Sebuah Epilog

Angin berhembus kencang diiringi dengan suara geluduk yang kadang mengagetkan. Awan sore itu cukup mendung, sesaat kemudian, rintik air hujan dengan intensitas yang cukup besar mulai mengguyur secara perlahan.

Gue terdiam di depan teras rumah. Sendirian. Menatap air hujan yang menitik deras dengan tatapan kosong. Pikiran berantakan, perasaan pun bergelut tak beraturan.

Setiap orang yang patah hati pasti melakukan apa yang saat itu gue lakukan.

Emm…

Enggak.

Setiap orang yang sedang patah hati, mereka selalu punya cara sendiri untuk menanggapi kesakithatiannya tersebut. Dan kala itu, hanya itulah yang bisa gue lakukan. Gue pernah mencoba untuk menyebuhkan kepatahhatian dengan tidur seharian, namun, setelah terbangun, rasa sakit itu masih saja terus menyerang. Gue pun pernah mencoba untuk menyembuhkan kepatahhatian itu dengan nongkrong bareng temen sampai pagi menjelang, namun, setelah kembali pulang dan terkurung dalam kamar, rasa sakit itu tetap saja menyerang.

Tidak ada yang benar-benar bisa dengan cepat menyembuhkan rasa patah.

Maka, maklumilah.

Gue masih memandang hujan yang turun dengan deras. Sambil sesekali menganalogikan hujan tersebut adalah harapan gue yang dienyahkan mentah-mentah dari atas awan. Dibiarkannya terjatuh dan terpecah lalu menyebar ke tanah secara tak beraturan.

Tangan kanan gue menggenggam sebuah ponsel. Benda yang pada masanya pernah membuat gue tidak pernah lepas darinya. Gue mencoba mengalihkan pandangan dari hujan, menuju layar ponsel. Gue melihat history chat gue bersama Nanda. Beberapa hari lalu, gue sudah menyampaikan keinginan gue untuk mundur secara perlahan. Mengambil semua harapan yang pernah gue buat bersama. Mencoba realistis atas apa-apa saja yang akan terjadi nantinya.

‘Feb, kamu lagi apa? Nggak kuliah?’

Sebuah pesan masuk mengagetkan gue yang sedang memandang layar ponsel. Nanda adalah nama yang tertera pada pengirim pesan tersebut. Setelah beberapa jam lalu dia hanya meninggalkan kode R saja pada pesan terakhir yang gue kirim, kini dia kembali dengan pertanyaan demikian.

‘Mmm… Lagi diem aja nih. Enggak. Hehe’

Tanpa banyak berpikir panjang, gue pun langsung membalas pesan tersebut.

Ya, pada dasarnya, gue memang berusaha untuk berhenti mencintai. Namun, sebagaimana orang-orang tau, berhenti mencintai orang yang sangat-sangat kita cintai adalah hal yang sangat-sangat sulit. Semua butuh proses. Maka, biarkan gue menjalani proses ini. Pelan-pelan. Pelan-pelan.

‘Ooooh… Mmm… besok ketemu yuk Feb? Makan bareng gitu.’

Pesan gue kembali berbalas dan membuat gue kaget sekaligus girang.

Ya, gue nggak bisa bohong. Gue girang.

‘Ketemu? Makan? Dimana nih?’

Tentu, gue langsung membalas pesan tersebut dengan nada sok kalem, padahal aslinya :

‘AAAAAAKH. KETEMU!!! AAAAKH, MAKAN BARENG!!! AAAAAKH, DIMANA  NIIIH AAAAKH. SEKARANG AJA SIH, YUK AAAAAAH’

Ya, gue memang alay.

Banget.

‘Ayam Penyet Surabaya, yak?’ balasnya.

‘Baiklah’

Setelah itu, hal pertama yang pengen gue lakukan adalah masuk ke kamar dan tidur. Berharap tidur adalah suatu cara yang bisa membawa gue lebih cepat menuju hari esok. Membawa gue lebih cepat untuk bisa ketemu dengan Nanda. Membawa gue untuk bisa duduk berhadapan di meja makan sambil makan sepiring ayam penyet. Membawa gue teringat, bahwa hati gue pun sudah cukup lama dipenyet-penyet.

Pada akhirnya… Tidur benar-benar membawa gue ke sebuah pagi yang lebih cerah dari biasanya. Gue menatap jam yang terpasang di dinding kamar. Jarum pendek menunjuk pada angka tujuh lebihnya lima belas menit. Gue pun bangkit dari tidur dan segera mandi.

