Toleransi Beragama dan… Eh Sebentar, Kalau Boleh Tau Agama Kamu Apa ya?

Sekarang ini, kita sudah berada di masa yang semakin maju dan modern abis. Dampak dari kemajuan zaman ini, tentu saja semuanya telah serba berkembang dan nggak bisa lagi dibandingkan dengan tahun-tahun yang telah lalu.

Apabila ibuk-ibuk atau bapak-bapak itu dulu ketika melakukan pendekatan dengan seseorang yang disukai harus ngantri di depan wartel agar dapat mengobrol panjang lebar melalui pesawat telepon, di masa sekarang ini anak-anak muda nggak perlu ribet-ribet lagi karena kehadiran smartphone dan media sosial-media sosial pendukung lainnya dapat membuatnya jadian dengan orang yang disukainya.

Apabila mas-mas dan mbak-mbak itu dulu ketika masih kecil bermain permainan tradisional semacam layangan, kelereng, gobak sodor, dan mentok-mentok gamebot yang isinya cuma tetris dan balapan nggak jelas, sekarang adik-adik nggak lagi menyentuh permainan-permainan tersebut karena sudah muncul game-game keren seperti yang ada di playstation 4 ataupun permainan smartphone semacam mobile legend, fifa mobile, atau get rich.

Intinya, ada banyak banget deh perbedaan yang terjadi di masa sekarang dan masa dahulu. Namun, terlepas dari semua perbedaan yang sudah gue jabarkan di atas, tentu masih ada banyak lagi perbedaan-perbedaan lainnya, yang mana salah satunya akan gue bahas pada tulisan kali ini.

Toleransi beragama.

sikap-toleransi-dalam-perbedaan-beragama-57d9360dda9373624a997f08

Source : Kompasiana

Mmm… Sebelumnya, maaf-maaf banget nih ya kalau gue yang nggak begitu paham tentang agama udah mulai mau sok-sokan membahas tentang toleransi beragama. Hehe. Disclaimer di awal dulu kan nggakpapa ya sebelum memulai tulisan yang kayaknya akan terkesan sotoy dan gimana gitu.

Yha, alasan kenapa gue mau mencoba membahas tentang topik toleransi beragama ini nggak lain dan nggak bukan adalah karena sekarang ini kok agaknya perdebatan tentang agama itu lagi ngetrend dan panas-panasnya ya?

Sebenernya ketika mau menulis tentang hal sensitif ini gue sempet berpikir beberapa kali sih. Alasannya, ya karena pasti pro kontra bakal mengiringi opini yang akan gue sampaikan ini. Tapi, gue masih percaya kok bahwa kebebasan berpendapat di Indonesia masih ada, meskipun sedikit dibatasi. Salah kata dikit, pencemaran nama baik. Salah sebut dikit, jadi kasus perbuatan tidak menyenangkan. Jadi, kalau ada yang tersinggung atau apalah itu, mohon maaf sebesar-besarnya ya? Kalau mau berdiskusi, ya ayoklah kita diskusikan sama-sama.

Beberapa hari terakhir ini, ketika gue scrolling timeline twitter dan facebook, gue sempet menemukan beberapa hal yang menurut gue cukup menyedihkan aja gitu buat dilihat. Sedari kecil dulu, gue selalu mendapat didikan dari guru-guru PKn dan Agama yang mana disitu beliau meminta gue untuk menerapkan sikap toleransi antar sesama manusia mengingat kita hidup di dunia ini nggak cuma sendiri.

Tapi, dari apa yang gue lihat di timeline twitter dan facebook kemarin-kemarin itu, semuanya seolah membuat apa yang sudah gue pelajari dan selalu coba gue terapkan itu runtuh seketika. Hingga akhirnya gue pun bertanya-tanya :

‘Toleransi itu masih ada nggak, sih?’

Coba deh baca kutipan-kutipan berikut ini :

 

Sedih nggak sih bacanya?

Kenapa ya, di era yang sudah semakin maju ini, dimana kita disediakan smartphone dan media sosial untuk mengenal orang lain, membantu orang lain, dan juga memuji hal baik yang dilakukan oleh orang lain, kita harus bertanya dulu perihal agama apa yang dipercayai orang itu?

Harus gitu ya? Terus, kalau misal jawabannya nggak sesuai dengan apa yang kita mau, apa kita masih mau mengenal, membantu, atau memuji orang itu?

