Pertanyaan-Pertanyaan Seputar Pernikahan

Perhatian… Tulisan ini berisi 2936 kata tentang pernikahan. Jika berkenan membaca, silahkan dibaca. Jika tidak… baca dan jawab pertanyaannya saja ya. Terimakasih. Selamat membaca. Mari berdiskusi.


Beberapa hari terakhir ini… Gue memikirkan sesuatu yang agaknya mengganggu gue akan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang di zaman sekarang.

Eng…

Anu…

Gue bilang begitu bukan karena gue pernah hidup di zaman dahulu ya. Tapi gue sedikit belajar dan belajar, tentang permasalahan apa yang sedang gue pikirkan itu. Sebuah pikiran yang pada akhirnya menjadi suatu keinginan. Suatu keinginan yang pada dasarnya harus ditahan. Sesuatu yang ditahan, namun sangat berat untuk bisa ditahan.

Pernikahan.

bekal-pernikahan

Source : Klik

Baik, mungkin ini terdengar sangat klise ya. Gue duduk di bangku kuliah semester 8, belum bisa apa-apa, muka apa adanya, lulus aja nggak tau kapan, eh udah bicara masalah pernikahan aja. Aneh mungkin ya? Mungkin. Tapi menurut gue… Enggak.

Gue tau, nggak ada sedikitpun syarat menikah yang menunjukkan bahwa gue harus lulus kuliah terlebih dahulu, gue harus bisa apa-apa, gue harus bermuka tampan, gue harus lulus secepat mungkin dan blablabla, blablabla atau blablabla lainnya. Nggak ada. Kita pasti sama-sama belajar bahwa syarat dan rukun pernikahan yang sesuai syariat yang benar hanyalah :


Rukun Menikah : Pengantin laki-laki, Pengantin perempuan, Wali, Dua orang saksi lelaki, dan Akad nikah

Syarat Sah Nikah untuk lelaki : Islam, Lelaki yang tertentu, Bukan perempuan mahram dengan bakal istri, mengetahui wali yang sebenarnya bagi akad nikah tersebut, Bukan dalam ihram haji atau umrah, Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan, Tidak mempunyai empat orang istri yang sah dalam satu masa, dan mengetahui bahwa perempuan yang hendak dikawini adlah sah dijadikan istri.

Syarat Sah Nikah untuk perempuan : Islam, Perempuan yang tertentu, Bukan perempuan mahram dengan bakal suami, Bukan seorang khunsa, Bukan dalam irham haji atau umrah, Tidak dalam idah, Bukan istri orang.


Jadi, atas dasar syarat yang tertera diatas, nggak salah kan kalau gue… pengen nikah?

Sampai disini, mungkin akan ada banyak pendapat yang berbeda dan silahkan tulis di komentar. Tapi, ya beginilah gue. Gue udah merasa bahwa gue emang harus menikah.

Feb, nikah itu kamu pikir gampang? Nyatuin dua kepala yang berbeda itu susah loh. Kamu harus belajar parenting. Belajar disiplin sama. Belajar ngurus anak orang. Bebanmu bertambah. Blablablablabla…

Baiklah. Gue tampung. Tapi entah kenapa, gue selalu berpikiran bahwa semua yang seolah terdengar menjadi beban tersebut hanya bisa dipelajari dan dipraktekkan kalau kita benar-benar mencobanya deh. Kita harus ngerasain dong gimana susahnya nyatuin dua kepala yang berbeda. Kita harus ngerasain dong gimana caranya parenting. Kita harus belajar dong rasanya ngurus anak orang gimana. Jadi… YA KITA HARUS NIKAH KAN UNTUK BENAR-BENAR BELAJAR, KAN?

happy2

Source : Klik

Gue pikir begitu.

Setelah anggapan gue akan pikiran itu terbesit, kemudian muncul sebuah pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai pernikahan. Pertanyaan-pertanyaan yang entah apa jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya gue utarakan kepada… Ibunda Nanda.

Hmm… Ya, ada beberapa alasan kenapa gue memilih menanyakan pertanyaan tersebut kepada Ibunda Nanda.

Pertama, karena saat ini gue sedang menjalin hubungan dengan Nanda. Bisa dikatakan pacaran, bisa dikatakan teman spesial, atau bisa dikatakan apalah terserah. Alasan gue menjalin hubungan dengan Nanda adalah karena gue emang sayang dia dan ingin serius sama dia.

Kedua, atas dasar alasan pertama itu, gue cukup tau apa yang dirasakan oleh Ibunda Nanda yang mana mempunyai pemahaman Al Qur’an dan Hadist yang cukup baik. Sehingga akhirnya, hubungan kami berdua tidak benar-benar berjalan dengan baik.

Ketiga, atas alasan pertama dan kedua itu akhirnya membuat gue agak merasa gimana gitu. Disatu sisi, gue pengen bisa memiliki Nanda dan terus bersamanya. Tapi disatu sisi yang lain… Gue memahami bahwa memang itulah yang seharusnya dilakukan oleh Ibunda Nanda.

