Review Film: Dare mo Shiranai (Nobody Knows)

Gue pengen nikah.

Gue pengen kawin.

Gue pengen punya anak.

Errr… Ini anak kenapa ya kok tiba-tiba ngomong beginian?

HAKHAKHAK…

Serius deh, rasanya gue itu pengen banget punya anak dan ketika nanti gue beneran punya anak, gue pengen anak yang diamanahkan oleh Allah SWT ini bisa gue jaga dengan baik. Harapan gue sih ya biar mereka bisa tumbuh besar menjadi individu yang berguna dan bermanfaat buat banyak orang. Mmm… kalau enggak, minimal sih mereka bisa tumbuh menjadi individu yang selalu siap ketika sudah waktunya mereka diambil oleh Allah. Meskipun… Itu juga berarti gue harus siap ketika gue ditinggalkan oleh mereka.

Hmm… Ya, beberapa hari ini pikiran gue agak sedikit galau karena sibuk memikirkan kenyataan bahwa kita sebagai manusia itu bisa ‘diambil’ kapan saja. Gue pun jadi kepikiran tentang bagaimana kalau ternyata gue yang lebih dahulu ‘diambil’ oleh Allah? Bagaimana kalau gue mendahului Orang Tua gue? Bagaiimana perasaan orangtua gue nanti ketika gue diambil duluan?

Dibalik semua pertanyaan itu, dua satu pertanyaan besar yang menyelimuti :

‘Gue siap nggak ya kalau suatu saat ‘diambil’ oleh Allah?’

‘Gue siap nggak ya besok kalau besok anak gue ‘diambil’ duluan sama Allah?’

Setelah itu pikiran gue pun memberi sebuah jawaban :

‘Mmm… Apapun yang terjadi, kalau suatu saat seseorang yang gue sayangi (terutama anak gue nanti) diambil duluan sama Allah, siap nggak siap ya gue harus terima itu karena emang gue nggak akan bisa protes dan merubah keadaan yang terjadi’

Iya, gitu. Gue mikir kayak gitu.

Tapi, kalau melihat reaksi para orangtua yang mendapati kenyataan bahwa anaknya harus diambil sama Allah lebih dulu daripada mereka, gue jadi merasa kalau hal itu bukanlah suatu hal yang mudah. Iya mudah ngomongnya, tapi nggak mudah ngelakuinnya.

Anak-anak adalah seorang manusia yang diamanahkan sama Allah buat kita rawat dan kita sayangi. Mereka adalah amanah yang sangat menyenangkan dari Allah, setidaknya dari apa yang gue rasakan ketika orangtua gue merawat dan membesarkan gue. Kasih sayang mereka membuat gue mengerti bahwa anak adalah manusia yang bakal gue sayangi apapun yang terjadi sama mereka, dan… manusia yang bakal dengan berat terima ketika mereka ‘diambil’ duluan dari gue.

Pemikiran itu jadi bikin gue heran lagi…

Ini anak heran mulu deh. Heran air ya?

Diam. Kamu ngehancurin mood.

Maap.

Lagian itu KERAN, bukan HERAN! JAGA MULUTMU BAIK-BAIK.

Eciye masih dibeneriiiiiin.

DIAM!

Oks.

Ya, pemikiran itu membuat gue jadi keran heran, emang Febri ini bangkek kenapa ada orang tua yang dengan tega membuang anaknya, padahal kita semua (dan mungkin orang tua yang membuang anaknya itu) tau bahwa anak adalah amanah dari  Allah. Gue nggak akan ngasih tau kasusnya secara spesifik sih, tapi ya heran aja ketika ada banyak orangtua diluar sana yang nggak rela berpisah dari anaknya, eh ini malah ada juga orangtua yang dengan sengaja membuang amanah Allah tersebut, entah itu langsung dibuang ketika si anak mbrojol di dunia, atau  menunggu beberapa bulan lalu kemudian menelantarkan begitu saja di tepi jalan.

Semua yang gue bahas diatas itu persis kayak di film yang juga bakal gue bahas di rubrik #Seniningan kali ini.

fsaada

Source : Klik

Ya, sebuah film dari jepang dengan judul Dare mo Shiranai atau Nggak ada yang Tau terjemahannya.