He?

DDv3uPHV0AA5-Tw

Source : Facebook

Dimana pelajaran toleransi beragama yang sejak dulu kita pelajari, heh?

Gue nggak tau sih, siapa yang memulai terjadinya perpecahan antar agama ini. Gue juga nggak tau, sampai kapan semua ini bakal terus berlanjut. Tapi yang gue tau, selama ini gue selalu berusaha untuk bertoleransi kepada beberapa teman atau orang-orang disekitar gue yang memang agamanya itu berbeda dengan agama yang gue anut.

Mereka pun sejauh ini juga melakukan hal yang sama ke gue.

Sewaktu masih kecil dulu, gue kenal sama mas-mas yang berasal dari papua dan beragama non islam. Namanya Mas Ricky. Dia dulu sempat 3 tahun ngekost di kost-kostan ibu gue. Selama itu, dia selalu berbuat baik dengan gue dan juga lingkungan kostnya.

Meskipun dia non Islam, dia nggak pernah sekalipun menghalang-halangi atau menghasut gue yang masih anak-anak untuk nggak Shalat. Bahkan, dia justru pernah beberapa kali nganterin gue berangkat Jum’atan di Masjid deket rumah. Selain itu, dia pun juga nggak pernah sekalipun mengajak gue untuk melakukan hal-hal buruk kayak maboklah, makan babilah, atau hal-hal tabu lainnya. Justru guenya aja yang sering ngisengin dia, kayak sewaktu dia mandi, kunci kamar mandinya gue congkel pake paku, hingga itu pintu kebuka sendiri dan gue ngacir masuk rumah.

Gilak emang gue waktu itu.

Tapi, ya yaudah, fain-fain aja gitu kok nyatanya.

Contoh lain lagi, gue dulu sewaktu masih duduk di bangku SMK pernah diampu sama guru yang mana beliau adalah seorang kristiani yang sangat taat. Namanya bapak FX Suripto.  Biarpun beliau menganut agama yang berbeda dengan gue, tapi selama ini beliau selalu menjaga toleransi beragama dengan sangat baik.

Hingga sekarang, gue masih menjaga hubungan baik dengan Pak FX Suripto. Beliau masih nggak berubah. Kalau dulu waktu sekolah beliau sering mengingatkan gue untuk shalat ketika adzan berkumandang, sekarang beliau masih sering membangunkan gue pukul empat pagi biar gue nggak kelewatan shalat Subuh.

Buset banget nggak tuh?

Guenya aja yang kadang telat bangun.

Kalau gini kan, harusnya gue yang malu sama beliau ya :’)

Mereka (non muslim) itu sebenernya baik-baik aja, loh. Kita (Muslim) juga sebenernya kan baik-baik aja. Cuma, ya ada beberapa oknum aja yang kayak menghasut kita untuk intoleran kepada umat beragama lainnya dan ujung dari hasutan itu adalah perpecahan.

Gue nggak tau ya, apa alasan dibalik intoleran-intoleran yang terjadi akhir-akhir ini. Mungkin bisa karena oknum dari salah satu penganut agama merasa bahwa agamanya paling benar dan nggak ingin ada orang lain yang percaya pada agama lain. Itu oke, sih. Tapi kan… pasti orang-orang lain dari agama yang berbeda juga pasti memiliki pandangan bahwa agamanya-lah yang paling benar.

Terus, gimana dong?

Ya, yaudah. Apa yang menjadi agama kita sekarang, jalani dan pelajari dengan baik kalau memang kita merasa kalau itu yang paling benar. Orang lain? Ya biarlah mereka mempelajari agamanya dengan baik kalau memang mereka merasa agamanya-lah yang paling baik.

Bukannya begitu ya seharusnya?

Nggak mungkin dong, misal ada orang yang menganut agama A tiba-tiba bisa percaya bahwa agama yang paling benar adalah agama B? Kalau emang mungkin, nanti juga orang itu bakal pindah ke agama B. Gitu nggak sih?

Ya yaudah.

Mau berdakwah, ya berdakwahlah dengan baik. Jangan hasut kebencian.

