Pada Akhirnya…

‘Assalamualaikum…’

Gue berucap sendirian di depan pintu bercat putih yang tertutup rapat. Senin siang kala itu cukup terik, udara yang berhembus seolah bercampur dengan hawa panas matahari yang menggosongkan kulit.

‘Permisi?’

Gue masih mencoba agar seseorang yang ada di dalam rumah berwarna putih dan beralaskan keramik tersebut membuka pintu. Sembari mematung dan terus mencoba untuk berucap salam, gue celingak-celinguk sendirian.

Sampai akhirnya…

‘Iya, Wa’alaikumsalam’ Suara tersebut terdengar dari dalam, sebelum akhirnya pintu rumah tersebut terbuka. ‘Eh, Mas Febri’ Seseorang yang menyembul dari pintu tersebut menyapa.

‘Ibuuuuuuuuk’ Gue menyapa balik sembari mengeluarkan senyum terbaik.

Seseorang yang gue panggil Ibuk adalah Ibunda Nanda.

Ya, Ibunda Nanda.

Sebelumnya, gue memang sudah beberapa kali bertemu dengan Ibunda Nanda. Pertemuan pertama terjadi ketika gue menjemput Nanda di rumah guna mengantarkannya ke lokasi KKN. Pertemuan kedua terjadi ketika gue mengantarkan Nanda ke rumah setelah rangkaian kegiatan KKN selesai.  Pertemuan ketiga terjadi ketika di suatu malam minggu gue pamit pulang dari main sebentar di rumah Nanda. Jadi, kalau dihitung, Senin siang itu adalah pertemuan gue yang keempat kalinya dengan Ibunda Nanda.

Gue melihat sosok ibunda Nanda sebagai sosok ibu yang keren. Dengan gaya bicara yang khas dan terkesan gaul, beliau sempat bercerita banyak hal tentang anaknya. Beliau adalah tipikal ibu yang ramah terhadap orang lain sekaligus tipikal ibu yang sangat murah senyum terhadap sesamanya.

‘Ada apa, Mas Febri?’ Ibunda Nanda bertanya dengan raut wajah yang khas akan senyumnya ‘Loh, Nanda dimana?’

‘Saya pengen ngobrol-ngobrol sama Ibuk’ Gue menjawab sembari memasang muka malu-malu-imut-minta-digampar ‘Nandanya masih di kampus kok, Buk. Tadi katanya dia baru ada urusan sama temen-temennya’

Ya, pagi sebelum siang itu, gue sudah terlebih dahulu datang ke rumah Nanda guna menjemputnya ke kampus. Sebenernya gue mau ngobrol sama Ibunda Nanda ketika pagi itu, tapi, keburu pagi itu gue ada kuliah dan gue sedikit terlambat menjemput Nanda, maka, ya beginilah yang terjadi.

‘Oh, mau ngobrol ya’ Ibunda Nanda merespon sembari mempersilahkan gue masuk dan duduk di ruang tamu. ‘Mau ngobrol apa, Mas Febri?’

Mengikuti apa yang dipersilahkan oleh Ibunda Nanda, gue pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu.

‘Jadi begini buk…’ Gue membuka suara sembari membenarkan posisi duduk.

‘Tapi sebelumnya saya minta maaf ya, Buk. Saya minta maaf banget’ Gue menundukkan kepala sejenak, sebelum akhirnya gue kembali menengadahkan kepala dan menatap mata Ibunda Nanda dalam-dalam.

‘Jadi gini buk…’

‘Sebenernya… saya suka banget sama anak ibuk.’

Mendengar pengakuan gue itu, Ibunda Nanda mengangguk dan memandang gue dengan tersenyum ramah.

‘Tapi… Sejujurnya saya bingung harus bagaimana dengan perasaan ini. Jadi kan begini ya buk, di satu sisi, saya mempunyai pikiran kalau mungkin saya nggak bisa pacaran sama anak ibu karena… Ya pacaran itu kan konotasinya buruk ya buk? Ditambah lagi, ibuk pasti nggak akan ngijinin. Disatu sisi yang lain, saya belum siap nikahin anak ibuk. Ya, saya masih kuliah semester tujuh dan masih belum punya apa-apa untuk memindahkan bakti anak ibuk’

Gue memberi jeda sejenak. Menyiapkan kalimat-kalimat pengakuan yang lainnya.

