Review Film : The Little Prince

Halo…

Nanda disini lagiiiiik…

Ulululu~

Yap, seperti yang sudah gue ceritakan di tulisan sebelumnya : Miss Peregrine’s home for peculiar children, disini gue diperbudak sama Febri buat nulis review untuk rubrik bertajuk #Seniningan. Kenapa dia memperbudak gue? Karena Febri itu merasa kalau dia gak jago nulis review film. Maka, bersiap-siaplah kalian untuk bersabar dan mengelus dada setiap kali membaca postingan review ini setiap hari Senin.

Anyway, Febri kan bilang ya kalau dia itu gak jago review film? Tapi, kalau kita lihat dari apa yang sudah dia buat untuk tulisan berjudul Zookeeper minggu lalu, sebenernya dia lumayan jago review film kok. Dia udah berusaha keras untuk menyisakan sebagian waktu dihari Minggu kemarin untuk nontonin film dan cari-cari referensi cuma buat #Seniningan ini. Luar biasa. Jadi, untuk tulisan review pertama dia dulu yang berjudul Hello Ghost itu biarlah jadi tragedi masa lalu yg gak perlu dibahas lagi.

Emmm… Enggak ding.

Itu postingan parah banget.

Sebagai makhluk evil titisan nyi pelet, gue akan terus-terusan ngolokin dia dengan Hello Ghost kampret itu.

GUE BAHAGIA MELIHAT DIA MENDERITA.

GUE BAHAGIA.

HUAHUAHUAHUAHUA

Oke, lanjut.

Pada kesempatan kali ini, gue mau membahas tentang fim yang berjudul The Little Prince.

Ada yang udah tau tentang film ini? Atau ada yang udah pernah baca buku tentang The Little Prince ini?

Baiklah, jadi, The Little Prince adalah animation movie yang dirilis pada tahun 2015 lalu. Sebelumnya, mari kita intip gambar posternya dibawah ini :

little_prince

Source : Klik

Ucul, Nggak?

Iya? Kayak aku?

Akh… Makasiiiiiiiiiiiiiih. Uwuwuwuw.

(Halo, ini gue, Febri. Gue serem deh liat Nanda begini. Prihatin. Dia nanya-nanya sendiri, jawab-jawab sendiri. Makasih-makasih sendiri. Serem. Dia memang titisan Nyi Pelet sejati)

Oh iya, The Little Prince itu aslinya French movie yang diadopsi dari buku yang juga berjudul  The Little Prince.

French Movie doang?

Enggak dong, ada versi Inggrisnya juga.

Arab ada nggak?

Ada, nanti isi filmnya si pemain The Little Prince full 90 menit lagi marawisan.

Jadi, meskipun film ini based on novel The Little Prince yang legendaris banget itu, isi cerita di dalam film ini nggak melulu real seperti apa yang ada di buku. Ya kalik apa yang ada dibuku dicopypaste di dalam film. Ga seru. Oleh karena itu, diversi film, ceritanya jadi kayak dicampur ke dalam cerita-cerita tentang manusia modern gitu.

Ada banyak hal gue suka dari film ini. Emm… Enggak, gue suka semua hal yang ada di dalam film ini, mulai dari gaya animasinya yg cute, soundtracknya yg kadang asik dan kadang sendu tergantung mood alur cerita yang ditampilkan saat itu, cerita secara keseluruhan, dialog-dialog pintarnya dan juga yang pasti adalah endingnya.

Eh ralat.

Gue benci endingnya. Ya, tapi gue nggak bisa juga sih mikirin ending yg lain. Jadi, gue suka sama endingnya, tapi gue juga benci gitu sama endingnya.

(Halo, ini Febri lagi. Gue cuma mau bilang… JADI MAUMU ITU GIMANA? SUKA ATAU BENCI SIH? HEH?!. Oke, terimakasih. Aku sayang kamu.)

Gue akan bahas itu nanti.

Film The Little Prince ini dibuka dengan opening narasi The Aviator mengenai gambar gajah di dalam ular boa miliknya. Kalo kalian udah baca buku The Little Prince, narasi ini juga merupakan opening yang ada di buku itu. Openingnya sebenarnya singkat aja, yaitu mengenai penjelasan The Aviator yang nantinya bakal menjadi orang dewasa yang bagaimana.

afa

Anyway, itu gambar gajah yang ditelan bulat-bulat sama Ular Boa, ya? Bukan topi cowboy.

