Air yang Tenang Memblebek-blebekkan

‘Feb, nanti jam setengah 2 jemput Nova ya’

Disuatu pagi yang tenang, ketika ibuk lagi buka-buka kulkas untuk mengambil bahan makanan yang hendak dimasak, beliau menyuruh gue dengan perintah demikian. Kala itu gue lagi duduk nggak jelas di ruang tengah sembari menunduk menekan tombol handphone. Karena gue merasa lagi nggak ada kerjaan, maka gue mengiyakan permintaan ibu gue tersebut dengan senang hati.

Pagi itu gue merasa bahwa cuaca akan terang dan berawan aja. Nggak ada firasat sedikit pun tentang cuaca buruk yang akan menerjang kala itu. Meskipun, mungkin orang-orang yang tinggal di Jogja sekarang pun tau, cuaca Jogja lagi nggak stabil. Beberapa saat panas, beberapa saat kemudian hujan lebat. Beberapa saat mendung, beberapa saat kemudian nggak jadi hujan. Beberapa saat siang, beberapa saat kemudian malam.

YAIYALAH!

Waktu pun berjalan cepat setelah gue mendengar suruhan dari Ibuk. Waktu lagi tiduran di kamar sendirian, gue pun melihat jam dinding. Jarum pendek menunjuk pada angka 1 sementara jarum panjangnya menunjuk di angka 3. Gue bangkit dari tiduran dan hendak bersiap. Ketika membuka pintu dan keluar kamar. Gue melihat langit yang tadinya cerah kini tertutup oleh pekatnya awan hitam.

MUSIM-PENGHUJAN-_-Begini-Mendung-Menggelanyut-di-Kota-Solo

Source : Klik

‘Gluduk-gluduk’

Suara-suara semacam itu menghiasi langit yang mulai menghitam. Gue mulai berjalan menuju ruang tengah buat ngambil kunci motor. Tepat ketika gue mau menyalakan mesin motor, tiba-tiba…

‘Breeesssssss…’

Ujan.

Ujan Deres.

Banget.

Gue pun kembali masuk ke dalam rumah dan diem di depan kaca. Ibu yang mendengar suara hujan pun kemudian keluar kamar. Saat beliau melihat gue yang terdiam memandang hujan dibalik kaca, beliau pun berucap dengan nada pelan.

‘Nanti aja jemputnya, Feb. Nggapapa. Ujan ini’

Gue yang mendengar ucapan ibu pun cuma bisa mengangguk mengiyakan. Sesaat kemudian, gue kembali masuk ke dalam kamar dan melanjutkan prosesi tiduran yang tadi terpotong. Gue memejamkan mata. Nyaman. Tenang. Damai. Syahdu.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar gue diketuk dengan cukup keras diiringi suara ibu yang terdengar panik.

‘FEB, BANGUN. NOVA DIJEMPUT SEKARANG. JALANAN BANJIR NIH KATANYA’

Gue pun membuka mata dan mencoba memahami makna kata dari apa yang ibu ucapkan.

NOVA DIJEMPUT SEKARANG… JALANAN BANJIR NIH KATANYA.

NOVA DIJEMPUT SEKARANG, OKE.

JALANAN BANJIR NIH KATANYA, ENG…

INI EMAK GUE PENGEN GUE HANYUT KEBAWA BANJIR APE YAAAAA.

Karena ketakutan gue sama orang tua lebih besar ketimbang sama banjir, gue pun langsung bersiap-siap menjemput Nova. Sembari menyalakan motor, gue-yang-hanya-mengenakan-kaos-oblong-dan-kolor pun lantas mengenakan jas hujan. Karena cuaca yang sedang hujan deras, gue pun menaruh dompet di jok motor dan memilih untuk nggak membawa handphone.

Sampai saat gue menulis tulisan ini, gue pun tersadar. Ternyata itu adalah pilihan yang salah.