‘Jadi, atas dasar itu saya bingung harus gimana, Buk. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidup, karena merasa dilema atas perasaan yang saya rasakan, saya  pun mencoba untuk dua kali melakukan Shalat Istiqarah hanya untuk mencari jawaban atas dilema yang saya rasakan tersebut. Tapi, sampai sekarang ya saya tetep aja belum nemuin jawaban atas kebingungan ini’

‘Kemarin waktu Malam Minggu itu kan saya ngobrol juga sama Ayahnya Nanda. Banyak hal yang Ayah Nanda obrolin malam itu. Nah, disitu ada beberapa hal yang membuat saya berpikir cukup panjang atas apa yang Ayah Nanda ucapkan. Beliau kemarin bilang kalau umur pernikahan ideal untuk perempuan adalah 25 tahun, saya pun berpikir, apa saya harus nunggu 5 tahun lagi untuk bisa menikahi Nanda? Pasalnya, Ayah Nanda pun juga bilang kalau Nanda itu sudah diarahkan secepatnya untuk menyelesaikan kuliah, mencoba bekerja, baru setelah itu berpikir masalah rumah tangga atau pendidikan jenjang S2’

Ibunda Nanda tertawa mendengar kepolosan yang gue ucapkan atas apa yang pernah gue dengar dari mulut Ayah Nanda di Malam Minggu kemarin.

‘Jadi, ya begitulah Buk. Saya sayang banget sama anak Ibuk, tapi saya bingung harus bagaimana menanggapi perasaan ini’ Gue mencoba untuk menegaskan apa yang gue rasakan ‘Sebelumnya, saya minta maaf sekali ya Buk karena sudah lancang bilang kalau saya sayang sama anak Ibuk’ tutup gue.

Ibunda Nanda tersenyum dan mengangguk-ngangguk mendengar kalimat yang gue ucapkan.

‘Iya, Mas Febri. Nggakpapa kok’ Ibunda Nanda pun mulai membuka suara dan menanggapi permintaan maaf gue. ‘Masalah perasaan ini… Emm… Sebelumnya saya mau ngasih tau permasalahan mendasarnya dahulu ya, Mas Febri?’

Gue mangangguk.

‘Sebenarnya dari awal dulu saya sudah bicara sama Nanda bahwa di dalam Agama Islam, istilah pacaran itu nggak ada. Saya memang melarang Nanda untuk pacaran, berdua-duaan atau segala hal yang menimbulkan fitnah dan omongan negatif dari orang-orang’

‘Jadi, kalau misal Mas Febri memang serius sama Nanda, Ibu minta Mas Febri belajar agama sebaik-baiknya. Maksudnya belajar agama disini bukan hanya sekedar Shalat Lima Waktu saja, itu sih semua orang Islam pasti melakukannya kan? Nah, belajar agama disini ya belajar tentang apa yang ada di Al Qur’an, Hadist, dan yang lain sebagainya.’

‘Sebenarnya ibu itu punya tipe menantu idaman. Suatu waktu, Nanda pernah nanya ke Ibu tentang tipe menantu idaman itu. Disitu ibu pun menjawab kalau menantu idaman ibu itu ya yang agamanya baik, berjenggot dan yang nggak isbal atau yang celananya itu diatas mata kaki’

Gue tersenyum sembari sesekali bertanya kepada diri sendiri : ‘Kayaknya gue jauh dari apa yang diharapkan oleh Ibuknya Nanda, deh’. Namun, beberapa saat kemudian gue kembali meyakinkan diri sendiri : ‘Ah, ya makanya itu gue harus belajar agama dan memantaskan diri’

‘Tapi, untuk masalah berjenggot dan nggak isbal itu kan sebenarnya hanya sebatas tampilan luarnya aja kan ya? Jadi, itu sebenernya bukan point penilaian yang utama sih, karena point utamanya ya tetep merujuk pada agama yang baik, yaitu dari dalam hatinya’

