Selingan Sejenak di Idul Adha : Tentang #SaveRohingya dan Penindasan-Penindasan Di Dalamnya

Cek…

Cek, satu…

Satu… Dua… Tiga…

Ehem, ehem.

Selamat Merayakan Idul Adha ya, bagi semua masyarakat muslim yang merayakan. Semoga kita bisa meneladani pribadi Nabi Ibrahim yang mana beliau bisa mengutamakan untuk lebih cinta kepada Allah, daripada kepada seluruh makhluk yang mana hanya ciptaan Allah.

Aamiin.

Sudah, sudah. Itu makan daging qurbannya nggak usah banyak-banyak. Ingat kolesterol.

Baiklah, disela-sela perayaan hari raya idul adha ini, tepat setelah pulang dari shalat idul adha, gue sempat melihat adanya sebuah foto yang cukup memprihatinkan di twitter, dimana disitu bertuliskan sebuah informasi mengenai #SaveRohingya dan juga #PrayForRohingya.

Save Rohingya

Source : Twitter.com

Bukan tanpa alasan yang berarti sih, kenapa akhirnya pada tulisan kali ini gue lebih memilih untuk menuliskan perihal masalah ini. Pasalnya, setelah gue melihat berita-berita yang memiliki tagar #SaveRohingya dan juga #PrayForRohingya, tepat ketika shalat Jum’at tadi, kebetulan banget isi dari khutbahnya adalah mencakup hal itu, yaitu tentang penindasan yang terjadi di Rohingya, Myanmar.

Gue bukan orang yang pinter secara agama, atau secara ilmu-ilmu lainnya. Maka, di tulisan ini gue bukan bermaksud untuk memberikan orasi atau opini atau ceramah atau apalah-itu-namanya yang mempunyai maksud untuk mendamaikan dunia. Enggak. Niat gue nggak begitu.

Namun, alasan kenapa gue menulis tentang Rohingya dengan kapasitas pemikiran gue yang sedikit cetek ini adalah karena gue cuma pengen orang-orang tau mengenai masalah ini. Syukur-syukur kalau orang-orang ikut tergerak hatinya untuk mendoakan para saudara-saudara kita yang mendapatkan penindasan di Myanmar sana. Meskipun, gue tau pasti sih, beberapa diantara kalian mungkin sudah tau mengenai penindasan ini.

Dari apa yang gue tangkap ketika membaca pemberitaan-pemberitaan mengenai Rohingya ini, penindasan yang terjadi pada mereka itu atas dasar warga Rohingya yang merupakan minoriti terasing di Myanmar. Jadi, oknum yang-entah-apalah-itu-namanya di Myanmar mencoba untuk menghapuskan etnik Rohingya dari peta Myanmar.

Disinilah letak kebingungan gue. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul di kepala gue :

‘Kenapa kalau minoriti lantas harus dihapus sih?’

‘Terus kalau misal mau dihapus dari peta Myanmar, kenapa cara menghapusnya harus dengan ditindas dengan tidak  manusiawi?

‘Kenapa dihapusnya bukan dengan cara yang baik-baik, seperti memberikan dana untuk mengungsi atau pindah negara lain? Intinya dengan baik-baik dan manusiawi deh.’

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah mengetahui bahwa Rohingya merupakan golongan masyarakat yang mengalami penindasan paling buruk di dunia. Selain itu, penindasan kaum Muslim di Rohingya ini pun juga sebenarnya sudah terjadi dari tahun 1784, yang mana itu sudah ratusan tahun yang lalu buset. Gue tau hal ini aja setelah baca-baca artikel ini : Siapa Rohingya dan Sekajarah Ringkas di balik Penindasan Mereka.

Pasalnya, berita mengenai penindasan di Rohingya ini kan baru menguap di media sosial juga baru-baru ini (Kisaran tahun 2013 – 2017). (Nggak tau sih kalau misal ada yang udah tau dari lama). Apakah berita mengenai penindasan Rohingya ini memang sengaja untuk tidak dipublikasikan? Ataukah mungkin beberapa pihak memilih bungkam atas terjadinya kejadian ini?

Lucunya, Aung San Su Kyii yang merupakan menteri kabinet baru Myanmar dan juga pernah meraih nobel perdamaian, dia lebih memilih untuk diam atas semua penindasan yang terjadi pada warga Rohingya.

