Solusi Mengatasi Kemacetan Dan Melangkah Maju Menuju Gerakan 100 Smart City

Di dunia ini, kita hidup di dalam sebuah kota yang terbagi-bagi menjadi beberapa daerah. Orang-orang tumpah ruah mengisi daerah-daerah tersebut. Melakukan rutinitas harian, bertatap muka dengan orang-orang di jalan, serta memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang telah disediakan.

Mengacu pada wikipedia, Indonesia memiliki 99 kota otonom dan juga 5 kota administrasi. Meskipun wikipedia menyebutkan bahwa yang tercantum disana belumlah lengkap, tentu 99 kota sudah cukup terbilang banyak. Dari 99 kota yang terjabarkan di Wikipedia tersebut, gue pun kini bertempat tinggal di salah satu kota yang mungkin tidak asing lagi apabila disebutkan namanya.

Yogyakarta

Ya, gue hidup di sebuah kota yang agaknya memiliki nama besar untuk bidang pendidikan maupun tempat wisata. Ada banyak anggapan yang orang-orang bisa gambarkan mengenai kota Jogja. Apabila setiap orang diminta untuk menyebutkan satu kata yang mewakili kota Jogja, mungkin mereka memilih untuk mengambil kata : ‘Kembali’.

Bagaimana tidak? Bagi beberapa orang, Jogja merupakan tempat yang bisa membuat mereka harus kembali mengunjungi dan menikmati sisi-sisi sudut ruang kota yang ada.

Bagi gue pribadi, Jogja merupakan tempat yang sangat mengagumkan. Wisata malam yang cukup ramai di kawasan Tugu maupun Malioboro. Wisata Edukasi yang memberikan pengetahuan di kawasan Taman Pintar. Serta Wisata Budaya yang memberikan nilai-nilai peradaban di kawasan Kraton.

Seolah-olah, Yogyakarta memberikan semua hal yang diinginkan oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Sekedar info selingan, Yogyakarta masuk dalam kawasan Daerah Iistimewa Yogyakarta yang mana memiliki 5 Kabupaten/Kota di dalamnya seperti Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, dan juga Kota Yogyakarta. Uniknya, dari kelima Kabupaten/Kota tersebut, Kota Yogyakarta justru memiliki luas daerah yang paling kecil daripada Kabupaten/Kota lainnya.

Namun meskipun memiliki kawasan yang relatif kecil dan menyajikan tempat wisata yang mengagumkan, apakah Kota Yogyakarta tidak memiliki kekurangan?

Menurut gue, setiap kota selalu memiliki kekurangan atau masalah yang mungkin tiap tahun harus diperbaik secara berkala. Apalagi, sekarang dicanangkan mengenai program gerakan menuju 100 Smart City, dimana artinya, melalui gerakan ini, pemerintah kota maupun kabupaten akan mendapatkan bimbingan dari tim ahli yang kelak akan memberikan bantuan untuk meletakkan aspek-aspek fundamental dalam pengembangan Smart City. Harapannya, melalui gerakan 100 Smart City ini, diharapkan kota-kota terpilih bisa menjadi embrio untuk membentuk kota-kota lain di Indonesia sebagai kota yang ramah bagi warga sekaligus mampu menjawab tantangan di masa depan.

Merunut pada penjelasan di atas, maka yang menjadi tujuan dari gerakan 100 Smart City ini adalah kota tersebut diharap dapat menyajikan sebuah pelayanan yang cerdas, sistem yang cerdas, dan yang paling penting, seluruh unsur yang ada di kota tersebut yakni pemerintah dan juga masyarakatnya harus cerdas.

Untuk bisa masuk di dalam gerakan 100 Smart City, sebuah kota akan menjalani tahapan penilaian dimana indikatornya mencakup kota tersebut harus siap secara infrastruktur, ekonomi, dan harus memiliki pimpinan yang visioneris dalam menjadikan kota mereka Smart City.

Setelah melalui proses penilaian yang telah dipertimbangkan tersebut, sejak peluncuran Gerakan Menuju 100 Smart City pada 22 Mei 2017, maka dipilihlah 25 Kota/Kabupaten yang kelak akan didampingi untuk menjadi Smart City di tahun 2017 ini. Dari 25 Kota/Kabupaten tersebut, Kabupaten Sleman yang notabenenya masuk dalam kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta pun masuk di dalamnya.

Hal ini tentu menjadi suatu hal yang menarik. Pasalnya, selain Kabupaten Sleman dianggap telah memenuhi penilaian-penilaian yang tersedia, tentu saja Kabupaten Sleman harus membuktikan bahwa dia benar-benar layak untuk masuk Smart City. Hal tersebut tentu harus bisa membawa Kota/Kabupaten lain yang masuk di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk terpacu dan masuk sebagai Smart City di tahun 2019 nanti.