‘Ibu sering bilang ke Nanda kalau besok dia nyari pasangan hidup, dia harus nyari pasangan hidup yang sederajat sama kami. Maksud dari sederajat itu ya sederajat dalam hal Agama. Makanya ibu minta Febri untuk belajar agama sebaik mungkin. Nah kalau masalah materi sih itu kan urusan Allah ya? Itu Allah yang ngasih. Tapi, kalau bisa sih ya yang mampu. Bukan apa-apa, kalau misal nanti ekonominya mampu kan berarti untuk bershadaqah atau berinfaq gitu mampu juga’

‘Selain itu, Mas Febri kan masih kuliah nih ya? Jadi, Ibu harap Mas Febri bisa lulus secepatnya ya? Untuk masalah perasaan ini, Ibu cuma bisa ngasih saran begitu aja.Untuk masalah selanjutnya sih tetap ibu serahkan ke Nanda mau gimana kedepannya nanti.’

‘Jadi, begitu ya Mas Febri?’ Ibu Nanda menutup kalimatnya yang berisi pesan-pesan motivasi dengan sangat bijaksana.

Gue mengangguk paham atas apa yang Ibunda Nanda pesankan. Gue pun mendapat banyak pencerahan dari pesan-pesan yang Ibunda Nanda sampaikan dan gue tau harus ngapain setelah itu.

Waktu pun berjalan cukup cepat hingga tak terasa menunjukkan pukul 13.14 WIB. Obrolan antara gue dengan Ibunda Nanda yang menyangkut banyak hal itu pun terhenti karena ada telepon masuk dari Nanda yang mengatakan bahwa berkas-berkas penting Nanda ada di tas. Sementara tas yang Nanda maksud tersebut kala itu gue bawa. Maka kesimpulannya adalah: GUE GEBLEK.

Jadi, setelah itu pun akhirnya gue pamit kepada Ibunda Nanda untuk kembali ke kampus guna memberikan berkas-berkas penting yang dengan gebleknya gue bawa itu.

Sesampainya di kampus, gue menemui Nanda dan memberikan berkas-berkas penting yang nggak sengaja gue bawa tadi. Namun, tanggapan yang terlontar dari mulut Nanda adalah :

‘Enggak jadi kok Feb, ternyata berkasnya boleh dikumpul besok’

Denger tanggapan super santai dari Nanda itu rasanya pengen banget bisa secepatnya ngehalalin Nanda dan menganunya di Malam Pertama.

Huft.

Mengisi kekosongan waktu yang ada, gue dan Nanda pun akhirnya memilih untuk mengurus beberapa hal yang diperlukan untuk penyelesaian laporan KKN.

Niatnya sih demikian. Namun, kenyataannya adalah : Gue cuma duduk-duduk nggak jelas sementara Nanda cuma melihat layar laptop entah ngapain. Kami sama-sama nggak jelas. Kami sama-sama kurang kerjaan. Kami semoga jodoh kan ya?

Dari segala hal nggak jelas yang gue lakuin bareng Nanda, nggak terasa waktu pun menunjukkan pukul 15.30 WIB. Alhasil, gue pun harus mengantarkan Nanda pulang ke rumah.

Di perjalanan pulang, gue bilang ke Nanda.

‘Aku udah agak lega deh, Nda’

‘Kenapa?’ Respon Nanda penasaran.

‘Iya, tadi aku udah ngobrol banyak sama ibuk kamu’ Gue mulai menjelaskan. ‘Aku jadi tau, kenapa kamu menunda-nunda untuk ngasih jawaban atas apa yang aku tanyakan perihal kejelasan hubungan kita.’

‘Kamu sebenernya nggak mau pacaran kan?’ Gue mengucapkan pertanyaan retoris ‘Iya sih, aku ngerti banget kenapa kamu nggak mau pacaran. Kamu mungkin masih merasa trauma akan pengalaman pacaranmu dulu dan mungkin sudah terlalu nyaman dengan masa singlemu yang bebas ini. Aku ngerti. Pun juga, aku sebenernya nggak mau pacaran juga kok’ Gue mencoba mengaku.

