Menjemput dan Mengingat Masa KKN

‘KKNLYFE!’

‘PROKER-PROKER, DEMI KKN YANG LEBIH BAIK!’

‘SEDANG BOKER DI KAMAR MANDI POSKO’

Akhir-akhir ini, gue sering banget melihat postingan instastory dari beberapa adik angkatan yang bertuliskan kalimat demikian, lengkap dengan foto atau video yang menandakan bahwa mereka sedang benar-benar melakukan KKN.

Untuk tulisan KKNLYFE pada instastory, biasanya foto atau video yang ditampilkan adalah gambaran mengenai rutinitas mereka tentang kehidupan KKN, entah itu di Posko, di Desa, atau di Hati Ibu/Bapak Lurah.

Untuk tulisan Proker-Proker, Demi KKN yang Lebih Baik pada instastory, biasanya foto atau video yang ditampilkan adalah sebuah aktivitas dari penggiat KKN yang sedang menjalankan program kerja demi program kerja yang telah direncanakan.

Sedangkan untuk tulisan Sedang Boker Di Kamar Mandi Posko pada instastory, biasanya foto atau video yang ditampilkan adalah tampilan langit-langit kamar mandi lengkap dengan iringan-iringan musik yang terlantun, dan sela-sela musik terdengar suara ‘celetuk’, sebuah pertanda bahwa tai sudah mendarat mulus di jamban.

Bicara masalah KKN, maka itu sama saja dengan bicara tentang apa yang pernah gue alami tepat 1 tahun yang lalu. Ada sebuah kenangan yang membekas, ada sebuah candaan yang menggelegar, dan ada sebuah rindu yang tak terbantahkan.

Ketika melihat adanya postingan-postingan instastory dari adik angkatan yang menampilkan kegiatan KKN-nya, gue pun akhirnya tergugah untuk kembali mengunjungi dusun tempat gue mengabdi pada masyarakat. Disanalah gue dan teman-tema satu posko mengambil banyak pembelajaran selama satu bulan penuh.

Dusun Kregolan – Dusun Semutan.

Tepat pada hari Minggu, 6 Agustus 2017 kemarin, rencana gue untuk kembali mengunjungi dua dusun pun akhirnya terlaksana. Sebenernya pada bulan Juli lalu gue sempet main kesana sih, tapi cuma sebentar dan nggak ketemu sama pemuda-pemuda yang cukup akrab sama gue. Jadi, di hari Minggu kemarinlah gue memuaskan diri untuk bermain di kedua dusun tersebut.

Sebenernya bisa dibilang mendadak sih gue main ke tempat KKN kemarin. Hari Sabtu gue mengontak Mas Ikhsan (Ketua pemuda Dusun Kregolan), eh Hari Minggunya langsung berangkat. Gue otw dari Jogja pukul 10.00 dan baru sampai Klaten pukul 11.00.

Ada hal yang cukup menyenangkan ketika gue sampai di depan gang masuk Dusun Kregolan.  Pasalnya, kedatangan gue itu ternyata bertepatan dengan adanya kerja bakti, dimana disitu semua pemuda lagi asyik mengecat gapura megah kebanggaan Dusun Kregolan.

Ketika gue menghentikan motor, membuka helm, dan menyapa pemuda-pemuda disana, mereka pun langsung berteriak cukup heboh :

‘WOOOOOOOOOOOOO FEBRIIIIIIII’

Sebuah sambutan yang cukup membuat gue tenang karena ternyata selama satu tahun KKN berakhir, gue nggak dilupakan.

Disana, di bawah gapura kebanggaan Dusun Kregolan, kami semua pun akhirnya bercanda-canda. Ada Mas Yisma yang masih tetap sama jailnya ketika ngebully gue, ada Mas Brino yang juga masih tetap sama isengnya ketika meledek-ledek gue, Ada Mas Andro yang sibuk ngecat gapura sembari meledek-ledek gue, dan ada pemuda-pemuda lainnya yang ketawa-ketawa ketika mendengar gue diledek.

Ya, pada intinya, disana, gue cuma diledekin.

Tapi nggak apa sih, seenggaknya gue nggak dilupain.

Cie gitu.

Lama bercanda bareng, nggak terasa waktu menunjukkkan pukul 12.00 dan Adzan Dhuhur pun sudah berkumandang. Tanpa aba-aba yang berarti, semua pemuda yang tadinya sibuk ngecat dan duduk-duduk di pinggiran gapura pun membubarkan diri dan sepakat untuk melanjutkannya sore hari nanti.

