Ketakutan-Ketakutan Itu

‘Fyuh’

Seorang temen menghela nafas ketika rutinitas perkuliahan usai. Kala itu waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB. Waktu dimana senja mulai melambaikan tangan di ufuk barat, disertai dengan hiasan warna jingga yang menyilaukan. Gue berjalan disamping teman yang sedari tadi menghela nafas dan nggak henti-hentinya memasang wajah murung.

‘Kenapa, kampret?’ Sekedar mencoba berempati, gue bertanya pokok permasalahan yang sedang dia alami.

‘Gue takut, Feb’ Dia menjawab sembari menundukkan kepala. Langkahnya pelan, seperti siput ambien yang sedang berjalan.

‘Hah?’ Gue bingung dan menoleh ke berbagai arah, mencari apakah ada sesuatu yang aneh disekitar kami ‘Lo takut kenapa, Pret?’ Lanjut gue ketika mendapati yang sedang berjalan di lantai satu kampus hanya tinggal kami berdua dan bersiap-siap menggampar temen gue ini jika dengan polos dia menjawab ‘Takut sama lo, Feb’

‘Ya takut aja’ Jawabnya dengan nada sedikit agak tertahan. ‘Lo pernah nggak sih jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama seseorang, terus seiring berjalannya waktu, muncullah ketakutan-ketakutan yang menyelimuti diri lo?’

‘Hmm…’ Gue bergumam pelan. Sok-sok berpikir.

‘Kenapa sih rasa cinta kadang harus diiringi oleh rasa takut?’ Temen gue kembali bertanya perihal ketakutan-ketakutan itu. Gue cuma bisa melirik ke arah muka temen gue itu ketika pertanyaan tersebut terlontar. Terlihat jelas wajah ketakutan yang dia tampilkan.

‘Kadang gue merasa takut ketika apa yang gue usahain ke dia nggak berhasil ngebahagiain dia. Kadang gue merasa takut ketika obrolan-obrolan yang gue sampaikan ke dia nggak berhasil bikin dia ketawa. Kadang gue merasa takut ketika kami berdua jalan, dia merasa nggak nyaman. Kadang gue takut, justru ada orang lain yang berhasil ngebahagiain dia. Kadang gue juga takut, justru ada orang lain yang berhasil bikin dia ketawa. Pun gue takut, justru ada orang lain yang berhasil bikin dia nyaman’ Temen gue berucap sambil berjalan menuruni tangga dengan nada yang benar-benar penuh ketakutan. ‘Kenapa cinta harus diiringi rasa takut? Bukannya cinta itu membahagiakan, tapi kenapa ini kok kesannya menakutkan?’

Gue masih mencoba mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan yang temen gue utarakan, sampai akhirnya kami berdua sampai di tempat duduk yang ada di deket parkiran.

‘Sini duduk sebentar’ Ucap gue sembari mencoba menenangkan. Tanpa berbasa-basi, temen gue pun langsung duduk di depan gue sembari menopang dagu, memperlihatkan wajah murungnya yang entah kapan mereda.

Gue menatap matanya. Sayu. Sejenak kemudian, temen gue menatap balik. Kami saling menatap. Lama. Kami goyang tatap-tatapan.

Teroret-teroret.

NDASMU!

‘Sebenernya pokok permasalahan yang kamu hadapi sekarang itu gimana?’ Gue membuka sesi curhat untuk temen gue satu ini. ‘Coba ceritain dari awal deh?’

Mendengar pertanyaan yang gue utarakan, temen gue pun membenarkan posisi duduknya. Sesaat kemudian, dia menengadahkan wajahnya keatas. Mencoba meraba-raba kisah yang telah dia jalani beberapa waktu yang lalu. Selanjutnya, dengan helaan nafas panjang, dia membuka suara.