Meskipun pada kenyataannya, gue berbohong.

Ya, gue berbohong. Sebenernya gue mau pacaran sama Nanda. Namun, hanya untuk mendapat sebuah pengakuan yang selama ini ingin gue dapatkan. Gue merasa pacaran memang begitu-begitu aja. Gue pun merasa bahwa pacaran nggak jauh beda sama temenan atau sahabatan. Tapi, gue merasa, pacaran jauh lebih mendapat pengakuan ketimbang temenan atau sahabatan. Gue sebenernya pengen, setiap kali ketemu temennya Nanda, hal yang terucap dari Nanda adalah :

‘Kenalin, ini Febri. Pacar aku. Calon suami aku’

Itu aja.

Namun, pada kenyataannya, gue gagal untuk mendapat pengakuan itu.

Yaudah.

Dari sekian banyak kejadian yang berlalu, gue pun sadar, mungkin gue terlalu egois atas apa yang pernah gue lakuin ke Nanda. Dulu gue pernah mengeluh ketika gue hanya dianggap seorang sopir oleh Nanda ketika di depan teman-temannya. Kala itu gue cuma bisa mengeluh tanpa sedikit pun berpikir :

‘Apa mungkin Nanda merasakan hal yang sama ketika di depan temen-temen, gue dengan seenak jidat menganggap bahwa Nanda adalah calon gue?’

Mungkin.

Egoisnya gue.

Huft.

‘Jadi, sekarang aku udah tau kok. Kita nggak usah pacaran ya? Aku udah banyak berusaha untuk meyakinkanmu. Tapi, mungkin suatu saat nanti bakal ada orang-orang lain yang datang menemui ibumu dan mengatakan pengakuan yang sama persis kayak apa yang aku akui ke ibumu. Dan disitu, mungkin lima tahun lagi, kalau kamu udah siap nikah, kamu tinggal milih, siapa yang akan kamu nikahi. Sekarang dan nanti, semua cuma tergantung kamu kok. Kan kamu yang ngejalanin’

‘Mmm… Kata orang sih, jodoh itu nggak kemana’ Gue memelankan laju motor dan mengatur spion supaya memantulkan wajah Nanda ‘Jadi, seenggaknya aku udah ngelakuin banyak hal untuk ngebuat kamu nggak kemana-mana’ Gue tersenyum melihat spion. ‘Semoga berhasil ya, Aku.’

Diiringi angin sore yang berhembus. Suara bising kendaraan yang lalu lalang. Hiasan senja yang segera menghilang. Gue melihat, ada sesuatu yang telah selesai. Pun gue melihat, ada sesuatu yang baru akan dimulai.

Terimakasih, Ananda Aning Pradita.

🙂

Advertisements

103 comments

  1. Ahhh so sweet! Jodoh itu datang tepat waktu, tidak kecepetan dan tidak terlalu lambat. Jodoh itu perlu diperjuangkan bukan hanya menunggu dia datang. Mungkin salah satu cara untuk memperjuangkan adalah dengan memantaskan diri. Semangat Feb!

    1. Aaaaah, makasih Mbak 🙂 hihi doakan yang terbaik ya Mbak 🙂 bener, jodoh selalu datang tepat waktu kok 🙂 Sekarang aku sedang memperjuangkan diri 🙂 terimakasih banyak ya Mbak 😀 semangat selalu kok 😀

  2. ini semacam baca novel tebel tapi jadi ringkas dalam satu pos
    U
    saran dari saya sih, taruhan sama diri sendiri aja, bro, misal kelar semester 8 dinikahin, dsb.hehe

    ketimbang jadi kontraproduktif rauwisuwis 😅

    1. Iya ya. Kalau ditulis sesuai apa yang ada dikenyataan, bakal panjaaaang banget sih hihih. Maap. Maap.

      Iya 🙂 saya mengusahakan untuk itu sih. Kalau bisa banget ya begitu Mas 🙂 doakan selalu untuk hal baiknya ya MAs 🙂 makasiiih 😀

  3. saluut aku feb sama kau, keren gitu ngomong langsung ke orang tuanya berkunjung kerumahnya.
    aihh aku cuma bisa bilang waoww selama baca ini, serius manis banget sikapmu.
    saluutt.. padahal masih kuliah.

