End Of Black Era – the Incident : Sebuah Karya Film Bergenre Fantasy Asli Indonesia

‘Feb, ada kenalan blogger Jogja nggak?’

Siang hari, pada tanggal 23 Mei 2017, hape gue berbunyi dengan menampilkan pesan seperti di atas. Gue liat pengirimnya, nama Fasya Aulia terpampang dengan jelas disana. Seketika, sembari memegang hape, gue pun menuliskan balasan.

‘Kamu siapa?’

Setelah itu, gue pun lanjut tidur siang dan hidup pun berjalan dengan tenang dan nyaman.

..

.

BOOOOM!

Gilak kalik gue ngebegituin mbak Fasya. Bisa digampar bolak-balik nanti deh ah. Karena Mbak Fasya menanyakan tentang blogger Jogja, gue pun memberikan beberapa temen blogger yang gue kenal dan ketahui seperti misalnya Bang Firman, Nisrina, Mbak Aqied, Nicko, dan Mbak Prima Hapsari. Nggak cukup disitu, gue pun ngasih tau ke Mbak Fasya kalau gue ada kontaknya ketua blogger Jogja, Mbak Atanasia Rian. Jadi, kalau-kalau Mbak Fasya butuh banyak blogger Jogja, gue menyarankan untuk menghubungi Mbak Rian aja.

Setelah gue memberikan beberapa list blogger Jogja yang gue kenal, Mbak Fasya pun berucap terimakasih dan menjelaskan maksud dari permintaannya tersebut. Ternyata, maksud dari Mbak Fasya mencari blogger-blogger Jogja adalah karena ada acara screening film yang mana disitu membutuhkan blogger-blogger untuk meliput, entah itu dari segi filmnya ataupun dari segi latar belakang filmnya.

Secara pribadi, gue udah pernah tau dan membaca perihal screening film ini di blog Fasya and Friend yang berjudul Film Fiksi Fantasi Dari Negeri Sendiri : #EndOfBlackEra sih. Jadi, ketika Mbak Fasya menjelaskan tentang screening film itu, gue udah nggak asing lagi mendengarnya.

Kelar memberi informasi tentang screening film, Mbak Fasya pun meminta gue untuk menunggu email dari penyelenggara acara perihal bagaimana teknis di acara screening film itu nantinya. Gue pun mengiyakan dan chatting gue dengan Mbak Fasya berhenti disitu.

xxxxx


Dear Febri,

Perkenalkan saya Aryanna, costume designer yang based di Jakarta. Saya menghubungi Febri atas referensi dari blogger asal Bandung yakni Fasya (Fasya and Friends).

Awal tahun ini, costume design house kami, Yuris Laboratory, berkolaborasi dengan Aenigma Picture untuk memproduksi sebuah film pendek berjudul End of Black Era – the Incident.

Kami melakukan screening perdana cast & crew pada tanggal 3 Mei lalu di CineSpace, Tangerang. Pada tanggal 21 Mei kami melaksanakan RSVP-limited screening pertama di IndiCinema, Bandung……………..


Beberapa hari setelah Mbak Fasya meminta gue untuk menunggu email dari pihak penyelenggara acara, email yang dijanjikan akhirnya masuk juga. Gue membaca dengan seksama apa yang Mbak Aryanna (Costume Designer, sekaligus pencetus ide atas penyelenggaraan screening film ini) dan tanpa banyak berpikir, gue pun langsung menyanggupi undangan tersebut.

Sesaat setelah menerima undangan screening dari Mbak Aryanna, gue pun mulai sibuk sendiri untuk me-resource perihal film yang akan discreening yaitu End Of Black Era – the Incident. Buat yang sudah penasaran tentang filmnya, mungkin kalian bisa liat dulu deh trailer dibawah ini :

Bingung?

Sama.

Itu yang gue rasakan ketika pertama kali melihat trailernya. Jujur, di dalam benak, gue pun bertanya-tanya sendiri perihal banyak hal, seperti misal :

‘Ini film mau dibawa kemana nih?’

‘Ini film maksudnya apa nih?’

‘Kenapa filmnya begini, nih?’

Beruntung, setelah beberapa hari pertanyaan itu berputar-putar sendiri di kepala gue tanpa ada penjelasan yang berarti, gue pun dapet email dari Mbak Aryanna untuk buka bersama sekaligus berdiskusi dikit tentang screening film End Of Black Era – the Incident ini.

Poster End Of Black Era

End Of Black Era (Source : Klik)

Karena email yang gue dapet itu sore hari sekitar pukul 15.00, maka otomatis fokus gue hanya tertuju pada tulisan ‘Buka bersama’ aja. Jadi, sudah jelas,  gue pun langsung menyanggupi undangan dari Mbak Aryanna itu untuk Buka bersama (dan tentunya diskusi dikit tentang End Of Black Era – the Incident).

xxxxx

Little Owl Cafe Plang

Hari itu hari Kamis, tepatnya pukul 17.15 WIB. Gue berdiri dibawah plang cafe yang mana menjadi tempat diadakannya buka bersama dengan Mbak Aryanna beserta blogger-blogger lainnya. Disitu, gue yang ditemani oleh Nanda pun bertemu dengan Bang Firman, disusul beberapa blogger lain seperti Mbak Aqied, Mbak Prima, Mbak Fasya, Mbak Anggietak, dan Mas Christian.