‘Gue itu suka sama cewek. Belum lama sih, baru sekitar dua bulan. Tapi, apa yang dia perlihatkan ke gue mulai dari sifat, kelakuan dan pribadi baiknya itu sudah benar-benar berhasil membuat gue jatuh sejatuh-jatuhnya sama dia’

‘Hari-hari gue pun senantiasa gue jalani bareng dia. Hampir disetiap kesempatan yang ada, gue selalu menyempatkan diri untuk menemui dia hanya untuk sekedar nemenin dia di kampus, makan bareng atau nemenin dia ngerjain tugas-tugas kuliah. Intinya, setiap waktu luang gue itu senantiasa siap gue luangkan buat dia. Demi dia’

‘Ketika kami berdua nggak ketemu, sebisa mungkin gue menyempatkan waktu untuk mengirimkan pesan-pesan singkat ke dia. Atau kalau memungkinkan, gue sesekali nelponin dia. Intinya, gue nggak bisa sehari tanpa dia’

Temen gue menghentikan ceritanya sejenak.

‘Mmm… Bukannya itu bagus ya? Kan itu kodratnya orang yang jatuh cinta? Terus, apa masalahnya?’ Gue mencoba bertanya.

Temen gue diem. Dia menatap gue dengan tatapan kosong. Sebelum akhirnya…

‘Masalahnya, gue nggak tau gimana perasaan dia ke gue’

Sekarang, giliran gue yang diem.

‘Setiap kali jalan bareng, gue merasa bahwa dia sama sekali nggak nyaman jalan bareng gue. Dilihat dari mimik wajah dan gerak-gerik yang dilakuin seseorang, kita pasti bisa tau apakah orang itu nyaman atau enggak kan?’

‘Setiap kali jalan juga, gue sering melihat, ketika dia melihat layar hape, dia sering ketawa-tawa sendiri. Seolah orang diseberang sana yang entah siapa itu bener-bener bisa bikin dia ketawa. Bukannya kenyamanan dan ketertarikan seseorang itu terkadang bisa dilihat dari tawa seseorang itu sendiri, kan?’

‘Dari semua hal itulah akhirnya gue berspekulasi sendiri, ‘jangan-jangan ada orang lain?’ ‘jangan-jangan dia nggak suka sama gue’ ‘jangan-jangan gue gagal bikin dia nyaman’ yang akhirnya malah membuat gue memiliki ketakutan-ketakutan itu. Gue bener-bener takut. Ada orang lain yang mungkin lebih baik dari gue, yang jauh lebih tampan, lebih lucu, lebih bisa bikin nyaman dan lebih bisa bikin dia percaya diri. Gue takut, Feb. Takut’

Temen gue menumpah ruahkan segala keluhnya. Wajahnya gusar karena rasa takut yang dia rasakan.

‘Orang yang lebih baik dari lo itu banyak, kalik’ Gue merespon tanpa berniat menyakiti temen gue ‘Tapi kan yang mencintai dia dengan tulus itu cuma lo?’

Temen gue memandang gue sambil menggelengkan kepala.

‘Cinta aja sekarang nggak cukup, Feb’ Dia membuka suara ‘Sekarang, cewek-cewek mungkin lebih memilih mereka yang bener-bener bisa bikin nyaman, ketawa dan bikin dia percaya diri ketika ngenalin cowoknya itu di depan temen-temennya’

Gue diem.

Ucapan temen gue ada benernya.

Kadang, itu adalah problem orang yang mencintai terlalu dalam, tapi orang yang dicintai itu nggak secinta itu kepada kita. Pada akhirnya, sebagaimana yang orang mencintai lakukan kebanyakan, kita harus menerima bahwa itu adalah kodratnya. Sampai akhirnya, kenyataan membuat kita tau tentang buah kemungkinan : ‘Dia enggan memilih kita’ atau ‘Dia memilih kita’

‘Gue tau kok problem yang lo rasain. Tapi seenggaknya, ya sekarang lo cintai dia sebagaimana lo benar-benar mencintai dia aja. Pada akhirnya, suatu saat dia akan nyadar bahwa selama hidupnya, dia pernah dicintai sedalam-dalamnya oleh lo’

‘Tapi nggak usah terlalu mengharap balasan juga sih. Takutnya, yang lo dapet nanti bukan balasan berupa cinta, tapi justru sekedar balasan berupa belas kasihan. Gue yakin, setiap orang yang dicintai itu pasti ada rasa kasihan ketika mereka melihat orang yang mencintainya berjuang. Tapi salahnya, mereka nggak tau, sebenernya orang yang mencintai itu nggak butuh dikasihani. Mereka hanya butuh balas dicintai. Sesederhana itu’

‘Jadi sekarang, lo lihat realitanya aja deh. Jangan hanyut terlalu tinggi karena cinta. Gue pernah baca statement begini :


‘Yang ingin lepas, biar saja bebas. Kamu kehilangan dia, namun tidak kehilangan Penciptanya. Tuhan yang memegang kendali atas hati setiap makhluk ciptaan-Nya.

