Okay

Minggu!

Hihihi, parah ya #SabtuNgomonginLagu kali ini. Kurang greget. Nggak disiplin. Rubriknya #SabtuNgomonginLagu, tapi kadang nggak ada postingan apa-apa di hari Sabtu. Rubriknya #SabtuNgomonginLagu, tapi postingannya ditulis di hari Minggu.

Yah, begitulah kehidupan, kak. Kadang emang nggak sesuai sama rencana~

INI NGOMONGIN MASALAH POSTINGAN! NGAPAIN MALAH BAHAS KEHIDUPAN?

Maap.

Duh, ya gimana ya. Soalnya Sabtu kemarin itu gue bener-bener nggak sempet nulis karena gue dan beberapa temen gue main-main ke Purwokerto. Sementara Sabtu kemarin gue nggak sempet nulis juga karena ada beberapa hal yang bikin gue harus balik rumah sampai pukul 00.00 WIB. Jadi… Yaudah kan yaaa? Posting hari Minggu ini aja ya gapapa kan ya? Semoga Sabtu besok kembali bisa nulis #SabtuNgomonginLagu lagiiiik.

Hmm…

Oke, pada #SabtuNgomonginLagu ini, gue akan membahas sebuah lagu dari As It Is yang berjudul Okay.

Udah pada tau As It Is, kan? Silahkan baca postingan ini dulu deh kalau memang ada yang belum tau : As It Is – Dial Tones.

as-it-is-announce-uk-tour-01

Source : Klik

Udah?

Oke.

Lagu berjudul Okay ini merupakan salah satu lagu dari album terbaru As It Is bertajuk sama : Okay yang baru akan rilis pada 20 Januari 2017 nanti. Meskipun belum benar-benar rilis, As It Is ini sudah memberi bocoran beberapa lagu dari album Okay ini yang juga menurut gue sangat-sangat-sangat keren abis seperti misal lagu yang berjudul Pretty Little Distance dan juga No Way Out.

as-it-is-okay-2017-2480x2480

Source : Klik

Dari ketiga lagu yang sudah dibocorkan oleh As It Is tersebut, gue paling suka ya sama lagu berjudul Okay ini. Diawali dengan suara unik pada bagian intronya, beberapa saat kemudian pun bagian reff langsung bersenandung dengan syahdunya.

I don’t know if I’ve been worse

I don’t know if I can change

But right now, I don’t think, I don’t think that I’m okay

Pada lirik awal yang juga merupakan bagian dari reff lagu Okay ini, si penulis lagu seolah merasa bingung dengan dirinya sendiri. Dia tidak tau apakah dirinya itu sedang terpuruk. Dia pun tidak tau apakah dirinya dapat merubah perasaan yang mengganggunya itu. Namun, dia hanya tau satu hal : Dia tidak berpikir bahwa dia baik-baik saja.

Ya, dia sebenarnya tidak baik-baik saja meskipun orang lain memandangnya baik-baik saja.

Hal ini sering terjadi dan… Menyedihkan nggak, sih?

I felt a year’s worth of hurt and sadness catching up with me

The sky I painted to silence the pain, it is bleeding into grey

Dilirik selanjutnya, si penulis lagu seolah mencoba menjabarkan apa yang terjadi pada dirinya bahwa pada satu tahun terakhir ini, dia sedang dilanda kesedihan karena rasa sakit hati senantiasa menyelimuti hari-harinya. Dia pun mencoba menganalogikan bahwa langit yang pada hari biasanya terlihat cerah bersinar menyelimuti hari-harinya untuk menutupi kesakithatiannya tersebut, kini malah berubah menjadi langit mendung yang bergeluduk.

In unfamiliar, somber surroundings, confessing all of me

A perfect stranger, she puts pen to paper, consoling in her sleep

And how foreign it felt when I opened my mouth and heard the truth come out (I heard the truth come out)

I’ve been running away, a tired respite from pain

My only Novocaine (my only Novocaine)

Selanjutnya, si penulis lagu kembali mengungkapkan keadaannya yang mana di dalam lingkup kehidupan yang asing dan terkesan muram, semua bisa mengakui keberadaannya. Di dalam kehidupan yang serba asing itu, dia melihat ada seseorang yang tak dia kenal sedang mencoba menempatkan penanya di atas kertas lalu kemudian mencoba menghibur dia dalam tidurnya.

Sekelebat kemudian, dia tersadar dan seketika berteriak sembari mendengar suara-suara yang bisikan yang memberi tahu bahwa keajaiban akan segera datang. Disitu, dia hanya terdiam. Dia merasa sudah mencoba melarikan diri dari rasa sakit yang menyelimutinya. Namun, pada akhirnya, dia tersadar bahwa dia sudah mati rasa dari segala rasa ‘ketidak-apa-apaan’ yang selama ini dia cari.

So keep your “It’ll get better’s” and I’ll keep my “I’ll be just fine’s”

I’ll show you flashes of colors and hide behind bouquets of lies

Di bagian bridge ini, si penulis seolah meminta kepada semua orang untuk menyimpan untaian kalimat-kalimat menenangkan seperti :

‘Tenang aja, semua akan lebih baik pada waktunya kok’

Lalu dia sendiri pun akan menyimpan kalimat-kalimat penuh kebohongan seperti :

‘Iya, aku akan baik-baik saja kok. Aku akan baik-baik saja’

Hmm..

Ya, pada dasarnya, kita memang tidak akan pernah tau apakah orang lain yang kita lihat didepan mata itu sedang ‘baik-baik aja’ atau enggak. Pun bahkan, beberapa dari kita ada yang tidak tau apakah dirinya sendiri itu ‘baik-baik aja’ atau enggak.

Yang kita tau, kita akan mencoba untuk terlihat ‘baik-baik aja’ agar orang lain tidak khawatir dengan keadaan kita yang sebenernya.

Jadi pertanyaannya, terlepas dari semua topeng dan kebohongan-kebohongan yang ada…

Apa kalian ini sebenernya baik-baik aja?

Selamat mendengarkan lagunya ya…

Terimakasih.

Advertisements

12 comments

  1. Posternya okay loh bang
    Berarti hampir sama kayak lagunya t2 ya bang yg oke
    Bilang saja ok
    Eh bener g sih itu lagunya t2?
    .
    Wah ini keadaan saya bgt bang
    Apalagi pas mw komen dimari
    Saya merasa bingung
    Mau komen apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s