Little Owl Cafe 3

Abaikan Mbak-Mbaknya, Njer.

Ketika semua sudah berkumpul, kami pun masuk ke dalam Little Owl Cafe untuk menemui Mbak Aryanna dan Mas Yongki (Owner Aenigma Picture sekaligus Cinematography End of Black Era – the Incident) (Sekaligus suami Mbak Aryanna) (Ihir) (Ciye, ciye).

Pertama kali bertemu, Mbak Aryanna dan Mas Yongki ini terlihat sangat friendly abis sama blogger-blogger Jogja. Beliau menyapa dengan senyum ramah dan bersahabat, kemudian mempersilahkan kami untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.

Pada acara buka bersama sore itu, Mbak Aryanna dan Mas Yongki bercerita tentang latar belakang film End Of Black Era – the Incident, mulai dari kenapa film itu ada, bagaimana proses pembuatannya, berapa lama proses pembuataannya, dan juga membahas tentang bocoran budget untuk pembuatan film End Of Black Era – the Incident.

Tak lupa, disela-sela obrolan pun kami disuguhi dengan menu buka puasa beserta teh hangat yang mana membuat semangat kami bertambah. Haha.

Makan Buka BErsama

Lapar?

Diawali dengan perkenalan yang hangat, diisi dengan diskusi menarik, disisipi dengan lelucon-lelucon yang nggak bikin garing, akhirnya pertemuan kami dengan Mbak Aryanna dan juga Mas Yongki pun ditutup dengan foto bareng.

Bukber dan Diskusi End Of Black Era

Foto Bareng Dulu, Kuy!

Nais…

xxxxx

Jum’at, pukul 18.45 WIB, gue tiba di Jogja Village Inn untuk mengikuti acara screening film End of Black Era – the Incident. Baru sampai di depan meja registrasi, gue sudah ketemu sama duo Fasya and Friend (Mbak Fasya dan Mbak Anggietak) yang dengan heboh foto-foto tentang acara ini, padahal, yaaaah, kan mereka sudah pernah nonton screening ini di Bandung. Jadi, hal ini membuktikan bahwa End Of Black Era – the Incident menarik banget buat dilihat dong ya?

End Of Black Era, lebih dari TV. BOOOOM!

Mengikuti teknis yang dibuat, gue pun akhirnya mengisi form registrasi untuk mendapatkan tiket masuk. Setelah memegang tiket masuk, gue pun masuk ke ruang diselenggarakannya acara screening.

Tiket End Of Black Era

Tiket!

Keramaian Screening End Of Black Era

Keramaian Screening End Of Black Era

Gils, ramai sekali kan yak!

Beberapa lama menunggu, akhirnya apa yang dinanti pun tiba. Lampu-lampu ruangan dimatikan, dan pemutaran film pun segera dimulai.

Screening End Of Black Era 2

Screening End Of Black Era

Acara screening film malam itu diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang Pak Baidi, seorang pengrajin tembaga yang berasal dari Kota Gede, Yogyakarta. Pada film dokumenter itu, Pak Baidi menceritakan tentang hidupnya yang telah menekuni pekerjaannya sebagai pengrajin dari tahun 80-an.

Nggak hanya menekuni kerajinan tembaga, Pak Baidi pun pernah menekuin kerajinan lainnya seperti emas ataupun perak. Namun, karena harganya naik turun dan sempat mengalami kerugian, akhirnya beliau kembali menekuni kerajinan tembaga.

Film dokumenter kedua yang diputar pada acara malam itu adalah tentang Mbah Reso, seorang pengrajin kain lurik yang bertempat di Klaten, Jawa Tengah. Pada layar screening malam itu ditampilkan sosok Mbah Reso yang sudah terlihat tua masih semangat dalam menekuni kerajinan Kain Lurik yang diwariskan dari pendahulunya.

Secara pribadi, gue tersentuh banget sih waktu melihat film dokumenter Mbah Reso ini. Melihat beliau yang sedang membuat kain lurik dari alat-alat tradisionalnya, dimana disitu beliau terlihat sangat telaten dalam menyusun benang demi benang untuk menghasilkan kain lurik yang cantik, gue pun dibuat terkagum-kagum dengan semangat beliau.

Namun, ada satu hal yang disayangkan, yaitu ketika film dokumenter itu menjabarkan bahwa karya dari Mbak Reso yang dibuat dengan sangat rumit hanya dihargai sebesar Rp.20.000 saja. Jujur, gue sedih banget sih mendengar fakta ini. Ketika gue sedang menyusun rencana untuk mengunjungi rumah Mbah Reso dan membeli kain lurik buatan beliau dengan harga yang layak,  Mas Yongki pun membeberkan fakta yang bikin gue patah sepatah-patahnya.

Mbah Reso sudah meninggal bulan April lalu.

Sedih banget, parah.

Semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya dan semoga kerajinan kain kurik Mbah Reso ini ada yang meneruskan.