Sesaat kemudian, waktu menunjukkan pukul delapan lebihnya sepuluh menit. Gue sudah duduk diatas motor dan menyusuri jalanan mulus kota Yogyakarta setelah sebelumnya mengabari ke Nanda bahwa gue sudah dalam perjalanan untuk menjemputnya. Ya, pada akhirnya, gue memilih untuk menjemputnya.

Pukul delapan adalah waktu dimana jalanan cukup lengang dari ratusan orang yang lalu lalang. Gue berkendara dengan santai dan mencoba untuk terlihat tanpa beban. Mata gue melihat ke kiri dan ke kanan, mengamati beberapa kios demi kios yang gue lewati.

Waktu pun menunjukkan pukul sembilan lebihnya sepuluh menit. Gue berhenti di pekarangan rumah Nanda, mematikan motor, kemudian berjalan menuju sebuah pintu bercat putih. Pintu yang sedikit terbuka ketika dulu pertama kali gue menjemput Nanda. Pintu yang dahulu pernah gue ketuk agar gue bisa bertemu dengan Ibunda Nanda. Dan mungkin, pintu yang terakhir kalinya akan gue lihat saat ini.

‘Kreeeeeeeeeek’

Itu suara hati gue yang patah.

Eng…

Enggak.

Itu adalah suara pintu yang terbuka. Kepala Nanda yang berbalutkan jilbab biru dongker menyembul keluar dari sana. Masih dengan senyum ramah. Masih dengan wajah manis. Masih dengan pipi yang kelebihan lemak. Gue pun tersenyum. Tangan kanan gue menyodorkan sebuah bunga mawar putih yang tadi gue beli di salah satu kios yang gue lewati.

‘Ini, buat cinta yang bertepuk sebelah tangan’

Gue tertawa pelan. Nanda menyambutnya dengan tertawa. Gue mencoba untuk sok tegar. Nanda mencoba untuk menjaga perasaan.

Kami pun berboncengan menyusuri jalan menuju Ayam Penyet Surabaya di daerah jalan Kaliurang. Perjalanan dari rumah Nanda menuju Jalan Kaliurang itu jaraknya sama persis seperti jarak antara Merkurius dengan Bumi.

Jauh.

Banget.

Maka, di jalan pun gue mencoba mengisi kekosongan dengan sebuah tebak-tebakan.


F : ‘Emm… Atlit, atlit apa yang suka nongkrong di konter hape hayo?’

N : ‘Emm… apa yaaaa?’

F : ‘Susi Simpati~’

N : ‘SUSIIII SUSANTIIII GEBLEEEEEEK’


Atau


F : ‘Emm… Makanan-makanan apa yang suka ngeband hayooo?’

N : ‘Emm… apa yaaa?’

F : ‘Kwetiaw One Pilots~’

N : ‘TWENTY ONE PILOTS WOI. TWENTY ONE PILOTS’


Ya, gue tau gimana gaya bercanda Nanda dan gue belajar untuk itu. Gue belajar mencari tebak-tebakan gak jelas, receh atau apapun itu biar bisa sedikit bikin Nanda ketawa-ketawa yang entah bermakna apa. Intinya, gue belajar memantaskan diri untuk Nanda.

Canda receh dan tawa yang terdengar manis pun akhirnya membawa gue pada sebuah meja lesehan nomer enam belas di Rumah Makan Ayam Penyet Surabaya. Gue duduk menghadap Nanda setelah beberapa saat tadi memesan beberapa menu makanan. Kami berdua diam. Saling memandang. Sampai akhirnya Nanda membuka suara.

‘Gini, Feb’ Dia membenarkan posisi duduknya ‘Jadi, ada maksud tertentu kenapa Aku ngajak Febri makan bareng gini’

Gue mengernyitkan dahi.

