yang mana disitu menampilkan sepasang cowok dan cewek sedang duduk berdampingan dengan mesra.

Gue pun bertanya-tanya sendiri, sampai akhirnya Rio menjelaskan bahwa cewe yang dilihatkannya itu adalah mantan pacarnya, sementara cowo yang ada disebelahnya adalah Aris.

Marah Disakiti

Source : Blog.grade.us

Emosi Rio pun memuncak hebat. Dia meminta gue untuk mengantarkannya ke kost mantan pacarnya dan meminta kejelasan mengenai apa yang telah terjadi di instastory. Selain itu, dia juga meminta gue untuk mengantarkannya ke tempat si Aris agar dia bisa memukulnya sekuat tenaga.

Tanpa bisa banyak berkata-kata, gue pun langsung mengantarkan Rio ke kost mantan pacarnya.

Di jalan, gue berulang kali mewanti-wanti bahwa apa yang akan dia lakukan beserta emosi yang meluap itu nggak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalah ini adalah merelakan semuanya. Nggak usah labrak-labrakan. Nggak usah pukul-pukulan.

Mendengar petuah gue, emosi Rio pun perlahan mereda. Dia hanya meminta gue untuk melewati kost mantan pacarnya saja. Gue langsung mengelus dada, karena sesuatu hal yang buruk dan kelak kan memanjang nantinya nggak jadi gue temui.

Tepat ketika kami sudah hampir melewati depan kost pacar Rio dan memasuki sebuah gang. Tiba-tiba Rio yang membonceng di belakang gue mengumpat dengan nada yang amat sangat kencang :

‘ASUUUUU!’

Kebetulan, tepat ketika Rio mengumpat ada dua orang laki-laki yang sedang berboncengan naik motor berpapasan dengan kami. Gue melihat spion, kedua orang itu berhenti. Gue pun nanya ke Rio.

‘Temenmu, bor?’

‘Siapa?’ Tanyanya.

‘Itu, dua orang yang kamu umpatin tadi’ Gue masih berpositif thinking, karena disini, umpatan ‘ASU’ itu menjadi hal biasa untuk seorang teman.

‘Kagak. Gue tadi cuma pengen ngumpat aja’

….

..

.

‘YA KALAU MAU NGUMPAT LIAT-LIAT TEMPAT, BANGSAT!’ Gue kembali melihat spion. Kedua orang itu berbalik arah dan mencoba mengejar kami berdua. Seketika, gue memutar gas cepat dan menghindari amukan 2 orang yang jadi korban salah sasaran umpatan si Rio.

Kampret emang.

Selesai dengan drama itu, gue dan Rio pun melewati kost si mantan dengan perasaan panik dan langsung memilih untuk singgah di sebuah angkringan. Disitu gue mencoba untuk menenangkan, sekaligus ingin menggamparnya bolak balik ke kanan 2 kali dan ke kiri 18 kali. GILA AMAT DIA NGUMPATNYA TADI ANZAY!

Terlepas dari itu semua, gue melihat Rio yang tampak mencoba terlihat baik-baik saja. Tapi, gue tau. Ada yang tidak baik-baik saja di dalam diri Rio.

Pura-Pura Bahagia Disakiti

Source : Pixabay

Menjelang pukul 12 tengah malam, Rio pun minta pulang.

Ada rasa khawatir yang dia pancarkan. Khawatir dengan rasa sepi di rumah nanti yang akan mengantarkannya pada memory-memory kelam yang telah dia jalani. Tapi, itulah jalan yang pada akhirnya harus Rio hadapi.

Disela-sela riuh ramainya kota Yogyakarta pada malam mari… Rio pulang membawa luka di hati.

Njis.

Advertisements

31 comments

    1. Akhirnya si mantan itu jadian sama selingkuhannya. Si Rio awalnya kurang nerima sih, tapi akhirnya ya dia sadar kok. Beberapa hal yang kurang bisa diterima itu masalah kamera yang dulu dicicil berdua, akhirnya harus ditanggung si Rio. Padahal, yang minta kamera itu mantannya. Terus uang sisa bisnis yang totalnya 5 jutaan juga dibawa si mantan. AH RESEK POKOKNYA AH MANTANNYA ITU 😦

  1. Part terbaik gue saat dia teriak ASUUUUU!’ HAHAHA

    Ngomogin soal KKN nih ya? Saya beum sempet ngerasain, cuma ada mahasiswa yang cerita kisahnya saat KKN dulu, saat dekat dg masyarakat, sampe suka sama cewek yang KKN juga.

    *Menunggu moment KKN saya dalam beberapa tahun lagi.

  2. Pacaran lama lama taunya cuman ngebahagiain jodoh orang. Bangke emang sih..

    Motivasi jomlo buatku makin kuat. Hmm..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s