Aamiin.

Selesai dengan dua film dokumenter yang diputar di awal, akhirnya film End Of Black Era – the Incident pun mulai ditayangkan. Diawali dengan adegan dimana ada orang-orang yang mengenakan pakaian berbahan kain lurik sedang duduk di depan rumah dan diantaranya sedang mengembala kambing, tiba-tiba entah karena apa situasi pun menjadi kacau dan semua berlarian kemana-kemari.

Bagi gue yang melihatnya, itu merupakan intro yang menarik untuk mengawali sebuah film.

Setelah itu, adegan pun berlanjut dimana si tokoh utama, Neewa, sedang dikejar-kejar oleh Enemy. Alasan kenapa Neewa dikejar oleh Enemy bukan karena Neewa iseng nendang selangkangan Enemy, melainkan karena Neewa saat itu sedang membawa semacam jimat penyelamat. Adegan demi adegan ini bener-bener bisa bikin gue deg-degan dan pengen keterusan mengikuti film ini sampai habis sih.

Tapi, karena namanya film pendek, ternyata apa yang gue inginkan itu nggak bisa terealisasikan. Ketika gue benar-benar berharap filmnya masih berlangsung hingga menemui titik akhir yang kelas, ternyata gue dibuat sedikit mengeluh kesal :

‘Aaaaaaaaaaaaaaah… kenapaaa nggantung banget, anjer’

Yaaa, karena ini film bener-bener menggantung banget sih parah. Gue bener-bener kayak nggak terima, tapi gue nggak bisa apa-apa. Budget yang dikeluarin buat bikin film ini aja udah menempuh angka 800++, jadi bisa kebayang kan kalau film ini berdurasi 1 jam 30 menit bakal mengeluarkan budget berapa?

Tapi jujur aja sih gue puas banget nonton screening End Of Black Era – The Incident ini. Selain karena film ini bener-bener mengedepankan unsur budaya Indonesia, film ini pun juga dalam dialognya menggunakan bahasa Angin. Bener-bener keren deh ah. Oh iya, kalau ditanya siapa tokoh favorit gue, tentu gue akan menjawab : Nukscah. Dia itu keren dan lucuuuu aja gitu kelihatannya.

Nukscah End Of Black Era

Nukscah!

Nggak cuma itu, film End Of Black Era – The Incident ini mengedepankan pemakaian kostum dan sinematografinya. Jelas saja, Mbak Aryanna yang berkolaborasi dengan Mas Yongki nggak main-main dalam menentukan dua elemen tersebut.

Setelah menonton film End Of Black Era – The Incident itu, gue pun jadi tau apa kaitannya film tersebut dengan dua film dokumenter yang diputar diawal screening.

Screening End Of Black Era

Sesi Diskusi dan Tanya Jawab tentang End Of Black Era

Pengen tau kan apa kaitannya?

Pengen tau juga kan, betapa kerennya film fantasy buatan Indonesia yang satu ini?

Nah, kalau pengen tau, segera hubungi Mbak Aryanna buat ngadain acara screening di Kota kalian. Hahaha.

Oh iya, buat yang berdomisili di Malang dan Jakarta, screening End Of Black Era – the Incident ini sebentar lagi akan mendarat ke Kota kalian kok. Jadi, tungguin infonya di Instagram End Of Black Era yaaaaak.

Ciaw!

Terimakasih buat Mbak Fasya dan Mbak Anggietak yang sudah merekomendasiin gue buat ikutan acara ini, dan terimakasih juga buat Mbak Aryanna dan Mas Yongki yang sudah bikin film fantasy asli Indonesia yang mantap parah.

Kalung End Of Black Era

Dikasih Gelang Kece dari End Of Black Era, Dong!

Sebagai penutup dan penekanan sedikit, kayaknya buat kritikus film, penikmat film, dan siapapun penyuka film, kalian harus nonton End Of Black Era – the Incident ini dan mengomentarinya demi kesenjangan perfilman Indonesia yang lebih mantap.

Terimakasih.

Foto Bareng Pencetus Ide End Of Black Era

Foto Bareng Mbak Aryanna, si Pencetus Film End Of Black Era.

Advertisements

14 comments

    1. Bahasa Angin itu gimana ya menjelaskannya. Pokoknya itu bahasa Angin ini bahasa yang diciptain sendiri buat film ini. Keren kan mbak? hehehe

      Nontonnya sih sementara ini masih lewat screening dari kota ke kota. Kalau buat umum, belum tau mbak ._. coba kontak mbak Aryannanya 😀 hehhee

  1. “kamu siapa?” hahahahahahahah woy ah!

    Btw, ditunggu tulisan 5 hari bersama Fasya dan Anggietta nya yak Feb! Wkkkk. Terus kata kamu “siape juga yang mo nulis dih!” 😥

    1. Hahahaha wlek, wlek wlek :p wkwkwk

      Wadaaaaw, bakal panjang sekali nih kalau ditulis dalam satu postingan :p wkwkw

      Mungkin akan terpisah dan gak tau kapan. Kamu, kapan nulis juga dong 5 hari ditemui Febrinya, Mbak :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s