‘Iya, jadi, Aku mau sedikit mengklarifikasi atas apa-apa saja yang terjadi sejauh ini’ Nanda terdiam sebentar ‘Jadi gini, kemarin, sewaktu Febri bilang kalau Febri mau menjauh dari aku, disitu Aku ngerasa sedih dan emosi banget. Sedih karena enggan ditinggal, emosi karena Aku merasa kok udah brengsek banget ya sama Febri’

‘Akhirnya, disitupun Aku berpikir,berpikir, dan berpikir tentang banyak hal. Mencakup banyak hal.’ Nanda menghentikan kalimatnya sejenak ‘Kemarin itu sebenernya Aku menghilang sebentar karena aku ketemuan sama Putri,  temen KKN kita dan si Martin, temen kamu si manusia pomade itu. Aku cerita banyak hal tentang kamu dan aku minta saran atas apa yang terjadi ini’

‘Dari pertemuan selama empat jam diantara kami bertiga itu, akhirnya, ya ini, pertemuan ini. Aku pengen pertemuan ini terjadi’

‘Feb, aku itu sebenernya sayang sama Febri. Aku nggak mau Febri berhenti berusaha. Aku nggak pengen Febri pergi. Enggak mau’ Nanda menekankan suaranya ‘Iya, mungkin aku emang pernah salah dan bikin kecewa. Tapi itu kan dulu. Dulu Feb. Sekarang, ya rasa ini buat Febri. Aku memang orangnya realistis, jadi, ya tolong, jangan berhenti berusaha biar aku ngerasa kalau Febri itu realistis sama Aku’

Gue diem sembari menatap matanya dalam.

‘Aku itu mau pacaran, Feb. Aku mau. Yuk, kalau mau. Aku mau pacaran. Tapi ya gitu, nanti akhirnya kita backstreet aja. Ibukku nggak boleh tau kalau kita pacaran. Tapi, ah, lagian ibukku udah tau Febri juga kan? Kalau ditanya mau pacaran, aku mau pacaran, Feb. Aku mau’

Gue terhenyak mendengar beberapa klarifikasi yang Nanda ucapkan. Gue terdiam lama. Berkecamuk pada rasa yang campur aduk. Cinta, sayang, kesal, kecewa, jengkel, dan segala rasa takut yang bercampur menjadi satu.

Saat itu, gue cuma bisa menatapnya dalam. Mencari tau keseriusan yang terpancar dari wajahnya. Mencari tau makna dari setiap kalimat yang dia ucapkan. Mencari tau titik terang dari semua  yang terjadi ini.

‘Mmm… Kamu serius, Nda?’ Gue pun membuka suara.

‘Iya serius. Makanya kemarin aku nyerobot hujan buat nemuin Putri dan Martin terus minta saran. Makanya aku ngajak kamu ketemu. Makanya sekarang kita berdua ada disini. Emang nggak ada muka serius yaaa disini?’ Nanda meninggikan nada suaranya sembari menunjuk wajah seriusnya dengan telunjuk.

‘Hmm… Jadi gini Dit’ Gue tersenyum, kemudian mencoba menjelaskan ‘Sebenernya aku nggak pengen-pengen banget buat pacaran. Aku juga tau, pacaran itu sebenernya nggak ada. Tapi, di era sekarang, pacaran kan seolah jadi semacam tradisi yang gimana ya? Intinya hampir semua orang baru mengakui kalau hubungan antar dua orang itu jelas kalau mereka pacaran. Kira-kira begitu. Enggak. Aku nggak maksain kamu buat mau sama aku. Enggak maksain pacaran juga. Cuma, menurutku, dengan pacaran itu seenggaknya kita kayak mengunci pintu yang selama ini hanya tertutup aja. Ngerti nggak sih? Eng… gimana ya, ribet ya penjelasanku?’ Gue menghentikan ucapan.

‘Aku ngerti, Feb. Aku ngerti. Iya, makanya, aku mau kok. Aku mau’ Nanda menatap gue dalam.

Gue pun kembali diam dan memandang dia dalam sembari mencoba menimbang-nimbang banyak hal. Sejak makanan mulai disajikan, makanan sudah habis kami santap, Jum’atan, hingga pukul 13.10 WIB. Ada banyak pertanyaan yang gue ajukan untuk meyakinkan diri gue sendiri. Ada banyak pertanyaan yang juga gue ajukan untuk meyakinkan diri Nanda.

Sampai akhirnya, diatas motor, dalam perjalanan pulang, gue menatap mata Nanda dari balik spion. Gue berucap ke dia.

‘Jadi… Kita gimana?’

‘Ya Gimana?’ Nanda bertanya balik.

‘Yuk?’

‘Iya, Yuk’

Gue melepas pegangan tangan kiri dan memberikan jari kelingking. Nanda pun memberikan jari kelingkingnya. Jari kami pun saling berkait. Seperti halnya anak kunci yang masuk ke dalam lubang pintu dan terputar searah jarum jam, kami mengunci  hubungan kami dengan sebuah ikatan sederhana.