Melarang kami berdua berhubungan agar terhindar dari Khalwat ataupun Ikhtilat.

Gue paham betul.

Gue sangat-sangat memahami itu.

Atas dasar beberapa hal itu, akhirnya muncullah pemikiran di otak gue akan beberapa pertanyaan yang gue ajukan melalui sebuah pesan whatsapp dan gue kirimkan pertanyaan itu kepada Ibunda Nanda.

10-ide-kreatif-sebagai-souvenir-pernikahan-murah-1

Source : Klik


Pertanyaan Tentang Pernikahan yang Pertama

‘Jodoh itu di tangan Allah ya bu? Yang menentukan itu Allah. Nah, terus bagaimana kita tahu bahwa seseorang itu jodoh ita? Apakah pernikahan adalah salah satu cara untuk tau bahwa itu jodoh kita atau bagaimana?’

Dari pertanyaaan pertama itu, Ibunda Nanda menjawab bahwa pada intinya memang pernikahan merupakan salah satu bentuk dari ketetapan jodoh kita, sepanjang pernikahan tersebut dijalankan sesuai dengan syariat dan dijaga keutuhannya dalam bingkai agama.


Pertanyaan Tentang Pernikahan yang Kedua

‘Baiklah, tapi kalau dilihat sekarang, setau saya ya buk, saya melihat kok kayaknya pernikahan itu menjadi suatu hal yang rumit. Ada orang yang ingin menikah, tapi beberapa orang memberi petuah dengan pertanyaan ‘emang pernikahan itu mudah? Nikah itu susah. Blablabla blablabla’. Beberapa contoh ekstrim, banyak tolak ukur yang harus dipertimbangkan untuk menikah seperti misalnya biaya, perayaan, marga, kerjaan, dan lain sebagainya, yang mana akhirnya beberapa orang memilih untuk menyimpan dalam-dalam keinginannya untuk menikah. Lantas, apa ini berarti jodoh juga dipengaruhi (atau mungkin diperantarakan) melalui orang-orang disekitar kita?’

Dari pertanyaan kedua itu, Ibuna Nanda menjawab bahwa pada intinya pernikahan itu adalah ibadah, lalu ibadah yang diterima oleh Allah adalah ibadah yang sesuai dengan syariat. Selanjutnya, yang sesuai syariat itu yang kadang membuat orang-orang jadi merasa sulit atau bahkan merasa dipersulit. Tapi intinya, nikah itu mudah bagi yang memahami bahwa nikah itu adalah ibadah.

Setelah jawaban dari Ibunda Nanda diatas gue terima, gue menghentikan diskusi dan mengiyakan apa yang diutarakan oleh Ibunda Nanda. Sampai dua hari berselang… Pertanyaan kembali gue utarakan.


Pertanyaan Tentang Pernikahan yang Ketiga

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bu, maaf mengganggu lagi ya. Saya mau bertanya lagi. Heheh.

Jadi begini bu, beberapa hari ini saya sedang memikirkan tentang sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan. Enggak tau kenapa buk, kepikiran saja. Jadi begini bu, sesuai dengan yang ibu bilang terakhir kemarin, ibu bilang kalau ‘yang sesuai syariat itu bikin orang merasa sulit atau bahkan dipersulit’ artinya orangnya kan ya bu yang membuat hal tersebut sulit?

Dalam hal ini, saya ingin membahas tentang pernikahan yang mana notabenenya selalu dianggap sulit oleh banyak orang… padahal… ya kayaknya sih iya. Tapi, entah kenapa saya berpikiran kalau nikah itu lebih baik ketimbang zina. Yaiyalah. Tapi kan sekarang beberapa orang nggak berpikiran begitu ya buk ya? Artinya banyak orang yang memilih untuk berteman lama dengan calonnya agar mereka saling kenal, tapi, bukankah itu akan beresiko untuk berzina? Saya barusan mendengar ceramah dari Ustad Khalid Basalamah yang mana disitu dikatakan bahwa tujuan pernikahan adalah perkenalan dan perluasan hubungan. Artinya, bukankah jika kedua orang tersebut sudah saling merasa pas dan ingin saling mengenal, itu berarti mereka seharusnya menikah saja? Bukankah dengan menikah berarti mereka akan saling mengenal dan saling meluaskan hubungan yang kelak pasti akan membuka pintu rezeki?

Darisitu lalu muncul semacam anggapan bahwa nikah itu nggak mudah, butuh pembelajaran seperti :

  1. Belajar parenting, gimana cara mendidik anak biar jadi anak baik dan sholeh.
  2. Belajar mengelola uang.
  3. Melatih mental yg biasanya udah kecukupan sama orang tua.
  4. Belajar jadi orang yg masih 0 dalam segi ekonomi karena kita nggak tau apa yg akan terjadi di depan.
  5. Belajar agama buat sendiri sama keluarga terutama yg cowok nih itu penting. Soalnya imam adalah nahkoda keluarga.