    1. Waaaaaaa 😀 Mbak Lativa 🙂 Makasih yaaak 😀 hihihi mamasmu nunggu waktu buat sukses dulu itu mbak, besok bentar lagi juga nembung kan ya 😀
      Makasih banyak ya Mbak 🙂 doakan untuk yang terbaiknya :’) hihihi

  4. Kaget… nama nanda sm kyk nama depanku ‘pradita’….. anyway… barokallah feb semoga bs terus memperbaiki diri. Beruntungnya Nanda punya org kyk lo yang mau berjuang bersungguh-sungguh dan berniat ke arah yg lbh baik demi menghalalkan hubungan kalian. Ditunggu kabar baiknya di postingan2 berikutnya.

    1. Hihihi iya 😀 nama panggilannya sih Dita 😀 hihihi
      Aamiin 🙂 Bakal berusaha memperbaiki diri banget sih mbak 🙂 udah diamanahi Ibuknya juga kan.
      Alhamdulillah. Semoga nantinya Nanda beneran mau sama aku ya Mbak 🙂
      Aamiin. Doakan untuk hal yang terbaik nantinya ya Mbak 🙂
      makasiiih banyak 😀

  5. Aiihh berasa baca romantic series trus sekarang udah selesai. Ngga perlu nunggu sampai 5 tahun sih menurut gue, kuliah kelar, kerjaan udah pasti, tabungan udah cukup, sah sah aja buat ngelamar anak orang #eaaaa
    Tp salut feb sama kamu yg udah berani ngomong sama orang tua si cewek, walaupun belum saatnya direstui untuk nikah. Semoga kalaupun jodoh sama nanda didekatkan

    1. Aaaakh Mbak 🙂 hihih makasih ya 😀

      Dan iya sih, emang rencana nggak usah lama-lama sampai 5 tahun 🙂 kalau besok ini aku udah kelar kuliah, terus kerja dan punya tabungan juga langsung aku lamar itu Nanda ._. wkwkw tapi, ya semua butuh waktu. Tapi semoga nggak selama itu ya Mbak 😀
      Aaakh, doakan untuk yang terbaik nantinya deh mbak. Makasih banyak ya 🙂
      Aamiin 🙂 semoga didekatkan :’) semoga banget 😀

    1. Waiya ini mbak. PR banget sih buat aku 🙂 masih mengusahakan diri buat jadi menantu idaman mbak 🙂 Semoga ya mbak. Semoga Nanda beneran mau sama aku besok :’) hihihi

      Aamiin. Selalu percaya kok 🙂 Doakan untuk yang terbaik nantinya ya Mbak 😀 makasiih banyaaak Mbak 🙂

  6. Semangat ya. Salut, bisa jujur ke orang tua si cewek. Baca ini jadi sedikit terharu nih Feb, saya berdoa semoga yang terbaik untukmu yah. Yakin aja, yang namanya perjuangan nggak mungkin sia-sia, pasti ada sesuatu yang bagus menunggu di akhir acara (ah siapa sih saya ini, kalau soal ini mah lebih ahli kamu ketimbang saya :haha).

    1. Makasih banyak Bang Gara 🙂 hihihi. Iya nih, namanya juga usaha kan ya :’)
      Terimakasih banyaaaaaaak mas. Doakan untuk yang terbaik nantinya ya :’) semoga saja. Aamiin 🙂

      Aaah, Bang Gara mah merendaaah deh ya :’)

      1. Febri, niatkan belajarnya itu krn Allah….bukan krn makhluk, insyaallah kalau Nanda memang jodonya Febri, Allah akan memberi jalan untuk kalian dan insyaallah barokah.
        Saya salut sama cara yg kamu dgn mendatangi bapak dan ibunya. Tandanya kamu adalah laki2 yg bertanggung jawab. Keren dan salut !! Lanjutkan!!!
        Bismillah lancar ya Feb…