Tapi, kalau misal permasalahan agama yang paling benar itu masih menjadi perdebatan, mungkin seharusnya apa yang dikatakan Pandji Pragiwaksono di tour Juru Bicara-nya itu sebaiknya bisa dicoba untuk diterapkan. Intinya begini :

‘Ketika guru mengajar di kelas, beliau harusnya bilang : ‘Anak-anak, ada banyak agama di muka bumi. Tapi hanya ada satu agama yang paling benar di muka bumi ini. Hanya satu. Kalian mau tau apa? RAHASIA’ biar murid-muridnya penasaran dan mencoba mempelajari semua agama sampai akhirnya mereka menemukan satu agama yang baginya paling benar, yaitu agama yang keimanannya ditemukan, bukan diturunkan by default dari orang tuanya.’

Menjadi umat beragama, harusnya membuat kita bisa menjadi pribadi lebih baik, apapun agama yang kita anut. Menjadi yang lebih baik, bukan menjadi yang paling benar. Karena ketika kita menjadi yang paling benar, kita nantinya pasti cenderung akan mengoreksi apa yang menurut kita salah. Akhirnya, ya disitulah awal mula perpecahan terjadi. – Pandji Pragiwaksono.

BySbxYMCAAAEd1l

Source : Twitter

Hmm…

Gue yakin sih, disini pasti ada banyak orang yang mungkin merasakan keresahan yang sama kayak apa yang gue rasakan ini. Tapi, kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk diam karena mereka nggak mau ada hujatan atas opini yang kelak akan mereka sampaikan.

Aneh aja sih sebenernya, ketika kita hidup di negara demokrasi yang seharusnya kebebasan berpendapat dimiliki oleh setiap masyarakatnya, eh ketika kita berpendapat, kita malah dihujat. Kalaupun ada yang mau membenarkan, pasti harus melalui tahap digoblok-goblokin dulu baru dibenarkan.

shutterstock_187662866

Source : Orangewebsite

Kan males ya?

Jadi, ya yaudahlah ya.

Gue cuma mau membagi opini dari keresahan yang gue rasakan akhir-akhir ini.

Itu aja.

Nggak ada kata atau kalimat yang mengganggu, kan?

Semoga.

Kalau ada, kasih tau gih. Biar direvisi, atau mau diskusi?

Terimakasih.

Advertisements

79 comments

  1. Saya pernah diceritain temenku pas dia lagi ada event di Bali, pas dia mau masuk di sebuah desa gitu (lupa namanya), tiba” warga desa trsbt ngelarang dia masuk karena temenku muslim(ah). Temenku pake jilbab sih, otomatis tahu.

    Katanya, mereka takut kalo muslim buat kerusakan gitu katanya. (Masih trauma ama bom Bali dulu kali iya? Who knows..)

    Untung tmenku pinter ngomong, trs dia cerita ngalur-ngidul ngejelasin Islam yg sbnrnya tu gmna, and finally dia bisa masuk tuh.. entahlah, kayaknya gitu deh ceritanya.

    1. Mmmm… Bisa begitu ya? Bener-bener dilarang kayak ‘Eh, itu yang berjilbab muslim ya? Kamu jangan masuk ya’

      Sedi sih kayak gitu.
      Tapi alasannya mungkin ya karena trauma akan tragedi bom bali ya. Mmm… Padahal, pelakunya kan cuma oknum yang mengatasnamakan muslim aja. Padahal, nggak semua muslim begitu kok :’)

      Untung temenmu pandai ngomong dan bisa menjelaskan tentang Islam yang sebenernya :))

    1. Maaf, Mas. Itu pertanyaannya sangat provokatif. Tak pernah saya jumpai skalipun ada kasus mau komentar di blog orang harus sepemikiran dan seagama. Hati2 dengan membagikan sesuatu tapi tanpa dasar. :p

      *MASIH NGAKAK SAMA KOMENTAR DI FESBUK ANJER wkwkw

  2. Toleransi yang (terasa) paling berat berlaku bagi orang-orang yang paling dekat dengan kita. Semisal ada anggota keluarga yang memutuskan untuk berganti agama atau mungkin orang tercinta yang satu agama namun berbeda ritual dengan kita.

    Masih sanggupkah untuk bertoleransi dengan berkata “nggak apa-apa” tanpa ada rasa sedih dan kecewa? 🙂

    1. Hihihihi iya juga ya bang Maw. Kalau misal keluarga kita yang awalnya seagama, kemudian memilih untuk berpindah agama… kok rasnaya berat sekali buat bertoleransi. Tapi, sebisa mungkin harus bisa bertoleransi ah karena memang itu pilihannya.