Karena gue berharap Kota Yogyakarta masuk sebagai salah satu Smart City, tentu gue disini akan menjabarkan mengenai beberapa masalah yang agaknya apabila bisa dan mau diperbaiki, pasti bisa membuat Kota Yogyakarta menjadi salah satu Smart City.

Apa itu?

Macet.

Animasi Kemacetan

Jelas, bagi sebagian orang, macet merupakan salah satu permasalahan yang hampir terjadi di setiap daerah dan merupakan permasalahan yang amat sangat menyebalkan. Jogja mungkin bukan menjadi daerah yang macetnya terbilang parah. Namun, apapun itu, macet selalu menimbulkan kesan yang kurang mengenakan bagi pengguna jalan.

Gue kuliah di Jurusan Teknik Sipil dan gue pernah mengambil mata kuliah Angkutan Umum. Di kelas tersebut, gue diberikan wawasan mengenai penyebab kemacetan dan bagaimana solusi untuk menanggulanginya.

Ternyata, salah satu solusi paling ampuh yang bisa digunakan untuk mengatasi kemacetan adalah moda angkutan umum.

Itu saja.

Gambarannya sederhana, misal ada 1 orang menggunakan 1 sepeda motor atau mobil yang bisa diangkut oleh angkutan umum berkapasitas sekitar 20 orang sekali jalan, maka tentu hal tersebut dapat mengurangi jenuhnya lalu lintas perkotaan yang ada, karena sudah pasti 20 motor/mobil akan berkurang.

Angkutan Umum Solusi Kemacetan

Bandingkan dan pikirkan! (Source : Lifeeedited.com)

Secara teoritis, semua orang mungkin sudah tau mengenai solusi ini, dan semua orang mungkin juga menginginkan kemacetan segera teratasi. Lantas, kenapa orang-orang tidak mau merealisasikan solusi tersebut?

Alasannya sederhana saja, yaitu karena apa yang diberikan oleh angkutan umum tidak sebanding dengan apa yang diberikan oleh kendaraan pribadi.

Mmm…

Maksudnya gimana?

Jadi begini, apabila sekarang kita memberikan pilihan apakah orang-orang lebih memilih pergi ke sekolah atau ke kantor dengan menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi, mereka mungkin cenderung lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Alasannya sederhana saja, karena daya jangkau dan rasa nyaman yang diberikan oleh kendaraan pribadi relatif sama atau bahkan lebih menjanjikan ketimbang angkutan umum.

Coba kita lihat kenyataan yang ada sekarang? Di kampus atau di kantor, kendaraan pribadi cenderung lebih mendapatkan daya jangkau yang lebih dekat dengan ruang kelas atau ruang kantor ketimbang daya jangkau yang diberikan oleh angkutan umum. Sehingga orang-orang pun beranggapan :

‘Wah, daripada naik angkutan umum yang daya jangkaunya hanya sampai di depan jalan kampus, mending naik motor sendiri yang parkirannya ada di dalem kampus’

Apabila kita memang menginginkan kemacetan di Jogja teratasi, kenapa tidak kita tempatkan tempat parkir kendaraan pribadi di luar area kampus atau kantor, dan letakkan halte angkutan umum di dekat wilayah kampus agar para pengguna kendaraan pribadi lebih memilih untuk menggunakan angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi. Sehingga anggapan orang-orang pun beralih menjadi :

‘Wah, naik kendaraan pribadi parkirnya jauh dari kampus ya. Capek jalannya. Mending naik angkutan umum deh, bisa langsung turun di depan fakultas’

Jadi solusinya, jika ingin kemacetan lekas teratasi, maka tingkatkan kualitas dan kuantitas dari angkutan umum lalu kurangi daya jangkau dari kendaraan pribadi.

Selain itu, ada baiknya pajak-pajak kendaraan pribadi serta nilai cicilan untuk membeli kendaraan dinaikkan sedemikian rupa. Mungkin sekarang ini kita tidak asing ketika melihat papan iklan yang memberikan informasi bahwa kita bisa mendapatkan kendaraan bermotor hanya bermodalkan DP 300.000 atau bahkan 0 rupiah. Jika begini terus, bagaimana bisa kemacetan teratasi? Lhawong jalanan makin dipenuhi dengan kendaraan bermotor kredit dengan angsuran yang relatif murah.

Perlebar jalan, dong.

Bikin fly over dong.

Bikin jalan di bawah tanah dong.

Salahin pejalan kaki yang menuhin jalanan dong.