Gue tau, pada akhirnya, suatu saat nanti, pintu yang terkunci itu akan ada yang mendobraknya keras, kemudian membawa salah satu dari kami untuk keluar.

Pun gue tau, pada akhirnya, suatu saat nanti, pintu yang terkunci itu akan terbuka dengan sendirinya, kemudian salah satu diantara kami memilih untuk pergi.

Gue tau semua resiko-resiko itu dan gue memilih untuk tetap mengambil semua resiko tersebut… bersama Nanda. Berdua.

Di perjalanan itu, setelah resmi jadian, gue pun mencoba membuka suara.

‘Nda, belajar dari yang dulu pernah terjadi, aku mau sedikit berpesan… Sebenernya kamu wajar kalau suatu saat nanti disukai dan dikejar banyak cowok. Wajar. Itu nggak masalah, asalkan kamu biasa aja ke cowok-cowok itu’

‘Tapi, kalau pada kenyataannya kamu juga akhirnya suka sama cowok yang menyukai kamu itu, sebenernya itu juga nggak salah. Itu wajar. Asalkan, diposisimu sekarang yang udah jadian sama aku, ya kamu bilang perihal apa yang kamu rasain. Jangan pernah bohong sama perasaanmu’

‘Jadi, kalau suatu saat nanti hatimu memilih orang lain… bilang ya? Jangan main belakang. Aku lebih menerima kejujuranmu. Jangan kayak kemarin. Aku percaya kamu nggak akan nyakitin aku lagi. Aku sayang kamu’

Mendengar pesan gue itu, Nanda pun mengiyakan. Dia memaklumi ketakutan yang gue rasakan.

Di sepanjang jalan, diselingi terpaan angin yang berhembus tenang, dibawah matahari yang tertutup awan, pikiran gue terbawa akan sebuah buku bernama ‘Nanda’ yang kemarin gue tutup rapat di sebuah rak bernama ‘Kenangan’.  Ya, gue membiarkan buku itu tertutup dan tetap menjadi kenangan. Kemudian, gue kembali membuka buku  baru dan menamainya dengan judul ‘Ananda Aning Pradita’ kemudian menyampulnya dengan cover coklat bernama ‘Ikatan’. Setelah ini, buku itu akan kami tulis berdua. Bersama. Hingga nanti membawa kami kepada sebuah epilog yang entah apa akhirnya.

Selanjutnya…

Ini adalah sebuah epilog dari perjuangan gue dalam mengejar cinta Nanda.

Dan mungkin, apa-apa saja yang akan terjadi setelah ini adalah prolog dari perjuangan gue untuk mempertahankan cinta Nanda.

Dan pasti, kami berdua akan berusaha untuk menemukan epilog yang manis untuk kelangsungan hubungan ini kedepan.

Semoga.

Terimakasih.

Gue nggak pernah merasakan perjalanan cinta se-rollercoaster ini.

Dan gue nggak menyangka, ini adalah epilog yang sangat membahagiakan.

Selamat Berbahagia…

Advertisements

101 comments

  1. Akhirnya bisa posting D&F di Instagram ya…. sori masbro, aku hobi stalking IG teman2 biarpun aku sendiri nggak punya IG haha…

    Btw… ikan apa yang bisa nyanyi? Bukan Ikan.a sarasvati kelless… ada senior nya, Ikan Fawzi… 😀 😀

  2. Aku sampe berkaca-kaca bacanya. Beneran naik turun bangeeet. Apapun pilihannya semoga yang terbaik ya 🙂
    Aku mau cerita soal pengalaman backstreet jadi nggak enak. Batal deh. Hehehe.
    Semoga langgeng ikatannya ya

    1. Aaaakh :’ Mbak Ekaaa 🙂 Hihihi makasih banget ya Mbak :’) bener-bener roller coaster kan ya.
      Yaap, semoga ini yang terbaik ya Mbak :’)
      Emmm… Sebenernya ini juga nggak enak sih mbak. Aku takut juga ngecewain ibuknya Nanda. Tapi, yaudah, jalanin dulu ajaa 🙂
      Bismillah.