      Mmm… Mungkin, belum sanggup :’)

  3. Tanya agama anda apa itu klo udh serius mau nikah haha.. Klo sahabatan atau teman atau rekan nga perlu lah tanya agama. Agama tu skrg ini bukan jaminan 100% seseorang berakhlak baik. Yaidahlahnya ngalir aja toh ntr terseleksi sendiri cocok nga nya jd nga perlu lah tanya agama apa kecuali mau nikah haha

    1. Naaaah, bener banget 🙂 kalau aku nanya agamanya tetep ke yang mau dinikahin sih. Memang harus seagama kalau itu mah wkwkkw. Kalau berteman dan membantu orang, ya kalek harus tau agamanya :))

      Hihihihi beneeeer. Agama nggak menjamin seseorang itu berakhlak baik atau bukan 🙂 jadi, yaa yaudaaah. Yang beragama A, biarlah beragama A karena memang dia percaya itu yang benar. Jangan diusik 🙂

    1. Iya Mbak :’ sangat menyayangkan banget kenapa harus begini siiiiih yaaaa. Padahal zaman sudah semakin maju, tapi pemikiran masih begini :’ yaaah, semoga nggak berlarut lama deh dan toleransi beragama kembali terjaga

    1. Sarkasme nya dapet banget ya gambar orang tenggelam itu wkwkkw.

      Nah, bener. Seharusnya memang kita ngga membeda-bedakan siapa teman atau orang yang hendak kita bantu atau temani. Ya yaudah, semua orang kan bebas untuk memeluk agama. Jadi, terima saja agama orang lain dan bersaudaralah dengan baik 🙂

      Bukannya makna toleransi itu begitu 🙂

  4. Bener banget kak. Aku setuju banget.. 😂😂 itulah yang aku rasakan akhir² ini juga. Rasanya kok semuanya pada bertarung tentang agamanya yang paling benar. Pdhal itu nggak penting bagiku.. menurutku agama itu adalah suatu hal yang harusnya nggak jadi masalah. Toh jaman dulu aja ngejek dikit nggak sampai ada yang bilang ‘pernistaan’ karena mereka tau kalau itu cuma bercanda.. tapi kalo sekarang.. jangan dilakukan lah 😂 agama sekarang sudah jadi hal yang sensitif banget. Sekali kesenggol namanya langsung Boom! Mledak dimana-mana 😂😂

    Pdhal Indonesia ini negara “Bhineka tunggal ika” tapi malah langsung pecah begitu ada urursannya dengan agama 😂😂 buset deh :’v
    Semoga orang² pada sadar dan nggak racist lagi lah 😂

    1. Sepakat benget :’)

      Aku juga kayak akhir-akhir ini ngeliat keributan yang menyoal masalah Agama itu menahan diri buat nggak ngerespon apa-apa, tapi kok makin lama makin menjadi. Akhirnya, ya ditulis aja deh :’)

      Semua merasa bahwa agama yang dianutnya paling benar, kalau ada yang sedikit menyalahkan tentang agama orang lain dikatakan penistaan. Ya kalik. Kalau gitu mah, setiap penganut agama pasti menistakan agama lain lhawong menurut paham tiap agamanya masing-masing itu agamanya itulah yang paling benar. Terus gimana dong?
      Bingung kan ya ._.

      Jaman semakin maju, tapi pemikiran semakin menyempit aja ya perasaan 😦 toleransi beragama udah kayak dilupain gitu aja.

      Sensitif sekali deh kalau bicara masalah agama ini. Bahkan beberapa temenku setelah baca tulisanku ini pada bilang : ‘gilak, berani banget nulis masalah sensitif gini’

      Yah, entahlah :’)

      Apa yang terjadi di Indonesia sekarang, semoga nggak keterusan. Ya kalik, besok aku udah tua dan punya anak, ketika anakku main sama temennya ditanyain dulu ‘Kamu agamanya apa, ya?’

      Huft.