Aung San Suu Kyii bungkam terhadap Rohingya

Source : Abc.net

Gue nggak tau, ada alasan apa kenapa banyak orang-orang-berjabatan-tinggi atau negara-negara-yang-menekankan-perdamaian memilih untuk diam, diam, dan diam. Gue juga sebenernya nggak ngerti, penindasan terhadap warga Rohingya yang merupakan minoriti disini dilandaskan atas dasar agama atau politik, mengingat ada beberapa anggapan yang menyatan bahwa penindasan ini atas dasar agama dan juga ada juga yang menyatakan bahwa penindasan ini atas dasar politik dan ekonomis.

Namun yang jelas…

Semua ini udah bener-bener diluar batas kemanusiaan.

Ini bukan lagi tentang agama, politik, atau ekonomis. Ini udah menjurus pada rasa kemanusiaan yang entah dimana lagi mereka letakkan.

Gue melihat beberapa foto yang menampilkan mayat-mayat warga Rohingya mengambang disebuah danau. Gue melihat beberapa foto warga Rohingya yang dengan teganya dibakar begitu saja. Gue melihat beberapa foto Imigran Rohingya yang kehilangan arah. Gue melihat beberapa foto warga Rohingya yang benar-benar tidak mendapatkan sebuah kedamaian.

Myanmar Suu Kyi Silence

Source : Ilawyer.com

Nggak ngerti lagi deh gue mau nulis tulisan yang gimana lagi untuk menggambarkan apa yang sekarang terjadi di Rohingya sana. Gue juga nggak ngerti lagi harus berbuat apa selain menyebar informasi bahwa ‘Ini, loh. Saudara Muslim kita di Rohingya sana tertindas secara tidak manusiawi’. Pun, nggak ada lagi hal yang bisa gue lakuin selain mendoakan agar penindasan-penindasan itu cepat berakhir. Penindasan apapun, entah itu penindasan yang menimpa kaum muslim di Rohingya, muslim Syiria, atau juga kaum-kaum beragama minoriti yang mengalami penindasan dan nggak sempat terpublishkan.

Aamiin.

Ini bukan tentang mengemis perhatian dunia. Tapi ini lebih tentang pelaksanaan dari kalimat-kalimat bernada ‘DAMAI’ yang seringkali kita teriakkan.

Sudahlah.

#PrayForRohingya #SaveRohingya

Advertisements

26 comments

  1. Aung San Su Kyii berada pada posisi yang memang membuat dia ‘memilih untuk diam’. Karena biar bagaimanapun, suara mayoritas -yg menindas minoritas- itulah yang menjadi basis pemilihnya. Dan sepertinya suara mayoritas itu juga menginkan hal yang sama terhadap suku Rohingya di sana. Dalam hal ini, Aung San Su Kyii terlihat ‘heartless’. Dan lebih memilih untuk menyelamatkan ‘karir politiknya’, ketimbang melakukan usaha kemanusiaan. Nobel Perdamaian yang dia terima, saat ini lebih terlihat sebagai olok-olok baginya.

    Rasanya ASEAN dan organisasi persatuan negara-negara lain pun tampaknya kurang dalam menekan Myanmar. Sehingga kasus ini menjadi berlarut-larut. Pembantaian tak juga kunjung berhenti, sementara usaha rekonsiliasi juga tak terasa sama sekali.

    Sebagai traveler, secara pribadi aku sudah menghapus Myanmar sebagai negara yang harus dikunjungi. Tak peduli ada banyak hal menarik di sana. Selain doa dan usaha bantuan kecil yang bisa aku berikan.

    Semoga segera ada titik terang dan nasib baik bagi mereka di sana …

    1. Hmmm… Jadi posisi Aung San Su Kyii ini serba salah atau gimana gitu ya? Tapi aku tadi sore lihat berita di Detik apa ya, isinya si Aung San Su Kyii ini minta biar Indonesia nggak ikut campur masalah Rohingya.
      YA BUSET! ITU SAUDARA MUSLIM KITA DITINDAS MASA KITA DIEM AJA 😦

      Hmm… Namanya mayoritas, terus menindas kaum minoritas ya. Tapi masa begitu sih caranya? Aku berulang kali liat video ditwitter orang-orang Rohingya dibakar gitu loh :’ kan serem banget. Kemanusiaannya dimana 😦