Baiklah, tapi memangnya kalau belum nikah semua itu bisa dipelajari? Jadi itu berarti bahwa untuk mempelajari hal-hal tersebut, kita harus menikah terlebih dahulu, kan? Learning by doing kan?

Kira-kira itulah yang saya pikirkan bu. Entah kenapa, seperti ada yang ngganjel aja gitu. Ada banyak orang yang mungkin merasakan keinginannya untuk menikah, tapi nggak punya dana. Bukankah rezeki itu Allah yang akan mengatur? Lagipula, Allah sudah berjanji di beberapa surat Al Qur’an seperti :

‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” [QS. An Nahl (16):72].

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri ( bujangan ) di antara kalian dan orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya [ QS. An-Nur (24): 32].

Yang mana jelas disini itu jika kelak seseorang menikah, seorang perempuan yang dinikahi itu tidak mengambil rezeki si suami melainkan seorang perempuan itu punya rezekinya tersendiri. Apalagi kalau punya anak. Rezekinya anak pasti bakal ada. Yang mana ini berarti jika rezeki dalam rumah tangga pasti akan  berlipat-lipat, kan?

Jadi kenapa banyak orang tua yang seolah menahan anaknya untuk menikah? Dengan menikah, apa yang dahulunya haram dilakukan dengan pasangannya, menjadi halal dan bahkan menjadi pahala bukan?

Mmm…

Sekiranya itu sih yang jadi pemikiran saya.

Saya bukan bermaksud apa-apa ya buk. Hanya ingin sharing saja kok.

Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pertanyaan gue yang cukup panjang itu akhirnya dijawab oleh Ibunda Nanda yang mana intinya adalah beliau setuju dengan apa yang gue utarakan, namun beliau menambahkan bahwa adanya faktor pendukung namun bukan syarat yang perlu dipertimbangkan dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja, yaitu keberadaan orang-orang disekitar kita.

Restu orang tua menjadi hal yang paling penting setelah pengenalan pribadi antar keluarga masing-masing calon. Selain dua hal tersebut, tentu kesiapan mental untuk calon pengantin juga menjadi hal yang cukup penting. Materi juga penting, tapi bukan syarat, pun juga bukan berarti harus ditepikan. Materi juga harus dipertimbangkan. Gimana nanti kalau orang menikah itu masih bergantung pada orang tua, lalu mereka memiliki anak? Bukankah itu akan memberatkan? Hal itu harus dipertimbangkan  supaya tidak terjadi penyelewengan yang awalnya inginnya ibadah malah jadi maksiat.

Baiklah…


Pertanyaan Tentang Pernikahan yang Keempat

Baik, bu. Terimakasih. Iya memang sih buk, ada faktor-faktor pendukung yang mana memang bisa jadi menjadi penentu apakah pernikahan bisa terjadi atau tidak, yaitu orang disekeliling kita.

Benar memang restu orang tua itu salah satu faktor pendukung terpenting juga dalam pernikahan dimana memang sudah banyak kasusnya ada beberapa kendala pada jalannya pernikahan ketika restu orang tua tidak didapat. Meskipun kadang orang tua berkata : ‘Ikut anak aja’ tapi tetap saja kan pasti orang tua tersebut akan menilai dan memberi petuah kepada anaknya tentang beberapa hal yang mana nanti bisa saja membuat anak yang awalnya mau jadi tidak mau ataupun sebaliknya.

Keluarga besar pun juga demikan. Sangat berpangaruh dalam jalannya pernikahan atau tidak.

Saya tertarik ketika ibu membahas di point nomer tiga, yang mana ibu bilang bahwa materi bukan syarat, tapi bukan saja jadi pertimbangan. Iya bu. Benar. Materi itu sangat-sangat-sangat dipertimbangkan. Dan disini pertimbangan setiap orang mungkin berbeda-beda bukan, bu? Ada yang mempertimbangkan bahwa materi itu penting, jadi kalau menikah ya harus siap materi dulu dong. Ada yang mempertimbangkan bahwa materi itu penting, tapi nikah juga penting demi menghindari zina dan hal-hal buruk lainnya, mengingat di umur muda itu emang puncak-puncaknya kan bu? Jadi, solusinya mungkin menikah hanya untuk menghindari zina, namun juga menunda untuk punya anak terlebih dahulu sampai materi itu sudah ada. Itu mungkin, karena sekali lagi, pertimbangan seseorang atas sesuatu itu kan berbeda-beda, bu.

Setidaknya itu menurut saya.

Baik bu. Maksud saya berpikiran begini itu itu sejujurnya karena… ya karena ada rasa di dalam diri saya yang berpikiran kalau saya lebih baik menikah deh daripada begini? Saya dekat sama mba Nanda, tapi saya merasa nggak enak sama lingkungan mba Nanda. Dan lain-lain sebagainya. Tapi itu sebatas pemikiran saja kok buk. Tentu ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Seperti… ya banyak hal deh ya.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada ibu, saya tidak bermaksud apa-apa sih bu.