      Makasih ya Mbak 🙂

  3. ciye.. selamat ya feb…
    akhirnya…
    sebenarnya bukan masalah pacaran atau temenan..
    yang penting sama-sama menuju bahagia sih, gak masalah..
    kan proses itu untuk lebih mengenal masing-masing biar tidak kaget saat pernikahan entar.. *ups kejahuan yak bahasnya.. wkwkwk
    semoga… hmmm apa ya..
    kalao doain moga langgeng pacarannya, kan susah tu, masak langgeng pacarannya
    pacaran terus dong gak nikah-nikah, wkwkwk
    moga cepet kebuka jalannya, dan moga itu jodohmu nanti … 🙂 amin

    1. Ciyeee 😀 hihih

      Makasih banyak yaaa 😀
      Iya sih, sebenernya bukan masalah status, yang penting kami saling bahagia. Kami sepakat untuk itu sebenernya. Tapi, tetep aja agak gimana gitu. Jadi, biarkan ini berjalan apa adanya dulu ya 🙂

      Semoga kesampaian ke pernikahan ah. Semoga 🙂

      HIhihi doakan yang terbaiknya ya 🙂 Aamiin. Makasiiih banyaak 😀

  4. cerita yang seru…seperti naik rollcaster…
    Terkadang status itu ga penting…tetapi hubungan yang saling memahami dan saling membahagiakan itu lebih dari sekedar status “pacaran” atau “temenan”

    Kecuali kalau udah ada status di KTP : Menikah…
    itu baru penting 🙂

    Sukses terus yaa…
    maaf baru sempet BW ke blog keren ini

    1. HIhihi iya Mbak 😀 kayak naik rollercoaster banget. Patah, eh akhirnya sambung lagi.

      HIhihi bener. Nggak penting juga sebenernya status itu. Cuma… ya gitu :’ hihihi biarkan ini berjalan selayaknya aja ya. Semoga bisa benar-benar sampai ke jenjang pernikahan.

      Aamiin 🙂 Makasih banyak yaaa 🙂

  5. Iiiih febrii.. ikutan seneng deh :’) seriuuuus.. kalian berdua manis sekali kisahnya.. duuh.. aku doakan semoga kalian berdua bener2 jodoh.. aamiin.. aamiin Ya Rabb.. aku juga salut sama nanda.. dia kece deh menurutku.. hehehe~

    1. Hihihihi makasiiiih yaaak 🙂 makasih banyak. Doakan semua berjalan lancar yaaaa. Sampai jenjang yang lebih jauh lagi kalau bisa… dan kalau jodoh.

      Hihi nanda emang kece kok 🙂 dia mengagumkan.

      Terimakasih lagi 🙂

  6. Eeeeciiiieeeee……Febri jadian euy sama Nanda…..
    Febri, traktir2 ya di Ayam Penyet Surabaya….. ha-ha-ha ha

    Ya ampun ngikutin ceritanya dari awal emang berasa naik rollercoaster, sekarang aku legaaa….
    Baek2 ya kalian berdua

    1. Ciyeeee Mbak. Ciyeeee 🙂 hihihi

      Yuk yuk yukkk, traktirannya kalau ada kabar baik selanjutnya ya mbak. Lima tahun lagi lah *lah wkkww 😀

      Hihihihi iya mbak. Kayak naik roller coaster banget kan. naik tuuruuuun. Hihihi makasih ya mbak udah ikutan lega 😀

      Bismillah. Semoga baik-baik ya hubungan kamu :))

    1. Wainiiiii 😀 Makasiiiih banyak Bang Daniii 😀 Aamiin. Semoga bisa segera menjadi suami istri. Semoga :))

      Anyway, dua minggu lalu aku ketemu sama Mbak Ratri editor RockingMama bang 😀 beliau bahas Bang Dani sebagai kontributor tulisan di RockingMama loh 😀 hihihi keren memang abang kita satu ini 😀

    1. Aaaaaaakh 😀 makasiiih banyak yaaa Mbak 😀 hihihi

      Terimakasih banyak juga udah mengikuti cerita ini dari awal 😀 hihihi seneng deeeh 😀

      Aamiin 🙂 Kamu selamat berbahagia juga yaaak~ 🙂

  7. Selamat ya Feb akhirnya jadian, semoga langgeng hehee
    Speechless gue bacanya, keren sih yg pasti cara lo berpikir, tp klo nanti ada kerikil ditengah jalan. Lo harus tenang, sama seperti ini ya Feb. Keren keren. Ga semua cowo bisa sebijak elo berpikirnya, salut! 🙂

    1. Hihih terimakasih banyaak ya Mas Edo 🙂 hihi akhirnyaaa. Semogaaa ya 🙂

      Aaaakh, sekali lagi terimakasih yaa 🙂 pasti, kalau ada kerikil di tengah jalan, pasti tetep tenang kok 🙂 bismillah 🙂

  8. fyuhh~…
    udah deg-degan bacanya,,,untung gak berakhir tragedi lagi *kipas2
    yg terbaik deh, yg terbaik. semoga… *titik2 isi sendiri

    ngakak aku Mas ngeliat insta-mu… 😀

    1. Wkwkwk iya ya mbak 😀 akhirnya disini berakhir happy ending 😀
      fyuuuh 😀

      Terimakasiiiih banyak ya Mbak 😀 semoga yang terbaik sajaaa 🙂 buat aku dan buat diaaa 😀

      Aaaaakh, ketahuan sisi insta-ku yang gila itu yaaaa ._.