Jangan sedih berlebihan. Dekati saja Tuhan. Nanti kamu akan mendapati salah satu dari dua hal ini :

Pertama : Tuhan mungkin akan menggerakkan hatinya untuk kembali pulang.

Kedua : Hatimu akan diikhlaskan oleh Tuhan. Sehingga kamu tidak perlu lagi menanggung pedihnya beban perpisahan’


Jadi, pesan gue, cintai dia sewajarnya ya? Kata orang kan, siapa yang berani jatuh cinta dan menerima dia datang, berarti dia juga siap untuk patah hati dan menerima dia pergi. Selamat jatuh cinta, Boi’

Temen gue mencoba membenarkan posisi duduknya. Raut wajah tenang perlahan dia perlihatkan. Angin sepoi sore mulai bersahutan. Senja yang mulai menghitam pun perlahan menggiring kami berdua agar segera pulang.

Untuk mereka yang sedang jatuh cinta, berbahagialah.

Terimakasih.

Advertisements

80 comments

  1. “Kadang, itu adalah problem orang yang mencintai terlalu dalam, tapi orang yang dicintai itu nggak secinta itu kepada kita.”

    Contoh lain, orangtua sayang ke anaknya, tapi anaknya kurang begitu sayang ke orangtuanya. Dan mungkin bisa dikembangkan juga terhadap orangtua atau keluarga pasangan. 😀

    Klo saran dari orangtuaku sih, jangan terlalu banyak menuntut, semua dinikmati saja.

    1. HIhihi banyak kan ya berarti yang merasakan hal semacam itu, bahkan orang tua sekalipun :’

      Yaaap, saran orang tuamu ada benarnya Mas. Jangan terlalu menuntut, dinikmati aja. Nanti juga enak sendiri kan ya 😀

      Hihi makasih banyak Mas Maw 😀

    1. Iya Mbak 😀 tetep ribeeet jugaaaa wkwkw 😀 kalau cinta tinggal sms, kalau kangen kirim wa, kalau ngambek tinggal mention, kalau kebelet nikah tinggal apa mbak? *YATINGGAL NIKAHLAH* kwkwkwk

    1. Semua orang yang mencintai ya kayaknya :’) jangan takut deh. Kalau dia mencintaimu, dia nggak akan begitu kok. Kalau dia begitu, brati dia tidak mencintaimu. Begitu kan ya logikanya. Jadi, dibikin santai aja 🙂

  2. Masih menunggu untuk bisa mencintai seseorang. Sampai bosan saya ha ha ha….

    Lha gimana, nggak gampang jatuh cinta sih. Mungkin karena ekspektasi saya terlalu tinggi. Jadi nggak nemu2.

  3. Sama sih, aku juga. Tiap jatuh cinta pasti ada takutnya. Awalnya ngerasa bener-bener ketakutan itu bikin risih. Tapi setelah beberapa kali merasakan, ya udah. Ngerasa biasa aja. Karena udah siap dengan risikonya.
    Benar, mencintai itu ala kadarnya aja. Sesuatu yang berlebihan itu nggak baik 🙂
    Btw, Bang Feb suka takut gitu juga nggak dengan Mba Nandanya? Hehehe.

    1. HIhihi semua orang dong ya brati. Terutama buat mereka yang cinta banget sih, Ris. Pasti akhirnya yang muncul ketakutan-ketakutan itu. Nah, kalau udah lama, ya terbiasa. Dia siap dengan resiko-resiko yang ada.

      Seharusnya mencintai kan begitu. Secukupnya. Biar kalau nanti kalau disakitin, ya nggak sakit banget. Tapi, ya gimana ya. Emm…

      Err… suka. Takut. Banget.

  4. Febby makin bijak euy…. aku selalu nginget kata-kata sahabat aku Feb, supaya ga mencintai makhluk Allah secara berlebihan. secukup dan sewajarnya aja. Jangan sampai jadi lebih mencintai makhluknya daripada sang penciptanya.