Terimakasih.

Pada pertanyaan keempat gue itu, Ibunda Nanda menjawab tentang kedekatan gue dengan Nanda yang mana beliau senantiasa terus memikirkannya, bukan karena lingkungan tetangga, melainkan karena tanggung jawab moral beliau sebagai orang tua. Beliau merasa berdosa apabila membiarkan gue jalan berdua dengan Nanda tanpa ikatan yang syah. Tapi disitu, beliau juga kebingungan mau bagaimana mengambil solusi yang tepat untuk kami berdua.

Kebingungan yang pertama muncul karena gue dan Nanda masih kuliah. Hal itu tentu menjadi terlihat sebagai beban utama. Kedua, karena keluarga gue dan keluarga Nanda belum cukup mengenal satu sama lainnya. Ketiga, Ibunda Nanda belum begitu mengenal bagaimana pribadi gue.

Pada akhirnya, gue diminta untuk memikirkan bagaimana harus menjalani hubungan dengan Nanda.

Ya, gue diminta untuk memikirkannya.


Pertanyaan Tentang Pernikahan yang Kelima

Maaf Bu, baru bisa membalas diskusi kemarin. Hehe. Nah, untuk masalah kedekatan saya sama Mba Nanda. Iya itu juga bu, saya nggak enak juga sama ibuk karena saya tau kalau ibuk pasti memikirkan hal tersebut. Mungkin puncak dari rasa nggak enak saya kepada Ibuk adalah waktu saya terlalu lama mengantarkan Mba Nanda pulang dari ulangtahun teman KKN kami.

Iya, saya paham buk mengenai kebelumsiapan ibu untuk menentukan kebijakan yang tepat untuk kami berdua berlandaskan ketiga alasan yang ibu sampaikan diatas. Saya masih kuliah, Ibu belum mengenal orang tua saya dan juga kekhawatiran ibu mengenai saya dan Mba Nanda yang mungkin terlihat sering bersama dengan saya.

Tapi, iya problem inilah yang saya pikirkan bu.

Sejujurnya, ketika saya ada kesempatan buat menjemput, bermain atau berkunjung ke rumah Mba Nanda, saya nggak enak sama Ibu karena yang saya tau kepatuhan ibu terhadap agama sangat baik. Ibu bicara masalah ketakutan ibu yang mana ketika melihat saya pergi dengan Mba Nanda, Ibu pasti berpikir akan masalah Khalwat dan juga Ikhtilat.

Lantas saya harus bagaimana, Bu?

Atas pertanyaan dari diri saya sendiri itu, lalu pemikiran saya mengenai pernikahan muncul. Saya berpikir kalau memang ibu tidak mau ada pikiran-pikiran buruk atau hal negatif yang terjadi diantara kami berdua, kenapa kami berdua tidak menikah saja? Setelah menikah kan apa yang awalnya zina dan dosa malah jadi pahala. Itu pemikiran pertama saya.

Setelah pemikiran pertama saya berhenti, pemikiran kedua saya muncul yang diiringi dengan pertanyaan mengenai : ‘Jodoh itu ditangan Tuhan, lantas bagaimana kita tau siapa jodoh kita? Apa melalui pernikahan? Apakah melalui perantara orang tua dan orang-orang sekitar kita’

Itu yang saya pernah pertanyakan ke ibu, karena saya mempertimbangkan hal-hal mengenai orang tua dan orang-orang disekitar kami. Pemikiran saya begini : Jika saya mengajukan diri untuk menikahi Mba Nanda, saya yakin Ibuk pasti tidak akan menyetujuinya dan mempertimbangkan banyak hal yang mungkin niat saya untuk menikahi Mba Nanda akan tertunda atau bahkan berujung kegagalan. Jadi, apa itu pertanda bahwa saya tidak berjodoh dengan Mba Nanda? Apa jodoh ditentukan melalui perantara orang tua? Dan pertanyaan selanjutnya… Ada hadist yang menyatakan bahwa : “Barangsiapa yang menikahkan anak perempuannya, maka pada hari kiamat nanti dia akan menghadap kepada Allah dengan (memakai) mahkota” dan pun Saya pernah membaca di sebuah web (entah itu benar atau tidak) bahwa Rosulullah pernah bersabda :  “Sebaik-baik PERNIKAHAN yaitu yang dipermudah dan disegerakan”. Lantas, kenapa sekarang manusia justru lebih banyak manusia yang mempersulit dan menunda-nunda?

Namun, kembali pada permasalahan mengenai tiga hal yang ibu jabarkan kemarin, saya sangat menghormati hal tersebut. Saya menghormati bagaimana dulu ibu pernah berkata bahwa calon menantu idaman ibu adalah yang isbal, berjenggot, beriman kuat dan lain sebagainya. Saya menghormati bagaimana Ayah mempunyai rencana untuk Mbak Nanda agar dia lulus, Kerja, kuliah S2 terlebih dahulu. Saya menghormati Mbak Nanda yang ingin wisuda dan bekerja terlebih dahulu. Saya menghormati semua itu, karena saya sadar bahwa restu orang tua itu sangat penting.