      2. Nah, iya. Pasti Mbak :’) semua tetep niatnya ikhlas karena Allah kok Mbak 🙂 Aamiin ya Allah 🙂 berdoa untuk yang terbaiknya aja deh Mbak :’)

        Makasiiiih banyaaak ya Mbak 🙂
        Semoga lancar. Bismillah 🙂 Aamiin. Hihihihi 🙂

  7. ((menganunya di malam pertama)) GEBLEK LU FEB!
    Hahaha…

    Cuma kalo boleh kritik ada satu hal yg ganggu di postingan ini, yaitu gambar-gambarnya.
    Gua rasa sih useless. Soalnyanya gak punya hubungan yg kuat sama ceritanya. Kayak asal templok aja biar gak tulisan doang.
    Hehe.. sayang aja gitu. 😀

    Anyway, selon bgt lu langsung cerita ke ibunya. Semoga yg terbaik buat kalian deh..

    1. Wkwkwk iya ._. menganunya kan enak enak gitu kan ya ._. wkwkwk

      Aaaaah, sependapat sih sebenernya Ta. Aku soalnya bingung nih, kan tulisannya 1800 kata, nah kalau tulisan doang gitu kurang menarik, jadi aku tempelin pake gambar-gambar gitu, nah, nyari gambar yang berhubungan sama tulisanku itu bingung ._. jadi dapetnya itu, aku tempel. Cuma sebenernya ada hubungannya kok. Sedikit.Sedikit banget. Eng… Sedikitnya sampai nggak kelihatan wkwkwk
      Btw, makasih banyak kritiknya ya 😀 hihihi

      Oh iya, doakan banget untuk yang terbaik nantinya ya Ta 😀 hihi thank you gaes 😀 Aamiin 😀

  8. Duh, keren lah bang Febri ini langsung menghadap orang tuanya dan berkeluh kesah , istilah lainnya curhat.

    Baru pertama baca bisa disimpulkan kalau kekuarganya Nanda ini agamis banget. Harusnya bersyukur banget bisa kenal dengan Nanda, bisa membawa hidup ke arah lebih baik. Lebih bersyukur lagi kalo bisa ena-ena *eh

    1. Hihihi Makasih banyak ya Rizki 😀 ihihi iyaa sih, namanya juga usaha. Lagian, pas waktu itu hati pas ngganjel-ngganjelnya sih ya. Jadi, setelah semuanya tersampaikan, ya jadi plong gitu deh 😀

      Iyaaap. Alhamdulillah Agamis banget. Terus yaa semoga berdampak positif buat aku ya 😀 makasih banyak ya. Doakan yang terbaik aja deh buat nantinya 😀

  9. Setidaknya kamu bernasib baik sudah ngomong. Banyak kasus belum sempat ngomong dah ditelikung duluan.

    Ini bisa jadi bahan buat menantang dirimu sendiri. Bisa nggak jadi mantu idaman. Kalau sudah memperbaiki diri ternyata nggak jodoh sama Nanda, mungkin jodoh kamu emang bukan dia. Siapa tahu dikasih yang lebih baik.

    Jadinya ya…… Cemungudh eeaaa! Cemungudh pangkal keren Feb 😀

    1. Iya sih mbak. Alhamdulillah banget :’) Eng… Ditelikung ya? Eng… Aku mau cerita sih sebenernya sama kamu Mbak Dyah. Eng… gimana ya. Duuuh.

      Nah, tapi tetep aku berharap banget sih. Makanya ini sedang berusaha memperbaiki diri biar bisa jadi menantu idamannya Ibunda Nanda ._. bismillah. Doakan yang terbaik nantinya ya Mbak 😀 aaaah, makasiiiih banyaaak yaaaak 😀