Gue pun ikutan bubar dan langsung jalan menuju Masjid. Disitu, gue cukup terkagum melihat masjid di dusun Kregolan yang akhirnya direnovasi dan akan dibangun bertingkat. Sebuah kemajuan yang sangat mantap.

Selesai shalat, gue pun bertemu dengan anak-anak yang ada di dusun Kregolan. Mereka mengamati gue dan berpikir sambil menggaruk-garuk kepala. Melihat respon itu, gue pun langsung membuka jajanan yang di perjalanan tadi gue beli di pasar sembari menanyakan pertanyaan :

‘Hayoooo, inget aku nggak hayoooo?’

Seketika, anak-anak itu pun lari-larian mendekati gue guna meminta jajan, tanpa sedikitpun menggubris pertanyaan yang gue ajukan. Dengan memasang wajah yang sedikit tengsin, gue pun membagikan jajanan itu kepada mereka.

Tawa riang menyelimuti anak-anak dusun Kregolan yang menikmati jajanan. Mereka berlari-larian, senyum-senyum unyu khas anak kecil, dan ada juga yang gue lihat sedang berbisik-bisik pelan :

‘Sssst, itu mas yang KKN tahun kemarin kan ya…’

Gue tersenyum melihat mereka. Sampai akhirnya, ada salah satu diantara mereka yang berucap dengan cukup keras.

‘Mas Febri? Mas Febri kan yaa?’

Gue mengangguk girang.

Anak-anak lain yang mendengar nama gue pun seketika langsung reflek bilang :

‘Oooooh iyaaaaaaaa…’

Setelah itu, pertanyaan yang mereka utarakan cuma satu, yaitu :

‘Kenapa potong rambut, mas?’

Ya, memang ada banyak perbedaan sih antara gue ketika masih KKN dengan gue yang sekarang.

 

Eng… banyak banget bedanya ya. Pantes banyak yang sedikit heran melihat gue. Pasalnya, ketika gue sampai di dusun Kregolan, gue hampir menyambangi semua warga yang duduk di teras rumahnya dan mengajukan pertanyaan sok asik :

‘Hayooo Ibuk, Bapak, inget nggak sama saya?’

Sumpah, itu gelik sih pertanyaannya.

Tapi seenggaknya, dari pertanyaan itu gue pun mendapatkan satu buah kesimpulan bahwa nyatanya… Gue nggak dilupain. Jawaban yang paling banyak dilemparkan oleh beliau-beliau disana adalah :

‘Mas yang KKN tahun lalu kan ya? Kok potong rambut e mas?’

Hihihi.

Anak-Anak Kecil Dusun Kregolan

Selfik sama anak-anak dari Dusun Kregolan

Setelah sudah kembali akrab dengan anak-anak di Dusun Kregolan, gue pindah lokasi di Dusun Semutan. Disana, lokasi yang gue tuju pertama kali adalah Masjid karena sebelumnya gue dapet informasi dari pemuda dusun semutan, Mas Bima, bahwa di masjid sedang diadakan lomba cerdas cermat.

Maka, bener aja, sesampainya gue di masjid, ada banyak anak-anak dari Dusun Semutan yang lagi duduk-duduk di serambi Masjid. Saat gue memarkir motor dan melihat wajah-wajah anak-anak Dusun Semutan, mereka terdiam dan memandangi gue. Melihat adanya rasa canggung di antara kami semua, gue pun akhirnya mencoba untuk membuka satu kotak gery chocolatos dan menyodorkannya kepada mereka. Seketika itulah, ada satu anak yang gue inget banget bernama Andi, dia memanggil nama gue sembari mengambil satu bungkus gery chocolatos. Anak-anak lain pun ikutan.

Disitu gue nggak ngerti, mereka bener-bener tau gue atau mereka hanya pengen jajanan yang gue bawa.

Tapi yang jelas, semoga gue nggak dilupain.

Anak-Anak Dusun Semutan

Selfik sama anak-anak Dusun Semutan

Sepeninggalnya gue dari Masjid di Dusun Semutan, gue pun memilih untuk singgah sebentar di sebuah poskamling deket sawah yang ada di Dusun Kregolan. Disana, gue melihat pemandangan dan foto-foto sebentar hingga Adzan Ashar menjelang.

Pemandangan Dusun Kregolan

Pemandangan pematang sawah di Dusun Kregolan yang indah.

Setelah Adzan Ashar, gue pun kembali bertemu dengan pemuda-pemuda Kregolan dan anak-anak kecilnya. Ketika gue hendak pamit, mereka meminta gue untuk mampir sebentar ke lapangan guna melihat lomba sepakbola anak.