Jadi, tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat saya kepada Ibu, saya mohon maaf jika hal-hal yang saya paparkan itu menyinggung hati ibu atau ayah.  Ini hanya pemikiran saya bu.

Dan jika Ibu bertanya mengenai apa maksud saya berpikiran seperti itu ya karena pada dasarnya saya ingin menikah, tapi saya sadar akan bagaimana diri saya dan bagaimana kondisi, situasi, dan keadaan yang ada sekarang. Jadi ini hanya bisa menjadi pemikiran saya saja tanpa ada maksud untuk segera merealisasikannya.

Nah, terakhir, jika ibu meminta saya untuk memikirkan bagaimana saya menjalani hubungan dengan Mba Nanda tanpa harus membuat ibu takut akan kami berdua berkhalwat atau berikhtilat, apakah saya harus pelan-pelan berjaga jarak dengan Mba Nanda?

Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pada pertanyaan kelima gue itu, Ibunda Nanda hanya menjawab pertanyaan gue dengan singkat yaitu beliau setuju atas apa yang gue utarakan. Darisitu, beliau mengutarakan kesetujuannya apabila gue ingin menjalin hubungan yang serius dengan Nanda. Ibunda Nanda pun meminta gue untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran kedua orang tua gue mengenai keberadaan Nanda di hidup gue. Untuk masalah hubungan, gue dengan Nanda sekarang masih cukup baik-baik saja. Gue menghargai setiap protect yang dilakukan oleh Ibunda Nanda karena itu hak beliau sebagai orang tua. Gue sangat menghargainya.

Ya… Sampai situ saja.

Selesai?

Belum.

Setelah beberapa rentetan pesan antara gue dengan Ibunda Nanda berlanjut, sebenarnya ada banyak lagi balasan yang Ibunda Nanda berikan. Namun pada intinya, gue emang nggak bisa memenuhi hasrat gue untuk menikah lebih cepat karena pengaruh dari orang-orang disekitar gue dan juga pengaruh orang-orang disekitar Nanda. Bahkan ketika gue nanya hal ini kepada Orang tua gue, beliau merestui, namun dengan syarat bahwa gue harus lulus dan bekerja terlebih dahulu.

Jadi, bisa dikatakan bahwa jodoh itu bisa ditentukan melalui perantara orang-orang disekitar kita ya?

Gue tau, orang-orang disekitar kita memang ingin sesuatu yang terbaik untuk masa depan kita.

Beberapa contoh ekstrim yang pernah gue dengar (Mungkin sedikit yang begini, tapi miris juga sih) adalah dengan adanya keberadaan orang tua yang mematok syarat terpenting dari pernikahan adalah : Harta. Beberapa beranggapan bahwa meskipun iman seseorang itu baik, tapi jika dia tidak memiliki harta yang cukup untuk menikahi anaknya… ya mending nggak usah menikah. Sementara sebaliknya, untuk seseorang yang belum tentu memiliki iman baik, tapi dia sudah cukup memiliki harta untuk menikahi anaknya, yasudah menikahlah, pembelaannya adalah : ‘Toh, hidayah untuk berubah pasti juga datang. Pasti nanti si anak bisa beriman’

Pertanyaannya..

Bukankah yang memberi rezeki dan yang menurunkan hidayah itu sama?

🙂

Lantas, apa untuk menikah cepat, haruskah kita berasal dari keluarga saudagar yang kaya terlebih dahulu?

Untuk zaman dahulu, mungkin tidak.

Untuk zaman sekarang, mungkin iya.

Selamat mengikuti peradaban yang mengikuti adab keumuman.

Disaat beberapa dosen gue banyak yang menyarankan untuk menikah muda, mungkin dosen-dosen gue itu menyamaratakan kondisi dan situasi yang dihadapinya dengan orang lain. Padahal… Jauh berbeda. Dosen gue mungkin menyarankan menikah karena beliau hidup di lingkungan yang benar-benar mematuhi syariat agama, ditambah kondisi keuangannya yang mendukung.

Lantas bagaimana dengan orang lain?

Ya, memang banyak orang yang ingin menikah muda. Banyak. Gue yakin itu. Tapi tetep… di zaman sekarang… semua tergantung situasi dan keadaan.

Dan kehidupan masing-masing orang… Nggak bisa disamakan.

8-hal-untuk-memperkokoh-pernikahan-menurut-pandangan-islam-part-1

Source : Klik

Selamat menahan.

Terimakasih.

Advertisements

66 comments

  1. jalani aja feb,…
    nikah itu selayak melintasi hutan belantara… dan hidup disana
    tapi pada kenyataanya, nikah tuh ya kayak kehidupan mu sekarang, bedanya entar ada beban di pundakmu untuk menanggung biaya hidup istri dan anak-anakmu.. itu aja sih

    1. Hehehe, Baiklah Mas 🙂

      Bakal dijalani sebaik mungkin juga sih hubungan dan hidup ini.
      Waduuuh, nikah itu selayak melintasi hutan belantara dan hidup disana ya ._. semengerikan dan seasyik apa ya?