    1. Aamiin :’)

      Semoga banget ini Mas. Semoga juga kejadian begini tuh nggak berlangsung lama. Semoga ada pemecah masalah dibalik ini semua, sehingga kesatuan dan persatuan bangsa kembali menyatu, toleransi beragama pun kembali ditegakkan 🙂

      1. Hahahaaaaaaa itu tadi kamu nanya beneran ke aku atau ke siapa sih? Kalau ke aku, yaudah kita coba saja siapa tau kan. Kalau ke yang lain, ya silahkan kamu coba saja *LAH INI GIMANA SIH wkwkw

  5. Nah, saya seneng dan lega deh kalau ada yang masih berpikiran seperti ini.
    Soalnya rasa-rasanya resah kalau lihat ada cekcok karena masalah perbedaan agama..Sedih 😦

    1. 🙂

      Kita sepemikiran berarti ya, Mbak.
      Iya, sekarang ini mah masalah perbedaan agama jadi masalah yang dibesar-besarkan banget :’) entahlah. Aku udah nggak tau mau gimana lagi :’)

  6. Salut deh berani bahas ginian
    Kadang aku juga pengen nulis tapi bingung mulai darimana, dapet satu paragraf aja udah pusing kayaknya harus minum panadol esktra.

    Yha!
    Pada dasarnya sih ya lakum diinukum waliyadiin.
    Apapun agamanya selagi saling bisa toleransi kayaknya yaudah jalan masing masing.
    Tapi kenapa malah saling mengusik di negara yang plural ini.
    Ketika ngerasa Mayoritas bisa ngalahin Minoritas. Gak ngerti aja gimana rasanya hidup di negri orang dan jadi minoritas, mau gini susah mau gitu susah. Di negri yang udah serba enak bisa berbagi rasa dan hidup bersama kok malah di usik usik.

    Intinya sih ya…….. kadang kita berpendapat begini ada yang bilang

    KAMU TUH NGGAK NGERTI APA?
    KAN UDAH ADA DI ALQURAN

    lhaaa…………….
    susah wis kalo udah bawa bawa itu.

    ………..

    ……….

    1. Hahahaaa sebenernya juga takut kalau kenapa-kenapa sih, tapi… Ah, tulisan saya mah mana nyebar kalik wkwkw. Jadi berani-berani aja. Lagian nggak keliatan offense banget kan ya 🙂

      Ayoooook Leliii nulis jugaaak. Eh, jangan ding. Liburan ajaaa 😀 hihihi

      Nah, iyaa. Harusnya ya yaudah. Agamamu agamamu, agamaku ya agamaku 🙂 boleh berdakwah, tapi bukan terus milih teman sendiri gitu. Apa gunanya toleransi dong kalau gitu :))

      Sudahlaaaah, semoga yang begini nggak berlarut-larut ya :)) Semoga toleransi antar umat beragama kembali ada deh :))

      Duuuh, kalau udah ada yang bilang gitu mah, kita bisa apa ya :)) hihihi

  7. Sekarang saya tinggal di Canada. Disini ada peraturan bahwa ilegal untuk menanyakan agama, ras, umur kalau wawancara kerja. Anda bisa didenda bahkan masuk penjara.

    Baru-baru ini juga ada peraturan dimana warga bisa memilih untuk memasukan ‘X’ pada kartu identitas di kolom jenis kelamin. Jadi mereka tidak harus mendeklarasi diri sebagai perempuan atau laki-laki. Unik ya.

    Banyak kolega saya pada kaget setelah tau kalo ngelamar kerja di Indo harus mencantumkan umur, agama, ras, dan foto diri. Padahal kan gak ada hubungannya antara agama dengan job des akuntansi misalnya. Atau wajah harus ganteng untuk jadi guru.

    Rasanya dulu waktu jaman saya kecil sampe kuliah, perbedaan agama gak terlalu masalah di Indo. Saya sendiri Katolik, dan dulu banyak temen muslim masuk sekolah katolik atau Kristen. Biasa aja tuh. kalau puasa yah tetap dan kita menghargai, dan sampe sekarang temen2 saya itu masih tetap memeluk agama Islam. Sekarang kenapa malah heboh banget ya. hmmmm

    1. Weeeeeeeee 😀 Kanada kok keren sih, Mbak? Suwer deh, menurutku itu bagus banget sih. Lagian, agama, umur sama ras kan nggak ngaruh apa-apa kan ya di pekerjaan? ._. hihihi

      Unik banget eeeeh di Kanada. Nggak perlu menentukan kelamin juga bisa :)) bener-bener dikasih kebebasan banget ya mbak disana 🙂

      Hahaha Indonesia memang gitu sih :’ entahlah, siapa yang memulai kayak harus ada umur, agama, ras, foto, dan hal-hal ga mutu lainnya buat pekerjaan atau apalah itu :)) Aneh.