    1. aaaaakh, akhirnya banget ya Mbak 😀 hihihi

      Yaaaah, Alhamdulillah yaaa. Doa kalian para temen-temen blogger emang mujarab banget yaaaak. hehehe
      Ihihihi mungkin cewek memang seperti itu 🙂

      Yaaah, semoga hubungan kami baik-baik sajaaa. Terimakasih ya Mbaaak 😀

  9. Hujan memang paling asyik untuk hati yang patah, ya.

    Kirain ini cerita pahit, eh ternyata manis banget. Cerita gue kemarinan pun kalah manisnya. Uhuy~ Waaahh, jadian! Asyek. Adain GA dong. (dasar bloger pecinta kuis).

    Oiya, lu kalo udah gak jomlo potong rambut dong? :p

    1. Naaaaah, beneeer. Hujan memang pas buat hati-hati yang patah 🙂 wkwkw

      Aaaakh, akhirnya manis juga ya ceritanyaaaa 😀 hihihi

      Duuuh, GA apa yaaaaak~ wkwkwk

      Iya nih, bakal potong rambut aku Yog 😀

  10. Nda, belajar dari yang dulu pernah terjadi, aku mau sedikit berpesan… Sebenernya kamu wajar kalau suatu saat nanti disukai dan dikejar banyak cowok. Wajar.

    Seharusnya sambungannya kayak gini bag

    Yang g wajar itu kalo aku disukai dan dikejar banyak cowok

    .
    Untuk berakhir bahagia
    Jangan lupa nak
    Praktekin ilmu yang sudah saya ajarkan ke kamu

    1. Hihihihi aaakh, makasiiih yaaa Mbaaak 😀 hihihi akhirnya happy ending kaan ya 😀

      Aamiin. Semoga lancar dan baik-baik sajaaa. Semoga bisa mencapai ke titik akhir yaitu pernikahan. Aamiin. Sekali lagi, terimakasih ya Mbak 😀

  11. Ciee ciee akhirnya jadian juga. Eh btw ini Nanda yg temen KKN lu kan feb ? Awww gue turut bersuka cita deh. Hihihi
    perjuangan cinta seorang febri akhirnya berbuah manis. Hehehe

    Anyway pas dikalimat ‘ Gue diem sembari menatap matanya dalam ‘ kok jadi geli sendiri yah ngebayangin nya. So sweet tpi ngilu.. wkwkw

    Semoga deh Epilognya. Akad Nikah sama Nanda. Eaaa! Aminin feb. Dan bisa buka lembaran baru lagi dlm ikatan Rumah Tangga. Wkwkwk.. ini fikiran gue udah kejauhan yaa.. tpi who knows? Kan.. kan.. semoga..

    1. Hihihi iya Mbaaak 😀 Alhamdulillah akhirnya jadian juga ya 😀 hihihi Iyaap, ini Nanda temen KKNku dulu 😀 Aaaakh, makasiiih banyaak ya Mbak heheh 😀

      Iyaa ya, Akhirnya berbuah manis juga 😀

      Err…. iya ya, aku kok jadi geli sendiri juga ya wkwkw syiaaal wkwkw 😀

      Aamiin ya Allah. Semoga masuk ke Epilog sebenarnya dan masuk ke prolog baru yang diberi nama ikatan rumah tangga. Aaakh, aku cuma bisa berusaha dan berdoaaa~ 🙂

  12. Ini lo pake pelet atau ilmu hitam apalagi mbak dukun?

    Kenapa ya cowok2 itu gampang banget buat luluh dan ngasih kesempatan, padahal udah disakitin? Pertanyaab bagus!

  13. Ya, pada dasarnya, gue memang berusaha untuk berhenti mencintai. Namun, sebagaimana orang-orang tau, berhenti mencintai orang yang sangat-sangat kita cintai adalah hal yang sangat-sangat sulit. Semua butuh proses. Maka, biarkan gue menjalani proses ini. Pelan-pelan. Pelan-pelan.