      Beban dipundak sih, bener :’) tanggung jawab berlipat-lipat.
      Siap? SIAP!

  2. Wiihh hebat euy kamu bisa ngobrol soal pernikahan sama ibunya nanda. Jaman sekarang rata rata berani macarin doang tp ngga berani izin buat nikahin anaknya #eh

    Tp ya feb, semua itu ada waktunya kok, ya gatau kapan sih, kalaupun belum bakal ada masa dimana kamu ngerasa “ah jadi ini alasannya gue belum nikah” atau “ternyata gue emang belum siap nikah” kalau gue sih gitu, hehe

    1. Hehhe iya Mbak. Udah pengen serius soale mbak 😀 jadi terbuka aja kan ya sekarang.
      Wadaaaw, zaman sekarang ngeri ya mbak. pacaran buat seneng-seneng doang -_-

      Emmm… tetep ada waktunya ya mbak? Nggak bisa dipercepat gitu? Nunggu apa ya emang? Errrr… tapi tetep menjalani aja deh yah.

      Duuuh, kamu merasakan gitu mba? ‘Jadi in alasan kenapa belum nikah?’ ‘ternyata emang belum siap nikah ya’

      Kadang mikir gitu juga sih mbak. Bahkan perna suatu waktu aku mikir ‘Kayaknya aku nggak usah nikah aja deh’ gitu loh mbak.

  3. Masya Allah feb. Aku terharu. Sangat. Apik luwes sopan. Kalau aku jadi ibunya nanda hmmm wajar bersikap seperti itu. Tapi yang punya nanda kan Allah. Yang menentukan jodoh kan Allah. Minta aja sama Allah. Meskipun sama kayak maut, semoga waktu menikah itu diberikan dalam kondisi baik. Siap gak siap.
    Kapan kita tahu itu jodoh kita? Waktu kelar aqad. Sampai disitu tentu tidak. Karena kita ga tahu umur jodoh kita dengan orang yang kita nikahin. Semua bisa diikhtiarkan. Aku acungin jempol buat pemikiran matang kamu ttg pernikahan. Wow gitu. Aku yang udah nikah banyak belajar.
    Banyakin puasa yak. Insya Allah ntar pas bukan puasa (baca nikah) lebih syahdu hehehehe

    1. Hehehehe, Mbak. Makasih yaaak 😀

      Iya juga sih, aku juga memaklumi apa yang dirasain ibuknya Nanda. Maklum banet :’) Ihihihi bener, Nanda punya Allah. Makanya aku juga nggak putus buat berdoa sih mbak. Tapi tetep, yang terbaiknya gimana. Aku ngikut sama Takdir yang Allah tentuin karena sekali lagi… Jodoh di tangan Allah kan ya.
      Udah bersiap kalau hal terburuk itu datang juga.

      Hmm… Jodoh bener-bener misteri tersendiri ya Mbak :’ hihihihi bahkan kalau udah akad, belum tentu itu jodoh karena juga maut siapa yang tau ._.

      Hihihihi banyakin puasaaaa… Baiklah Mbak :))

      Terimakasih ya Mbak 🙂

  4. Aku setuju banget sama pemikiranmu, daripada zina mending nikah aja. Tapi aku juga setuju sama ibunya Nanda. Karena aku kasian sama ortu temanku yang nikah waktu masih kuliah (MBA sih) dan segala sesuatunya masih ditanggung ortu. Masa iya, belum selesai membiayai anak udah ketambahan cucu. Sebenernya gak masalah kalo ortunya sanggup dan mampu tapi kalo hidup pas-pasan seakan menzalimi ortu sih.

    Hmm.. Gimana ya.. Semua emang udah diatur sama Tuhan termasuk rejeki, jodoh, bahkan maut. Kewajiban manusia jangan berserah atau pasrah sebelum berusaha dan jangan lupa berdoa selanjutnya biarlah Tuhan yang menentukan. :))

    1. Hahahah nahloooooh, pemikirane bener kabeh brati ya antara ibuk Nanda sama Aku? Wkwkwk problemnya memang begituuu sih yaaaa. Hahaha menyebalkan.

      Nah, akhirnya kan kembali pada jodoh itu diatur sama Allah 🙂 kita mah bisa apaa yaaaa

  5. Menikah itu memang ibadah, dan syarat ‘SAH’ untuk itu tidak memberatkan dirimu sepertinya (anggapan dari postingan). Tapi itu hanya akan menjadikan nya sebatas ‘SAH’ Feb, bukan perubahan bentuk dari menikah menjadi pernikahan.