      Jadi aku cuma bisa bertanya-tanya… kapan ya Indonesia kayak Kanada gitu. Meskipun aku tau jawabannya… Yaaaaaah, yagitulah hahahak.

      BENEEEEER :)) Waktu aku masih SD sampai SMP tuh agama nggak terlalu dipermasalahkan mbak. Aku berteman sama non islam ya yaudah biasa aja. Tapi nggak tau, kenapa sekarang gitu banget :’)

      Yaudahlah ya. Semoga yang begini ga berlarut-larut :’) Takut nanti kalau udah nikah dan punya anak, anakku tiap main ditanyain mulu ‘kamu agamanya apa?’ ‘Ayahmu ilmu agamanya gimana?’

      😦

  8. Baik ya anak kosan ibumu? Sampe antar in ke jumatan segala. Padahal kamu udah ingin dia. Hahaha

    Aku juga gitu sih sama temenku yang beragama hindu dan kristen. Aku bahkan tanya tanya doa kalo makan dsb. Aku juga suka dengerin ceramah dari berbagai agama.

    Orang baik mah gak pandang beragama apa. Kalo mau berbuat baik ke orang yang seagama, berarti dia belum baik. Karena pada intinya agama itu menyembah Tuhan dan berbuat kebaikan. Ehehe

    Revisi?? Cukup skripsi aja yang direvisi 😂😂

    1. Hihihi Iya, Rum 😀 Baik banget dulu anak kos an ibukku 😀

      Hihihi harusnya emang gitu 🙂 sharing aja, asal masih tetep menjaga perasaan masing-masing. Intinya, agamamu agamamu agamaku agamaku 😀 bukan berati ga boleh temenan 😀

      HIhihi bener 🙂

      Duuuh, skripsi lagi :((

  9. Saya kan lama tinggal di jawa ka febri, terus dua bulan ini saya harus ke Bali untuk kerja praktek. Menariknya orang orang bali disini itu lebih terasa banget sifat toleran pada “agama”nya. Bahkan banyak yang saya awalnya gak tahu jadi tahu. Contohnya aja ternyata “ayam potong” yang ada di bali itu pasti semua halal karena yang motong pasti orang islam. itu kata ibu made penjual nasi yang agamanya hindu. “kalau orang bali gak berani dek jual ayam” tambah beliau.

    Semoganya sih indonesia itu lebih bisa toleransi dan saya setuju banget sama tulisan ka febri diatas.

    Merinding wah liat foto ibu kartini sama kata kata beliau.

    Tetiba saya langsung ngefans sama blog kakak ahahah

    1. Haloooo 😀 hihihi kamu orang jawa, tapi magangnya di bali? Jauh amat 😀 ihihi semangat yaaak 😀

      Eeeeh, Bali toleran sekali ya?
      Aku baru tau, soalnya belum pernah ke BAli hihihi. Bahkan masalah ayam potong, mereka mempercayakan yang motong itu orang islam ? padahal mayoritas disana hindu ya 😀 Bener-bener toleransi banget 🙂 seandainya bisa semua Indonesia kayak Bali :’)

      Seandainya dan semoga :))

      Terimakasiih banyaak ya 😀 hihihi

  10. Lihat sketsa di atas jadi ingat waktu itu punya teman perempuan beda agama. Selama kita berteman gak pernah ada pembahasan antar agama satu sama lain. Pernah gua kecelakaan terus butuh biaya dan si perempuan ini memberikan pinjaman uang ke gua begitu pula kalo dia lagi butuh bantuan pasti gua bantu selama bukan ngebantuin dia ngerjain soal ulangan agama.

    Menurut gua kalo mau membantu seseorang ya berdasarkan kodrat manusia aja sebagai makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain.
    Jadi ingat kata-kata Gus Dur presiden ke 4 : “Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

    Btw

    Waktu tour Stand Up Pandji yang Mesakke Bangsaku ada bitnya tentang toleransi agama saat dia di ajak ke gereja sebagai pembicara Pandji mengucapkan salam (salam agama islam) terus seluruh yang ada di gereja menjawab salam dia. Setelah itu Pandji percaya kalau toleransi agama di Indonesia masih ada.