  10. IIIIIHHHHHHH MAS FEB AKU BAPER ANJIR. KENAPA W BAPER YA PADAHAL INI BUAT MBAK NANDA. YAARABB SUMPAH AKU NGGAK NYANGKA. BUKAN, MAKSUDKU, AKU BARU DENGER CERITA DARI ORANGNYA SENDIRI YANG CERITA NGOMONG SAMA “CALON” MERTUA HAHAHA. YAARABB CAPSLOCK JEBOL.
    Ih so sweet. Ku doakan semoga cepat halal.
    Iya Mas Feb, selama menunggu waktu, Mas juga perbaiki diri. Mbaknya juga pasti sama kayak Mas memperbaiki diri. Jodoh mah nggak akan kemana.
    Aaaahhhh. Mas Feb, kudoakan supaya kalian jodoh. Ya, semoga Allah ijinin kalian berdua ke jenjang jengjenenggggg… :’D aamiin

    1. Laaaah, Riskaaa 😀 heheh malah baper ya kamu 😀 dasaaar deh ya 🙂

      Alhamdulillah ya 🙂 soalnya udah mau serius banget sekarang. Tapi tetep nunggu si dianya gimana. Doakan yang terbaik ya 🙂
      Aamiin. Makasiiih banyak Riska 😀

  11. Aseeekkk, semoga nanda baca ya feb.
    Kalo gue jadi Nanda udah melting gigit bibir nahan ketawa kali ada cowok lebai kayak kamu wakakakakakkaka….
    Semoga kalian berjodoh ya, gak usah nunggu 5 tahun lagi 😀

    1. Hihihihi Aamiin 🙂

      Iya kalik yaaa. Mmm… kalau kamu Nanda, kamu membalas rasa yang udah aku kasih nggak ya mbak? hahaha. Duhalaaaah, emang orang jatuh cinta mah lebay begini deh. Duuuh.

      Aamiin 🙂 doakan untuk yang terbaiknya aja ya Mbak 😀 hihihi makasiiih banyak Mbak 😀

  12. Wuaaaa… Bang Febbb!! Udah lama gak mampir ksni, isi postingannya beginiann, mnyentuh hati banget. Soswiitt. terutama klo dibaca ciwik2. Aaaaakk :”((

    Aku kira ini awalnya fiksi gtu, tp nyatanya beneran, :’D
    Aku salut sm sikap yg bang feb lakukan, gentle, berani, seenggaknya udh berani dan serius lgsg bilang ke ortunya jg. Udh mncoba ikhlas jg buat gak pacaran mskipun sbnernya mau banget pacaran dan dpt pngakuan…
    Pasti sulit banget, tp yaa.. Emg bener sih, namanya jodoh itu gak kemana kok :’)))

    Ah, baper baca inihh. Huhuuuh

    1. Waaa Luluuuu 😀 lamaaa nggak jumpa yak 😀 hehehe.
      Iya nih, lagi pas ngerasain perasaan ini dan mau serius. DUuuh hehe.
      Ini nyata kok 🙂

      Iya Lu. Soalnya emang semuanya kayaknya harus disampaikan sih. Selanjutnya tinggal sabar aja. Semua tergantung Nanda sih. Jadi, Febri mah nunggu. Kalau berhasil Alhamdulillah. Kalau gagal, yaudahlah ya.
      Sulit sih emang :’) hihihi. Doakan yang terbaik aja ya Lu :))

  13. Gila, berani banget Mas! Salut!
    Dulu saya juga pernah sih nyoba ngomong serius gitu ke nyokap (mantan) pacar. Dari awal ngobrol, nyokapnya nggak kasih senyum sama sekali & setelah beberapa menit, saya langsung disuguhin teh anget. Abis diminum, perut mules-mules. Saat itu saya sadar kalau keberadaan saya tidak diinginkan.

    #miris #kenapajadicurhat

    1. Alhamdulillah Mas. Cuma tinggal nunggu gimana kedepannya. Yaaah, pasrah deh ya.

      Duuuh, kamu itu juga berani tuh mas? kereeeen 😀 tapi kok nyokapnya begitu ._. itu teh angetnya aman nggak ya sebenernya wkwkw Duuuh, turut prihatin mas. Tapi kamu tetep keren kok mas 😀

  14. Gue bacanya rada ngeri-ngeri gitu Feb. Serius. Hehehehe. Ngebaca ini jadi inget moment gue yg ditanyain dulu. Hadeh… Perjuangan kek gini tuh, percaya aja gak akan terlupakan.