    Bagian ini bikin baper :’v

  14. Setelah beberapa saat baca postingan long gone and move on, trus tiba tiba muncul kata taken, APAAAHH? TAKEN? *sorry ga santai, haha*Gue langsung cek kalau gue melewatkan sesuatu, dan postingan ini menjawab semuanya. Gileeee ngikutin cerita lo dari awal pdkt, patah hati, sampai akhirnya dikejer balik *ih apa kan aku bilang feb, hihihi* selamat yaaaaaa, semoga langgeng jadi jodoh dan berdiri berdampingan di pelaminan nanti~ duh! Aku terharuuu

    1. Hihihiih Makasiiiih Mbaaaak udah ngikutin ceritaaaaaku yang itu dari awal sampai akhiiiiir ini hihihi senennnng mbaaak akhirnya udah berhasil. Happy Ending nih kehitungnya 😀 wkwkwkw hiihihii

      Aaakh bener mbak, kamuuu bener.

      Semogaaa ya Mbak. Semoga bisa langgeng dan bisa berdampingan di pelaminan. Aaaakh. Aamiin 🙂 Sekali lagi, terimakasiiiih ya Mbak 😀 hihihi

  15. Kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen.
    Selamat, Mas. Semoga langgeng dan berbahagia.

    Kerasa banget kalau pas nulis ini, ada 100% perasaan yang mengambil alih.
    Tenang, indah, menginspirasi.

    1. Aaaaaaaakh 😀 hihihi Makasiiiih banyaak yak Mas Dion 😀 hihihi Aamiin. Semoga bisa langgeng. Kamu selamat berbahagia juga yak 🙂

      HIhihi iya nih, pake perasaan banget dan yaaah, beginilah :”)

  16. argh bang feb demi apa aku baca ini langsung baper! awalnya galau berujung bahagia gini. bang feb selamat ya! aku turut senang bacanya.
    ih nggak tau lagi mau ngomen apa. gemes diriku dengan ceritanya. gemes sama tokohnya. sama alurnya juga. semoga nggak mentok di ikatan yang sekarang ya. lanjutkan! kudukung dari sini :’D

    1. Aaaaaaakh, Riskaaa 🙂 Hihihihi Alhamdulillah yaaa. Alhamdulillah banget. Akhirnyaaa ujung dari cerita ini yaa bahagia adanya. Hihihi maaf ya bikin gemes :’)
      Yaaaaaaah, aku berusaha untuk mempertahankan dan membuat semua berjalan lancar. Semoga baik-baik saja sampai jenjang pernikahan :3

  17. Cihuuuiii.. jadian!! baca ini aku jd keingetan jaman awal2 pacaran dulu, orang yg lg jatuh cinta itu toleransinya tinggi, mo dia bau ketek kek, tukang php atau punya gebetan segudang juga bodo amat, giliran nikah aja hal kecil bs dipermasalahin jadi gede hahahaha #curcol

    Pokoknya nikmatin aja ya masa2 indah pacaran sebelum menuju ke level hubungan yg lebih tinggi yaitu Menikah!!

    1. Hahaha cihuuuuy nihuuuuy, bisa ajaaa nih kamu Mbak Nyablak 😀 wkkwkw iya juga ya mbak, masa-masa pacaran kayaknya sok-sok di indah-indahin wkwk kalau udah nikah nanti, tau deh busuknya dan cueeeek aja wkwkw 😀

      Aaakh, pengen nikah terus horni-hornian *lah wkkw

  18. Ini kelanjutan yang kemaren, ya Feb? Wah…. Kelar baca ini. Gue hening lama. Serius. Bentar. Gue lamain dulu.

    .
    .
    .
    .
    Engg…

    Kalo mengingat hujan, gue kok ngerasa pengen nyama-nyamain perjuangan gue dulu, ya. Tapi, mungkin sakitnya lebih ke gue, sih. Harus rela dianya diambil orang dulu. Putus, baru gue nyoba berjuang lagi.

    Tapi, kalo lo bahkan sampe ngobrol ke orang tuanya (di cerita sebelumnya) dan ternyta, awalnya ditolak bukan karena si dianya ngerasa gimana gitu. Nggak suka. Tapi, dia masih butuh waktu buat meyakinkan dirinya.

    Salut buat Nanda yang hujan-hujan masih rela ketem temen2 KKN buat mastiin, seberapa pantas lo jadi begian hidupnya. Asoy… Selamat ya, Feb.