    1. Hihihi sketsanya bener-bener sarkasme ya 🙂 seolah membandingkan apa yang terjadi sekarang itu beda banget sama yang dulu. Saya dulu juga gitu, sama yang beda agama itu saling membantu. Bahkan orang yang ngekost di kost ibu saya, dia non islam tapi mau nganterin saya jumatan. Guru saya yang non islam juga sering ngingetin saya buat shalat 🙂

      Sekarang, boro-boro ya mungkin. Beberapa udah kayak menyaring pertemanan dengan tanya-tanya agama atau apalah :’)

      Hihihi kata-kata Gus Dur itu memang bener-bener emas sih. Dan bener :’) apa mereka tersindir ya kalau baca kalimatnya Gus Dur?

      Hahah yang Mesakke Bangsaku itu ya, yang malah dibikin joke dia bilang syahadat biar seluruh orang di gereja masuk islam wkwkw 😀

  11. Waahh ini postingannn bagusss gue sukaaa idenya yg bahas ini, krn kebanyakan dri kita mungkin udah tumbuh jdi pribadi yg engga toleran

    Contoh kasus terbaru ini ya HTI itu contohnya, gue rasa orang yang engga toleran itu orang yang kurang jalan , yg hidupnya diaitu situ aja, jdi pikirannya tertutup,

    Kata dosen gue nih ya yang gue inget “kita ga bisa maksain orng buat ikut agama kita krn tuhan dan agama itu urusan pribadi masing masing, tuhan itu yang jelas ada di hati kita masing masing” gitu katanya

    1. Hihihi terimakasih ya Kiki 😀

      Bener ya 🙂 generasi sekarang mungkin udah mulai kayak ditanami pemikiran biar nggak toleran. Sedi juga sih sebenernya :’)

      Duh, HTI :(( Hmm… Bener, orang yang intoleran itu orang yang kurang jalan dan pemikirannya tertutup gitu aja :’)

      Nah, dosenmu bener banget :’) nggak usah diusik. Kita nggak perlu ngusik agama orang, karena kita pasti nggak mau diusik kan ya? Jadi, ya udah. Urusan pribadi masing-masing :))

      Btw, makasi ya sharingnya 😀

  12. Aku gak tahu mau ngomong apa lagi kalau ketemu orang seperti itu. Dari sejak lahir sampe sekarang, aku selalu ketemu orang yang fine aja di dunia nyata. Baru kali ini nemu yang gituan, tapi ya itu, hanya di dunia maya. Di dunia nyata belum pernah sama sekali. Atau jangan-jangan mereka itu tidak nyata? Then, just ignore them.

    1. Hihihi sama, bang 😀

      Udah nggak tau lagi sih aku jugak. Soalnya ya ituuu, dari lahir emang nggak pernah nemu yang begini :’)

      NAH! SEMOGA YANG BEGINI NGGAK NYATA DAN HANYA DI DUNIA MAYA DOANG. AAMIIN.

      Tapi kalau bisa, dikurang-kurangi juga deh yang di dunia maya itu -_- nda enak diliat 😦

  13. Agamanya apa kalau leh taw?

    Kalau seiman, insya Allah mau ngelamar kerumah.

    GITU KALI KALIMAT YANG SEBENERNYA. KAMU JANGAN SOTAU DENGAN BAHAS TOLERANSI YA FEBRI. KAKAK NDAK SUKA. *LAH* HAHAHAHAHA

    1. Kayak gini ya : AGAMA SEPERTI KELAMIN. Bagus kalau Anda mempunyainya dan boleh juga membanggakannya. Tapi jangan pamerkan kelamin Anda di tengah jalan sambil teriak-teriak, apalagi memaksa orang memeluk alat kelamin Anda 🙂

  14. Baru baca dan gatel pengen ninggalin komentar. Hahaha jadi inget sama quote seseorang yang terlupa namanya, kira2 kalimatnya begini “you have to fanatics with your religion, but dont explain to other yours is better.” Hehehe kalo semua kayak gitu kan enak ya, hidup jadi damai dan tentram. Hehe

    1. Hahahaaa tulisan begini emang bikin gatel orang pada mau komen sih ya kayaknya 😀 Hal yang sensitif soalnya toleransi agama nih 😀

      Iyaaa, harusnya ya sesuai dengan quote tersebut 🙂 kan damai dan aman terkendali wkwkw

  15. Saya juga punya guru sekaligus walikelas non muslim ketika sma, feb
    dia baik loh sama saya sampe sekarang
    bahkan ketika dulu ada lomba menghias kelas, saya kabur eh besoknya ketahuan sama walikelas eh dihukum nyanyi. Kan rese tuh, udah gitu engga dibayar. Suara saya mahal loh, bang
    tapi pernah jadian sama mas ricky, bang?