      ASEAN harus bertindak secara besar-besaran deh. Selesaiin masalah ini deh kalau bisa :’

      Padahal Myanmar itu banyak hal yang menarik ya mas ya. Tapi, ya gimana lagi ya mas 😦

      Aamiin. Semoga aja ada titik terang :’

      1. Disebut serba salah juga gak tau sih Feb. Semalam aku sempat lihat beberapa liputan lepas yang dibuat oleh Al-Jazeera dan The Guardian. Terlihat kalau Aung San Su Kyii ini setali tiga uang dengan pemerintahan yang sebelumnya. Saat ini jurnalistik di dalam negeri Myanmar pun dibatasi, lalu terlihat sepertinya mereka anti kritik juga. Bohong besar kalau dia tidak tahu bahwa pembersihan ethnic itu sedang terjadi. Meskipun dia menyangkalnya dengan keras, dan hanya menyebutnya sebagai kerusuhan lokal saja. Gambar, info, dan pengakuan para survivor yang bocor keluar tidak bisa dipungkiri.

        Aku sempat baca berita juga (keluaran The Guardian kalau gak salah), bahwa pemerintah Myanmar tidak akan memberikan visa -bahkan- bagi PBB sekalipun, jika mereka masuk Myanmar dalam rangka melakukan investigasi. Terlihat jika mereka berusaha menyembunyikan ‘bau bangkai yang sudah menyeruak’.

        Tentu saja hal ini menjadi keprihatinan kita.

        Seruan agar publik Indonesia tidak ikut campur itu terasa ironis. Ketika dalam masa ‘perjuangannya’ dia setengah mati menggalang dukungan dari luar. Giliran dalam masalah ini, dia minta pihak luar untuk diam dan tidak ikut campur tangan. Padahal ya kita cuma menyerukan keprihatinan.

  2. Bener feb, d luar politik, ekonomi, budaya, agama atau apapun itu…
    Ini adalah tentang rasa kemanusiaan, sedih klo baca tentang kasus ini…
    Semoga mereka selalu diberikan kekuatan dan perlindungan 🙏🙏 amin

    1. Iya Mba :’ sedi aja gitu lihat berita-beritanya. Ditambah lagi beberapa kali lihat video dan juga foto-foto korban :’ sedi banget parah. sama sekali nggak ada rasa manusiawinya :’

      Aamiin. Semoga banget, mbak :’

  3. Jadi penasaran, kira-kira ada gak relawan dari Indonesia yg semangat pergi ke sana, seperti semangat pergi ke konflik di Timur Tengah.. Tulisan yg bagus, Feb..👍🏼 Benar sekali, ini masalah kemanusiaan.. Setiap manusia berhak hidup dalam rasa aman..

    1. Hmm… Ada nggak ya Mbak ya :’ Semoga ada. Tapi gimana, tadi aku baca berita si Aung San Su Kyii itu minta Indonesia buat nggak ikut campur masalah Rohingya. Buset deh -_- ya masa gitu yaaaa.

      Makasiiih banyak ya Mbak :’)
      Seharusnya memang begitu, semua manusia sangat berhak merasa aman dan damai :’

  4. Diskusi bagus untuk disimak tentang Rohingya.

    Rohingya
    ( politik )

    Nama Rohingya mengambil nama kuno dari sebuah daerah bernama Arakan pada paruh abad ke 9 saat Islam diperkenalkan disana oleh para pedagang Muslim. Daerah Arakan secara georgraphis terpisah dengan Burma oleh sejumlah pegunungan Arakan Yoma, daerah ini sekitar 20.000 mil/persegi dengan kota Akyab sebagai ibukotanya. Penduduknya ada sekitar 4 juta jiwa, sekitar setengah populasi adalah Muslim, sisanya Budha dan 5% ada kristen dan hindu.

    Sejak konplik di daerah Arakan ini membuat saya bertanya tanya. Mengapa daerah yang dihuni oleh masyarakat religius namun berseteru hingga menimbulkan korban begitu besar dikedua belah pihak. Dan mengapa Pemerintah Myanmar tak peduli dan atau terkesan terjadi pembiaran atas upaya pembersihan entis Rohingya? Bahkan lebih buruk lagi adalah Pemerintah Junta Militer Myanmar tidak mengakui keberadaan Etnis Rohingya.

