Thanks For Coming

Halohaaaaa~

Ketemu lagi nih di hari Sabtu buat ngomongin #SabtuNgomonginLagu.

Tapi anyway, gimana nih kabar hari Sabtumu? Baik-baik aja kan itu hati? Tenang-tenang aja kan itu perasaan? Lancar-lancar aja kan itu perjuangan?

Semangat.

Yak, untuk Sabtu kali ini, lagu yang akan gue bahas adalah lagu berjudul Thanks For Coming dari Hopes Die Last.

Ada yang tau?

Okei, mungkin jarang. Biar gue jabarkan sedikit.

Jadi, Hopes Die Last adalah sebuah band bergenre post-hardcore, emocore, screamo, dan metalcore yang terbentuk pada tahun 2004 di Roma, Italia. Dengan diisi oleh 5 personel, yaitu : Daniele Tofani, Marco Mantovani, Luigi Magliocca, Yuri Santurri, dan Danillo Menna, Hopes Die Last ini sudah menelurkan 3 Album (Aim For Tomorrow (2005), Six Years Home (2009), dan Trust No One (2012)) dan 2 EP (Your Face Down Now (2007) dan Wolfpack (2013)).

1559407101526452794202406794117824670095708o

Source : Klik

Awalnya, gue nggak begitu tau tentang Hopes Die Last. Kala itu, sekitar tahun 2012, yang gue tau cuma lagu berjudul Thanks For Coming yang direkomendasikan oleh seorang temen. Lama mendengar lagu tersebut, gue pun tertarik untuk kepo-kepo mengenai Hopes Die Last ini. Ternyata, ada beberapa lagu yang menarik untuk didengerin juga seperti lagu berjudul Some Like It Cold, I Belong To The Skies dan Call Me Sick Boy.

Namun, dari sekian banyak lagu yang dibuat oleh Hopes Die Last, gue merasa, lagu berjudul Thanks For Coming yang terdapat pada EP Your Face Down Now ini tetaplah lagu yang paling keren.

Sebenernya ada dua versi di dalam lagu ini, yang pertama versi hardcore dan yang kedua adalah versi accoustic. Gue suka kedua versi ini, namun jauh lebih suka sama versi yang accoustic. Mari kita bahas liriknya sebentar.

It’s when i seemed to lose the only thing I care

I realized and saw its light in the night

I was beside a sparkling source of life

But sometimes I still see my death behind her smile

Lagu langsung di mulai dengan suara mas Daniele yang melafalkan lirik-lirik diatas diiringi dengan suara petikan gitar yang menyahdukan. Kalau kita jabarkan makna lirik awal diatas, mungkin disini si penulis lagu sedang menggambarkan tentang kebingungan atas kelanjutan hubungannya dengan si pasangan yang nggak tau harus di bawa kemana. Menurut dia, pasangannya ini sebenarnya nggak ada masalah atau bahkan sangat sempurna untuk dirinya. Namun, entah kenapa, dia malah merasa ada sesuatu yang nggak beres dari pasangannya tersebut.

I’ll be better with no remorse

But can I stop seeing you everywhere?

Run away things are getting worse

Can I stop beliving you’ll be there?

Pada lirik selanjutnya, disini si penulis lagu kayak merasa udah galau sama perasaannya kemudian bertanya-tanya sendiri : kira-kira dia sanggup atau nggak ya kalau emang harus pisah sama si pasangan? Dia pun kemudian berpikir, mungkin dia akan merasa lebih baik dan tidak merasa menyesal ketika benar-benar pergi dari si pasangan. Namun disatu sisi, dia nggak bisa berhenti menghilangkan bayang-bayang pasangannya yang senantiasa ada di dalam benak pikirannya. Seiring dengan kegalauan yang melanda dia, keadaan yang terjadi pun nyatanya semakin memburuk dan membuat dia pengen lari dari kenyataan menyakitkan tersebut.

Lies I used to understand them

All this time you’ve never comprehended

Ini adalah bagian reff yang menurut gue entah kenapa liriknya terlalu singkat, namun artinya cukup mengena. Disini, si penulis lagu mencoba menggambarkan tentang hubungan dia dengan si pasangan yang mana dia itu udah selalu mencoba untuk mengerti akan sikap-sikap si pasangan, termasuk kebohongan yang si pasangan ucapkan. Namun, si pasangan justru sama sekali nggak pernah ngerti dengan keadaan si penulis lagu.

Ngejleb ngga sih?

How do you feel? I don’t believe it’s real

It seems to be the sweetest thing when the bitter ends

I’ll go crazy for no reason

Because I can’t stop that voice inside my head

Anyway your hands are getting cold

So run away before I start to burn

Selanjutnya, pada lirik ini si penulis seolah berbalik tanya kepada si pasangan tentang bagaimana perasaannya ke si penulis lagu. Si penulis lagu pun merasa bahwa di hubungannya yang terlanjur complicated ini, semua bakal terasa indah kalau masalah-masalah yang ada itu benar-benar selesai. Dia bakal menggila tanpa alasan karena dia nggak bisa berhenti mendengar suara-suara akan keputusan β€˜apakah berhenti? Atau berlanjut?’ di kepalanya. Dia bingung harus ngapain.

So, should I stay? should I tremble and remain?

Or run away leaving nothing more to say?

Dibagian bridge ini, si penulis lagu seolah bertanya dan meminta pendapat kepada pendengarnya atas semua permasalahan yang telah dia lalui. Apakah dia harus bertahan dan mencoba untuk menyelesaikan semua masalah yang ada, atau dia harus pergi tanpa banyak-banyak berkata dan beralasan.

Kalau menurut gue, mending pergi. Nggak ada hubungan yang benar-benar berjalan baik ketika itu hanya dipaksakan. Kalaupun bertahan, mungkin dia hanya menunggu waktu aja untuk udahan beneran.

Kalau menurut kalian?

Mending dengerin lagunya dulu deh ya?

Selamat mendengarkan.

Versi Accoustic :

Versi Hardcore :

Advertisements

18 comments

  1. Kalo menurut saya sih bang
    Mending diadain pemilihan langsung
    Dari dua calon (lanjut dan engga)
    Inget pemilih resmi itu yg udah terdaftar bang
    Dan pemilih g boleh nyoblos dua kali
    Siapa suaranya paling banyak, dia yg bakal menang bang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s