Tanpa berniat menolak, gue langsung mengiyakan.

Gue sangat menikmati momen-momen ini. Seketika, gue pun merasa kayak lagi menjalani kegiatan KKN lagi, hanya saja kali ini lebih bebas. Nggak mikirin proker, nggak mikirin harus beginilah, begitulah. Intinya kali ini gue bener-bener bebas.

Anak-Anak Dusun Kregolan 2

Tepat pukul 17.00, gue pun pamit untuk pulang. Gue menyalami semua pemuda satu persatu. Mereka dengan ramah menyambut salam gue, sampai-sampai ada satu pemuda yang meminta gue untuk kembali hadir ke Dusun Kregolan guna mengikuti acara dangdutan pada tanggal 21 Agustus besok.

Pokoknya, banyak sambutan hangat yang gue dapet dari mereka.

Hingga ketika gue menulis tulisan ini, gue selalu merasa rindu untuk bisa kembali singgah kesana.

Entah kapan lagi kesempatannya, gue pasti akan kesana.

Yang jelas…

Semoga gue nggak dilupakan.

Terimakasih.

Advertisements

42 comments

  1. Ah Febrii. Kamu modus mau lihatin anak gadis pak Kades udah nambah gede belum untuk dipinang kan…
    Hahahhahaha….
    Anak-anak memang kalo udah kena jajan baru jalan ingatannya…

    1. Hahaha ya kagaaak modus liatin anak gadis pak Kades juga seeeh mbak wkwkw. Anaknya Pak Kades cowo semua soalnya 😀 wkwkkw

      Naah kan wkwk makanya, kalau aku mengunjungi tempat KKN selalu siap sedia jajanan 😀

  2. Baca kisah KKN kamu jadi ingat kisah kasih mu juga.. 😂😂

    Alhamdulillah.. masih di ingat dan semoga selalu teringat kamu Feb.

    Jadi penasaran rasanya KKN. Aku kuliah adanya KKU (Kuliah Kerja Usaha).

    1. Hahahaak Arum siyaaal iiiih. Siyaaaal 😀 wkwkw

      Iya Rum, Alhamdulillah banget masih pada inget aku :’ seneng banget lah yang jelas wkwkw

      KKU? Aku malah baru denger istilah itu ._. pernah dengernya malah SKU *YAIYALAH

  3. Kamu harusnya malu feb pernah ngelakuin kkn, itu merugikan masyarakat dan negara
    Kamu mw jadi apa feb udah berani korupsi, kolusi dan nepotisme
    Tobat feb
    Wajahmu lebih muda dari yg lain feb

  4. Wkwkw khawatir amat dilupain feb :p
    Jika melangkah menyusuri setiap sudut Dusun Kregolan, pasti ketemu sama kenangan :’)

    1. Iya e mbak 😀 untuk beberapa hal, aku nggak mau dilupain sih. Contohnya kayak orang-orang di desa KKN ini. Aku nggak mau dilupain sama mereka :p wkwkw

      Iyaaaa mbaaaak. hampir semua sudut dusun itu ada kenangannya :’)

  5. Biasanya orang yang paling diinget sama orang lain itu ada 3 golongan bang :

    1. Paling beda
    2. Paling berkontribusi
    3. Paling enak buat diledekin

    Nah, dari cerita diatas, kayanya udah bisa tau wkwk tapi keren, semoga disemogakan bang, harapannya, aamiin. 😀

    1. Hahahahak bener 😀

      Aku jadi golongan yang ketiga sih :p wkwk tapi nda apa, seenggaknya nggak dilupain aja deh ya 😀

      Aamiin 🙂 Terimakasih yaa 😀

      Semoga kamu juga apa yang disemogakan segera disegerakan *lah

  6. Edan jos tenan penulisannya mas. Hehe. Tenang warga kregolan gak akan melupakanmu mas. Hehe. Izin syare mas. Haha

  7. Aku gak punya moment KKN karena dikampus ku gak ada yg begitu2an, adanya pesantren ajah di sebuah hutan yang sepi. Pesantren maba dan pesantren sarjana. Gitu Feb. *curhat*

    1. Kampusmu apa sih mbak? Bolehkah dishare nama kampusmu agar supaya kampusnya muncul dari permukaan? Soalnya kan nggak banyak yang tau ya mbak ya 😦

      Waaaaaa, pesantren brati ya. Waaa, ukhti nih ukhti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s