    Ketika bertemu dengan teman di Hong Kong yang punya business di Myanmar, hal ini saya tanyakan. Menurutnya masalah etnis Rohingya di Burma adalah masalah lama yang tak pernah tuntas diselesaikan oleh sejarah. Tapi konflik yang kini terjadi adalah akibat dari pertarungan kepentingan politik Negara besar yang ingin menguasai Myanmar secara tidak langsung. Apa pasal? Menurutnya Myanmar memang dikenal sebagai Negara kaya SDA, meliputi emas, berlian dan migas. Terutama ketika tahun 2004 ditemukan gas bumi di Shwe (emas) Blok A1-Teluk Bengal.

    Prakiraan deposit gas mencapai 5,6 triliun kubik yang tidak akan habis dieksploitasi hingga 30 tahun, maka semenjak itulah bentangan pantai sepanjang 1.500 km antara Teluk Bengal – batas laut Andaman, Thailand menjadi incaran Negara Negara seperti Cina, Jepang, India, Perancis, Singapura, Malaysia, Thailand, Korsel dan Rusia. Negara Negara terserbut bertarung mendapatkan konsesi untuk eksplorasi serta eksploitasi kecuali AS agak belakangan melalui Chevron (AS) dan Total, Perancis.

    Tapi menurut teman saya, yang paling agresip menguasai Myanmar adalah China dan kemudian Rusia. Kedua Negara ini bukan hanya menguasai konsesi minyak dan gas tapi juga terlibat aktif memberikan bantuan peralatan militer kepada junta militer di Myamar, juga memberikan bantuan dana tidak sedikit untuk pembangunan insfrastruktur ekonomi. Saat kini china sedang berambisi menyelesaikan pembangunan pipa minyak sepanjang 2.300 km dari pelabuhan Sittwe, Teluk Bengal sampai Kunming, Cina Selatan. Depat dibayangkan cengkaram China akan Myanmar sangat kuat.
    Bila project ini selesai maka niscaya seluruh impor minyak gas dari Timur Tengah dan Afrika cukup dipompa melalui Sittwe ke salah satu kilangnya di Kunming. Apabila proyek itu selesai maka geopolitik di Asia Tenggara bakal berubah, terutama dalam hal distribusi minyak. Ibarat memangkas jarak pelayaran sejauh 1.820 mil laut , bahkan lebih dari sekedar memangkas jarak, modal transportasi import minyak Cina dalam jalur sangat aman dan lebih murah.

    Amerika dan Barat memang hanya peserta pasif ditengah hegemoni China dan Rusia terhadap Myanmar namun bukan berarti AS dan Barat berikhlas hati terhadap itu semua. AS dan Barat paham betul bahwa ada saatnya mereka bergerak untuk menjadi pemenang. Kesalahan paling besar bagi Rusia dan China yang punya akses kepada Junta Militer Myanmar adalah gagal meyakinkan pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan masalah Rohingya.

    Padahal ini potensi konflik terpendam yang mudah diledakan oleh siapapun yang tidak menginginkan stabilitas di Myanmar. Memang etnis Rohingya tidak pernah diakui sebagai bagian dari Burma. Tidak seperti etnis Bamar, Karken, Kayah, Chin, Arakan (disebut Rakhine), Mon, Kachin yang mendapatkan hak layaknya warga Negara syah. Mengapa sampai etnis Rohingya tidak diakui. Menurutnya ini karena faktor sejarah yang menimbulkan dendam berkepanjangan. Bermula ketika pada tahun 1658, akibat konflik internal di Kekaisaran Mogul, pada 7 feb 1661 pangeran India Shah Shuja datang berlindung ke Arakan tapi dia dibunuh oleh raja yang beragama islam . Akibatnya terjadi perang saudara di Arakan antara etnis Rohingya yang beragama islam dengan Arakan budha. Perang berkelanjutan ini membuat Arakan lemah dan akhirnya direbut oleh Raja Burma. Padahal sebelumnya Raja Burma pernah dikalahkan oleh Arakan ketika dipimpin oleh Suleiman Shah dari etnis Rohingya yang mendapat dukungan dari Sultan Bengal, Nasiruddin Shah.