Eh, gimana gimana?

Film jepang yang judulnya Dare mo Shiranai, atau Nggak Ada Yang Tau terjemahannya tuh.

Bentar, bisa ulangi sekali lagi?

Iya, Daremo Shiranai atau Nggak Ada yang Tau terjemahannya.

Gue pusing.

Sering-seringlah berpikir wahai pacarku yang baik hatinya.

Poster yang gue tampilin di atas tadi itu adalah poster versi festival Cannesnya. Jadi, film ini menceritakan tentang 4 bersaudara dari seorang wanita yang hidup sebagai single parents gitu. Awal film ini bercerita tentang kepindahan mereka ke apartemen baru, namun kepindahannya tersebut dihiasi oleh hal unik yaitu 3 anaknya harus masuk koper karena apartemen yang akan ditinggalinya tersebut hanya mengijinkan maksimal 2 orang saja yang boleh tinggal di satu apartemen.

feadsa

Iya, benar. Demi agar bisa hidup di apartement, 3 anaknya itu dimasukin koper. Diselundupin. Tindakan Ilegal. Namun terpaksa. Yaudah. Yang penting nggak korupsi. Tapi ini kan cuma film. Jadi. Ya yaudah.

Selain mereka hidup di apartemen sempit itu, ternyata keempat anak tersebut juga nggak disekolahin sama ibunya karena mereka nggak punya akte kelahiran. Sang ibu pun mempunyai peraturan selama mereka tinggal di apartemen yaitu selain anak sulung, anak yang lain nggak boleh keluar dari apartement.

Alasannya?

Wahai pacarku, kenapa kamu begitu membuatku kesal? Bukankah saya sudah bilang diatas bahwa di apartement itu hanya boleh dihuni oleh dua orang saja.

Terus?

YA KALAU SEMUA ANAK KELUAR, NANTI KETAHUAN KALAU YANG MENGHUNI LEBIH DARI 2 ORANG DONG AH!

Kirain karena apartement yang boleh dihuni oleh dua orang aja itu nggak butuh alasan.

INI BUKAN CINTA BANGKEK! ARGHHH!

Huft. Tarik Nafas. Hembuskan.

Oke lanjut.

Meskipun hidup di dalam kondisi yang kurang beruntung, tapi mereka berempat itu bisa dikatakan hebat sekaligus mandiri karena pada kenyataannya mereka itu sering ditinggal ibunya untuk bekerja. Selain itu, karena kondisi mereka yang serba dibatasi, mereka pun harus saling bertanggungjawab atas diri mereka masing-masing gitu.

Sosok yang cukup memberi inspirasi yaitu si anak sulung bernama Akira yang usianya baru 11 tahun tapi dia bisa bertanggung jawab ngerawat adek-adeknya dengan baik, bahkan ketika ibunya pergi meninggalkan mereka dengan alasan urusan pekerjaan.

feasadada

Akira itu orangnya sangat bertanggung jawab, bahkan ketika ibunya pergi untuk yang kedua kalinya namun dengan jangka waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Perjuangan Akira sebagai kakak di usianya yang masih 11 tahun itu hebat banget. Dia begitu perhatian sama adek dan juga ibunya.

feasadaggr

Ibunya pun pernah curhat gitu sama Akira, dan dari curhatan ibunya itu, Akira akhirnya memutuskan untuk mengurusi dirinya sendiri beserta adeknya tanpa harus merepotkan sang Ibu. Adek gue sekarang sih sebenernya seumuran kayak Akira juga sih, tapi dia nggak sedewasa Akira. Bahkan disuatu waktu gue jadi punya keinginan untuk memiliki adek kayak Akira.

Intinya sih Akira itu dewasa banget, tapi sedewasa-dewasanya dia, dia tetep anak kecil dan pasti bosan jadi orang dewasa terus. Kalau ibunya ingin merasa bahagia, apakah Akira dan adek-adeknya juga nggak boleh merasakan hal yang sama?

