Death With Dignity

Errr…

Sabtu-Sabtu jam segini, pada tanggal dan kemeriahan ini, masih ada orang yang cuma duduk di depan laptop sambil diem ngotak-ngatik keyboard sendirian enggak ya?

Eng…

Bunyi kembang api jedar-jeder dimana-mana ya perasaan? Eh, engga jedar-jeder ding. Cuma bletuk-bletuk doang.

Ermm… Anyway, ini udah kesekian kalinya gue melewati malam tahun baru hanya di dalam kamar sembari tiduran, nonton TV dan juga mainan laptop. Enggak sih, nggak ngarep buat main juga. Gue orangnya kadang suka menyendiri. Nggak terlalu suka keramaian. Mundur sejenak dari keramaian kadang nggak salah kan ya?

Buat yang sekarang menjalani malam minggu sekaligus malam tahun baru ini hanya di rumah aja, mending sekarang ayok deh bareng gue buat membahas #SabtuNgomonginLagu.

Krik… Krik… Krik…

Oke. Gue sendirian. Gapapa.

Yah, pada #SabtuNgomonginLagu kali ini, gue akan membahas sebuah lagu selow abis dari Sufjan Stevens yang berjudul Death with Dignity.

Btw, ada yang udah tau siapa itu Sufjan Stevens?

Krik… Krik… Krik…

Oh iya. Lupa. Gue sendirian.

Disini ada nggak sih yang kadang merasa kayak di keramaian dan ada orang-orang disekitar kita, tapi sebenernya kita sendirian. Iya, sendirian. Ga ada siapa-siapa. Sendirian.

GAUSAH CURHAT, ANYING!

Eh, Hay~

Krik… Krik… Krik…

FAK! JANGKRIK EDAN!

Jadi, Sufjan Stevens adalah seorang seorang penyanyi sekaligus penulis lagu yang bisa mainin beberapa instrumen musik yang berasal dari Detroit, Michigan, United States. Lahir pada 1 July 1975, pria yang sudah berumur 41 tahun ini pastinya sudah sangat layak buat dipanggil dengan sebutan Om atau bapak. Pasalnya, ya kalik 41 tahun dipanggil mas 😦 . Gue yang masih 22 Tahun aja udah ada yang manggil Om, bahkan Mbah. Kan sedih.

sufjan-stevens-10

Source : Klik

Pertama kali menginjakkan kakinya di dunia musik pada tahun 2000, Sufjan Stevens kini sudah menciptakan karya-karya keren berupa lagu yang masuk di dalam 7 album dan 3 EP nya, yaitu diantaranya Silver & Gold (EP, 2012), All Delighted People (EP, 2010), Songs for Christmas (EP, 2001), A Sun Came (2000), Enjoy Your Rabbit (2001), Michigan (2003), Seven Swans (2004), Illinois (2005), The Age of Afz (2010) dan Carrie & Lowell (2015).

Gue baru tau Sufjan Stevens ini ya sekitar semingguan lalu karena direkomendasiin sama Nanda. Kala itu, dia ngirim sebuah lagu dari Sufjan Stevens yang berjudul Death with Dignity ini melalui LINE. Baru beberapa detik ndengerin, gue langsung suka…

Sama Nanda.

Err…

YA SAMA LAGUNYA, LAH!

Setelah itu, gue pun mencoba mencari lagu-lagu lain dari Sufjan Stevens ini yang akhirnya membuat gue mengambil kesimpulan : PARAH! LAGU SUFJAN STEVENS INI SEMUANYA ALUS DAN ENAK DIDENGERIN BANGET! GOKS!

Ada banyak lagu dari Sofjan Stevens yang menjadi rekomendasi buat didengerin seperti misalnya For The Widows In Paradise, For The Fatherless in Ypsilanti, Flint, Impossible Soul, Casimir Pulaski Day, I Want To Be Well, No Shade In The Shadow Of The Cross, Should Have Known Better dan juga tentu lagu yang akan gue bahas kali ini Death with Dignity.

Death with Dignity ini merupakan salah satu lagu dari album bertajuk Carrie & Lowell yang mana tajuk album tersebut diambil dari nama Ibu Kandung dan Ayah angkat Stevens itu sendiri. Jadi… ya, lagu-lagu dari album Carrie & Lowell ini secara langsung didedikasikan untuk Ibu Kandung dan Ayah Angkat Sufjan Stevens, tak terkecuali lagu Death with Dignity ini.

b1df39784b11bf795e86c081d9c329b4-1000x1000x1

Source : Klik

Spirit of my silence I can hear you

But I’m afraid to be near you

And I don’t know where to begin

And I don’t know where to begin

Diawali dengan petikan instrumen yang manis dan berulang seolah membawa kita untuk masuk ke dalam dunia yang Stevens sajikan, sebelum akhirnya, lirik pun berkumandang dengan manisnya. Menceritakan tentang seorang Stevens yang belum bisa melupakan sosok ibu, meskipun ketika sosok ibu tersebut masih hidup, hubungan antara keduanya tidak terlalu baik. Hal ini beralasan, pasalnya, sang ibu berpisah dengan Stevens ketika Stevens masih berumur satu tahun karena sang Ibu ingin berjuang melawan Schizophrenia, alkohol dan depresi. Sampai akhirnya, Stevens baru bertemu lagu dengan ibunya pada tahun 2012 yaitu ketika sang ibu meninggal dunia. Makanya, pada lirik disini Stevens bilang gak begitu deket dengan sang ibu dan nggak tau gimana memulai hubungan sang ibu ya karena dia nggak benar-benar ngerasain itu.