Errrr… Kalau jalan diperlebar, fly over dibangun, atau jalan bawah tanah dikonstruksikan, maka tetap saja cepat atau lambat kemacetan juga akan terus bertumbuh. Kan permasalahannya ada pada kendaraan-kendaraan yang memadati jalanannya.

mengatasi-kemacetan-jalan

Dibangun jalan terus sampai berantakan? (Source : Ilmusipil.com)

Belajar dari apa yang terjadi di negara-negara maju seperti Belanda, Jerman, atau Negara Eropa lainnya, dosen gue pernah berkata bahwa disana itu pajak dari kendaraan pribadi itu jauh lebih mahal, sehingga orang-orang sana lebih memilih untuk menggunakan angkutan umum ketimbang memiliki kendaraan pribadi.

Begitu.

Setelah teknis atas saran-saran yang gue ajukan bisa dilaksanakan, lantas kemudian gunakan teknologi yang isinya mengajak orang-orang untuk menggunakan angkutan umum. Mungkin bisa juga ciptakan aplikasi mengenai angkutan umum yang isinya mencakup kapan waktu bisa berangkat, jumlah kapasitas, prediksi waktu sampai lokasi, dan juga rute yang kelak akan dituju.

Solusi Kemacetan

Memang sih, menanggulangi kemacetan bukan merupakan hal mudah. Namun apabila hal tersebut bisa terlaksana… maka bukan menjadi hal yang tidak mungkin apabila Kota Yogyakarta menjadi salah satu kota pelopor penggunaan angkutan umum yang bisa menanggulangi kemacetan dalam skala besar.

Eh sebentar, memangnya masalah di Kota Yogyakarta hanya kemacetan doang ya?

Emm… Sebenernya tidak sih.

Ada banyak masalah lain lagi seperti misal harga makanan yang tidak wajar di kawasan tertentu ketika hari-hari libur, dan juga parkir-parkir liar yang mematok harga selangit. Jelas, sebagai Kota yang kelak diharapkan menjadi bagian dari 100 Smart City, harusnya ada semacam bantuan teknologi khusus untuk pengaduan yang siap sedia langsung menindaklanjuti pengaduan tersebut. Sehingga harapannya, para pelaku-pelaku tidak bermoral itu merasa kapok dan tidak akan melakukan hal yang merugikan atau merusak citra kota Yogyakarta.

Apakah bisa?

Yakin, nih?

Masa sih?

Mungkin banyak orang yang ketika membaca berbagai macam opini yang gue jabarkan panjang lebar di atas langsung mereka merasa ragu dan tidak yakin bisa terealisasi 100%. Namun, tentu gue masih berharap setidaknya ada langkah-langkah uji coba yang bisa dilakukan untuk merealisasikan apa yang telah gue sampaikan di atas, agar kelak, Kota Yogyakarta bisa menjadi salah satu dari 75 kota/kabupaten di tahun 2019 yang tergabung dalam Smart City dan mewujudkan visi misinya dengan baik.

Terimakasih.

Tulisan ini ditulis untuk lomba blog Ini Kota Cerdasku.

Lomba Blog Ini Kota Cerdasku.jpg


Beberapa kutipan diambil dari :

https://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta

http://tekno.kompas.com/read/2017/05/31/17050057/gerakan.menuju.100.smart.city.diawali.dari.makassar

https://aptika.kominfo.go.id/index.php/berita/175-gerakan-menuju-100-smart-city

 

Advertisements

6 comments

  1. cuman untuk orang indonesia perihal kendaraan pribadi, rasanya susah deh diterapin kayak luar negeri. masalahnya kendaraan pribadi adalah gengsi tersendiri, apalagi kalau pendapat anak muda zaman now, kalau gak pake mobil atau moge, wanita cantik bin menarik gak bakalan mau melirik, hahaha
    yeh, artikel lomba lagi ya feb, kudoain moga menang deh… 🙂

  2. beribu2 persen gue setuju sama lo feb. sbg anak planologi (ceileh) gue udh muak juga membahas mslh macet krna smpi detik ini solusi yg ada blm bnr2 bisa diimplementasikan dengan baik dan konsisten.

    gue setuju apabila angkutan umum jdi master solution nya, dlm hal ini tentunya harus angkutan umum skala massif dan pelayanannya bnr2 bisa mmberikan knyamann setara dgn kndraan pribadi. apalagi skrrg mkin berjamurnya trnsportasi online. makin deh dimanjakan dgn yg begituan… org makin malas bergerak, kalau mau psn, tnggl tdr mls2 di rumah psn trnsportasinya udh didpn rumah tnpa hrs jauh2 kehalte atau ketmpt mangkal kendaraan umum. siapa yg ngk mau bgtukan ?

    intinya smua harus bersinergi satu sama lain. pemerintah tgs dgn kebijakan dan program, masyarakat patuh dgn aturan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s