    Hmm… klo hanya mengejar ‘SAH’, tentu bukan target semua orang 🙂

    Satu suara sama mbak @endaharum14, terutama poin ini : “SEMUA MILIK ALLAH”. Termasuk ‘kepemilikan’ akan rasa. DIA pemilik hati. Hati kita, hati orang tua, hati orang yang kita sayang, hati orang-orang sekeliling dari orang yang kita sayang, dst dst. Nah, karena justru kepemilikan kecintaan dan rasa sayang itu milik Allah, bukan kah seharusnya kita meng-khusyu’-kan diri? 🙂

    1. Hihihi iyaa Mbak. Sedikit tersadarkan kok aku mbaak. Setelah sekian lama tentunya ya wkwkwk pada akhirnya cuma bisa bilang ‘ya yaudahlahyaaa’ wkwkwk

      Bener, semua milik Allah 🙂 aaaakh, dapet banyak pencerahan disiniiii 😀

  6. Saya belum punya pengalaman banyak soal hubungan antarmanusia di jenjang pernikahan, haha. Bukan juga seorang Muslim sehingga pendapat saya ini mungkin tidak valid untukmu. Tapi kalau boleh pendapat, keputusan pernikahan itu bukan soal mudah untuk siapa saja sehingga pasti butuh pertimbangan yang banget-banget. Sepanjang dirimu sudah memutuskan ya jalanilah, apa pun konsekuensinya. Tapi sebelum ambil keputusan ya pertimbangkan dulu apa yang akan terjadi sekiranya kamu ambil keputusan menikah sekarang. Saya tipe orang yang yakin kalau sekiranya kita sudah firm akan satu keputusan, semesta akan mendukung untuk mencapainya.

  7. Febriiii, aku antara semangat, mules, ngilu, campur2 deh bacanya.
    Eniwei, kudoakan semoga Allah kasih jodoh terbaik untukmu di waktu yg tepat, bersama orang yg tepat 🙂 aaamiiin

  8. intinya kalo udah siap pada waktunya, jangan lupa mengundang. sekian dan terima kasih.

    btw kamu WA Ibunya Mba Nanda sepanjang itukah? apa tidak sebaiknya pertanyaan sepanjang itu dikirim melalui email saja?

  9. Yg tersulit sebenernya komitmennya. Untuk setia, berbagi suka duka, bersama sampai maut memisahkan. Kalo itu terpenuhi semua hal bs dipelajari kok 😆

  10. Gils! Febri punya nyali gede buat bahas soal sekrusial itu sama orangtuanya Nanda. Bahas soal pernikahan njir. Aku juga ngalamin kegamangan soal pernikahan sih, Feb. Bahkan mungkin kalau boleh lebay, bisa dibilang aku takut nikah. HAHAHAHA. Phobia nikah yang seseorang pernah alamin, akhirnya aku alamin juga. Takut nikah karena masih ngerasa belum dewasa, takut nikah kalau nikahnya bukan sama yang dimau. HAHAHA. TAYEK.

    Tapi entahlah, aku mencoba mengatasi kegamanganku itu dengan nonton banyak film tentang pernikahan, atau film tentang cinta romantis yang realistis. Belum sampe senekat kamu gitu, Feb. :’)

    1. Hahaha aku mikirnya karena emang bukan waktunya main-main lagi sih Chaaak wkwk jadi ya yaudah dibahas aja wkwkw.

      Aku dulu juga sempat takut nikah dan nggak mau nikah kok btw :)) hihihi sama ya kitaaaa.

  11. Kubanggaaaa pada adikku, Efeberrrriiiiihhh… btw menikah itu gak mudah sih kubilang. Belum lagi nanti kl udah punya anak.. belajar banget nahan ego, ndidik anak.. belom 2 kepala isinya beda. Tapiiii, lebih banyak enaknya sihhhh eaaaaa 🙈🙈

    1. Kamu guruuuuu sikologku selaluuuuh ~~~

      Iya Mbak, menikah itu nggak mudah. Tapi yang nggak mudah akan tetap nggak mudah kalau ga dicoba dan dipelajari kan? *INI APAAN wkwkwk

      Duuuuh, punya anak itu antara nyenengin dan susah gitu ya? wkwkw Arda gimana Ardaaaaaaa udaaa gedeee ajaa diaaa 😀

  12. Kita memang sedang berada di usia itu dan pasti bakal mikirin hal-hal seperti itu. Salut, saya sama kamu, Feb. Pengen nyerocos banyak sih. Tapi mungkin lain kali. Semga lain kali itu masih ada.

    Selamat menahan juga, kawan!

  13. Hooaaahh udah lama nggak main ke sini, tau-tau udah bahas ginian aja.
    Tapi salut juga sih sama kamu bang. Berani banget diskusi sama Ibunda Nanda.

    Kalo niatnya serius, baik, insyaAllah bakal ditunjukin jalan baiknya ya bang:)

  14. Pertanyaan penting, itu beneran tanya-jawab pake whatsapp feb? Panjang amat yak, bhahaha
    Ada alasannya, kenapa seseorang bisa cepat nikah. Ada alasannya juga, kenapa seseorang belom nikah2. Kalau menurut aku sih dideketin lagi hatinya, rajin nabung, perdalam ilmu agama.