    Semoga dirimu segera didekatkan dengan jodohmu, ya Feb. Karena, pasti ada cerita indah dibalik ketidakberhasilan cerita ini. 🙂

    1. Ngeri-ngeri gitu ya. Kwkw emang sih, orang yang jatuh cinta kan kadang mengerikan begini.
      Eh, moment yang kamu ditanyain gimana nih Bang? wkwkwk duuuh, flashback ya kayaknya 😀

      Iya ya. Nggak akan terlupa deh walaupun hasilnya gimana nantinya 😀 wkwkw

      Aamiin 🙂 terimakasih banyak ya Bang Her. Doakan yang terbaiknya aja deh 🙂 pasti Allah punya skenario lain dibalik semua kegagalan ini 🙂

  15. Kisahnya manis ih feb.. hmm hmm.. kita punya kisah yg sama.. cinlok temen seposko kkn, mana cowoknya anak teknik pula hahaha~ aku baca cerita2 kkn mu nih soalnya aku juga lagi suka sama teman posko kknku sejak dua tahun lalu.. sampai detik ini.. hahaha bukan curhat, berbagi kisah aja.. Yaah semangat aja feb.. cewek tuh suka cowok yg berjuang dan tidak kenal kata nyerah.. setidaknya dia tau perasaanmu dan perjuanganmu, sampe dateng k rumah ngobrol ama ortu, serius itu langka banget cowok yg kyk gitu.. insya Allah nyampe deh hajatnya 😁

    1. Hehehe makasih yak Mbak 😀
      waaaa, kisah kita sama ya brati 😀 ihiiiy yang suka sama teman seposko nihyeeey. Tapi udah dua tahun lalu dan bertahan sampai sekarang? Eng… cowoknya gimana tuh, Mbak? dia tau nggak kalau mbak suka?

      Iya sih, aku tetep berjuang dan berusaha sampai dia bener-bener bilang enggak atau dia memilih orang lain. Hihi aku udah mau serius sih emang, tapi kan belum tentu dianya juga kan? Aku cuma bisa pasrah sekarang.
      Doakan untuk yang terbaiknya aja ya Mbak 😀 hehe makasiiiih 😀

      1. Haha iyaa.. usang banget yak.. 2 taun.. tp ga tau doi tau ato gak..
        Betuull.. didoain diperjuangin n diusahain aja dulu trus pasrahkan sama Yang Maha Kuasa.. *buatakujuganihhaha

  16. saluuuut, di umur segini kamu udh berani mutusin begitu, bicara ama ibunya lagi. aku doain jodoh ya kalian Feb :).. pacaran memang g ada gunanya kok, aku aja nyesel kenapa dulu milih cara bgitu :).. ayo sana, banyakin belajar agamanya dulu 😉

    1. Hihihi iya Mbak. Yaaaah, namanya juga usaha kan ya Mbak :’ semoga ya mbak. Tapi doakan yang terbaiknya aja deh mbak 😀

      Hihihi bener. Nggak ada gunanya 😀
      Siaaaap deh, banyakin belajar agama kok ini 😀

  17. BANG FEB, AKU SALUT SAMA KEBERANIANMU.

    Uwooooh. Jarang-jarang ada cowo yang lebih dulu ngomong ke orangtuanya si cewe.
    Ikatan pacaran mah ga perlu-perlu amat sih bang. Yang terpenting itu saling jaga kepercayaan aja. Saling yakin. Udah. Percuma pacaran kalo salah satu diantaranya masih gak bisa jaga kepercayaan.

    JADI BANG, KAPAN PANGKAS RAMBUT??

    1. Hehehe makasih yaaak Lan yak 🙂 iya nih, aku serius banget sih soalnya 🙂

      Iyaa, gak penting kok pacaran. Yang penting saling bisa menjaga kepercayaan dan komitmen satu sama lain. Berdua dan menyalingi, bukan sendiri. hihihi

      WAHAAAA, SEBENTAR DEH YAAA PANGKAS RAMBUTNYA~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s