ULAR BOA MACAM APA YANG BISA NELEN GAJAH BENGKAK BULAT-BULAT, KAMPRET?

Penjelasannya ada di film. Hak-hak-hak.

Setelah narasinya selesai, cerita sesungguhnya difilm ini pun dimulai.

Jadi ceritanya di film The Little Prince ini ada seorang gadis kecil (panggil saja dia The Little Girl) yang rumahnya pindah ke sebelah rumahnya si Aviator. Little Girl ini hidupnya teratur banget. Dia membuat jadwal harian dari tahun ini sampai tahun berikutnya yang isinya adalah dia bakal ngapain di hari itu dan jam berapa aja dia harus melakukan itu. Pokoknya dia rajin banget nurutin semua jadwal yang udah dia buat itu.

dasafa

War biasah ya?

Little Girl ini mungkin belum pernah ngalamin PMS sama mencret dalam satu waktu sekaligus, makanya jadwalnya bisa teratur gitu.

Sampe akhirnya dia ketemu sama Aviator yang kemudian Aviator ini mulai menceritakan tentang siapa itu Little Prince. Kemudian, setelah menceritakan tentang Little Prince, si Aviator ini pun mulai mencoba untuk mengenalkan kepada Little Girl kalau sebenernya di dunia ini ada hal yang lebih menyenangkan dari dunia penuh jadwal yang sudah dibuat oleh Little Girl.

saf

Kira-kira itu adalah isi dari pertengahan cerita pertama. Nah untuk pertengahan cerita kedua ini udah beda dari inti cerita dan lebih memberi kita pandangan lain tentang apa itu kehidupan dan apa itu kematian.

Bagi Aviator, Little Prince itu tinggalnya di asteroid.

Asteroid itu siapanya Asteri Welas?

SHUT UP! Ngganggu aja sih ini editor edan.

Sampai mana tadi?

Oh iya, jadi Little Prince itu tinggalnya di asteroid. Setiap saat dia tertawa, setiap saat dia bilang ‘hay’ ke Aviator, pun juga setiap saat dia bilang bahwa dirinya baik-baik aja di asteroid, maka, Aviator pun juga harus baik-baik saja di bumi.

z9-shoji-prince-a-20151126

Source : Klik

Bagi orang dewasa biasa yang melihat hal ini, mereka menilai bahwa Little Prince itu hanyalah khayalan Aviator, karena sesungguhnya Little Prince itu udah mati. Dead. End. Modar. Koit.

Aviator itu hanya kakek-kakek-tua-geblek-berjenggot, yang senang mengkhayal. Tidak lebih.

Oh iya, pesen aja sih, kalau lagi nonton dan masuk di bagian pertengahan cerita kedua ini siap-siap banyakin tisu. Siapa tau nanti flu mendadak terus ingusnya meler kemana-mana.

Gimana kalau endingnya?

Well, kalau untuk endingnya, gue nggak bisa menceritakannya secara detail disini. Hanya saja menurut gue endingnya ini pas banget untuk menjadi kesimpulan dari seluruh cerita.

Ada banyak banget hal yang bisa kita ambil dari film ini, mulai dari bagaimana cara kita untuk menjadi orang dewasa yang nggak membosankan, hingga mengajarkan kita tentang pandangan lain akan apa itu hidup dan apa itu mati.

Emang sih film ini cuma film animasi. Tapi, menurut gue, film ini layak buat ditonton sama semua orang. Gak cuma anak-anak aja.

Oh iya, kalau kalian penasaran sama cerita asli dari The Little Prince ini, kalian bisa cari pdf-nya di google. Adanya masih yang berbahasa Inggris ya tapi, untuk yang berbahasa Indonesia belom ada.

Eh iya, ini deh linknya. Klik aja : The Little Prince Pdf.

Kalau kalian penasaran sama filmnya, kalian bisa cari-cari deh di link download kesayangan anda, atau nyari DVD-Nya di toko-toko terdekat.

Toko Besi, ada?

Emboh, Feb. Emboh. Karepmu.