  16. Duh. Ini topiknya berat. Aku juga ngerasain keresahan yang sama, akhir-akhir ini isu tentang agama emang lagi happening banget, kita yang ingin beropini pun harus hati-hati memilah-milih kata, karena kalau salah sedikit nanti dibilang gak beragama, liberal, dan lain sebagainya. Huhu

    Aku juga sama kayak kamu Feb. Aku punya sahabat yang non-muslim, dan dia termasuk salah satu orang yang sering ngingetin aku sholat dsb :’)

    1. Iya, berat banget ini pembahasannya kan :’) hihihi

      Nah kan, bener. Semua masalah agama ini entah kenapa akhir-akhir ini kok lagi happening dan heboh-hebohnya banget. Kita jadi kayak cuma bisa diem aja gitu. Jadi gimana ya, hahaha. Siyal.

      Hihihi hanya beberapa oknum doang yang kayak ribet masalah agama. sebenernya masih ada banyak oknum yang baik kok :))

  17. lingkungan dan pertemanan memang membentuk kita, saya juga punya teman2 nonmuslim .. dan selama bermain .. fain fain aja, saling menghormati dan,tidak saling nyenggol. Di zaman yang katanya lebih modern ini ternyata kebablasan, apalagi era sosmed .. bikin takjub dan heran .. bagaimana ya lingkungannya dan siapa yang ngajari mereka ini

    1. Bener kan mas ._. aku juga sejauh ini berteman sama teman-teman non muslim itu fain fain dan santai selo aja gitu :’

      Haaaahaha, apa mungkin yang masalah tanya itu hanya ada di Media Sosial semata? Entahlah ya :’ nggak tau juga gimana lingkungannya

  18. Nice sharing Feb. Emang meresahkan banget akhir-akhir ini, apalagi ada kaum muslim yang menyalahgunakan kehebohan akhir-akhir ini dengan semakin semena-mena memojokkan kaum minoritas. Sedih 😦

    1. Hihihi makasih ya Mbak :))

      Iyaaa :’ resah banget sebenernya kalau tau masalah ini. Yaaah, entahlah kenapa yang begini itu heboh dan seolah menyebar luas :’ ayolaaah, mana toleransi dan saling menghargai antar umat beragama 😥

  19. imho, toleransi itu kita meyakini agama kita paling benar tanpa menyalahkan orang lain di depanya langsung dan memaksakan pendapat kita yang paling benar. tergantung lawan bicara kita siapa juga sih. analoginya gini, menurut emak gue, gue paling ganteng, ngomong gitu ya di depan gue. giliran di hadapan orang, ya gak bisa juga maksa ke ibu-ibu lain kalau gue yang paling ganteng.

    analogi apaan anjer wqwqw

    1. Bener banget. Toleransi itu kita meyakini bahwa agama kita paling benar, tapi bukan berarti kita terus menyalahkan agama orang lain :))

      Tapi… YA ANALOGINYAAAA GIMANA ITU YA. IYADEH IYAAA, ANAK EMAK GANTENG YA 😀

  20. Di sini, gue akhirnya paham kenapa pelajaran semembosankan PPKN diajarkan terus menerus selama 9 tahun, bahkan ada yang masih dilanjutkan sampai kuliah.

    Karena potensi ini.

    Para pendiri kita, di tahun-tahun kemerdekaan negara, sadar… bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang heterogen. Setiap warganya harus ditanamkan sejak kecil bahwa toleransi dibutuhkan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik.

    Well written, Feb. Quote-quote di atas juga makjleb banget.

    1. Iya juga ya :’) akhirnya aku juga baru sadar betapa pentingnya pelajaran PPKN :’ Aku sampai kuliah aja masih dapet loh pelajaran PPKN sama Pancasila.

      Ternyata :’

      Hihihi makasiiih banyak banget ya Mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s