    1. Iyaak, pertanyaannya panjaaaaang sekaliiii wkwkwk :p
      Namanya usaha ya kan yaaa. Tapi akhirnya ya gituuu dehh.

      Siaaaap yaak 🙂 terimakasih banyak Mbak Din sarannya 😀

  15. Intinya si yang gue tangkep ya feb ibunya nanda itu ngeliat kondisi dan kesiapan mu yang skrg ya pun namanya ibu apa lg anak perempuanya yang mau dilamar kehawatiran lebih yang muncul. Apa lg dgn kondisi pernikahan skrg ini kn banyak yang rentan. Beda dgn pernikahan muda jaman dulu. Ya tapi gue salut bgt gue degdegan bacanya haha berasa gw yang ngajuin pertanyaan haha

    1. Tapi ibunya udah merestui loh ._.

      Tinggal ayahnya kok. Beliau pengen aku sama Nanda lulus dan kerja dulu. Baiklaaaah, itu demi masa depan kami juga ya 🙂 hihihi

      Terimakasiiiih yaaak 😀

  16. aku salut loh sama kamu feb… berani diskusi begitu ama calon mertua :D.. dan asyiknya lg, camermu juga pintar dan mau diajak diskusi :D.. hebat ;).. kalo kalian jd menikah nanti, hubungan dengan orang tua masing2 pasti bakal rukun dan langgeng… gitu dong anak kuliah sekarang 😉 .. aku doain semoga kalian memang bisa berjodoh dan dibukain jalan supaya cepet menikahnya

    1. Hehehe terimakasih Mbak. Uda niat nih soalnya hehehe. Tapi akhirnya yaaa beginilah, aku kalah diskusi sama orang tua Nanda wkkw :d

      Aamiin 🙂 semoga bisa rukun dan harus langgeng ya Mbak 😀 Hihihi makasiiih sekali ya Mbak 🙂 semoga ya mbak 😀

  17. Nikah mah tinggal nikah Feb, mau kamu masih kuliah apa enggak atau apapun itu yang menurutmu “yaudah tinggal nikah, toh udah siap”.

    Nah, menurut kacamata ku yang tentu belum menikah ini, menikah gak cuma siap mental aja, tapi keuangan dan kehidupan baru. Kalau kamu bilang “uang bisa dicari, rezeki bisa dicari” lah yaiya memang, rezeki mah udah ada yang atur, tapi kalau kitanya aja tidak mempersiapkan rezeki itu ya terus kita mau dapetin darimana.

    Karena, setelah nikah (apalagi kamu sebagai pihak cowok) harus siap menafkahi istri kamu dari segi lahir dan batin, dia makan apa, uang bulanan, belanja untuk sehari2, dll nya. Walaupun semisalnya perempuan kamu bekerja dan punya penghasilan tapi perihal nafkahi tetep aja kewajibanmu kan. Itu baru sehari2 aja Feb, apa kabar kalau bulan depan istri kamu hamil, cek ke dokter perbulan aja udah mahal, belum tambahan obat2an, vitamin dan susu bagi ibu hamil. Di 9 bulan selanjutnya kamu harus udah siapin perlengkapan bayi dan siap menafkahi tambahan orang.

    Bukan hanya soal nafkah, tapi kamu pun harus membimbing istri kamu, dari pergaulannya sampe semua2nya. Ingat, dosa istri kamu sudah kamu tanggung karena kamu imam nya. Makanya jangan sampe istri nya salah langkah karena salah bimbingan.

    Duh kepanjangan ye komen aku. Intinya sih, kamu harus berpikir panjaaaaaang super panjaaaaang, jangan memikirkan ayok nikah karena mental udah siap. Dua pikiran yang disatukan, dua keluarga yang disatukan, itu mah udah pasti iya, tapiii gak hanya itu yang harus dimatangkan.

    Anyway, kamu berani jugak ya banyak bertanya ini itu sama ibunya Nanda. Kalau ibu ku ditanyain gitu, udah langsung aja “siap nikah gak? mari diskusi langsung, tanpa whatsapp” – EDAN. KELUARGA AKU NAPE SANGAR YA. HAHAHA.

    Oke asli ini udah kepanjangan banget.

    Jadi kamu kapan lulus nih? *tiba tiba*

    1. Hahaha mbak syaaa memang sangaaar wkwkw 😀

      Aku sudaaah tida begitu memikirkannya sih mbak. Nggak lagi ingin cepat-cepat karena emang kenyataannya nggak bisa hahaha. Usaha buat bertahan biar sampai ke tujuannya aja deh yaaaaaa.

      Orang tua Nanda juga udah ngajakin diskusi langsung gitu sih. Tapi akhirnya tetep ga bisa dipercepat kan. Jadi, ya yaudaaaaa.

      INI KENAPA AKHIRNYA NGEBAHAS LULUS YA ANJER!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s