Persiapan selesai, gue pun pamit kepada bapak-ibuk untuk menjemput Nova. Ketika berpamitan dengan bapak, beliau pun mewanti-wanti gue :

‘Jangan lewat jalan ini feb, banjir. Jalan itu juga banjir. Nah, jalan anu juga banjir. Pokoknya jangan lewat jalan-jalan itu deh kalau bisa’

Mendengar pesan bapak, seketika gue pun berpikir sembali menahan sesuatu…

‘Jalan itu banjir. Jalan ini banjir. Jalan anu juga banjir. Jadi Gue jangan lewat jalan-jalan itu ya. Hmm… TERUS GUE HARUS LEWAT JALAN MANA? SEMUA YANG BAPAK SEBUTIN ITU JALAN SATU-SATUNYA YANG PASTI GUE LEWATIN KALAU NGEJEMPUT NOVA’

AAARGH!!!

EMOSI JIWA!

Heh, orang tua, heh.

Hmm…

Setelah mencoba bersabar atas apa yang terjadi, gue pun memberanikan diri untuk menjemput Nova dengan cara menerjang hujan lebat yang melanda. Jalanan di depan rumah aja udah lumayan banjir. Sampai akhirnya, beberapa menit perjalanan, gue mulai melewati jalanan yang tergenang air dengan kedalaman yang cukup mantap.

Gue mengendarai motor sembari mencoba meyakinkan diri kalau motor gue hebat. Motor gue bisa melewati semua cobaan ini. Motor gue transformer. Semua pun berjalan dengan lancar-lancar aja, hingga kemudian…

Ketika gue lagi mengendarai motor dengan was-was, gue melihat ada beberapa orang sedang menuntun motornya yang mogok karena tidak mampu melewati tingginya genangan air. Gue pun menelan ludah. Panik.

Mencoba memutar gas dengan cepat, gue melewati meter demi meter jalanan yang tergenang air tersebut. Beberapa orang disamping-samping gue yang sedang berusaha menerjang banjir pun juga melakukan hal yang sama.

Disitu, ketika sedang berjuang melewati banjir, gue melihat ada pemandangan menarik yaitu pemandangan dua orang anak yang sedang mengendarai motor dengan gelak tawa yang tanpa beban. Mereka seolah nggak mempermasalahkan banjir yang ada di depannya. Mereka nampak bahagia-bahagia saja.

Gue tersenyum melihatnya. Anak-anak kecil emang selalu terlihat tanpa beban. Anak-anak kecil itu memang bisa mengatasi masalah dengan baik.

Sembari mengamati si anak-anak kecil itu, gue masih berusaha buat memutar gas dengan kuat. Semakin melaju, banjir yang gue lewati semakin meninggi. Hingga akhirnya…

‘BLEBEK… BLEBEK… BLEBEK…’

HEEEEEE?

Motor gue macet.

Di tengah banjir. Disela-sela perjuangan gue melawan banjir. Motor gue…macet.

Gue pun diem di tengah jalan.

Diem.

Samar-samar gue mendengar suara dari anak-anak yang ada disebelah gue.

‘HAHA MOTOR MASNYA BUNYI BLEBEK-BLEBEK. NGGAK BISA JALAN. AHAHAHAHAHAHAAHA SOKOR. SOKOR’

HEEEE?

BEDEBAH INI BOCAH KAMPRET AH!

TOLONGIN KENAPA SIH HEH!

Mencoba menerima nasib yang ada, gue pun menuntun motor itu dan berhenti di sebuah ruko sembari berteduh. Gue mencoba menyalakan motor dan memutar gas, tapi nggak berhasil. Motornya sudah terlalu lemah. Motornya sudah berusaha dengan baik. Motornya bukan transformer.

C2685Q6VQAAm7Zp

Source : @Jogja24Jam

Setelah itu, sembari berteduh dan menunggu motornya normal kembali. Gue meminjam handphone orang yang lagi berteduh juga untuk menelepon ibu guna memberikan kabar bahwa motor gue sekarat dan tidak bisa melaksanakan amanah yang beliau tugaskan.

Beliau memaklumi.

Akhirnya, ketika hujan reda, Nova pulang ke rumah dengan menaiki seekor naga.

APAAN SEH!

Terimakasih.

 

Advertisements

26 comments

  1. Yogya sekarang banjir yaa.. Duh.. emang iya sih, pagi-siang puaanesseee puool.. sore hujan badai. Smg gak banjir yang makin parah yaa…
    Tapi atuhlah, gue ngakak baca si Nova pulang naik naga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s