Somewhere in the desert there’s a forest

And an acre before us

But I don’t know where to begin

But I don’t know where to begin

Again I’ve lost my strength completely, oh be near me,

Tired old mare with the wind in your hair

Dilirik ini, Stevens masih mencoba menceritakan tentang hubungannya dengan sang ibu. Disini, dia kembali mengutarakan bahwa hubungan antara Stevens dengan sang ibu itu lumayan jauh, kalau diibaratain itu ya kayak hutan dengan gurun pasir yang luas. Namun, dibalik jauhnya hubungan keduanya, Stevens senantiasa ingin memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya.

Amethyst and flowers on the table, is it real or a fable?

Well I suppose a friend is a friend

And we all know how this will end

Disini, Stevens mencoba mengungkapkan bahwa dia nggak percaya dengan kepergian ibunya. Setelah cukup lama nggak bertemu, tau-tau sang ibu udah meninggal aja. Dia bertanya-tanya : ini nyata atau sekedar dongeng? Tapi akhirnya dia sadar bahwa pada akhirnya, semua ini pasti akan terjadi, nggak bisa diubah dan semuanya adalah kenyataan.

Chimney swift that finds me, be my keeper

Silhouette of the cedar

What is that song you sing for the dead?

I see the signal searchlight strike me in the window of my room

Well I got nothing to prove

Well I got nothing to prove

Pada lirik selanjutnya, Stevens mencoba untuk menggambarkan kesendirian dan kesedihannya setelah ditinggal oleh ibunya melalui makna kiasan bahwa burung-burung yang berkicau dan bertengger di ataplah yang sekarang bisa menemaninya. Setelah itu, Stevens ingin menyanyikan sebuah lagu untuk ibunya yang telah pergi tersebut yang mungkin bisa berarti nyanyian berupa panjatan doa gitu.

I forgive you, mother, I can hear you

And I long to be near you

But every road leads to an end

Yes every road leads to an end

Your apparition passes through me in the willows

Five red hens—you’ll never see us again

You’ll never see us again.

Ini adalah lirik terakhir dari lagu Death with Dignity yang mana pada akhirnya dia mencoba mengikhlaskan atas kepergian ibunya dan nggak lagi mempermasalahkan hubungan mereka yang kurang baik. Disatu sisi, dia memang merindukan untuk bisa dekat dengan sang ibu. Namun, disatu sisi yang lain, dia tau… Semua hal pasti ada akhirnya. Dan inilah akhir antara kedekatan Stevens dengan Sang Ibu. Mereka nggak mungkin bisa bersama-sama lagi.

Fyuuuuuh…

Sedih ya lagunya.

Tapi ya gimana? Namanya hidup, ya pasti pada akhirnya kita akan berpisah dengan orang yang kita sayangi. Sama kayak Stevens yang pada awalnya sempat depresi karena kepergian sang Ibu, namun akhirnya dia mengikhlaskan dan menanggapi kesedihannya itu dengan sebuah karya.

sufjan-stevens-10

Source : Klik

Jadi, sebelum kita berpisah dengan orang yang kita sayang, ada baiknya kita senantiasa untuk selalu ada untuk mereka dan sebisa mungkin membahagiakannya.

Hihihi.

Nih lagunya. Selamat mendengarkan.

Advertisements

12 comments

  1. Eh kita sama, di kamar sendirian mata ke hp telinga ke tv.
    Aku juga gitu, suka ngerasa sendirian. Karena pada dasarnya punya sifat yg introvert, jd sedikit kesusahan bersosialisasi di dunia nyata. Waktu ngumpul sama sahabat2 pun rasanya masih sendirian walaupun mereka2 pada heboh semua.
    *sambil download death and dignity

    1. hahaha samaan ya kemarin wkwk aku juga mata ke hape, telinga ke tv wkwkw multi talenta sekali kita ya wkwkw

      SAMA! Aku orangnya juga introvert parah sih :’ susah bersosialisasi dan cenderung nyaman menyendiri

      Selamat mendengarkan ya 😀

      1. Iya hahaa…
        Lagunya enak, pas baru pertama denger sih biasa aja, tapi pas udah diulang2 muternya baru kerasa. Cocok buat temen nulis..

  2. Feb, itu Om nya umur 41😱
    Pake krim anti aging apaan kok masih ketje ya?
    Oiya, bilangin ama dia Feb, salah satu amalan yang tak terputus adalah anak sholih yang mendoakan orangtuanya. Gitu Feb..

    1. Iyaaaak, ada mbaaaak Zi 😀 hihihi kangeeen wkwkw aku lama nggak blogwalking soalnya :’ besok setelah kuliah semester ini kelar langung blogwalking kemana-manaaaaa aaaaaaakh wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s