Kalau untuk rating, gue ngasih : 4.75/5

Kalian bisa liat trailernya disini :

 

Terus OST favorit gue juga bisa kalian dengerin disini :

 

“Growing up is not the problem, forgetting is.” – Aviator from The Little Prince, 2015

 

Ditulis Oleh : Ananda Aning Pradita

Diedit Oleh : Febri Dwi Cahya Gumilar

Advertisements

40 comments

  1. Cieee.. Febri udah kolaborasi aja bikin postingan blog sama Nanda, jd kapan nih berkolaborasi untuk bikin rumah dan tangga? (Baca: berumah tangga) hueheheh..

    Aku udah pernah nonton film ini, klo kata aku sih awalnya doang yg seru&bikin penasaran tentang si kakek tetangganya itu, pertengahan film ngebosenin aku mpe ketiduran nontonnya, endingnya juga biasa aja, aku lebih suka film up yg dr awal mpe akhir seru.

    1. Ulululuuuuuuuu, iya nih, berkolaborasi bikin postingan tentang review film. Duuuh, kalau bikin rumah dan tangganya kapaaan yaaaaak~ duuuh~ secepatnya ah kalau jodo wkwkw 😀

      Aaaaakh, kamu mah sukanya film begituan kalik ya mbak *lah, begituan itu apaan* wkwkw

      1. Iya juga sih, aku emang lebih suka film-film dewasa daripada kartun, lebih menantang gimanaaaa gitu 😎😎

        Kolaborasi berumah tangganya moga2 secepatnya, asal jangan kolaborasi bikin anak dulu aja hueheheh.. 😆😆

      2. ((((LEBIIIIIH MENANTANG YAAA)))) Kamu mah enak mba, kalau penasaran kan langsung bisa dipraktekin. Lah akuuuuh wkwkw

        Iyaa, Aamiin. Aaaakh wkwkwk

        Duuuh, jangan bikin anak dulu. Jangaaaan -_- wkwkw

  2. Little Girl ini mungkin belum pernah ngalamin PMS sama mencret dalam satu waktu sekaligus, makanya jadwalnya bisa teratur gitu. ——> wakakakakaka manteb bgt nih quote…

    jadi pertanyaannya, Mbak Nanda ini siapa? cewenya febry yaaaaahhhhh??? *kepo*

  3. Gatel pengen komen panjang, gapapa ya Mas Feb.

    Mulanya pas ngeliat di reader ada kata-kata ‘Nanda di sini’ (soalnya ga baca post yang Miss Peregrine), jadi tertarik buka. Pas baca beberapa baris, kok aneh sih, ini ala-ala Mas Feb banget hahaha. Eh ternyata emang bener.

    Soal reviewnya, kerenn. Menggambarkan filmnya dengan baik dan kesannya juga dapet. Saya udah pernah baca dan nonton Little Prince ini, dan jatuh hati pada buku dan filmnya. Bukunya bener-bener buku yang cocok sama usia berapapun dengan latar belakang apapun. Dan filmnya, narasi soal si anak cewek, ibunya, dan tetangganya ini menurut saya adalah contoh yang makin bikin pesan dari Little Prince ini ngena. Dan suka banget sama visual filmnyaaa, suka animasi baik animasi Little Prince ataupun kehidupan si cewek tadi. Favorit saya ketika si kakek dan si anak cewek saling menjinakkan kayak Little Prince dan rubahnya.

    Asik nih baca #Seniningannya, soalnya ga bahas film-film baru. Soalnya kalo ada film baru yang keluar, di reader muncul banyak resensi tentang film itu jadi yaa malah bosen. Kalo film-film macem gini kan enak. Mungkin karena saya penonton yang mentalnya modal donlot atau streaming, bukan penonton bioskop haha

    1. Pritaaaak 😀 hihihi makasih banyak ya udah mampir hihihi 😀
      Iyaaa, ini tulisan Nanda yang sedikit aku edit wkwkwk hakhakhak 😀

      ini film animasi kece banget yaak 😀 kamu penyuka film juga deh kayaknya 😀 hihihi detail banget tau tentang little prince ini 😀

      Aaakh, doakan #Seniningan ini berjalan terus tiap senin yaaak 😀 bahas film apa aja koook, bisa film jadul banget dan bisa film baru banget. Atau mungkin film yang belum tayang sekalipun *yakalik* wkwkwk 😀

      Hahahah iyaaa niiiih, sama, aku juga pecinta download film wkkw 😀

      1. Bukan penyuka film sih, mungkin kebetulan seleranya mirip haha. Jarang nonton film juga saya, kalopun nonton biasanya berdasarkan rekomen banyak orang, atau karena baper baca buku yang terkait filmnya, atau karena itu film Barbie.