    Kisah baru akan dimulai. Jangn lupa kencangkan layar.

    1. Hmmm… kita pernah memiliki kisah yang hampir serupa ya. Mungkin aku lebih beruntung. Atau… entah lah 🙂

      Seenggaknya kamu bisa ndapetin dia kan ya bang? sukseees dong ah 🙂

      Iyaa, butuh waktu dianya, dia datang pas aku mau pergi. Itu gimana ya? mmm yaudah deh.

      yah, dia memang mengagumkan.
      Makasih ya Bang ya:) hihihi iya nih, sedang mengencangkan layar 🙂

  19. Hai hai, gua mampir lagi di sini. Di postingan yg lalu, gua pernah cerita kalo gua juga mengalami hal yg sama dengan lu kan bertahun2 yg lalu? Tapi gua bersyukur, bahwa endingnya ternyata beda hahaha. Selamat ya, sudah berhasil mendapatkan si Nanda. Gua cuma pesen sama lu, walaupun lu adalah seorang cowo yg romantis, tapi ga selamanya romantis itu baik. Kayak pas lu ngasih bunga putih itu, menurut gua itu langkah yg salah, yg bisa bikin hubungan lu sama Nanda tambah awkward.

    Berdasarkan pengalaman gua, mempertahankan cinta itu lebih sulit daripada mengejar cinta. Tapi ya gua yakin lu dan Nanda pasti bisa. Lu jangan terlalu banyak mengungkit-ngungkit soal suatu hari salah satu dari kalian akan pergi duluan atau apapun itu. Berpikir positif donk! Jangan terlalu takut kehilangan, percayalah sama diri sendiri dan sama pasangan lu, bahwa kalian bisa melewati segala rintangan yg bakal kalian hadapi.

    Satu saran soal cew, gua kutip dari kata-katanya Pidi Baiq
    “Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tetapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang”
    Lu ga usah takut dia mencintai orang lain atau apapun itu. Yg harus lu lakukan cuma satu : buatlah dia bahagia sama lu. TITIK. Udah, itu aja.

    Kalo dia bahagia sama lu, meskipun ada cowo laen yg lebih ganteng, lebih kaya daripada lu, dia ga akan pernah ninggalin lu. Cemburu itu boleh, tapi cerdas-cerdaslah dalam mencemburu. Jangan terlihat posesif atau ketakutan saat lu ada saingan, tapi jadilah seorang cowo yg “tidak tergantikan” bagi dia, dan dia ga akan pernah pergi dari lu.

    1. Haloooo :’) Ini komentar aku note banget loh. Sumpah. Aku suka dan aku setuju sama komentarmu ini 🙂 terimakasih banyak ya. Aku belajar banyak dari komentarmu ini. Hihihihi

      Masalah bunga putih itu, kan aku ngasih karena emang waktu itu aku udah nyerah. Eh setelah itu, dia maju. Yaa awkward ya. wkwkwk

      Terimakasiiiiih banyaaak banget ya komentarnya 🙂 aku sukaaa dan aku bakal inget komentar ini buat menjalani hubungan sama dia 🙂

  20. AKU BELUM KOMEN TULISAN INI MARAH GAK FEB? HAHAHA PADAHAL UDAH BACA LAMA.

    Hidupku berkurang bebannya karena gak ada yang nangis2 sesengguhkan di telfon lagi, Alhamdulillah ya Allah *digebuk Febri*. Selamat pokoknya, jangan lebay pacarannya, jangan mau disakitin hatinya, dan bertanggung jawablah sama apa yang udah dipilih.

    KALAU PACARAN KALI INI SAMPE NIKAH TAPI GAK UNDANG AKU KE JOKJA, KETERLALUAN POKOKNYAH!

    1. HAKHAKHAK DASAAAR MANUSIA HITS BANDUNGS~

      Syial yaaa, syiaaaal yaaa yang dulu nangis sesesenggukan siapa :’ aku cuma nangis biasa kok *lah wkkwkw

      Aamiin. Iyaak, Mbak. Nggak lebay kok. Disakitin gak yaaa, bertanggung jawab kok Mbak.

      HIhihi doakan sajaa, Mbak. kalau jadi, pasti diundang kok. Hekhekhek

  21. Banyak sekali yang mendoakan perjuangan kamu lhoh feb lewat blog ini, banyak yang dukung kamu, aku ini lagi pegang pompom. Bagus endingnya, segera lulus dan ke pelaminan yeee?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s