    AS dan Barat paham sekali akan faktor sejarah yang menyimpan potensi konflik itu. Ketika inggris keluar dari Birma dan membiarkan birma merdeka, memang sengaja menanamkan bom waktu ke Burma dengan membiarkan Arakan masuk bagian Burma yang mereka tahu bahwa Arakan tak ingin menjadi bagian dari Burma. Maka bisa ditebak keributan dan kekacauan di Arakan dengan korban etnis Rohingya tidaklah datang dengan sendirinya. Kejadian itu hasil sebuah grand design dengan skenario yang hebat .

    Bermula dari masalah krimininal biasa dimana etnis Rohingya memperkosa wanita Arakan Budha, yang memancing kerusuhan besar. Sebentar bisa diredamkan namun berikutnya muncul lagi keributan kecil dari Arakan Budha kepada etnis Rohingya dan benturan terjadi lagi. Begitu seterusnya. Keadaan ini membuat Junta Militer di Myanmar menjadi bertindak keras untuk menjaga stabilitas. Kekerasan pemerintah kepada komunitas Arakan bukan hanya kepada Rohingya yang muslim tapi juga kepada Arakan Budha. Disamping itu memang Arakan tidak pernah berikhlas hati menerima kekuasaan Junta Militer. Konflik ini akan digiring menjadi issue international.

    Bila kekacauan ini terus terjadi dan perhatian dunia terarah penuh kepada Myanmar khususnya korban kemanusiaan atas Etnis Rohingya maka seperti biasanya akan mengundang turut campur PBB dengan mengirim pasukan perdamaian untuk menentukan nasib Arakan. Bila ini terjadi maka akan membuat Pemerintahan junta Militer tersudut untuk duduk dalam meja perundingan. Senjata demokrasi akan dipakai oleh AS dan sebagaimana biasanya AS akan muncul sebagai pemenang mengontrol Myanmar, mengontrol asia tenggara.

    Bila skenario tersebut diatas terjadi maka saat itulah kontrak konsesi minyak yang sudah ditanda tangani Junta Militer Myanmar akan dievaluasi ulang. Uncle Sam akan mendapatkan porsi paling besar tanpa harus berkorban banyak seperti China dan Rusia. Yang jadi pertanyaan adalah apakah China dan Rusia akan tinggal diam hingga membiarkan skenario AS berjalan mulus? lihatlah faktanya kini, kekacauan dengan korban kemanusiaan luar biasa terhadap Etnis Rohingya tak membuat PBB bersuara keras atas nama HAM, dan tak membuat Malaysia dan Indonesia yang mayoritas muslim bersuara keras atas nama tetangga.

    Sebagaimana konflik di Timur Tengah dimana peran AS dan Barat sangat menentukan akan nasip bangsa Palestina. Hanya Amerika dan Barat yang bisa mendikte elite politik Israel agar bersikap lunak terhadap rakyat palestina. Begitupula di Arakan, peran China dan Rusia sangat menentukan untuk terjadinya keamanan di Arakan dan penentuan nasib etnis Rohingya. Hanya China dan Rusia yang bisa menekan elite penguasa Myanmar agar bersikap bijak atas Arakan khususnya kepada etnis Rohingya. Ya, damai dibumi akan mudah terjelma asalkan China dan Rusia bergandengan tangan dengan AS dan Barat untuk cinta dan kasih sayang bagi semua.

    1. Mbaaak Fraaaan :’

      Terimakasih banyak banget ini diskusi dan informasinya sangat-sangat-sangat bermanfaat dan menambah wawasan banget.
      Sumpah aku baru tau kalau ternyata semua ini kayak ada skenarionya :’ Ditambah lagi ada dendam juga antara dua etnis. Tapi… Skenarionya buset banget eeeh, kok ya bisaaaaa sih AS dan Barat berpikir sampai kesituuuuuuu. Pinter sekali mereka.

      Sekarang berarti kalau memang bener-bener ingin dunia damai, AS dan Barat harus bisa damai sama China dan Rusia ya ._.

      Eh sumpah, aku spechlees banget mba baca diskusi dari kamu ini :’

  5. Apapun latar belakangnya, yang terjadi di sana mmg adalah tragedi kemanusiaan ya dan yang namanya tragedi kemanusiaan di mana pun itu (myanmar, sudan, yaman, suriah dan tempat2 lainnya juga yang gak atau belum terekspose atau sdh terekspose tapi aku gak tau karena berita yang banyak muncul di timeline akhir2 ini adalah nikahan artis..hehe) pasti bikin sedih karena seringnya sipil termasuk anak-anak yang jadi korban 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s