  4. Suka juga sama film ini, nonton pas di acra Europe on Screen 2016 dan paling inget sam quote nya “Growing up is certainly odd” pliisss gue gak mau tua wkwk

  5. Aviator the legend of aank y?
    Wah berarti dy bisa semua elemen donk
    Tapi kali mengkhayal itu elemen apa y?
    Coba bang feb mengkhayal itu elemen apa? Kan abang suka mengkhayal yg kagak2

  6. eh ada filmnya ya? aku malah ga tau, baca ceritanya doang, n kayaknya ga ngerti bagusnya dimana dah huuhu, padahal katanya bestseller dah

    eh sejak kapan nanda nulis disini?

    1. Iya Mbak. Adaaaa filmnya loh ini cerita 😀 hihihi
      Lah, seriusan kamu ga ngerti bagusnya dimana? Duuuuh, selera kalik ya wkwk

      Sejaaaaak dua minggu lalu mbak. Cuma hari senin dua minggu sekali.

      1. Hakhakhak ampuuuuun mbak :’ buku itu udah tua banget ya mbak 😦 brati buku-buku sekarang kayak supernova gitu harus cium tangan sama buku Little Prince ya :’ sama kayak aku yang harus sungkem sama kamu, Mbak *Lah wkwkw

  7. Wuiiiih ketemu Nanda lagi. Kali ini bahas film animasi setelah kemaren bahas film fantasi. Fix lah aku yakin kalau Nanda ini imajinasinya tinggi. Dan anak-anak polos gemesin gitu sikapnya. Dilihat dari selera film yang dia tonton. Oke. Aku sotoy.

    Sebenarnya aku nggak terlalu suka nonton film animasi. Huhuhu. Tontonanku pada kotor 😦 Semakin malu aja aku ngebaca project kalian berdua, Feb. Dan malah pengen bikin project-an berdua juga kayak kalian. TAPI AKU BIKINNYA SAMA SIAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA :(((((

    1. Hihihi Ichaaaak 😀 hihihi

      Nanda Imajinasinya tinggi nggak ya wkwk tinggi sih, tapiiii… ya gituuu wkwkw 😀

      Hahaha Nanda emang kece. Nanda Jodohku~ lah wkwkwk~

      Yaaah, Ichak kurang suka film animasi ya? yaudaaah deh gapapaaa wkwkw

      Aaaaaaaaakh, makasiiih hihi. Semoga tetap berlanjut ya project ini. Duuuh, samaaa bebebmu dong Ichaaak 😀

  8. ini serius ada Nanda disini, eh cakep lho tulisannya (ngalahin Febri).
    Asyik
    Eniwe, saya suka reviewnya Nanda karena sejalan ama isi pikiran. Dari awal udah asyik banget. Mendekati akhir, analoginya bertambah.. terus terutama bagian akhir yang kayaknya jadi gimana gitu. Tapi ya iya, mau bikin imajinasi sendiri gimana endingnya kayaknya nggak bisa selain yang di film itu. Tapi asli enak.

    (nunggu review Nanda selanjutnya ah) btw, kasih BOLD dong buat ngebedain sapa yang nulis, yang ucrut2 keluar si Febri, muncul si Nanda

    1. Iyaaa Mbaaak 😀 Nanda disini kok setiap hari senin, dua minggu sekalik 😀 hehehe. Dan, yaaak, sepakat, dia cakeeep kalau nulis review film. Sukaaak hihihi

      Aaaaaaakh, berbakat dia yaa 😀 hihihi detail banget reviewnya. Dia movie freak banget sih mbak soalnya hihihi pantes deh yaa 😀

      Okee, Senin besok jatahnya Nanda yang nulis loooh Mbak 😀 hihihi siaaap deh, nanti tak cobaaak dibedain mana tulisan nanda, sama mana selingan ucrut-ucrutan tulisanku 😀

      Makasiiih banyak ya Mbak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s