    1. Hihihihi makin bijak dan makin menye-menye karena cinta mbakwkwkw.

      Naaaah, kata-kata sahabatmu bener banget Mbak. Harusnya mencintai itu sewajarnya aja. Jangan berlebihan :’ hihihi makasih banyak ya Mbak 😀

  5. Kesian juga ngebayangin orang yang ketakutan karena cintanya. Hmm sabar ya..

    Jatuh cinta sewajarnya saja.. semoga jodoh deh.. 🙂

  6. Ih. Bikin ngakak goyangnya. Haha

    Suka sama quotenya!!!

    “Kadang, itu adalah problem orang yang mencintai terlalu dalam, tapi orang yang dicintai itu nggak secinta itu kepada kita.”
    Bahkan mungkin ngga ada secuil pun cinta, ya. Huff. Sedih 😦 Ah udah ah. Entar malah curhat -_-

  7. Postingannya mellow lg bang feb :’D
    Tp gak semellow yg kuduga, ditengah2 malah dibikin ngakak pas bgian tmen lu tkutnya sama lu :’) miris klo ampe bgtu mah. Wkwk
    Blm lg yg joget2 bkin gagal fokus:( bhahaha.

    Aku kira ketakutan stlah udh jdian gtu. Krna aku jg mngalaminya.. Eumm..

    Biar gak pnasaran sih mndingan org itu lgsg nnya aja gmn prsaan si cewe tsb, tkut dia salah berspekulasi, blm tau prsaan tu cewe malah udh tkut dluan ditolak, trs gajadi ngincer dia, eh pdhal mah cewe itu emg suka sm dia. Kan ntr berabe._. Gak hepi ending. Haha *mangnya nopel*

    Emg ktakutan2 itu slalu ada, ktka udh mnjalin hubungan jg, kdang suka takut aja klo suatu saat tiba2 putus, trs ngbayangin gmn klo itu smpe trjadi. Tkut klo dia kecantol sm cewe lain yg sifatnya lbh baik driku, yg bsa bkin dia lebih nyaman. Gitudah pokoknya:( maapcurhat. Wkwk

    Ujung2nya memang kita gaboleh trlalu mncintai seseorang trlalu dlm yah.. Ntr ribet kluar ke prmukaannya lg. Hahaa

    1. Wkkwkwkw mellow bangetnya diselipin sedikit candaan buat menghibur diri sih. Eng… Tapi suwer deh, sebenernya aku nyeremin loh. *Lah wkwkw
      Aaaakh, lulu lagi dihantui rasa takut nih yeee setelah jadian :p wkwkw

      Eng… Seharusnya sih emang ditanyain, tapi kalau yang ditanyain nggak kunjung menjawab dan cuma bisa mengulur-ngulur waktu dengan kalimat ‘Emm… sayang enggak yaaa’ kan jadinya gimana ya? Spekulasi kita kan kemana mana ya. Huft. Kan kita jadi nggak tau. Seharusnya sih kalau suka, ya suka aja. Kalau engga ya udah enggak. Ngga usah ngulur-ngulur gitu.

      Yaah, jatuh cinta itu berarti ketakutan juga ya :’ complicated ya, waktu PDKT diselimuti rasa takut, waktu jadian juga diselimuti rasa takut, jomblo pun juga, diselimuti rasa takut gimana kalau nggak ada yang mau wkwkwk

      Yap, intinya itu. jangan terlalu mencintai. Cintai sewajarnya :’)

  8. Ngeri nih tulisanmu Feb, habisnya memang benar banget, haha. Saya juga tidak bisa berkomentar apa-apa soalnya mengalami hal yang sama. Pada akhirnya saya belajar pula dari kata-kata bercetak miring yang ada di atas. Yah, intinya, semua kisah tidak cuma jadi cerita, pasti ada pelajaran yang membuat semua orang jadi dewasa. Dijalani saja dengan ikhlas dan niat tulus, karena Tuhan yang maha membolak-balikkan hati. Gitu ya kira-kira, haha.

    1. Wkwkwkw bener ya mas 😀 waaaaa, sama-sama mengalaminya ternyata :’ hiiiiks :’

      Iya mas, saya juga belajar dari tulisan yang bercetak miring itu :’ akhirnya, ya dijalani aja dengan ikhlas. Kita kembalikan kepada Tuhan aja :’)

      Beginilah orang yang mencintai, Mas :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s