Film ini masih berisi tentang banyak hal yang membahas perihal bagaimana empat orang bersaudara yang beda ayah itu bisa survive untuk tetap hidup sendirian tanpa orangtua dan uang, bahkan tanpa diketahui siapapun. Bagaimana mereka berusaha untuk tetap hidup padahal yang kakak tertuanya aja umurnya masih 11 tahun. Film ini membuat kita berpikir tentang seberapa pentingnya anak-anak yang diamanahkan Allah ke kita sabagai manusia nggak, sih?

Sebagian orang tua akan menganggap bahwa anak-anak itu adalah makhluk super penting yang harus dijaga. Ketika ada orang yang melukai anak-anaknya tersebut, mereka pasti bakal marah sejadi-jadinya. Tapi berseberangan dengan semua itu, ada juga sebagian orang tua yang menganggap bahwa anak-anak bukanlah hal yang penting dan bisa seenak jidat dibuang begitu aja.

Bagi gue sendiri, anak-anak tentu adalah sebuah amanah terindah dari Allah yang tentunya nanti harus gue jaga sampai akhir hayat. Sekuat apapun alasannya, gue nggak bisa memaafkan orang-orang yang sampai tega menelantarkan anak-anaknya seperti apa yang biasa kita lihat di pemberitaan media massa atau televisi, dan bahkan di film ini.

Film ini sedih sih, tapi juga ada sisi indahnya tersendiri.

Walaupun tayangnya udah sangat lama yaitu tahun 2004, tapi film ini sangat reccommended buat kalian, karena  alur ceritanya bakal membuat hati dan pikiran kalian terpukul dan kembali ke jalan yang benar, yaitu jalan untuk menyayangi anak-anak. Khusunya anak kita.

Gue ngasih rating 4.5/5. Dan yang paling penting… Sayangi anak kita!

 

Terimakasih.

Ditulis Oleh : Ananda Aning Pradita

Diedit Oleh : Febri Dwi Cahya Gumilar

Advertisements

27 comments

  1. jaman sekarang, banyak anak dibuang karena kesalahan orangtuanya sendiri. karena hamil di luar nikah, misalnya. akibat pergaulan bebas. daku tak berani nonton. takut nangis.

  2. Anjay…. film yang difestivalin (bahasaku berantakan banget njir, tolong Febri perbaiki EBI-ku!) sama Cannes! Film-film di Cannes memang selalu unik dan nggak pernah mengecewakan! Aaaaaaaaaaaaaak.

    Dari judulnya aja udah sedih btw. Eh tapi… ini film sedih sekaligus indah gitu ya, Nanda? Kereeen. Ini aku mau nonton deh. Siapa tau termotivasi buat…. bikin anak. Eh. Buat berpikir anak adalah yang terpenting penting penting super penting maksudnya.

  3. Y udah tuker j adeknya sama si akira
    .
    Wah orang yg buang anak itu cuma pengen enaknya doang
    Itu g boleh bang
    Sadar bang
    Insyaf
    Kembali ke jalan yg benar

  4. oh, jadi mas Febri ini nggak nonton filmnya to, cuma ngeditin tulisan si dia. know enouh.

    Apartemennya sekecil apa ya kira-kira? dulu aku malah pernah tinggal di kontrakan satu petak yang dan diisi sama 6 orang. cuma ya nggak harus ngumpet-ngumpet sih. tapi kayaknya dibandingin sama kisah hidupnya Akira, lebih horror kisah hidup aku kalau diceritainmah.

    1. Iyaaa nontonnya seminggu sekali wwkwkw
      Errr…. kurang ngebayangin sekecil apa sih karena aku ga nonton :p wkwkwk Satu kontrakan dihuni 6 orang cukup? mayan brati itu ._.

      Iya, akira setrong abis sih ._.

  5. wahhh… kok gue jadi tersentuh pas baca review-nya..
    GILAAA… sulit banget ya untuk hidup untuk mereka..

    Perjuangan seorang IBU untuk anak-anaknya..
    Gue menyanjung tinggi sosok seorang IBU..
    Anak-anaknya juga baik-baik ya, mengerti kondisi IBU mereka..

    Salut deh buat film ini.. 😀

    #SalamKunjunganBalik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s